<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474</id><updated>2011-10-11T18:16:19.324-07:00</updated><title type='text'>Haz Pohan : A FELLOW COUNTRYMAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>57</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-456244120030005350</id><published>2011-07-28T02:46:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T02:50:29.356-07:00</updated><title type='text'>Menlu Hillary Clinton Menjadi Duta Budaya Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-u8OgVwHNqxY/TjEwHJEKX9I/AAAAAAAAAJM/OJSEJQ8YVJU/s1600/clinton-2a.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 210px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-u8OgVwHNqxY/TjEwHJEKX9I/AAAAAAAAAJM/OJSEJQ8YVJU/s320/clinton-2a.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634337508067794898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BANYAK cara mengenalkan Indonesia di masyarakat internasional. Salah satunya melalui budaya. Dan siapa saja bisa melakukannya.  Bukan hanya pejabat atau diplomat.  Rakyat biasa pun bisa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, orang-orang yang melakukan kegiatan budaya mempromosikan Indonesia di dunia internasional layak disebut duta budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja bisa menjadi duta, kata pengarang Erdityah Arfah yang menulis buku “Merah Putih di Benua Biru”, bisa mengenalkan negerinya di berbagai masyarakat dunia, termasuk di negeri-negeri dilanda konflik, seperti yang dilakukan penulis “Garis Batas” dan “Selimut Debu” Agustinus Wibowo yang berkeliling di Asia Tengah atau Jeffrey Polnaja, yang dipanggil di Bandung sebagai ‘Kang JJ”, mengelilingi 62 negara dengan motor BMW-nya, seorang dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut etnomusikolog Rizaldi Siagian yang sering meneliti budaya-budaya tradisional dan masyarakat adat di seluruh penjuru tanah air, kalau bicara budaya maka Indonesia adalah satu negeri yang luar biasa. Dan itu diakui oleh masyarakat dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa budaya membantu kita untuk mengenal masyarakat di sekitar kita tidaklah bisa dibantah. Bahwa budaya juga digunakan untuk berdiplomasi juga sudah bukan praktik baru. Itu dilakukan semua bangsa-bangsa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika Menlu AS Hillary Clinton melakukan promosi Indonesia melalui budaya? Ya, Ibu Hillary pun pantas menajdi duta budaya kita.  Beliau mahir memainkan angklung, meski hanya dilatih beberapa menit saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Dubes Dino Patti Djalal di awal Juli 2011 berhasil memukau masyarakat Amerika dengan angklung. Lebih dari sekadar mengenalkan angklung, orang nomor satu di KBRI Washington DC itu telah berhasil mengukir rekor dunia yang dicatat oleh Guiness Book of Record ketika angklung dimainkan oleh lebih dari 5000 orang di Washington DC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara angklung maka nama Saung Angklung Mang Udjo melekat di situ. Kini, anaknya Daeng Udjo meneruskan upaya ayahnya dan berhasil pula mengemas sedemikian rupa sehingga siapapun bisa memainkan angklung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM itu istimewa di Bali. Menjelang akhir pertemuan ke-44 Menteri Luar Negeri ASEAN, tepatnya Jumat (22/7) malam di Nusa Indah Hall, BICC diselenggarakan acara gala dinner. Hadir lebih dari 50 menteri luar negeri, di antaranya tampak rapi Hillary Clinton, beserta rekan-rekannya dari negara-negara ASEAN, China, Rusia, Uni Eropa, para mitra wicara, peninjau dan tamu dari berbagai negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja berbagai kulinari andalan dihidangkan, dan berbagai kesenian daerah ditampilkan, seperti tari-tarian tradisional Jakarta, Bali, Aceh, penyanyi yang diiringi oleh orkestra Purwa Tjaraka, dan penampilan kolaborasi musik modern dan tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Menlu Marty Natalegawa, sebagai host, menyampaikan pidato selamat datang suasana masih terasa formal. Berbagai tarian dan nyanyian diselingi berbagai menu makanan mulai menghangatkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;excited&lt;/span&gt; mengamati Menlu AS Hillary Clinton dari dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hillary Clinton memang figur teramat istimewa. Pernah menjadi First Lady selama 8 tahun, calon presiden, dan kemudian menjadi menteri luar negeri di kabinet Presiden Obama, seterunya pada pemilu presiden AS yang lalu. Saya duduk bersama undangan, hanya beberapa meter jaraknya dari tempat duduk Menlu Clinton. Ini menjadi kesempatan baik bagi saya untuk membuat artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hillary Clinton terkenal kemampuan artikulasinya yang hebat. Maklum, dia sebelum menjadi ibu Negara adalah salah satu lawyer terkemuka dan terkaya di AS. Dia duduk bersebelahan dengan Menlu Marty Natalegawa dan isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kehadiran Clinton di Vietnam tahun lalu dalam sidang ASEAN Regional Forum (ARF) yang membuat China berang, dinamika Amerika pun dirasakan di Bali. Ibu Hillary kembali menjadi newsmaker, dan orang ingin tahu apa sikap AS dalam berbagai isu di Asia Pasifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi AS terhadap masalah Myanmar, konflik Thailand-Kamboja, situasi di Laut China Selatan, dan dukungan AS terhadap ASEAN, termasuk Asia Tenggara sebagai zona bebas senjata-nuklir, semuanya ada dalam catatan Menlu AS itu. Para kuli tinta pun rajin memburunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Hillary santai saja. Situasi berubah drastis pada puncak acara penampilan angklung interaktif oleh Saung Mang Udjo. Semua hadirin dibagikan angklung berbagai tangga-nada. Tidak kecuali kepada Menlu Marty dan isteri yang duduk di barisan utama, beserta Ibu Hillary Clinton dan berbagai dignitaries lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita muda langsing berkebaya yang fasih berbahasa Inggeris mengenalkan instrumen musik tradisional Jawa Barat itu. Dia menjadi komandan pada malam itu. Semua hadirin, termasuk dignitaries pun patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin diajarkan singkat teknik memainkan angklung. Lalu, hadirin ditugasi menjaga angklung pada tangga nada masing-masing, untuk memainkannya secara interaktif. Pada saat praktik nada, tiba-tiba muncul melodi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Frere Jacques&lt;/span&gt; yang dikenal di tanah air sebagai lagu anak-anak internasional “Are you sleeping, brother John’ yang menimbulkan suasana menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Hillary tampaknya antusias berhias senyuman mengikuti instruksi. She’s so excited! Dan,  tampak sangat pede memainkan angklungnya pada nada ‘do’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Menlu Marty dan rekan-rekannya yang dalam beberapa hari sidang di Bali ‘bertempur’ mempertahankan posisi Negara masing-masing dalam negosiasi alot, pada malam itu sejenak melupakan konflik regional yang berbusa-busa, berkonsentrasi pada angklungnya.  Suara bambu yang lembut dan unik terasa menghangatkan.  Harmoni indahpun menggelora.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kebagian ‘fa’, nada, sayangnya jarang mendapat bagian.  Sebaliknya, ‘do’ nada rendah Bu Hillary mendominasi lagu-lagu yang ditampilkan. Tampaknya, ada operasi khusus untuk itu, dugaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada catatan, apakah Menlu Clinton pintar bermusik, seperti kepiawaiannya berpolitik dan sebagai sarjana hukum. Tetapi, tampak dia senang dan surprised bisa memainkan peranannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak semua undangan berbahagia. Dan, usai konser itu mereka dihadiahi angklung yang baru saja mereka mainkan dalam suatu konser besar sebagai tanda-mata dari Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s for you, a souvenir from Indonesia”, kata sang komandan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, malam yang berkesan itu sangat membantu iklim yang kondusif sehingga berbagai posisi-posisi sulit di antara Negara-negara terjembatani. Sehingga pertemuan Menlu ASEAN, ARF dan berbagai pertemuan bilateral terbilang sukses.&lt;br /&gt;Ternyata, harmoni bisa tercipta di bumi Indonesia, seperti diajarkan oleh wisdomnya angklung interaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bocoran teman-teman yang mendapat informasi Menlu Hillary Clinton sangat senang berada kembali di Indonesia, menikmati suasana di Pulau Dewata, keberhasilan menjadi artis yang sekaligus turut mempromosikan budaya Indonesia. Maka, waktu selama 5-hari berada di Indonesia ini termasuk terlama yang pernah dilakukannya di suatu negara. Menlu-menlu lain pun senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan kunjungan Presiden Obama, yang menjadi agenda tambahan kunjungan Ibu Hillary ke Indonesia  beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto Ibu Hillary bermain angklung pun menghiasi pers dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat angklung, Bu Hillary Clinton layak menjadi duta Indonesia, seperti Presiden Obama dengan dengan ‘Anak Menteng’ nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Credit Photo: Rhudie Hartanto&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-456244120030005350?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/456244120030005350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/07/menlu-hillary-clinton-menjadi-duta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/456244120030005350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/456244120030005350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/07/menlu-hillary-clinton-menjadi-duta.html' title='Menlu Hillary Clinton Menjadi Duta Budaya Indonesia'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-u8OgVwHNqxY/TjEwHJEKX9I/AAAAAAAAAJM/OJSEJQ8YVJU/s72-c/clinton-2a.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-1778959078313720567</id><published>2011-07-05T02:01:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T02:07:45.084-07:00</updated><title type='text'>Astana: Ibukota Kazakhstan yang Mengagumkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-dpEfUh7eTjI/ThLUU5N11DI/AAAAAAAAAJE/Oqf3tyemAb4/s1600/DSC_1018.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-dpEfUh7eTjI/ThLUU5N11DI/AAAAAAAAAJE/Oqf3tyemAb4/s320/DSC_1018.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625792339960517682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA selalu belajar di tempat-tempat baru yang saya kunjungi.  Apalagi jika kota itu memiliki keunikan,  menarik untuk diinformasikan kepada teman-teman, maka fikiran mengembara, merekam dan mencatat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penutupan konperensi para menlu negara-negara Islam (Organization for Islamic Cooperation) yang baru saja diubah menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Organization for Islamic Cooperation&lt;/span&gt; yang berlangsung selama 3-hari di Astana, ibukota baru Republik Kazakhstan, pada akhir Juni 2011 yang lalu, saya sempat keliling kota.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tempat penyelenggaraan konperensi itu sendiri, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Astana Convention Hall&lt;/span&gt;, yang terletak di dekat kawasan diplomatik, dilengkapi berbagai fasilitas konperensi internasional, mengawali kekaguman saya kepada negeri ini.  Di sini dilangsungkan konperensi internasional dan sidang OIC itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika bekerja di Moskow pada zaman Uni Soviet, saya sudah faham bahwa Repulik Kazakhstan sebagai salah satu dari 15 republik, beribukota di Alma Ata, atau disebut sekarang Almaty.  Negeri terluas ke-2 setelah Rusia di Eropa ini dulu terkenal dengan stepe, gurun, tempat ujicoba senjata nuklir dan tempat penggelaran senjata nuklir kedua terbesar di Eropa, milik Uni Soviet dalam kerangka Perang Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nursultan Nazarbayev, presiden sekarang, ketika itu hanyalah seorang ketua parlemen yang disebut Presiden dengan tugas-tugas protokoler, sekaligus menjadi ketua partai komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Uni Soviet pecah, Kazakhstan pun menjadi negara paling akhir menyatakan kemerdekaannya di tahun 1991.  Nazarbayev pun melanjutkan tugas menjadi presiden, dan terpilih terus-menerus sampai kini.  Meskipun telah merdeka, negeri ini tetap membina hubungan baik dengan Rusia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka negeri itu, relatif menjadi paling stabil politiknya, didukung oleh sumber-sumber alam minyak dan gas yang kaya menjadi paling tinggi pertumbuhan ekonominya.  Dua faktor ini pula yang mendukung Kazakhstan untuk kian aktif berperan dan menjadi negara terpenting di Asia Tengah, serta dalam menyampaikan berbagai gagasan di fora internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, Kazakhstan yang hanya berpenduduk 20 juta juga menjadi negeri penghasil utama biji-bijian dunia, dan pengekspor terbesar uranium!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat merdeka di tahun 1991, Kazakhstan segera menghapus senjata nuklir, bekerjasama baik dengan Rusia dalam masa transisi, termasuk dalam memperlakukan etnis Rusia yang cukup signifikan di sana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini pada awalnya banyak menerima bantuan dari negeri-negeri Arab yang bersimpati terhadap negeri-negeri atheis di Asia dan Eropa yang ingin kembali ke akarnya: Islam.  Ratusan juta dolar pun mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turki pun tidak ketinggalan melihat peluang untuk pengaruh politik dan meperluas kepentingan ekonominya.  Proyek konstruksi di negeri ini dikuasai perusahaan Turki.  Begitu pula dengan China, aktif berdagang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Kazakhstan mempertahankan polugri yang seimbang (balanced) terhadap semua negara-negara berpengaruh di kawasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah negeri ini menarik.  Kazakhstan di abad ke-18 masuk ke dalam wilayah pengaruh dan pada pertengahan abad ke-19 menjadi bagian dari kemaharajaan Rusia.  Setelah Revolusi Bolshevik 1919, Kazakhstan menjadi bagian dari Uni Soviet (USSR).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selama berada di bawah Uni Soviet itu pula Kazakhstan membangun sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, industri dan sumber-daya manusianya. Faktor ini pula yang menjadi dasar bagi Kazakhstan untuk bersikap optimis dengan masa depannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu proyek terpenting bagi Presiden Nazarbayev adalah memindahkan ibukota dari Almaty, kota tua yang kini sesak, ke daerah padang gersang di Astana di akhir 1997.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, setelah pembangunan masif sejak 1995 Anda tidak lagi melihat kegersangan di ibukota yang lebih mirip menggambarkan masa depan: futuristik.  Tidak tanggung-tanggung, pendesain dan arsitek unggulan dunia diundang untuk membangun kota ini.&lt;br /&gt;Astana, dengan 700 ribu penduduk, jauh lebih masif dibanding Putrajaya, Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berfikir, kapan Indonesia memiliki ibukota yang ideal seperti Astana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini telah siap dengan berbagai infrastruktur pendukungnya.  Jangan dulu bandingkan kehidupan kultural dan sosial seperti kota-kota ideal di belahan bumi lainnya.  Tetapi, orang-orang Kazakh telah memulai dengan benar.  Semua sarana ekonomi, sosial dan kebudayaan dan seluruh perangkat kota dengan status ibukota negeri telah hadir.  Dan mereka terus membangun kota ini, dengan sejumlah bangunan berskala besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara Bayterek menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;landmark&lt;/span&gt; utama Astana dan menjadi symbol Kazakhstan di luar negeri. Di samping istana presiden, gedung pemerintahan, perkantoran, gedung teater dan opera, beragam museum, Astana didukung pula dengan berbagai hotel terbaik, sarana olahraga, gedung apartemen, gedung pertemuan dan konperensi, rumah ibadah berbagai agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa gedung Gedung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Palace of Peace and Reconciliation&lt;/span&gt; yang berbentuk pyramid seluas lebih dari 25 ribu meter persegi hanya diperuntukkan bagi konperensi perdamaian, dan lintas-keyakinan/agama saja, dengan dukungan ruang opera, museum, perpustakaan dan pusat penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah memiliki Gedung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Concert Hall &lt;/span&gt;terbesar di dunia berkapasitas 3500 tempat duduk ini berdiri di atas tanah seluas 55 ribu meter persegi dilengkapi aula, ruang musik dan bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara mesjid terbesar sedang dibangun, maka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mesjid Nur-Astana&lt;/span&gt; bermenara-4 yang dibangun tahun 2005 oleh Emir Qatar menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islamic Center&lt;/span&gt;.  Di sini terdapat ruang ibadah untuk 5000 jamaah, dan sarana madrasah, dan perpustakaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa bangunan monumental yang patut dilihat adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ak Orda Presidential Palace&lt;/span&gt; seluas hampir 37 ribu meter persegi, K&lt;span style="font-style:italic;"&gt;han Shatyry Entertainment Center&lt;/span&gt; yang dibangun pada tahun 2006-2010.  Khan Shatyry dibangun mirip dengan tenda tradisional Mongolia setinggi 150 meter di atas tanah 140 ribu meter persegi .  Khan Shatyry tidak saja berfungsi sebagai tempat rekreasi biasa, mall, food courts, tetapi juga memiliki pantai indoor dengan udara tropis sepanjang tahun, didukung sarana watersport, dan mini-golf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;waterfront&lt;/span&gt; di tepi sungai Ishim, katedral, pasar, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;oceanarium&lt;/span&gt;.  Museum utama terdapat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Presidential Center of Culture, Kabanbay Batyr Mausoleum, Ethnic Memorial Complex, S. Seifullin&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Museum Nazarbayev&lt;/span&gt; sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kesulitan yang terbayangkan saya adalah kota ini terletak di kawasan terdingin di dunia.  Bayangkan, pada musim dingin udara turun mencapai minus 40-45 derjat celcius, dan berangin pula.  Yang nikmat adalah di musim panas dengan temperatur tidak lebih dari 25 derajat celcius dan kering.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kapan Ibukota Republik Indonesia, atau setidaknya pusat pemerintahan kita akan dipindahkan? Hidup di Jakarta ini sudah tidak mendukung lagi.  Bahkan, kualitas hidup pun menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astana, 1 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-1778959078313720567?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/1778959078313720567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/07/astana-ibukota-kazakhstan-yang.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/1778959078313720567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/1778959078313720567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/07/astana-ibukota-kazakhstan-yang.html' title='Astana: Ibukota Kazakhstan yang Mengagumkan'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dpEfUh7eTjI/ThLUU5N11DI/AAAAAAAAAJE/Oqf3tyemAb4/s72-c/DSC_1018.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-5710904163499814848</id><published>2011-06-23T21:25:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T21:32:01.550-07:00</updated><title type='text'>Sekolah Terbaik : Memoar Rinto Harahap</title><content type='html'>TIDAK SEMUA orang beruntung memperoleh pendidikan formal sampai sarjana.  Keberuntungan memperoleh pendidikan setinggi mungkin itu ada pada semua lapisan sosial ekonomi.  Tidak mesti kaya, banyak anak-anak rakyat di lapisan bawah yang mencapai jenjang pendidikan tertinggi, bahkan professor!  Sebaliknya, banyak pula anak-anak dari keluarga menengah ke atas yang hanya tamat SMA atau lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kemampuan ekonomi tidak menjadi faktor terpenting dalam mencapai pendidikan tinggi. Ada kemampuan IQ, ada kecerdasan emosi, konsistensi dan kegigihan.  Semua ini faktor bawaan, given, ada pada manusia dalam perbedaan tingkatnya.  Yang lain pelengkap. Tak usah diperdebatkan bahwa semua faktor bawaan ini adalah pemberian dari Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di manapun, dan dari lapisan mana pun Anda berasal tidak menjadi faktor bahwa Anda tidak menjadi manusia berguna.  Dengan apa yang Anda punyai, atau gelombang kehidupan yang Anda lalui, itu adalah modal untuk ‘menjadi orang’.  Karena kehidupan itu sendiri, dengan berbagai terpaan badai atau keteduhannya, adalah sekolah terbaik bagi Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini barangkali yang menjadi catatan saya, pada Sabtu petang akhir Mei 2011 di Gramedia Grand Indonesia, ketika menghadiri peluncuran memoir Rinto Harahap yang tidak asing lagi bagi dunia musik pop di tanah air, terutama di sejak era 1970-an sampai akhir abad yang lalu.  Penulisnya juga beken: Izharry Agusjaya Moenzir dengan karya terbarunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gelas Gelas Kaca: Tribute to Rinto Harahap&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izharry, senior saya di Harian Waspada Medan, juga penulis Bukan Testimoni Susno Duaji, memoir Gesang sang pencipta lagu “Bengawan Solo” dan sejumlah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bestseller&lt;/span&gt; lainnya. Gramedia.  Dia dulu senior saya di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Harian Waspada&lt;/span&gt; Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu telah hadir Bang Rinto sendiri, isterinya Lily dan puteri paling bungsu Achi yang dokter gigi.  Di samping Izharry sang penulis, telah disiapkan panel untuk bedah-buku memoir itu, tidak lain dari wartawan musik top Bens Leo dan Bang Rinto sendiri.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Beberapa teman-teman dekat Rinto juga hadir, seperti Jajang Pamuncak, Jelly Tobing, Erwin Harahap, Fadyl Usman, etnomusikolog Rizaldi Siagian dan sejumlah anak Medan lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erwin Harahap yang kalem dengan gitarnya di Mercys tidak lain abang kandung Rinto sendiri yang menjadi pemimpin grup band yang melahirkan Rinto, Charles Hutagalung, Reynold Panggabean dan Albert Sumlang dalam blantika musik pop nasional selama lebih dari 3 dekade, mulai awal 1970-an juga hadir sore itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Endorser&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEBIH DARI sekadar pengagum Bang Rinto, saya hadir dalam acara peluncuran memoar itu atas undangan Gramedia sebagai salah satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;endorsers&lt;/span&gt; memoar itu. Suatu hari Bang Izharry bercerita sedang menyelesaikan memoar Rinto Harahap.  Buku ini sudah digarap selama 12 tahun, dan dia ingin segera menuntaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mantap itu, Bang”, ujar saya.  Saya memang penggemar Mercys, seperti lazimnya generasi saya yang kini berusia 50-70 tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak kenal dengan Rinto Harahap, pencipta lagu yang merajai musik pop Indonesia pada era 1970-1990an? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Lolypop Group, kelompok binaan Rinto di luar Mercys, lahir sejumlah nama-nama puncak seperti Diana Nasution, Christine Panjaitan, Betharia Sonata, Iis Sugianto, Eddy Silitonga, Nur Afni Octavia, Nia Daniati, Hetty Koes Endang, Broery Pesulima, Rita Butar Butar, Viktor Hutabarat, dan banyak lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;endorser&lt;/span&gt;, saya juga didaulat berbicara.  Jujur saya berkata meskipun belum pernah menyaksikan langsung konser Mercys atau Lolypop atau bertemu dengan Rinto Harahap, tetapi saya dan jutaan lainnya adalah pengagum berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Generasi saya dan bahkan yang lebih tua dibesarkan oleh lagu-lagu Bang Rinto.  Kami mengingat lagu-lagu itu karena ada kaitannya dengan kenangan di masa lalu, masa remaja”, kata saya mengawali komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jutaan orang-orang seperti saya dan sanak keluarga akan memilih Bang Rinto sebagai presiden jika pada zaman itu kita telah reformasi dan Bang Rinto maju mencalonkan diri menjadi presiden”, ujar saya yang mendapat tepuk tangan pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Rinto tidak saja berjasa ‘membesarkan’ kita.  Beliau juga menciptakan kehidupan dengan keterlibatan para pekerja industri musik, ratusan ribu orang-orang yang terlibat dalam sektor produksi, pemasaran dan pertunjukan karya-karyanya.  Dampak ekonomi itu muncul berkat karya-karya adiluhung Bang Rinto, kata saya bak seorang caleg di Pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir 20 tahun saya tinggal di luar negeri, karya-karya Bang Rinto menjadi pengobat rindu ke tanah air nan jauh.  Begitu berartinya lagu-lagu popular Indonesia, termasuk ciptaan Rinto Harahap, bagi masyarakat kita di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hasil karya berjumlah 518 lagu selama 3 dekade dimulai tahun 1970-an Rinto Harahap memerintah kerajaan musik pop modern Indonesia.  Teruji, merekam zaman yang cukup panjang dan mengabadikannya ke dalam karya-karya indah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Karya cipta Rinto Harahap juga diabadikan dalam album The Masterpiece of Rinto Harahap, bersisikan 14 lagu yang didaur-ulang sesuai konsep musik masa kini dan dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi anyar sekarang.  Karya-karya itu abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jalan Tom Jones atau Rinto?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA lantas mengutip wawancara penyanyi top di tahun 1960-an, Tom Jones, yang merasa menyesal mengapa pada puncak-puncak kehebatan suaranya malah dia menghabiskan waktu untuk show di Las Vegas dan berbagai kota di dunia.  Menurutnya, pada puncak prima kehebatan pita suaranya seharusnya digunakan untuk rekaman.  Meskipun Tom Jones sekarang ini masih melakukan konser dan full-house di mana-mana, tak-pelak pita suara itu tidak seprima seperti pada era kejayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tom Jones menyesal, rekaman suara itu akan menjadi harta karun modal yang akan menjamin hari tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan, Bang Rinto pada puncak-puncak kreativitasnya menghabiskan waktu untuk mencipta lagu dan merekam di studio.  Tidaklah mengherankan jika dalam kurun waktu itu Rinto menghasilkan 518 lagu ciptaannya.  Bang Rinto lebih beruntung ketimbang Tom Jones.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lantas ingat, ketika Duta Besar Rusia Vladimir Plotnikov mengajak saya untuk sama-sama menyanyikan Benci Tapi Rindu pada acara dinner di tahun 2006. Dubes Rusia yang fasih berbahasa Indonesia ini sangat menyukai karya-karya Bang Rinto.  Saya sadar karya-karya Rinto Harahap telah menembus batas-batas kultural antar-negara.  Tom Jones juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, saya pun menyanyikan Benci Tapi Rindu, bersama sang penciptanya, Bang Rinto, diikuti hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ingin Kembali Mencipta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETANG itu Bang Rinto tampak segar.  Ketika berbicara, Bang Rinto masih belum lugas.  Beliau terserang stroke beberapa tahun yang lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan menulis lagu lagi, terutama jika jemari kanan sdh pulih, agar bisa main gitar”, katanya.   Doakan kawan-kawan, katanya lagi yang disambut oleh para hadirin yang memenuhi tokobuku Gramedia: Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerima Anugerah Seni 1982 dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen P dan K, sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi yang berprestasi itu tak-pelak menjadi a legend.  Dia turut meletakkan dasar-dasar lagu populer di Nusantara (termasuk Malaysia, Brunei, Singapura). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar, nama besar Rinto Harahap akan diabadikan dalam sanubari rakyat berbahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kejujuran Modal Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM memoar Gelas-Gelas Kaca, Rinto Harahap jujur bertutur kisah dirinya.  Tiada kebetulan, dan manusia bisa menjadikan kehidupan nyata yang  dialaminya – di mana pun, apapun status sosialnya--  sebagai sekolah terbaik bagi kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memoar ini sarat dengan pesan.  Sekolah kehidupan, lebih dari sekadar sekolah formal,  mengajarkan wisdom dan mendorong manusia untuk menggali potensi yang ada pada diri sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, potensi sebagai pencipta lagu tidak tampak pada Rinto. Hanya karena terpaan berbagai peristiwa berat Rinto terdorong untuk setia dan jujur menjadi seniman.  Berada lingkungan orang-orang yang dicintainya, keluarganya, dan teman-teman dia bekerja keras.  Hasil kerja keras itulah yang menghantarkan Rinto menjadi legend, pencipta lagu yang sangat kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bertutur tentang kampung halamannya di Sipirok dan di masa kecil di Sibolga, tentang ayah dan ibu yang dicintainya. Bertubi-tubi cobaan menimpa keluarga dan dirinya, dan Rinto yang berhati lembut ternyata juga berlatar-belakang dunia keras, preman, di Medan.  Ternyata dia mantan Rambo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinto menjadi 'introvert' ternyata pernah mengalami tahanan, namun suka menulis puisi.  Puisi-puisi itu kelak akan menjadi tema lagu-lagu ciptaannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinto Harahap menjadi pribadi yang jujur, seakan-akan terombang-ambing dalam jatuh-bangun kehidupan keluarga ayahnya, mencoba setia dengan anjuran ayahnya untuk menjadi pegawai dengan kehidupan serba teratur.  Pada akhirnya, dia terdampar di dunia seni, dan sukses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungannya dengan kolega Charles Hutagalung yang lebih dahulu ngetop dan memang berbakat diakuinya jujur.  Bahkan, Charles yang menjadi sumber inspirasi dan guru baginya.  Pada kejayaan karir mereka, sempat kedua teman akrab menjadi seteru.  Namun, di masa senja pertemanan itu bertaut kembali.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Zia dan Tasya, teman remaja Rinto digambarkan begitu inspiratif, lebih sebagai teman karena keduanya memahami perasaan Rinto yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang Tasya, teman remajanya itu diungkap Rinto dalam lagu Katakan Sejujurnya yang menjadi salah satu hit Christine Panjaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa mungkin kita bersatu?”, tanya Rinto yang masih dalam taraf pencarian diri, kemudian merantau meninggalkan kota Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izharry Agusjaya sang penulis hebat selama 4 dekade adalah orang yang tepat merekam dengan baik dan halus buku memoar itu.  Wajar, Izharry sangat memahami degup-jantung anak-anak Medan dengan berbagai perjuangan mereka di ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah perjuangan dan suka-duka anak manusia yang mirip dengan cerita Laskar Pelangi ini sangat inspiratif dan layak difilmkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-5710904163499814848?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/5710904163499814848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/06/sekolah-terbaik-memoar-rinto-harahap.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5710904163499814848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5710904163499814848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/06/sekolah-terbaik-memoar-rinto-harahap.html' title='Sekolah Terbaik : Memoar Rinto Harahap'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-4716427443205513519</id><published>2011-06-13T21:05:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T23:16:22.726-07:00</updated><title type='text'>BERTETANGGA YAHUDI</title><content type='html'>KAMI tinggal 4 tahun di New York.  Kota ini sempat dijuluki “Jew York” karena di kota ini konsentrasi terbesar masyarakat Yahudi di luar Israel, hampir 2 juta orang, dari total kurang lebih 7 juta jiwa di seluruh AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas komunitas Yahudi berasal dari kelompok Ashkenazi  yang berjumlah hampir 1 juta jiwa.  Selebihnya adalah kelompok Hasidic Chabad-Lubavitch, Bobover, Satmar yang menjadi cabang-cabang dari sub-etnis Hasidism, kelompok ultra-Orthodox Judaisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan mereka di New York City dimulai pada abad ke-17, datang dari Brazil mencari kebebasan beragama.  Mereka tergolong Sephardi (Yahudi yang berasal dari Negara non-Eropa) seperti Suriah. Imigrasi besar-besaran terjadi pada akhir abad ke-19 ketika anti-Semit merebak di Eropa Tengah dan Timur, kemudian setelah PD I. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era glasnost dan perestroika di Uni Soviet pada dekade 1980-1990, komunitas Yahudi Ashkenazi, Bukhari, dan Georgia , membanjiri New York.  Queens, South Brooklyn, Bronx, Manhattan, dan Riverdale.  Umumnya orang-orang Yahudi tinggal di kawasan-menengah seperti Brooklyn, Queens, Forest Hills, atau di Fresh Meadows dan Flushing, di mana kami sekeluarga tinggal.  Sebagian menetap di di Upper State, Long Islands, atau di New Jersey di enklaf kelas menengah ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Omni Present&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAHUDI itu tidak monolit.  Tentu, tidak semua mereka kaya dan berkecukupan.  Ada pula yang kurang beruntung dan menjadi tukang cukur, atau binatu, atau hanya pelayan restoran.  Mereka juga tidak semua beragama Yahudi, agama mayoritas.  Bahkan tidak kurang yang atheis alias tidak beragama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Google, hanya ¼ komunitas Yahudi di Amerika yang menjalankan ibadah agama tradisional mereka.  Mungkin ini yang menjelaskan mengapa secara tradisional komunitas Yahudi Amerika menjadi pendukung Partai Demokrat (liberal), daripada Partai Republik (konservatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang puritan, ada pula yang kosmopolitan.  Banyak yang menjadi selebriti, artis terkenal, sutradara film, professor, penulis hebat atau pemilik media.  Meskipun jumlahnya sekitar 2 juta, orang-orang Yahudi itu ada di mana-mana, omni present.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cukup lama, hampir 4 tahun kami tinggal di Fresh Meadows bertetangga dengan masyarakat  Yahudi saya pun terbiasa dengan pemandangan sehari-hari hidup dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Sabtu yang adalah hari Sabbath, hari suci bagi umat Yahudi seperti Jumat bagi Muslim, mereka beribadah ke Sinagog, berjalan berbondong-bondong.  Pada hari Sabtu orang yahudi dilarang berkendaraan.  Sinagog merupakan pemandangan biasa di New York, terutama di kawasan konsentrasi masyarakat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru Yahudi yang disebut Rosh Hashanah tidak begitu kentara dirayakan di Amerika, berbeda halnya dengan Yom Kippur yang merupakan hari tersuci bagi mereka atau Hanukah, festival 8-hari dengan menyalakan lampu bercabang-8.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Agama yahudi juga memiliki hari-hari besar lainnya, namun yang kentara dirayakan meriah adalah Yom Kippur dan Hanukah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Puasa juga menjadi bagian dari ritual agama Yahudi, di samping tirakat sambil membaca kitab suci Taurat sampai menjelang subuh.  Di pemukiman kami tinggal itu, pada waktu tertentu lamat-lamat saya mendengar mereka mengaji di malam hening entah sampai jam berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga memasang tenda di samping rumah, dan bersama keluarga ‘tadarus’ membaca Taurat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itu, kami bertetangga baik dengan orang-orang Yahudi, peacefull coexistence, hidup berdampingan dengan damai.  Di kawasan ini pula kami lebih mengenal mendalam tentang kebiasaan dan hidup sehari-hari mereka.  Tidak hanya itu, landlord (pemilik rumah), dokter, agen asuransi, bankers, dan guru-guru sekolah anak-anak kami, dan beberapa profesor hebat yang saya kenal baik ketika belajar di University of Washington (Seattle) juga orang Yahudi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak semua beruntung.  Di antara yang masih belum beruntung adalah tetangga kami.  Aleksandr atau Sasha, begitu dia dipanggil isterinya, beserta 2 anak remaja baru saja beremigrasi dari Azerbaidjan.  Dia belum lancar berbahasa Inggeris.  Saya dan keluarganya selalu berbahasa Rusia bila berpapasan atau pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;weekend&lt;/span&gt; sedang berberes rumah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurutnya, kehidupan di negara bekas Uni Soviet itu tidak menarik lagi setelah bubarnya negeri itu di awal tahun 1990. Pasca bubarnya Uni Soviet, masyarakat etnis terutama di Asia Tengah kembali ke tradisi semula yang Islam.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam gejolak sosial di negara-negara transisi itu selalu muncul masalah-masalah sosial dan bahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;xenophobia&lt;/span&gt; (benci orang asing) meskipun mereka lahir dan besar di negeri itu.  Itu yang membuat Sasha merasa tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasha menjual semua harta-bendanya dan berkat koneksi dan persaudaraan Yahudi mendapat sponsor untuk beremigrasi ke AS.  Dia harus mandiri setelah tiba di Amerika.  Dia hanyalah seorang pemilik mobil sedan merangkap supir untuk tamu-tamu VIP, begitu penjelasannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Anaknya yang laki-laki bekerja sebagai montir, sedangkan puteri remajanya bekerja sebagai kasir di supermarket yang tidak jauh dari rumah saya.  Kedua anak mereka ini juga sedang menempuh studi di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sasha, selama hidup di zaman Komunis Uni Soviet mereka diwajibkan mengikis identitas etnis dan bahkan agama!  Kehidupan  cenderung sekuler.  Banyak pula yang menjadi atheis, seperti Sasha dan keluarganya.  Maka, beremigrasi ke Amerika dan tinggal bersama komunitas Yahudi menjadi kesempatan untuk kembali ke tradisi dan agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dulu tidak tahu bahwa daging babi itu haram”, katanya.  Memang Sasha dan keluarganya telah menjadi ‘born-again’ Jewish.  Dia kini tidak mengkonsumsi daging babi, dan bahkan berusaha secara ketat mematuhi diet Yahudi dengan makanan kosher (halal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Belajar Mendidik Anak a la Yahudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINGGAL bersama komunitas dengan mayoritas Yahudi menjadi biasa.  Kami juga memerhatikan bagaimana mereka hidup sehari-hari.  Bangsa yang diuber-uber selama ribuan tahun ini memang luar biasa ketahanan nasionalnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun ibu-ibu rumahtangga Yahudi itu memiliki pendidikan tinggi, bahkan sampai doktor, tetapi mereka tetap setia pada profesi tradisional: sebagai penjaga tradisi, pendidik di rumah serta mengurus pekerjaan rumah-tangga (house chores).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Yahudi berbudaya paternalistik.  Lelaki berjuang untuk keluarga, mencari kehidupan.  Wanita dipersiapkan untuk menjadi ibu rumah-tangga.  Ini profesi tradisional yang bersandar pada budaya Yahudi.  Para ibu rumah tangga menjadi ‘the back bone’ bagi penjaminan agar tradisi, agama, dan budaya terwariskan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi kunci daya tahan mereka adalah bersumber pada 2 hal: tradisi dan agama.  Dari ajaran teologis ini mereka memiliki 2 kunci hidup: bagaimana menjadi kaya dan berpengaruh melalui pemilikan harta-benda dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga ingin mencuri ‘resep’ bagaimana mereka mendidik anak-anak di rumah.  Kebetulan anak-anak kami masih usia sekolah SD dan SMP negeri (public school) yang para guru-guru serta orang-tua murid dengan sendirinya mayoritas adalah orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun awal kami tinggal di Amerika anak-anak mengalami kesulitan berbahasa Inggeris.  Sekalipun Sandra, anak kami yang paling besar, sudah bisa berbahasa Inggeris secara terbatas tetapi aksen Prancisnya sangat kental.  Sebelumnya, kami tinggal di Eropa dan anak-anak bersekolah di sekolah Prancis (L’Ecole Francais Victor Hugo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan isteri mencoba ‘bridging the gap’ dengan rajin berkonsultasi dengan guru-guru bagaimana kami bisa membantu anak-anak mengatasi kesulitan bahasa Inggeris.  Kami juga selalu aktif ikut dalam rapat-rapat Parent-Teacher Association (PTA) untuk mengenal orang-tua teman-teman anak-anak kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adalah kebijakan sekolah yang mewajibkan anak-anak asing untuk tidak hanya belajar di ruang kelas bersama-sama anak-anak Amerika lainnya.  Mereka juga harus mengikuti kelas English as Second Language (ESL).  Alhamdulillah, berkat upaya keras dan nasehat dari para guru dan orang-tua murid maka dalam kurang setahun anak-anak kami sudah mulai lancar berbahasa Inggeris.  Bahkan yang paling kecil, Rizaldy, mampu menyelesaikan ESL dalam waktu 6 bulan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pekerjaan banyak tinggal di luar negeri, saya mengikuti tradisi internasional dalam memberi 3 nama (name, middle name, surname) bagi tiap anak kami.  Saya selalau menyisipkan nama tengah bagi anak laki-laki dengan panggilan leluhur.  Maka, anak kedua Edwin memiliki nama tengah JAKOB.  Itu nama kakek saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jakob?”, kata gurunya yang Yahudi, keheranan bagaimana orang Indonesia Muslim mengambil nama orang yang paling dihormati, kakek-moyang orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Edwin Jakob Pohan”, ujar saya.  Saya jelaskan Jakob itu nama kakek saya, dan juga menjadi nama nabi bagi kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Good.  I did not know that”, ujar sang guru, kagum dan senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kesempatan, pada bulan Ramadhan kami bertemu dengan guru-kelas yang juga orang Yahudi.  Dia menyatakan kekaguman bahwa anak-anak menjalankan ibadah puasa secara disiplin.  Pada saat istirahat makan-siang anak-anak Muslim diperbolehkan berada di ruang perpustakaan, bermain atau belajar silahkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kagum sekali, bagaimana anak-anak Asia dalam usia dini telah mampu berdisiplin dengan patuh tanpa complain menjalankan ibadah puasa yang tentu berat bagi mereka”, ukarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjelaskan bahwa sebenarnya kami memperbolehkan anak-anak tidak berpuasa sekiranya akan menyebabkan mereka terlihat ‘aneh’ di antara anak-anak lainnya.  Tetapi anak-anak itu hanya melanjutkan tradisi di tanah air, menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak juga belajar di Saturday School Mesjid Al Hikmah untuk belajar Al Quran dan hal-hal keislaman, bersama anak-anak Indonesia Muslim dan beberapa di antaranya anak ekspat dari Asia Selatan dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekiranya anak-anak Amerika juga memiliki disiplin yang tinggi dan keyakinan keagamaan yang kental saya yakin kami akan maju”, tambah sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin memang menjadi kunci.  Dan dengan disiplin tinggi pula anak-anak Yahudi dipersiapkan oleh orang-tuanya.  Kami ‘mencuri’ ilmu yang sederhana tetapi manjur.&lt;br /&gt;“Anak-anak kami tidak mengenal TV dan hiburan lainnya pada hari-hari sekolah”, kata seorang ibu Yahudi kepada isteri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mondays to Fridays no TV or PlayStation at all”, katanya.  Anak-anak diperbolehkan melakukan kegiatan luar-sekolah hanya pada akhir-pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, anak-anak kami juga terbiasa untuk mengembalikan semua permainan kesayangan mereka pada Minggu petang.  Mereka segera mempersiapkan diri untuk pelajaran hari Senin dan seterusnya.  PlayStation ini akan mereka ambil dari kamar kami pada Jumat sore, setelah kembali dari sekolah.  Dan mereka juga terbiasa tanpa menonton acara TV apapun selama hari-hari sekolah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jam 800 malam anak-anak harus masuk ke kamar masing-masing, dan pada jam 900 lampu di kamar mereka kami matikan karena jam tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa liburan musim panas yang cukup panjang, seperti anak-anak Yahudi mereka pun tidak lepas dari kegiatan berbau sekolah.  Tentu saja, masa liburan juga kami gunakan bersama anak-anak bepergian ke kota-kota lainnya.  Namun, kebanyakan waktu digunakan untuk membaca buku.  Isteri saya rajin meminjam buku untuk anak-anak dari perpustakaan.  Belasan buku setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam liburan panjang mereka menghabiskan puluhan buku.  Buku apa saja, dan tidak mesli buku pelajaran.  Yang penting adalah buku yang mereka sukai.  Apapun.&lt;br /&gt;Tidak hanya dalam pelajaran.  Anak-anak juga sejak kecil terbiasa dengan pekerjaan rumah-tangga (house chores).  Tentu yang ringan-ringan saja, seperti membersihkan tempat tidur, kamar dan mengatur pakaian dan buku-buku dengan rapi. Ini juga menjadi kebiasaan anak-anak Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan disiplin dan kebiasaan baik yang ditanamkan hasil-hasil sekolah pun meningkat.  Anak perempuan kami dengan nilai yang baik diterima di sekolah pilihannya SMA Cordozo.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, anak ke-3 Rizaldy menjadi juara bahasa Inggeris di sekolahnya.  Masih kelas V, Rizaldy telah menjadi wakil sekolahnya untuk mengikuti kompetisi bahasa Inggeris pada tingkat regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga berkat iklim belajar-mengajar yang kondusif.  Pada sekolah-sekolah negeri Amerika para guru diwajibkan mengikis prejudice.  Anak-anak kamipun tanpa disadari mereka mengalami transformasi menjadi orang Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yes, I am American”, kata putera saya.  Padahal pada tahun kedua dia mengatakan ‘I am partly American, partly Indonesian’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya kembali ke tanah air karena penugasan telah selesai kami pamit dengan guru-guru sekolah mereka.  Guru-guru Yahudi Amerika itu mengekspresikan kesedihan, mengapa kami harus meninggalkan Amerika, dan apakah kami tidak betah di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana nanti pendidikan anak-anak di sana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pegawai pemerintah, dan sudah waktunya untuk kembali ke tanah air.  Jangan khawatir, di kota-kota besar di Indonesia telah banyak sekolah-sekolah yang baik, di mana anak-anak juga akan menempuh pendidikan dengan baik”, ujar saya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, setelah beberapa tahun berada di tanah air anak-anak dapat menempuh pelajaran dengan baik.  Sandra, kini lulus dari FH UI, telah bekerja di suatu law-firm.  Edwin, anak kedua kami juga sedang menyelesaikan studinya di FISIP UI, sementara adiknya Rizaldy telah belajar pada semester 6 di ITB, jurusan teknik mesin dirgantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di pemukiman mayoritas Yahudi dan bertetangga dengan mereka juga memiliki sisi-sisi baik yang menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam membesarkan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-4716427443205513519?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/4716427443205513519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/06/bertetangga-yahudi.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/4716427443205513519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/4716427443205513519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/06/bertetangga-yahudi.html' title='BERTETANGGA YAHUDI'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-5063511226138294193</id><published>2011-05-12T00:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:28:46.423-07:00</updated><title type='text'>INDONESIA ESTABLISHED FIRST CHAPTER OF ASEAN BLOGGER COMMUNITY</title><content type='html'>DIRECTOR General for ASEAN Cooperation of the Ministry of Foreign Affairs Djauhari Oratmangun Tuesday (10/5) inaugurated the establishment of the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia in Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The launching of the first ASEAN regional-based blogger community is meant to express the enthusiasm among Indonesian bloggers to support Indonesia’s position as current 2011 chair of ASEAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Djauhari Oratmangun hailed the initiatives of Indonesian bloggers to establish the first kind of blogger society and hoped that similar communities would be established by its sister chapters in all ASEAN member countries. He asked ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia to jointly with him in the dissemination of information and messages of ASEAN to Indonesian people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ASEAN is in the verge of crucial challenges that this sub-regional cooperative organization cannot survive in the globalization era without strong support from its people. Therefore, the ASEAN Charter has mandated all ASEAN member-countries to do their utmost to make ASEAN relevant, useful, and felt among its people”, he said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He continued, the participation of bloggers is crucially important since our contemporary world and challenges ahead depends heavily on IT communications, and in particular the social media.  Therefore, the task he expects from Indonesian bloggers is to spread all positive direction ASEAN is now pursuing and in speeding up the establishment an ASEAN community-type cooperation in the Southeast Asia sub-regional in 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The inauguration of ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia were attended by blogger community representatives, among others, from Jakarta, Bekasi, Surabaya, Jakarta, Medan and Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The official inauguration was marked by signing of a Declaration, among others by Director General Djauhari Oratmangun, followed by chairman of the event organizer Imam Brotoseno, the founders and respective representatives of blogger communities from those cities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Declaration on the Establishment of the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia contains the commitment: (1) to intensify efforts in the making of a people-centered ASEAN integration through strengthened interaction, (2) to put forward ideas and proposals to respective governments in their exercise of strengthening 3 community pillars, i.e. political and security, economic, and social-cultural in line with the national interest of Indonesia and people welfare (3) to bridge communication among bloggers in ASEAN countries and to encourage people participation in the process, (4) to conduct social activities among bloggers and people in establishing a sense of ownership and participation within the ASEAN cooperation framework, and (5) and to establish the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia as contribution from the Indonesia people, and to publish information of its activities of through newly-established website http://aseanblogger.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his introduction remark, Mr. Imam Brotoseno welcomed the support rendered by the Ministry of Foreign Affairs, in particular, for the warm support from Director General Djauhari Oratmangun. He thanked also Ms. Mubarika Darmayanti, representative of IdblogNetwork for her support.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Through Indonesia’s chapter of the ASEAN Blogger Community, we bloggers wish to contribute to the presence of ASEAN in the midst of Indonesian people, and the Chapter would serves as bridge to communicate Indonesian bloggers with their counterparts from 9 other member countries. We do not intend to apply this social medium just for the sake of forging friendship and common identity, but also in the practical terms to strengthen strategic goals in new economic ventures at the level of society, as well as in the socio-cultural fields”, Imam Brotoseno further said, speaking on behalf of the founders of the group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said the presence of ASEAN among people of South East Asia should not only be felt. ASEAN should be owned, driven, and initiated by people. The Summit theme ASEAN of people-centered needs more new ideas and thinking in the concrete and practical terms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We wish our step would be followed by other blogger communities in the ASEAN member-countries. We wish to establish cooperation and exchange of views and information with our  counterparts”, said Imam Brotoseno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Domestically, we would like to appeal to all bloggers in many cities in Indonesia to join us, either individually or through their communities”, he continued.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Brotoseno, former President of annual Indonesian Blogger Party in 2010 said in the talkshow program held after the inauguration of the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia that he and other colleagues would embark a string of road shows in Surabaya, Makassar, Medan, and finally Jakarta in order to introduce the newly established Indonesian Chapter, where he expected to receive not only enthusiasm but also ideas and proposals from bloggers there. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We would like to develop vision and mission of our newly-established blogger association, and further action plans”, he added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to some of the founders of ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia, they will make a report to the Ministry of Foreign Affairs and to the ASEAN Secretary General on the establishment of the Indonesian Chapter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We will ask the Foreign Ministry and the ASEAN Secretariat to inform the governments of ASEAN member-countries and offer our readiness to cooperate with our sister counterparts. We intend to organize a meeting of all sister ASEAN Blogger Community Chapters from respective countries in Jakarta during the 44th Anniversary of ASEAN. The meeting would be held to provide exchange of views among all ASEAN member countries and to establish cooperation on how we could contribute in the ASEAN process”, Aris Heru Utomo, chair of the Bekasi Blogger (BeBlog), other founders Amril Taufik Gobel, and Wijaya Kusumah added.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-5063511226138294193?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/5063511226138294193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/05/indonesia-established-first-chapter-of.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5063511226138294193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5063511226138294193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/05/indonesia-established-first-chapter-of.html' title='INDONESIA ESTABLISHED FIRST CHAPTER OF ASEAN BLOGGER COMMUNITY'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-3362048347908820150</id><published>2011-04-19T23:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T00:29:40.451-07:00</updated><title type='text'>ADAKAH RUANG DIPLOMASI KITA DI TIMUR TENGAH?</title><content type='html'>TUNTUTAN umat Islam di tanah air agar Indonesia memainkan peranan aktif dalam mendorong proses damai reformasi di beberapa Negara Timur Tengah dan Afrika Utara mencuat akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berturut-turut, mulai akhir 2010 demonstrasi merebak di Tunisia kemudian menjalar ke Mesir, Libya, Aljeria, Bahrain, Djibouti, Iraq, Yordania, Syria, Oman dan Yaman, diikuti pula euphoria demokrasi di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Marokko, Arab Saudi, Sudan dan di Sahara Barat yang semuanya dikenal sebagai negara-negara Muslim.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Beberapa pengamat mencoba memahami situasi dan dinamika yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara itu kurang lebih setara dengan tingkat dan dimensi perubahan di Eropa Timur di awal tahun 1990-an yang telah menjungkirbalikkan komunisme dan mengakhiri Perang Dingin.  Peta Eropa berubah, maka peta geopolitik pun berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pergolakan atau lebih tepatnya revolusi yang berlangsung di sana belum akan berakhir dalam waktu dekat.  It’s only the beginning, hemat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah ‘wind of change’ menyapu Dunia Islam?  Seberapa besar tantangan demokrasi di Dunia Islam dan apakah pengalaman Indonesia atau Turki relevan bagi Negara-negara yang sedang bergejolak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah opsi-opsi yang terbuka bagi Indonesia untuk turut menyumbangkan peran dan pengalamannya dalam meredam gejolak agar tidak merugikan perjuangan Dunia Islam?  Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa Kita Peduli?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARAPAN masyarakat di tanah air agar Indonesia melalui diplomasi untuk memainkan peranan untuk tercapainya transisi damai di Negara-negara Muslim itu beralasan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, Indonesia merupakan Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Pergolakan di dunia Islam menjadi keprihatinan kaum Muslim di Indonesia.  Indonesia pasca reformasi telah memiliki kesempatan untuk menggunakan diplomasi yang tidak sekadar alat perjuangan mencapai kepentingan nasional yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tangible&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembukaan UUD 1945 telah memandatkan tanggung-jawab internasional Indonesia apalagi didukung dengan kinerja ekonomi yang menakjubkan dunia dan telah menjadi anggota G-20, kelompok negara dengan ekonomi terbesar dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas karena kedekatan agama atau mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina telah menjadi klasik.  Konstituten di dalam negeri telah mendorong agar Indonesia lebih berkiprah tidak hanya di bidang politik, tetapi juga di bidang ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, di sana banyak terdapat penduduk Indonesia yang sedang bekerja atau menunaikan ibadah umrah, berwisata, maupun mahasiswa.  Di dalam era merebaknya medium untuk media social, perkembangan situasi yang memburuk di Timur Tengah menjadi kecemasan dari rumah ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Indonesia juga pernah mengalami proses reformasi dan berhasil mengatasi gejolak di masyarakat dengan baik.  Indonesia juga telah muncul menjadi salah satu kekuatan demokrasi di dunia, bahkan melalui &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bali Democracy Forum&lt;/span&gt; menyumbang bagi proses penguatan demokrasi di kawasan Asia Pasifik.  Jelas kita bisa menyumbangkan pengalaman kita dengan negara-negara yang sedang mengalami transisi menuju demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstituen kita di dalam negeri juga terbelah.  Ada yang mendukung runtuhnya rejim Gaddafi, namun kemarahan terhadap pengeboman oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO juga tidak kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering pula Pemerintah didorong agar bersikap proaktif, adakalanya melampaui kapasitas atau kemampuan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Reaksi Dunia Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG dirasakan aneh, Organisasi Konperensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara di Dunia Islam, termasuk Indonesia, sejak awal tidak mengambil langkah-langkah penting di tengah keadaan yang memburuk di Tunisia, Mesir dan Libya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;OKI baru bersuara ketika angin reformasi melanda Libya dan menjatuhkan korban warga sipil.  Melalui sekjen Ekmeleddin Ihsanoglu, OKI mengeluarkan seruan agar semua pihak yang ambil-bagian dalam operasi militer menahan diri untuk tidak menjatuhkan korban di kalangan sipil serta meminta semua Negara menghormati kesatuan bangsa dan keutuhan wilayah Libya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Pernyataan ini sangat terlambat, karena pernyataan ini keluar baru pada tanggal 23 Maret 2011, sesaat setelah keluarnya resolusi DK-PBB No. 1973.  Padahal, pergolakan dahsyat telah dimulai di Mesir sejak akhir Januari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Gulf Cooperation Council (GCC)?  Dalam pergolakan di Libya, 6 negara yang tergabung dalam GCC (Gulf Cooperation Coucil) secara terang-terangan menyerang Muammar Gaddafi dan memihak kepada oposisi.  Turut sertanya Qatar mengirimkan pesawat tempur menyerang kekuatan militer Gaddafi menggambarkan komplikasi yang tidak gampang bagi Indonesia untuk mendukung kepada salah satu pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCC mempunyai alasan jelas bahwa penembakan dengan senjata berat penduduk sipil dengan menugaskan tentara bayaran asing adalah pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rejim Gaddafi telah kehilangan legitimasinya” kata Perdana Menteri merangkat Menlu Qatar Hamad bin Jasem bin Jaber Al Thani.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana dengan peran Arab League?  Organisasi bangsa Arab yang beranggotakan 22 negara ini berbeda pendapat dengan GCC yang dimotori oleh Arab Saudi, sebaliknya menyesalkan serangan bom AS dan Negara-negara Eropa yang telah menjatuhkan korban di kalangan sipil serta tidak menghantarkan ke arah membaiknya situasi bahkan perang saudara terbuka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekjen Arab League Amr Moussa menyatakan persetujuan mereka untuk resolusi DK-PBB yang memberlakukan no-fly zone dimaksudkan untuk mencegah Gaddafi menggunakan kekuatan udara menyerang penduduk sipil dan bukan untuk menggempur kota Tripoli serta pasukan Libya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi DK-PBB seperti cek-kosong yang digunakan AS dan sekutunya untuk menggempur Libya habis-habisan tanpa memperdulikan kepentingan perlindungan bagi warga sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uni Afrika pun tidak mampu berbuat apa-apa.  Sikap Negara-negara anggota organisasi regional ini pun terbelah-belah.  Gaddafi banyak memberikan sumbangan kepada Uni Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia tidak dapat berbicara di GCC maupun Arab League, atau Uni Afrika semata-mata kita tidak menjadi anggota di 3 organisasi ini, maka satu-satunya forum yang mungkin digunakan adalah melalui OKI.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Namun, sampai saat ini OKI belum mampu memainkan peranan substantif dan signifikan dalam mendorong proses perubahan damai tanpa gejolak di Timur Tengah dan Afrika Utara. Alasannya jelas, tidak ada konsensus dan bahkan sikap negara-negara anggotanya terpecah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bilamana organisasi regional atau sub-regional sendiri kurang mampu berperan maka sulit bagi Indonesia, yang bukan negara kawasan, untuk menawarkan perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keterbatasan Diplomasi RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, satu-satunya leeway (koridor) tersisa bagi kita untuk turut berbicara mengenai situasi yang menimpa saudara-saudara kita di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah secara nasional, seperti yang disuarakan oleh Presiden RI maupun delegasi RI di PBB.  Di sinipun kita memiliki keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya gengsi berkat peran menonjol di berbagai fora internasional tidak serta-merta menjadi currency yang dapat dimainkan dalam pertarungan diplomasi.  Ada keterbatasan bagi Indonesia untuk memainkan peranan di dalam mengatasi situasi di Timur Tengah dan Afrika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tatanan internasional pada pasca Perang Dingin memberikan ruang-gerak bagi peranan organisasi regional yang lebih besar.   Dalam hal ini, organisasi yang relevan untuk membahas pergolakan yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah GCC, Arab League, atau Uni Afrika.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tuntutan agar ASEAN menyuarakan pernyataan mengecam pemboman Libya juga tidak memungkinkan karena isu Timur Tengah ini hanya menjadi perhatian 3 dari 10 negara anggota, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.  Sekiranya ASEAN juga mengeluarkan pernyataan sifatnya umum-umum saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, meskipun secara nominal telah menjadi negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia Indonesia baru berambisi untuk menjadi ‘inspirasi’ dan belum mau menjadi kampiun yang memaksakan format demokrasi di mana-mana.  Konsolidasi praktik-praktik demokrasi masih berlangsung di tanah air yang di sana-sini masih memerlukan penyempurnaan.  Artinya, kondisi demokrasi kita belum mencapai taraf paripurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, meskipun secara nominal disebut telah menjadi negeri berpenduduk terbesar Muslim se dunia, namun masih banyak pekerjaan rumah kita untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi bagi kalangan masyarakat.  Indonesia juga sedang membangun kapasitas intelektualitas dan pemikir keislamannya untuk bisa menjadi center of excellence yang diakui di Dunia Muslim.  Untuk menjadi pusat peradaban Islam se dunia, misalnya, masih banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia, perolehan Nobel dan karya-karya pemikiran Islam berkelas dunia salah satunya di mana Indonesia masih absen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, untuk memainkan peranan penting dalam percaturan politik internasional atau memainkan kartu diplomasi maka Indonesia memerlukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;means&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;currency&lt;/span&gt; yang berlaku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam percaturan diplomasi kekuatan ekonomi, militer yang memadai dan dapat diproyeksikan secara global menjadi keniscayaan bagi pelaksanaan diplomasi kita.  Meskipun telah diakui sebagai pemain baru potensial dalam perekonomian dunia negeri kita juga masih belum dalam posisi yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;consolidated&lt;/span&gt;, seperti misalnya China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi kemampuan keuangan terbatas, peningkatan kapasitas pertahanan nasional yang didukung dengan peralatan canggih belum menjadi prioritas bagi kita.  Jangankan untuk penggunaan kekuatan militer dalam mendukung diplomasi RI di timur Tengah, untuk di kawasan Asia Tenggara sekalipun kita belum mampu memproyeksikan kekuatan militer dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hardware&lt;/span&gt; yang handal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja diplomasi akan meningkat bilamana Indonesia berhasil meningkatkan kapasitas dan kemampuan proyeksinya di bidang ekonomi dan pertahanan di dalam pergaulan bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jakarta, 20 April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-3362048347908820150?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/3362048347908820150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/04/adakah-ruang-diplomasi-kita-di-timur.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3362048347908820150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3362048347908820150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/04/adakah-ruang-diplomasi-kita-di-timur.html' title='ADAKAH RUANG DIPLOMASI KITA DI TIMUR TENGAH?'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-5232508908984567160</id><published>2011-03-29T00:24:00.000-07:00</published><updated>2011-03-29T00:42:39.396-07:00</updated><title type='text'>Taman Wisata Mekarsari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7RWIzQDwpPA/TZGNYYTWMnI/AAAAAAAAAI4/bUGcR_TF6pA/s1600/DSC_0001.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7RWIzQDwpPA/TZGNYYTWMnI/AAAAAAAAAI4/bUGcR_TF6pA/s320/DSC_0001.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589404062523470450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMPIAN untuk membuat taman buah tropis (tropical fruit garden) tidak hanya digandrungi oleh negara-negara beriklim tropis, seperti Indonesia dan Malaysia dalam promosi wisatanya.  Beberapa yayasan atau perorangan dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Brazil, juga telah membangun sendiri taman buah tropis mereka.  Sebagai hobby atau memang pencintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada taman buah tropis yang berdiri sendiri, ada pula yang menjadi bagian dari botanical garden, seperti di Florida yang memiliki kompartemen dinamai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tropical fruit garden&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, taman buah tropis menarik perhatian dunia karena buah-buahan tropis itu terkenal unik dan tidak setiap saat bisa dijumpai dan ada di mana-mana.  Tidak hanya duren yang berbau tajam, buah-buahan seperti manggis, nangka, cempedak, dan berbagai buah hutan dipandang eksotis.  Lezat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi Google, memang kebanyakan taman buah tropis yang ada berukuran kecil saja, sehingga tidak perlu mengambil lahan yang luas.  Seperti di Penang Malaysia, misalnya, tropical fruit farm dengan koleksi 370 jenis tanaman di sana hanya menyita tanah seluas 1 hektar (10.000 m2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thailand memiliki taman buah tropis tetapi sebagai bagian dari atraksi wisata, dan juga tidak luas-luas amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana di Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAN buah tropis yang terkemuka di tanah air terdapat di Mekarsari, yang dikenal di dunia dengan nama dengan nama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mekarsari Amazing Tourism Park&lt;/span&gt;, disingkat MATP.  Saya dan keluarga berkunjung ke sini pada akhir pekan minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membayar Rp 15 ribu/orang (harga akhir pekan), di sini Anda akan menikmati liburan keluarga yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bulan Januari-Maret bukan bulan keberuntungan untuk datang ke taman  buah di Mekarsari yang telah berubah menjadi Taman Wisata Mekarsari– karena bukan musim buah-buahan— tetapi kunjungan ke sini lumayan menghibur.  Idealnya, Anda sebaiknya datang pada pada musim buah (April-September).  Tidak saja menyaksikan buah-buahan unik yang kita kenal pada masa kecil dulu, Anda juga akan berkesempatan mencicipi berbagai buah-buahan tropis yang sedang panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Mekarsari memproklamirkan diri sebagai taman buah tropis terbesar di dunia.  Pantas, karena lahannya mengambil tempat seluas 264 hektar yang didirikan sejak sejak 1995, atas inisiatif Ibu Tien Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa diperlukan lahan seluas itu?  Tidak lain karena meskipun Mekarsari memang bukan hanya lokasi untuk produksi buah-buahan.  Kawasan ini lebih sebagai tempat ‘penangkaran buah tropis’ yang didukung dengan teknologi pertanian Mekarsari bisa menghadirkan berbagai buah-buahan yang bukan hanya berasal dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga pun ditanam di sini.  Jadi dengan mengunjungi Mekarsari, anak-anak pun bisa mengenal dan belajar mengenai kekayaan alam Indonesia.  Dan, Mekarsari dilengkapi dengan sarana hiburan lainnya dankjini menjadi Taman Wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun telah berubah menjadi taman wisata, namun Mekarsari tetap dengan mengutamakan misi awalnya sebagai taman buah-buahan tropis.  Dan, fasilitas lainnya tidak boleh dipandang hanya sebagai side order!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Taman Buah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEKARSARI memiliki koleksi kurang lebih 44 kelompok buah-buahan dari 362 jenis dengan 1.463 varietas tanaman dari berbagai daerah di Indonesia.  Semua buah ini tersedia dengan berbagai macam jenis dan asal buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Mekarsari melakukan penyilangan terhadap berbagai macam jenis buah sehingga menghasilkan buah dengan kualitas yang baik. Misalnya saja nangkadak, hasil penyilangan antara nangka dan cempedak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Buah-buahan populer seperti buah nanas, durian, melon, rambutan, mangga, manggis, hingga belimbing pasti ada.  Jika ingin yang lebih unik dan eksotis terdapat buah-buah langka seperti matoa, sawo kecik, sawo putih, gayam, buah nona, nenas arnis, buah seri (cherry), cengkih, kesemek, kepel, kemang, jambu air king citra, jambu air kampret, nangka bola, nangka tanpa kulit dan banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan waktu tepat untuk mengunjungi Mekarsari?  Jika tujuan Anda untuk menikmati panen buah-buahan maka  datanglah pada bulan April sampai September.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pada bulan April - Mei ada panen buah abiu atau sawo Australia, kecapi kelapa, kimalaka yang tahan api, buah maja (nan manis), mangga, kopi , murbei, nenas, biji pala, karendang yang biasa juga disebut natal plum, serikaya, belimbing, salak, kelengkeng atau longan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim buah berlanjut di bulan Juni, dengan menambahkan buah mundu, dan pada bulan Juli jambo bol,  lontar (aren) atau margot, rukam, kola yang masih keluarga kakao, ceremai (cerme).  Musim buah berlanjut pada bulan Agustus dengan kehadiran buah nona sirsak rawa, jambu mawar alias jambu Kraton. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Musim buah ditutup pada bulan September, dengan panen nangka, kluwek dan kepayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbagai Fasilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI SINI Anda dapat menikmati berbagai fasilitas hiburan keluarga, seperti Canal Tour, Kid’s Fun Valley, Country Side, Melon Park, Snake fruit Garden, Deer Park, danau rekreasi seluas 20 ha, Baby Zoo, greenhouse, kawasan outbound, menara observasi, Puri  Tirto Sari yang terkenal sebagai gedung yang memiliki air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berada di sana, saya menyaksikan kelompok keluarga atau karyawan suatu perusahaan sedang piknik bareng dengan berbagai kegiatan outdoor.   Beberapa kelompok sedang mengikuti wisata kebun, barbeque, dan jalan-jalan di kebun buah.   &lt;br /&gt;Hanya, perlu waspada karena pada bulan liburan sekolah, Mekarsari ini akan dipenuhi oleh pengunjung dari seluruh Indonesia.  Parkir susah dan jalan macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat luasnya, Mekarsari juga menyediakan kendaraan wisata untuk berkeliling di lahan yang luas ini, dengan membayar Rp 10 ribu (harga akhir pekan).  Saya menganjurkan pengunjung untuk berkeliling terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung boleh berhenti di tempat-tempat wisata yang diinginkan dan melanjutkan perjalanan dengan kereta berikut tanpa dipungut bayaran lagi. Jika kebun buah yang didatangi sedang panen, pengunjung boleh membeli dengan memetik langsung buah di pohon. Sementara jika sedang tidak panen atau lewat waktu panen, pengunjung bisa membeli buah di kios yang ada di kebun atau di toko buah di areal Graha Krida Sari (gedung pusat informasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan bisa diawali berkeliling menggunakan kereta wisata bergandeng yang akan memawa Anda berkeliling menyaksikan beberapa obyek-obyek menarik seperti, areal pembibitan, persemaian, areal rumah plastik, wahana outbound, kebun sayur, kolam pemancingan, tanaman buah dalam pot, kebun wisata melon, kebun salak, rambutan, jeruk, nangka, belimbing dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi yang berminat dapat turun sejenak untuk melihat tanaman melon yang ada di dalam rumah yang berfungsi sebagai green houses. Jika melon sedang berbuah, Anda diizinkan memetik melon langsung dari batangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya setelah puas berkeliling Anda mencoba berehat sejenak di bangunan air terjun yangdisebut sebagai Puri  Tirto Sari.  Bangunan ini cukup unik bila dilihat dari luar, karena dari atas gedung mengalir air ke bawah layaknya air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Edukasi Anak-Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sarana pendidikan, Mekarsari juga menyediakan fasilitas belajar menanam bagi anak-anak.  Dalam program ini disediakan pot, media tanam, alat-alat menanam, dan pohon yang akan ditanam kepada setiap anak.  Mereka akan diajarkan bagaimana pohon yang ada di kantong tanam plastik (polybag) dipindahkan ke pot.  Hasil pekerjaan mereka boleh dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam program pendidikan, di samping wisata petik buah, wisata mainan anak-anak, outbound sampai wisata pendidikan disediakan paket tur menanam, budidaya tanaman, tur berkebun.  Bagi orang dewasa juga boleh berpartisipasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengunjung yang tertarik membeli tanaman hasil budidaya tanaman buah maupun bunga, silahkan membelinya di Garden Center. Di sana tersedia tanaman hias, bibit, media tanam, pupuk, dan juga tanaman buah dalam pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika waktu sehari masih dirasa kurang, dan terutama untuk pendidikan anak-anak, silahkan menginap di vila yang tersedia.  Pagi hari anak-anak bisa mengikuti program bercocok-tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui program kegiatan silah cek website: http://www.mekarsari.com/ yang menyediakan semua informasi yang Anda perlukan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta,  29 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-5232508908984567160?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/5232508908984567160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/03/taman-wisata-mekarsari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5232508908984567160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5232508908984567160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/03/taman-wisata-mekarsari.html' title='Taman Wisata Mekarsari'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7RWIzQDwpPA/TZGNYYTWMnI/AAAAAAAAAI4/bUGcR_TF6pA/s72-c/DSC_0001.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-8247476221844889541</id><published>2011-03-09T23:25:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T23:28:19.988-08:00</updated><title type='text'>Menyusuri Jejak Bangsa Tartar (3)</title><content type='html'>DALAM tulisan sebelumnya saya menggambarkan keberadaan Islam di Polandia.  Meski minoritas, hanya sekitar 30 ribu penganutnya di Polandia tetapi masa lalu telah mengguratkan peranan Islam yang berada di mainstream sejarah kontemporer Polandia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara jumlah itu, terdapat komunitas kecil sejumlah antara 3000-5000 kini yang merupakan keturunan dari cikal-bakal penduduk Muslim di Polandia.  Mereka telah berdiam di sana sejak 600 tahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah orang-orang Tartar Muslim.  Orang-orang Tartar itu, sebagai perajurit Mongolia,  telah berada di Eropa Tengah ini sejak abad ke-13, namun tanpa bekas.  Baru pada abad ke-14 mereka menetap di sini sebagai tentara bayaran.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Bukan  merceneries, bertempur membela yang bayar.  Tetapi karena pada dasarnya mereka warriors.  Belakangan karena keahlian berperang, banyak raja-raja yang memerlukan jasa mereka.  Secara fungsional mereka menjadi tentara bayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarah, pembayaran tidak mesti dilakukan di muka.  Sesuai perjanjian, mereka akan memperoleh bagian dari hasil peperangan.  Tentu jika sang raja menang.  Jika kalah, orang-orang Tartar ini juga terbunuh.  Jika menang, mereka diberikan kampung, atau hak untuk ‘menjarah kota, dan bahkan mengambil anak-anak gadis negeri yang dialahkan.  Ini sesuai perjanjian dan disetujui oleh raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perajurit gagah berani dari Asia Tengah itu berkali-kali bertempur membela negeri mereka, termasuk dalam the Battle of Grunwald yang tersohor itu, pertempuran melawan kerajaan Kristen Jerman Teutonic Order pada musim panas tahun 1410. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat jasa-jasa mereka, Raja Polandia-Lithuania memberikan pemukiman bagi perajurit gagah berani Muslim di wilayah timur Polandia dan sebagian di Lithuania sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga ambil bagian dalam sejarah Polandia, ketika negeri itu hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu.  Ini yang menjelaskan, mengapa di negeri tempat kelahiran Paus Johanes Paulus II yang legendaris itu, pemuka Islam Tartar selalu diberi gelar kebangsawanan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengarang  Polandia terkenal penerima Nobel 1995 yang menulis novel Quo Vadis: A Narrative of the Time of Nero , bernama Henryk Sienkiewicz, juga keturunan Tartar.  Melalui karya emas itu Henryk menjadi orang pertama kali yang memperkenalkan kata “quo vadis?” ,artinya ‘hendak ke mana?’.  Dia juga bergelar bangsawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Napak-Tilas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HATTA, ketika kami menutup rangkaian perjalanan tiga hari Roadshow Budaya Indonesia, di Bialystok, pada bulan Maret 2010 yang lalu, saya mengajak seluruh rombongan KBRI Warsawa, termasuk ibu-ibu DWP untuk napak-tilas menelusuri peninggalan sejarah bangsa Tartar di Polandia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Białystok adalah salah satu kota bersejarah di wilayah Timur Polandia, di sini komunitas Islam asli etnis Tartar ini menetap sejak 300 tahun yang lalu.  Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan pejuang Tartar yang dikenal pemberani  saat  berperang melawan Kerajaan Teutonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kedatangan mereka melalui Lithuania sekitar 600 tahun yang lalu, bangsa ini  juga tidak pernah ketinggalan dalam sejarah perjuangan bangsa Polandia merebut kemerdekaan bahkan  bersama serdadu Poladia, pasukan militer bangsa Tartar aktif berperang antara lain dalam : “The Kosciusko Uprising “(1795), “the Confederation of Bar” (1768). Mereka juga turut berperang dalam pasukan Napoleon antara tahun 1812- 1814.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Białystok menyimpan dengan baik semua khazanah masa-lalu yang cemerlang itu. Tidak jauh dari kota ini kita menjenguk kota Bohoniki.  Di sini terdapat mesjid tua, yang disebut Mesjid Bohoniki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid di wilayah Pedesaan Polandia Timur ini, mempunyai ciri khas berdinding kayu  yang dibangun ditengah hamparan ladang gandum  yang luas. Bohoniki ini merupakan satu dari dua  pemukiman asli Tartar yang tersisa selain pemukiman di Kruszyniany.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan  bangunan masjid berdiri  megah ditengah hamparan kuning ladang gandum sangat indah  dinikmati di musim panas. Sayang  pemadangan serupa tidak dapat kami temukan pada musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bohoniki kami juga sempat mengunjungi  Mizar – “The Muslim Cemetery”  satu dari tiga “Muslim Cemeteries” yang masih bisa di temukan di Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjadi Negara Komunis, praktis kehidupan keislaman di Polandia hampir punah.  Untungnya, pada saat reformasi setelah runtuhnya Tembok Berlin masih terdapat orang-orang tua yang tetap memelihara keislaman maupun tradisi Tartar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak heran pekuburan Muslim pada era komunisme pun dibuat seperti pekuburan Keristen, dengan marmer tertutup.  Sekarang tradisi lama mulai dipulihkan, dan pekuburan pun menyesuaikan diri sesuai dengan ajaran Islam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran, jika Anda berkunjung ke tempat ini banyak peziarah memasang lilin di atas pekuburan itu.  Mereka telah lupa tradisi lama, dan mengikut saja pada tradisi masyarakat setempat yang beragama Katolik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mesjid Kruszyniany&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah ini termasuk tempat pemukiman pertama bagi pejuang Tartar tatkala membantu Kerajaan Polandia-Lithuania menghadapi invasi dan pendudukan asing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tour guide di sini, pasukan Tartar diberikan tanah yang cukup luas di Lithuania, yang menjadi tempat pemukiman lebih tua 600 tahun yang lalu, dan di wilayah Polandia sekarang sekitar 300 tahun yang lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka diberikan tanah karena Kerajaan tidak mampu membayar jasa mereka dalam memenangkan perang.  Raja Polandia juga ingin memelihara loyalitas orang-orang Tartar yang terkenal gemar berperang dan sering berganti aliansi di masa-masa sebelumnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga diberikan gelar bangsawan dan nama keluarga Polandia dan boleh menikahi gadis-gadis di sana.  Maklum, semua orang-orang Tartar yang berperang dan melakukan ekspedisi ke Eropa adalah laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid tertua di Kruszyniany dan pekuburan Muslim di sekitarnya merekam semua sejarah kehadiran bangsa Tartar di Polandia.  Menurut keterangan pengurus, Masjid ini merupakan yang tertua di Polandia, didirikan oleh para pendatang bangsa Tartar yang menetap di daerah itu pada abad 17.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid ini berukuran relatif kecil , hanya memuat jamaah sekitar 50 orang, dan sekarang cukup aktif digunakan terutama bagi peziarah etnis Tartar yang kini bermukim di berbagai kota di Polandia dan di Lithuania maupun Belarus.  Bulan Ramadhan adalah suasana yang paling meriah di mesjid dan di perkampungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan isteri menyempatkan diri untuk shalat di mesjid tua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai obyek wisata masjid ini  juga banyak dikunjungi oleh komunitas dalam dan luar negeri.  Kami juga menyaksikan sendiri banyak turis lokal Polandia yang uniknya mereka berdoa secara Katolik,  membuat tanda salib saat di dada, ketika memasuki masjid tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam salah satu kunjungannya ke propinsi Podlaskie ini,  Paus Johanes Paulus II sempat menyerahkan medali penghargaan kepada Etnis Tartar. Penghargaan ini  menggambarkan bahwa kedua agama monotheis : Islam dan Katholik dapat hidup berdampingan dengan damai di Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kulinari Tartar&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA Anda berkunjung ke tempat ini jangan lupa mencoba hidangan Tartar.  Seperti apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa mencoba kulinari asli Tartar di “Tartarska Jurta” sebuah restauran Agro Wisata yang menyajikan hidangan tradisional Tartar.  Udara dingin dan salju yang turun cukup deras membuat kami kelaparan.  Syukurlah begitu tiba di restaurant  kami disambut dengan kue-kue dan  secangkir teh atau  kopi  hangat beramu rempah  kayu manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya  Dzenneta Bogdanowicz yang menjadi manejer restauran dengan ramah menyambut kami dan langsung mempersilahkan kami menyantap “main course” berupa hidangan pastry dengan isi daging.  Hidangan pertama mirip “Pâte feuilletée atau layered dough” dipadu dengan irisan daging.   Pada course kedua, dihadirkan  pastry  berisikan tumisan kentang dan daging.  Bentuk dan isinya mirip dengan pastel di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang unik pada acara santap siang ala Tartar ini adalah  sup  yang biasanya menjadi menu pembuka justru dihidangkan setelah “main course”. Kami berpikir ada benarnya juga disajikan terbalik, sebab sup dumpling disajikan dalam porsi lumayan besar. Mungkin bila  sup disajikan  sebagai menu pembuka, tentu kami tidak akan sanggup menyantap hidangan main course berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  dessert, cobalah kue beraroma tape singkong.  Apalagi jika disajikan hangat-hangat, dari oven.   Meski perut telah kenyang namun bau yang harum kue ini tidak tertanggungkan. Rugi rasanya bila tidak mencoba.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I feel at home”, ujar saya kepada Mufti Miskiewicz ketika dia bertanya kesan saya berkunjung ke basis perjuangan suku Tartar dengan masyarakatnya yang sangat ramah itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda berkunjung ke Polandia, jangan lupa napak-tilas ke perkampungan tua Muslim di Białystok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-8247476221844889541?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/8247476221844889541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/03/menyusuri-jejak-bangsa-tartar-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8247476221844889541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8247476221844889541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/03/menyusuri-jejak-bangsa-tartar-3.html' title='Menyusuri Jejak Bangsa Tartar (3)'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-3453322284024532975</id><published>2011-03-07T20:27:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T20:30:12.086-08:00</updated><title type='text'>Diplomasi Kulinari di Pemukiman Muslim Pertama di Polandia (2)</title><content type='html'>DIPLOMASI di era reformasi bukan hanya domain Pemerintah belaka.  Semua pihak, politisi, parlemen, pengusaha, LSM dan bahkan kaum wanita Indonesia di luar negeri diundang berperan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya mengajak ibu-di lingkungan KBRI Warsawa untuk berperan ‘menjual’ Indonesia pada saat kami mengadakan acara Indonesian Days yang bertajuk “Indonesia : The Emerald of The East” di  Kota Białystok, sebuah kota yang terletak kurang lebih 180 km  sebelah Timur  kota Warsawa, pada 12-14 Maret 2010.  ‘Barang dagangan” tidak lain adalah acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cooking-demo&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;food-tasting&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi bagian dari acara utama, yakni 2 presentasi saya tentang potensi ekonomi Indonesia dan tentang keragaman budayanya.  Kami juga menyelenggarakan pameran foto nusantara, pagelaran musik gamelan dan tarian tradisional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lengkap jika kulinari tidak ditampilkan.  Katanya, seni kulinari juga menunjukkan budaya bangsa. Dan, mintalah ahlinya berkompeten yang tidak lain adalah para ibu-ibu.  Mereka lebih dari sekadar pendamping suami yang bertugas di luar negeri.  Mereka juga duta-duta bangsa. Klop! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman kami pada berbagai acara cooking demo di kota-kota lain, persiapan  kami dalam acara kali ini berjalan sangat efektif dipimpin langsung oleh  Ketua DWP KBRI Warsawa Ibu Ade Pohan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bahan makanan mentah maupun makanan khas Indonesia siap saji  telah dipersiapkan oleh ibu-ibu KBRI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ibu-ibu KBRI tidak saja berpromosi budaya kulinari.  Dalam keterbatasan peragawati, mereka juga ditampilkan pada acara budaya, dalam pakaian nasional berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demo Kulinari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan  rahasia lagi bila Nasi Goreng dan Sate Ayam selalu menjadi primadona, karena bahannya mudah didapat di Polandia,  menu yang popular di Indonesia dan dianggap cukup mewakili  cita rasa masakan Indonesia di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada acara demo yang dihadiri sekitar 40 tamu undangan dari komunitas Muslim Etnis Tartar yang bermukim di Białystok dan sekitarnya, tidak dilepaskan begitu saja oleh media.  Atraksi masak ini  diliput oleh media cetak, TV dan radio setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung acara demo, para tamu undangan diajak untuk mencicipi  hidangan santap siang makanan khas Indonesia Nasi Goreng, Sate Ayam dilengkapi dengan  Krupuk Udang  dan  Acar Timun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak masyarakat Byalistok sangat antusias mengikuti demonstrasi memasak, serta menikmati hasilnya.  Menurut pengunjung, ternyata masakan Indonesia gampang menyiapkannya dan mudah memperoleh bahan-bahannya yang juga tidak mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung.  Para ibu-ibu KBRI Warsawa juga telah menerbitkan buku resep kulinari Indonesia yang sederhana, tetapi memuat puluhan menu.  Tidak hanya resep yang dibuat dalam bahasa Polandia, buku ini juga bercerita tentang bahan-bahan makanan yang ada di Polandia, sekiranya bahan asli seperti di Indonesia sulit diperoleh.  Yang penting, rasanya sama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pentas Budaya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas Budaya Indonesia  digelar pada malam harinya bertempat di Gedung Pusat Budaya Bialystok, yang dikenal warga kota sebagai Wojewodzki Osrodek Animacji Kultury (Spodski) w Białystok.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu yang kesehariannya tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan KBRI Warsawa  tampil mengenakan “busana nusantara” yang memadukan  kain Bali dengan kombinasi “blouse” sebagai pengganti kebaya.  Tak ayal  kehadiran ibu-ibu dengan berbalut kain Bali  dalam paduan blouse semi modern menjadi pusat perhatian pengunjung. Beberapa pertanyaan-pun  meluncur seputar  kain yang dipakai.  Mereka juga mampu menjelaskan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Ibu mengikat kain ini?” begitu pertanyaan seorang pengunjung  dalam bahasa Polandia sambil mengagumi indahnya kain Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengawali acara pentas budaya tersebut saya mendapat kehormatan menyampaikan presentasi tentang keragaman budaya  Indonesia dan dilanjutkan dengan pertunjukan musik gamelan oleh Warsaw Gamelan Group. Gending gamelan mulai dari  gending klasik hingga gending kontemporer karya dalang Ki Narto Sabdo banyak dimainkan. Salah satunya Gending Kereta Api atau “Pociag” [baca: pocyong]dalam bahasa Polandia terutama banyak mendapat “applaus” pengunjung. Ritme yang khas dengan perpaduan suara seruling  terasa pas menggambarkan suara peluit kereta api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian Jawa  klasik “Gambyong Pare Anom” serta  Tari Kreasi Baru “Jaipong” karya Bagong Kusudiharjo dengan iringan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;music live&lt;/span&gt; gamelan dan tari Panji Semirang  dari Bali dipersembahkan membuktikan seni budaya unik Indonesia yang dikenal sebagai negeri berpenduduk terbanyak Muslim di dunia.  Kami ingin mengatakan, Indonesia adalah masyarakat yang toleran dan relijius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu KBRI juga berperan dalam menyiapkan kue-kue khas Indonesia, Risoles dan Putu Ayu yang dinikmati pengunjung pada acara rehat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung acara mereka menyempatkan berfoto bersama,  mengabadikan penampilan cantik para peragawati dadakan dengan  kain Bali, yang  tidak lain adalah para ibu-ibu KBRI.  Sesaat  kemudian beberapa tamu bahkan tertarik untuk turut berfoto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-3453322284024532975?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/3453322284024532975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/03/diplomasi-kulinari-di-pemukiman-muslim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3453322284024532975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3453322284024532975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/03/diplomasi-kulinari-di-pemukiman-muslim.html' title='Diplomasi Kulinari di Pemukiman Muslim Pertama di Polandia (2)'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-7723539074212947025</id><published>2011-02-27T22:00:00.000-08:00</published><updated>2011-02-27T22:03:32.245-08:00</updated><title type='text'>Indonesia dan Reformasi</title><content type='html'>MESKI sulit menumbangkan rejim Orde Baru yang berkutat selama 32 tahun, namun success story telah menghantarkan Indonesia ke dalam suasana terbuka yang melegakan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jangan dulu berpuas.  Setelah melakukan reformasi dasar di dalam negeri, pada saat bersamaan Indonesia pun mulai tampil berperan di tingkat regional bahkan potensial di tingkat global. Ini kewajiban konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi juga membawa ‘penumpang gelap’, yakni unrest di dalam negeri.  Ini inti pesan majalah terkemuka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Economist&lt;/span&gt; kepada kita.  Majalah bergengsi ini menurunkan analisis tentang “Indonesia and its place in the world” dalam artikel berjudul “Feet of clay: Religious intolerance at home thwarts ambitions abroad”, edisi 17 Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah berita gembira bahwa GDP Indonesia mencapai prestasi tertinggi, 6,9% y-o-y di kuartal akhir 2010 memang menimbulkan optimisme bahwa target GDP 7% pada akhir pemerintahan Presiden SBY di tahun 2014 akan tercapai.  Bahkan, Menko Perekoniomian Hatta Rajasa memperkirakan dalam tahun 2015 Indonesia akan menjadi kekuatan 10 ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi awas! Peristiwa kekerasan yang menimpa Jamaah Ahmadiyah secara beruntun dengan berbagai kekerasan bertema agama mulai mengancam Indonesia.  Ada kelompok-kelompok agama yang mencoba mendiktekan tujuan mereka kepada kita. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika 1500 orang menyerbu desa Ahmadiyah yang menjatuhkan 3 korban jiwa dan disusul dengan pengrusakan gereja di Temanggung, seolah-olah terjadi pembiaran oleh negara.  Penegak hukum tampak bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia juga dipermalukan di panggung internasional ketika video yang merekam peristiwa naas 7 Februari 2011 itu diungguh masyarakat internasional melalui &lt;span style="font-style:italic;"&gt;YouTube&lt;/span&gt;.  Kita dan masyarakat internasional dipaksa untuk menyaksikan peristiwa mengerikan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia seakan-akan dipaksa untuk kembali ke situasi represif!  Juga peristiwa penganiayaan masyarakat di Papua oleh perajurit TNI mencoreng wajah kita.  Seolah-olah reformasi TNI dalam kerangka demokratisasi belum jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya TNI telah melakukan transformasi luar biasa seperti tidak terbayangkan akan diikuti di banyak negara, seperti Mesir, Filipina, bahkan Thailand! Di negeri-negeri ini ‘budaya milter’ sangat kuat berakar.  Perubahan memang terjadi, tetapi kurang fundamental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Economist&lt;/span&gt; menyimpulkan kegairahan ekonomi dibarengi kejahatan atas nama agama menjadi bukti semakin meluasnya disparitas antara ambisi global Indonesia dengan masalah di dalam negeri.  Benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara terbesar dari segi ekonomi, luas, jumlah penduduk di Asia Tenggara yang telah memproklamirkan diri menjadi demokrasi terbesar ke-3 dunia dan memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia itu perlu merapikan rumah-tangganya jika ingin bermain di tataran global.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak harapan, ketika Indonesia menjabat ketua ASEAN maka organisasi sub-regional ini akan maju pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam era informasi peristiwa lokal bisa menjadi perhatian global.  Banyak contoh yang masih dalam ingatan kita.  Salah satunya adalah peristiwa yang menimpa jamaah Ahmadiyah, perusakan gereja, tawuran massal antar-warga, bentrokan preman di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, demo yang berujung tewasnya Ketua DPRD Sumatra Utara, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capaian-capaian bangsa kita dan diplomasi Indonesia yang unprecedented seakan pupus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia pada tahun 2009 masuk ke dalam G 20 dan berpontensial, seperti diungkap Menko Perekonomian Hatta Rajasa, menjadi 10 kekuatan ekonomi dunia di tahun 2015 (4 tahun lagi!) pada saat bersamaan tampak kesadaran internasional kita keteteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kekuatan demokrasi dunia, kita boleh berbangga telah mendirikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the Bali Democracy Forum&lt;/span&gt;.  Pada saat bersamaan, di negeri kita masih banyak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;democratic deficit&lt;/span&gt; yang perlu dituntaskan, bilamana kita ingin meraih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;democratic dividends&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jelas ada keterkaitan antara performance global dengan harapan di masyarakat agar keadaan semakin membaik.  Ini tantangan bagi semua kita.  Tidak hanya bagi Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan kita Asia Pasifik, China dan India telah maju pesat.  Jangan lupa, masalah-masalah fundamental di 2 negeri raksasa ini juga dahsyat.  Sebagian besar masalah-masalah itu tidak hadir di negeri kita.  Kita seyogianya lebih maju.&lt;br /&gt;Di mata internasional, negeri kita dipandang memiliki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;advantage &lt;/span&gt;luar biasa.  Tidak hanya dikenal secara klasik sebagai negeri yang kaya dengan mineral dan sumber daya-alam, jangan lupa kita juga memiliki kekuatan lain yakni di bidang sumberdaya manusia dan sumberdaya budaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita jangan lalai, mengambil kesempatan untuk maju terus ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Pebruari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-7723539074212947025?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/7723539074212947025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/02/indonesia-dan-reformasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7723539074212947025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7723539074212947025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/02/indonesia-dan-reformasi.html' title='Indonesia dan Reformasi'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-5135691558642611590</id><published>2011-02-27T21:53:00.000-08:00</published><updated>2011-02-27T21:59:01.782-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Masyarakat Muslim Tartar di Polandia (1)</title><content type='html'>ISLAM berada di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mainstream&lt;/span&gt; sejarah kontemporer Polandia, berkat keberadaan Muslim Tartar sejak sejak 600 tahun silam.  Perajurit gagah berani dari Asia Tengah itu berkali-kali bertempur membela negeri mereka, termasuk pertempuran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the Battle of Grunwald &lt;/span&gt;yang tersohor itu, melawan kerajaan Kristen Jerman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Teutonic Order&lt;/span&gt; pada musim panas tahun 1410.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat jasa-jasa mereka, Raja Polandia-Lithuania memberikan pemukiman bagi perajurit gagah berani Muslim di wilayah timur Polandia dan sebagian di Lithuania sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Tartar, sebagai perajurit Mongolia,  telah berada di Eropa Tengah ini sejak abad ke-13, namun tanpa bekas.  Baru pada abad ke-14 mereka menetap di sini sebagai tentara bayaran.  Keahlian mereka, kaum Muslim Tartar itu berperang membela yang bayar.   Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga ambil bagian dalam sejarah Polandia, ketika negeri itu hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu.  Tak banyak orang tahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, mengapa di negeri tempat kelahiran Paus Johanes Paulus II yang legendaris itu, pemuka Islam Tartar selalu diberi gelar kebangsawanan.  Maklum mereka berjasa besar bagi negeri itu.  Fakta ini tidak banyak diketahui oleh rakyat Indonesia, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keturunan Muslim Tartar adalah teman baik saya Tomasz Miskiewicz, yang kini menjadi Mufti (Pemuka Islam) di Polandia yang telah 2 kali berkunjung ke Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sering bertemu, dan saya selalu menganjurkannya untuk berkunjung ke Indoensia.  Akhirnya dia memenuhi janjinya dating ke Indonesia pada bulan Maret 2011 yang lalu.  Selama kunjungannya, dia bertemu dengan tokoh-tokoh Islam dan memberikan kuliah di depan mahasiswa IAIN maupun Universitas Muhammadyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertugas di Republik Polandia, saya sering diundang hadir dalam acara-acara keislaman masyarakat Muslim Tartar di Byalistok, sebelah timur Polandia.  Pertemuan kami di Warsawa dalam berbagai acara Ramadhan atau Idul Fitri di Istana Presiden Polandia semakin mengakrabkan persahabatan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Mufti hanya lancar berbahasa Polandia, Arab, atau Rusia. Dengan pengetahun bahasa Rusia terbatas saya berkomunikasi dengan beliau.  Bila ingin berdiskusi mendalam, maka isterinya, Barbara, yang fasih berbahasa Inggeris selalu menjadi penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunjungan Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA kali Mufti Tomasz Miskiewicz datang ke Indonesia pada bulan Maret 2010, memenuhi undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).  Dia resminya menjabat pimpinan Polish Muslim Religious Association (MRA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan awal kunjungannya berkaitan dengan  keinginan bertukar-fikiran dalam rangka penerbitan sertifikat halal. Mufti adalah otoritas Polandia yang mengeluarkan sertifikat halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufti Tomasz Miskiewicz dalam kesempatan itu menyampaikan kuliah umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertanian RI, serta bertemu dengan   Sekjen Kementerian Agama.  Mufti juga diundang dan hadir dalam acara di Yogyakarta, ditemani Dawid Martin, staf KBRI Warsawa yang bertindak selaku penerjemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian RI Ir.H.Suswono,  Mufti menginformasikan sistem dan prosedur yang berlaku dalam penerbitan sertifikat halal bagi produk-produk makanan di Polandia. Mufti juga menyampaikan keinginan para pengusaha Polandia untuk meningkatkan ekspor Polandia ke Indonesia, terutama produk-produk makanan dan daging. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Pertanian RI menggarisbawahi pentingnya untuk membentuk kerjasama antara MRA Polandia dan MUI. Menurut Menteri Pertanian kerjasama itu dapat terwujud bila pihak Majelis Ulama Indonesia sudah memberikan jawaban resmi atas sertifikasi halal bagi Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan di Kementerian Agama, Mufti Tomasz Miskiewicz diterima oleh Sekretaris Jenderal, Bahrul Hayat, Ph.D yang mewakili Menteri Agama. Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Agama menawarkan beasiswa bagi Muslim Polandia yang ingin menimba ilmu agama di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia.  Mufti Tomasz menginformasikan tentang berbagai kegiatan dan perkembangan umat Islam di Polandia, khususnya di kalangan umat Islam Tartar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufti Tomasz Miskiewicz juga bertemu dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH M. Sahal Mahfudz didampingi para anggota-anggota Dewan MUI, untuk membicarakan rencana kerjasama dalam penerbitan penerbitan sertifikat halal  antara kedua negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuliah Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM kuliah umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dihadiri para mahasiswa dan dosen (26/3), Mufti Tomasz Miskiewicz menyampaikan perkembangan dan situasi yang dihadapi umat Islam di Polandia dan pada umumnya di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menyampaikan kuliahnya, Mufti Tomasz Miskiewicz diterima oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A. Dalam pertemuan tersebut, Rektor menjelaskan berbagai informasi berkaitan dengan beasiswa untuk mahasiswa asing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup kunjungannya di Jakarta, Mufti Tomasz Miskiewicz mengadakan konferensi pers didampingi Dubes Polandia untuk Indonesia Tomasz Lukaszuk, terutama berkaitan dengan perkembangan umat Islam di Polandia sebagai negara berpenduduk mayoritas Katolik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunjungan ke Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBELUM meninggalkan Indonesia, Mufti Polandia diundang untuk kunjungan ke Kantor Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta dan mengadakan pembicaraan dengan Ketua Muhammadiyah Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin.  Kedua pihak bertukar informasi tentang kegiatan organisasi sosial keagamaan di negeri masing-masing. Dalam kunjungan tersebut, Mufti Polandia bertemu dengan Rektor dan para dosen Universitas Muhammdiyah Yogyakarta, dan selanjutnya mengunjungi Candi Prambanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufti juga berkunjung kembali ke Indonesia pada bulan April 2010, tidak lama setelah penulis menyelesaikan tugas di Polandia.  Kami bertemu dalam acara makan malam atas undangan Kuasa Usaha a.i. Kedubes Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak catatan pada kunjungannya yang kedua, karena kedatangannya kali ini adalah untuk berbicara teknis megnenai pelaksanaan kerjasama dengan MUI di bidang penerbitan sertifikat halal.  Polandia ingin memasuki pasar daging sapi Indonesia.  Karena itu, sertifikat halal menjadi persyaratan pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjanji akan datang lagi.  Saya senang, meskipun tidak lagi berdiam di Polandia persahabatan kami tetap berlanjut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya berharap, nantinya mahasiswa dari masyarakat Muslim Tartar Polandia dapat berpartisipasi dalam program Dharma Siswa dari Pemerintah RI.   Ketika menawarkan beasiswa itu kepada Mufti saya sampaikan bahwa mahasiswa Polandia merupakan peserta terbanyak ke-2 dari seluruh dunia yang mengikuti program Dharma Siswa, lebih dari 50 orang dalam tahun 2010.  Negeri ini hanya dikalahkan oleh jumlah peserta terbanyak peserta dari Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan Muslim tartar ini perlu mengenal saudara-saudara mereka yang tinggal di bumi Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta,  28 Pebruari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-5135691558642611590?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/5135691558642611590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/02/mengenal-masyarakat-muslim-tartar-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5135691558642611590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5135691558642611590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/02/mengenal-masyarakat-muslim-tartar-di.html' title='Mengenal Masyarakat Muslim Tartar di Polandia (1)'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-2298614065550587009</id><published>2011-01-31T20:56:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T22:28:44.722-08:00</updated><title type='text'>ASEAN MENGGAPAI MASYARAKAT AKAR RUMPUT</title><content type='html'>INDONESIA ingin memusatkan kepemimpinannya dalam kedudukan Ketua ASEAN 2011 ke dalam 3 tingkat aktifitas: memantapkan terbentuknya ASEAN Community 2015; mendorong pembentukan arsitektur kawasan via &lt;span style="font-style:italic;"&gt;East Asian Summit&lt;/span&gt;, dan menghadirkan peranan ASEAN pada tingkat global. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga misi itu masih berkisar pada government-led activities: melanjutkan pemantapan organisasi dan tata-kerja, membentuk kerangka kebijakan, dan mempersiapkan perangkat norma serta institusi yang mendukung kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat membangun rumah, ASEAN ingin mengerjakan konstruksi, exterior dan interiornya sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pengesahan Piagam ASEAN (Charter) pada akhir 2008, para pempimpin ASEAN telah menyadari waktu telah tiba untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang berjumlah sekitar 500 juta, dan separuhnya berada di Indonesia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ASEAN ingin agar masyarakat di 10 negara anggotanya memiliki ownership sekaligus menjadi penggerak utama (people driven) bagi organisasi sub-regional itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang mendasari mengapa program sosialisasi ASEAN gencar dilakukan oleh Kemlu di berbagai tempat di tanah air.  Saya beruntung dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sepanjang 30 tahun berdinas di Kemlu saya tidak mendapat kesempatan berhubungan langsung dengan soal-soal ASEAN.  Sosialisasi menjadi sarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap pertemuan, selalu hadir pejabat daerah, pengusaha, kalangan perguruan tinggi dan lembaga kajian, media dan LSM.  Segmen masyarakat yang juga dilibatkan Kemlu adalah para bloggers di daerah.  Para bloggers, di era IT dapat bermanfaat untuk membantu sosialisasi sekaligus menjadikan mereka agent of change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari sosialisasi ASEAN adalah tentang pemahaman mengenai ASEAN, cara-bekerja dan program yang sedang digalakkannya.  Kemlu ingin menjadikan ASEAN milik masyarakat, dirasakan manfaatnya, mendapat dukungan dan dimanfaatkan sebagai center aktifitas keseharian yang akan membantu pemerkuatan integrasi negara-negara di kawasan dalam kesatuan politik dan keamanan; ekonomi, dan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya sosialisasi juga gencar dilakukan pemerintah di negara-negara anggota ASEAN lainnya, juga dimaksudkan untuk menjangkau semua lapisan masyarakatnya. Kegiatan sosialisasi ini searah dengan motto ASEAN: One Identity, One Community. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sosialisasi ASEAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAKLAH mudah untuk menjelaskan sejarah tumbuhnya ASEAN yang lahir pada masa Perang Dingin dan berakhirnya konfrontasi sampai mencapai pada bentuknya yang sekarang. Tidak saja aspek kesejarahan yang menggambarkan raison d’etre, mengapa para pemimpin pendiri ASEAN menggagas ide organisasi regional pada situasi yang belum kondusif seperti sekarang di era globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pengesahan dan pemberlakuan ASEAN Charter, organisasi ini telah berubah dari gerakan elitis yang lebih banyak dilakukan oleh pemerintah, menjadi entitas hukum yang semua produk keputusannya didasarkan pada hukum, termasuk dalam penyelesaian sengketa, menjadi gerakan yang melibatkan langsung masyarakat.  ASEAN harus menjadi gerakan populis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN telah menetapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;time-frame&lt;/span&gt; untuk pembentukan komunitas ASEAN, seperti Eropa dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maastrich Treaty 1993&lt;/span&gt;, yang akan membentuk pasar tunggal; pusat produksi dan distribusi barang dan jasa pada tahun 2015.  Tidak hanya untuk pembentukan masyarakat ekonomi, ASEAN mulai 2008 setelah pengesahan Piagam secara serentak telah menetapkan pentingnya 2 pilar lainnya: politik keamanan, dan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan komunitas ASEAN dengan tema “One Identity, One Community” tidak akan tercapai bilamana masyarakat sebagai pemangku-kepentingan acuh tak-acuh, atau apatis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya masyarakat turut membubuhkan tandatangannya di prasasti ASEAN.  Oleh karena itu, pendekatan ASEAN harus berubah: dari top-down menjadi bottom-up. Tanpa melibatkan masyarakat  sejak sekarang maka ASEAN tetap menjadi proyek mercusuar para politisi ASEAN, dan akan kehilangan relevansinya bagi kemajuan rakyat di kawasan. Begitu kira-kira tema pesan yang kami sampaikan dalam acara-acara sosisasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sosialisasi tidak hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mono-direction&lt;/span&gt;, hanya penjelasan pasal demi pasal ASEAN Charter.  Perlu dan relevan untuk menampung berbagai gagasan dan usulan masyarakat.  Tidak hanya terbatas menjelaskan bahwa pembentukan pasar tunggal tidak merugikan kepentingan para pengusaha dan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan persoalan enteng untuk menjelaskan tahap-tahap perkembangan organisasi, permasalahan yang dihadapi karena ASEAN yang memiliki ratusan pertemuan sepanjang, dengan nama singkatan (abreviasi) yang sulit untuk dihapal, apalagi dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Kerjasama ASEAN Djauhari Oratmangun setengah bercanda selalu mengatakan mungkin ASEAN perlu membuat kamus tersendiri mengenai berbagai abreviasi foum, badan, pertemuan yang sudah mengalami proliferasi yang dahsyat! Nama badan dan forum ASEAN disingkat dengan abreviasi yang susah untuk ditebak entitasnya seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;ASEAN Bloggers&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM beberapa pertemuan di daerah, Kemlu secara khusus mengundang para bloggers yang diharapkan akan memotori masyarakat di daerah dan turut menyebarkan pemahaman tentang ASEAN.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemlu mengharapkan, peranan bloggers sangat penting untuk penyebaran informasi ke semua sendi-sendi kegiatan masyarakat.  Maka, muncul gagasan untuk pembentukan masyarakat ASEAN Bloggers.  Melalui forum ini, para bloggers Indonesia dapat berinteraksi dengan teman-teman di semua negara ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu diharapkan, para bloggers tidak hanya berdungsi sebagai forum saling menyapa; tetapi juga tukar-fikiran dan informasi mengenai masalah-masalah sehari-hari di semua profesi, sektor dan minat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan forum bloggers, diperlukan kesiapan yang lebih terarah.  Perlu dijelaskan secara masuk akal tentang berbagai keputusan ASEAN dan dampak positifinya bagi masyarakat. Pembentukan pasar tunggal ASEAN, misalnya, perlu dijelaskan manfaatnya langsung bagi kepentingan para pengusaha dan masyarakat yang menjadi kepentingan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan capaian-capaian ASEAN tidak mudah pula, karena tidak semua hasil yang dicapai itu merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tangible&lt;/span&gt;, dalam arti manfaat konkrit yang langsung bisa dirasakan masyarakat.  Harus dijelaskan pula capaian yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;intangible&lt;/span&gt;, bila menyangkut isu-isu pemeliharaan perdamaian dan stabilitas kawasan, misalnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada umumnya audiens, dan para bloggers lebih tertarik pada isu-isu ekonomi dan sosial budaya, yakni mengenai informasi tentang hal-hal konkrit yang langsung menyentuh kepentingannya atau dapat dimanfaatkan.  Masyarakat, dengan pengecualian kalangan perguruan tinggi dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;think-tank&lt;/span&gt;, tidak begitu tertarik untuk membicarakan kerjasama politik dan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan bloggers, seperti yang digagas oleh Perkumpulan Blogger Indonesia (PBI) mungkin bisa diperluas menjadi pertemuan pada tingkat ASEAN.  Artinya, bloggers di tingkat nasional di seluruh Negara anggota ASEAN perlu bertemu tahunan.  Indonesia dapat memulainya pada tahun 2011 ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan akan bermanfaat tidak saja berbagi pengalaman, tetapi juga untuk pembentukan jaringan masyarakat blogger se ASEAN dan untuk memasyarakatkan ASEAN itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Grass Root&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;URGENSI untuk menjadikan ASEAN sebagai organisasi yang memusatkan aktifitasnya pada rakyat (people centered), dan menjadikan ASEAN a people driven community dirasakan pada saat pertemuan retreat ASEAN Ministerial Meeting (AMM) di Lombok pekan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat daerah, perguruan tinggi, LSM dan para wartawan mulai waspada pada isu-isu penting yang menjadi kepentingan nasional kita.  Tidak sebatas mengenai ketenagakerjaan di mana Indonesia menjadi supplier terbesar, tetapi masyarakat secara spesifik mengharapkan Pemerintah memperjuangkan hak-hak pekerja dalam persetujuan ASEAN. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daerah juga ingin agar proyek-proyek ASEAN dalam rangka memperbaiki mutu dan jumlah ketersediaan infrastruktur dapat dilaksanakan di Indonesia.  Intinya, daerah ingin agar berbagai proyek investment dilakukan untuk menarik minat para investor menanamkan modalnya di sana.  Perbaikan kualitas prasarana juga diharapkan dalam bidang pariwisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan oleh Dirjen Kerjasama ASEAN Djauhari Oratmangun, pihaknya akan terus mengadakan sosialisasi dan mengambil input dari masyarakat agar mereka dapat mengambil manfaat dari berbagai program yang dilaksanakan, terutama pada masa keketuaan Indonesia di tahun 2011 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masyarakat lah yang harus mengambil manfaat dari ASEAN, agar tema ASEAN sebagai people-driven organization menjadi bermakna konkrit”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa keketuaan Indonesia di tahun 2011 sekarang, Dirjen Kerjasama ASEAN telah menyusun berbagai kegiatan dan pertemuan di berbagai kota di tanah air.  Hal ini dimaksudkan agar keberadaan ASEAN dirasakan oleh para elit dan masyarakat di daerah, dan pada saat bersamaan memopulerkan kota-kota tersebut menjadi tujuan wisata.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Indonesia lebih dari sekadar Jakarta atau Bali, kita memiliki puluhan kota-kota lain yang memiliki keistimewaan mereka sendiri yang patut ‘dijual’ ke dunia”, ujar seorang penggiat pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN perlu menjangkau semya elemen masyarakat sampai pada tingkat grass root.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Civil Society&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan sosialisasi tidak hanya melibatkan masyarakat secara langsung.  Sosialisasi juga dilaksanakan bekerjama dengan KADIN, misalnya.  Beberapa pertemuan akan digagas sendiri oleh KADIN, untuk mempertemukan pengusaha-pengusaha ASEAN dengan mitra atau calon-mitra mereka di daerah-daerah.  Mereka ingin tahu peluang-peluang apa yang bisa dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan kegiatan promosi hak-hak wanita dan anak-anak.  ASEAN juga telah menyusun agenda untuk melakukan sosialisasi di bidang program sosial budaya.&lt;br /&gt;ASEAN juga melibatkan organisasi pemuda untuk ambil-bagian dalam kegiatan ASEAN. &lt;br /&gt; Untuk itu Indonesian Young Enterpreneur Association (HIPMI) juga akan menyelenggarakan ASEAN Youth Enterpreneurship event, dalam mendorong kemajuan UKM Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika masyarakat dan LSM sendiri yang menyelenggarakan tentu efektif dalam menjangkau jaringan yang spesifik kelompok kepentingan dan masyarakat umum.  Dengan pelibatan seluas mungkin unsur-unsur masyarakat, maka kehadiran ASEAN akan lebih dirasakan dan bermanfaat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tujuan kita untuk menjadikan ASEAN a people-driven organization menjadi kenyataan, dan ASEAN pun terjamin untuk terus berkembang secara berkelanjutan”, tegas Dirjen Kerjasama ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-2298614065550587009?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/2298614065550587009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/asean-menggapai-masyarakat-akar-rumput.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2298614065550587009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2298614065550587009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/asean-menggapai-masyarakat-akar-rumput.html' title='ASEAN MENGGAPAI MASYARAKAT AKAR RUMPUT'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-6761119279539261389</id><published>2011-01-16T22:56:00.000-08:00</published><updated>2011-01-16T23:08:01.429-08:00</updated><title type='text'>INDONESIA: CULTURAL DIVERSITY OF THE MUSLIM WORLD</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TTPqlCYDnTI/AAAAAAAAAIk/kfRDPlByQ88/s1600/New%2BPicture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TTPqlCYDnTI/AAAAAAAAAIk/kfRDPlByQ88/s320/New%2BPicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563047886746524978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELUM LAMA orang berbicara tentang “Clash of Civilizations”, bahwa pertentangan ideologis Komunis – Kapitalis telah sirna bersamaan dengan berakhirnya Perang Dingin.  Tesis Samuel P Hungtington (1996) bahwa budaya dan identitas agama akan menjadi sumber konflik di dunia, menggantikan pertentangan ideologi politik tadi.  Huntington sebenarnya ingin melanjutkan pemikiran yang belum selesai dari Francis Fukuyama “The End of History and the Last Man” (1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori spekulatif ini sebenarnya hanyalah permainan kata-kata di kalangan akademis.  Tetapi tesis perbenturan budaya menjadi dahsyat ketika kelompok Neo-Cons yang lagi naik daun AS menerjemahkan 9/11 sebagai legitimasi untuk menempatkan Islam sebagai tantangan terhadap kebudayaan Barat.  Seni ‘menjualnya’ juga hebat, akibatnya dahsyat.  Puluhan ribu jiwa melayang, beberapa triliun dolar menguap.  Hasilnya: dunia berada di titik nadir, dan krisis pun hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, pemikir musiman seperti mode pakaian: they fade away.  Politisi abad ke-21 Obama muncul dan menjungkirbalikkan paradigma ‘ngawur’ itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kairo, Obama bertekad menjadikan Dunia Islam sebagai mitra sejajar untuk membangun dunia yang lebih beradab, santun dan penuh etika, serta damai.  Hanya ini resep untuk membangun dunia yang sejahtera, di tengah-tengah kegalauan ekonomi global, kata anak Menteng yang kini menjadi orang terkuat di dunia, sembari mengutip pengalaman masa kecilnya ketika tinggal di negeri Muslim yang paling toleran di dunia.  Di negeri kita, Obama mendengar azan setiap dinihari dan petang, sebagai “the most beautiful sound on earth”, katanya lagi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak luput, Obama juga memuji Indonesia yang menjadi contoh: Islam dan demokrasi bukan antagonis, melainkan akur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Islam: Rahmatan lil Alamin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM itu, 16 Juni 2009, menjadi kenangan indah bagi kami masyarakat Muslim di ibukota Polandia, Warsawa.  Semua perwakilan negara-negara Muslim/OKI sepakat menjadikan “Cross Cultural Evening” itu a show case tentang keberagaman Dunia Islam, beserta budayanya.  Melalui medium budaya – seni tari, musik, lukisan, kerajinan, kuisin—kami ingin memperkenalkan wajah Islam yang damai dan toleran, penuh persahabatan di negeri mayoritas Katolik Polandia yang toleran ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, ini juga respons kami terhadap seruan sang superstar Barack Hussein Obama di Kairo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana indah pada malam itu sebenarnya melanjutkan pesan sama yang saya sampaikan ketika diundang berbicara pada "The 5th Edition of the Days of Muslim Culture", yang digelar Muslim Cultural and Education Council di Kota Wroclaw, di baratdaya Polandia akhir Mei yang lalu.  Makalah saya bertajuk "Islam in Indonesia: Unity in Diversity", menunjukkan Islam di Indonesia mempunyai karakter khusus yang damai, terbuka, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan keyakinan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama 1 jam 15 menit saya berbicara di seminar Wroclaw dengan kesimpulan bahwa Indonesia menjadi contoh terbaik di Dunia Muslim dalam penerapan demokrasi karena menjadi negara demokratis dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini wajah Islam yang berada di mainstream, cinta dan toleran terhadap sesama, karena Allah menciptakan dunia bagi kita sebagai “rahmatan lil alamin”.   Perbedaan adalah rahmat.  Karena itu, Islam bukanlah wajah-wajah sangar yang haus darah, siap menebas leher siapa-siapa yang menghempang di depannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Islam menolak konflik berdarah-darah, huru-hara, dan pembakaran kota yang hanya bertujuan menyengsarakan kehidupan rakyat. Islam memajukan dialog bermutu yang santun, seperti Obama tadi, untuk mencerminkan jadi-diri bahwa kita memiliki peradaban tinggi dan menyelesaikan perbedaan yang berujung kepada kesepakatan tentang bagiaman solusi terbaik demi kemashlahatan umat, melalui amar makruf!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Wroclaw kami menampilkan seni musik gamelan dan wayang yang teduh.  Saya katakana, seni ini merupakan medium yang dipakai para Wali dalam menyampaikan pesan-pesan damai Islam ke bumi Nusantara pada abad ke-8 yang lalu.  Sangat efektif, karena dimengerti dengan baik, merasuk ke sanubari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kurang seabad Islam pun menjadi agama dominan di Nusantara, sehingga Indonesia sekarang diakui menjadi Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cross-Cultural Evening&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPANJANG pagi dan sore Warsawa diguyur hujan, dan udara pun dingin menusuk tulang.  Kemarin, ketika saya menghadiri garden party, ulang tahun teman saya Dubes Irlandia udara bukan main panas.  Memang, kondisi udara yang gampang berubah menjadi ciri musim pada tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kehangatan kami mampu menghalau udara dingin dan  tidak menyurutkan minat pengunjung untuk menghadiri acara yang untuk pertama kalinya digelar di Warsawa.  Dalam acara tersebut, ditampilkan seni tari dan musik, pameran kerajinan tangan, dan makanan dari berbagai negara-negara.  Unik, karena pada malam itu kami bukan hanya bermodalkan pentas-seni, karena di sana juga tersedia berbagai jenis hidangan dan minuman khas dari Asia, Timur Tengah dan Afrika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang digelar oleh seluruh Perwakilan Diplomatik negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Warsawa pada hari Selasa (16/6) bertajuk “Cross Cultural Evening”, dihadiri kl. 500 undangan yang terdiri dari pejabat pemerintah Polandia serta corps diplomatic dan tokoh-tokoh masyarakat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuan rumah, Duta Besar Saudi Arabia Dr. Nasser Bin Ahmed Albraik, yang juga menjadi ketua perkumpulan Dubes-Dubes OKI, mengatakan kami ingin menunjukkan ke dunia internasional, khususnya masyarakat Polandia, mengenai keberagaman budaya di antara negara-negara Islam.  Kami mengharapkan, pengenalan terhadap budaya Muslim akan membantu peningkatan pemahaman serta saling pengertian di dalam membangun kehidupan dan pergaulan internasional yang kondusif.  Clash of Civilizations adalah a thing of the past!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Message yang ingin kami sampaikan adalah Islam bukan homogen, karena memiliki keberagaman budaya yang tinggi.  Heterogenitas ini hanya dapat terpelihara bilamana masyarakat memiliki tingkat toleransi yang tinggi pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Indonesia Tampil Unik&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENAMPILAN budaya Indonesia baik tari-tarian, seni kuisin, maupun kerajinan mencerminkan keberagaman budaya Indonesia yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasa yang menjembatani keyakinan yang berbeda-beda. Unik.  Keberagaman budaya ini telah diakui dunia internasional yang pada saat bersamaan menempatkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dalam acara tersebut menampilkan 2 tarian yang dibawakan oleh mantan penerima beasiswa Darmasiswa, yakni tarian Yapong (Betawi) oleh Iwona Czapla dan Roza Puzynowska dan tari Gabor (Bali) oleh Maria Szymanska.  Penari tradisional Indonesia yang ayu-ayu itu mendapat kehormatan tampil untuk pertama kali dan mendapat sambutan meriah dari pengunjung.  Selanjutnya, acara di panggung diisi oleh para musisi Khawali dari Pakistan, yang sedang berada di Polandia dalam rangka kegiatan promosi budaya dan festival.  Acara musik dan nyanyian seni Pakistan yang bernafaskan sufi tersebut juga mendapat sambutan hangat dari pengunjung.  Peserta dari Negara Muslim lainnya, dan juga kelompok seni kaum Muslim Tartar yang berada di Byalistok, karena waktu persiapan yang sempit tidak dapat tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gelar kuisin, Indonesia menampilkan “Nasi Kuning” komplit (Melayu) yang dihias berbentuk “Tumpeng”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBRI Warsawa juga memanfaatkan acara tersebut untuk promosi wisata, dengan memamerkan barang-barang kerajinan dan souvenir serta poster wisata alam dan membagikan brosur-brosur pariwisata.  Selain KBRI Warsawa, turut berpartisipasi dalam mengisi  acara kuisin dan kerajinan  adalah Malaysia, Pakistan, Turki, Syria, Aljazair, Kuwait, Lebanon, Azerbaidjan, Arab Saudi, dan Iran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga diminta berpidato.  Saya memperkenalkan negeri kita Indonesia dengan khazanah budaya yang sangat beragam: terbukti dengan tarian, musik, makanan, dan seni lainnya yang terdapat di ribuan pulau-pulau.  Meskipun 90% dari penduduk 247 juta beragama Islam sehingga dan menjadi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun Indonesia adalah negara yang memiliki budaya Muslim yang khas.  Budaya nusantara mungkin berbeda dengan budaya masyarakat Muslim di Timur Tengah, akan tetapi inilah budaya nasional.  Budaya yang tumbuh di masyarakat Melayu di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi Papua menjadi bagian kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Muslim, sesuai dengan semboyan “Unity in Diversity”, seperti diyakini Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan dalam menyampaikan pesan damai pada “Cross Cultural Evening” mendorong kami untuk  mengadakan acara serupa pada waktu-waktu mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warsawa, 21 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-6761119279539261389?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/6761119279539261389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/indonesia-cultural-diversity-of-muslim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/6761119279539261389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/6761119279539261389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/indonesia-cultural-diversity-of-muslim.html' title='INDONESIA: CULTURAL DIVERSITY OF THE MUSLIM WORLD'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TTPqlCYDnTI/AAAAAAAAAIk/kfRDPlByQ88/s72-c/New%2BPicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-5247295854198690766</id><published>2011-01-14T21:05:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T21:23:59.843-08:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN KAPASITAS ASEAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA</title><content type='html'>KEBERHASILAN  ASEAN dalam memelihara perdamaian dan stabilitas merupakan capaian terbesar bagi organisasi sub-regional itu.  Memang, sejak berdirinya ASEAN di tahun 1967 kawasan Asia Tenggara tidak mengalami konflik-konflik besar sehingga Dewan Keamanan PBB perlu turun tangan.  Tidak ada yang meragukan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya ke 43 ASEAN juga telah membukukan sejumlah keberhasilan yang tangible, terutama di bidang ekonomi.  Banyak persetujuan di bidang perdagangan, investasi, keuangan, maupun ketenagakerjaan yang telah dihasilkan.  Begitu pula di bidang sosial budaya, seperti perlindungan HAM, anak-anak dan wanita, pendidikan, dan penanganan bencana alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan oleh Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, kedudukan Indonesia menjadi Ketua ASEAN tahun 2011 menjadi  harapan kepemimpinan Indonesia untuk memajukan organisasi sub-regional itu setingkat lebih tinggi.  Sebagai negara terbesar dari segi ekonomi, penduduk dan wilayah di Asia Tenggara, wajar jika rakyat di Asia Tenggara berharap banyak.  Bukan hanya rakyat Indonesia yang masih menunggu hasil-hasil nyata ASEAN, tetapi juga bagi separuh penduduk ASEAN yang kini berjumlah 500 juta yang berdiam di 9 negara anggota lainnya.  Banyak agenda yang menjadi kepentingan nasional kita untuk diperjuangkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keketuaan Indonesia di tahun 2011 mempunyai  visi “ASEAN Community in a Global Community of Nations”.   Visi itu bisa direalisasikan apabila ASEAN telah memiliki kapasitas yang viable dalam menyelesaikan masalah-masalah internal di antara negara-negara anggotanya.  Masalah cross border, territorial claims bahkan konflik sosio kultural masih menghambat cohesiveness ASEAN.  Jangankan menyelesaikan masalah internal ASEAN melalui sistem penyelesaian sengketa dengan mekanisme yang sudah, negosiasi saja belum pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan negara-negara ASEAN untuk memperkuat kelembagaan dan mekanisme penyelesaian sengketa (dispute settlement mechanism/DSM) menjadi salah satu agenda terpenting di dalam memperkuat pilar politik keamanan, dalam konsepsi menyeluruh secara bersama dan seimbang dengan upaya pembentukan 2 pilar lainnya, yakni di bidang ekonomi dan sosial budaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam periode keketuaan 2011, Indonesia ingin memastikan penguatan ketiga pilar guna mendorong lebih lanjut proses perbentukan ASEAN Community di tahun 2015, sebagaimana disampaikan oleh Menlu Marty Natalegawa dalam pernyataan akhir tahunnya di awal Januari 2011 yang lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memperkuat institusi dan ketentuan tentang DSM juga memiliki arti di bidang penguatan masyarakat ekonomi ASEAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kita berbicara untuk memastikan kokohnya pilar ekonomi di tahun 2015, maka ASEAN harus memastikan pula penguatan infrastruktur hukumnya.  Penguatan rejim dan infrastruktur hukum, termasuk hukum ekonomi, juga menjadi prasyarat bagi penyelesaian sejumlah kasus-kasus hukum, yang tidak terbatas hanya di ranah keperdataan (kebanyakan soal-soal perdagangan dan investasi) tetapi juga ke ranah hukum publik, seperti ketenagakerjaan, pencurian ikan dan berbagai kejahatan trans-nasional.  Tidak tertutup pula kemungkinan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa wilayah dan perbatasan melalui mekanisme ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa akademis orang bertanya mengapa penting penguatan mekanisme penyelesaian sengketa dalam konteks menuju ASEAN Community 2015? Jawabannya jelas, sejak pengesahan Piagam ASEAN maka organisasi regional itu telah menjadi entitas hukum yang mensyaratkan agar semua keputusan atau perselisihan diselesaikan dengan berdasar pada hukum pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan berikut ini disarikan dari pokok bahasan pada diskusi yang berlangsung di Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, pada tanggal 10 Januari 2011 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Two Corridors One Direction?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK DINI para pendiri ASEAN pada tahun 1967 telah mengutarakan visi untuk pembentukan DSM di sesama anggotanya.  Jangan lupa, ASEAN terbentuk di tengah berkecamuknya Perang Vietnam di bawah bayang-bayang Perang Dingin di Asia Pasifik dan konflik-konflik panas di sesama negara Asia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ketika  Dokumen Treaty of Amity and Cooperation (TAC) yang dihasilkan pada KTT di Bali Concord I tahun 1976 disetujui, para pendiri ASEAN juga meletakkan norma-norma dasar bagaimana perilaku ideal jika terjadi konflik di antara anggota-anggotanya, yakni pada Pasal 13-17 TAC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan TAC juga menjadi code of conduct yang wajib dipatuhi oleh negara-negara kawasan yang berminat masuk menjadi anggota ASEAN (ketika itu ASEAN hanya memiliki 5 anggota) dan bagi negara di luar kawasan bilamana mereka menginginkan engagement dalam proses ASEAN , seperti menjadi dialog partners atau berpartisipasi dalam status bukan anggota di berbagai fora ASEAN, misalnya dalam ASEAN  Regional Forum (ARF).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAC secara spesifik mengatur bahwa negara-negara anggota ASEAN ataupun di luarnya “shall refrain from threat or use of force and settle such disputes through friendly negotiations”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjamin proses penyelesaian melalui negosiasi itu maka akan dibentuk lembaga dengan anggota setingkat menteri, yang disebut sebagai High Council (HC).  Produk dari HC adalah rekomendasi mengenai mekanisme yang disarankan sebagai modalitas penyelesaian sengketa, yakni apakah melalui jasa baik (good offices), mediasi (mediation), penyelidikan (inquiry) atau rujuk (conciliation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada TAC inilah nosi pertama kali muncul mengenai kelembagaan High Council.  Para pempin menyadari magnitude konflik-konflik yang ada dan mungkin mekanisme HC kurang memadai.  Oleh  karena itu, HC juga  merujuk pada mekanisme yang terdapat di PBB, sesuai dengan Pasal 33 Piagam PBB, sekiranya mekanisme ASEAN belum berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, untuk memastikan proses acara (prosedur) maka disahkan pula Rules of Procedure TAC yang disahkan pada tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalan, entah kenapa lembaga HC ini belum pernah terbentuk, meskipun di antara anggota-anggota ASEAN terdapat berbagai konflik ataupun potensi konflik.&lt;br /&gt;Tidak ada penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan dari berbagai pakar adalah karena masa lalu di kawasan memang penuh kecurigaan (animosity), pembentukan saling-percaya (confidence building) masih memerlukan waktu, atau memang karena ada perbedaan mendasar dari Anglo-Saxon system yang dianut sebagian anggotanya (Malaysia, Singapore) dengan continental system yang dianut Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti adalah kuatnya kemauan politik ternyata tidak cukup untuk menghadapi realitas yang ada.  Agar supaya semua pihak merasa ‘convenient’ perlahan-lahan upaya pembentuka DSM yang kredibel di ASEAN pun meluntur atau dilupakan sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rather than solving them (cases), they shelve them!”, kata seorang pengamat yang diplomat senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We solve them in a ASEAN way”, tanggap pengamat lainnya.  Atau lebih tepat didiamkan saja, sehingga negara-negara bersengketa mencoba menyelesaikan secara bilateral saja, bukan dalam kerangka mekanisme ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terbentur pada koridor pertama untuk mengaktifkan HC, para pemimpin ASEAN menyepakati untuk memperkuatnya melalui proses pembentukan ASEAN Charter (Piagam), tanpa spesifik merujuk pada kelembagaan HC.  Tidak ada pula penjelasan, misalnya, mengapa Piagam ASEAN yang berlaku sejak 15 Desember 2008 tidak menyebut referensi kepada mekanisme “High Council”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ASEAN memiliki 2 sistem penyelesaian sengketa yang bertentangan?  Apakah HC telah superceded by Charter? Ini bukan kesimpulan yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat klausul-klausul terkati DSM pada Piagam ASEAN khususnya pada Bab VIII.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pembentukan norma bahwa amekanisme penyelesaian perselisihan dilakukan melalui dialog, konsultasi dan negosiasi, khusus tentang dispute yang tidak terkait dengan perbedaan interpretasi terhadap sejumlah instrumen hukum yang dikeluarkan ASEAN.  Tidak perlu diatur umum (lex generalis) karena  masing-masing instrument yang dikeluarkan ASEAN telah mengatur tersendiri klausul prosedural  di salah satu pasalnya (lex specialis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bagaimana prosedur (acara) bagi kasus-kasus di luar soal penafsiran instrument ASEAN?  Piagam menentukan beragam jalan pula, tergantum jenis case-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kasus tentang sengketa hukum, penyelesaiannya memakai rujukan TAC dan Rules of Procedure-nya, sedangkan di luar penafsiran instrument atau tentang penerapan berbagai persetujuan di bidang ekonomi maka akan digunakan Protocol  on Enhanced DSM, yang pada dasarnya mengacu pada model penyelesaian WTO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, untuk mengantisipasi kasus-kasus hukum rumit yang sulit Lebih rumit, Piagam membuka ruang untuk diputuskan pada tingkat KTT (summit) yakni para kepala Negara/pemerintahan dari anggota ASEAN.  Mekanisme procedural (acara) untuk kasus-kasus tak terselesaikan (unresolved disputes) ini belum dibuat.  Penyelesaian hukum acara untuk kasus-kasus sedemikian dapat menjadi kontribusi Indonesia sebagai ketua ASEAN 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut pada Pasal 25 Piagam, para Menlu ASEAN telah menugaskan kelompok pakar yang telah menghasilkan protocol yang memuat 4 annex tentang rules of consultation, good offices, mediation, conciliation, dan arbitration.  Piagam lebih maju karena memasukkan “arbitrasi” di dalam modalitas penyelesaian sengketa, dan dengan keputusan yang mengikat (binding).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Piagam juga memberikan kewenangan kepada Ketua (setiap tahun berganti) dan Sekjen ASEAN.  Ini juga masih belum jelas.  Secara konseptual masih sulit mencerna bagaimana organ eksekutif Kepala Negara/Pemerintahan dan Sekjen ASEAN juga dibebani dengan masalah-masalah yudikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, kedudukan Sekjen yang memiliki kapasitas eksekutif yang terbatas di ranah administratif masih tergantung pada 'mandat' atau kepercayaan yang diberikan oleh negara anggota ke padanya.  Jangankan memadankan dengan Presiden UE, mengimbangi mandat dan otoritas Sekjen ASEAN dengan Sekjen PBB masih belum pas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Layak Diusulkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESKIPUN tidak menjadikan lagi HC sebagai referensi dalam Piagam, namun Piagam juga merujuk pada TAC dan rules of procedures yang implisit menunjukkan bahwa pembentukan High Council (HC) masih dimungkinkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tidak terdapat konflik di antara koridor I (TAC) dan koridor II (Piagam).  Bahkan, ketentuan yang terdapat pada Piagam tidak bertentangan dan bahkan melengkapi mekanisme yang kurang efektif seperti terdapat pada TAC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya Indonesia masih dapat menggagas untuk pembentukan lembaga High Council.  Di samping tidak bertentangan dengan Piagam, kedudukan HC akan membantu penangangan berbagai konflik yang telah atau berpotensi untuk muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era perdagangan bebas ASEAN, dan pembentukan Komunitas 2015 akan secara drastik menguatkan  interaksi dagang baik di antara negara-anggota maupun dengan negara di luar ASEAN, termasuk semakin meningkatnya kasus-kasus keperdataan maupun berbagai peristiwa di lapangan yang memungkinkan atau berpotensi pada gesekan di tingkat pemerintah.  Belum lagi akan munculnya intensitas bilamana konflik wilayah atau perbatasan di Laut China Selatan masih belum berujung untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat lain yang dirasakan oleh pemerintah maupun rakyat ASEAN dengan pembentukan sistem peradilan internal adalah biaya yang relatif lebih murah, daripada pergi ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice) yang mahal dan lama.&lt;br /&gt;Dengan terbentuknya sistem dan kelembagaan DSM ASEAN, niscaya iklim ekonomi ASEAN akan semakin kredibel bagi dunia luar, yang pada gilirannya akan memperkuat komunitas ekonomi sebagaimana telah diikrarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ASEAN Court of Justice: Wacana ASEAN Post 2015&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA melihat kondisi negara-negara di Asia Tenggara dan stabilitas kawasan pada tahun 1960-an, sulit membayangkan akan lahir ASEAN.  Visi para pemimpin inilah yang terbukti mampu melampaui zaman inilah menginspirasi kita untuk berfikir lebih jauh dari sekadar Komunitas 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika membayangkan kondisi HAM di Indonesia maupun di seluruh Negara anggota ASEAN sebelum era reformasi di tahun 1989, sulit membayangkan bahwa pada suatu hari ASEAN akan memiliki Badan HAM.  Namun semua kini menjadi realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, seperti dikatakan Menlu Marty Natalegawa, juga perlu memikirkan ASEAN beyond 2015.  Artinya, meskipun pada tahun 2015 Komunitas ASEAN telah terbentuk kita tidak boleh berdiam diri dan puas.  Indonesia harus mulai menyumbangkan gagasan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, muncul pula pemikiran kenapa Indonesia tidak melemparkan gagasan dan mendorong untuk terbentuknya ASEAN Court of Justice?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sama-sama maju dan menjadi contoh di dunia, ASEAN dikatakan menempuh jejak Uni Eropa.  Pengesahan Piagam ASEAN 2008 diumpamakan dengan tercapainya Maastrichat Treaty di tahun 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di Uni Eropa debat mengenai ‘kedaulatan negara’ dalam diskursus apakah UE merupakan badan ‘supra nasional’ atau badan intra-pemerintah?  Pada kenyataannya, elemen-elemen ‘state soveregnty’ sudah semakin terkikis di Eropa.  Mereka sudah memiliki ‘common foreign and security policy’, economic laws, mata-uang tunggal, Parlemen Eropa (kompetensi sebagai mitra Presiden), persetujuan visa Schengen,  dan berbagai badan pada tingkat ‘federal’ yang dipatuhi oleh Negara-anggota, bahkan dengan sanksi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, pada saat terbentuknya The European Coal and Steel Community pada tahun 1951 para pemimpin Eropa tidak membayangkan suatu proses integrasi yang berjalan begitu cepat dan dahsyat di tengah-tengah puing kehancuran Eropa pada akhir Perang Dunia II.  Visi para pemimpin dan tekad mengiimplementasikannya menjadi faktor kunci.  Tidak ada lagi konflik terjadi di sesama Negara di Eropa .  Tidak ada lagi konflik Prancis-Jerman yang selalu mengawali perang dunia yangmenghancurkan Eropa ke titik nadirnya.  Mereka, rakyat Eropa, yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada saat sekarang ASEAN masih ‘reluctant’ berbicara tentang lembaga supra nasional di bagaimana di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Eropa telah memiliki “European Court of Justice” mengapa pula ASEAN tidak mungkin memiliki lembaga serupa?  Apakah hal ini akan bertentangan dengan statute International Court of Justice yang diakui menjadi organ utama sistem peradilan PBB?&lt;br /&gt;Sebagai anggota PBB memang Indonesia belum menjadi pihak pada Statuta ICJ, tetapi bersama Malaysia kita bersepakat membawa kasus Sipadan Ligitan ke Mahkamah Internasional.  Hal ini bisa diartikan bahwa secara asasi Indonesia sudah tidak berkeberatan dengan kehadiran ICJ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pula bisa menduga, Indonesia pada suatu ketika akan menjadi pihak pada  Rome Statute of International Criminal Court?  Indonesia telah menandatangani statuta ICC meskipun masih belum meratifikasinya.  A matter of time, kata seorang pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita perlu meredefinisi konsep-konsep ‘state sovereignty’ , ‘non-inteference’ sesuai dengan perkembangan di dunia, maupun di ASEAN sendiri”, ujar seorang pakar mantan dubes di beberapa Negara kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keputusan membawa perkara ke Mahkamah berada pada domain pemerintah, sehingga tidak perlu ada notion yang meletakkan Mahkamah sebagai lembaga supra nasional”, kata pakar yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya fikir, sekiranya Indonesia sebagai Negara terbesar dan paling berpengaruh di ASEAN merintis jalan ke depan, sebagaimana dilakukan dalam pembentukan Komisi HAM ASEAN dan the Bali Cemocracy Forum, maka leadership dalam memelopori kemajuan dan kapasitas ASEAN dalam penyelesaian konflik juga memiliki merit untuk diajukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggagas pembentukan ASEAN Court of Justice dapat dipertimbangkan dalam rangka  menempatkan ASEAN dalam status sama seperti Uni Eropa, terhormat dalam pergaulan antar-bangsa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan dalam pembentukan institusi dan mekanisme penyelesian sengketa pada gilirannya akan memperkuat terbentuknya komunitas politik dan keamanan ASEAN, sebagai suatu merupakan keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kita lakukan dengan “ASEAN way” dengan pendekatan baru pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 15 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-5247295854198690766?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/5247295854198690766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/membangun-kapasitas-asean-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5247295854198690766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5247295854198690766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/membangun-kapasitas-asean-dalam.html' title='MEMBANGUN KAPASITAS ASEAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-7014222295206950929</id><published>2011-01-12T23:15:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T23:48:57.513-08:00</updated><title type='text'>THE SPIRIT OF TOLIKARA: GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Republik ini terlalu besar, terlalu kaya, terlalu indah: banyak ruang-ruang yang terbuka lebar bagi kita untuk membuatnya menjadi  lebih indah, lebih berjaya, lebih bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA mengawali tulisan ini dengan kalimat yang saya susun sendiri di atas untuk mengajak semua lapisan bangsa bersikap optimis dan mau memberikan kontribusi, melalui bidang-bidang profesi yang dikuasai di manapun dia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar-laskar Pelangi  yang tidak pernah mau berhenti bermimpin dari Tolikara, dari pedalaman Papua, akan membuat Republik Indonesia menjadi  lebih indah, lebih berjaya, lebih bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Spirit of Tolikara&lt;/span&gt; saya ambil dari pelajaran yang dipetik dari keberhasilan anak-anak kita itu pada pentas sains dunia, pada saat mereka berpartisipasi dalam Olimpiade Astronomi Tingkat Asia-Pasifik atau Asian Pacific Astronomy Olimpiad (APAO) VI yang diselenggarakan nun jauh di pegunungan Papua di Kabupaten Tolikara, 24 November-5 Desember 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APAO adalah salah satu jenis olimpiade internasional dalam bidang astronomi. Olimpiade yang dikhususkan bagi siswa SMP dan SMA (14-18 tahun) ini bertujuan mempromosikan pendidikan Astronomi dan menekankan pentingnya pendidikan sains di negara-negara Asia, Oseania, dan Pasifik.  Olimpiade tersebut dibagi dalam tiga tahap, yaitu Theoritical Round, Observation Round, dan Practical Round.  Perwakilan APAO untuk Indonesia dipegang oleh Chatief Kunjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event yang digagas oleh Prof. Yohanes Surya dari Surya Institute, dengan dukungan orang-orang yang memiliki idealisme dan semangat berkontribusi untuk kejayaan Indonesia, berlangsung sukses.  Tidak mudah, berliku-liku, dan hanya dengan kemauan keras serta dukungan berbagai pihak maka event ini dapat terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini menjadi bagian ke-3 dari 2 tulisan sebelumnya tentang “Generasi Hibrida Telah Lahir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hasil-Hasil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM tulisan-tulisan sebelumnya, saya menggambarkan peranan seorang motivator utama dalam memajukan minat sains di kalangan pelajar dan menampilkan mereka di event-event bergengsi internasional.  Sering menjadi juara dunia, dan bahkan menjadi juara umum seperti yang terjadi di Polandia pada tahun 2009 yang lalu, maka anak-anak Indonesia sudah diperhitungkan di kalangan negara-negara maju, berkat Profesor Yohanes Surya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula di Tolikara.  Putra-putri Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dengan mengantongi 1 (satu) medali emas, 2 (dua) medali perak, 7(tujuh) medali perunggu sekaligus memperoleh 3 (tiga) predikat “Best Observational” dan “Best Host Territory”.  Putra-putri dari Papua sendiri juga turut menyumbang terhadap prestasi tersebut, yaitu dengan diraihnya tiga medali perunggu dan satu predikat “Best Host Territory”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain Indonesia, negara peserta yang ikut berpartisipasi Rusia, Korea Selatan, Kazakhstan, Cambodia, China, Bangladesh, Nepal dan Kyrgyztan. Untuk tahun ini Kyrgyzhtan hanya mengirimkan peninjau (observer).  Dari 9 negara anggota Olimpiade Astronomi Asia Pasifik, hanya Singapura dan Thailand yang tidak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam event itu, Indonesia sebagai tuan-rumah boleh mengirimkan 2 Tim, yakni satu tim nasional dan satu tim daerah (dari Tolikara), masing-masing beranggotakan peserta junior yakni siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan siswa sekolah menengah atas (SMA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota tim nasional Indonesia adalah Hendrik Lewu Medlama (SMAK BPK Penabur Gading Serpong), Ramadino Athaariq (Mentari International School Jakarta), Cliff Alvino Wijaya (SMP Karangturi Semarang), Lidya Pertiwi Suhandoko (SMPN 1 Blitar), Siti Fatima (SMAN 1 Sampang), Muhammad Wildan Gifari (SMA Semesta), Dedy Arianto Runting (SMAN 5 Palangkaraya), dan Yahdi Isnu Miftahuddin (SMAN 1 Taliwang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tim Tolikara beranggotakan Tower Bogum (SMP YPPG I Karubaga), Betty Angelina Kogoya (SMP YPPG I Karubaga), Erfince Wanimbo (SMPN 1 Karubaga), Echo Yikwa (SMPN 1 Karubaga), Ramli Wanimbo (SMA YPPG I Karubaga), Mendi Weya (SMAN 1 Karubaga), dan Itha Yikwa (SMAN 1 Karubaga). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Februari hingga November 2010, kedua Tim dilatih di Pusat Pelatihan Ganesha Astromedia dan observatorium Boscha, Bandung, serta di Planetarium, Jakarta, baik oleh tim Surya Institute maupun dari ITB dan Universitas Pendidikan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dukungan Wakil Presiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKIL Presiden Boediono ketika melepas 15 peserta APAO VI di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan 22 Nopember 2010, menyatakan bangga dengan keikutsertaan Indonesia.  Wapres menggarisbawahi  pentingnya menggunakan momen olimpiade itu untuk menaikkan nama baik bangsa, dan mengharapkan anak-anak menimba pengalaman sebanyak-banyaknya, yang mungkin bermanfaat bagi mereka jika ingin menempuh karir di dunia astronomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bidang yang sangat sulit. Namun, dengan bimbingan sejak dini, saya kita akan membantu. Gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kemampuan dan bekal pengalaman selanjutnya untuk menjadi astronom atau yang lain," kata Wapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wapres Boediono melanjutkan, Indonesia sangat kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA), namun mempunyai mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang minim. Padahal kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh SDA yang dimilikinya, bukan SDM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka strateginya yang terbaik adalah memanfaatkan SDA untuk dikonversikan menjadi SDM dengan waktu tidak terlalu lama. Saya sangat menaruh harapan agar anak-anak ini menjadi elemen yang bisa konversikan SDA menjadi SDM," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa Tolikara?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa di Tolikara, suatu kabupaten baru yang mungkin baru didengar namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, memberikan kesempatan kepada provinsi Papua melalui pendidikan berpartisipasi pada event  memberikan kesempatan kepada provinsi Papua melalui pendidikan untuk berpartisipasi pada event  Internasional.  Alasan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kedua&lt;/span&gt; kondisi alam yang ideal untuk observasi jagad raya yang didukung oleh langit yang bersih; dan  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ketiga&lt;/span&gt;, karena Kabupaten inilah yang pertama kali memberikan komitmen untuk mendukung acara APAO VI 2010.   Ini dikatakan langsung oleh Profesor Yohanes Surya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia juga berharap, penyelenggaraan Olimpiade di Papua akan menjadi pemicu (trigger) untuk merangsang minat belajar anak usia sekolah di Papua umumnya, sekaligus membuka mata pemerintah untuk mendukung kemjuan pendidikan di daerah tertinggal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolikara adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya pada 2002 dengan luas wilayah 4. 500 km2, berpenduduk 248.000 jiwa tinggal di 46 distrik kecamatan serta 541 desa. Ibu kota Tolikara di Karubaga hanya dapat dijangkau dengan pesawat kecil dari Jayapura atau transportasi darat yang melintasi jalan tidak beraspal sepanjang 96 kilometer dari Wamena, ibu kota Jayawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diceritakan oleh Ir Sri Setiowati pada saat makan siang di Hotel Niko pada pertengahan November 2010, salah satu alasan mengapa olimpiade astronomi diselenggarakan di Tolikara adalah karena dukungan John Tabo, pada saat itu menjabat bupati.  Tidak ada kepala daerah yang berminat kecuali Bupati di daerah terpencil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menjadi halangan bagi panitia untuk menempuh ke lokasi yang terisolir, meskipun harus menempuhnya dengan pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena dan masih memerlukan mobil yang siap bertarung di jalan-jalan darurat selama kl. 4 jam, melintasi daerah-daerah di mana rakyatnya belum mengenal pakaian! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Tabo sadar untuk suatu upaya luhur memerlukan pengorbanan.  Dia bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO, sekaligus mendanai seluruh biaya persiapan selama hamper 1 tahun tim olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Papua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Tabo juga sadar sebagai pemimpin di daerah terisolir tentulah banyak biaya diperlukan untuk membangun prasarana yang menunjang ekonomi.  Tetapi dia yakin, terobosan perlu dilakukan dengan suatu ‘trigger’ yang tidak lain adalah jalur pendidikan.  Bagaimana upaya membangkitkan semangat rakyat di daerahnya, dimulai dari anak-anak yang nanti menjadi harapan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Tabo mendengarkan nuraninya, dan bahkan membuat terobosan ‘gila’, dengan mengambil dana penyelenggaraan APBD!  Dia tahu, dalam system keuangan Negara sekarang dia rawan dengan jeratan KPK atau BPK!  Tetapi dia jalan terus, mendengarkan nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;High Spirit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK MUDAH untuk merealisasikan Olimpiade astronomi di Tolikara.  Tidak kurang dari Ketua APAO Michael Gavrilov pada mulanya meragukan kesiapan panitia, terutama dengan fasilitas daerah yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berlangsung dengan sukses, Ir Sri Setiowati Seiful mengungkapkan kegembiraannya karena mengalamai berbagai "keajaiban" sehingga mimpi Surya Institute untuk menyelenggarakan Olimpiade Astronomi Asia-Pasifik di Tolikara, Papua, berhasil. Meski tanpa dukungan dana dari Kemendiknas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegilaan yang disebutkan dibawah, itulah yang aku anggap berbagai "keajaiban" sehingga mimpi yang semula terlihat "impossible mission" bisa terlaksana.  Hidup negeriku... dan orang2 terbaik di negeriku”, tulis Ir Sri Setiowati Seiful. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyambut baik kabar gembira itu, dan mengirimkan balasan pada tanggaal 12 Desember 2010 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bu Sri yang baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas update dan hasil-hasil maksimal diperoleh. Kerja keras Ibu dan teman-teman di Surya Institue paid off.&lt;br /&gt;Saya senang turut memberikan kontribusi dlm prosesnya, tetapi yg terpenting  saya berjanji dlm diri sendiri untuk tetap memberikan dukungan moral bagi para pejuang yg mengangkat nama Indonesia di mata dunia, seperti olimpiade astronomi yg telah berlangsung sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit Tolikara telah mengilhami kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan-kapan kita ngopi lagi bareng Prof Yohanes Surya. Salam hangat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir Sri Setiowati juga mengirim-lanjut (forward) kepada saya laporan pandangan mata dari personil UKP4 (Unit Kerja Presideng Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto yang hadir dan mengungkapkan ‘kegilaan’ secara positif bagaimana antusiasme semua pihak telah memungkinkan tampilnya anak-anak Indonesia, khususnya dari Papua, dalam olimpiade astronomi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan staf UKP4 kepada boss-nya yang tidak lain adalah Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto intinya ungkapan kegembiraan atas keberhasilan anak-anak kita di urutan ke-2 dari 9 negara, dan terutama keberhasilan pelajar-pelajar Tolikara dalam merebut 3 medali perunggu,meskipun mereka dari daerah terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mengumpulkan anak-anak untuk direkrut menjadi  tim olimpiade juga tidak mudah.  Lebih lagi, bagaimana merekrut 1 tim yang berasal dari Tolikara sendiri.  Bisa dibayangkan bagaimana kondisi anak-anak di daerah terpencil Papua, apalagi jika mereka diharapkan akan menguasai matematika dan berbagai ilmu dasar yang dipersyaratkan untuk mempelajari astronomi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astronomi adalah kumpulan dari berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi sebagai dasar untuk mempelajari fenomena jagad raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun, Profesor Yohanes Surya berhasil membentuk tim Tolikara.  Beliau juga sangat menyadari anak-anak itu perlu dipersiapkan dengan serius dan baik, karena bekal matematika mereka sangat rendah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir cerita tentu happy ending!   Sulit bagi saya tadinya berhayal bahwa salah satu dari anak-anak Papua itu ternyata menjadi salah seorang anak terpandai dalam bidang astronomi tingkat dunia hanya dalam waktu 10 bulan!   Seperti saya tulis di email kepada Ibu Sri: upaya Surya Institute paid off.  Selamat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Laskar Pelangi, jangan pernah berhenti bermimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menerobos Birokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA menembus jejaring birokrasi semua kita mempunyai pengalaman (buruk).  Berbagai izin yang diperlukan, termasuk dari Kemendiknas,  termasuk mengurus visa bukanlah hal gampang di Republik ini.  “Jika bisa dipersulit mengapa harus dibuat gampang?” seru sebuah iklan pelayanan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Sri lebih lanjut berkomentar, selain UKP4 dan Kantor Wakil Presiden, beliau juga berupaya melalui jejaring teman-temannya di Kementerian Luar Negeri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sebenarnya Deplu amat sangat banyak membantu dalam proses perolehan visa, tapi memang terganjal sana-sini karena perlunya "teamwork" dengan Imigrasi dan Hankam.  Kalau tidak karena "surat sakti" dari Ketua UKP4 ke Dirjen Imigrasi, dan lobby via teman2 mantan dubes ke dubes-dubes di KBRI masing-masing lokasi, berbagai kesulitan tidak akan teratasi dengan begitu cepatnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengingat dengan baik, persoalan visa ini muncul ketika saya sedang berada di Makassar untuk suatu seminar ASEAN.  Saya memang mengontak teman-teman di Perwakilan untuk memperlancar urusan pemberian visa bagi negara-negara tergolong rawan, atau pada saat mereka menghadapi keterbatasan waktu.  Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 negara yang menjadi tanggungjawab Dubes RI Tashkent M Asruchin, yakni Kazakhstan dan Kyrgyzhtan.  Teman baik saya ini sangat instrumental sehingga tim dari kedua Negara ini bisa berpartisipasi di Tolikara.  Begitu pula kerjasama baik dengan KBRI Bangkok yang telah memungkinkan wakil-wakil dari Nepal dapat mengambil visa Indonesia mereka di Bangkok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ir Sri Setiowati dalam emailnya, mengklarifikasi permasalahan yang dihadapi dalam kaitan dengan Kemendiknas yang  bukan tidak memberi ijin, tetapi Kemendiknas  "kurang meng-endorse".   Karena kegiatan ini tidak diselenggarakan oleh Kemendiknas dengan cara yang ditetapkan dalam Juklak Kemendiknas, Kemendiknas tidak bertanggung jawab,  antara lain,  atas tidak diperolehnya beasiswa negara oleh para pemenang olimpiade.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemendiknas juga menilai bahwa penyelenggaraan olimpiade internasional di Papua tidak direkomendasikan karena faktor keamanan”, tulis Ibu Sri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Barulah setelah Ketua UKP4 "turun tangan", Mendiknas akhirnya bersedia duduk menjadi Pelindung Panitia, dan kondisi itulah yang kami gunakan untuk meyakinkan Imigrasi untuk melancarkan proses pemberian visa, serta Pemda-Pemda Kabupaten di luar Tolikara untuk meloloskan siswa-siswi terbaiknya untuk mengikuti pembinaan Tim Nasional ke Olimpiade Astronomi ini”, demikian tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada email berikutnya menjawab surat saya, Ir Sri Setiowati Seiful mengirimkan penjelasan tambahan bahwa dia ingin menyampaikan terima kasih pada Deplu (Kemlu) dan teman-teman, sehingga bisa melancarkan proses masuknya SEMUA delegasi sesuai konfirmasi kehadiran (bahkan Bangladesh pun akhirinya tiba). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sekali lagi saya ingin ucapkan banyak terimakasih pada Bu Kusuma, pada pihak Deplu dan seluruh jajaran di KBRI yang memproses visa maupun visa "dadakan" seperti untuk Nepal di Bangkok, pada P Haz Pohan yang begitu banyak memberikan jalan keluar dengan menghubungkan ke teman2 di KBRI-KBRI ybs., semoga hasil kerjasama ini berbuah baik untuk semua pihak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menutup email dengan kata-kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mohon doa, dan mohon bantuan untuk mem forward berita di bawah ke teman-teman di KBRI mana saja, barangkali untuk memberi semangat kerja :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;Sri&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuliskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the Spirit of Tolikara&lt;/span&gt; ini untuk menjadi catatan bagi teman-teman yang bertugas di Perwakilan RI di luar negeri, untuk senantiasa bersemangat dalam menjalankan tugas-tugas, sekaligus memberi perhatian untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laskar-Laskar Pelangi&lt;/span&gt; berikutnya yang akan membuat Republik Indonesia menjadi lebih indah, lebih berjaya, lebih bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 13 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-7014222295206950929?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/7014222295206950929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/spirit-of-tolikara-generasi-hibrida.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7014222295206950929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7014222295206950929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/spirit-of-tolikara-generasi-hibrida.html' title='THE SPIRIT OF TOLIKARA: GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (3)'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-84496124843958375</id><published>2011-01-12T00:02:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T00:14:45.240-08:00</updated><title type='text'>MUTIARA DARI PAPUA :  GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (2)</title><content type='html'>KEMARIN, tanggal 11.01.11 menjadi hari istimewa.  Tentu bukan untuk membuat gerakan politik menyambut 2014.  Bagi saya, malam itu membuktikan generasi hibrida telah lahir.  Ini jauh lebih luhur dan konkrit daripada sekadar mendengarkan orang-orang gagal yang ingin menggurui kita dalam politik nasional. Dan, menurut saya event malam itu bernilai strategis sebagai sumbangan yang konkrit untuk bangsa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat undangan dari Ir Sri Setiowati Seiful dari Surya Institute, beberapa hari menjelang acara pada malam itu: peluncuran program GIPIKA (Gerakan Ibu Pandai matematIKA) yang diprakarsai oleh Prof Yohanes Surya, tokoh yg sering mengirim dan memenangkan pelajar-pelajar terbaik kita dlm olimpiade fisika tingkat dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena upaya Surya Institute bernilai strategis dan relevan, saya memang telah menyatakan komitmen bahwa saya ingin berkontribusi untuk untuk mendukung lahirnya generasi hibrida, sesuai kapasitas saya yang terbatas, sesuai visi dari lembaga pencetak bintang olimpiade sains kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu diundang makan siang oleh Prof Yohanes Surya pada tanggal 18 Nopember 2010 di Hotel Niko, program baru yang strategis ini telah saya dengar dari Ir. Sri Setiowati Seiful. Tetapi gagasan ini tidak kami diskusikan, karena pada saat itu Surya Institute sedang mempersiapkan penyelenggaraan Olimpiade Astronomi di Tolikara, Papua.  Tulisan seri ke-3 tentang generasi hibrida akan saya turunkan dengan judul  “The Spirit of Tolihara” selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya itu hadir Ibu Herawati Boediono, isteri Wakil Presiden, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Hak Anak Linda Gumelar, dan tentu saja Profesor Yohanes Surya dan Ir Sri Setiowati Seiful dari the Surya Institute.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang lebih awal, karena memang lalu lintas di Jakarta sangat tidak predictable.  Saya duduk di antara saudara-saudara kita dari Papua.  Tampaknya mereka dari kalangan pendidik.  Saya mendengarkan obrolan mereka yang menimbulkan empati.  Para pendidik dari Papua itu optimis dalam waktu 20 tahun dari sekarang  potensi SDM di papua akan bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa Itu Gipika?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM yang diberi nama GIPIKA memang ditujukan kepada ibu-ibu rumah tangga.  Prof Yohanes memiliki alasan sederhana kenapa mengapa GIPIKA menarget para ibu rumah tangga?  Dia mengobservasi secara nasional terdapat keengganan atau bahkan ketakutan anak-anak belajar sains, terutama matematika.  Oleh karena itu, yang pertama perlu dilakukan adalah mendekatkan matematika kepada ibu rumah-tangga, dan selanjutnya biarlah mereka menyampaikan pesan itu kepada anak-anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan di bidang matematika, ibu dari ilmu pasti itu, akan mendorong kemajuan di fisika, biologi yang menjadi cabang-cabang sains, demikian Profesor Yohanes Surya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelibatan ibu-ibu rumahtangga dalam program GIPIKA juga strategis untuk mengatasi kekurangan guru matematik terutama di daerah-daerah pedalaman, seperti di Papua dan kawasan Indonesia Timur lainnya.  Menurut saya, defisit guru matematik itu nasional juga dialami di daerah-daerah Indonesia barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik guru bersertifikat memerlukan waktu lama, apalagi proses birokrasi juga tidak sederhana.  Melatih ibu-ibu rumahtangga untuk mengajarkan anak-anak matematika itu strategis, yakni mendekatkan ilmu hitung itu langsung ke telaganya, bagaimana membuat anak-anak senang dan menjadikan matematika bukan pelajaran yang menakutkan.  Saya dan teman-teman menjadi bosan dulu di SD dan SMP karena metoda pengajaran matematika yang membuat enggan, malas dan tidak relevan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Yohanes Surya malam itu ingin membuktikan : pelajaran matematika itu mudah dan menyenangkan bilamana dilakukan oleh orang yang tepat dan dengan metoda yang tepat pula.  Ibu rumah-tangga menjadi sasaran strategisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu Prof Yohanes Surya menciptakan paket pelajaran matematika sederhana yang disebutnya sebagai metoda “GASING”, yakni metoda yang GAmpang, aSyik dan menyenaNGkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam presentasinya malam itu, Prof Yohanes Surya membuktikan tidak ada anak yang bodoh!  Dia berkeliling ke daerah pedalaman Papua, dan bertemu dengan tokoh yang sangat instrumental untuk menjangkau anak-anak di Papua.  Tokoh itu adalah John Tabo, mantan Bupati Tolikara yang mau mengorbankan apa saja untuk mendukung kemajuan pendidikan anak-anak di kabupatennya.  John Tabo juga hadir malam itu untuk menerima award khusus dari Surya Institute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam itu Prof Yohanes Surya juga melantik 20 instruktur GIPIKA dari berbagai provinsi yang ditugasi melatih para instruktur untuk menjangkau ibu-ibu dari berbaGai lapisan, termasuk anak-anak usia sekolah dari kalangan rakyat kecil di daerah terpencil dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ACARA malam itu berkembang meriah.  Salah satu acara utama ialah ketika Prof Yohanes mengadakan kuis seperti cerdas cermat spserti di TVRI dulu, khusus pelajaran berhitung.  Pesertanya semua anak-didik dari Papua yang berasal dari daerah sederhana dan tertinggal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, 6 siswa berbagai usia tingkat SD tampil ke pentas dan mampu menjawab seluruh soal-soal matematika yang diajukan in promptu (soal-soal dibuat lisan, langsung) oleh Prof Yohanes Surya. Dan dengan benar pula.  Padahal soal-soal yang diujikan juga menjangkau pelajaran matematika tingkat SMP maupun SMA!  Bagaimana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kalah cepat, saya masih berhitung tetapi anak-anak telah menghasilkan jawaban mereka”, kata Ibu Herawati Boediono terharu.  Soal-soal yang diberikan itu dari yang sederhana: menambah, mengurang, mengali, maupun membagi sampai perhitungan yang rumit dengan rumus-rumus aljabar!  Kami orang-orang tua yang hadir ‘penong’ menghadapi soal-soal matematika itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses dan mendapat aplus meriah! Malam itu pula Prof Yohanes Surya mengumumkan dia sedang mempersiapkan 20 anak-anak Papua untuk mewakili Indonesia di berbagai olimpiade sains internasional.  Tidak main-main! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dari daerah pegunungan di Papua itu diminta oleh Prof Yohanes Surya untuk dididik di Karawaci selama 6 bulan, atas dukungan biaya yang disediakan dari dana APBD oleh sang bupati, John Tabo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadinya, anak-anak itu tidak mampu memecahkan soal-soal berhitung yang sederhana sekalipun!”, kata Prof. Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kecil Papua itu bak Laskar Pelangi, kini ceria memainkan angka-angka tanpa kehilangan dunia mereka yang indah, dan mereka telah berani mengutarakan cita-cita dan impian mereaka.  Dengan penguasaan matematika yang masih ‘menakutkan’ siswa kita, mereka kini menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pede&lt;/span&gt;, karena dipandang cerdas di lingkungan mereka, demikian Profesor Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah anak-anak kita yang telah mempunyai mimpi menguasai dunia dengan matematika, seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tulang Punggung Masa Depan Bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROFESOR Yohanes Surya bercita-cita dalam waktu 20 tahun ingin mencetak 30 puluh ribu doktor dalam bidang matematika.  Saya yakin itu, karena kita memiliki puluh jutaan anak-anak sekolah.  Kuncinya adalah bagaimana menjadikan GIPIKA sebagai gerakan massal pada tingkat akar-rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jutaan anak usia sekolah kita akan ‘menggoyang’ dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini merupakan wujud dari obsesi Surya Institute untuk menjangkau sebanyak-banyaknya anak didik usia sekolah, melalui ibu-ibu rumahtangga.   Sebeklum membekali ibu-ibu rumah tangga, dibuat pula paket pelatihan untuk trainers, tanpa memungut biaya!  Dia paham, mengirim anak-anak kursus seperti di bimbingan belajar atau Kumon itu memerlukan biaya besar, dan hanya terjangkau oleh lapisan kecil masyarakat kita.  Maka program ini memiliki daya-tarik yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan penguasaan sains di kalangan pelajar kita yang telah dibuktikan berkali-kali menjadi juara dunia telah membuka mata dunia potensi SDM yang kita miliki.  Tidak tertutup, suatu ketika putra dan putri Indonesia akan mencengangkan dunia dengan memenangkan hadiah Nobel!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan sains juga menjadi tulang punggung kebangkitan teknologi dan perindustrian nasional.  Jadi, strategis untuk membangun ekonomi bangsa, begitu kata Profesor Yohanes.  Kita yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ingin melibatkan seluruh gerakan akar rumput kaum ibu di berbagai pelosok tanah air.  Oleh karena itu, dia ingin menggandeng PKK di tingkat RT RW dan berbagai organisasi kaum wanita lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa Profesor Yohanes Surya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROFESOR Yohanes Surya anak Jakarta kelahiran 1963 lulusan fisika pada UI tahun 1986, dan meneruskan S-3 dengan hasil cum laude dari College of William and Mary, Virginia, USA (1994).  Beliau mulai terlibat melatih tim olimpiade kita sejak tahun 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembali ke Indonesia di tahun 1995, Prof Yohanes telah mendidik ribuan guru sains kita.  Pengalaman itu yang mendorong dia untuk melahirkan GIPIKA.  Dia mengharapkan program GIPIKA mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia, dalam menyebarkan ‘virus’ matematika  sampai ke pedalaman untuk menjangkau anak-anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menerbitkan puluhan karya untujk pendidikan matematika, masih aktif sebagai ketua Dewan Pembina Surya Institute, juga masih mengajar di berbagai perguruan tinggi, di samping tugas-tugas sebagai representative Indonesia di berabgai lembaga kompetisi sains  pelajar di tingkat dunia, seperti International Conference of Young Scientist (ICYAS), dan di berabgai lembaga-lembaga sejenis lainnya di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya Institute didirikan oleh Prof Yohanes Surya pada tahun 2006, guna mengefektifkan misi mulia yang diembannya.  Inisiatif dan upaya ini sangat instrumental membina fisikawan muda sejak beliau kembali ke indonesia thn 1995, dan menampatkan Indonesia di dalam peta kekuatan sains di tingkat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal pada jalur yang benar telah diluncurkan Prof Yohanes Surya.  Patut mendapat perhatian besar dari kita semua, dan tentunya dukungan, karena sebagai aktifis di bidang pendidikan fundamental ini materi bukan menjadi obsesi beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk menjadi gerakan masif diperlukan dana yang memadai.  Termasuk sumbangan para donatur yang peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, metoda yang non-konvensional ini  hanya memerlukan sepercik dana APBN yang sesuai Konstitusi telah berjumlah 20% dari keseluruhan biaya pembangunan nasional.  Program-program sejenis harus kita dukung bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 12 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-84496124843958375?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/84496124843958375/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/mutiara-dari-timur-papua-generasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/84496124843958375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/84496124843958375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/mutiara-dari-timur-papua-generasi.html' title='MUTIARA DARI PAPUA :  GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (2)'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-2415077729478381928</id><published>2011-01-06T23:25:00.000-08:00</published><updated>2011-01-06T23:42:29.946-08:00</updated><title type='text'>GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbCyMTUjyI/AAAAAAAAAIU/lE7vjBdeYws/s1600/ICYS2.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbCyMTUjyI/AAAAAAAAAIU/lE7vjBdeYws/s320/ICYS2.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559344957586968354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI ITU di Warsawa menjelang akhir tahun 2009 saya dikejutkan dengan dering telpon berkali-kali.  Bunyi dering yang panjang dan tidak biasa membangunkan firasat saya itu telpon penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, di seberang berbicara dari Jakarta Dr. Dino Patti Djalal yang penasehat politik luar negeri Presiden RI.  Sesama pegawai di Deplu atau kini Kemlu, kami memang pernah sama-sama di Direktorat Jenderal Amerika, dan akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa beliau ‘orang dekat’ Presiden, saya pun serius mendengarkan instruksi.  Beliau mengatakan, laporan di pers Indonesia ramai memberitakan tentang keberhasilan anak-anak kita pada olimpiade sains di Polandia pada bulan April 2009 dan menjadi juara dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong mas Pohan buatkan catatan singkat dan lengkap tentang keberhasilan anak-anak kita itu.  Kehebatan anak-anak kita itu patut dicatat sebagai prestasi besar dan pantas dimasukkan ke dalam buku yang sedang saya rancang”, demikian Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya saya diminta menjadi kontributor dalam buku ketiga beliau, yang telah diterbitkan dengan judul “ENERGI POSITIF: Opini 100 Tokoh Indonesia di Era SBY (2009)”, dengan editornya beliau sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak saya termangu, pasti saya bukanlah menjadi 100 tokoh pilihan karena memiliki prestasi yang hebat.  Tetapi mereka, anak-anak kita yang menjadi juara dunia di bidang sains itu, karena mereka telah mengalahkan berbagai superpower di bidang keilmuan.  Saya hanya saksi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangkat tema ‘generasi hibrida’ yang diam-diam telah lahir di sekeliling kita.  Maklum, dalam berbagai kompetisi keilmuan tingkat dunia anak-anak kita selalu memenangkan medali emas.  Hanya, kemenangan menjadi juara dunia di Polandia itu patut dicatat, karena untuk pertama kalinya.  Dan tentu harapan untuk seterusnya anak-anak Indonesia akan membukukan berbagai prestasi yang membuka mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Eropa dan Amerika memang kagum pada sumberdaya manusia kita.  Dikatakan, kita bangsa yang berusia muda.  Dengan rating lebih dari 60 persen berusia muda (berusia 1-20 tahun), Indonesia memiliki tenaga kerja yang produktif yang mendukung kemajuan ekonomi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda misalnya jika suatu negara, seperti di Eropa atau di China dan Jepang dengan komposisi penduduk lebih banyak berusia tua (senior), maka  lebih banyak dana diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan dan berbagai fasilitas lainnya.  Di sisi lain, mereka berada dalam posisi ‘menikmati’ masa tua dan kurang bersemangat untuk mengisi sector produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbDRYj0-zI/AAAAAAAAAIc/CubQjlzhJbc/s1600/ICYS3.bmp"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbDRYj0-zI/AAAAAAAAAIc/CubQjlzhJbc/s320/ICYS3.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559345493453372210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sang Juara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA mencatat baik pada Rabu malam, 29 April tahun 2009, di Wisma Duta KBRI Warsawa.  Anak-anak pelajar yang baru saja menjulangkan nama Indonesia di kalangan elit sains dunia saya undang untuk syukuran bersama masyarakat Indonesia di Polandia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah ilmuwan remaja kita yang memenangkan perolehan medali emas terbanyak pada International Conference of Young Scientists (ICYS) ke-16 yang berlangsung di Pszczyna, Polandia pada akhir pekan sebelumnya, mengalahkan raksasa sains seperti Jerman, Belanda, AS, Rusia, Hongaria, Polandia, Brazil, bahkanTurki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 4 hari, 24-28 April 2009, 12 siswa SMP dan SMA dari Surabaya, Tangerang, Magelang dan Jakarta bertarung mempertahankan 10 hasil penelitian mereka di bidang fisika, matematika, informatika, dan lingkungan hidup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia berhasil menggondol medali terbanyak 6 emas, 1 medali perak, 3 medali perunggu, unggul jauh dari Jerman (3,4,2), Belanda (3,1,2), Amerika Serikat (3,0,0), Rusia (2,3,3), Hongaria (2,2,2), Polandia (2,2,1) Belarus (1,1,0), Georgia (0,3,2), Ukraina (0,1,2), Ceko (0,0,2), dan Kroasia (0,0,1). Peserta lainnya Turki dan Brazil pulang dengan tangan hampa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil itu menjadi prestasi terbesar yang pernah diraih oleh Indonesia. 3 medali emas didapat dari penelitian lingkungan hidup yang disumbangkan oleh pasangan Jessica Karli dan Yosephine Livia Pratiknyo, pasangan Gabriella Alicia Kosasih dan Teresa Maria Karina, serta pasangan Vincentius Gunawan dan Fernanda Novelia.  2 medali emas dari penelitian fisika sumbangan pasangan Idelia Chandra dan Christopher Alexander Sanjaya, serta Guinandra Lutfan Jatikusumo, dan 1 emas dari ilmu komputer sumbangan Nugra Akbari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah medali perak bidang lingkungan hidup disumbangkan oleh Dwiky Rendra Graha Subekti, sedangkan  dari 3 medali perunggu 2 diantaranya dari bidang lingkungan hidup yang diraih oleh pasangan Lydia Felita Limbri dan Allen Michelle Wihono, serta pasangan Melissa Nadia Natasha dan Terrenz Kelly Tjong, dan satu medali perunggu diperoleh dari bidang matematika oleh pasangan I Made Rayo Putra Indrawan dan Andika Setia Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan itu lebih memantapkan rasa percaya diri Indonesia yang dipilih menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan ICYS ke-17 berikutnya pada bulan April 2010.  Indonesia akan menjadi negara Asia yang pertama dipercaya menjadi tuan rumah sejak ICYS diselenggarakan pada tahun 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Indonesia tidak saja dikenal dunia memiliki angkatan kerja berusia muda, tetapi juga pintar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ICYS adalah lomba presentasi karya ilmiah remaja bergengsi tingkat dunia di bidang penelitian ilmu fisika, matematika, ilmu komputer, dan ekologi yang diselenggarakan setiap tahunnya mulai 1994.  Pertemuan tahunan ilmuwan remaja pada tingkat dunia itu dimaksudkan untuk menggali potensi peneliti muda yang kelak dapat berperan dalam penemuan dan pengembangan keilmuan untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh umat manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ICYS berdiri pada tahun 1994 diprakarsai oleh Eotvos Lorand University, Budapest Hungaria, dan Belarussian State University, Minsk, Belarus.  Indonesia yang bersama India dan Jepang mewakili Asia di ICYS, mulai mengirimkan delegasi untuk pertandingan ilmiah tersebut mulai tahun 2005.  Prof. Yohanes Surya, Ph.D ditunjuk menjadi representatif ICYS untuk Indonesia sejak tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbicaralah Kepada Dunia&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAKLAH berlebihan untuk menyatakan era kebangkitan nasional telah memasuki tahap baru.  Partisipasi siswa-siswa Indonesia dalam berbagai kompetisi sains tingkat dunia, sebenarnya baru diawali pada tahun 1993.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah bekerja keras selama 6 tahun, tepatnya pada tahun 1999 kita baru mulai mendulang medali emas, untuk pertama kalinya, ketika I Made Agus Wirawan, siswa SMAN 2 Bangli Bali, di Padova Italia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, 3 medali emas berikutnya diperoleh dalam tahun 2002 pada kompetisi di Bali kontribusi dari Agus Peter Sahanggamu (SMAN 8 Jakarta), Widagdo Setiawan (SMA 1 Denpasar) dan Fajar Ardian (SMA Insan Cendekia Serpong), serta 2 medali emas sumbangan Widagdo Setiawan (SMA 1 Denpasar) untuk  kedua kalinya pada tahun 2003 di Taiwan, dan oleh Yudistira Virgus di Pohang, Korea Selatan, dalam tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kompetisi ICYS, Indonesia pertama kali mengikuti lomba ini pada ICYS ke-12 pada tahun 2005 di kota Katowice, Polandia, dengan menampilkan penelitian di bidang Fisika yang berjudul "The Physics of Badminton" karya  Dhina Pramita Susanti (SMAN 1 Semarang)  bersama Chrisanthy Rebecca Surya (SMA Dian Harapan Tangerang) yang berhasil memperoleh satu medali perunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian bidang Fisika lainnya "Chaos in The Experimental Problem of The IPHO 35", karya pasangan Anneke Nelce Bowaire (SMAN 1 Serui, Papua) bersama Diatra Zulaika Husodo (SMA Al Izhar Pondok Labu, Jakarta.) yang memperoleh Special Award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kompetisi ICYS ke-13 tahun 2006 di Stuttgart, Jerman, Tim Indonesia mengirimkan enam peserta (lima bidang Fisika dan satu bidang Ekologi) berhasil meraih dua perunggu dalam bidang penelitian fisika.  Pada penyelenggaraan ICYS ke-13 ini untuk pertama kalinya Indonesia mendapat kehormatan menjadi juri bidang fisika, yakni Monika Raharti, M.Si. yang juga sebagai team leader memimpin kontingen Indonesia di Pszczyna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah medali perak dalam bidang Fisika berhasil diraih oleh Tim Indonesia pada ICYS ke- 14 pada tahun 2007 yang diadakan di kota Saint-Petersburg, Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi Tim Indonesia meningkat terus, pada tahun 2008 ICYS ke-15 yang diselenggarakan di kota Chernivtsky, Ukraina, Tim Indonesia meraih satu perak di bidang Ekologi, satu perunggu di bidang Ekologi, dua perunggu di bidang Fisika, empat Special Award yaitu untuk Best Performance bidang Fisika, untuk Teaching in Physics bidang Fisika, untuk Most Creative Research bidang Computer Science dan untuk Best Research bidang Matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Juara Dunia!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYELENGGARAAN ICYS ke-16 di Pszczyna mendapat tempat yang paling istimewa dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kompetisi sains dunia pada tingkat pelajar.  Berdasar catatan Tim Olimpiade Fisika Indonesia, dengan demikian Indonesia telah mengoleksi sekitar 48 medali dari berbagai jenis kategori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam syukuran di Wisma Duta juga menjadi catatan khusus bagi Andrzej Rosanoff, 70 tahun, seorang pegawai lokal berkebangsaan Polandia yang telah bekerja di KBRI dalam kurun waktu kurang lebih 45 tahun, hadir pada malam itu.  Rosanoff tidak mampu menahan diri, mendatangi saya.  Dalam bahasa Inggeris dia menyatakan dirinya terkesima menyaksikan perubahan besar yang belum pernah dilihatnya selama dia berada di lingkungan Indonesia, sejak mulai tahun 1960-an.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama saya bekerja di KBRI saya bertemu dengan banyak orang Indonesia, tetapi anak-anak ini sangat mengesankan.  Mereka cerdas, santun, percaya diri, mahir berbahasa Inggeris, tetapi tetap ceria seperti anak-anak lainnya bercengkerama dengan sesama.  Saya percaya dan optimis masa kejayaan Indonesia sudah diambang pintu.  Dan, maaf jika saya mengatakan bahwa generasi Anda berbeda dengan anak-anak itu”, ujarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rosanoff, anak-anak itu luar biasa mampu mengalahkan siswa-siswa dari negara-negara superpower di bidang sains yang telah memenangkan ratusan hadiah Nobel.  Yang lebih mengagumkan Rosanoff adalah bahwa anak-anak Juara Dunia kita itu bukanlah bersekolah di Amerika atau di negara-negara Eropa, tetapi di Indonesia.   Dan, mereka adalah anak-anak daerah dari berbagai provinsi!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;” Ini mencerminkan dua hal, pertama  siswa-siswa cemerlang adalah produk dari sistem pendidikan yang sudah baik. Kedua, memang pada dasarnya anak-anak Indonesia sangat potensial di bidang sains”, ujarnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia mengaku ‘miris’ dan berbahagia karena hadir dalam malam bersejarah itu.  Sebagai orang asing yang telah menjadikan Indonesia sebagai bagian dirinya, sukma Rosanoff, sama seperti kita semua, bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bangsa Unggul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARENA itu, acara syukuran malam itu merupakan pernyataan kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat Indonesia di Polandia, seperti juga masyarakat di tanah air.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan masyarakat Indonesia di Polandia malam itu mengucap syukur pada akhirnya anak-anak Indonesia berhasil  mengerek bendera Merah Putih di tempat tertinggi. Team leader Ibu Monika Raharti, yang ditugasi Prof Yohanes Surya untuk memimpin delegasi ke Polandia, tidak urung berlinang-linang bahagia. Padahal, katanya siswa-siswa kita berlatih sendiri, dengan fasilitas sekolah yang minim, tanpa laboratorium yang canggih seperti dimiliki Jepang, Jerman, bahkan Amerika Serikat.  Dan, tim dengan biaya minim dan dukungan orangtua dan sponsor terbatas, para siswa berangkat bermodalkan semangat Merah Putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dulu menjadi pertanyaan saya ketika memulai bekerja untuk tim, mampukah anak-anak didik kita bersaing dengan dunia.  Hari ini terbukti bahwa kita bisa!", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ibu-ibu dan masyarakat Indonesia di Polandia tidak bosan-bosannya menciumi anak-anak yang polos itu, dan bersama mengajak berfoto dengan para Juara Dunia!&lt;br /&gt;Bangsa unggul telah berada di sekitar kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat betul, pada hari Jumat, 24 April, kami baru bisa berangkat menuju kota Pszczyna, di selatan Polandia, yang jaraknya sekitar 350 kilometer dari Warsawa agak siang.  Saya sangat khawatir terlambat untuk menghadiri acara pembukaan memenuhi undangan panitia.  Ketika kami terjebak kemacetan di kota, maklumlah pada akhir pekan, dan tertahan pula sepanjang 50 kilometer di dipinggir kota, kecemasan saya memuncak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang kepada isteri yang setia menemani perjalanan, kehadiran kita penting untuk memberikan semangat juang bagi anak-anak.  Maka, mobil van Mercy Viano milik KBRI pun dikebut dengan kecepatan 180 km/jam, hampir maksimal! Setelah lolos dari jepitan kemacetan, Alhamdulillah dalam 2 setengah jam kami pun tiba di Istana Pszczyna.  Anak-anak sudah tiba 5 menit lebih awal, dan mulai masuk ke aula tempat acara pembukaan.  Kami tiba tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan ICYS) ke-16 dilakukan di Museum Istana Pszczyna, bekas Istana bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13, direnovasi berkali-kali: bergaya renaissance di abad ke-17,  bergaya barok pada abad ke-18 dan klassik pada abad ke-19, sehingga tampak anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pembukaan dihadiri oleh Presiden ICYS dan pejabat pemerintahan Polandia, pada dewan juri dan seluruh peserta dari berbagai penjuru dunia.  Tetapi, ternyata hanya saya sendiri dari undangan dubes negara peserta yang hadir, membuat kontingen lainnya iri karena mereka hanya didampingi oleh ketua tim masing-masing.  Dan, saya pun diundang berpidato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenalkan delegasi Indonesia, dan menjelaskan bahwa kehadiran Indonesia dalam kompetisi ICYS di Polandia adalah untuk kedua kalinya di Polandia.  Pada tahun 2005 yang lalu Delegasi Indonesia telah turut dalam pertandingan di Katowice.  Saya mengharapkan, dengan tim yang lebih siap Indonesia akan meningkatkan prestasinya dalam kompetisi kali ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak lupa, saya juga mengambil kesempatan untuk mengundang bagi peneliti muda dari seluruh dunia untuk ambil bagian dalam pertemuan ICYS ke-17 yang akan dilangsungkan di Bali pada bulan April 2010.   karena Indonesia terpilih menjadi tuan-rumah kompetisi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kembali ke Warsawa, saya berpesan kepada kontingen Indonesia, agar para siswa bertanding dengan percaya diri dan menajamkan kemampuan artikulasi dalam mempresentasikan temuannya di depan juri internasional.  Ini menjadi kunci keberhasilan, karena semua presentasi dan tanya-jawab dilakukan dalam bahasa Inggeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai malam itu sampai kompetisi berakhir tanggal 28 April di kota yang indah itu, anak-anak Indonesia bertarung dengan gigih mempertahankan 10 makalah ilmiah mereka di depan juri internasional.  Dalam perjalanan kembali ke Warsawa, kami berdoa untuk keberhasilan putera-puteri bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa turut berbahagia, meskipun dengan kontribusi kecil sebagai ‘pengawal’ generasi hibrida saya telah menjadi bagian dari pekerjaan besar kita semua dalam mempersiapkan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendidikan adalah pekerjaan besar mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus mempersiapkan munculnya generasi hibrida, manusia-manusia unggul berikutnya.  Anak-anak kita itu telah memberikan inspirasi kepada teman-teman mereka jutaan anak Indonesia usia sekolah lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga bersekolah di Indonesia, saya menyadari betapa pentingnya arti kemenangan itu untuk mereka sendiri, orangtua, guru dan teman-teman, dan sekolah.  Kemenangan itu memberi makna dan menumbuhkan rasa percaya diri,  sekaligus menginspirasi jutaan teman-teman mereka di tanah air untuk tidak menyia-nyiakan bakat yang  dimiliki. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam acara syukuran di Wisma Duta, di depan Delegasi Indonesia dan masyarakat hadirin, saya mengungkapkan perasaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setua ini saya belum pernah menyumbang satu medali pun kepada Republik”, kata saya. ”Jadi, anak-anak kita ini manusia luar biasa jasanya kepada bangsa dan negara”, kata saya ketika mengawali sambutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu tradisi yang baik bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan perhatian khusus kepada para siswa yang berhasil meraih medali emas dalam berbagai kompetisi sains internasional.  Kepada mereka Presiden telah menjanjikan untuk membiayai pendidikan mereka sampai pada tingkat Ph D, baik di dalam maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengekspresikan kebanggaan kami masyarakat Indonesia yang bermukim di luar negeri, bahwa para anak-anak kita telah berbicara kepada dunia sains dalam bahasa yang terhormat.  Keberhasilan ini telah menempatkan Indonesia dalam peta sains dunia, dan bilamana prestasi ini dipupuk terus dan ditingkatkan oleh para juara dunia ini, maka tidak lama lagi bangsa Indonesia akan memperoleh Nobel di bidang sains, dan juga di bidang kesusasteraan, seni dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita patut menghargai prestasi ini.  Saya yakin, Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan masuk dalam jajaran negara penerima hadiah nobel, dan ini menjadi tugas dari anak-anak para generasi muda yang telah direpresentasikan dengan baik oleh para pemenang ICYS 2009”, ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enam makalah tentang bidang lingkungan hidup adalah pilihan yang selaras dengan peranan global Indonesia untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan.  Indonesia telah dipercaya PBB menjadi salah satu troika dalam mengatasi perubahan iklim global”, kata saya bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga membuat catatan khusus, bahwa  medali emas juga diraih oleh Vincentius Gunawan dan Fernanda Novelia yang notabene adalah pelajar pada tingkat SMP.  Ini menunjukkan minat keilmuan yang bahkan telah tumbuh pada tingkat pelajar SMP di tanah air juga telah mendapat mendapat pengakuan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lupa, saya berpesan agar anak-anak jangan cepat berpuas diri dan terus bekerja keras guna mempersiapkan diri dalam menghadapi kompetisi berikutnya yang akan diselenggarakan di Bali pada tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewakili pimpinan rombongan, Ir Srisetiowati Seiful MBA, Director External Affairs the Surya Institute, menyatakan syukur dan sukacita karena berkat dukungan dan doa masyarakat Indonesia di Warsawa dan di tanah air para anak-didik dapat tampil luar biasa, sehingga menjadi juara dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ramah-tamah diisi dengan berbagai makanan Indonesia yang disiapkan sesuai dengan permintaan anak-anak setelah hampir satu minggu berada di Eropa.  Di Pszczyina, isteri saya telah berjanji kepada mereka untuk menyediakan makanan kegemaran mereka di Warsawa, setelah pertandingan sebelum kembali ke tanah air: lontong sate, bakso, soto rawon, dan berbagai jajanan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menari-nari, menyanyikan lagu-lagu perjuangan.  Para ibu-ibu rumahtangga di Warsawa tidak henti-hentinya memeluk dan mencium mereka, bernyanyi bersama-sama sampai tengah malam.  Di Buku Tamu resmi, anak-anak kita itu menuliskan perasaan mereka dengan kata-kata yang tulus, dihiasi pula dengan gambar-gambar lucu-lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya fikir, observasi Pak Andrzej Rosanoff, staf lokal KBRI Warsawa itu benar. Mereka adalah anak-anak bangsa, anak-anak kita sendiri yang menjadi representasi munculnya generasi baru, hibrida baru, yang pintar, percaya diri, dan santun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka diminta pimpinan rombongan mengenalkan diri, mereka semuanya berpidato dalam bahasa Inggeris dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, anak-anak ini rendah hati, dan dengan ceria menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan rasa cinta mendalam kepada bangsa yang sedang mengelu-elukan mereka di tanah; seakan mereka berada dalam karnaval, kembali dengan kemenangan terhormat dari medan pertempuran di kancah internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka baru saja berbicara kepada dunia, bahwa di belahan dunia sana ada sebuah bangsa bernama Indonesia yang patut diperhitungkan! Mereka telah menjadi contoh bagi kita semua.  Tanpa mereka sadari, dalam usia dini mereka telah menjadi berbicara mewakili bangsanya kepada dunia.  Mereka telah membuat sejarah bagi negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Wisma Duta pun menjadi milik anak-anak kita itu. Mereka, dengan mengalungkan di dada masing-masing medali yang diperoleh pada acara yang berlanjut sampai tengah malam itu, menjadi tamu-tamu terhormat saya dan isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbCVjFoWBI/AAAAAAAAAIM/jUtVVV4a6UI/s1600/ICYS1.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbCVjFoWBI/AAAAAAAAAIM/jUtVVV4a6UI/s320/ICYS1.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559344465487353874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diterima Presiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESTA medali emas boleh berakhir, tetapi saya tetap memelihara komunikasi dengan anak-anak jenius itu, sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika kapten tim Indonesia, Guinandra Lutfan Jatikusumo, peraih medali emas dari bidang fisika, bahwa dia dan teman-temannya para juara dunia dari ICYS 2009 itu telah diterima dan berdialog dengan Presiden RI dan Ibu Ani Yudhoyono pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei 2009 yang lalu di Surabaya, saya terharu.  Itu doa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama dengan team the Surya Institute dalam partisipasi Indonesia pada ICYS ke-16 di Polandia ini yang menghantarkan saya bertemu langsung dengan Prof. Yohanes Surya dalam suatu acara makan siang di Hotel Niko Jakarta.  Bu Sri Setyowati sebagai motor juga hadir bersama, sekaligus menyampaikan informasi mengenai rencana Olimpiade Astronomi di Tolikara, Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mengenai the spirit of Tolikara, akan saya muat dalam bagian ke-2 tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-2415077729478381928?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/2415077729478381928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/generasi-hibrida-telah-lahir-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2415077729478381928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2415077729478381928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/generasi-hibrida-telah-lahir-1.html' title='GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (1)'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSbCyMTUjyI/AAAAAAAAAIU/lE7vjBdeYws/s72-c/ICYS2.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-5899679177125842875</id><published>2011-01-05T23:33:00.000-08:00</published><updated>2011-01-05T23:43:04.606-08:00</updated><title type='text'>WROCŁAW 1000 A.D.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVxhoXeZTI/AAAAAAAAAIE/4hndLxAlFkQ/s1600/Wroclaw1.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVxhoXeZTI/AAAAAAAAAIE/4hndLxAlFkQ/s320/Wroclaw1.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558974137644246322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;WROCŁAW (baca: vroswav) merupakan kota terbesar keempat di Polandia, setelah Warsawa, Lodz dan Krakow.  Kota ini memiliki lebih dari 10 universitas ternama, dihuni sekitar 100 ribu mahasiswa sehingga disebut juga kota pelajar.  Wrocław yang pernah berambisi menjadi tuan rumah Expo 2012 ini juga dikenal sebagai kota budaya dan perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering berkunjung ke kota ini.  Maklum, sejak berambisi menjadi tuan rumah Expo 2012 Wrocław aktif berbenah dan berpromosi.  Kota pun menjadi nyaman, teratur.  Banyak konvensi, seminar dan berbagai pertemuan internasionaloberlangsung di sana.  Sayang, Wroclaw kalah dengan kota Yeosu, di Korea Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu diundang, dan teman saya Rafal Dutkiewicz yang menjadi walikota di sini selalu menyambut ramah.  Ada beberapa kali saya diundang menyampaikan presentasi dalam seminar atau menjadi dosen tamu di University of Wrocław. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini juga berdiam Imam Ali Abi Issa, pengemuka Islam dan  pemimpin mesjid di sana.  Imam Ali banyak membantu saya ketika mengurus korban kecelakaan WNI sampai menyelenggarakan fardhu kifayah karena ada 3 WNI yang meninggal. Dia rajin mempromosikan Islam sebagai rahmatan lil-alamin, Islam yang damai, toleran dan sejuk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya juga tampil menjadi pembicara tentang Islam and Democracy dalam seminar internasional yang dihadiri dari berbagai pembicara terkenal dari dunia Islam, yang disponsori Imam bekerjasama dengan University of Wrocław.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini indah sekali, terutama di Kota Tua, atau stara miasto kata orang Polandia.  Menghabiskan waktu berjam-jam di kafe di Kota Tua ini tidak membosankan.  Damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari Kota Tua yang menarik wisatawan, kota ini indah, terdapat lebih 100 jembatan menghubungkan pulau-pulau kecil di berbagai cabang sungai Odra yang membelah kota sehingga disebut juga Venice of Poland, serta berbagai taman-taman kota yang cantik.  Tentu tidak diperlukan gondola di sini, kecuali becak-becak di kota tua bagi pengunjung berwisata, mengitari old market yang antik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini juga menjadi pusat pendidikan musik. Bahkan mereka telah memiliki seperangkat gamelan yang dibeli sendiri.  Sekolah musik ini berambisi untuk mengembangkan music gamelan dengan mendatangkan instruktur/pelatih gamelan dari Indonesia.  Grup Gamelan KBRI Warsawa atau Warsaw Gameran Group dari University of Warsaw sering manggung di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVxOmqnuuI/AAAAAAAAAH8/HZTelNGuXls/s1600/Wroclaw-2a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVxOmqnuuI/AAAAAAAAAH8/HZTelNGuXls/s320/Wroclaw-2a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558973810770164450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOTA ini terbentuk pada tahun 1000, tetapi namanya yang sekarang baru tercatat pada tahun 1175 sebagai Wrezlaw, Prezla atau Breslaw, nama Slav atau Jerman dipakai bergantian.  Orang Ceko menyebutnya Wratislavia or Vratislavia, karena didirikan Duke Vratislaus I of Bohemia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wrocław adalah kota bersejarah yang melampau mesin waktu ribuan tahun, namun memiliki sisi-sisi sebagai kota modern dilengkapi dengan gedung-gedung opera dan teater. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kota bersejarah, masa lalunya juga berdarah-darah dan penuh penghancuran, perbuatan orang-orang gila di masa lalu.  Terakhir, pada saat mundur karena ditekan oleh Red Army (Uni Soviet), dan kota ini menjadi benteng of the last resort, menjadi ‘fotress city’ oleh Hitler.  Ketika merasa akan kalah, pasukan Jerman ini pun tidak rela kota indah ini akhirnya kembali lagi ke Polandia, dan menghancurkan semuanya!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, orang-orang Polandia dengan kesabaran yang tinggi, serta keahlian tentunya, membangun kembali kota ini sebagaimana aslinya, sehingga menjadi kebanggaan di seluruh Eropa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya kota ini dikuasai oleh Bohemia sampai tahun 992 dan kemudian antara 1038-1054, lalu dikuasai oleh the Kingdom of Poland (992-1038 dan 1054-1202), dan beberapa kerajaan kecil pecahannya.  Baru pada abad ke-13 kota ini menjadi ibukota politik dari berbagai kerajaan Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan peristiwa politik, kota ini pun berkembang menjadi pusat perdagangan bagi orang-orang Bohemia, Wallon, Yahudi dan Jerman.  Wrocław pun berkembang menjadi penghubung ke barat (Eropa) maupun ke utara melalui the Amber Road. Itu sebabnya, keganasan Genghis Khan tidak melewatkan Wrocław, karena menjadi lintasan ke Eropa.  Namun, orang-orang Polandia melakukan preemptive action, dan pada tahun 1241 kota ini dihancurleburkan oleh penduduk dengan tujuan agar orang-orang Mongol ini mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, orang-orang Jerman pun mendiami kota ini dan wilayah sekitarnya dan menamainya Breslau. Kota ini pun berkembang sejahtera, karena industrinya yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun masih dipegang oleh Polandia, namun pada tahun 1262 sampai akhir abad ke-13 Wrocław kian berkembang independen dan berorientasi ke Jerman.  Pada tahun 1335, Breslau pun masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Bohemia, yang merupakan bagian dari Holy Roman Empire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1518 Reformasi Protestan  mencapai Breslau, kemudian ditaklukkan kembali oleh Habsburg yang Katolik.  Pada tahun 1618 Breslau mendukung pemberontakan terhadap Kerajaan Bohemia, dan pada Perang 30 Tahun kota ini diduduki oleh orang-orang Saxon dan Swedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Raja Austria mengajak kembali orang-orang Katolik untuk tinggal di sana, maka dalam waktu sekitar 70 tahun kemudian kota multi-etnis ini juga dipenuhi oleh kaum Jesuit, Capucins, Franciscans, dan Ursulines. Dan mulai tahun 1610 Wrocław pun, seperti sekarang, kembali menjadi kota multi-enis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan yang ada di kota ini kurang lebih bertahan pada bentuk aslinya peninggalan abad ke-17, sampai pecahnya PD II pada tahun 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini juga menjadi sarang kaum intelektual dan seniman.  Wrocław menjadi pusat kesusasteraan Baroque Jerman dan para pujangga di Silesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Periode Pencerahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERAJAAN Prusia menganeksasi Breslau dan seluruh wilayah Silesia pada tahun 1740 dan baru dilepaskan pada tahun 1763.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada masa Perang Napoleon, Breslau dikuasai oleh tentara Konferedasi Rhine, yang kemudian meratakan semua sekolah-sekolah agama untuk dijadikan benteng.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekolah Protestant Viadrina University of Frankfurt (Oder) pun dipindahkan ke Breslau pada tahun 1811, digabungkan dengan Jesuit University, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Wrocław University.  Universitas ini memiliki aula yang luar biasa indahnya, Aula Leopoldina, yang seluruh dindingnya dihiasi dengan figur patung-patung dan lukisan dari abad menengah. Di sini saya menyampaikan presentasi tentang Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masa Perang Dunia I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBARUAN Prussia meningkatkan kesejahteraan di Silesia, wilayah baru di sekitarnya pun diperluas, sehingga Breslau menjadi jalur penting kereta api, pusat industri tekstil. Manufaktur dan besi.  University of Wrocław mendukung industrialisasi di sana dan pada sat bersamaan menjadi pusat iptek dan menguatnya sekularisasi yang melahirkan berbagai museum terkenal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Unifikasi Jerman pada tahun 1871 mengakibatkan Breslau menjadi kota ke-6 terbesar di Kerajaan Jerman, dengan jumlah penduduk lebih dari 500 ribu pada tahun  1860 – 1910, mayoritas orang-orang Jerman, dan sejumlah ribuan minoritas Yahudi, Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan-bangunan bersejarah yang masih ada di kota ini adalah Kaiserbrücke (Kaiser bridge) yang diresmikan pada tahun 1910, dan Wrocław University of Technology, Centennial Hall (1913).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1919, Breslau menjadi ibukota provinsi baru Lower Silesia.  Pada saat pemberontakan orang-orang Polandia pada bulan Augustus 1920 Kantor Konsulat dan sekolah milik Polandia dihancurkan, dan semakin terusir.   Huruhara tahun 1923 Antisemitic juga terjadi dalam tahun 1923.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perluasan kota pada tahun 1925 - 1930 menambah wilayah 175km² dan penduduk menjadi 600.000.  Pada bulan Juni 1930 Breslau menjadi tuan-rumah pekan olahraga se-Jerman, karena negara ini terusir dari Olympic Games setelah kalah dalam PD I.  Breslau juga menjadi kantong Partai Nazi, karena dalam pemilu 1932 partai lunatik ini menang 43,5 % ke-3 terbesar di seluruh Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Hitler berkuasa pada tahun 1933, musuh-musuh politiknya diberangus dan kantor-kantornya dihancurkan. Dan puluhan ribu orang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi.  Lalu, the Nazi Sports Body dilangsungkan di Breslau 26 - 31 Juli 1938, untuk memperingati 125 tahun pembebasan Jerman dari tangan Napoleon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa Perang Dunia II, di pinggir kota Wroclaw yang relatif aman menjadi penampungan pengungsi, yang mengakibatkan kota ini pernah mencapai jumlah penduduk hampir 1 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan February 1945 Tentara Merah Soviet dan penguasa kota terpaksa memperbolehkan penduduk mengungsi.  Evakuasi di musim dingin -20 derajat ini mengakibatkan sekitar 18 ribu tewas.  Pertempuran terjadi, separuh kota luluh lantak rata dengan  tanah, dan 40 ribu mati.  Setelah pengepungan 3 bulan, akhirnya  "Fortress Breslau" menyerah tanggal 7 May 1945.  Semua bangunan hancur berantakan, hampir rata dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Konperensi Postdam, hampir seluruh bagian Propinsi Lower Silesia diserahkan kepada Polandia, dan orang-orang Jerman pun melarikan diri atau diusir dari kota ini.  Selanjutnya, 75 % orang-orang Polandia yang dideportasi dari wilayah Timur yang diserahkan kepada Uni Soviet, kemudian menetap di Wroclaw dan Lower Silesia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Wrocław menjadi kota unik Eropa dengan warisan budaya beragam.  Arsitektur kota diwarnai oleh tradisi Bohemian, Austrian, dan Prussian dan banyak menjadi situs karya arsitek modern Jerman, Centennial Hall.  Pada bulan Juli 1997, kota ini mengalami banjir dari Sungai Oder, meruah sampai ke Ceko, seperti di tahun 1903.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVw-UZaF-I/AAAAAAAAAH0/9br6ZyvZ7jM/s1600/Wroclaw-4a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVw-UZaF-I/AAAAAAAAAH0/9br6ZyvZ7jM/s320/Wroclaw-4a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558973530988222434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tempat-Tempat Menarik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBAGAI tempat indah untuk dikunjungi di kota ini adalah Old Town, yang memiliki medieval market square terbesar kedua di Eropa setelah di Krakow, sanctuary di  Ostrow Tumski, Plac Grunwaldzki di seberang sungai Odra, Centennial Hall (di bawah perlindungan UNESCO), taman hewan, Olympic Stadium yang dibangun Hitler pada tahun 1936.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, saya akan kembali lagi melihat kota indah ini.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Insya Allah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;credit photo 2 dan 3 dari Wikipedia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warsawa, 26 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-5899679177125842875?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/5899679177125842875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/wrocaw-1000-ad.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5899679177125842875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/5899679177125842875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/wrocaw-1000-ad.html' title='WROCŁAW 1000 A.D.'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TSVxhoXeZTI/AAAAAAAAAIE/4hndLxAlFkQ/s72-c/Wroclaw1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-8391045856671755679</id><published>2011-01-02T23:03:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T07:09:56.469-08:00</updated><title type='text'>A SHOW CASE AT THE BALTIC CULTURAL CENTER IN GDANSK</title><content type='html'>DR LAWRENCE OKEY UGWU, or Larry, seldom went to Warsaw, he would prefer to spend his times in Gdansk.  He is currently Director of the Baltic Cultural Center in Gdansk.  Yet, he is Nigerian by citizenship and holds doctorate degree in culture from a university in Poland.  He is, of course, fluent in the Polish language. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Lawrence Okey Ugwu is modest in terms of appearance.  He wears ‘kopiah’ in a Palembang style.  I always forgot to  ask him where he’d got that kopiah.  When he came to see me at the Indonesian Residence (Wisma Duta), he presented me an invitation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He befriended with Mr. Paweł Adamowicz, the Mayor of Gdansk, who is so inspirational.  Paweł told me he wanted to rebuild the city’s international reputation and tourism by staging cultural festivals from different countries, including from Indonesia.  And he appointed Larry as the director, a step should be envied by our mayor/governor the city of Jakarta, Bang Fauzi Bowo.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paweł Adamowicz further said, by having international recognition Gdansk would receive investment.  And it was proven!  I had witnessed the fruits, I had been visiting this city where President Lech Walesa, the legendary Solidarnosc chairman opens his office, quite often.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have another friend who lives in the city,  a jazz pianist Mr Leszek Mozdzer who had staged his performance in Jakarta, brother of Ms. Jadwiga Mozdzer, the director of Sendratari Damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, the invitation extended by Larry would not be spared.  I remember, the first time I met with him was during a cultural performance held by Ms. Jadwiga Mozdzer. That was in 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larry came to me with single purpose, after learning I was leaving Poland, by end of my term as Ambassador of the Republic of Indonesia to the Republic of Poland.  Being a good friend of Indonesia, he said he would give me a chance to show my case, asking me to speak before a seminar on Islam and Democracy, on February 15, 2010, together with a prominent Polish professor of Islamic and Arabic studies and Chairman of the Khaldun Institute Professor Boguslaw R. Zagorski.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Zagorski is a good friend of mine.  We held lunches, dinners, breakfasts.  When I invited him, he would come with the whole contingent of the family: his charming wife and beautiful daughter and handsome son!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talking about the seminar, we divided the labor.  Since I represented Indonesia as the most successful of blending Islam and Democracy, I was given the task to deliver a lecture.  Professor Zagorski, a Polish expert on Islam and at one time chairman of the Polish Islamic Community was given the task in explaining my lecture in the context of the Islamic World and Polish interpretations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his capacity as Director of the Baltic Cultural Center, Dr. Lawrence Okey Ugwu presided over the meeting.  Larry explained to me that only Ambassadors of states who witness dynamic reforms reaching out beyond the phenomena of local stature were invited. The meeting was attended by more than 80 persons, who took a lively and active interest.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, I felt privileged when I was the first Ambassador to inaugurate this series of meetings devoted to “Ambassadors and Pulse of the World,” which dealt mainly with the most essential problems and transformations going on in the contemporary world, such as: the changing role of religion or the situation of women in the society. Later, Larry said, he would invite ambassadors of Pakistan, Malaysia, and Saudi Arabia to do the same.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This first meeting was entitled Islam and Democracy and was the platform for discussions on the subject of Islam and its role in the democratic society of Indonesia. In the awareness of Poles, Islam is automatically related to conservatism and fundamentalism and whether peaceful coexistence is possible between Islam and the modern consumer world, especially in Europe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The meeting was opened by the Cultural Center Director Dr. Lawrence Okey Ugwu and the Deputy Director of the Gdansk President’s Office Mr. Maciej Buczkowski, with a brief introduction by Professor Boguslaw Zagorwski.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lecture&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next I delivered the main lecture, presenting in detail the compatibility of Islam with modernity, as well as the Indonesian case that Islam, democracy and modernity can go hand-in-hand. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a nutshell, I explained that in spite of the fact that Indonesia was almost 90% a Moslem country, the other religions flourished: Protestant (5.87%), Catholic (3.05%), Hindu (1.81%) and others coexisted peacefully in this largest Moslem country in the world with a populations reaching almost 150 million. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I also dwelled on the subject of Indonesia overcoming the financial crisis of 1977 and starting from 1998 entering “the club of democracy” as the 3rd largest democracy in the world after India and the United States. Islam came to Indonesia after the Buddhist and Hindu religions from Arabia in the 16th and 17th centuries. Yet this Islam came peacefully--not by conquest--and after being assimilated it became quite different from the Islam in the Middle Eastern practice of literal interpretation, which clashes with the local Indonesian tradition of combining prayer, mysticism and aestheticism. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam became the prevailing religion in Indonesia, forming two of the largest Islamic organizations: Nahdatul Ulama (NU) with 40 million members and Muhamadiyah with more than 30 million. The former is more traditionalist, while the latter is modernist. However, both are committed to working within the established political system through the participation in the democratic process, as well as freedom of belief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The rule of law, good governance, civil society roles in fostering transparency, anti-corruption drive and human rights, as well as a stable annual economic growth of 5-6% GDP have brought Indonesia into the membership of the elite the G-20 club. This rule of law has also resulted in the strong and effective fight against terrorism and terrorist acts committed in Bali and Jakarta in the past few years by apprehending the culprits and ensuring peace for the nation.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In conclusion, I stressed that contemporary Indonesia is a secular country based on the Constitution of 1945 which provides “all persons the right to worship according to their own religion or belief” and states that “the nation is based upon belief in one Supreme God.” Official status is granted equally to Islam, Catholicism, Protestantism, Buddhism, Hinduism, and other religions. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Discussion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What was most interesting and even fascinating was the fact that the discussion developed into a real forum. The audience raised their hands several simultaneously to ask questions. They mostly came well prepared as to what to ask. Here are some of the most interesting queries:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How could it be that Indonesia with almost 90% of its population being Moslems is not a country ruled by the shariah law? My answer was simple: the people voted for secular parties, rejecting any sort of radicalism or fundamentalism. This could be seen in the 2009 general parliamentary and presidential elections, in which 3 secular and nationalist parties took part. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another question concerned the shariah bank: another simple answer: it is more profitable and providing better interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How could Indonesia achieve such great economic progress in this time of crisis? I explained that his country was rich in natural and human resources which it invested skillfully and wisely, developing the middle class. Now the country has profited from that. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There was also a question about women in an Islamic country: the answer was that women have equal rights in Indonesia. A woman was even the President of the country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A question concerned the young people in Indonesia or whether they would not be indoctrinated by the fundamentalist and radical teachings. I said the law enforcement organs were now very well prepared to combat any sings of dissent. Mainstream Moslems have been a force for pragmatic nationalism and defense of pluralist democracy, which also preach religious tolerance, equal rights for women, and democracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And the questions continued for almost 2 hours. One of the concluding statements came from a Polish woman that despite the differences, one fact in Islam was good: “They did not drink.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the discussion Professor Zagorski made his exhaustive comments, chiefly regarding the Moslems in Poland, their life and peaceful customs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To end the meeting, Professor Boguslaw Zagorski and I gave interviews to the Pomorska Television Station.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 February 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-8391045856671755679?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/8391045856671755679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/show-case-at-baltic-cultural-center-in.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8391045856671755679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8391045856671755679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2011/01/show-case-at-baltic-cultural-center-in.html' title='A SHOW CASE AT THE BALTIC CULTURAL CENTER IN GDANSK'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-6043426759323285111</id><published>2010-12-29T20:58:00.001-08:00</published><updated>2010-12-29T21:31:21.662-08:00</updated><title type='text'>SASKA KĘPA DAY</title><content type='html'>SASKA KĘPA (Polish pronunciation: [ˈsaska ˈkɛmpa].  There are reasons for me and my wife to be there, enjoying an annual street fair in Saska Kepa.  It was in 2009.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We have been living here for around two years and half in this old beautiful residential area in Warsaw.  Saska Kepa, like old residential area in Menteng Jakarta, is where the elites and artists preferred to spend their lives there. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have been invited by the local authorities  to attend this celebration every year.  But this time was very special.  My friend, Ambassador of Colombia told me that a world champion of Salsa from his country would stage its performances in that day.  The group was in Poland in a cultural tour. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Colombia is not only known for its coffee: we were also together in Gdynia for a coffee festival.  Our Embassy was also one of participants of the coffee culture.  Colombia is the capital of Salsa, claimed the ambassador.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was rainy all the day.  I wanted to practice my photography I had learned from the internet.  So, I packed my equipment in my backpack, wearing running shoes and a good blue jacket with the hood to protect me from frozen.  The temperature was around 5 degrees, and it was windy! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saska Kepa Day is a festival and fair held in the district of Saska Kepa--a unique place located in the south-eastern part of Poland’s capital city, Warsaw.  Held for the fourth time, this festival included street parades, pop and jazz concerts, as well as other musical performances and recitals of poetry and ethno jazz. But the hit of the festival was the special guests, the Swing Latino Tigo Dance Group from Colombia, five-times winners of the World Salsa Championship, who gave a gala concert.  It was written in the special newspaper published for that particular day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People enjoyed themselves dancing tango and salsa at this year’s Saska Kepa Holiday. Of particular interest was the appearance on stage of Colombian dancers—the Swing Latino Tigo Group, who won five times the World Salsa Championships, organized by the ESPN TV station. This was the largest competition in Salsa in the world. Forty countries took part. More than 200 million people watched the transmission of the second edition of the World Salsa Championship, which was held in Las Vegas in 2006 and which was won by our guests. In May last year, Swing Latino Tigo became the champion in the third edition of the festival, which was held in Orlando, Florida. Despite the cloudy weather with sporadic downpours, the Saska Kepa Day with time gained greater tempo with more and more of guests. The next one will be in 2010.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Heart of Warsaw&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The charming district managed to come through World War II pretty much unscathed, with its old houses and cafes remaining intact as they were before. A stroll through the Skaryszewski park is a certainly a pleasure, and you can round it off with a trip to some café or restaurant, renowned for their excellent classic Polish cuisine. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The area is the home of one of the most attractive residential districts in Warsaw, i.e., Saska Kepa is an exclusive villa district, characterized by its 1920s and 1930s-like construction style, recreating Polish architectural trends of those years, from historic-style cottage-like and classical buildings to extreme functionalism. Many embassies have found their seats here, including the Embassy of the Republic of Indonesia and the residence of Indonesian Ambassadors. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to its unequaled atmosphere, Saska Kępa is recognized as one of the most magnificent parts of Warsaw. In addition, it plays the role of “diplomatic” space – the numerous embassies and consulates located here add a cosmopolitan dimension, expressed not only in street names but, most of all, in restaurants, pizza parlors and cafes serving classical Polish, Italian, French, Hungarian, Turkish or Chinese cuisines. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saska Kępa also celebrates a special holiday–once a year. In the spring, its streets are transformed into colorful promenades with concerts, theatre spectacles, film screenings and crowds of guests strolling between cafes, wine bars, conjurers and antique vendors—this is the SASKA KĘPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the German occupation (1939 – 1945), Saska Kepa because of its social status was an area of intensive educational activity. Prohibited secret teaching went on in private houses and even clandestine students, especially from Warsaw University, listened to lectures. Illegal anti-Nazi leaflets were printed here. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In October 1944, the Soviet Red Army entered Saska Kepa, with Polish units who attempted to cross the Vistula to aid their brethren across the river, fighting heroically against the Germans in the 1944 Warsaw Uprising. But facing the overpowering German military might, they were forced to return to the right side of the Vistula. The Uprising took the lives of more than 300,000 Varsovians. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Soviet Red Army, which was on the left side of the river, said at that time it needed some rest, and no help was extended to the handful of courageous fighters in their desperate fight to free Warsaw from Nazi oppressors. Between 1939 and 1944 over 84% of Warsaw, mainly on the right side of the Vistula, was completely destroyed, with the city center bearing the brunt of the damage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Germans methodically demolished building after building after having crushed the Uprising. In spite of the Herculean rebuilding work that has since taken place, the odd bullet scarred walls of pre-war tenement houses can still be found.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Until recently, the Jarmark Europa (Europe Market) an immense open-air market located in the former 10th Anniversary Stadium was a major tourist attraction. One of Europe’s largest bazaars, Jarmark Europa attracted visitors with its low prices and distinctive folklore. Now the market has been partially shut down and within the next few years, its former 10th Anniversary Stadium will be reconstructed into a major complex--the National Sports Center whose opening is planned on the eve of the UEFA Euro 2012 Football Championships.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Brief history of Saska Kepa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the 17th century one of areas of present Praga Południe (an administrative district of Warsaw) was turned into a military camp. In the 18th century part of the area was named Saska Kępa (literally Saxon Rise or Islet) after the Saxon Guards of the Kings of Poland stationed there. However, until the early 20th century the area retained its rural character. The area officially became a part of Warsaw in 1916. It soon became one of fastest-growing areas of Warsaw, and Saska Kępa became its center. In 1920's and 1930's it became one of the most popular villa areas of the Warsaw's middle class.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During and after World War II the borough was not destroyed. Despite several plans, it was not industrialized either, which allowed the district to retain much of its original, quiet and peaceful character. It has historically housed many embassies and consulates of foreign nations, nestled among streets named: "French", "Parisian", "English", "Mexican", "Dutch", "Angolan", "Brazilian", "Estonian"—seat of the Indonesian Embassy, "Finish", "International", and others named after the continents, nations, and prominent cities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Currently French Street (Francuska) is the main commercial street, lined with shops and restaurants. The "front door" to the Sasla Kepa district is George Washington Circle (Rondo Waszyngtona), which links the district to Warszawa-Śródmieście (Warsaw Center) via road, tram, and bus. On the other side of the Circle is the site of where the 10th Anniversary Stadium once stood. The site is currently undergoing redevelopment to become the Polish National Stadium for the 2012 European Football Championships.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are now several new areas with luxurious blocks of flats complexes in the area, but the authorities do not plan to construct more houses and want the character to be preserved. Many of the older homes have been repainted and remodeled in the late '90's and early '00's to resemble the pre-WWII character of the district.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Spirit of Saska Kepa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Its spirit and soul have never succumbed to the communist regime, remaining the Saska Kepa of the old times. It is mostly populated by people who are proud to live here and would not change it for anything. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saska Kepa area is the most prestigious district in Warsaw, with some of the most expensive housing estates and houses. It is considered an area of artists, scholars, and painters, as well as of poets. Few districts in Warsaw can boast of such great artists as Saska Kepa. Some of the most famous artists are my neighbors, like Tadeusz Baird – composer, Miron Białoszewski - poet, novelist, playwright and actor, Katarzyna Figura – actress, Józef Gosławski - sculptor and medallic artist, Witold Lutosławski – composer, Agnieszka Osiecka - poet and perhaps Poland’s most prominent Songwriter, Jan Parandowski - writer, essayist, and translator, Stanisław Sojka - jazz and pop singer/songwriter, and many other outstanding Polish generals and intellectuals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Na Kepie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Saska Kepa local self-government publishes a quarterly illustrated magazine, Na Kepie. The latest issue devoted its front page to the Colombian Swing Latino Tigo Gala Concert at the festival as well as to other local matters such as: the great people of Saska Kepa; the Center of Saska Kepa (if there is one); and other topics and entertainment. The last page of Na Kepie is devoted as its title satirically says to political science. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet besides political puzzles and riddles and rebuses, it also contains some interesting principles for the office, namely aphorisms:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principles of Bureaucracy, number one: Don’t think! But if you did, then…, Number two: Don’t speak! But if you had spoken, then… Number three Don’t write! But if you had written, then… Number four, Don’t sign it! But if you had signed it… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then don’t be surprised!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another good one is: “A matter once postponed, continues to postpone itself.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warsaw, 26 May 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-6043426759323285111?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/6043426759323285111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/saska-kepa-day.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/6043426759323285111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/6043426759323285111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/saska-kepa-day.html' title='SASKA KĘPA DAY'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-2703362205757055959</id><published>2010-12-29T20:14:00.000-08:00</published><updated>2010-12-29T20:23:38.439-08:00</updated><title type='text'>HUKUM, ETIKA DAN DIPLOMASI</title><content type='html'>ADAGIUM menyatakan, jika 2 lawyers  berdebat muncul 3 pendapat.  Di pihak lain, seribu pendapat bisa disatukan oleh diplomat.  Tidak heran, ada anggapan para sarjana hukum lebih banyak membuat onar daripada membantu ketertiban.  Jika kacau, maka diplomat harus turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Buyung yang termashur sejak zaman Malari itu mengatakan sekarang institusi-institusi hukum dikuasai oleh para “Markus”, alias makelar kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini tuduhan menguat, katanya para pengacara lebih banyak menjadi ‘penghubung’ antara yang berperkara dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;law enforcement establishments&lt;/span&gt;.  Simak saja berbagai kasus hukum yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mumet&lt;/span&gt; dalam beberapa tahun terakhir ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tidak mau masuk ke ranah ini, karena bidang hukum yang saya masuki bukanlah litigasi (penuntutan di pengadilan) ataupun non-litigasi (penasehat, konsultan).  Tetapi, hukum dalam konteks pelaksanaan diplomasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawyers mengatakan: our business is disputes atau conflicts; diplomat mengatakan: our business is peace!  Lalu, bagaimana kalau diplomat itu seorang lawyer? Dari kacau menjadi damai dan kembali menjadi kacau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomat-diplomat ulung dari seluruh dunia memang kebanyakan berpendidikan sarjana hukum.  Tidak berarti bahwa seorang sarjana hukum dijamin menjadi diplomat ulung.  Adam Malik yang hanya tamat Sekolah Rakyat (SR) pun tercatat seorang diplomat ulung.  Beliau pernah menjadi Presiden Majelis Umum PBB!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi sekarang menuntut spesialis-spesialis, meskipun diplomasi itu pada dasarnya generalis.  Mengapa?  Karena penguasaan bidang-bidang teknis sangat menentukan dalam bernegosiasi untuk memperjuangkan kepentingan nasional dalam era globalisasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, semua kaidah, norma, konvensi, traktat, perjanjian merupakan rumusan-rumusan hukum.  Wajar, jika sarjana hukum dengan mudah dapat memahaminya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sistem hukum dan peradilan yang fair dan kredibel juga merupakan prakondisi masuknya investasi.  Karena itu, pembangunan hukum nasional perlu memasukkan tata-aturan hukum modern, terutama di bidang hukum ekonomi ke dalam sistem hukum nasional.  Kepastian hukum memang menjadi kunci kepercayaan luar negeri kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa kaitan etika dengan diplomasi?  Titik temunya adalah di unsur manusia.  Diplomat dengan tingkat profesionalisme yang tinggi tanpa didukung integritas moral dan pribadi yang kuat akan direndahkan dalam pergaulan diplomatik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun memiliki kekebalan hukum (imunitas), diplomat diminta untuk menghormati hukum di Negara mana dia ditugaskan.  Ini juga bagian dari etika diplomat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seorang sahabat muda, seorang mahasiswa teman anak saya di UI, ingin tahu mahluk seperti apa jika seorang lawyer bekerja di institusi diplomasi dan tentang etika diplomatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan percakapan kami:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sudah berapa lama Bapak berprofesi sebagai Diplomat? &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 tahun, sebagian besar berkecimpung dalam bidang hukum tentu dalam kaitan diplomasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang membuat Bapak tertarik memilih profesi hukum sebagai Diplomat?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi erat kaitannya dengan hukum internasional, yang memuat legal basis bagi tindakan/policy suatu negara, baik dalam konteks multilateral maupun bilateral.  Bentuk-bentuk/format legal basis itu dapat dilihat dari berbagai conventions, treaties, agreements.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan perwakilan diplomatik/konsuler juga diatur dalam Vienna Conventions on diplomatic and consular relations, yang menjadi acuan dan aturan main para diplomat yang bekerja di embassies, consulates, maupun organisasi internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa saja tantangan dan hambatan terbesar dalam selama ini menjalani profesi hukum sebagai Diplomat? &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan terbesar adalah seluruh bentuk perjanjian internasional itu tidak dapat hanya dibaca semata-mata dari aspek legal.  Karena, wordings  maupun formatnya legal, tetapi substansinya politis.  Semua kebijakan luar negeri mengenai aspek politis, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan, internasional issues, adalah suatu kesatuan dalam politik luar negeri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para lawyers yang bekerja pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;diplomatic establishment&lt;/span&gt; perlu mengerti substansi politis di dalam perjanjian-perjanjian internasional itu.  Baik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Vienna Conventions&lt;/span&gt; maupun aturan main (rules of procedures) di dalam diplomasi juga dibuat dalam bentuk hukum internasional, kurang lebih seperti hukum acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya adalah terkait dengan Etika Profesi, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah terdapat Kode Perilaku untuk Profesi Diplomat? Jika ada, otoritas apakah yang berwenang membuat dan menegakkan peraturan tentang kode perilaku tersebut? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pengetahuan saya, Kemlu sedang menyusun Kode Etik Diplomatik dan belum selesai.  Meskipun belum ada Kode Etik (tertulis) namun para diplomat terikat dengan kode etik profesi diplomatik yang menjadi acuan bagi seluruh foreign service di dunia.  Karena sifatnya mengatur etik, maka sanksinya paling tidak adalah sanksi moral.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bilamana Kode Etik Diplomatik Indonesia sudah jadi maka sanksi moral tersebut dapat diperkuat dengan sanksi administratif seperti dipecat dari organisasi profesi, dan lebih menguatkan sanksi-sanksi administratif yang dilakukan sekarang oleh pimpinan Kemlu, baik pencabutan status sebagai diplomat, dan bahkan dipecat dari status pegawai negeri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya Kode Etik Diplomat maka terjembatani lah norma-norma etika profesi dengan kegiatan diplomasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah yang menjadi patokan atau standard bagi diterimanya seseorang sebagai profesional dalam menggeluti profesi Diplomat? Apakah ada suatu mekanisme magang atau sejenisnya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme yang berlaku adalah ujian test masuk yang dilakukan terbuka, obyektif, dan fair, yakni sekaligus untuk test menjadi diplomat dan diterima menjadi pegawai negeri.  Rekrumen bertujuan mencari SDM yang memiliki bakat, kemampuan, dan kecintaan pada profesi diplomat.  Setiap tahun Deplu menerima lamaran sekitar 15 ribu pelamar (S1, S2, S3) dan yang hanya diterima kl. 100-150 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah seorang Diplomat dimungkinkan untuk melaporkan sesama Diplomat lainnya dalam lingkup profesinya dalam hal terjadi pelanggaran kode perilaku? Atau apakah terdapat mekanisme lain terkait pengawasan horisontal terhadap sesama Diplomat untuk memastikan bahwa kode perilaku telah dilaksanakan dengan baik?  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran etika dapat dilaporkan oleh diplomat lainnya, atau oleh atasan Ybs. Mekanisme pemantauan secara menyeluruh dan pengawasan pribadi orang per orang oleh pimpinan memang tidak memungkinkan.  Namun, jika ada pengaduan atau pelaporan atas tindakan seorang diplomat dinilai tidak pantas, atau menimbulkan kerugian bagi orang lain, biasanya disampaikan dalam pengaduan.  Dan mekanisme pengawasan internal akan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam hal apa saja yang dapat dikategorisasi sebagai pelanggaran terhadap kode perilaku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat disebut, membocorkan rahasia negara, melakukan hal-hal pelanggaran dalam prosedur kerja, tidak menggunakan kata-kata yang proper dalam pelaksanaan tugas, menghina negara lain, tidak membela kehormatan dan harga diri bangsa, tidak menyelesaikan hutang-piutang, pelanggaran susila, kekerasan, mabuk, berjudi, berperilaku tidak pantas selalu menimbulkan kerugian bagi orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sanksi apa yang dapat dijatuhkan dalam terjadi pelanggaran terhadap kode perilaku? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menyangkut pelanggaran etika sopan santun dan kepantasan bertindak paling tidak sanksinya adalah moral.  Hal-hal yang menyangkut kerugian Negara, seperti pembocoran rahasia atau korupsi maka mekanisme andministrasi Negara akan bekerja, seperti pencabutan status sebagai diplomat, dan bahkan dipecat dari status pegawai negeri.  Bila Kode Etik Diplomat sudah diundangkan, maka pelanggaran berat (ketidakpantasan) dapat berdampak pemecatan oleh organisasi profesi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Apakah terdapat asosiasi atau persatuan profesional terkait dengan profesi hukum tersebut? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia belum terbentuk organisasi profesi Diplomat.  Namun sebagai pegawai negeri, maka para diplomat juga anggota Korpri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejauhmana peran asosiasi terhadap penegakan kode perilaku tersebut? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korpri adalah organisasi pegawai di Deplu dan Perwakilan.  Tidak semua anggota Korpri adalah diplomat.   Oleh karena itu, tetap penting adanya organisasi profesi khusus untuk diplomat.  Sejauh ini Korpri belum berperan untuk penegakan etika sesuai kode etik profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir adalah pertanyaan mengenai Tanggung Jawab Profesi terkait dengan pelaksanaan Tugas sebagai seorang Profesional, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana pengaturan secara internal terkait dengan benturan kepentingan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Conflict of interests&lt;/span&gt; juga pelanggaran kaidah (norms). Bagi suami dan isteri yang sama-sama berprofesi diplomat, maka penugasan mereka tidak di tempat yang sama, atau unit yang berbeda.  Jika di luar negeri, maka ditempatkan pada Perwakilan RI yang berdekatan, misalnya jika suami di KBRI Washington, maka isterinya di KJRI New York.  Bila suami di Jenewa (Swiss), maka isterinya di ibukota Swiss di Bern.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di KBRI, kepala perwakilan dilarang mengangkat pegawai lokal dari keluarga langsung, atau melakukan kegiatan usaha yang bersifat komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam hal seorang Diplomat mendapati adanya benturan kepentingan, sikap apa yang seharusnya diambil oleh seorang profesional dalam menghadapi benturan kepentingan tersebut?  Sejauhmana pengaturannya dalam kode perilaku?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang professional, maka diplomat itu harus membedakan dengan tegas kepentingan Negara (misalnya dalam diplomasi dagang) dengan kepentingan perusahaannya pribadi.  Karena belum diatur dalam kompilasi Kode Etik, maka berlaku acuan umum saja, yang dengan mudah bisa dikualifikasi pantas tidaknya perbuatan itu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana peran lembaga pengawasan internal atau eksternal terhadap hal yang terkait dengan benturan kepentingan ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mekanisme teguran lisan, tertulis, pemanggilan, dan penindakan, sesuai dengan tata aturan sebagai pegawai negeri, berdasarkan UU Kepegawaian.  Jika pelanggaran serius maka akan ditindaklanjuti oleh Irjen dan bahkan institusi eksternal seperti KPK atau Kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana pengaturan pola hubungan antara Diplomat dengan Pihak III, dalam kaitannya pelaksanaan tugas seorang Diplomat? &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergantung pada bentuk perikatan, misalnya diplomat menyewa rumah kepada seseorang warganegara biasa, maka berlaku ketentuan umum.  Hal-hal yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain harus ditanggungjawabi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana tanggung jawab Hukum seorang Diplomat dalam pelaksanaan tugas Diplomasinya?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berlaku sekarang adalah UU tentang Kepegawaian terutama disiplin.  Jika terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi, bahkan terberat adalah pemecatan sebagai pegawai negeri. Jika kesalahan tidak berat, biasanya diplomat dihukum dengan penurunan pangkat diplomatik, atau tidak mendapat promosi kenaikan untuk sekian tahun, tidak ditempatkan untuk sementara, dalam beberapa tahun di luar negeri, dsb.  Seorang diplomat, sama seperti pegawai negeri lain, tetap akuntabel terhadap semua perbuatan dalam pelaksanaan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-2703362205757055959?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/2703362205757055959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/hukum-etika-dan-diplomasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2703362205757055959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2703362205757055959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/hukum-etika-dan-diplomasi.html' title='HUKUM, ETIKA DAN DIPLOMASI'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-3296587654501730437</id><published>2010-12-28T18:23:00.000-08:00</published><updated>2010-12-28T18:52:01.792-08:00</updated><title type='text'>LECH WALESA: SAYA AKAN DATANG LAGI KE NEGERI INDAH INI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TRqb9uSvzCI/AAAAAAAAAHs/RI_VU9wEwzY/s1600/WALESA.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TRqb9uSvzCI/AAAAAAAAAHs/RI_VU9wEwzY/s320/WALESA.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555924575015914530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“WITAM Panaie Prezesie!”, ujar saya sambil mengulurkan tangan kepada Presiden Lech Walesa yang legendaris itu di Ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta malam itu, 21 April 2010.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pertemuan pertama kami di Indonesia.  Sayangnya malam itu dia akan kembali ke Polandia setelah menyelesaikan kunjungan terlama yang pernah dilakukannya di suatu Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang VIP itu, ada Dubes Polandia untuk Indonesia, Pak Tomasz Lukaszuk yang fasih berbahasa Indonesia dan sangat popular di Jakarta, dan isterinya, Maria.  Lech Walesa didampingi penerjemahnya dan Rudy Pesik, pemilik DHL,  yang juga menjadi ketua Yayasan Indonesia Kebanggaanku, sponsor utama kunjungan tokoh Solidarnosc itu di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Bapak Pohan, berkat undangan Anda maka Presiden Lech Walesa telah merealisasikan kunjungannya ke Indonesia”, ujar Dubes Tomasz Lukaszuk kepada saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pernah diberitakan di media-media tanah air, pada bulan Nopember 2008 saya menyampaikan undangan kepada tokoh Solidarnosc itu, dalam pertemuan kami di Gdansk di musim gugur.  Ketika itu, saya datang dengan isteri, Ade Pohan, di kantor LW Institute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Presiden Lech Walesa telah menyelesaikan kunjungan selama 13 hari, mulai 8 Mei 2010  yang tercatat terlama di satu Negara.  Saya secara khusus meminta waktu untuk bertemu dengan Ikon Demokrasi dunia itu sebelum meninggalkan Indonesia kembali ke Gdansk, Polandia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang dengan 2 anak saya, Aleksandra dan Edwin.  Saya anggap pertemuan kedua anak saya dengan mantan pemimpin Serikat Buruh Bebas “Solidarnosc” penting bagi pengalaman anak-anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan untuk bertemu dengan tokoh sekaliber Lech Walesa bukanlah mudah.  Bahkan, banyak teman-teman dekat saya di Polandia yang belum pernah bertemu dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Indonesia Lech Walesa mengadakan pertemuan pribadi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua DPR Marzuki Alie, Sultan Hamengkubuwono X, berbagai tokoh lintas agama, dan menyampaikan kuliah di Istana Negara, serta berbagai universitas di Jakarta, Yogyakarta dan Bali.  Walesa juga menandatangani MoU dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa catatan yang paling berkesan selama di Indonesia?, tanya saya.   Malah beliau bertanya kepada saya, bagaimana kesan tokoh-tokoh di Indonesia atas ceramah beliau di Istana Negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengulangi statement-nya di Istana Negara, ini adalah untuk pertama kali bagi dia menyampaikan kuliah di depan presiden, wakil presiden dan sebagian besar menteri di pemerintahan.  Tentu saja, Ikon Demokrasi itu selalu tampil mengesankan dan dengan senang melayani permintaan foto bersama.  Dia juga menjadi selebriti di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertemuan Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA kali kami bertemu dalam suatu Gala Dinner yang dihadiri politisi puncak dan selebriti Polandia, ketika tokoh penggerak revolusi Eropa Timur yang menghabisi komunisme itu berulangtahun.  Itu di tahun 2008.  Saya hadir bersama isteri, Ade Pohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya seorang dubes dari Amerika Latin sempat mengabadikan pertemuan pertama kami itu dengan kamera handphone. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jaroslaw Walesa, putera Lech Walesa yang kini menjadi anggota Parlemen turut mendampingi ayahnya.  Kami sempat bertukar kartu-nama.  Lalu, melalui penerjemah saya mengatakan ingin mengunjungi Bapak Walesa di Gdansk.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Oh, Anda dari Indonesia ya.  Silahkan diatur waktunya, nanti kita berbincang-bincang di kota kebanggaan saya itu”, ujarnya ramah.  Dia juga menawarkan sepotong kue kepada saya dan isteri, setelah kue ulang tahun yang besar itu dipotongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Undangan ke Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI saya adalah suatu keanehan jika tokoh dunia penggerak demokrasi itu belum berkunjung ke Indonesia.  Maklum, Indonesia kini dikenal sebagai Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dan menjadi contoh bagaimana toleransi antar keyakinan berjalan baik.  Lalu, saya meminta beliau untuk mempertimbangkan kunjungan ke Indonesia.  Undangan itu disambut baik oleh beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin berdialog dengan para tokoh-tokoh di Indonesia dan memperoleh perspektif dan pengalaman mereka dalam menyikapi berbagai tantangan globalisasi," kata Walesa. &lt;br /&gt;Penerima Nobel Perdamaian 1983 yang menjadi ikon demokrasi dan berjasa dalam mengubah wajah dunia di awal 1990-an memang belum pernah berkunjung ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera menghubungi teman-teman di Indonesia untuk mempersiapkan kunjungan itu.  Saya yakin kunjungan tersebut sangat bermanfaat bagi beliau sebagai tokoh dunia penganjur demokrasi dan toleransi.  Dan tentu bagi rakyat Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menyelesaikan tugasnya sebagai presiden pada tahun 1995, melalui yayasannya Lech Walesa lebih banyak memfokuskan dirinya pada kegiatan-kegiatan internasional dan menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional dalam memajukan demokrasi dan dialog antar-agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walesa juga terpilih menjadi anggota "Reflection Group", yang kini disebut sebagai Group of Wise Men, yang digagas oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy pada akhir 2007 untuk mempersiapkan Eropa dalam menghadapi tantangan globalisasi. Berbagai pemikir dan negarawan seperti mantan PM Spanyol Felipe Gonzalez menjadi anggota kelompok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lech Walesa pada Oktober 2008 yang lalu baru saja meluncurkan otobiografi mengenai peranannya di masa lalu "Jalan Menuju Kebenaran" (The Road to Truth).  Saya masih menyimpan copy buku yang telah ditandatanganinya sendiri pada saat kunjungan saya ke Gdansk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam Group of Wise Men, cuma saya seorang diri yang percaya bahwa agama memiliki sistem nilai yang valid dan tepat untuk pemecahan berbagai masalah global. Kegagalan manusia untuk menempatkan berbagai masalah global dalam perspektif agama di tengah maraknya globalisasi pada gilirannya akan menjadi ancaman keamanan dan perdamaian dunia", ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lech Walesa, demokratisasi yang kian marak belumlah memberikan jawaban bagi tantangan globalisasi. Tatanan dunia sekarang masih jauh dari sempurna, karena kini manusia menghadapi fenomena yang sangat kompleks, tali-temali satu dengan lainnya, seperti resesi ekonomi dunia, terorisme, perubahan iklim dan konflik di berbagai wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah ini menurut tokoh yang berjasa dalam mengakhiri Perang Dingin dan memajukan demokratisasi itu merupakan ancaman utama yang dihadapi umat manusia dewasa ini. Dia juga melihat pentingnya reformasi PBB agar mencerminkan realitas dan tanggungjawab internasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arti Agama&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LECH WALESA percaya nilai-nilai agama menjadi terpenting di samping demokrasi, dan dunia tidak dapat berlangsung tanpa nilai-nilai agama. Walesa sendiri merupakan penganut Katolik yang taat, memiliki 8 anak, salah satunya Jaroslaw Walesa yang kini telah menjadi sahabat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat Indonesia sebagai negara dengan penganut Muslim terbesar di dunia merupakan contoh negara yang berhasil memadukan ketaatan terhadap agama dengan kerangka kehidupan politik yang demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin berdialog dengan para tokoh-tokoh di Indonesia dan memperoleh perspektif mereka dalam menyikapi berbagai tantangan globalisasi. Pengalaman Indonesia dalam menghadirkan harmoni pada dua aliran nilai, yakni agama (akhirat) dan demokrasi (politik) tentunya sangat bermanfaat bagi saya dalam memajukan dialog untuk pemecahan masalah-masalah global dalam kerangka pertemuan Wisemen 12 ", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali menyampaikan salam dari rakyat Indonesia yang tidak pernah lupa peranan heroik Lech Walesa dalam mengakhiri rejim totaliter komunis di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, kata saya, telah menjalani proses transformasinya dan menjadi negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia dengan penduduk sejumlah 240 juta yang pada saat bersamaan menjadi negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia.  Indonesia berambisi menjadi contoh di mana demokrasi, Islam dan modernitas dapat berjalan seiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia juga ingin menjadi Negara inkusif yang sangat menjunjung tinggi keberagaman.  Untuk itu,  Indonesia akhir-akhir ini berperan aktif dalam mendorong kemajuan dialog antar-peradaban, antar-keyakinan (interfaith) baik dalam kerangka PBB maupun berbagai konferensi internasional lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan ke Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH mengalami penundaan beberapa kali, akhirnya Presiden Lech Walesa dapat memenuhi janjinya untuk berkunjung ke Indonesia.  Perjalanan itu dirangkai untuk 4 negara, yakni Singapura, Australia, Indonesia dan Timor Leste. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama di Indonesia Lech Walesa mengadakan pertemuan pribadi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua DPR Marzuki Alie, Sultan Hamengkubuwono X, berbagai tokoh lintas agama, dan menyampaikan kuliah di Istana Negara, di universitas-universitas Atmajaya, Paramadina, Gajah Mada dan Udayana.  Kepada para mahasiswa Walesa menyampaikan pentingnya gerakan solidaritas dalam mempersatukan masyarakat demi perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walesa yang kini memimpin Institut Lech Walesa, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar. Institut Lech Walesa telah menjalin kerja sama serupa dengan berbagai organisasi di Eropa dan Amerika Serikat dalam upaya untuk mendorong demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa catatan yang paling berkesan selama di Indonesia?, tanya saya.   Malah beliau bertanya kepada saya, bagaimana kesan tokoh-tokoh di Indonesia atas ceramah beliau di Istana Negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tampaknya sehat sekali, meskipun panitia sempat cemas pada waktu berada di Candi Borobudur karena Walesa tidak saja menderita diabetes tetapi juga memakai alat-pacu jantung.  Ada 2 kali beliau mengalami operasi jantung, sehingga beberapa kali saya gagal mengatur pertemuan beliau dengan para tokoh dan jurnalis Indonesia yang sedang berkunjung ke Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dubes Tomasz Lukaszuk yang sangat fasih berbahasa Indonesia menjelaskan kepada wartawan dalam konperensi pers (21/5) bahwa kunjungan Lech Walesa  menjadi isyarat bagi perhatian Polandia terhadap Indonesia sebagai Negara terbesar di kawasan Asia Tenggara. Hubungan dan kerja sama kedua negara meningkat dan bertambah erat tahun demi tahun sejak pengaktifan kembali kerjasama bilateral setelah Indonesia menyelesaikan masa transisinya setelah reformasi.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Kunjungan Walesa ke Indonesia merupakan kebanggaan bagi kami karena bisa memperkenalkan beliau secara langsung kepada rakyat Indonesia seorang tokoh yang sudah menjadi ikon dan pahlawan Polandia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walesa tidak saja akan membicarakan isu-isu global dengan para pejabat tinggi Indonesia yang ditemuinya tetapi juga merintis kerja sama di bidang industri perkapalan yang potensial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lech Walesa memiliki pengetahuan dan pengalaman luas mengenai seluk-beluk industri perkapalan ketika ia masih bekerja di galangan kapal Gdansk dan memimpin organisasi buruh Solidaritas di sana," tambah Tomasz.  Lelch Walesa sebelum terkenal di dunia adalah tokoh buruh dari galangan kapal di Gdansk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penerima Nobel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LECH WALESA memperoleh nominasi untuk Nobel Perdamaian pada tahun 1983 saat Polandia masih dikuasai rezim komunis yang bersekutu dengan Uni Soviet. Karena mengalami tahanan rumah, Lech Walesa tidak dapat hadir sendiri di Oslo, dan diwakili isterinya, Danuta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai demonstrasi buruh pabrik kapal di Gdansk akhirnya memaksa Presiden Polandia Jenderal Jaruzelski untuk menandatangani perjanjian yang mengizinkan kegiatan serikat buruh independen dan menghentikan tindakan pengekangan maupun tekanan-tekanan terhadap anggota oposisi pro-demokrasi pada 31 Agustus 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berada di Yogyakarta, Lech Walesa, menyatakan mengagumi persatuan bangsa Indonesia. Berisi ratusan etnis, beragam budaya, dan agama, Indonesia ternyata mampu bersatu untuk waktu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perbedaan di Indonesia jauh lebih rumit daripada di Eropa. Namun, persatuan bisa terjalin begitu lama. Saya ingin belajar soal persatuan bangsa Indonesia,” tuturnya pada seminar bertema ”Kontribusi Pluralisme dalam Demokrasi” di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kunjungannya di Indonesia, mantan Presiden Polandia itu mendorong tumbuhnya solidaritas dan kesetaraan untuk mewujudkan perdamaian serta demokrasi di negara yang plural. Kesadaran kesetaraan dan solidaritas antarwarga merupakan landasan terpenting mempersatukan bangsa yang terdiri atas beragam suku dan agama dalam sistem demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tanpa solidaritas dan kesadaran kesetaraan, demokrasi yang damai dan sehat akan sulit terwujud di sebuah negara yang plural,” tuturnya. Dia mengatakan, saat ini persatuan antarbangsa semakin penting karena tantangan dunia semakin berat di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal sebagai pemimpin gerakan buruh independen "Solidaritas" selama dekade 1980-an, Walesa gigih memperjuangkan demokrasi di negaranya. Peraih Nobel Perdamaian 1983 itu juga berperan membawa Polandia berubah dari rezim sosialis-otoriter menjadi negara demokratik semasa dipercaya menjadi presiden periode 1990-1995. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walesa juga berkontribusi meruntuhkan dominasi Uni Soviet di Eropa Timur di akhir dekade 80-an.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lech Walesa adalah seorang tokoh perubahan yang tak kenal lelah. Meski tidak lagi di pemerintahan, dia tetap konsisten mempromosikan dan mendukung perkembangan demokrasi melalui yayasan yang dipimpinnya," kata Rudy Pesik, Presiden PT Indonesia Kebanggaanku, yang dipercaya sebagai koordinator kunjungan Walesa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesik mengungkapkan bahwa kunjungan tidak resmi ini merupakan lawatan pertama bagi Walesa ke Indonesia. Dia akan menyambangi Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di usianya yang ke-66 tahun, Lech Walesa masih bersemangat menyampaikan nilai-nilai solidaritas dan demokrasi kepada anak-anak muda, yang mungkin baru seusia dengan cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam turnya ke Indonesia, mantan presiden Polandia yang terkenal sebagai pendobrak rezim otoriter di negaranya selama dekade 1980-an itu ingin menunjukkan bahwa perjuangan menegakkan demokrasi tidak mengenal usia dan kedudukan. Pun tidak harus menjadi politisi dalam berjuang mewujudkan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat saya masih seusia kalian, saya tidak pernah tergoda untuk menjadi politisi. Pekerjaan politisi itu membosankan dan buang waktu, tapi saya tidak mengira akan menjadi politisi," kata Walesa kepada para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah kenapa saya akan berusaha keras agar (kuliah umum) ini tidak membosankan bagi kalian. Saya tidak ingin menceritakan kisah hidup saya karena itu sama saja kalian mendengarkan kisah hidup kakek-nenek kalian,” katanya disambut tawa hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah Walesa tidak membosankan. Diselingi guyonan-guyonan segar, Walesa mengajak generasi muda untuk tepat dan cermat dalam membaca tantangan dan peluang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin politisi-politisi kalian bisa menunjukkan pada kalian masa depan Indonesia dan masa depan dunia, sehingga kalian bisa melihat peluang-peluang baik bagi diri kalian sendiri,” katanya dalam bahasa Polandia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai demokrasi di Indonesia, Walesa mengaku belum tahu banyak. “Saya belum melihat Indonesia secara utuh karena selama saya di sini, saya terlalu sering menghabiskan waktu terjebak di tengah kemacetan lalu lintas,” katanya bergurau sambil menambahkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah mengalami kemajuan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh yang mengaku tidak takut pada siapapun kecuali pada Tuhan ini yakin bahwa banyak orang hebat yang tidak bisa meraih banyak hal karena tidak memiliki kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin demokrasi tidak bisa membawa orang ke posisi yang lebih baik? Bagaimana bisa demokrasi menempatkan orang-orang tidak bertalenta ke jabatan tinggi? Ini tantangan bagi kalian, para generasi muda, untuk dihadapi,” kata Walesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi tantangan, kata Walesa, yang dibutuhkan adalah solidaritas, solidaritas dalam negara, benua, dan solidaritas global. “Tahu apa arti kata solidaritas? Solidaritas adalah jika kalian punya beban besar, kalian meminta  seseorang untuk membantu mengangkat beban itu,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Republik Polandia untuk Indonesia Tomasz Lukaszuk mengatakan Yogyakarta dijadikan salah satu tujuan kunjungan Lech Walesa karena kota ini merupakan salah satu kota penting di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan, pendidikan, sejarah, kerajinan, dan memiliki keraton. Yogyakarta juga memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, setiap tahun ada mahasiswa Polandia yang menempuh pendidikan di Yogyakarta sebagai realisasi kerja sama di bidang pertukaran mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sekarang terdapat 53 mahasiswa Polandia yang menempuh pendidikan di Indonesia, lima di antaranya kuliah di Yogyakarta. Mereka menerima beasiswa dari Pemerintah Indonesia dalam program Darmasiswa untuk mempelajari bahasa, sejarah, dan budaya Indonesia.  Polandia menjadi Negara terbanyak kedua penerima beasiswa ini untuk tahun 2010 yakni sebanyak 57 orang, setelah Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari Asmorodono dan beberapa tari tradisional lainnya ditampilkan di hadapan tamu negara dari Republik Polandia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lech Walesa di Yogyakarta menilai masyarakat Eropa dapat belajar dari Indonesia dalam menyatukan keberagaman dan perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kira kita (Eropa) justru harus belajar dari Indonesia mengenai cara membawa seluruh perbedaan itu menjadi satu,” kata Walesa saat memberikan “presidential lecture” di Istana Negara, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengagumi fakta bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak pulau dan budaya namun mampu menjaga persatuan dan kesatuannya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, lanjut dia, Eropa adalah sebuah benua yang terdiri dari berbagai macam negara yang pernah saling berhadapan sebagai musuh di masa lalu namun kini sedang mencoba menghilangkan sekat-sekat perbedaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Eropa kita melihat dunia baru dengan hilangnya batas-batas. Kita sama satu sama lain, tidak ada yang lebih dari yang lain. Tetapi ini baru mulai, memerlukan proses,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walesa yang melakukan lawatan 13 hari ke Indonesia (termasuk 2 hari di Timor Leste) menyampaikan presentasi pada acara  “presidential lecture” dengan tema “Lessons from Democratic Changes in Poland and Eastern Europe and Their Implication for the New World of 21 Century”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara lawatannya di Jakarta, Yogyakarta dan Bali, Walesa yang kini memimpin Institut Lech Walesa, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institut Lech Walesa telah menjalin kerja sama serupa dengan berbagai organisasi di Eropa dan Amerika Serikat dalam upaya untuk mendorong demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Polandia menandatangani satu perjanjian yang antara lain mengizinkan kegiatan serikat buruh independen dan menghentikan tindakan pengekangan maupun tekanan-tekanan terhadap anggota oposisi pro-demokrasi pada 31 Agustus 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Walesa berpendapat pluralisme Indonesia menjadi pelajaran berharga bagi penyatuan Eropa, karena Eropa terdiri atas beberapa negara dengan budaya, etnis, dan agama yang juga beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kagum, bagaimana keberagaman budaya, etnis, dan agama di Indonesia dapat menyatu, tanpa ada unsur kekerasan. Hal itu yang dapat dijadikan pelajaran bagi penyatuan Eropa,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, kedatangan Walesa di Indonesia menjadi promosi ke Eropa mengenai pluralisme yang berjalan baik di negeri ini. Keberagaman budaya, etnis, dan agama di Indonesia dapat menyatu dengan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walesa diharapkan dapat menyampaikan apa yang telah dilihat di Indonesia khususnya tentang pluralisme kepada negara-negara di Eropa. Dengan demikian, pandangan negara-negara di Eropa terhadap Indonesia dapat lebih baik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akan Datang Lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGINGAT waktu keberangkatan telah tiba, dia pamit.  Tetapi dia menjanjikan akan datang lagi ke Indonesia, pada pertengahan 2010 atau di tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menerawang, membayangkan akan datang lagi ke Indonesia.  Dia ingin datang ke Indonesia untuk menikmati negeri indah ini.  Setelah 13 hari di Indonesia menurutnya belum memberikan gambaran untuk mengenal Indonesia lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bercanda, untuk memahami Indonesia lebih baik maka beliau harus tinggal lebih lama di Indonesia.  “Anda baru mengunjungi 2 pulau kami, dari keseluruhan sekitar 17 ribu”, ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Walesa tertawa terbahak-bahak, dan kemudian bergegas menuju mobil yang akan mengantarkannya ke pesawat komersial di malam hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa lagi, Mr. President. Do widzenia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-3296587654501730437?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/3296587654501730437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/lech-walesa-saya-akan-datang-lagi-ke.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3296587654501730437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3296587654501730437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/lech-walesa-saya-akan-datang-lagi-ke.html' title='LECH WALESA: SAYA AKAN DATANG LAGI KE NEGERI INDAH INI'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TRqb9uSvzCI/AAAAAAAAAHs/RI_VU9wEwzY/s72-c/WALESA.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-7533889237395159658</id><published>2010-12-27T19:18:00.000-08:00</published><updated>2010-12-27T19:32:03.781-08:00</updated><title type='text'>SANG MERAH PUTIH</title><content type='html'>KISAH bendera negara kita, Sang Saka Merah Putih tidak habis-habisnya di Polandia.  Sopir saya sering ditegur orang-orang di jalanan, bilang bendera kita terbalik.  Seharusnya ‘putih- merah, kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putih Merah adalah bendera negara Polandia yang sudah berusia ratusan tahun.  Dwi warna “Merah Putih” atau “Putih Merah” memang juga dikenal di negara lain.  Monaco, contohnya juga berbendera Merah Putih.  Cuma, negara ini kecil dan tidak memiliki representasi meluas seperti Indonesia atau Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, Monaco yang merasa lebih dulu menggunakan ‘merah-putih’ warna benderanya daripada kita, pernah mengusulkan agar tidak saru supaya bendera kita ditambahi gambar hewan.  Terserah mau hewan apa, karena kita punya ribuan jenis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, usul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngawur&lt;/span&gt; ini ditolak.  Kita tidak tersinggung, cuma tidak dapat menerima karena tidak ada rujukan di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita di Warsawa. Pada awal tugas di Polandia di tahun 2006 saya, sering orang-orang tua ngomong dalam bahasa mereka sambil menunjuk ke arah bendera di mobil dinas saya.  Awalnya saya hanya manggut-manggut saja.  Lama-lama kesal juga.&lt;br /&gt;Eksotis? Mungkin, banyak yang mengabadikan mobil berbendera ini dengan kamera HP mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, kalau mereka sekadar ingin berfoto di dekat mobil Mercy seri 350 S terbaru (kita yang pertama memiliki mobil ini di Warsawa) atau karena tertarik dengan bendera Republik Indonesia silahkanlah.  Pengalaman ini sering saya alami, ketika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;corps diplomatic&lt;/span&gt; dari seluruh negara yang diakreditasi ke Polandia menghadiri acara-acara kenegaraan.  Semua mobil berbendera.  Anggun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Wisma Duta, tempat kediaman resmi Duta Besar R.I. yang terletak di Ul. Wachocka 9, atau di kantor KBRI yang terletak di Ulica Estonska –keduanya berlokasi di Saska Kepa yang kawasan residensial elit di Warsawa—bendera negara juga terpasang.  Ada saja warga Polandia dan sering orang tua yang mengetuk pintu dan mengingatkan bendera salah pasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran ada batasnya.  Saya juga tidak nyaman jika Sang Saka Merah Putih yang berkibar di mobil dinas atau di kediaman resmi R.I. di Republik Polandia, terkesan diolok-olok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bung, jika saya penuhi permintaan Anda maka saya akan menjadi Presiden Republik Polandia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda tahu ini bukan kediaman resmi Presiden Polandia, atau Anda mungkin senang atau bisa menerima saya sebagai presiden Anda, tetapi besok saya akan di persona-non-grata oleh Pemerintah Anda.  Saya akan dituduh melakukan makar, coup d’etat!”, kata saya dibarengi senyum kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diplomatic Incident&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga terjadi insiden, pada saat saya menyertai kunjungan Presiden RI ke Polandia di tahun 2003.  Akibatnya Kepala Protokol Negara (KPN) Polandia dipecat oleh Presiden Republik Polandia.  Apa pasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang KPN tidak mengecek, karena terburu-buru memasang bendera terbalik sehingga mobil Presiden Polandia menaiki mobil yang berbendera Indonesia: Merah Putih.  Untung, pihak delegasi Indonesia tidak sempat memerhatikan kesalahan ini.  Jadi ada 2 mobil berbendera RI! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terlihat, bisa terjadi terjadi insiden diplomatik. Serius!  Cerita ini saya peroleh dari staf protokol negara, ketika saya menetap di Warsawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus mobil dinas saya, tentu bukanlah insiden diplomatik jika saya harus bertengkar tiap hari dengan penduduk Warsawa.  Nggak lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma, kurang nyaman dengan sorotan mata orang seolah-olah saya bego, atau tidak tahu aturan.  Karena itu, saya mengambil jalan ke luar.  Setiap menghadiri acara resmi saya menganjurkan sopir untuk tidak terlebih dahulu memasang bendera kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti jika sudah dekat, baru pasang itu bendera!” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini yang menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rule&lt;/span&gt;. Ya untuk menghindari ketidaknyamanan ataupun kemungkinan pertengkaran di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalam Perundingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM perundingan resmi, kami para diplomat Indonesia dan Polandia sudah saling mengenal dan memahami.  Sering, sebelum perundingan dimulai kami berbagi cerita soal bendera ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terjadi kebingungan apabila bendera kedua negara kita dipasang vertikal, dari atas ke bawah.  Biasanya, para diplomat bingung: siapa duduk di mana? Atau yang sebelah kiri (atau kanan) bendera siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi diplomat mempunyai acuan protokol.  Kalau kita menjadi tamu, maka kita akan duduk di sebelah kanan yang dipandang dihormati.  Ini kalau duduk berdampingan di head table. Kalau berhadap-hadapan? Gampang.  Tuan-rumah akan menghadap ke pintu masuk, tamu akan menghadap ke jendela atau tembok yang sering berhiasan indah.  Ini juga untuk menghormati tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, gunakan acuan pemasangan bendera.  Bagian atas yang diikat dengan tali menggambarkan fungsi seperti ‘tiang bendera’.  Gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomat Polandia berbagai cerita.  Pada suatu hari mereka mengadakan perundingan dengan  negara-negara kecil di Pacific, tetapi bendera Polandia ditaruh di koper yang ketelingsut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Solusinya, kata teman saya itu, mereka pergi ke toko bendera dan mencari BENDERA INDONESIA.  Dan memang ada dijual, karena Indonesia dikenal baik di negara-negara di kawasan Asia Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya di Polandia tidak terjadi bagi Dubes Tomasz Lukaszuk pada waktu beliau bertugas di Indonesia.  Paling tidak, dia tidak pernah bercerita kepada saya bahwa dia mengalami hal-hal yang lucu di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa Yang Lebih Duluan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI sering menjadi debat mengisi waktu, antara pejabat kedua negara.  Tentu saling mengklaim “kami lebih dahulu!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saya riset.  Bendera Merah Putih telah dikenal sejak abad ke-13 di Nusantara, pada era Kerajaan Majapahit.  Jadi, secara historis telah berlangsung sekitar 800 tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendera negara pada zaman Republik resminya diperkenalkan pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945.  Tidak ada tercatat perdebatan tentang bendera negara di sidang-sidang BPUPKI di Gedung Pancasila di jalan Pejambon itu.  Merah Putih telah menjadi simbol nasionalisme melawan penjajah Belanda.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bila diurut ke belakang, Sang Saka Merah Putih untuk pertama kali dikibarkan dalam sejarah modern bangsa Indonesia pada tahun 1928, yakni Hari Soempah Pemoeda.  Pemerintah Kolonial tentu melarang pengibaran bendera ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendapat Lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA juga yang mengatakan bendera kita sebenarnya berasal dari bendera Belanda: Merah Putih dan Biru.  Para pemuda pejuang kemerdekaan sering merobek warna biru, sehingga tinggal Merah dan Putih.  Karena Indonesia adalah Republik –bukan kerajaan—maka warna “biru” ditafsirkan sebagai “darah biru” aristokrasi.  Tidak cocok dengan jiwa Proklamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sejarah bendera Polandia? Ternyata bendera mereka lebih muda. Belum 200 tahun! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polandia pertama kali menggunakan bendera Putih – Merah sebagai bendera negara pada tahun 1831. Bendera ini berasal dari warna yang mengisi simbol negara Persemakmuran Polandia – Lithuania.  Polandia menyumbang warna ‘putih’ (warna elang putih), sedangkan Lithuania menyumbang ‘merah’, warna tameng yang mengendarai kuda putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, para perajurit menggunakan kedua warna, dan adakalanya ‘terbalik’ sehingga menjadi ‘merah-putih’ warna bendera Indonesia.  Ini saya temui di salah satu museum panorama (diorama) di Poznan, pada lukisan-lukisan yang menggambarkan dalam pertempuran di berbagai tempat bersejarah di Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Polandia saya menjelaskan: “Panorama di Museum Raclawice itu menggambarkan pertempuran pasukan Jenderal Kościuszko melawan divisi-divisi Rusia, dengan bendera resimen berwarna ‘merah-putih’, tetapi dihiasi dengan gambar ‘elang putih’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendera Polandia secara resmi yang dipasang di kediaman dubesnya di Jakarta, seperti di Istana Negara di kota Warsawa, menggunakan bendera yang dilengkapi dengan gambar burung elang putih.  Ini juga historis, bukan agar tampil beda dengan bendera Indonesia.  Kalau di mobil tetap 'putih-merah'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah, sejak tahun 1919 secara resmi bendera nasional Polandia (seperti dalam bentuk dan warna sekarang) digunakan.  Dan, sejak tahun 2004, Polandia merayakan Hari Bendera pada tanggal 2 Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-7533889237395159658?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/7533889237395159658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/sang-merah-putih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7533889237395159658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7533889237395159658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/sang-merah-putih.html' title='SANG MERAH PUTIH'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-4732536105803716795</id><published>2010-12-26T20:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-26T20:21:30.644-08:00</updated><title type='text'>CAREER DAY</title><content type='html'>MENGENALKAN lapangan pekerjaan dalam berbagai kegiatan yang mulai popular di tanah air kepada angkatan belia bukan untuk mengajarkan cara-cara mencari uang yang mendorong konsumerisme.  Pengenalan citra suatu produk atau gaya hidup yang dikaitkan dengan kebendaan sedini mungkin,  bahkan pada tingkat TK, adalah strategi ampuh media periklanan yang dibayar oleh perusahaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan lapangan pekerjaan nanti ketika anak-anak menjadi dewasa, atau lebih tepat sosialisasi terhadap sejumlah profesi yang popular bertujuan untuk memberikan informasi awal secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita selalu ditanya orangtua “Nanti sudah besar, mau jadi apa, Nak?”  Sering anak menjawab sekenanya, atau apa yang diingatnya.  Kadang-kadang pengulangan: “saya mau jadi dokter” atau insinyur atau hakim bahkan polisi, dari puluhan bahkan ratusan profesi yang memang eksis di dunia pada era globalisasi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamati kegiatan ‘Career Day’ dilakukan pada pelajar tingkat SMA di Jakarta.  Acapkali kegiatan seperti ini didukung pula oleh para sponsor produk-produk consumer yang popular, atau sedang mengenalkan produknya di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa persepsi mereka tentang dunia pekerjaan?  Mungkin mendengarkan penjelasan dari professional langsung dapat membantu mereka.  Mereka bisa membayangkan jenis pekerjaan, tantangan dan benefit dan keuntungan lain termasuk gaji.  Dan mungkin jika nanti pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana di Amerika Serikat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA sendiri tidak ‘aware’ ketika anak tertua saya, Sandra, meminta saya untuk presentasi di sekolahnya Elementary School yang terletak di bilangan Rego Park, Queens, New York suatu ketika di tahun 1999.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Katanya, guru yang memang memperhatikan berbagai lapangan pekerjaan orang tua murid, mengundang kami para orang tua untuk berbagi.  Ya berbagi informasi tentang berbagai jenis pekerjaan atau profesi, kepada anak-anak yang pada hari itu merupakan bagian dari kegiatan ‘graduation day’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara ini ‘career day’ dimulai pada tingkat SD dan seterusnya sampai ke perguruan tinggi.  Jadi, mungkin saja ketika anak masih di SD dia tertarik pekerjaan dokter, guru, pemusik, hakim, dan pada saat SMP berubah menjadi pelukis, polisi, tentara, dan ketika SMA lebih tergoda dengan auditor, wartawan, broadcaster, atau intel.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti ketika selesai pendidikan di perguruan tinggi profesi pilihan ini bisa berubah lagi.  Semakin banyak informasi  sedini usia mungkin,  semakin tumbuh pula berbagai opsi yang menarik dan cocok bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru anak saya menjelaskan singkat dalam surat, kalau saya setuju tampil, informasi tentang apa yang perlu saya persiapkan.  Tentu saja berkaitan dengan kegiatan sehari-hari (rutin), apa basis keilmuan atau pendidikan khusus, serta apa keuntungan (benefit) dan bahkan apa tantangan dalam kegiatan profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyambut baik, tawaran untuk menjelaskan profesi diplomat kepada anak-anak di sekolah negara Amerika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan sudah terjadwal baik dari mulai pagi sampai siang: presentasi dari berbagai profesi yang umumnya diisi oleh para orang tua murid, siapa yang akan presentasi, di ruang kelas yang mana, dan berapa lama waktu disediakan, maksimal 30 menit.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Anak-anak bak sedang ‘window shopping’, biasanya memilih beberapa profesi, baik yang serius maupun hanya untuk sekadar mengetahui saja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena kegiatan itu dilakukan pada hari kerja, saya berpakaian kerja (Pakaian Sipil Lengkap, atau PSL) dengan jas dan dasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak Gampang Lho!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERNYATA tidak mudah memilih informasi yang akan dipresentasikan.  Jika saya biasa berceramah atau diminta menjadi dosen tamu di berbagai tempat, atau menjadi speaker di berbagai seminar internasional, maka berhadapan dengan anak-anak menjadi tantangan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu hadir sekitar 10-12 pelajar, dan gurunya juga ada di sana..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diplomat adalah wakil-wakil Negara yang bekerja untuk menciptakan perdamaian.  Perdamaian penting agar kita bisa hidup dan bekerja dengan baik.  Perdamaian harus didukung oleh keamanan: ada ancaman militer atau non-militer.  Maka diperlukan serangkaian tata-aturan dan norma agar bangsa-bangsa yang berbeda-beda bisa berkenalan dan bekerjasama untuk menghindarkan perang dan bahkan menyepakati berbagai kerjasama untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia dipenuhi konflik, sumbernya beragam: kekurangan makanan, sarana air bersih, rumah dan sebagainya.  Untuk itu kita perlu membangun ekonomi, dan kita mengetuk hati Negara-negara maju untuk mengulurkan tangan.  Di banyak belahan dunia anak-anak tidak bersekolah, maka kita upayakan agar sekolah dibangun supaya mereka pintar dan nanti kalian bisa berkenalan dengan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata-mata kecil mulai sayu.  “Bapak ini bicara apa, yah?”, mungkin mereka mulai bingung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lanjut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk itulah diplomat diperlukan.  Tanpa diplomat dunia akan terancam konflik dan perang, maka pembangunan ekonomi dan sosial tidak dapat dilakukan.  Diplomat telah ada sejak zaman dahulu kala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyadari pembicaraan ini semakin tidak menarik, mereka mulai gusar.  Bergerak ke kiri dan ke kanan.  Ada yang mengipas-ngipas, gerah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru berupaya sabar tersenyum menenangkan anak-anak itu.  Untung anak saya tidak ikut mendengarkan kuliah saya.  Mungkin dia sudah tahu apa itu diplomat, atau memang tidak tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ganti strategi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA juga heran, mengapa tema saya kurang greget.  Padahal kemarin dan hari-hari sebelumnya kami berdebat di PBB mengenai masalah-masalah nuklir.  Isu gender/wanita, orangtua, perubahan iklim mulai menghangat, dan bahkan ada yang sampai gebrak-menggebrak meja! Saya juga barusan mendamaikan ketua delegasi India dan Pakistan, dengan varian Syria.  Ini berkaitan dengan kesepakatan Negara berkembang (GNB) mengenai rancangan resolusi yang akan diusulkan ke Sekretariat PBB, agar memberi tekanan kepada negara-negara nuklir.  Argumentasi atau kontra argumen dengan mudah dipahami tanpa bertele-tele.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berhadapan dengan anak-anak yang rujukan dan persepsi beragam dan belum terstruktur menjadi tantangan tersendiri bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin apa yang saya bicarakan akan menarik hati para pengamat atau mahasiswa jurusan hubungan internasional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berhadapan dengan anak-anak ini memang tidak mudah.   Sudah ada yang menguap-nguap.  Bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi diplomat itu menyenangkan, kalian akan mengunjungi seluruh penjuru dunia dan dibayari negara.  Kalian tidak mungkin susah karena Negara membayar gaji dan fasilitas tugas dengan standar internasional Karena itu kalian harus belajar mengenai sejarah, etnografi, bahasa-bahasa internasional, karena itu kalian akan dididik sekolah diplomat, termasuk cara mengecap visa atau bagaimana mengangkat koper yang berat tetapi tetap memelihara senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini yang tak kurang penting, karena memiliki imunitas maka tidak seorang pun yang akan menyentuh kulit kalian.  Aman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencatat ini penampilan saya yang terberat; 10 menit saya kehilangan kata-kata.  Saya segera beralih haluan, sebaiknya berdialog saja.  Tanya-jawab dengan anak-anak berusia 11-12 tahun itu dalam lively discussions mungkin lebih menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, mari kita mulai Tanya-jawab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu pertanyaan.  Seorang anak laki-laki angkat tangan. “Are you spy”?&lt;br /&gt;Sesi pun berakhir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Amerika terkenal dengan informalitas.  Bila orang berpakaian gelap dan berdasi dipandang sangat formal.  Mungkin lihat film Hollywood, anggapannya orang asing berpakaian formal seperti saya itu spy.  Oh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan ruang sidang yang berat itu saya diundang kepala sekolah untuk refreshment: kopi dan roti selai, keju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana telah berkumpul berbagai orang tua murid atau petugas lembaga kota, lengkap dengan peralatan dan pakaian mereka berwarna-warni.  Dinas kebersihan dengan seragam hijau, pemadam kebakaran berwarna merah, polisi, jaksa, artis yang glamour.  Mereka pada umumnya senang, bisa berkontribusi. Kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sama dengan pakaian saya cuma broker penjual saham, dan pengacara.  Saya yang diplomat,  pengacara dan penjual saham itu memang hanya mampu berbusa-busa dengan audiens.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih malah  membuat anak-anak itu semakin bingung.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tidak ada yang bisa kami pamerkan kecuali menjual kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-4732536105803716795?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/4732536105803716795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/career-day.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/4732536105803716795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/4732536105803716795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/12/career-day.html' title='CAREER DAY'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-529792277220818282</id><published>2010-10-12T07:20:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T23:44:51.983-07:00</updated><title type='text'>IN THE AFTERMATH</title><content type='html'>BANYAK terjadi kesalah-tafsiran atau mispersepsi mengapa kunjungan Presiden SBY ke Belanda dibatalkan dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan.  Ketika pesawat kepresidenen Garuda telah siap lepas landas, delegasi dan staf pendukung sudah on board, mendadak Presiden SBY setelah peringatan HUT TNI 5 Oktober dengan wajah tegang menyampaikan pengumuman penundaan kunjungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai argumen  telah disampaikan oleh para pakar bukan baik pro maupun kontra.  Jarang sekali saya membaca analisis atau tanggapan yang tepat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana diberitakan, Presiden SBY mendadak membatalkan kunjungan kenegaraan ke Belanda karena pengadilan setempat menggelar pengadilan pelanggaran HAM di Maluku dan Papua, dengan tuntutan agar kekebalan diplomatik Presiden SBY dicabut sehingga dapat ditangkap dengan tuduhan pelanggaran HAM.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kunjungan kenegaraan yang direncanakan berlangsung pada 5-9 Oktober 2010 dengan muatan substansi yang sangat berbobot terpaksa ditunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini menyangkut harga diri dan kehormatan bangsa," ujar Presiden dalam jumpa pers di ruang VIP landasan udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Selasa (5/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat keputusan tragis itu diambil, saya tersentak, tidak percaya dengan apa yang saya baca.  Namun, segera terbayang diplomasi kita sedang menghadapi krisis baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya fikir tidak terlalu mudah bagi Presiden Indonesia untuk mengambil keputusan dramatis pada menit-menit yang menentukan.  Apalagi untuk kunjungan sepenting ke negeri Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Presiden SBY  “Ini menyangkut harga diri dan kehormatan bangsa" tidak segera dipahami oleh publik.  Kemudian, Presiden dalam dua kali kesempatan memberi penjelasan yang lebih jelas apa yang dimaksud beliau dengan ‘harga diri’ dan ‘kehormatan bangsa’.  Memahami nuansa ini maka kita menangkap substansi dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reasoning&lt;/span&gt; dalam pernyataan Presiden SBY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Presiden SBY konsisten.  Meskipun demikian, muncul berbagai kalkulasi untung-rugi dan spekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa pentingkah ‘harga diri’ dan kehormatan bangsa’ di dalam penyelenggaraan hubungan diplomatik, apalagi dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang menjadi pokok persoalan, atau yang menjadi bones of contention!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bones of Contention&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA saat Presiden menyampaikan keputusannya, saya mencoba berulang-ulang mencermati (reading between lines) pertimbangan Presiden RI, seperti saya tuliskan dalam komentar saya di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Twitter&lt;/span&gt; pada hari naas itu.  Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia diplomasi selama 30 tahun, saya terpanggil untuk berbagi perspektif melalui akun Twitter yang saya lakukan dari siang hari sampai tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi awal saya (dan ternyata memang benar) isu pokok bukanlah soal RMS, bukan pula soal imunitas atau masalah keamanan Presiden yang terancam.  Tetapi adalah perkara harga diri (dignity) dan kehormatan Republik yang dipertaruhkan ketika kondisi sudah dinilai tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;favorable&lt;/span&gt; atau kondusif untuk melanjutkan muhibbah itu. Setidaknya untuk sementara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, peradilan Belanda sebagai institusi negara (Presiden SBY: sebagai state system) gagal menghormati aspek kemuliaan (gloriousness) yang menjadi muatan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia.  Mahal, karena kunjungan ini bisa terlaksana setelah vakum 40 tahun, dan Presiden Indonesia dengan berbagai atribut kenegaraan Republik Indonesia akan menjadi tamu kehormatan Ratu Beatrix dari Kerajaan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai warganegara, menjadikan Presiden atau lembaga-lembaga kenegaraan kita sebagai subyek dalam peradilan di luar negeri –apalagi oleh Negeri Belanda yang pernah menjajah Bumi Pertiwi dan sampai sekarang belum mengakui secara formal kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945—bagi saya ‘unacceptable, atau’ sedikitnya ‘pelecehan’ kalau bukan penghinaan secara substantif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerimaan gugatan RMS dan kemudian keputusan pengadilan untuk memenuhi penjadwalan persidangan, meskipun dengan alasan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;procedural&lt;/span&gt; yang cukup (sesuai KUHPerdata Belanda) dan apalagi dengan percepatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;proceeding&lt;/span&gt; sehingga bersamaan dengan jadwal waktu kunjungan kenegaraan jelas walaupun bukan keputusan politis tetapi tidak terlepas dari nuansa politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui perspektif  hukum tatanegara dengan gampang kita membantah argumen bahwa “pemerintah Belanda tidak campur tangan soal-soal peradilan, karena institusi ini bebas (independen) dari pengaruh pemerintah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bedanya dengan di Indonesia? Setidaknya secara konstitusional lembaga peradilan kita terletak di bawah Mahkamah Agung, jelas berdiri sendiri dan tidak berada di ranah eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sangat paham, bahwa meskipun peradilan bukan bagian pemerintah tetapi kekuasaan yudikatif merupakan pemegang saham di dalam kedudukan sebagai ‘institusi negara’ dalam konteks trias politika.  Oleh karena itu, peradilan merupakan bagian dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;system governance&lt;/span&gt; dalam kehidupan kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kegagalan peradilan Den Haag mempertimbangkan bahwa kunjungan kenegaraan yang sudah ditunggu sekian lama itu memiliki bobot politis yang sangat tinggi –apalagi dilatarbelakangi nuansa kesejarahan yang sangat sensitif— menjadi kelalaian yang memang patut disesalkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya fikir, peradilan Den Haag kurang mempertimbangkan kepentingan dan kehormatan Ratu Beatrix yang telah mempertaruhkan jabatan dan kehormatannya.  Pengiriman undangan kepada Presiden SBY untuk kunjungan kenegaraan menjadi salah satu event utama di Kerajaan Belanda.  Apalagi telah disepakati untuk peningkatan hubungan kemitraan kedua bangsa sampai pada tingkat strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegalauan yang saya ekspresikan pada Twitter, saya menilai  sebagai institusi negara lembaga peradilan wajib menjaga etiket dalam hubungan antar-negara, dengan sendirinya menghindar jangan sampai menyentuh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pride&lt;/span&gt; kita sebagai bangsa berdaulat.  Presiden SBY menyebut poin ‘etika’ dalam penjelasan beliau di Istana Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pengamat mengaitkan ‘arogansi peradilan Den Haag’ dalam konteks ‘mentalitas kolonial’, atau kurang siapnya mereka memperlakukan Indonesia dalam kedudukan setara di dalam pergaulan antar bangsa.  Mereka lupa mempertimbangkan aspek kesejarahan kedua bangsa yang asimetris dan sangat pahit masih berbekas kuat di sanubari rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan legal juga terjadi dalam soal imunitas.  Ini saya anggap penting karena menyangkut ‘substansi’ yang akan diputus oleh peradilan Den Haag.  Bagi saya, apapun keputusan substantif peradilan –menerima gugatan RMS untuk pencabutan kekebalan diplomatik Presiden RI, atau menolak—tetap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unacceptable&lt;/span&gt;.  Alasannya sama, bahwa ini sangat menyentuh secara intrusif &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dignity&lt;/span&gt; yang melekat dengan institusi kepresidenan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan di Twitter, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;it goes without saying&lt;/span&gt; bahwa presiden dari negara manapun dalam perjalanan ke luar negeri memiliki imunitas yang melekat secara hukum internasional.  Ini norma umum dan berhak dimiliki oleh presiden negeri Indonesia yang dipahami dunia sebagai negara demokratis yang tidak lebih rendah kedudukannya (standing) dibandingkan Belanda.  Kita tidak mengemis memohon belas kasihan agar Kepala Negara kita diberikan oleh Belanda kekebalan diplomatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hukum internasional, ‘kekebalan diplomatik Presiden RI’ adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;given&lt;/span&gt;, inherent dalam jabatan kepresidenan Indonesia.  Jadi, bukan diperoleh Presiden RI karena jaminan (granted) dari Pemerintah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menilai kedua isu legal utama tadi yang menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bones of contention&lt;/span&gt; yang gagal dipahami oleh sebagian kita.  Justru di sinilah persoalannya yang menimbulkan 'kemarahan' Presiden SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek prosedural yang mengganjal adalah keputusan pengadilan mengabulkan pengajuan tanggal persidangan bersamaan dengan jadwal kunjungan Presiden RI.  Dari segi substansi, keputusan hakim bersalah atau tidak-bersalahnya Presiden RI tidak menguntungkan Indonesia di mata dunia secara politis, artinya menempatkan Kepala Negara sebagai pesakitan di dalam sistem peradilan asing.  Siapa pun tidak dapat menerima ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keputusan prosedural pemajuan tanggal persidangan adalah keputusan majelis hakim.  Kita tidak mencampuri pertimbangan mereka dalam menerima tuntutan RMS.  Yang mengganjal bagi kita adalah bahwa meskipun peradilan tidak berada di bawah pemerintah, tetapi peradilan adalah institusi negara.  Aspek kenegaraan dan kelembagaannya diwakili oleh Ratu Beatrix yang justru mengundang tamu terhormat, Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu kita berhak berharap bahwa peradilan Belanda sebagai institusi Negara juga wajib menjaga etiket bernegara dan dlm berhubungan dengan nilai-nilai kebangsaan dari suatu bangsa yang berdaulat.  Keputusan pengadilan Den Haag yang menyetujui pemajuan tanggal persidangan bersamaan dengan jadwal acara kunjungan Presiden RI tidak mencerminkan rasa hormat dengan harga diri bangsa.  Maka keputusan pengunduran kunjungan ke Belanda langsung oleh Presiden SBY merupakan reaksi yang harus dipertimbangkan sebelumnya oleh Belanda.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kegagalan memahami sensitivitas permasalahan itu di pihak Belanda tidak harus dipikulkan kepada Indonesia, yang berarti mempermalukan Ratu sendiri.  Sikap pers Belanda yang membela Ratu dan mencela Presiden RI juga tidak menolong.  Bagi kaum nasionalis sah untuk berpendapat bahwa di pihak politiisi Belanda, termasuk media dan penyelenggara Negara masih terdapat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cultural imperialism&lt;/span&gt; yang memaksakan kita untuk mengikuti keinginan mereka dan menerima kesalahan yang dipikulkan kepada sebuah bangsa yang berdaulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak bagi tuan rumah untuk menyatakan mereka tidak dapat mencampuri atau mengaitkan proses peradilan dengan kunjungan.  Kita pun berhak menyatakan bahwa kehormatan, harkat, dan kedudukan terhormat RI dalam acara yang telah lama dipersiapkan mutlak tidak boleh digadaikan (trade off).  Sebagai Negara besar di dunia, Indonesia berhak atas kehormatan yang bukan diperoleh dari belas kasihan dari Negara yang paling &lt;span style="font-style:italic;"&gt;powerful&lt;/span&gt; sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, adalah hak bagi Indonesia untuk menyampaikan penilaian (assessment) bahwa situasi kunjungan sudah tidak kondusif.  Pada saat semangat kedua Negara untuk peningkatan hubungan ke tahap strategis, terdapat unsur-unsur di Belanda yang mengandung ketidakpastian (uncertain),  berkaitan dengan tuntutan untuk menggiring Presiden RI ke pengadilan, memertanggungjawabkan terjadinya pelanggaran HAM di Ambon maupun Papua.  Kita berdaulat, termasuk menentukan sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin alam bawah sadar kita sebagai bangsa berdaulat yang memperjuangkan kemerdekaannya dengan darah dan airmata dapat menerima lambing kenegaraan kita dijadikan subyek di negeri yang pernah tidak rela melepaskan tanah air kita dari cengkeramannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kalkulasi Pragmatis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FRASA hubungan yang saling-menguntungkan memang harus dikualifikasi.  Hubungan dan kerjasama yang kita lakukan harus pula nyaman bagi kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang patut disesalkan banyak substansi baru dan baik sekali yang kita harapkan tercapai dalam kunjungan kenegaraan Presiden RI.  Tetapi bilamana menyentuh ‘pride’ atau ‘dignity’ bangsa maka hasil-hasil substantive itu tidak harus diperoleh at all cost, dan tidak dapat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trade-off&lt;/span&gt;.  Ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;threshold&lt;/span&gt; yang perlu kita perhatikan, kapan kita toleran terhadap suatu intoleransi.  Ada yang tidak bisa kita ukur dari konteks pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mengatakan: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;you need two to tango&lt;/span&gt;, alias timbal-balik, maka kepentingan peningkatan hubungan bilateral juga untuk kepentingan kedua pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sah saja jika Pemerintah Kerajaan Belanda berkeinginan untuk pembentukan era baru hubungan bilateral RI – Belanda, menuju ke tingkat kemitraan strategis.  Keinginan itu tinggal keinginan bila suasana tidak kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mempermalukan RI, peradilan Den Haag telah ‘mencederai' reputasi Ratu Beatrix di mata rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang ditarik dari peristiwa ini ialah bahwa meskipun pelaksanaan politik luar negeri merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;domain&lt;/span&gt; pemerintah (eksekutif), tetapi apabila menyangkut hubungan antar-negara maka tanggungjawab berada di semua lembaga negara, termasuk parlemen maupun insitusi yang terdapat di dalamnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;In the Aftermath&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH perlakuan mantan negara penjajah kepada bekas Negara jajahannya bukan eksklusif terjadi dalam konteks hubungan Indonesia dan Belanda.  Jepang, dalam pengalaman di masa lalu sangat berhati-hati menyikapi perkembangan di China, Korea, Indonesia yang pernah menjadi jajahannya.  Seperti juga antara Jerman dan Polandia, atau Rusia dan Polandia, hubungan di masa lalu yang buruk menimbulkan kompleks tersendiri bagi negara yang pernah diduduki atau bekas jajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tertutup kemungkinan mentalitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;superiority complex&lt;/span&gt; yang berasal dari kejayaan penjajah di masa lalu ingin direfleksikan kembali oleh segelintir warganegara yang berada dalam kedudukan pembuat keputusan,  Sayangnya, segelintir pejabat negara tidak menyadari pada era sekarang hubungan kesetaraan menjadi doktrin dalam pergaulan antar-bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pembatalan atau pengunduran kunjungan kenegaraan sampai waktu dan kondisi memungkinkan serta kondusif adalah sikap bijaksana Presiden RI.  Tindakan itu sudah tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi yang dihadapi Presiden RI adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unfortunate&lt;/span&gt;, sedangkan keputusan penundaan berfungsi sebagai ‘damage control’, sebagai sesuatu yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unavoidable&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapapun ongkos bagi penegakan martabat bangsa harus rela kita bayar, apalagi sekadar logistik yang telah dipersiapkan untuk perhelatan besar bagi kedua bangsa yang memiliki sejarah kelam dulu yang asimetris di zaman penjajahan.  Kita juga sudah banyak keluar biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The bottom line&lt;/span&gt; adalah kita tidak akan membiarkan lambang-lambang kenegaraan kita menjadi sandera di dalam suatu perseteruan politik internal di Belanda.  Sampai kapan? Sampai situasinya menjadi kondusif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 12 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-529792277220818282?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/529792277220818282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/in-aftermath.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/529792277220818282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/529792277220818282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/in-aftermath.html' title='IN THE AFTERMATH'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-2105128787332526772</id><published>2010-10-08T00:52:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T00:59:54.590-07:00</updated><title type='text'>IMPLIKASI TERBENTUKNYA ASEAN KOMUNITAS 2015</title><content type='html'>DALAM artikel sebelumnya “Menyongsong Pembentukan Komunitas ASEAN 2015” saya menyambut baik ratifikasi oleh keseluruhan 10 negara-anggota terhadap Piagam ASEAN (Charter ) yang telah menjadi another milestone terpenting dalam perkembangan ASEAN sebagai organisasi sub-regional di Asia Tenggara yang kini telah berusia 43 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah ASEAN adalah bagian dari pelaksanaan politik luar negeri bebas dan aktif. Wilayah Asia Tenggara menjadi lingkaran paling strategis bagi Indonesia: kita mencegah Asteng menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;staging ground&lt;/span&gt; untuk menggerogoti Indonesia, sekaligus menjadikannya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;platform&lt;/span&gt; untuk memperluas pelaksanaan politik luar negeri di lingkaran terdekat.  Ini saya tulis dalam artikel kedua: Indonesia dan ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah pemimpin natural ASEAN.  Tentu saja, setiap perkembangan dan kemajuan ASEAN perlu direlevankan dengan kemajuan di tanah air.  Keberadaan ASEAN yang bermanfaat akan didukung oleh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi dan sosial di Indonesia dan negara-anggota ASEAN lainnya pada akhirnya akan memperkuat ketahanan nasional.  Terciptanya ketahanan nasional yang kuat di masing-masing Negara pada gilirannya akan memperkuat  ketahanan regional.  Pemerkuatan struktur politik dan peranan regional ASEAN akan mendukung upaya kita dalam rangka memperkuat NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, setiap kemajuan yang dicapai ASEAN harus disinkronkan untuk menjadi nilai-tambah bagi pelaksanaan politik luar negeri Indonesia.  Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun ASEAN 2015 diharapkan akan bermanfaat bagi peningkatan kapasitas Indonesia di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di bawah ini juga menjadi bagian (terakhir) dari sari ceramah yang disampaikan oleh penulis pada saat melakukan sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 di Surabaya dan Solo pada bulan Mei dan Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ASEAN Unite!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh!  Itu kata pepatah (wisdom) orang tua kita.  Dalam perspektif kita  ASEAN adalah Indonesia dan Indonesia adalah ASEAN, maka kata ‘kita’ di atas adalah keduanya: Indonesia dan ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai  visi para pemimpin ASEAN pada tahun 2015 wilayah Asia Tenggara akan menjadi kesatuan ekonomi: menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;one single market and production base&lt;/span&gt;, ketika arus barang, jasa, modal, termasuk ketenagakerjaan.  Intinya:  kita menghapuskan ‘border’ di sektor-sektor ekonomi yang telah disepakati sehingga kita menjadi suatu kesatuan besar dalam berurusan dengan dunia luar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahapan berlakunya (entry into force) Piagam ASEAN, menyerupai proses Eropa pada tahun 1993 yang setelah melampaui proses selama 42 tahun, dengan terbentuknya The European Coal and Steel Community (1951) dan penandatanganan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maastricht Treaty&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Asia Tenggara yang menjadi satu kesatuan dengan ekonomi kawasan Asia Pasifik telah tumbuh menjadi kawasan yang paling dinamis di dunia.  Kawasan ini telah menjadi economic powerhouse yang terkemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila negara-negara anggota ASEAN tidak mempersiapkan diri secara bersama dalam menghadapi kompetisi global, melalui pengintegrasian seluruh potensi yang dimilikinya maka kita akan kalah.  Sebaliknya, tercapainya integrasi kawasan di dalam satu komunitas tunggal dengan derap langkah yang sama akan memperkokoh leverage kita di antara kekuatan ekonomi Asia Pasifik dan pada gilirannya secara bersama-sama bersaing dengan kelompok regional/sub regional lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ASEAN Charter : Satu Kesatuan Politis, Ekonomi, dan Sosial Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAHIRNYA Piagam ASEAN merupakan langkah strategis besar di dalam integrasi 10 negara kawasan untuk menjadikan Asia Tenggara satu kesatuan ekonomi, politis dan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN Charter menjadi  dasar hukum untuk integrasi sub-kawasan sebagai kesatuan yang dilandaskan dengan 3 pilarnya, yaitu (1) Komunitas Politik dan Keamanan, atau SPC, (2) Komunitas Ekonomi , atau EC, dan (3) Komunitas Sosial Budaya, atau SCC, guna menjamin tercapainya integrasi pada tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan ketiga pilar yang berfungsi sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;threshold&lt;/span&gt; menjadi prasyarat pembentukan komunitas untuk mengintegrasikan 10 negara ASEAN menjadi satu kesatuan politik, ekonomi dan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan komunitas politik dan keamanan, tentu tidak bisa dipandang enteng karena menjadi bagian penting dengan implikasi politis yang strategis, seperti perkembangan Uni Eropa sekarang ini.  Komunitas politis dan keamanan berfungsi menjadi perekat utama bagi integrasi 10 negara kawasan Asteng itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ke arah penyatuan komunitas politik di Asia Tenggara sebenarnya telah berlangsung jauh sejak berakhirnya Perang Dunia II, meskipun latar belakang Perang Dingin menjadi faktor yang malah memisahkan kawasan ke dalam 2 kubu yang bertolak-belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pembentukan komunitas sosial budaya, ASEAN menyadari pentingnya solidaritas dan identitas yang sama bagi rakyat-rakyat di kawasan, serta komitmen bersama  untuk menatap masa  depan di dunia yang kian ketat mengalami kompetisi di era globalisasi.  Ini penting untuk tecapainya satu identitas kita yang unik, agar gampang diingat dan membedakan kita dengan entitas lainnya di dalam pergaulan antar-bangsa dan kawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya komunitas ASEAN melalui Asian Charter telah pula menggiring pendekatan baru ASEAN yang semula berfungsi sebagai forum wacana dan negosiasi antar-pemerintah, kini berubah menjadi wadah organisasi yang menggerakkan proses integrasinya.  ASEAN pada tahapan kini harus dapat dirasakan langsung oleh 590 juta rakyat . ASEAN harus bermanfaat langsung, demikian retorika para pemimpin kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini sama dengan ketika negara-negara di Eropa menyepakati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maastricht Treaty &lt;/span&gt;(1993), dan ASEAN telah menjadi badan hukum, entitas yang dilandaskan aturan main yang berdasarkan hukum yang meletakkan kedudukan sama bagi semua anggotanya (equal footing).  Kedudukan sebagai badan hukum telah menjadikan kedudukan ASEAN seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;European Community&lt;/span&gt; atau PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Asia Tenggara khususnya dan Asia Pasifik umumnya kaya dengan potensi konflik, sebagai warisan dari Perang Dunia II.  Bahkan jika diteliti konflik-konflik atau anomisiti ini berasal dari sejarah ribuan tahun yang lalu.  Oleh karena itu, bilamana kita berbicara untuk pembentukan satu kesatuan komunitas yang kokoh maka diperlukan adanya suatu mekanisme untuk penyelesaian sengketa (dispute) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, ASEAN Charter telah mengatur kaidah umum untuk penyelesaiannya melalui mediasi, negosiasi, atau cara-cara damai sebagaimana dianut oleh Piagam PBB.   Tentu saja, pengaturan teknis akan diperlukan supaya tercipta suatu mekanisme yang menjamin diperolehnya system yang terpercaya (credible) adil  (just) , terbuka (open) dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobot Charter juga terdapat dalam menegaskan nilai-nilai demokrasi, HAM,  sustainable development,  good governance, dan poverty eradication, nilai-nilai yang dianut dunia kini ke dalam code of conduct kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN mempunyai tradisi pendekatan komprehensif, yang tidak hanya menekankan perlunya pembentukan pasar tunggal dari segi ekonomi semata, tetapi perlu juga memperhatikan penyatuan aspek sosial budaya, agar masyarakat memiliki ownership terhadap proses ASEAN itu sendiri.  Oleh karena itu, adalah menjadi kepentingan kita bersama agar semua proses dan penahapan dalam pembentukan 3 pilar berjalan seiring dan pada akhirnya pada tahun 2015 Komunitas ASEAN dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penguatan nilai-nilai sosial budaya, ASEAN menekankan pentingnya pemajuan HAM, demokrasi, good governance, lingkungan hidup, penanganan bencana manusia dan alam, pelintas-batas, dan penanggulangan kejahatan terorganisir.  Di samping itu, dirasakan penting  akses untuk human development, penyusunan strategi untuk pembangunan berkelanjutan, program pengentasan kemiskinan, kerjasama pendidikan, pemberdayaan wanita dan anak dalam kerangka memperkecil jurang pembangunan yang masih cukup besar di antara negara-negara anggota ASEAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ASEAN 2015: Perspektif Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYATUAN seluruh Negara kawasan menjadi suatu komunitas ekonomi merupakan tema yang paling sering dibahas.  Hal ini wajar karena tanpa keberhasilan membangun kekuatan ekonominya maka ASEAN akan kehilangan relevansi dan manfaat yang  dapat dirasakan langsung oleh rakyat-rakyat di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kesatuan pasar dan basis produksi berarti menjamin lancarnya arus barang, modal dan tenaga kerja menjadi tujuan utama penyatuan ekonomi ASEAN.  Ini yang menjadi isu utama dan perhatian bagi rakyat terutama kalangan usahawan.  Ini merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi semua Negara dan Sekretariat ASEAN sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;focal point&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu ada kekhawatiran untuk tercapainya komunitas ekonomi ASEAN tahun 2015 pada saat Asia Tenggara menjadi wilayah ekonomi terbuka yang terintegrasi erat dengan ekonomi dunia sebenarnya bukan mengubah kebijakan nasional.  Indonesia telah menjadi anggota WTO yang juga terikat dengan berbagai peraturan multilateral di bidang perdangangan, jasa, dan investasi seperti dianut oleh WTO.  Semua peraturan ekonomi ASEAN juga mengacu pada WTO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara nasional, kita berkewajiban untuk mendukung keterbukaan ekonomi ASEAN, melalui pertumbuhan ekonomi yang seimbang, dalam rangka mengejar ketertinggalan (development gap) agar menjadi kawasan yang memiliki daya-saing di percaturan ekonomi global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN telah menyepakati 12 bidang prioritas yakni, agro industry, otomotif, elektronik, perikanan, karet, tekstil, kayu, air travel, ICT, kesehatan, pariwisata dan jasa logistics (pergudangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki berbagai keunggulan komparatif maupun kompetitif di dalam berbagai sektor kegiatan ekonomi.  Oleh karena itu, keterbukaan Negara-negara ASEAN di bidang-bidang yang telah disepakati perlu dimanfaatkan dengan baik.  Pada saat bersamaan, berbagai tantangan yang ada di dalam negeri perlu diatasi.  Tanpa kemauan politik dari semua pemangku kepentingan: Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat sulit bagi kita untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing negara-anggota ASEAN memiliki pekerjaan rumah, yakni mengimplementasikan action plan di semua lini yang telah disepakati untuk diselaraskan dengan cetak biru  pembangunan nasional  di masing-masing negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sosialisasi untuk pemahaman bagi masyarakat umum juga perlu dibarengi dengan sosialisasi bagi para pelaku ekonomi, untuk ambil-bagian dalam proses dan menyampaikan usulan-usulan yang akan dipertimbangkan oleh Pemerintah Indonesia di dalam proses pengambilan keputusan yang akan berlaku bagi semua negara anggota ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengesahan ASEAN Charter, maka kedudukan Ibukota RI Jakarta meningkat menjadi ibukota ASEAN, seperti kota metropolitan New York atau Geneva sebagai ibukota PBB, maupun Brussels sebagai ibukota UE dan NATO.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan politis ini membanggakan bagi rakyat Indonesia.  Namun, di pihak lain masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan dalam menjadikan Jakarta sebagai kota internasional dan showcase bagi kita untuk menunjukkan potensi nasional yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat ASEAN ingin hidup esok menjadi lebih baik, dengan motto: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;one vision, one identity, one community&lt;/span&gt;, insya Allah dapat diwujudkan dalam 2015!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-2105128787332526772?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/2105128787332526772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/implikasi-terbentuknya-asean-komunitas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2105128787332526772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/2105128787332526772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/implikasi-terbentuknya-asean-komunitas.html' title='IMPLIKASI TERBENTUKNYA ASEAN KOMUNITAS 2015'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-8455213610643952455</id><published>2010-10-06T21:44:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T09:52:42.928-07:00</updated><title type='text'>ANATOMI KUNJUNGAN PRESIDEN RI KE LUAR NEGERI</title><content type='html'>SEORANG teman di Twitter mencoba merasakan kekecewaan KBRI dan masyarakat, seperti saya alami ketika bertugas di Warsawa, bilamana kunjungan Presiden RI yang sudah dipersiapkan lama tiba-tiba dibatalkan.  Pada bulan Desember 2009 yang lalu Presiden SBY menunda kunjungan kenegaraan ke Polandia karena Presiden Lech Kaczynski (alm) menderita sakit berkepanjangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menulis pesan itu, menyikapi pembatalan sekaligus untuk penjadwalan kembali kunjungan Presiden RI ke Belanda, seperti dinyatakan langsung oleh Presiden menjelang detik-detik keberangkatan di Bandara Halim Perdanakusumah, 5 Oktober yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kunjungan Presiden RI di suatu Negara akreditasi merupakan peristiwa yang luar biasa.  Jarang-jarang terjadi, seperti di Belanda kunjungan kenegaraan Presiden RI terakhir 40 tahun yang lalu.  Dubes dari Negara mana pun di dunia tetap berikhtiar untuk kunjungan kepala negaranya.  Jarang-jarang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunjungan Presiden: The Crown&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH kunjungan Presiden Soeharto pada tahun 1970, artinya dalam kurun waktu 40 tahun atau kl 10-12 dubes RI yang bertugas Presiden belum berkunjung.  Dan, bagi Belanda 25 tahun kemudian kunjungan Presiden Soeharto itu dibalas oleh Ratu Beatrix dalam kunjungannya ke Indonesia di bulan Agustus 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pada tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga melakukan kunjungan ke Belanda.  Tetapi kunjungan ini tidak dikategorikan sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;state visit&lt;/span&gt;, mungkin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;official&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;working visit&lt;/span&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY, setelah menerima undangan Ratu Beatrix 4 tahun yang lalu baru kali ini bermaksud memenuhinya, sebagai balasan terhadap kunjungan Ratu Beatrix, 15 tahun yang silam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Presiden SBY jadi melaksanakan kunjungan itu, maka ada rentang waktu 15 tahun terlampaui.  Betapa langkanya dan mahalnya kunjungan Kepala Negara di suatu negara.  Wajar jika dianggap “a crown of the mandate” oleh para duta besar dari negara mana pun dia berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Kunjungan presiden menjadi indikator pentingnya negara akreditasi sang dubes dalam perspektif politik luar negeri negaranya.  Artinya, atribut itu juga melekat pada gengsi sang dubes.  Juga, kunjungan kenegaraan bukan saja menandakan tahapan baru hubungan diplomatik tetapi memang selalu banyak terobosan positif yang dibuat, untuk kepentingan kedua negara tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan, di dunia ini terdapat 192 negara (statistic anggota PBB), maka kunjungan pada tingkat presiden dilakukan dengan sangat selektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat menlu sekalipun, atau Ketua DPR, kunjungan juga dilakukan sangat selektif.  Bisa 10-20 tahun Menlu atau Ketua DPR tidak melakukan kunjungan bilateral, apalagi di negara-negara yang dipandang kurang strategis dan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kedudukan dubes selalu berada di sisi presiden, sering kesempatan itu memungkinkan bagi presiden mengenal lebih dekat orang yang mewakilinya di negara akreditasi.  Artinya, ada kans untuk promosi jabatan, walaupun ada juga cerita negatif jika dubes ternyata konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Fanny Habibie hampir beruntung memperoleh “the crown”.  Tetapi, at the last minutes, keputusan pembatalan kunjungan ke Belanda disampaikan oleh Presiden SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun gagal kunjungan Presiden SBY karena Presiden Kaczynski sakit, tetapi saya masih beruntung.  Karena, keputusan untuk melaksanakan kunjungan ke Polandia diputuskan langsung oleh Presiden, dan sudah memiliki nilai plus tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kesibukan KBRI dalam mempersiapkan kunjungan itu luar biasa.  Semua dilibatkan, termasuk masyarakat.  Komunikasi dengan Jakarta menjadi intensif, baik hal-hal keprotokolan maupun substansi.  Ada kegairahan di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama bekerja di Kemlu dan di Pewakilan RI, saya sudah belasan kali menangani atau bertugas untuk persiapan kunjungan kenegaraan.  Karena kunjungan presiden adalah ‘crown’ maka ilmu yang diperoleh dalam pengalaman ini juga bernilai emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perspektif Diplomasi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan kenegaraan menjadi peristiwa terpenting dalam hubungan bilateral.  Karena itu, muatan substansi, pengaturan keprotokolan dan sekuriti, sangat sensitif.  Dia menjadi bagian terpenting dari keseluruhan kerangka hubungan dan kerjasama bilateral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi membuka jalan baru, memelihara dan bahkan meningkatkan spirit kerjasama, atau juga meredam jika diperkirakan akan terjadi gejolak.   Maka, pembatalan suatu kunjungan perlu dilakukan sedemikian rupa agar tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;counter-productive&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan khusus kita dengan negara sahabat, misalnya karena bertetangga atau memiliki sejarah unik berpotensi untuk menimbulkan krisis karena itu mendapat perhatian ekstra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang terjadi antara Indonesia dengan beberapa negara mencuat akhir-akhir ini dan sering &lt;span style="font-style:italic;"&gt;out of control&lt;/span&gt;.  Contohnya, peristiwa penahanan 3 pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan baru-baru ini dekat Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penundaan kunjungan di saat delegasi sudah berada di bandara memang tidak pernah terjadi dalam sejarah diplomasi RI.  Situasi itu menjadi istimewa (extra ordinary), karena tidak ada preseden, dan sensitif karena menyangkut sejarah di masa lalu yang sarat politis.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden sebagai Kepala Negara menilai jika iklim belum kondusif, berkaitan dengan persidangan di pengadilan Den Haag yang menempatkan Presiden RI sebagai terdakwa, sebaiknya menunda kunjungan itu. Ramai di mana-mana, karena keputusan penundaan menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;politically sensitive&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, beberapa masalah hubungan bilateral yang sensitif juga terjadi dengan Singapura, Australia, atau dengan Vanuatu yang terletak di tengah Samudera Pasifik Selatan dan bahkan dengan Amerika Serikat.  Memang tugas diplomasi untuk merapikan kembali jalinan hubungan yang indah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Praktik Diplomasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUJUNGAN bilateral merupakan means dalam diplomasi.  Diplomasi sekarang tidak hanya melibatkan pemerintah, institusi kenegaraan seperti DPR, MPR, DPD, BPK, KPK, MK dan sebagainya juga turut memainkan peran diplomasi.  Kecenderungan ini menguat pada era reformasi di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat pemerintah selain presiden, terdapat kunjungan pada tingkat menteri luar negeri, menteri-menteri teknis dan pejabat yang lebih rendah di bawahnya. &lt;br /&gt;Kunjungan adalah salah satu cara untuk tingkatkan hubungan dan kerjasama bilateral.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya kunjungan bilateral dibagi atas 3 tingkatan, yakni: (1) state visit, atau kunjungan kenegaraan, (2) official visit, atau kunjungan resmi, dan (3) working visit, atau kunjungan kerja.  Ketiga jenis kunjungan ini menjadi praktik internasional dan dipahami sama oleh semua negara-negara di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan Presiden SBY ke Belanda yang tertunda merupakan  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;state visit&lt;/span&gt;, atau kunjungan kenegaraan.  Hanya presiden yang menyandang hak dan status kunjungan jenis ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;State visit&lt;/span&gt; merupakan tingkat tertinggi dari semua jenis, karena itu wajar jika kunjungan tersebut dikaitkan dengan pertemuan bilateral yang disebut summit meeting, atau pertemuan puncak, atau KTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tertinggi, maka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;state visit&lt;/span&gt; dilengkapi dengan berbagai acara keprotokolan seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;courtesy calls&lt;/span&gt;, pidato di parlemen, jamuan malam resmi (state banquette), peletakan karangan bunga di makam pahlawan, dilengkapi pula dengan elemen kebesaran, seperti penyambutan dengan tembakan meriam 21 kali, defile parade tamu kehormatan (kadang-kadang dengan kereta kuda tradisional) dan sebagainya.  Ini juga menjadi praktik di dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja persiapan substansi menjadi lebih penting.  Untuk persiapan substansi ini ada kalanya menyita waktu bertahun-tahun, terutama apabila banyak persetujuan baru yang perlu dirundingkan, agar dapat ditandatangani pada saat kunjungan.  Untuk persiapan kunjungan Presiden SBY ke Belanda saya kira sejak Ratu Beatrix mengirimkan undangannya kepada Presiden SBY maka Kemlu dan KBRI telah memulai bekerja untuk persiapan substansi, yakni sejak 4 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, penundaan kunjungan pada detik-detik keberangkatan tidak menjadi biasa.  Pasti ada hal-hal yang sangat luar biasa dan menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;crucial&lt;/span&gt; bagi Presiden SBY yang akhirnya dengan berat hati memutuskan tidak berangkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian logistik, waktu dan energi pada kedua pihak sudah pasti.  Kerugian politis lebih mahal harganya karena menyangkut hubungan kedua negara.  Kerugian politis lainnya, antara lain, tertundanya penandatanganan dokumen dan berbagai kesepakatan strategis baru, atau kesempatan untuk membuat komitmen-komitmen kerjasama baru yang positif bagi kedua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Karena dalam salah satu program perundingan bilateral kedua pemimpin bangsa akan mengambil keputusan politis, mengenai perkara-perkara besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme ini lazim di dunia.  Seperti dulu di zaman Perang Dingin, dalam summit AS – Rusia selalu diharapkan muncul breakthrough, setelah para perunding tingkat menteri mentok, untuk member kesempatan bagi para pemimpin membuat keputusan atau kesepakatan baru, misalnya mengenai jumlah hulu ledak nuklir, atau tentang senjata strategis yang diatur secara parity (seimbang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut juga summit, karena memang puncak dari berbagai perundingan pada tingkat lebih rendah secara bilateral, yang mungkin puluhan bahkan ratusan kali, adalah pertemuan puncak antara kedua kepala negara/pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan kunjungan presiden –terutama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;state visit&lt;/span&gt;-- pengaturan dilakukan dalam hitungan detik.  Begitu ketat pengaturan protokol dan sekuriti pada kunjungan kenegaraan presiden, tidak demikian halnya pada tingkat kunjungan yang lebih rendah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;official &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;working visits&lt;/span&gt;.  Pengaturan program dan keprotokolan diatur lebih praktis dan fungsional saja.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Presiden sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Head of State&lt;/span&gt; sekarang ini sering menggunakan kedua jenis kunjungan ini, apalagi di Eropa yang memiliki berbagai macam pertemuan di tingkat tertinggi.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Official&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;working visits&lt;/span&gt; digunakan karena tidak ada persyaratan protokol dengan asas resiprositas (timbal-balik), artinya siapa saja berkepentingan dan punya waktu dapat berinisiatif untuk melakukan kunjungan ke negara sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat pada tingkat dirjen hanya diperkenankan menggunakan mekanisme kunjungan kerja saja yang lebih teknis, jauh dari politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muatan Substansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persiapan kunjungan, dilakukan pembicaraan sampai ke tingkat teknis mengenai berbagai aspek kunjungan itu: keprotokolan dan sekuriti, logistik, akomodasi maupun substansi.  Tentu substansi menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;core&lt;/span&gt; terpenting secara politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah persiapan diselesaikan biasanya kedua Nngara memilih waktu tertentu untuk mengumumkan secara resmi ke public dan dunia internasional.  Jubir Istana, Dr. Teuku Faizasyah telah mengumumkan resmi rencana kunjungan Presiden SBY pada pekan lalu.  Tim aju (advance) baik keprotokolan, sekuriti, maupun substansi  masing-masing bekerja memenuhi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deadline&lt;/span&gt;, sehari sebelum Hari-H (D-Day).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan kunjungan Presiden SBY ke Belanda, telah disepakati substansinya a.l. kesepakatan untuk pengakuan kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, bukan tahun 1949 seperti tertera dalam dokumen Kerajaan Belanda, dokumen Joint Communique tentang Kemitraan Komprehensif, persetujuan teknis bilateral di berbagai bidang, seminar business, termasuk proyeksi kebijakan Pemerintah RI melalui pidato-pidato Presiden RI berbagai forum akademis dan parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden RI juga akan dianugerahi tanda kehormatan "Order of The Dutch Lion", dan penghargaan "Willem Van Orange"  dari Universitas Leiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kegiatan dan capaian substantif yang menandakan peningkatan hubungan dan kerjasama bilateral, termasuk berbagai isu-isu terpenting regional dan global dituangkan di dalam Press Statement di akhir kunjungan, untuk konsumsi dan rujukan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;APABILA telah diasumsikan semua persiapan telah tuntas, maka delegasi pun bersiap-siap.  Data delegasi, program acara, waktu keberangkatan, route dan detil penerbangan juga dikomunikasikan kepada negara sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Selasa siang itu (5/10) Presiden dan Ibu Negara telah berada di bandara Halim Perdanakusuma, sementara semua delegasi telah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;on board&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang krusial menjelang keberangkatan, Presiden RI mengumumkan langsung sendiri pembatalan kunjungannya.  Saya tidak ulangi lagi isinya karena telah dipublikasi meluas.  Presiden juga telah mengirim surat kepada mitranya, baik Ratu Beatrix yang mengirimkan undangan, maupun kepada Perdana Menteri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang tidak biasa, hanya karena situasi yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;extra ordinary&lt;/span&gt; (luar biasa) dilakukan pembatalan kunjungan di tempat beberapa menit sebelum berangkat.  Biasanya dilakukan dalam hitungan beberapa hari, dan hanya karena alasan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;legitimate&lt;/span&gt;.  Presiden Obama memutuskan penundaan kunjungannya ke Indonesia sekitar 1-2 hari sebelum Hari H, ketika badai Katrina melanda AS.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Lazimnya persiapan kunjungan dilakukan lebih awal.  Memang penjadwalan kunjungan adalah yang paling sulit, karena menyangkut agenda VVIP. Sering tertunda-tunda tetapi publik tidak mengetahui adanya penundaan karena belum disiarkan secara resmi.  Berbagai pertimbangan pembatalan, atau tepatnya dalam istilah diplomasi ‘penundaan’ adalah krisis politik di dalam negeri atau di negara tujuan, ancaman keamanan, atau seperti kasus penundaan kunjungan ke Polandia karena tuan-rumah sakit parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peristiwa kemarin, pengumuman sudah disampaikan oleh pengambil keputusan di Jakarta yang  aware adanya dinamika internal di Belanda berkaitan tuntutan menghadirkan Presiden RI sebagai terdakwa pada pengadilan Den Haag berkaitan dengan pelanggaran dan kejahatan HAM di Ambon dan Papua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya media juga menyiarkan kemungkinan pembatalan kunjungan Presiden RI pada saat Dubes Fannie Habibie mengecam Geert Wilders, seorang politisi ekstrim kanan anti-Islam dari Party for Freedom (PVV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan berikutnya saya akan mengulas repercussions (gelombang reaksi) dari keputusan politis penundaan kunjungan Presiden SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 7 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-8455213610643952455?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/8455213610643952455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/anatomi-kunjungan-presiden-ri-ke-luar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8455213610643952455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8455213610643952455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/anatomi-kunjungan-presiden-ri-ke-luar.html' title='ANATOMI KUNJUNGAN PRESIDEN RI KE LUAR NEGERI'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-282746948287787472</id><published>2010-10-03T20:48:00.000-07:00</published><updated>2010-10-03T21:09:57.078-07:00</updated><title type='text'>INDONESIA DAN ASEAN</title><content type='html'>SEJARAH organisasi sub regional ASEAN adalah bagian dari pelaksanaan politik luar negeri bebas dan aktif.  Wilayah Asia Tenggara menjadi lingkaran paling strategis bagi Indonesia: kita mencegah Asteng menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;staging ground&lt;/span&gt; untuk menggerogoti Indonesia, sekaligus menjadi kannya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;platform&lt;/span&gt; untuk memperluas pelaksanaan politik luar negeri di lingkaran terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If you  can not win the battle against your enemies, join them!&lt;/span&gt;  Mungkin  statement ini berlebihan, karena pasti bertentangan dengan prinsip dasar polugri bebas dan aktif.  Kalimat ini menjadi lain, jika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;if you can not defeat them, win their hearts and minds!&lt;/span&gt; Inilah diplomasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dalam sejarah perjuangannya adalah bangsa yang tidak mau menyerah.  Meskipun dengan peralatan sederhana, para pejuang kita dengan semangat yang tinggi mampu memenangkan peperangan sehingga  menjadikan kita bangsa merdeka.  Dengan pendidikan dan pengalaman sederhana, dulu para diplomat kita mampu bertarung melawan kolonialisme ketika debat di DK-PBB tahun 1948-1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mempelajari  sejarah ASEAN yang kini telah berusia 43 tahun juga belajar sejarah Indonesia.  Pada saat negara porak-poranda secara ekonomi di akhir Orde Lama, gagasan dan ide memainkan peranan dalam pembentukan organisasi sub-regional itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Quid Pro Quo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA saat ASEAN didirikan, lebih tepat kita ingin ‘menjinakkan’ lingkungan di negara-negara tetangga agar tidak bersikap bermusuhan dengan kita.  Di kala ekonomi susah, tidak mungkin mengajak rakyat berperang lagi.  Berakhirlah politik konfrontasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan negara-negara tetangga kita yang bosan atau kerepotan berkonflik dengan Indonesia, maka persuasi kita diterima.  Lebih baik berteman daripada berkonfrontasi dengan Indonesia yang memiliki persoalan segudang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan baru Indonesia untuk membentuk organisasi sub-regional Asia Tenggara dilatarbelakangi oleh memuncaknya suasana pertentangan ideologis komunis vs liberalism di era Perang Dingin, pasca lahirnya Orde Baru di tahun 1966.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soeharto dengan cermat membaca situasi global yang tidak kondusif.  Dia memutuskan mengakhiri konflik dengan Malaysia dan urgensi untuk terciptanya keamanan di Asia Tenggara.  Observasinya  kemudian melahirkan ASEAN, 8 Agustus 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin Indonesia ketika itu menyadari pentingnya pendekatan yang tepat, mengambil pengalaman gagalnya gagasan pembentukan organisasi regional, seperti Maphilindo atau SEATO yang sarat dengan kepentingan politis atau keamanan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soeharto juga menyadari, gagasannya bisa dipandang kontroversial di tengah-tengah maraknya Perang Vietnam, persaingan pengaruh Uni Soviet lawan Amerika Serikat, sengketa antara Rusia – Jepang, Jepang dan Korea, China, atau antara Vietnam dan China maupun dengan Thailand. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di antara sesama Negara Asia Tenggara masih membekas trauma konflik di masa lalu atau masih berlangsung sengketa, misalnya antara Indonesia – Malaysia, sementara Malaysia juga masih sengketa dengan Singapura, dan situasi di Filipina masih membara pemberontakan komunis dan gejolak di Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pendekatan diplomatis, Soeharto mengajak Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura untuk merumuskan ASEAN.   Buah upaya itu melahirkan Deklarasi Bangkok, ditandatangani oleh para menteri luar negeri 5 negara, yakni Adam Malik (RI), Rajaratnam (Singapura)  Tun Abdulrazak (Malaysia), Thanatkhoman (Thailand) dan Ramos (Filipina).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya adalah win-win, quid pro quo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ASEAN berusia 43 tahun, para negarawan dari 10 anggota ASEAN sekarang bisa mendeklarasikan “We are all the winners”, mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10 Negara ASEAN: Unity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMBOYAN di ASEAN adalah berkembang atas kesepakatan bersama, dan dengan laju yang nyaman bagi semua pihak (at pace comfortable to all).  Para pemimpin ASEAN menyadari perlu kesabaran dan bijaksana menyikapi berbagai perkembangan.  Perlu kondisi psikologis dan proses confidence building untuk menciptakan kepercayaan (trust) di antara bangsa-bangsa Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai keanggotaan 5 negara, ASEAN kemudian berkembang perlahan, mulai dengan masuknya Brunei  Darussalam (1984), disusul Laos, Myanmar,  Vietnam (1997), dan akhirnya Cambodia (1999) sehingga menjadi genap menjadi 10 negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan selama 43 tahun, ASEAN telah memberikan kontribusi besar untuk tercipatnya perdamaian dan stabilitas kawasan, baik melalui pembentukan norma, kelembagaan maupun hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai debut pertama, lahirnya konsep Asia Tenggara sebagai ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom and Neutrality) 1971, kemudian deklarasi Bali Concord I (1976), Treaty of Amity and Cooperation (TAC 1976) yang menjadi code of conduct bagi Negara-negara kawasan maupun di sekitarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN semakin percaya diri, terutama sejak mencuatnya kembali peranan leadership Indonesia pasca reformasi, yang melahirkan ASEAN Vision 2020, Bali Concord II ( 2003) dan akhirnya ASEAN Charter (2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;What’s Next?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELAH disepakati, Indonesia akan menjadi tuan rumah ASEAN di tahun 2011, atau dalam bahasa Uni Eropa kita memegang presidency ASEAN.  Kedudukan ini strategis bagi kita, karena ASEAN telah memasuki era Charter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia menduduki tempat strategis, karena menjadi yang terbesar, dan karenanya de facto menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;US-ASEAN Summit di New York pekan lalu menjadi kurang bergaram.  Ketidakhadiran Presiden SBY menjadi faktor, begitu kata media.  ASEAN memerlukan leadership Indonesia, bahkan kehadiran Presiden RI atau tidak selalu memiliki arti simbolis, dan wajar menjadi pengamatan para diplomat.  Meskipun kita tahu, agenda Presiden SBY cukup padat di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal  tahun 2010 Indonesia telah mempersiapkan diri untuk kepresidenan ASEAN.  Tidak sekadar mengatur ribuan pertemuan dari berbagai tingkat dalam kerangka ASEAN, tetapi Indonesia diharapkan mampu memimpin ASEAN secara strategis untuk kepentingan jangka-panjang.  Untuk itu, Indonesia perlu muncul dengan berbagai gagasan-gagasan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setahun jabatan keketuaan ini, Indonesia akan diuji, dinilai seberapa jauh capaian diperoleh dalam mendorong kemajuan ASEAN, dan tentu untuk kepentingan nasional kita.  Perjuangan kepentingan nasional tidak mesti mengorbankankepentingan regional, bahkan global.  Menjadi kewajiban kita semua untuk menyelaraskannya secara harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menakhodai ASEAN di tahun 2011, Indonesia sekaligus menjadi pemimpin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;de facto&lt;/span&gt; maupun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;de jure&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 4 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-282746948287787472?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/282746948287787472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/indonesia-dan-asean.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/282746948287787472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/282746948287787472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/10/indonesia-dan-asean.html' title='INDONESIA DAN ASEAN'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-6554565146566327218</id><published>2010-09-26T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-09-26T20:52:40.783-07:00</updated><title type='text'>MENYONGSONG PEMBENTUKAN KOMUNITAS ASEAN 2015</title><content type='html'>RATIFIKASI Piagam ASEAN (Charter ) oleh keseluruhan 10 negara-anggotanya pada akhir tahun 2009 menjadi tahapan terpenting dalam sejarah 42 tahun usia organisasi sub-regional di Asia Tenggara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan politik terpenting yang diambil oleh seluruh kepala negara/pemerintah dalam pertemuan di Singapura dalam kerangka-waktu singkat 6-tahun adalah pembentukan komunitas ASEAN  pada tahun 2015.  Setelah KTT, maka, seluruh negara-anggota, terutama Indonesia,  dalam waktu singkat perlu bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan rumah untuk pembentukan 3 pilar komunitas yakni (1) politik dan keamanan, (2) ekonomi, dan (3) sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang paling besar adalah pembentukan komunitas ekonomi, bahwa pada tahun 2015 wilayah Asia Tenggara akan menjadi kesatuan ekonomi: menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;one single market and production base&lt;/span&gt;, ketika arus barang, jasa, modal, termasuk ketenagakerjaan mengalir lancar tanpa hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik pengalaman Eropa dalam integrasinya, pembentukan komunitas ekonomi (European Community) memerlukan waktu yang panjang,  42 tahun.  Eropa menjadi satu kesatuan ekonomi baru dicapai pada tahun 1993, sejak terbentuknya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The European Coal and Steel Community&lt;/span&gt; pada tahun 1951.  Bersamaan di tahun 1993, para pemimpin Eropa juga menandatangani &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maastricht Treaty&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN Charter kurang lebih berfungsi sama seperti Maastricht Treaty, menjadi landasan hukum untuk pembentukan komunitas di kawasan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan komunitas politik dan keamanan, tentu tidak bisa dipandang enteng karena menjadi bagian penting, landasan politis untuk integrasi 10 negara kawasan Asteng itu.  Pemikiran ke arah penyatuan komunitas politik sebenarnya telah berlangsung jauh sejak berakhirnya Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pembentukan komunitas sosial budaya, ASEAN menyadari pentingnya solidaritas dan identitas yang sama bagi rakyat-rakyat di kawasan, serta komitmen bersama  untuk menatap masa  depan di dunia yang kian ketat mengalami kompetisi di era globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di bawah ini merupakan sari dari ceramah yang disampaikan oleh penulis pada saat melakukan sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 di Surabaya dan Solo pada bulan Mei dan Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa Penting Komunitas ASEAN?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES pembentukan organisasi regional dan subregional marak ketika berakhirnya Perang Dunia II.  Di Eropa, para pemimpin menyadari kepentingan integrasi wilayah untuk menghindari terulangnya perang-dunia yang telah menghancurkan wilayah, ekonomi dan kemanusiaan.  Pada saat gagasan dilontarkan di Eropa pada akhir PD II, harapan untuk integrasi Eropa dipandang utopia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembentukan integrasi wilayah Eropa diawali dengan kepentingan politis guna menghindari perselisihan yang muncul dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;imbalances of power equation&lt;/span&gt;, ketika negara kuat mengintimidasi yang lemah, bilamana konflik wilayah, etnis, dan bahkan agama menjadi sumber perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;European Coal and Steel Community&lt;/span&gt; sejak tahun 1951 membuktikan kerjasama Prancis dan Jerman berjalan baik.  Baja memang menjadi sumber industry, termasuk militer.  Jika pasar yang menentukan suplai dan demand, maka pertimbangan ekonomi menjadi lebih menonjol, ketimbang perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, pada kondisi yang kian membaik itu tujuan-tujuan stabilitas keamanan dan perdamaian menjadi berkembang pesat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kini Uni Eropa tidak saja menjadi entitas yang kokoh secara politis, tetapi juga menjadi aktor ekonomi  global yang telah memiliki identitas dan nilai-nilai yang modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi UE sekarang adalah menciptakan perdamaian, kemakmuran dan stabilitas bagi rakyat Eropa.  Tadinya persoalan batas-wilayah menjadi sumber konflik, maka dengan penyatuan seluruh Negara anggota dalam kesatuan wilayah, Uni Eropa kini beranjak dari zona kesatuan ekonomi  yang berambisi dalam peran politik global.  UE juga mengupayakan pertumbuhan ekonomi dan sosial yang seimbang bagi rakyat di 27 negara-anggota.  Para pemimpin Eropa menyadai kondisi yang dibentuk secara sadar dengan susah-payah seperti ini diperlukan untuk kesatuan Eropa menghadapi kompetisi di era globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Uni Eropa juga dicermati oleh kelompok Negara di berbagai belahan dunia, misalnya Afrika (Uni Afrika), Amerika Latin (Mercosur), Timur Tengah (GCC), termasuk ASEAN di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan ratusan organisasi regional atau sub-regional, boleh dikatakan hanya 2 organisasi yang memiliki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;success story&lt;/span&gt;, yakni Uni Eropa dan ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Komunitas ASEAN kurang lebih mengalami proses serupa.  Apakah tingkat integritasnya nanti pada akhirnya dapat berwujud pada entitas Uni Eropa tergantung pada perkembangan ke depan.  Sesuatu yang sulit disepakati pada masa sekarang, seperti pengalaman Uni Eropa dengan impiannya, terbukti berjalan melebihi targetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bolehlah kita bermimpi di suatu saat integritas ASEAN semakin menguat: akan terbentuk satu wilayah ekonomi dan moneter yang didukung oleh mata uang tunggal, diikuti dengan pembentukan parlemen, angkatan bersenjata, dan bahkan kebijakan luar negeri yang sama, bahkan untuk suatu entitas pemerintahan yang tunggal pula! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Stabilitas Perdamaian dan Keamanan untuk Apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEAMANAN (security) adalah kondisi yang  tercipta karena tercapainya stabilitas dan perdamaian.  Kondisi ini bermanfaat untuk  membangun manusia dan lingkungan yang diinginkan (ideal).  Keamanan baru dirasakan penting ketika terancam, atau hilang.  Manusia akan kembali ke naluri untuk mempertahankan diri: dalam unit yang lebih besar pada tingkat masyarakat bahkan rakyat di suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti udara yang gratis dan murah, keamanan selalu dianggap komoditas yang terjamin ada.  Padahal, untuk membina keamanan manusia menumpahkan berbagai upaya dan energy.  Mahal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aman (secure) dirasakan penting untuk pembangunan, terutama dengan hadirnya stabilitas dan perdamaian.  Stabilitas yang tercipta dalam jangka-panjang menghadirkan prediktabilitas situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka security hadir by design, dibentuk, dijaga dan ditingkatkan oleh manusia untuk memperoleh situasi kehidupan yang harmonis.  Sama seperti kehidupan di kampung, desa, rakyat memelihara harmoni dengan semangat hidup bertetangga baik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia pasca perang kemerdekaan merasakan keperluan itu.  Sebagai negara dan memiliki kawasan terbesar maka diperlukan situasi yang damai di kawasan.  Sebagai  de facto pemimpin di kawasan, kontribusi Indonesia sangat diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis, bila berbicara tentang ASEAN maka berarti hampir separuh atribut yang melekat adalah unsur Indonesia.  Dari 590 juta penduduk ASEAN, 40% atau 234 juga tinggal di Indonesia.  42% wilayah daratan Asia Tenggara yang seluas 4,4 juta km2 berada di NKRI, dan 40% dari GDP ASEAN yang telah mencapai USD 1500 milyar berasal dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Asia Tenggara pasca Perang Dunia II, seperti umumnya di kawasan Asia Pasifik, 50 tahun yang lalu sangat labil dan penuh dengan potensi konflik.  Dengan pengecualian di beberapa negara, kolonialisme tidak menyelesaikan tugasnya menyiapkan rakyat-rakyat di Asia Tenggara untuk berpemerintahan sendiri.  Samudera Pasifik, yang dulu diterjemahkan sebagai Lautan Teduh (Pasif) memang hanya tenang di permukaannya.  Dia menyimpan sejuta energi yang siap meletus, seperti Gunung Krakatau di tahun 1883 dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana tersimpan animositi, konflik wilayah, etnis, bahkan militer antar-negara.  Di dalam negeri juga demikian.  Seperti misalnya di Indonesia, sejak perang kemerdekaan kita mengalami beruntun konflik di dalam negeri: perjuangan proklamasi, pemberontakan, Trikora utnuk pengembalian Irian Barat, Dwikora dalam konfrontasi terhadap Malaysia, dan G30S/PKI yang meruntuhkan Orde Lama mengakhiri kekuasaan Presiden Soekarno.   Berbagai maneuver politik mercusuar pasca kemerdekaan dipandang hanya proses yang memiskinkan bangsa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan di kawasan tidak terbatas hanya di bidang politik semata.  Dalam kecemasan internasional pada perubahan iklim, telah muncul kesadaran untuk penanganan perlindungan lingkungan dan bahkan soal-soal praktis seperti keselamatan pelayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencuatnya isu-isu non politis itu berkaitan dengan menonjolnya soal-soal ekonomi pula.  Kawasan   Asia Pasifik pada umumnya, termasuk Asia Tenggara, telah menjadi economic powerhouse,  di mana negara-negara di kawasan sekitarnya  memerlukan sumber-sumber hayati dan non-hayati untuk keperluan pembangunan ekonomi  mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu penting berkaitan dengan menguatnya integrasi ASEAN melalui Charter ialah berkaitan dengan upaya pembentukan arsitektur regional (regional architecture).  Mengingat satu-satunya organisasi menonjol di Asia Pasifik, ASEAN telah pula menjadi motor atau driving force dalam diskursus yang sebenarnya mulai mencuat pada awal tahun 1990-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEAN memang memiliki posisi unik, ketiadaan rival organisasi serupa di Asia Pasifik mendorongnya untuk berperan aktif dan menjadi harapan dalam pembentukan struktur di Asia Pasifik melalui proses East Asia Summit (EAS).  Dukungan negara-negara-negara terpenting anggota EAS dari AS, Rusia, India, Jepang, Korea dan Australia, di samping Indonesia tentunya, akan menjadi milestone baru dalam proses integrasi kawasan Asia Pasifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 27 September 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-6554565146566327218?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/6554565146566327218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/menyongsong-pembentukan-komunitas-asean.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/6554565146566327218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/6554565146566327218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/menyongsong-pembentukan-komunitas-asean.html' title='MENYONGSONG PEMBENTUKAN KOMUNITAS ASEAN 2015'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-679449228839460498</id><published>2010-09-22T20:44:00.000-07:00</published><updated>2010-09-22T21:14:05.147-07:00</updated><title type='text'>SENI TEATER KUNO GAMBUH DI EROPA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrPSoSARPI/AAAAAAAAAHA/0SUe2jGR3X0/s1600/Foto-1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 206px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrPSoSARPI/AAAAAAAAAHA/0SUe2jGR3X0/s320/Foto-1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519952212253492466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SELAMA hampir 3 minggu pada bulan Juni 2009 yang lalu  (6-25 Juni), 31 seniman drama tradisional Bali ”Gambuh Desa Batuan” mengguncang Polandia, tepatnya di kota Wroclaw, Polandia baratdaya.  Di kota ini,  mereka diundang dalam rangka acara ”2009 Grotowski Year 2009” khusus untuk mempertontonkan seni pertunjukan kuno Bali –induk dari berbagai seni musik dan tari Bali—yang dikemas secara professional untuk suatu tontonan yang menarik.  Mereka bangga mewakili Indonesia di pentas dunia.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seni pertunjukan Gambuh sangat memukau,  pencinta teater tradisional dari Polandia dan berbagai negara Eropa berbondong-bondong ke Wroclaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group Gambuh Desa Batuan tiba di Polandia 6 Juni dan berpartisipasi dalam latihan bersama dengan para aktor dari Odin Theatre (Denmark) dan berbagai artis dari seluruh dunia untuk persiapan pertunjukan opera “Ur-Hamlet” – yang merupakan penafsiran orisinal dari kisah yang dikenal dalam drama ciptaan William Shakespeare.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama berada di Polandia,  Gambuh Desa Batuan yang dipimpin oleh I Made Suamba tidak hanya tampil dengan lakon-lakon khas Bali tetapi juga berkolaborasi dengan artis-artis dari berbagai negara.  Mereka menjadi artis terbanyak dalam pertunjukan drama “Ur Hamlet” yang kolosal 150 artis multinasional dari Jepang, Prancis, Taiwan, Brazil, Denmark, Polandia, Italia, Argentina, Mexico, Yunani, Spanyol, India, Ceko,Turki, Inggeris, Macedonia, Cyprus, USA, Belanda, dan Swiss.  „Ur Hamlet” menjadi pertunjukan utama dalam festival sekarang di Wroclaw.&lt;br /&gt;Pertunjukan monumental “Ur Hamlet” ini melibatkan sekitar 150 artis dan di bawah arahan sutradaranya Eugenio Barba.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain itu, para musisi dan penari tradisional Bali tampil untuk pertunjukan sendiri pada tanggal 19 Juni di Teater Puppet Wroclaw, dengan menampilkan berbagai legenda yang berasal dari kisah-kisah tentang Pangeran Panji, yang menjadi dasar dari berbagai bentuk teater dan wayang Jawa maupun Bali.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Pangeran Panji inilah yang menjadi dasar dari berbagai bentuk teater dan wayang Jawa maupun Bali. &lt;br /&gt;Dalam pertunjukan berikutnya, Gambuh Desa Batuan menampilkan teater topeng tradisional yang didasarkan pada cerita yang ditulis oleh kerajaan-kerajaan Bali dan lakon “Bali Jewels” di Rynek (Old Town), yang menjadi penampilan terakhir di pusat keramaian para wisatawan di Wroclaw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrQvUFRFGI/AAAAAAAAAHI/f38XM0FqRuQ/s1600/Foto-2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrQvUFRFGI/AAAAAAAAAHI/f38XM0FqRuQ/s320/Foto-2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519953804559193186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penampilan mendapat sambutan meriah dan antusiasme dari para pengunjung yang merupakan upaya promosi hebat budaya dari Pulau Seribu Candi di Polandia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengenalan saya dengan Gambuh terjadi kebetulan karena saya sendiri hanya sebatas menjadi penikmat seni. Kebetulan Dawid Martin, pemain dan pelatih the Warsaw Gamelan Group, menginformasikan acara ini setelah melihat publikasinya di salah satu sudut kota Warsawa.  Dawid juga berhasil berbicara via telpon dengan salah satu rombongan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan Dawid, para seniman Gambuh Bali khusus diundang ke Polandia untuk menyemarakkan kegiatan UNESCO di Wroclaw memperingati 10 tahun wafatnya Jerzy Grotowski (1933 – 1999), seorang sutradara, pendidik dan ahli teater Polandia. Dalam acara peringatan yang bertajuk “The World as a Place of Truth”, panitia juga menyelenggarakan  konperensi, seminar, penerbitan buku, pemutaran film, konser, pertunjukan dan pameran tentang Grotowski.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Budaya Bali mempesona orang-orang Eropa sejak pertama kalinya para pelautnya mendarat di pulau ini.  Bagi kebanyakan artis Barat, Bali menjadi sumber inspirasi.  Salah satu di antaranya adalah Jerzy Grotowski (1933 – 1999) seorang sutradara, pendidik dan ahli teater Polandia.  Tahun ini merupakan peringatan 10 tahun wafatnya Grotowski dan ultah ke-50 ”Teater of 13 Rows” yang didirikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan, tahun 2009 dinyatakan oleh UNESCO sebagai The Grotowski Year.  Sebagai bagian dari peringatan, Institut Grotowski di Wroclaw menyelenggarakan festival bertajuk “The World as a Place of Truth” dengan partisipasi Gambuh Desa Batuan Ensemble dari Bali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Luar Biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA saya dan isteri tiba di Wroclaw, setelah menempuh 6 jam perjalanan darat, Gedung Teater Wayang telah dipenuhi penonton.  Direktur Teater setelah berpidato meminta saya menyampaikan sepatah kata.  Tidak banyak yang dapat saya jelaskan, hanya pernyataan betapa pentingnya seni budaya bagi bangsa Indonesia, dan Bali memang menjadi salah satu the jewel budaya yang pantas diangkat ke pentas dunia.  Jika diminta berpidato setelah menyaksikan Gambuh tentu saya akan lebih pede.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena, selama satu setengah jam kemudian, saya dan seluruh penonton tersihir menikmati seni drama kuno Bali yang dikemas secara professional.  Yang unik bagi saya adalah lantunan nada sendu 5 seruling bambu yang terbesar pernah saya lihat.  Tentu dilengkapi dengan perangkat gamelan sederhana, diperkuat sekitar 10 pemain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu mereka menampilkan lakon “Tebek Jaran”, cerita klassik mengenai seorang pangeran bernama Panji, dibarengi dengan lelucon dan kesedihan, kegembiraan yang menghanyutkan perasaan.  Semua asli dalam bahasa Bali.  Sejumlah gadis-gadis Bali menari dan berdialog, diiringi musik yang disebut Gambuh itu.  Semuanya, 31 artis tampil di panggung, bergantian, menari berdialog.  Pertunjukan tanpa jeda ini diakhiri dengan grand finale disambut tepukan hadirin meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertunjukan, saya mengundang para artis dan rombongan untuk makan malam di restoran Thai yang terletak  di bilangan Old Town yang kuno dan indah.  Udara malam itu juga mendukung, cerah dan hangat. Kami berbincang-bincang panjang lebar sambil mengisi perut.  Maklum waktu sudah hampir jam 9 malam.  Saya memuaskan  keinginan tahu saya tentang Gambuh.  Perjalanan seni tradisional yang menjadi induk dari budaya panggung Bali sejak 1000 tahun yang lalu ternyata cukup panjang.  Pernah hampir hilang, tetapi hidup kembali menjadi perkasa, berkat jasa Cristina Wistari Formaggia, seorang WN Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda seharusnya melihat acara primadona kami”, kata Pino Confessa jurubicara kelompok itu mendampingi pimpinan artis I Made Suamba.  Dia merujuk pada lakon “Ur Hamlet”.  Menurut Pino, selama 3 malam berturut-turut Gambuh tampil dalam acara kolaborasi bersama lebih dari 100 artis lain berbagai bangsa, dalam penampilan “Ur Hamlet”, yang merupakan penafsiran orisinal dari kisah drama ciptaan William Shakespeare.  Pada penampilan ini, Gambuh Bali menyumbang artis terbanyak, dan memang ternyata menjadi sokoguru pertunjukan kolosal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya lagi, tidak pernah Hamlet ditampilkan sedemikian kolosal, dan untuk menyiapkan pertunjukan itu sutradara Eugenio Barba perlu melakukan riset dari berbagai musik Timur dan Barat sejak tahun 1960, selanjutnya mengadakan berbagai latihan sejak tahun 2003 di Denmark, tahun 2004 di Seville, Spanyol, lalu di Bali dan akhirnya pada tahun lalu di Ravenna, Italia. Semua aktor menggunakan kostum aslinya, untuk menekankan karakter budaya yang berbeda.  Musuh Hamlet yang diduga berasal dari luar ternyata berada di tubuh sendiri,  yakni pada lapisan gelap di masyarakat yang tadinya dipandang teratur.  Ketika dunia runtuh, Hamlet pun mengambil alih, mendeklarasikan Orde Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kebangkitan kembali Gambuh yang sebelumnya terancam punah cukup panjang dan tidak mudah, ujar Pino yang juga menjadi Konsul Kehormatan Italia di Bali.  Dia sendiri sejak 8 tahun yang lalu menjadi WNI, dan telah tinggal puluhan tahun di sana.  Dia sudah menjadi orang Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa itu Seni Gambuh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrRFV4X00I/AAAAAAAAAHQ/mEQIhDops7w/s1600/Foto-3.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrRFV4X00I/AAAAAAAAAHQ/mEQIhDops7w/s320/Foto-3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519954182999102274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMBUH adalah seni pertunjukan kuno Bali, mirip dengan teater No (Jepang) atau Khatakali (India), yang menggabungkan elemen tari, nyanyian, dialog dan musik orkestra gamelan yang mengandalkan suling gambuh.  Musik ini menggunakan 4 suling kuno yang terbuat dari bambu berukuran besar, yang dimainkan dengan iringan gendang, gong dan lonceng.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis teater upacara adat kuno ini hampir punah di abad ke-20, namun berkat jasa seorang koreografer dan penari asal Italia -- Cristina Wistari Fromaggia— Gambuh berhasil diselamatkan dan kini ditampilkan hanya di beberapa pura, salah satu di antaranya terdapat di Pura Desa Batuan, yang menjadi asal para artis yang tampil di Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group Gambuh Desa Batuan Ensemble terbentuk pada tahun 1993 atas inisiatif Cristina, yang  bertekad menyelamatkan seni gambuh yang hampir punah denga membuat proyek.  Seniman hebat ini meninggal pada tahun 2008 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sidarta Wijaya yang menulis “Gambuh: Ancestor of Balinese Dances (2007)”, Gambuh, merupakan tarian drama klasik yang menjadi asal-muasal tari Bali.  Menurutnya Gambuh berasal dari sekitar tahun 1007 pada saat Raja Udayana Warmadewa menikahi putrid Jawa dari Daha (Jawa Timur) yang bernama Cri Gunapriya Dharmapatni.  Ketika permaisuri tiba di Bali, dia juga menyertakan sejumlah penari yang ternyata tarian mereka sangat disukai sang Raja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambuh menggunakan seruling besar, rebab (biola), gendang, kempur, gangsi, klenang, kucicak, gumanak, gentorak, dan lukita, yang mengiringi dendang juru tandak (reciter).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alm. Cristina benar.  Dengan menyelamatkan Gambuh seperti dalam bentuk sekarang berarti menghidupkan kembali tari Bali yang hebat.  Dari semua tari dan drama Bali, kini Gambuh menjadi musik yang paling lengkap dokumentasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa Cristina Wistari Formaggia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CRISTINA adalah WN Italia yang sebelumnya telah melanglangbuana di dunia, terutama di India, sebelum berlabuh di Bali.  Di desa Batuan, dia mendedikasikan seluruh hidupnya, sampai akhir hayat untuk menghidupkan seni tari dan drama Gambuh yang kian sekarat hampir hilang.  Dia membenahi aspek-aspek artistik, dia sendiri mahir menari Bali klassik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Cristina meninggal, Jakarta Post menurunkan tulisan Rucina Ballinger 31 Juli 2008 bertajuk “Balinese 'gambuh' loses its guardian mother”.  Gambuh yang baru saja bangkit bersemangat terancam kembali ke tidur lama yang cukup panjang.  Tetapi Cristina memiliki teman-teman yang bergairah meneruskan pekerjaan besar ini.  Mereka adalah Pino Confessa dan Antonella de Sanctics, dan Gabriella Medici, seorang Denmark.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun teman-teman Alm. Cristina itu bersikap merendah.  Menurut mereka, yang menjadi obor kebangkitan Gambuh adalah orang-orang Desa Batuan sendiri.  Katanya, justru jiwa kebangkitan Gambuh ada pada anak-anak didik Cristina, yakni orang-orang Desa Batuan memiliki bakat dan dedikasi yang tinggi.  Mereka sendiri yang bangkit, dan kami menjadi fasilitator saja, kata Pino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrRSWyWstI/AAAAAAAAAHY/f-psfo4HZuM/s1600/Foto-4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrRSWyWstI/AAAAAAAAAHY/f-psfo4HZuM/s320/Foto-4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519954406580597458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Pino dan teman-temannya bukanlah fasilitator biasa.  Mereka memahami, seniman biasanya lemah dalam organisasi maupun manajemen.  Sedangkan, mengangkat Gambuh ke pentas internasional memerlukan dana.  Masalah pendanaan  selalu menjadi persoalan klasik dalam mengunduh seni, apalagi untuk karya-karya seni non-komersial seperti Gambuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat orang-orang Desa Batuan juga cukup tinggi.  Mereka, tanpa Cristina, terus berlatih dan tampil, meskipun hanya ditonton 2 orang.  Mereka berlatih tiap minggu.  Dulu, semasa Cristina hidup para warga Desa Batuan setiap latihan diberi nasi boks seharga Rp. 10 ribu.  Jika penjualan tiket kurang Cristina akan memberikan uangnya sendiri Rp 20 ribu perorang untuk 32 pemain dan pemusik.  Tradisi ini tetap dipertahankan oleh teman-teman Cristina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Cristina tiada, dengan semangat dan determinasi tinggi mereka harus berdiri dengan kekuatan sendiri.  Dari mulai komunikasi e-mail, peran pengganti Cristina yang selama ini memerankan Panji, pakaian panggung harus dipecahkan sendiri.  Termasuk untuk pertunjukan “Hamlet” yang memerlukan naskah dan rekaman dialog, khususnya pada bagian yang dimainkan oleh para seniman alam Bali dari Desa Batuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrRf0MG-1I/AAAAAAAAAHg/T717jln53Gc/s1600/Foto-6.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 208px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrRf0MG-1I/AAAAAAAAAHg/T717jln53Gc/s320/Foto-6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519954637811546962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Bali itu memiliki naluri dan bakat seni yang tinggi.  Mereka menghapal partitur dan adegan drama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja berlatih,  Cristina Wistari Formaggia juga menulis buku dalam 2 jilid “Gambuh : Drama tari Bali.,Tinjauan Seni, Makna Emosional dan Mistik, Kata-Kata dan Teks, Musik Gambuh Desa Batuan dan Desa Pedungan, terbitan Yayasan Lontar (2000).  Untuk artikel lainnya tentang Gambuh, bisa dilihat pada Juga  Jurnal Asian Music, Volume 36, Number 2, Summer/Fall 2005 yang memuat karya tulis Marc Perlman, Music of the Gambuh Theater: Bali's Ancient Dance Drama (review). Asian Music - Volume 36, Number 2, Summer/Fall 2005, terbitan University of Texas Pess. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 September 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-679449228839460498?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/679449228839460498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/seni-teater-kuno-gambuh-di-eropa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/679449228839460498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/679449228839460498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/seni-teater-kuno-gambuh-di-eropa.html' title='SENI TEATER KUNO GAMBUH DI EROPA'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/TJrPSoSARPI/AAAAAAAAAHA/0SUe2jGR3X0/s72-c/Foto-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-8066779786501416466</id><published>2010-09-15T20:46:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T21:37:45.054-07:00</updated><title type='text'>STUDI BANDING: SISI POSITIF</title><content type='html'>AKHIR-akhir ini banyak kritik masyarakat tentang studi banding anggota DPR RI ke luar negeri.  Terkesan mengolok-olok, masyarakat mengambil studi banding ke Afrika Selatan yang dikatakan “mempelajari pramuka di sana dalam rangka legislasi pembuatan UU Pramuka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dapat memahami, di era demokrasi kita masyarakat sangat aktif menyoroti penyelenggaraan negara yang belum berjalan seperti diharapkan.  Ketersediaan berbagai sarana atau medium, seperti blog, facebook atau twitter, untuk mencurahkan pendapat juga mendukung gejala ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menyadari, akhir-akhir ini DPR menghadapi kritik tajam beruntun, seperti masalah Bank Century, rumah aspirasi, penyogokan travel cek untuk pemilihan deputi senior gubernur BI yang menyeret puluhan anggota DPR bahkan termasuk politisi senior, absenteeism, pembangunan gedung DPR, legislasi yang masih menumpuk padahal tahun hampir berakhir, macet, dagang sapi (adakalanya menjadi ‘dagang babi’, maaf) dalam soal paraliamentary threshold dan berbagai deal politik lainnya: beruntun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai warganegara yang pernah terlibat di dalam perencanaan berbagai program kunjungan DPR ke luar negeri, maupun memfalisitasi pelaksanaannya di luar negeri, saya ingin share, berbagi pengalaman yang tentunya faktual dan proporsional, jauh dari insinuasi atau fantasia atau tuduhan-tuduhan yang emosional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Kunjungan Delegasi DPR RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM perspektif hubungan antar-negara, kunjungan resmi DPR atau kunjungan antar-parlemen memainkan peranan terpenting kedua setelah kunjungan kepala negara (presiden, raja).  Oleh karena itu, kunjungan resmi (official visit, atau muhibbah) selalu dilengkapi dengan acara-acara protokoler, seperti courtesy call kepada presiden/raja dan perdana menteri, jamuan malam resmi, ziarah ke makam pahlawan dsb.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling pokok adalah substansi tentunya.  Kunjungan resmi di suatu negara mencerminkan tingkat hubungan antar-negara, yang memberikan kesempatan untuk memperbarui (to renew) hubungan bersahabat dan komitmen negara, bertukar-fikiran terhadap perkembangan dan isu-isu global yang menjadi perhatian bersama, perkembangan di kawasan masing-masing, termasuk dukungan untuk peningkatan kerjasama bilateral di berbagai bidang.  Ini menjadi praktik lazim di seluruh negara di dunia, termasuk dari kelompok negara otoriter/totaliter sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat lebih rendah daripada kunjungan resmi adalah kunjungan kerja (working visit), yang melibatkan berbagai jenis delegasi dan keperluan, seperti misalnya kunjungan ke Afrika Selatan dan berbagai jenis delegasi parlemen ke luar negeri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan delegasi kerjasama antar-parlemen atau persahabatan yang merupakan komite tetap, anggotanya dari antar fraksi dan komisi, adalah elemen penting dalam hubungan bilateral.  Jenis kunjungan ini merupakan organ untuk menindaklanjuti hasil-hasil kunjungan resmi. Di setiap Negara terdapat organ yang menangani hubungan bilateral.  Di DPR RI disebut sebagai Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) dengan nomenklatur khusus (resmi) yang dikaitkan dengan negara tertentu, misalnya GKSB RI – Rusia, RI – India, RI – AS, RI – China dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya yang tidak kurang penting adalah kunjungan Komisi Luar Negeri (Komisi I di DPR RI), yang tentu saja dari satu komisi namun anggotanya dari berbagai fraksi/partai.  Kunjungan ini dilaksanakan pada negara-negara strategis, besar, atau memiliki intensitas hubungan yang tinggi dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada berbagai jenis kunjungan parlementer lainnya yang spesifik, misalnya kunjungan delegasi badan legislasi yang tujuannya untuk memperoleh perspektif bagaimana parlemen di negara sahabat itu menyusun dan mengawasi UU tertentu.  DPR RI selalu memilih negara-negara yang berpengalaman atau mengalami transisi menjadi Negara demokrasi sebagai negara tujuan dalam fungsi legislasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kunjungan yang penting lainnya adalah delegasi panitia khusus (pansus) yang diberi tugas spesifik. Tentu saja kunjungan dilaksanakan pada Negara-negara yang dipandang memiliki pengalaman penting dan intensif di bidang tersebut serta cocok dengan kondisi Negara kita.  Mungkin, kunjungan DPR ke Afrika Selatan masuk dalam kategori ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua jenis terakhir ini juga sifatnya antar fraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kunjungan delegasi parlemen itu sifatnya timbal-balik, bergantian.  DPR RI kita juga menerima berbagai kunjungan delegasi parlemen dari seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi Parlementer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADALAH suatu  kenyataan, di manapun parlemen yang merupakan lembaga tinggi Negara turut memainkan diplomasi dan memajukan kepentingan nasional.  Bahkan di tingkat global dikenal asosiasi parlemen dunia yang disebut dengan IPU yang lebih concern dengan masalah-masalah global dan memiliki hubungan asosiasi dengan PBB.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan negara-negara Islam, dikenal the Parliamentary Union of the OIC member states (PUOICM) yang membahas masalah-masalah dunia dan situasi spesifik di negara anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat regional ada yang dikenal sebagai Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF), di ASEAN sebagai AIPO (ASEAN inter-parliamentary organization) dan kini menjadi AIPA, berbentuk asosiasi yang lebih permanen.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan parlemen di atas bersifat multilateral dan mengeluarkan berbagai resolusi yang bersifat dukungan atau bahkan kecaman terhadap suatu masalah atau negara tertentu.  Sudah bisa dibayangkan, PUOICM sangat rajin mengeluarkan statement mengecam Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi parlementer, atau hubungan luar negeri yang dilaksanakan oleh parlemen termasuk jenis kegiatan internasional DPR RI, baik di dalam negeri ketika menerima kunjungan bilateral atau dubes negara sahabat maupun dalam konteks kunjungan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat, betapapun pelaksanaan berbagai kunjungan delegasi DPR belum lah maksimal seperti yang diharapkan masyarakat kita, namun konsekuensi dari piihan demokrasi mengharuskan kita menaruh respek, setidaknya pada kelembagaan.  Bagaimana pun juga, para anggota DPR telah terpiih secara demokratis dan mepertanggungjawabkan kinerjanya kepada rakyat atau setidaknya pada konstituten mereka.  Mereka, suka atau tidak suka, adalah putera terbaik yang merepresentasikan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, dan sesuai pengalaman, over-time akan terjadi peningkatan kualitatif anggota DPR dan institusi itu sendiri.  Tetapi, kita harus memulai dengan memberikan kesempatan untuk belajar, learning process, untuk menemukan best practices, lessons learned.  Pengalaman nyata di lapangan akan sangat berbeda hasilnya dibanding studi melalui internet yang belum tentu jelas pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun tradisi dan membentuk kelembagaan demokrasi jauh lebih sulit daripada memproklamirkan diri menjadi negara demokratis, seperti pengalaman kita sejak 1999.  Yang terpenting di sini tentu membangun manusianya dengan kultur demokratis yang berbeda dengan zaman otoriter di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri telah mengakui peranan parlemen, beserta LSM, masyarakat, pengusaha di dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri.  Berbeda dengan politik luar negeri yang masih menjadi domain pemerintah (seperti di seluruh negara di mana pun), hubungan luar negeri menjadi domain semua pemangku kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan saya, kunjungan-kunjungan delegasi DPR RI sangat membantu di dalam memajukan diplomasi dan mendorong polugri bebas aktif, serta untuk peningkatan kerjasama bilateral/kepentingan nasional yang saling-menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak Asal-Asalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM bentuk apapun atau misi apapun, kunjungan delegasi DPR RI selalu diawali dengan persiapan.  DPR RI selalu mengkomunisasikan rencana dan program (tentative) kunjungan dan selanjutnya mengundang pejabat Kemlu untuk membahas rencana kunjungan dan tujuan yang ingin dicapai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan itu digunakan oleh Kemlu untuk menyampaikan tanggapan, masukan, serta situasi hubungan bilateral, termasuk kerangka kerjasama antarparlemen. Tuan-rumah pertemuan biasanya organisasi/badan yang membuat rencana kunjungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPR RI sebelumnya telah mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang relevan (selalu tertulis) dengan maksud kunjungan.  Kami menjelaskan dan menyampaikan jawaban tertulis dan selalu diserta penjelasan verbal dalam pertemuan di gedung DPR RI.  Diskusi di sini merupakan kesempatan untuk pendalaman substansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila muncul pertanyaan yang memerlukan informasi dari perwakilan, maka pejabat Kemlu terkait akan mengoordinasikan terlebih dahulu dengan KBRI.  Maka, adakalanya pertemuan di gedung DPR itu berlangsung s/d 3 kali, sampai dipandang memadai/matang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil-hasil rapat/pertemuan itu merupakan bahan-bahan untuk penyusunan position paper delegasi.  Kemlu via KBRI  juga membantu di dalam mengoordinasikan program yang disepakati dengan DPR Negara sahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang, meskipun program dan substansi kunjungan sudah matang acara kunjungan mengalami penundaan berkali-kali bahkan sampai akhir tahun anggaran tidak terlaksana.  Hal ini disebabkan karena para anggota yang terdiri dari berbagai fraksi/komisi memiliki jadwal dadakan atau karena ada perkembangan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila persiapan telah berjalan lancar tanpa halangan atau hambatan maka delegasi DPR RI berangkat ke Negara tujuan dan disambut oleh Dubes RI beserta staf KBRI.  Biasanya kami langsung mengundang delegasi untuk rapat gabungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat gabungan ini bermanfaat untuk mengoordinasikan program atau menjelaskan secara lebih detil dan untuk pendalaman position paper.  Kesempatan ini digunakan oleh Dubes untuk menyampaikan perkembangan hubungan bilateral, masalah-masalah menonjol/pending matters termasuk situasi menyangkut WNI/TKI. Dubes juga menggunakan kesempatan untuk menitip pertanyaan atau meminta mengangkat permasalahan tertentu pada saat delegasi bertemu dengan mitra/tuan rumah di negara tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di negara tujuan, di samping hal-hal protokoler, telah diacarakan pada program kunjungan, al. pertemuan bilateral antar parlemen, courtesy call kpd ketua parlemen dan menlu, jamuan kehormatan untuk delegasi, pertemuan dengan menteri-menteri terkait (perdagangan, industry, pertahanan, hukum dsb) kunjungan ke industri-industri relevan, pertemuan dengan Kadin dan pengusaha, dan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia yang berada di negara akreditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Substansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KEMAJUAN dalam hubungan bilateral merupakan pokok substantive yang ingin diperoleh dalam kunjungan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dalam pertemuan resmi kedua pihak menegaskan-ulang hubungan bersahabat dan komitmen untuk peningkatan kerjasama bilateral di segala bidang.  Kedua delegasi juga menyampaikan briefing tentang situasi umum dan menonjol di kawasan dan di dalam negeri. masing-masing.  Berbeda dalam kunjungan tingkat resmi Ketua DPR RI, pada kunjungan yang lebih rendah masalah-masalah global tidak dibahas terlalu mendalam, biasanya lebih diutamakan membicarakan hal-hal terkait dengan fungsi parlemen, seperti legislasi, budget, pengawasan eksekutif, UU pemilu, otonomi daerah, parliamentary threshold, pencegahan money politics, ethics dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan pansus, waktu untuk pertemuan lebih banyak digunakan untuk pendalaman materi dengan komisi-komisi dan pejabat pemerintahan terkait dengan substansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dubes dan staf KBRI selalu turut menghadiri pertemuan-pertemuan, khususnya berkaitan dengan perkembangan dan pembahasan kerjasama bilateral, termasuk dukungan bagi pencalonan wakil atau negara Indonesia pada jabatan-jabatan di organisasi internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan kerjasama bilateral merupakan substansi yang menarik dan konkrit dibicarakan.  Dalam substansi kerjasama ekonomi kedua pihak berupaya mencarikan jalan keluar untuk memajukan kerjasama bilateral di bidang perdagangan, investasi, keuangan, tourism.  Pada substansi kerjasama bidang sosial budaya dibahas langkah-langkah lanjutan untuk mendorong partisipasi di berbagai event budaya, kerjasama iptek dan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan dengan masyarakat Indonesia, baik yang berada di lingkungan KBRI maupun masyarakat biasa, merupakan kesempatan bagi para wakil rakyat untuk bertemu dan mendengarkan keluhan mereka.  Selalu, para anggota DPR RI menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi WNI dalam kaitan humaniter maupun soal-soal status anak atau kewarganegaraan. Saya sering mendapat apresiasi dari WNI pada saat masalah yang mereka hadapi diselesaikan, tentu berkat dorongan dan akses yang dimiliki oleh anggota-anggota DPR yang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga mengambil manfaat tambahan berkat kunjungan delegasi DPR RI dalam menyangkut gagasan dan usulan, pemecahan masalah yang dihadapi oleh KBRI, misalnya program kerja strategis, akses ke departemen sektoral yang berkaitan dengan kerjasama G to G, anggaran, penyediaan sarana gedung kantor dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rekapitulasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBRI mencatat keseluruhan pertemuan dan hasil-hasil yang dicapai untuk disampaikan dalam bentuk laporan resmi kepada Menlu dan unit-unit terkait di Kemlu, serta mengirimkan copy laporan kepada Pimpinan DPR RI.  Di lain pihak DPR juga membuat laporan internal, khususnya berkaitan dengan aspek kerjasama antar-parlemen dengan negara sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas kunjungan pada delegasi DPR dari berbagai bentuk mencerminkan tingkat hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara tujuan.  Lebih dari sekadar protokol, kunjungan itu sangat bermanfaat untuk mendorong peningkatan kerjasama bilateral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pengalaman DPR RI dalam kunjungan ke berbagai Negara tentu tidak sama, bervariasi, sesuai dengan bobot dan peranan global/regional Negara sahabat tersebut serta tingkat dan dinamika kerjasama bilateralnya dengan Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin berbeda dengan dugaan publik bahwa delegasi DPR yang melakukan kunjungan menghabiskan waktu belanja atau piknik, dalam pengalaman saya seluruh delegasi meskipun menyatakan puas dengan hasil-hasil dicapai mereka juga komplain tidak terjadwalnya waktu bebas untuk istirahat sejenak kecuali kesempatan untuk mengunjungi kota-tua dan makan malam di restoran tradisional di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2009, kami menerima tidak kurang dari 8 delegasi kunjungan parlemen, yang terdiri dari kunjungan resmi, komisi, badan, DPD, termasuk dari provinsi.  Semuanya dengan kesimpulan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun institusi kenegaraan, termasuk DPR dan demokrasi memerlukan waktu, tenaga, dan kontribusi kita semua, dengan demikian menjadi tanggung jawab bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Dubes RI untuk Republik Polandia, Desember 2006 - April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-8066779786501416466?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/8066779786501416466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/studi-banding-sisi-positif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8066779786501416466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8066779786501416466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/studi-banding-sisi-positif.html' title='STUDI BANDING: SISI POSITIF'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-3137235399129730758</id><published>2010-03-29T09:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T04:49:01.706-07:00</updated><title type='text'>PORTUGAL : MENYUSURI JEJAK ISLAM DI EROPA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUIhFzn2I/AAAAAAAAAFI/jCPMTE7v3Yk/s1600/P-1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUIhFzn2I/AAAAAAAAAFI/jCPMTE7v3Yk/s320/P-1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454092391532437346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMI bersyukur, pada akhirnya dapat berkunjung ke Portugal pada awal Maret yang lalu.  Di kota Lisbon yang penuh gurat sejarah kejayaan bangsa Portugis di masa lalu  terutama  di abad kelima belas sampai keenambelas bermukim teman lama kami, Ibu Andalusi yang bertugas di KBRI Lisbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Portugis pernah mengadakan ekspedisi ke Indonesia di tahun 1512, pada masa puncak kejayaan imperiumnya.  Portugal dulu menjadi superpower di bidang ekonomi karena menguasai lautan. Negeri ini juga berjasa memopulerkan rempah-rempah kita di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini banyak kota dan tempat mengambil nama Arab.  Kenapa?  Sebelumnya Islam menduduki negeri ini sejak abad ke-8 selama 450 tahun!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah juga pernah memenjara hubungan Indonesia - Portugis dalam soal Timor Timur.  Selama 24 tahun diplomasi kita repot menghadapi ‘krikil dalam sepatu’, menurut istilah mantan Menlu Ali Alatas, yang cukup banyak menghabiskan energi.  Padahal, menurut berbagai sejarawan yang juga diakui dalam berbagai buku-buku teks di Amerika dan Eropa Indonesia tidak memiliki ambisi perluasan wilayah di Timtim (sekarang: Timor Leste).  Perang Saudara yang terjadi di Timtim, sebagai akibat dari kudeta militer di Portugal yang disebut sebagai &lt;em&gt;Carnation Revolution &lt;/em&gt;di tahun 1975, kemudian mencemplungkan Indonesia ke tengah-tengah konflik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran superpower AS yang takut Timtim menjadi komunis (the domino theory), maka diminta agar Indonesia masuk pada tahun 1975.  Indonesia berada di sana sampai tahun 1999, setelah referendum PBB.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, hubungan Indonesia-Portugal sangat baik, dan tali-temali budaya pun terungkap.  Banyak jejak-jejak budaya dan arsitektur Portugis yang terdapat di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUgyfqkjI/AAAAAAAAAFY/-SmK6z9hwKA/s1600/P-2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUgyfqkjI/AAAAAAAAAFY/-SmK6z9hwKA/s320/P-2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454092808521159218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jejak Kejayaan Islam di Eropa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menjadi kekuatan dominan di Eropa selama lebih dari 1200 tahun! Dari abad ke-8 sampai abad ke-20.  Kejayaan raja-raja Islam di Iberia kemudian diteruskan oleh Ottoman Turki (abad ke-13 sampai abad ke-20).   Jadi, sebenarnya pengenalan orang-orang Eropa terhadap Islam bukanlah baru, seperti misalnya di AS yang mulai tertarik mempelajari Islam setelah peristiwa 11 September 2001, ketika World Trade Center dijadikan sasaran teror oleh Al Qaedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat ratus lima puluh tahun negeri ini menjadi  wilayah penting bagi Islam di Eropa, tetapi hanya dengan pengamatan  teliti dan detil  Anda melihat jejak-jejak Islam di Portugal.  Jejak Islam di Portugal tentu berkaitan dengan sejarah semenanjung Iberia sendiri, termasuk di berbagai kota di Spanyol sekarang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini banyak tidak diketahui oleh kita, dan bahkan berusaha dilupakan orang-orang Eropa sekarang.  Ketika kekhalifahan di Iberia pudar pada abad ke-12, Ottoman bangkit dan berjaya sampai 1923.   Negeri ini 450 dijajah bangsa Moor, dari Afrika Utara, tetapi mengapa seolah-olah terhapus dalam ingatan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Iberia memang ingin menghapuskan kenangan yang merendahkan mereka sebagai bangsa penjelajah hebat dan menguasai pelayaran dunia di abad 15 dan 16”, terutama dari bekas-bekas peninggalan orang-orang Moor”, kata staf lokal yang mendampingi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, negeri ini pernah dikuasai Islam selama hampir 5 abad, dari abad ke-7 sampai abad ke-12.  Tidak hanya di Portugal,  Islam juga menguasai Spanyol, dan seluruh semenanjung Iberia dan sekitarnya.  Bahkan lebih lama: 800 tahun!  Dulu ketika kami berkunjung ke Granada, Alhambra, Toledo, kami melihat bekas-bekas kejayaan Islam yang dahsyat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUrGDdkcI/AAAAAAAAAFg/jHNp-cweTKY/s1600/P-3.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUrGDdkcI/AAAAAAAAAFg/jHNp-cweTKY/s320/P-3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454092985570267586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Islam di Portugal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa abad, sejak 711 – 1249 Portugal di bawah kekuasan Muslim yang berasal dari Moor, Afrika Utara.  Islam memengaruhi Portugal dari seni dan bahasa.  Ratusan kata-kata Portugis berasal dari Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Muslim Tariq ibn Ziyad dari dinasti Umayyad menaklukkan Iberia 711 dari tangan raja Visigoth.  Kemudian Islam menyerbu Cordoba dan Toledo, ibukota Visigothic.  Pada tahun 714 Panglima Musa ibn Nusair menyerbu Saragoosa, Leon dan Astorga.  Kemudian Évora, Santarém, and Coimbra direbut 716.  Islam hanya memerlukan waktu 5 tahun menguasai seluruh Iberia.  Daerah taklukan disebut &lt;em&gt;Al Andalus&lt;/em&gt;. Pada abad ke-10 Islam menjadi agama mayoritas di Iberia.  Orang Yahudi yang dilindungi penguasa Muslim juga Berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di Lusitania tentara Muslim bertengkar.  Algarve masih menyimpan bekas peninggalan Islam yang kuat, karena mereka bermukim di sana.  Banyak orang Visigoth, terutama petani yang masuk Islam.  Bangsawan yang menjadi Muslim diangkat menjadi gubernur.  Orang Yahudi, sejak dari dulu, senang berdagang dan hidup di dunia akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Andalus, nama Iberia bagi Muslim, Islam jaya selama 250 tahun di bawah komando Khalifah Kordoba.  Kordoba makmur, berkuasa, berbudaya, karena para khalifah mendirikan sekolah, perpustakaan, pusat riset dan keilmuan, termasuk matematik.  Mereka juga menurunkan gaya arsitektur yang disebut  arabesque decoration.  Mereka juga mengembangkan pertambangan, membangun perdagangan dan industry, irigasi yang hebat, taman-taman yang indah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masa keemasan akhirnya berlalu.  Pada abad kesebelas para bangsawan Muslim telah menjadi kaya dan berkuasa.  Mereka membebaskan diri dari kekuasaan Khalifah dan membentuk kota-kota yang independen (taifas), seperti para emir di Badajoz, Mérida, Lisbon, and Évora. Maka, kaum Visigoth yang bersembunyi di pegunungan melihat kesempatan.  Akhirnya Iberia kembali direbut oleh Kristen.  Sampai tahun 1236 kekuasaan Islam hanya tinggal di Granada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan di Iberia mendorong pasukan Muslim masuk ke Prancis.  Pada awalnya cukup kuat perlawanan pasukan Prancis, seperti Battle of Toulouse (721), meskipun akhirnya pada tahun  725 pasukan Muslim berhasil menguasai Autun.  Pertimbangan strategis menyebabkan mereka mundur pada tahun 732, kembali ke Andalusia.  Mereka bertahan Cuma di Swiss sampai abad ke-10, dan merebut Sisilia, menyerang Roma pada tahun 846 dan menguasai Pisa pada tahun 1004. Di Sisilia, Muslim yang menguasai sejak invasi Arab dan Moor pada tahun 827 sampai tahun 1072.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pada akhirnya, kekuasaan Islam berakhir di Spanyol ketika Emirat Granada menjadi bagian dari Kerajaan Castile sejak tahun 1238 sampai Perang Salib selesai pada tahun 1492 dan Muslim terusir atau dipaksa menukar Iman atau dibunuh dari Castile pada tahun 1609 dan dari seluruh wilayah Spanyol pada tahun 1614.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, di daerah Balkan kekuatan Ottoman mulai berjaya.  Telah lahir superpower Islam yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DVCNNVokI/AAAAAAAAAFw/Izr5kvi6GFQ/s1600/P-4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DVCNNVokI/AAAAAAAAAFw/Izr5kvi6GFQ/s320/P-4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454093382627729986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;In the Aftermath&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah pasukan Kristen kembali menguasai Iberia dan selatan Italia, orang-orang Eropa menemukan “treasure” yang sangat berharga.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Apa warisan terbesar Islam di Eropa?  Islam mewariskan Eropa dengan seni, pertanian, ekonomi dan perdagangan, filsafat, matematika, kedokteran, dan iptek.   Hasilnya : rennaisance Eropa abad ke-12.   Seluruh buku dan teks tentang kemajuan Islam itu diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa, termasuk buku karya Plato, Aristoteles, Socrates yang telah lenyap karena dipandang oleh Gereja sebagai bid’ah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Orang-orang Eropa mengatakan, berkat peradaban dan kemajuan Islam mereka menemukan kembali akar budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan pudarnya kekuatan Islam di Iberia dan Eropa Selatan, nun di timur sana di Constantinople telah mulai bersinar emporium Islam baru: Ottoman.  Belajar dari kejayaan Islam –dan keruntuhannya di Iberia dan Eropa Selatan—Ottoman kemudian menjadi pusat interaksi antara peradaban Timur dan Barat selama 6 abad, menjadi semacam penerus Imperium Byzantium, tetapi versi Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Ottoman bangkit di akhir abad ke-13 (1299), mencapai puncak kejayaan pada abad ke-16 dan ke-17, baru lenyap pada awal abad ke-20 (1923), setelah berakhirnya PD I.  Pada puncak kejayaannya, Ottoman menguasai 3 benua, terutama di Eropa tenggara, Asia Barat dan Afrika Utara.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bahkan kiprah orang-orang Turki itu mencapai Indonesia, ketika Sultan Aceh pada tahun 1565 membuat deklarasi menjadi pengikut Ottoman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DWRwmI4GI/AAAAAAAAAGY/tlQNh734fBU/s1600/P-5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DWRwmI4GI/AAAAAAAAAGY/tlQNh734fBU/s320/P-5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454094749336658018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Napak Tilas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama tempat dan kota di Negeri ini banyak mengambil nama-nama Arab.  Bahkan kota yang dipandang suci, Fatima, berasal dari nama putri kesayangan Rasulullah saw.  Di kota itu, terdapat gereja yang dikunjungi jutaan umat Katolik dan wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat di &lt;em&gt;St George Castle &lt;/em&gt;di tengah kota Lisbon, dulu benteng pertahanan yang juga digunakan oleh orang-orang Moor, bangsa Muslim dari Afrika Utara pada abad ke-11 dan ke-12 ketika Lisbon menjadi kota pantai penting bagi Islam, dan direbut oleh raja pertama Portugal, Alfonso Henriques pada tahun 1142.  Orang Portugis menyebutnya &lt;em&gt;Castelo de São Jorge&lt;/em&gt;.  Bangunan yang memiliki 10 tower ini ini pernah menjadi istana raja selama 3 abad.  Di sini ada NMC Museum , yang mengumpulkan berbagai hasil galian arkeologis termasuk warisan budaya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau &lt;em&gt;Igreja de São Roque&lt;/em&gt;, gereja dari abad ke-15 dengan bangunan baroque yang terletak di Lisbon.  Di sini Museu de Arte Sacra (Religious Art Museum) memiliki khazanah yang kaya, termasuk warisan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, lihatlah &lt;em&gt;Sé Patriarcal &lt;/em&gt;(Patriarchal Cathedral) yang dibangun di atas reruntuhan Mesjid peninggalan abad ke-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mengesankan tentu di kota kecil Sintra, 50 km dari Lisbon.  Di sana ada Moorish Castle dahsyat  peninggalan abad ke-9 di atas bukit, yang dipagari benteng menakutkan.  Dari sini gerakan musuh di pantai Atlantik dapat dipantau.  Di kaki bukit, terdapat &lt;em&gt;National Palace of Sintra &lt;/em&gt;yang dulu pernah menjadi kediaman resmi gubernur (Wali) pada zaman Islam di abad ke-9.  Di sini masih banyak ruangan yang menyimpan guratan seni gambar dan ukir peninggalan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari tempat ini terdapat &lt;em&gt;Palace of Pena&lt;/em&gt;.  Meskipun bukan dibangun di zaman Islam, tak luput, interiornya penuh dengan seni ukir dan tile peninggalan Islam.  Sayang tidak diizinkan membuat foto-foto indah di dalam kastil hebat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DXG3xp_qI/AAAAAAAAAGw/Xo4w60nxkpc/s1600/P-6.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DXG3xp_qI/AAAAAAAAAGw/Xo4w60nxkpc/s320/P-6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454095661797080738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mesjid Raya Lisbon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda berkunjung ke kota bersejarah Lisbon, maka kurang lengkap jika tidak berkunjung ke Mesjid Raya. Saya dan Ade sempat shalat di mesjid itu.  Mesjid itu bisa menampung ribuan jamaah sekaligus. Orang Portugal menyebutnya sebagai Mesquita Central de Lisboa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbeda dengan kota-kota Eropa lainnya, di sini jamaah yang paling aktif adalah dari Mauritania, Guinea-Bissau dan Mozambique, dan imamnya berasal dari Angola,.  Dapat dipahami, negeri-negeri ini dulu bekas jajahan Portugal dan banyak di antara jamaah yang beremigrasi ke Portugal, termasuk umat Islamnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumah Allah ini didirikan pada 1985, rancangan dibuat arsitek António Maria Braga and João Paulo Conceição, dan mesjid ini dilengkapi dengan kubah dan menara, ruangan resepsi, ruangan shalat dan auditorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa penduduk Muslim di Portugal? Menurut statistik Portugal (1991) hanya sekitar 9 ribu, sedangkan jumlah komunitas Muslim keseluruhan kini mencapai sekitar 40 ribu, yang berdatangan dari Mauritania, Guinea-Bissau and Mozambique, dan akhir-akhir ini juga Muslim dari Anak Benua (India).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pada hari-hari lebaran Idul Fitri, maupun Idul Adha mesjid ini dipenuhi umat Islam dari berbagai penjuru. Shalat terpaksa dilakukan dalam 2 shift!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisbon, 5 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-3137235399129730758?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/3137235399129730758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/03/portugal-menyusuri-jejak-islam-di-eropa.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3137235399129730758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3137235399129730758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/03/portugal-menyusuri-jejak-islam-di-eropa.html' title='PORTUGAL : MENYUSURI JEJAK ISLAM DI EROPA'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S7DUIhFzn2I/AAAAAAAAAFI/jCPMTE7v3Yk/s72-c/P-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-761611121271811447</id><published>2010-03-24T09:37:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T09:48:45.668-07:00</updated><title type='text'>MARRAKESH</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pAn-R4YJI/AAAAAAAAAEg/R1cJleeQ1PA/s&lt;br /&gt;1600/M-1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pAn-R4YJI/AAAAAAAAAEg/R1cJleeQ1PA/s320/M-1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452241354362478738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KEBERUNTUNGANLAH yang menghantar kami sampai ke Marokko, akhir Pebruari yang lalu.  Dalam 2 kali acara diplomatik, kami mendapat durian runtuh: memenangkan door prize pada acara charity dinner, menginap gratis di Hotel Palmerie Golf Marrakesh, dan pada kesempatan berikutnya mendapat tiket gratis pesawat  pp untuk 2 orang ke Portugal pada acara Tahun Baru di Kemlu.  Kami tinggal membeli tiket murah dari Portugal ke Marokko, maka cuti tahunan dapat dimanfaatkan maksimal dan murah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfer Islami begitu terasa ketika kami mendarat di Marrakech Menara Airport.  Marrakech bukan sebatas tempat diselenggarakannya berbagai konperensi internasional, atau kota wisata terkenal di dunia semata.  Budaya tradisional, arsitektur tua berbaur dengan modern dan budaya liberal, kulinari dan berbagai motif seni menjadi daya tarik negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri berpenduduk 32 juta ini memperoleh 20% devisa dari pariwisata.  Data 2009 menunjukkan 9 juta wisatawan Eropa, Afrika dan Timur Tengah mengunjungi negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan eksotik Marokko terasa menguat ketika kami mengunjungi pasar Djemaa el Fna (mythical square) yang telah menjadi a world heritage site dan salah satu tempat yang direkomendasikan oleh berbagai penulis dan komentator yang saya baca di internet.  Di sini Anda akan mendengar bunyi-buyian Berber dibarengi gendang bertalu-talu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi tetap terjaga baik: di samping henna yang sehat, hammam atau tempat pemandian umum masih ada, tempat bergossip dan menjodohkan anak. Juga Ghossul minyak harum menebar, sabun hitam, sikat tubuh dari ekor kuda, minyak Argam dari tumbuhan yang hanya terdapat di Marokko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marrakech negeri eksotik berwarna-warni yang penuh misteri dan sensual, wanita bercadar maupun berpakaian modern hilir mudik di labirin pasar Kissaria maupun di butik-butik Eropa di Medina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marokko memiliki kota dengan ciri-khas uni-warna: di Marrakech, seluruh bangunan berwarna merah bata, Fez berwarna biru,  Meknes nan hijau, ibukota Rabat memilih putih dan Casablanca yang terkenal itu berwarna-warni.  Dulu saya pernah mengunjungi ibukota Rabat dan Casablanca di tahun 1990-an.  Sayang, ketika itu dalam perjalanan dinas maka saya tidak bergairah mencari tahu tentang sudut-sudut unik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati senang menikmati matahari nan hangat tatkala salju merajalela di Eropa.  Kami melihat turis-turis Eropa keranjingan menggugat tangan  dan wajah dengan henna, kaya dengan makna dan ungkapan sensual Arab.  Tetapi mengapa kota yang begitu eksotik ini dinamai Marrakech?  Ada yang bilang menjadi sebutan awal bagi “Marokko”, tetapi secara harfiah Marrakech berarti “go away quickly”!  Nanti akan saya ungkapkan rahasianya, di akhir tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pAxvFJPzI/AAAAAAAAAEo/vD0thm7gYSQ/s1600/M-2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pAxvFJPzI/AAAAAAAAAEo/vD0thm7gYSQ/s320/M-2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452241522081218354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kota Bersejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini sangat erat terkait dengan eksistensi Marokko.  Selama 9 abad kehidupan di sini penuh dengan kejayaan dan kemegahan, meskipun dalam beberapa episode mengalami kegelapan.  Berbagai penguasa politik, lokal maupun Eropa sejak zaman dulu kala menaklukkan, menghancurkan, dan membangun kembali kota ini.  Kota ini menjadi saksi sejarah yang panjang itu, dan bukan hanya menyimpan di dalam berbagai dokumentasi hidup di museum, tetapi juga di berbabai bagunan arsitektur Islam yang kental, mesjid dan menara, taman-taman kuno dengan teknologi pengairan yang menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri berpantai di Atlantik itu disebut orang-orang Arab sebagai Al-Maghreb al-Aqsa, atau negeri matahari terbenam, yang menjadi meeting point bagi orang-orang Arab, Eropa, dan Afrika.  Bahkan, orang-orang Yunani dulu kala telah memasukkan dalam peta sebagai daerah pegunungan Atlas.  Terkenal sebagai bangsa gagah berani penjelajah namun ironisnya, negeri indah ini juga tidak luput dari penjajahan.  Mereka terkenal dengan arsitektur, teknologi, kaya bunyi-bunyian, matematika, flavor yang merasuki semenanjung Iberia dengan semangat Andalusia dan Algavre landscape-nya.  Makanya, negeri ini terkenal di dunia Eropa sebagai percampuran budaya tradisional yang kental dengan dunia modern.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa-bangsa Phoenix, Roma, Vandals, Bizantium dan Arab bercampur baur dengan etnis Berber, yang kini menghuni separuh penduduk Marokko.  Bangsa Berber melahirkan dinasti di sini: Al Moravid (abad ke-11) dan Al Mohad (abad 12-13), namun kekuasaan politik akhirnya  jatuh ke tangan dinasti Marinid sebelum negeri ini jatuh ke tangan Portugis.  Baru setelah dinasti Saadi mengalahkan Portugis di tahun 1415 muncullah dinasti Alawi, dan pada abad ke-17 Mulah Ismail menyatukan bangsa Marokko, meskipun pada abad ke-19 negeri ini jatuh kembali ke tangan orang-orang Eropa.  Marokko, sebelum merdeka 1956 adalah dari jajahan Prancis dan Spanyol, dan akhirnya dipimpin oleh Raja Muhammad V.  Setelah Raja Hassan wafat, maka penguasa sekarang Muhammad VI naik tahta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pA4lmyNkI/AAAAAAAAAEw/9CCHItwPmbY/s1600/M-3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pA4lmyNkI/AAAAAAAAAEw/9CCHItwPmbY/s320/M-3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452241639797044802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berber&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marrakech menjadi ibukota kebanggaan etnis Berber, bangsa nomad yang terbiasa dengan kehidupan keras, karena dikelilingi lautan di barat dan sahara di timur.  Pendudukan dan penguasaan oleh orang-orang Phoenix, Roma, Vandals, Bizantium dan Arab sekalipun tidak berhasil menaklukkan budaya Berber.  Kota ketiga terbesar di Marokko setelah Rabat dan Casablanca ini berpenduduk 500 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djemaa el Fna pada malam hari menjelma jadi restoran jalanan, dengan makanan khas kepala kambing berbumbu menyengat.  Pada sore hari Anda akan menemui banyak atraksi musik, tarian, teater jalanan, penjinak ular maupun monyet, akrobat, pesulap, peramal nasib, dan penari Berber.  Tidak jauh dari sini terdapat Al Menara Avenue, di kiri-kanan banyak taman-taman kota yang indah dan terkenal dengan system irigasi warisan abad ke-12 yang masih berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa yang pernah menaklukkan dan berkuasa ratusan tahun di Spanyol dan Prancis memang luar biasa.  Tradisi dan budayanya sangat mewarnai Marokko, penguasaan teknologinya luar biasa untuk zaman itu.  Jiwa adventure dan penaklukan mereka luar biasa.  Dinasti-dinasti terkemuka di Marokko berasal dari kaum Berber.  Jika orang-orang Iberia menyebut mereka atau seluruh Muslim yang berasal dari Maghribi sebagai “Moorish” dan masih menyimpan peninggalan mereka di Spanyol dan Portugal, tentulah tidak mengherankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyempatkan pergi ke perkampungan (Kasbah) orang-orang Berber, rumah-rumah yang terbuat dari tanah-liat dan batang-batang kayu terlihat kumuh dari luar.  Tetapi, adalah tradisi Berber untuk memberikan yang terbaik untuk tamu terhormat.  Maka mereka selalu menyisakan satu ruangan yang terbaik di rumah, penuh dengan hiasan pernak-pernik berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Berber adalah seniman.  Maka berbagai kerajinan besi, tembaga, kulit, kayu, wool yang kita temui di Marokko adalah berasal dari karya budaya mereka.  Kami sempat membeli beberapa karpet sutra yang indah, dan harganya separuh dari pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdampingan dengan el Fna, adalah pasar pedagang berbagai rupa yang terbentuk lebih dari seribu tahun yang lalu.  Pasar ini disebut “The Souks“, di mana terdapat sekitar 1000 pengrajin Berber untuk berbagai metal, keramik, kayu, dan kulit menjajakan dagangannya.  Jalan kecil membelusuk ke dalam-dalam cukup menarik untuk dikunjungi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Souk di dekat el Fna ini termasuk banyak dikunjungi wisatawan Eropa, dan untuk berbelanja berbagai benda-benda unik.  Kami pun tidak lupa memberlikan Davin baju tradisional Berber, lengkap dengan topinya. Hanya, jangan lupa bernegosiasi all out untuk mendapatkan barang bagus dengan harga murah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pA-R4AW6I/AAAAAAAAAE4/swv6eTG2hrw/s1600/M-4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pA-R4AW6I/AAAAAAAAAE4/swv6eTG2hrw/s320/M-4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452241737579781026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Drama Hollywood&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marrakech terkenal sejak dulu kala sebagai tempat singgah para pengembara dan petualang, termasuk para agen rahasia pada zaman perang Eropa, dipopulerkan oleh para artis Hollywood maupun negarawan dunia seperti Churchill.  Politisi yang terkenal dengan serutunya ini bernegosiasi dengan Presiden AS Franklin Roosevelt ketika menghadiri Casablanca Conference 1943. Tempatnya adalah di Hotel Mamouna yang kaya dengan taman dan Anda bias memandang pegunungan Atlas yang ditutupi oleh es.  Salju juga ada di sana, dan bahkan dengan murah meriah orang-orang berlatih ski!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sebelum Bali terkenal, Churchill berpendapat Marrakech sebagai “the best place of earth!”  Reagan, DE Gaulle, Mandela, Sarkozy, Omar Shariff, Sharon Stone, Suylvester Stallone, Charlie Chaplin, Tom Cruise, Nicole Kidman, Jennifer Aniston, Rolling Stones, Elton John dan Julio Iglesias pernah bertamu di La Mamounia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktor Humphrey Bogart dan aktris Ingrid Bergman memopulerkan Marrakech dalam film mereka, begitu pula penulis Amerika Paul Bowles, juga menjadikan Tangiers kota kebanggaannya.  Meknes oleh Mulah Ismail dijadikan Versailles of Morocco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pBDKrEDwI/AAAAAAAAAFA/CLctw-tMfAo/s1600/M-6.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pBDKrEDwI/AAAAAAAAAFA/CLctw-tMfAo/s320/M-6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452241821545795330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yves Saint Laurent&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu obyek turis yang menarik di sini adalah Majorelle Garden yang dibangun oleh perancang Jacques Majorelle tahun 1920, taman di tengah kota yang kaya dengan koleksi bamboo raksana, papyrus, palem, cypress, bougenville, dan kaktus.  Disebut juga sebagai the Blue Majorelle, dan taman ini dibeli oleh Yves Saint Lorent.  Ya, dia YSL, perancang Prancis kelahiran Aljazair yang juga memiliki rumah di Tangiers, salah satu kota terkenal di Marokko, yang dinamainya Villa Mabrouka (keberuntungan).  Di villanya, YSL mencerahkan fikiran, menuangkan ide-ide baru dalam karya-karya haute coutoure, sambil menikmati pemandangan dahsyat ke arah Selat Gibraltar (Djabr al Tariq).  Tempat ini sangat mengesankan YSL, sehingga sesuai wasiatnya, pada saat meninggal pada tahun 2008 abunya ditebarkan di taman ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ini, Anda juga menemukan rumah kediaman mantan presiden Prancis Jacques Chirac, bahkan sebelum dia menjadi politisi terkemuka.&lt;br /&gt;Shalat di Mesjid Koutoubia (1158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat maghrib di Mesjid Koutoubia yang menara setinggi 77 meter terlihat dari berbagai penjuru kota menjadi simbol kota.  Mesjid dibangun lebih awal dan digunakan resmi mulai tahun 1158.  Sedangkan menara yang juga bernama Al Koutoubia dibangun dengan seni Almohad oleh Abd al-Mumin antara 1184-1189.  Di puncak menara terdapat 3 bola dunia berbalur emas yang mencerminkan iman, shalat dan berpuasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid ini konon salah satu terbesar dan terindah di dunia, bergaya Spanyol-Moresque (Morisko).  Sayangnya mesjid lama diruntuhkan karena arah kiblat yang tidak tepat, sampai kemudian dibangun kembali pada dinasti Almohad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terpaksa menunggu menjelang maghrib untuk shalat di sana.  Menurut  Idder, staf KBRI Rabat berbangsa Marokko yang menemai kami selama di Marokko, Mesjid Koutoubia hanya dibuka pada waktu-waktu shalat, setelah itu dikunci.  Maka, untuk menunggu waktu shalat kami menyempatkan meninjau menara di sebelahnya, yang juga menjadi landmark Marrakech.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid ini dibagi 17 gang dengan ruang yang luas sekali.  Sayang sekali, tempat wudhu yang kecil jamaah terpaksa antri.  Kami sendiri wudhu di luar, dibekali segayung air hangat untuk membasuh tangan, muka dan kepala seadanya.  Hampir seperti tayammum.  Tempat shalat pria dan wanita terpisah berjauhan, tanpa mengurangi kekhusukan beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid bersejarah lainnya adalah El Mansouriah Mosque yang berdekatan menuju ke Saadian Tombs, dan Mesjid Ibn Yusuf di tengah kawasan Medina yang dibangun oleh dinasti Almoravid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kulinari nan Eksotis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu daya tarik wisatawan ke Marrakech adalah kuisin yang lezat, dan murah pula.  Konon kabarnya kulinari Marokko dipandang sebagai salah satu kuisin paling beragam di dunia, seperti Indonesia.  Tidak heran, di negeri ini terjadi percampuran budaya ribuan tahun, antara Berber, Spanyol, Corsica, Portugis, Moor, Timur Tengah, Mediteranean dan Afrika.  Aslinya, kulinari Marokko adalah Berber, ditambah hidangan Arab Andalusia yang dibawa orang-orang Morisco ketika Islam tergusur dari Spanyol, kelezatan masakan Turki dan tentunya Arab dari Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan Marokko boleh dikatakan bercita-rasa dan beraroma eksotik, karena kaya dengan bumbu: buah pala, kemiri, jahe, lavender, cumin dan lada.  Tentu sebagian bumbu diperoleh sejak ribuan tahun lalu dari luar Marokko.  Buah-buahan segar olive, orange maupun dried fruit.  Jangan lupa mencoba nasi kuskus dan minum teh mint yang terkenal itu.  Juga saffron, termahal di dunia ini juga terdapat di sini.  Bukan saja untuk bumbu, saffron dihargai karena mengandung kesehatan sejak dulu kala.  Untuk menghasilkan 1 kg saffron, diperlukan 100 ribu tangkai bunga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pemakan daging kambing, dicampur kuskus, serta pastille, tajin dan harira.  Makan yang top markotop di sini tentulah unik: kepala kambing panggang!  Apapun pilihan menu Anda, jangan lupa minum teh mint khas Marokko yang dicampur dengan gula batu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Points of Interest&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, saya berhasil menyaksikan semua tempat yang ingin saya kunjungi: Almoravid Koubba, 14 buah pintu gerbang kota berukiran seni Almoravid yang berhubungan satu dengan lainnya membentuk benteng kota lama.  Pintu-pintu gerbang itu disebut “Bab“, seperti terdapat di Erraha, Agnaou; Debbagh; Doukkala; El Djedid; El-Khemis, Aylen, Aghmat, Ahmar, Ighli, Ksiba, er-Tobb, Echcharia, el-Jadid, dan el-Makhzen, masing-masing dengan fungsi dan keunikan arsitektur dan ornamen berbeda.  Kami juga mengunjungi Ben El Badi Palace, Kasbah Mosque, Kontoubia Minaret dan Mosque, Majorelle Garden,  Palais El Bahia, Rahba Kedima yang dulu tempat perdagangan budak, Saadian Tombs.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyaksikan seni pertunjukan Berber, kami sempat menyaksikan pertunjukan yang disebut “Fantasia“, yang terdiri dari seni tari dan musik serta perang berber yang ditampilkan secara kolosal di pinggir kota.  Sebelum pertunjukan, kami dijamu minum teh oleh pemiliknya di bawah tenda Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kami tidak punya waktu yang cukup untuk berkunjung ke museum, seperti Marrakesh Museum yang dibangun oleh Omar Benjellun, memuat berbagai koleksi masterpiece kaligrafi Islam dari abad ke- 9 s/d ke-19, keramik, permata dan hasil arkeologis berupa koin kuno dari abad ke-8 s/d ke-19, senjata, dan pakaian kuno. Juga perlu dikunjungi Dar Si Said Museum yang memiliki koleksi budaya Berber yang menarik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa mengunjungi Istana Bahia, Saadi Tumuli, Museum of the Islamic Art, dan Mesjid Koutoubia.  Atau mempraktikkan ilmu negosiasi, menawar harga di pasar tradisional yang berlikut-liku bak labirin, menjual berbagai souvenir dan keperluan sehari-hari di Souk.  Di sini azan menggema pada waktu shalat, banyak menjual kerajinan perak, batu batuan, tembaga dan kayu, sandal, djellabas, kaftan, minyak, produk kencantikan, karpet, pot, keramik, bumbu bercampur baur dengan berbagai aroma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat mengunjungi Menara Pavallion karya abad ke-12, dengan kolam seluas 150 x 200 m, airnya berasal dari 350 sumur yang terdapat dipinggiran kota, dengan teknologi kuno abad 12, oleh Almohads , tetapi masih berfungsi.  Pavallion ini dikelilingi kebun olive yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang waktu singkat kami tidak pergi ke Atlantik, untuk melihat kota-kota pelabuhan dan nelayan Marokko yang juga banyak daerah peristirahatan.  Misalnya di El Jadida, banyak peninggalan militer Portugis, atau ke Essaouira yang disebut orang Portugis sebagai Mogador, yang konon menjadi surga bagi surfers.  Kota ini menjadi favorit bagi Bob Marley dan Jimi Hendrix, atau Orson Welles membuat film dengan judul Othello.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahara? Ya, karena di bagian barat Marokko yang berbatasan dengan Algeria terdapat sahara.  Konon, indah luar biasa! Sejauh mata memandang hanya padang  pasir, dan Anda bisa tidur di tenda atau di alam terbuka beratapkan rembulan dan bintang di langit yang pekat!  Di sini, kehampaan dan seperti keputusasaan tetapi di sana ada sumber kehidupan yang memesona: oase, mirage.  Atau untuk kontemplasi spiritual yang melahirkan ketengangan hidup, mencari makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda duduk di dunes berjam-jam, kosongkan fikiran, berzikir, dan rasakan kehebatan kehampaan yang mutlak!  Jangan dipandang enteng, saya melihat koleksi teman yang pernah bertugas di Marokko yang sangat indah, atau lihat di majalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teman kami Hadi Sudirman dari KBRI Rabat, Sahara sebenarnya tidak terlalu jauh.  Anda bisa mengambil tour dengan biaya murah untuk 3 hari perjalanan dan menginap beserta makan hanya membayar USD 200 per orang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakhiri kunjungan ke Marrakech bak menyelesaikan pengembaraan dan petualangan ke negeri eksotik.   Dalam berbagai literatur maupun booklet, saya menemukan berbagai tempat-tempat hebat lainnya di Marokko.  Kami akan datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Marrakech berarti “go away quickly” ternyata mereka bukan bermaksud mengusir kita, atau kota ini membosankan sehingga Anda perlu beranjak secepatnya.  Di Marokko, masih banyak tempat lain yang juga unik dan tidak dapat dilewatkan, misalnya Casablanca, Fest, Rabat, Tangier, atau Agadir yang banyak peninggalan tentara Portugis. Dan bermalam di tenda di Sahara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Go away quickly: meskipun tidak mungkin menghabiskan Marrakesh dalam 2-3 hari.  Anda harus cepat-cepat menyelesaikan tour di Marrakesh, agar melihat tempat-tempat yang lebih eksotik di berbagai kota lainnya  di Marokko.  Maka, jangan cepat-cepat terpesona dengan Marrakech!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marrakech, 2 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-761611121271811447?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/761611121271811447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/03/marrakesh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/761611121271811447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/761611121271811447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/03/marrakesh.html' title='MARRAKESH'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S6pAn-R4YJI/AAAAAAAAAEg/R1cJleeQ1PA/s72-c/M-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-8806380703842741247</id><published>2010-02-23T06:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-23T07:01:20.537-08:00</updated><title type='text'>PERKAMPUNGAN MUSLIM DI SINGAPURA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnhUh4goI/AAAAAAAAAEY/lqnyG-0XV88/s1600-h/Foto3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnhUh4goI/AAAAAAAAAEY/lqnyG-0XV88/s320/Foto3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441447334426215042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN kami keluar dari Bandara Changi Singapura dalam transit beberapa jam, selain bertemu dengan Yayan Mulyana, sahabat lama dulu di New York, ialah berziarah ke perkampungan Melayu dan Muslim yang kini dipelihara sebagai wilayah wisata.  Di antara berbagai kawasan modern nan asri dan hijau atau pusat-pusat perbelanjaan di Singapura, bagi kami Kampong Glam [sering dibaca: Gelam] teramat istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut Kampong Glam, karena di kawasan ini –sebelum reklamasi besar-besaran– merupakan kawasan pantai laut yang banyak tumbuh pohon kayu putih.  Orang Melayu menyebut pohon yang menghasilkan minyak berkhasiat nan harum itu pohon gelam. Kawasan ini dulu berada di pinggir pantai.  Strategis bagi para pedagang di Asia Tenggara, termasuk bagi para pelaut Bugis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena rajin berdagang dengan orang-orang Arab dan Gujarat, maka di Kampong Glam berdiri pemukiman dan transit bagi bangsa-bangsa yang membawa Islam ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.  Mereka bangsa pedagang, maka di tempat itu mulai subur menjadi pusat perdagangan.  Dan, nama-nama jalan pun turut menyesuaikan: Arab Street, Busorrah Street, Baghdad Street, Muscat Street.  Di negara kota ini sampai sekarang tetap terpelihara Kampung Jawa, Kampung Bugis dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnSqbjr8I/AAAAAAAAAEI/eRATfB2cFLc/s1600-h/Foto1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnSqbjr8I/AAAAAAAAAEI/eRATfB2cFLc/s320/Foto1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441447082607226818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejarah, pada tahun 1822 Raffles membuat rencana kota Singapura yang dibagi berdasarkan etnis: Eropa, dan China di kawasan tersendiri.  Sedangkan orang Melayu (dari Semenanjung, Sumatera dan Riau), Bugis dan Arab ditempatkan di Kampong Glam.  Belakangan orang China maupun India, karena berdagang, tertarik tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Jenderal Stamford Raffles membangun kawasan ini untuk menjadi pusat perdagangan bagi kepentingan the British East India Company, dan sebagai hasil perjanjian dengan Sultan Hussein maka didirikanlah Kampong Glam sebagai pemukiman kaum Muslim Melayu.  Sultan Hussein sendiri mendirikan istananya di sana pada tahun 1819, yang kini disebut Istana Kampong Glam.  Istana ini, setelah dipugar berkali-kali, sekarang menjadi Pusat Warisan Budaya Melayu, atau Malay Heritage Centre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat berkunjung ke kompleks yang terpelihara sebagaimana aslinya.  Namun sayang, hari sudah petang  Museum sudah tutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnZwa6YgI/AAAAAAAAAEQ/atg_B7DpcEg/s1600-h/Foto2.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnZwa6YgI/AAAAAAAAAEQ/atg_B7DpcEg/s320/Foto2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441447204474216962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The Sultan Mosque&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kami menyempatkan shalat zuhur dan Asyar di Mesjid dengan arsitektur unik di Kampong Glam ini.  Bagaimana sejarah berdirinya mesjid tua itu?  &lt;br /&gt;Alkisah, Sultan Hussein berhasil membujuk Raffles dan penguasa Inggeris ini rela membuka kocek $3000 Spanish dollar untuk membangun sejak awal mesjid ini.  Karena idenya dari Sultan, maka orang Singapura menyebutnya mesjid tua itu Sultan Mosque.  Maka, Denis Santry dan perusahaan Swan &amp; MacLaren dari Inggeris ditugasi membuat rencana bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dibangun mesjid itu cuma satu lantai.  Pada tahun 1920an, masyarakat Muslim Singapura, seperti orang Jawa, Melayu, Bugis dan Arab, mengumpulkan dana untuk menjadikannya mesjid terbesar, sehingga kini mampu menampung jamaah sebanyak 5000 orang.  Pembangunan mesjid itu berlangsung sampai tahun 1928.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mesjid dan berbagai kelengkapan bangunannya bukan bergaya Melayu, karena didasarkan pada tradisi arsitektur India dan Timur Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap liburan sekolah maupun akhir-pekan selalu ada kegiatan umat di sana.  Apalagi pada bulan Ramadhan.  Jika Anda berada di sana, akan terasa suasana keramahtamahan Melayu dan persaudaraan Muslim.  Kami merasa nyaman di sini.  Seakan-akan kita bukan di Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bussorah Street adalah jalan utama menuju Mesjid.  Di sekitarnya Anda akan mendengar orang-orang Singapura berbahasa Melayu.  Banyak juga menjual souvenir, dan bahkan restoran Padang juga ada di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demi citra dan pariwisata, maka sejak tahun 1980 an kawasan Kampong Glam itu diproklamirkan sebagai National Heritage dan dilindungi, termasuk the Sultan Mosque, dan Istana Kampong Glam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura,  11 Februari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-8806380703842741247?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/8806380703842741247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/02/perkampungan-muslim-di-singapura.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8806380703842741247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/8806380703842741247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/02/perkampungan-muslim-di-singapura.html' title='PERKAMPUNGAN MUSLIM DI SINGAPURA'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4PnhUh4goI/AAAAAAAAAEY/lqnyG-0XV88/s72-c/Foto3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-3006221400139818272</id><published>2010-02-22T10:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T10:55:49.778-08:00</updated><title type='text'>BERZIARAH KE MESJID NIUJIE BEIJING</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LR0bu1GyI/AAAAAAAAAEA/4LDI5RQk34w/s1600-h/Foto4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LR0bu1GyI/AAAAAAAAAEA/4LDI5RQk34w/s320/Foto4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441141998544558882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK banyak diketahui orang di Indonesia bahwa umat Islam di China berjumlah hampir 22 juta umat Islam, atau 1,6% dari jumlah penduduk 1,3 milyar jiwa.  Bahkan ada yang mengklaim jumlahnya lebih dari 60 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam China tersebar di berbagai daerah, yang terbesar di propinsi Xinjian, Gansu, Qinghai dan Ningxia (the Quran Belt), serta di Yunnan dan Henan.  Kelompok terbesar, Hui berjumlah hampir 10 juta, Uyghur 8,5 juta, Kazakh 1,3 juta, dan berbagai etnis dari Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mesjid turut memainkan peranan di dalam pengembangan Islam sejak dahulu kala di China, di awal-awal masuknya Islam ke China pada abad ke-7.  Menurut catatan, di seluruh China terdapat sekitar 3500 mesjid, dan terus bertambah seiring era keterbukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 610 M Khalifah Usman mengirim utusan untuk penyebaran dakwah ke China, seorang duta besar Islam pertama di China, yang tidak lain paman Rasulullah saw sendiri Sa’ad Ibn Abi Waqqas.  Selanjutnya, umat Islam memegang peranan penting di berbagai pemerintahan dan penggerak ekonomi, filosof bahkan militer.  Muslim selalu dipercaya memegang jabatan tertinggi di kementerian perdagangan. Beberapa jenderal termashur di kerajaan China juga Muslim, seperti Admiral Cheng Ho (1371-1435) yang mampir di Semarang.  Memang Islam tidak terlepas dari sejarah modern China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa suram Islam di China terjadi pada masa Dinasti Manchu, bahkan genocide dan politik adu-dumba antar-etnis terjadi pada zaman itu. Baru setelah pemerintahan Sun Yat Sen yang mendirikan Republik China pada tahun 1912, pengakuan sama diberikan kepada semua etnis: Han, Man (Manchu), Meng (Mongol), Hui (Muslim), dan Tsang (Tibet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa gila-gilaan pada Revolusi Kebudayaan, institusi Islam dan penduduk Muslim juga diuber-uber.  Tetapi tidak separah terhadap penganut agama lainnya. Islam, karena sejarah, menjadi native di China.  Karena itu, terutama sekarang, Muslim memperoleh kelonggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LRb6kPXlI/AAAAAAAAADw/6efsEL2GsM8/s1600-h/Foto-1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LRb6kPXlI/AAAAAAAAADw/6efsEL2GsM8/s320/Foto-1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441141577324912210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika transit di Beijing, saya dan isteri berkunjung ke rumah Mayerfas, teman yang tinggal di sana. Salah satu tujuan penting adalah berziarah ke Mesjid Niujie.  Ditemani staf protokol Yulianto kami menyempatkan berziarah ke tempat bersejarah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mesjid Raya Niujie&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid Niujie ini dibangun orang-orang Arab pada tahun 996, pada zaman Dinasti Liao (916-1125), namun mengalami renovasi berkali-kali yang diawali oleh Dinasti Ming pada tahun 1442 menjadi bentuk sekarang ini.  Renovasi terbesar terjadi pada masa Maharaja Kangxi, pada dinasti Qing (1622-1722) dan pada abad ke-20 setelah kemerdekaan China 1949, yakni tahun 1955, 1979 dan 1996. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menduduki area 6000 m, Mesjid Niujie terdiri dari bangunan kayu bergaya arsitektur dan gabungan seni China dan Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid itu terletak di daerah pemukiman Muslim China di Cow Street.  Tidak heran, di sana banyak restoran Muslim.  Kami pun menikmati makan siang di salah satu restoran itu.  Menurut catatan di kawasan Muslim itu terdapat sekitar 10 ribu penduduk Muslim, dari sekitar 200 ribu di seluruh Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Revolusi Kebudayaan, mesjid dan umat Islam tidak luput menjadi sasaran Pengawal Merah, seperti dialami oleh semua agama di China. Naik haji juga dilarang.  Baru setelah 1978 kelonggaran beribadah diberikan kepada umat Islam.  Kini, tercatat sekitar 10 ribu jemaah dari China melaksanakan ibadah haji setiap tahun. Mesjid itu kurang lebih mampu bertahan pada Revolusi Kebudayaan yang hancur-hancuran. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika kami masuk dari dari pintu gerbang Cow Street, rumah Allah ini tidak terlihat.  Namun, setelah berjalan sekitar 40 meter barulah mesjid unik berbentuk simetris ini terlihat.  Tadinya saya kira bangunan itu kelenteng, karena memang mirip. Di tembok menuju ke mesjid tergambar beberapa relief yang melukiskan kebahagiaan dan keberuntungan.  Tentu relief tidak melukiskan hewan atau patung manusia, karena Islam melarangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan bangunan mesjid –dipisahkan oleh pelataran yang cukup luas— terdapat 6 menara setinggi 10 m yang disebut Menara Pemantau Bulan, karena fungsinya demikian untuk memastikan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bukti sejarah mesjid, maka di bagian belakang terdapat kuburan 2 imam berasal dari Persia (Iran) yang mengembangkan Islam pada abad ke-13 di China. &lt;br /&gt;Di bagian luar mesjid terdapat prasasti yang menceritakan sejarah mesjid, dan tentang umat di China.  Islam tidak terpisahkan dari sejarah China itu sendiri.  Maka, tidak heran jika Nujie Mosque penting menjadi tujuan bagi pengunjung China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LRmzaqTmI/AAAAAAAAAD4/-Dj86JKwKhU/s1600-h/Foto2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LRmzaqTmI/AAAAAAAAAD4/-Dj86JKwKhU/s320/Foto2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441141764384247394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba menjelang maghrib.  Tak lama kemudian beberapa belas jamaah mengambil wudhu dan bilal mengumandangkan azan di pelataran, di luar mesjid. Jamaah kebanyakan berpakaian jubah dan berjanggut.  Mereka warga China asli.  Seusai shalat, saya melihat para jemaah mendengarkan penjelasan seorang ulama atau kuliah tentang keislaman.  Mereka ramah menyapa kami.  Sayang, perbedaan bahasa tidak menolong untuk berdialog dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interior mesjid indah, penuh dengan kaligrafi kutipan ayat-ayat Quran, diukir dalam seni lukis China yang kaya dengan warna dasar merah, putih, biru, dan hitam.  &lt;br /&gt;Tempat shalat wanita berada terpisah, tidak jauh dari bangunan utama.  Interiornya juga sama indahnya.  Seusai shalat, isteri saya Ade, mencoba untuk berkomunikasi dengan jemaah wanita, namun terhalang bahasa.  Tidak urung, keramah-tamahan dan kenikmatan bersilaturahmi dengan saudara Muslim dari Indonesia memancarkan ekspresi yang hangat di wajah Muslimah China.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beijing, 12 Februari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-3006221400139818272?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/3006221400139818272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/02/berziarah-ke-mesjid-niujie-beijing.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3006221400139818272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/3006221400139818272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/02/berziarah-ke-mesjid-niujie-beijing.html' title='BERZIARAH KE MESJID NIUJIE BEIJING'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S4LR0bu1GyI/AAAAAAAAAEA/4LDI5RQk34w/s72-c/Foto4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-9172344929165041143</id><published>2010-01-25T08:34:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T09:32:32.046-08:00</updated><title type='text'>12 JAM DI BANGKOK</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13IjEYM4MI/AAAAAAAAADQ/S2_lUqOLy4I/s1600-h/foto1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13IjEYM4MI/AAAAAAAAADQ/S2_lUqOLy4I/s320/foto1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430717230474911938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TEMAN saya dulu di New York, Toro Purbo tinggal di kota ini.  Dalam perjalanan pulang menghadiri Dies FH USU di Medan ke Polandia Januari yang lalu saya transit 12 jam di Bangkok.  Maklum,  selain bersahabat, keluarga pun saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya telpon di bandara Suvarnabhumi, Toro mengingatkan selain disebut Bangkok nama resmi kota ini adalah Krung Thep Mahanakhon (กรุงเทพมหานคร) yang berarti “kota dewa-dewa”.  Mau tahu nama lengkap Bangkok? Terpanjang di dunia menurut Guinnes: &lt;em&gt;Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Phiman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit&lt;/em&gt;.   Artinya:  Kota Malaikat, kota hebat, kota permata abadi, kota tuhan Indra, ibukota raya dunia yang dilengkapi dengan 9 permata langka, kota bahagia yang terdapat Istana Kerajaan yang menyerupai nirwana di mana bertahta tuhan yang bereinkarnasi, kota yang dipersembahkan tuhan Indra dan dibangun oleh Wishnukarma. Hebat nian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama resmi ini susah dihapal, makanya dunia tetap mempertahankan nama Bangkok, walaupun arti sebenarnya menunjuk pada wilayah di sebelah barat sungai di kota itu.  Mengapa disebut Bangkok?  &lt;em&gt;Ban&lt;/em&gt;g nama wilayah di pinggir sungai, sedangkan &lt;em&gt;Kok&lt;/em&gt; nama pohon berbuah seperti olive.  Begitu katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibukota Siam ini terletak di mulut sungai &lt;em&gt;Chao Phraya &lt;/em&gt;(372 km) dan memperoleh status pada tahun 1768, ketika zaman Kerajaan Ayutthaya (1350 - 1767) dikalahkan Kerajaan Burma di tahun 1767.  Penguasa baru, Raja Taksin lah menjadikan Bangkok ibukota negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi strategis Thailand menjadikan negeri ini penting bagi kolonial Eropa dan dipelihara netralitasnya sehingga dalam 200 tahun menjadi kota berpengaruh di Indochina maupun Asia Tenggara.  Bahkan pada zaman Perang Vietnam.  Sebelum krismon, Bangkok dijadikan &lt;em&gt;headquarters&lt;/em&gt; bagi MNCs, dan menjadi kota termahal di Asia Tenggara setelah Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;One Night in Bangkok?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup!  Bangkok yang seluas 1568 km2 (hampir 3 kali Jakarta: 661 km2!) dengan jumlah penduduk 6,5 juta (Jakarta: 8,5 juta) memang kota wisata.  Bila digabung dengan kota-kota satelit di sekitarnya maka penduduk Bankok mencapai hampir 12 juta.  Penduduk Thailand keseluruhan sekitar 66 juta (2009).  Jakarta jelas lebih tua, didirikan pada abad ke-4, dulu kota tercinta kita ini ibukota kerajaan Sunda yang  disebut sebagai Sunda Kelapa (397–1527), lalu statusnya diteruskan oleh &lt;em&gt;Dutch East Indies&lt;/em&gt;, kemudian disebut Jayakarta (1527–1619), Batavia (1619–1942), dan Jakarta (mulai tahun 1942).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok terkenal sebagai kota dengan banyak delta, kanal, sungai dan tanah datar di sekitar Bangkok, sehingga disebut the "Venice of the East".  Karena tingginya cuma 2 m dari permukaan laut, maka kota ini sering terancam banjir.  Apalagi karena menempati tanah yang lembab, kota ini setiap tahunnya turun 2 inci! Agar tidak tenggelam, maka dibangun sejumlah benteng di pinggir sungai dan laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini dulu terkenal dengan &lt;em&gt;traffic jam&lt;/em&gt;, dan gas-buang yang tinggi mencekik.  Dulu ketika diundang menjadi pembicara pada suatu konperensi internasional pada tahun 1999 saya merasakan gas-buang yang mencekik setiba di Don Muang, bandara lama, yang carut-marut seperti pasar Tanah Abang.  Itu dulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang berbeda.  Karena banyak jalan raya bertingkat dan persimpangan dibangun, dilengkapi dengan berbagai jalan kereta api, termasuk &lt;em&gt;subway&lt;/em&gt;, beban kota, termasuk carbon-monoxide jauh berkurang dan udaranya pun OK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu 5-tahun, Bangkok berbenah sistem transportasi kota.  Kini  ada 4 jalur cepat yang dilayani oleh moda angkutan BTS, MRT (subway, sejak 2004), dan  SRT di permukaan maupun bawah tanah.  Ada 4 jalur lagi sedang dibangun dan selesai pada tahun 2020.  Sistem ini menjadi bagian dari moda transportasi lengkap, termasuk bis sungai yang menjadi bagian dari bis kota maupun subway.  Tarifnya beragam.  Tetapi, dengan tarif 7 baht (Rp.  1925) Anda dapat mencapai penjuru kota.  Tentu tersedia pula alat transportasi yang lebih nyaman dengan AC, dengan biaya 11-24 baht (Rp. 3000 – 6600). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13Izc58ZqI/AAAAAAAAADY/5EDszQ4C6E0/s1600-h/foto2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13Izc58ZqI/AAAAAAAAADY/5EDszQ4C6E0/s320/foto2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430717511936796322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pariwisata: 3 kali Indonesia!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok dikunjungi 11 juta (total Thailand 14,4 juta/tahun) wisatawan asing, mengimbangi Paris dan London.  Bandingkan Indonesia dengan segala macam keindahan alam dan budaya hanya mampu menjaring wisman sebanyak 5,5 juta saja!  Pariwisata menyumbang share GDP Thailand sebesar 5%.  Luar biasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa rahasianya?  Transit 12 jam tentu bukan waktu yang cukup untuk melakukan investigasi.  Idealnya tentu seminggu berkunjung ke berbagai tempat di seluruh pelosok negeri.  Idealnya, jika banyak waktu saya ingin membuat foto-foto di berbagai obyek wisata di kota ini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Karena itu, saya hanya memusatkan diri pada tempat terpenting  saja, seperti &lt;em&gt;The Grand Palace&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;city-tour &lt;/em&gt;terbatas.  Tetapi, Bangkok memang menyenangkan bagi pengunjung semua umur.  Mau wisata agama (Buddha) atau sejarah, wisata alam, kuliner, atraksi, atau belanja?  Memang mereka siap: aman, nyaman, harga reasonable (tergantung kantong), dan atraksi budaya maupun keindahan yang impresif!  Strategi pemasaran wisata Thai juga efektif, karena tidak dilakukan oleh para birokrat tetapi professional yang dibayar khusus.  Tidak seperti kita.  Kita memang harus banyak belajar (bukan studi banding!) dengan Thailand.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Maka, saya mengunjugi &lt;em&gt;The Grand Palace&lt;/em&gt;, pusat wisata religi yang memiliki ribuan kuil yang bersejarah, dan sisanya beberapa obyek saja.  Kompleks ini menjadi landmark kota, yang dikelilingi oleh tembok putih, di lokasi sekitar 1,5 m2.  Di dalamnya ada &lt;em&gt;Royal Chapel&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Royal Collection of Weapons&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Coin Pavillion&lt;/em&gt;, serta berbagai museum.  Di samping &lt;em&gt;Grand Palace&lt;/em&gt;, silahkan datang ke &lt;em&gt;Wat Pra Kaeo &lt;/em&gt;yang dibangun pada tahun 1782.  Di sini terdapat &lt;em&gt;The Emerald Buddha &lt;/em&gt;di altar setinggi 11 meter, dihiasi 9 (angka sakti) payung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tempat menarik lainnya adalah &lt;em&gt;The Temple of the Reclining Buddha &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;Wat Pho&lt;/em&gt;, landmark lainnya di Bangkok, daerah yang banyak seniman memamerkan karyanya; &lt;em&gt;Wat Arun &lt;/em&gt;(Temple of the Dawn) yang juga menjadi landmark, kuil kuno yang prima dibangun di ibukota kuno kerajaan &lt;em&gt;Ayutthaya&lt;/em&gt;, dan disempurnakan pada zaman KIng Rama IV; &lt;em&gt;The Golden Mount&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Phukhao Thong&lt;/em&gt;, dibangun setinggi 100 m pada landasan bergaris-tengah 500 m pada  zaman King Rama III dan diselesaikan oleh King Rama IV.  Relik Buddha yang terdapat di sini dipasang pada tahun 1977;  &lt;em&gt;Wat Ratchanaddaram&lt;/em&gt;, kuil yang dibangun oleh  King Rama III pada tahun 1846.  Di sini terdapat bangunan kuil  "Loha Prasat" pusat pengajaran agama Buddha dulu, dan unik karena terdapat &lt;em&gt;Sukhothai Traimit Golden Buddha&lt;/em&gt;, patung terbesar di dunia yang berusia lebih dari 700 tahun dengan berat kl. 5 ton emas murni!   Atau, silahkan berkunjung ke &lt;em&gt;Luang Phor To&lt;/em&gt;, terdapat patung Buddha setinggi 32 m, lebar 11 m, yang dibangun pada tahun 1869 pada zaman King Rama IV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Obyek-Obyek Lainnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13I_8m5I-I/AAAAAAAAADg/xozZCuNvVq0/s1600-h/foto3.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13I_8m5I-I/AAAAAAAAADg/xozZCuNvVq0/s320/foto3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430717726605255650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Obyek-obyek menarik lainnya adalah &lt;em&gt;Chao Phraya River Trip&lt;/em&gt;, bisa digabung dengan makan siang atau malam, menumpang boat kecil membelusuk ke kanal-kanal kota yang banyak dihiasi dengan kuil-kuil, rumah kuno, atau berkunjung ke ‘floating market’ di Bangsai,  Taling Chan, termasuk &lt;em&gt;Thonburi Snake Farm &lt;/em&gt;yang menjual ular, buaya dan berbagai jenis burung.  Sayang, saya perlu datang pada dinihari untuk menyaksikan transaksi penjual dan pembeli di atas sungai. Unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Patpong Night Bazaar &lt;/em&gt;menjadi tempat yang &lt;em&gt;notorious&lt;/em&gt;, semacam red-light untuk para hidung-belang.  Di malam hari jalan ini diubah menjadi pasar kaget, kata teman saya, Toro.   Patpong dulu pada zaman Perang Vietnam menjadi tempat santai perajurit GI dari AS. Tadinya saya bermaksud buat foto, karena membayangkan tempat ini seperti Broadway di New York, namun urung karena agak seram juga.  Daerah ini bukan untuk turis fotografer seperti saya.  Saya juga tidak berminat membeli barang-barang bajakan dari berbagai merk terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika senang dengan sejarah, Anda dapat pula berkunjung ke &lt;em&gt;Vimanmek Palace &lt;/em&gt;(Cloud Mansion) yang unik karena seluruh bangunan istana terbuat dari kayu,  warisan zaman King Rama V (King Chulalongkorn), yang dipindahkan dari tempat aslinya pada tahun 1901;  &lt;em&gt;Suan Pakkad Palace &lt;/em&gt;yang menjadi kediaman resmi  Princess Chumbhot of Nagara Svarga, kolektor  barang seni dan tanaman termashur di Thailand.  Di sini terdapat rumah-rumah tradisional, barang antik, kristal, vas, benda tembaga dan benda-benda pra-sejarah arkeologis; atau ke &lt;em&gt;Jim Thompson's House&lt;/em&gt;, rumah tradisional Thai kediaman mantan anggota &lt;em&gt;US Office of Strategic Services (OSS)&lt;/em&gt; yang datang pada saat PD II.  Dia dikenal bukan sebagai militer, tetapi tokoh yang membangun industry sutera Thailand.  Tragis, Thompson hilang di hutan belantara  &lt;em&gt;Cameron Highlands &lt;/em&gt;di Malaysia pada tahun 1967.  Di sini banyak koleksi barang antik dan seni dari berbagai negeri Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika senang wisata alam, boleh dipertimbangkan mengunjungi &lt;em&gt;King Rama IX Royal Park &lt;/em&gt;yang terletak di sekitar area 200 ha, dibangun tahun 1987 untuk memperingati ultah  ke-60 King Rama IX's (raja sekarang), yang merupakan botanical garden dan tentu saja banyak bunga dari berbagai jenis;  atau &lt;em&gt;Queen Sirikit Park &lt;/em&gt;(Chatuchak) yang banyak pohon dan bunga-bunga yang indah. Bangunan marmer bergaya Italia di sini dibangun pada tahun 1907 oleh &lt;em&gt;King Chulalongkorn &lt;/em&gt;yang kemudian dijadikan gedung parlemen (lama); ke &lt;em&gt;Lumpini Park&lt;/em&gt;, di lokasi seluas setengak km2, banyak danau-danau buatan dan tempat bersepeda, di depannya terdapat monumen &lt;em&gt;King Rama VI &lt;/em&gt;yang dibangun tahun 1941; maupun dengan anak-anak/keluarga berkunjung ke &lt;em&gt;Dusit Zoo (Khao Din)&lt;/em&gt; di dekat gedung parlemen (lama), kebun binatang dengan koleksi berbagai hewan, dihiasi dengan danau dan pepohonan yang hijau serta bunga-bunga yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk &lt;em&gt;city-tour&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Chinatown&lt;/em&gt; yang berdiri sejak tahun 1780, yang sebelumnya berada di gedung parlemen (baru) sekarang cukup menarik, atau jika senang berbelanja pergilah ke  &lt;em&gt;Siam Square&lt;/em&gt; daerah belanja dan bioskop, atau  Bagi anak muda, silahkan berkunjung ke &lt;em&gt;Royal City Avenue &lt;/em&gt;yang banyak pusat entertainment pub, bar, disco dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak heran jika Bangkok berhasil mendatangkan 11 juta wisatawan setiap tahun.  Saya mencoba menghitung, berapa banyak devisa diterima.  Jika 80% devisa masuk dari sektor pariwisata masuk ke kantong rakyat pelaku UKM, maka wajar jika pendapatan per kapita Bangkok mencapai USD. 14.000 (2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13JIYleAQI/AAAAAAAAADo/FrEHXZP2tLU/s1600-h/foto4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 252px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13JIYleAQI/AAAAAAAAADo/FrEHXZP2tLU/s320/foto4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430717871554429186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya saya berterimakasih kepada Toro, yang rela menemani saya beberapa jam di Bangkok untuk membuat catatan untuk direnungkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto yang lebih lengkap saya upload di &lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok, 18 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-9172344929165041143?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/9172344929165041143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/01/12-jam-di-bangkok.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/9172344929165041143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/9172344929165041143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2010/01/12-jam-di-bangkok.html' title='&lt;strong&gt;12 JAM DI BANGKOK&lt;/strong&gt;'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/S13IjEYM4MI/AAAAAAAAADQ/S2_lUqOLy4I/s72-c/foto1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-7300292316536823498</id><published>2009-12-28T08:23:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T08:45:28.958-08:00</updated><title type='text'>Andrzej Wawrzyniak: Duta Indonesia di Polandia</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjfSoya8rI/AAAAAAAAADI/0T-aqgabI8k/s1600-h/Foto1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjfSoya8rI/AAAAAAAAADI/0T-aqgabI8k/s320/Foto1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420327662819930802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"SAYA akan berangkat bulan Desember ini ke Indonesia, tanah air saya yang kedua. Saya sangat merindukan teman-teman lama, dan tentu berbagai jenis kuisinnya. Rindu ini saya pendam sudah 2 tahun, biasanya saya pulang ke Indonesia setiap tahun," ucap Andrzej "Nusantara" Wawrzyniak (baca: Andzei Vavziniak), Direktur Museum Asia Pasifik yang fasih berbahasa Indonesia. Meskipun telah berusia 78 tahun, Bapak Andrzej tetap aktif dalam berbagai acara diplomatic circles di Warsawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terakhir kali bertemu pada penghujung November yang lalu, ketika Paman Andrzej mengundang saya untuk makan siang di suatu restoran masakan Polandia, di pojok kota Warsawa. Pada saat itu dia tampil berjas rapi, katanya dia bersiap-siap untuk berangkat pada bulan Desember ke Indonesia untuk beberapa bulan. Biasanya, kemana-mana dia tampil berbaju batik atau songket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya khawatir, ketika saya kembali dari Indonesia nanti tahun depan Anda sudah menyelesaikan mandat di Polandia dan pulang ke tanah air," katanya. Saya memang telah bertugas selama lebih dari 3 tahun di Polandia, waktu untuk bersiap-siap untuk berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/Szjdsb466zI/AAAAAAAAACw/tnl1F4H3y-4/s1600-h/Foto4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/Szjdsb466zI/AAAAAAAAACw/tnl1F4H3y-4/s320/Foto4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420325907010874162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, di kala senggang saya suka mampir ke kantornya. Di tempat itu, dia selalu menjamu saya makan siang yang ditutup dengan minum kopi "Luwak" kegemarannya. Katanya, kopi luwak ini beraroma terbaik dan termahal di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini saya jarang datang, karena hingar-bingar pembangunan kantor dan kondominium mewah "Pacific Plaza" di sebelah kantornya agak mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dia bangga, karena sebagian ruangan yang cukup luas di Pacific Plaza itu akan dijadikan museum yang akan menyimpan puluhan ribu koleksi benda budaya etnis Museum Asia dan Pasifik, yang saat ini terserak-serak di berbagai cabang museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman Andrzej, begitu dia lazim disapa oleh semua orang Indonesia yang berada di Polandia, adalah duta seumur hidup Indonesia di Polandia, karena sangat aktif mempromosikan Indonesia melalui setiap tahunnya puluhan kegiatan pameran, pergelaran budaya yang dikelola oleh Museum Asia Pasifik atau menjadi sponsor penerbitan sejumlah buku-buku tentang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama "Nusantara" itu tidak lain adalah pemberian dari Bung Karno, karena dia menjadi pengunjung setia di Istana Negara dan mengenal Megawati Soekarnoputri, yang kemudian menjadi presiden dan berkunjung ke Polandia pada tahun 2003, sejak gadis remaja. Ibu Megawati pada saat kunjungan di Warsawa itu, menurut Andrzej Wawrzyniak mengingatnya dengan baik dan tetap memanggilnya "Paman Andrzej".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena peran aktifnya dalam mempromosikan Indonesia, maka saya suka bercanda dengan teman-teman di kalangan diplomatik dengan memperkenalkan Paman Andrzej sebagai "the permanent Indonesian Ambassador in Poland", sementara saya sendiri adalah "temporary Ambassador", karena mandat penugasan sekitar 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjeHUGDlCI/AAAAAAAAAC4/zMw9fcrJkjw/s1600-h/Foto3.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjeHUGDlCI/AAAAAAAAAC4/zMw9fcrJkjw/s320/Foto3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420326368774951970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Andrzej Nusantara memang tokoh istimewa. Pada saat saya akan berangkat menuju tugas baru di Warsawa pada bulan November 2006 yang lalu, tidak kurang tokoh terkenal Alm Ali Alatas menitip salam untuk Paman Andrzej. Banyak diplomat senior dan politisi lama Indonesia yang menjadi sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat artikel ini ditulis, Paman Andrzej sudah berada di Indonesia atas undangan Dubes Republik Polandia untuk Republik Indonesia di Jakarta, Tomasz Lukaszuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu, Paman Andrzej yang bertubuh tinggi besar ini sedang memperbarui persahabatan dengan berbagai tokoh-tokoh nasional sejak zaman Bung Karno, pada saat saya masih bercelana pendek di bangku Sekolah Rakyat (SR). Dan, tentu Paman Andrzej sedang menikmati sate Senayan, makanan favoritnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sangat bergembira untuk `pulang' ke Indonesia, bukan karena akan bertemu dengan kawan-kawan lama saja. Tetapi muhibbah ini juga menjadi reuni keluarga kami di akhir tahun, anak lelaki saya yang lahir di Jakarta dan kini menjadi dosen di Timur Tengah dan keluarganya akan bergabung," katanya sambil menghirup tembakau pipa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjfBsqmevI/AAAAAAAAADA/BvL2z-iT8gw/s1600-h/Foto2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjfBsqmevI/AAAAAAAAADA/BvL2z-iT8gw/s320/Foto2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420327371803097842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pencinta Indonesia Sepanjang Zaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrzej Wawrzyniak aslinya seorang pelaut yang terdampar menjadi diplomat. Penugasannya di Indonesia, dan kedekatannya dengan Bung Karno, menjadikan negeri itu sangat istimewa baginya. Di Indonesia kegemarannya terhadap barang-barang etnis tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lahir 3 Desember 1931 di Warsawa. Sejak usia 16 tahun dia menjadi anak-kapal pada kapal "Dar Pomorza" yang pada tahun 1935 pernah mampir di Indonesia di zaman kolonial, sampai diangkat menjadi pelaut pada kapal dagang. Dia menyelesaikan Sekolah Dinas Luar Negeri di Warsawa dan pada tahun 1956 menjadi pegawai Kementerian Luar Negeri Warsawa, dan selanjutnya menyelesaikan gelar doktor pada Social Sciences School di Warsawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya bertugas di Indonesia selama 10 tahun (1961-1971), Paman Andrzej juga pernah bertugas di Vietnam, Nepal dan Namibia, sebagai pengamat PBB, kemudian di Afghanistan (1990-1993), Bosnia Herzegovina (1996) dan Timor Timur (1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa penugasan selama lebih dari 25 tahun di Asia, dia rajin mengumpulkan koleksi dari berbagai benda-benda etnografis dan budaya dari berbagai negara itu. Tidak heran, pada suatu saat Paman Andrzej dan Museumnya menyelenggarakan pameran sangkar burung, topeng-topeng Jawa, ukiran dan benda etnografis Papua, lukisan Bali, kain songket, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 3000 jenis benda budaya etnis dari Nusantara, sebagai hasil penugasannya sekitar 10 tahun di Indonesia, disumbangkannya kepada Museum Kepulauan Nusantara, yang di kemudian hari berkembang menjadi Museum Asia dan Pasifik pada tahun 1976. Di sinilah awal dirinya menjadi kolektor berbagai benda budaya. Oleh karena waktu penugasan yang cukup panjang dan sahabat-sahabat yang meluas di Indonesia maka Indonesia menjadi negeri yang sangat dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini museumnya memiliki sekitar 20 ribu jenis koleksi dari berbagai budaya Asia, Australia dan Pasifik. Tidak heran, dia akhirnya diangkat oleh Pemerintah Polandia menjadi direktur seumur hidup di Museum Asia dan Pasifik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh koleksi itu diharapkannya akan digelar di tempat baru yang bergengsi Pacific Plaza yang akan diresmikan pada tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjdUFvF6XI/AAAAAAAAACo/UjMcSUIvUs8/s1600-h/Foto5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjdUFvF6XI/AAAAAAAAACo/UjMcSUIvUs8/s320/Foto5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420325488747211122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerima Sejumlah Tanda-Jasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan tokoh yang menjadi duta abadi Indonesia di Polandia ini tercermin dari sejumlah tanda-jasa, medali dan penghargaan yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas jasa-jasanya membina hubungan Polandia dengan kawasan Asia dan Pasifik itulah, Paman Andrzej dianugerahi berbagai medali kehormatan, antara lain, Millennium of Poland Decoration atas pengakuan terhadap kegiatan sosial (1966), Chevalier's Cross of the Order of Polonia Restituta (1967), Merit of "The Keeper of National Remembrance" (1971), Special Prize of the Minister of Culture sebagai kolektor dan direktur museum (1975), Honorary Merit "Distinguished Official of the Foreign Service" dari Menlu Polandia (1978), Medali dari President of of the State Council pada Ultah ke-40 People's Republic of Poland (1984), Commander's Cross of the Order of Polonia Restituta with Star sebagai pengakuan atas komitmen tinggi dalam memopulerkan warisan budaya Asia dan Pasifik (2003), serta tanda-kehormatan dari Pemerintah Afghanistan, Vietnam, Laos, dan Mongolia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pemerintah Republik Indonesia Andrzej Wawrzyniak memperoleh tanda-kehormatan, antara lain, Piagam dari Menlu RI sebagai pengakuan atas komitmennya untuk memajukan budaya Indonesia di Polandia (1990), dan Indonesian Order of Service with Star sebagai pengakuan atas komitmen tinggi dan kegiatan dalam memperkokoh persahabatan Indonesia dan Polandia (1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;COPYRIGHT © 2009&lt;br /&gt;Antara News&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-7300292316536823498?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/7300292316536823498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2009/12/andrzej-wawrzyniak-duta-indonesia-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7300292316536823498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/7300292316536823498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2009/12/andrzej-wawrzyniak-duta-indonesia-di.html' title='Andrzej Wawrzyniak: Duta Indonesia di Polandia'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SzjfSoya8rI/AAAAAAAAADI/0T-aqgabI8k/s72-c/Foto1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-1350960789608600424</id><published>2009-12-18T07:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:39:49.960-08:00</updated><title type='text'>ESPERANTO</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyufmqoVBUI/AAAAAAAAACA/MazIJ4aglf4/s1600-h/Foto-3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyufmqoVBUI/AAAAAAAAACA/MazIJ4aglf4/s320/Foto-3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416598463470437698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEKAN lalu, 2000 orang dari 63 negara ambil bagian dalam 94th World Esperanto Congres yang berakhir Sabtu (1/8) di Byalistok, di timurlaut Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Byalistok, kota kelahiran pencipta bahasa dunia Esperanto seorang ahli mata Polandia, Ludwik Zamenhof, kali ini dipilih menjadi tuan rumah kongres dunia tahun 2009, sekaligus memperingati hari kelahiran sang jenius yang ke-150 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bahasa internasional ciptaannya, Zamenhof telah menciptakan instrumen khusus untuk komunikasi internasional yang netral, demikian resolusi dihasilkan oleh kongres itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta kongres menyatakan Zamenhof wajar mendapat perhatian khusus tidak saja sebagai penciptanya tetapi sebagai seorang yang berjuang untuk terciptanya persaudaraan tulus sesama rakyat di dunia yang didasarkan pada pengertian timbal-balik sepenuhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zamenhof juga berupaya untuk menghapuskan kebencian yang mungkin timbul karena perbedaan agama dan prasangka rasial serta penolakan terhadap perang sebagai cara untuk menyelesaikan konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa Esperanto?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaan ini membawa ingatan saya dalam kunjungan terakhir ke Byalistok pada akhir Mei 2009 yang lalu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Meskipun masih beberapa bulan, tetapi suasana persiapan perhelatan sudah terasa.  Maklum, Byalistok selama 25 Juli sampai 1 Agustus akan menjamu ribuan pengguna Esperanto dalam kongres se dunia ke-94.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Saya  ingin menemukan jejak-jejak peninggalan sejarah masa lalu di kota yang agak lengang ini pada saat memenuhi undangan  teman baik saya, Bapak Tomasz Miskiewicz, yang menjadi Mufti Polandia yang berkedudukan di Byalistok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, saat itu saya diundang kali ini dalam rangka peringatan terbentuknya pemukiman Muslim Tartar sejak 330 tahun yang lalu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbekal sedikit informasi tentang Esperanto saya bermaksud melihat pusat kota tua.  Kota tua merupakan ciri-khas penting di Polandia.  Di mana-mana di berbagai kota di Polandia saya selalu menyempatkan menghabiskan 1-2 jam untuk membuat foto-foto, maupun sekadar mengobrol dengan teman sambil minum kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saluton, mi nomias Haz Pohan, Kiel vi nomias?”  Saya mencoba mempraktekkan bahasa Esperanto terbatas kepada seorang pria di taman kota Byalistok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang duduk di taman itu menjawab: ”Saluton, mi nomias Maciej”.  Saya lalu berbicara dalam bahasa Rusia menanyakan di mana letak tugu Zamenhof, orang jenius dunia kelahiran kota itu, Byalistok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mi ne komprenas”, ujarnya.  Dia mengatakan bukannya tidak paham bahasa Rusia, tetapi meskipun kota Byalistok lebih dekat ke perbatasan menuju Belarus yang berbahasa Rusia tetapi dia lebih suka berbahasa Inggeris.  Atau Esperanto!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedengaran aneh? Bahasa tadi yang saya gunakan adalah Esperanto, atau bahasa dunia yang diciptakan pada tahun 1887 oleh Dr Lazar Ludwig Zamenhof (1859-1917), seorang dokter mata jenius Polandia keturunan Yahudi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Saya katakan pada Bapak Maciej, pria di taman itu, saya ingin berziarah ke tugu pencipta Esperanto itu. Lalu, dia menunjukkan ke suatu arah dan menuliskan nama jalan.  “Use your GPS, than you’ll find the tombs right in the small park at your right side!”, katanya, sambil menuliskan alamat di kertas kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menerima catatan itu, dan mengucapkan “Dankon”, atau terima kasih dalam bahasa Esperanto.  Dia membalas: “No dankinde”, atau terima kasih kembali.  Saya pun beranjak meninggalkan Pak Maciej. Kami mengawali dan menutup pembicaraan dengan bahasa Esperanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyufIySYE3I/AAAAAAAAAB4/rLZyn3UbVqo/s1600-h/Foto-2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyufIySYE3I/AAAAAAAAAB4/rLZyn3UbVqo/s320/Foto-2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416597950129771378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siapa Dr. Zamenhof?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di taman kecil yang ditunjukkan arahnya oleh Pak Maciej hanya ada patung setengah badan.  Sederhana saja.  Tetapi tokoh menarik perhatian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Byalistok bukan sekadar kota di mana Zamenhof nompang lahir.  Dia juga tumbuh dengan latarbelakang multi-etnis sejak zaman dulu kala, dan dikenal toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Byalistok memiliki latarbelakang etnis beragam, Polandia, Rusia, Jerman dan Yahudi, di samping Muslim Tartar yang berjumlah sekitar 5000 orang.  Sebagai kota multi-etnis, di mana pun, ketegangan etnis dan antagonisme selalu terjadi. Salah satunya adalah tentu salah pengertian, karena menggunakan bahasa yang berbeda-beda.  Ini yang menjadi insiprasi Zamenhof untuk menelurkan idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menuliskan pengalaman batinnya dalam sebuah surat kepada temannya, Nikolai Borovko, kurang lebih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tempat kelahiran dan di mana saya menghabiskan masa kanak-kanak memberi arah perjuangan saya ke depan.  Dulu di Byalistok warg kota tersekat-sekat oleh pemisahan 4 etnis, Rusia, Polandia, Jerman dan Yahudi, masing-masing menggunakan bahasanya sendiri dan memandang pihak lainnya sebagai musuh.  Di kota ini, perbedaan bahasa yang mendasari pengelompokan keluarga manusia dalam ketegangan etnis menjadi sensitivi dan  mencekam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya terlahir idealis, diajarkan bahwa semua manusia adalah saudara, tetapi di luar rumah tidak ada persaudaraan.  Yang ada hanya kelompok etnis Rusia, Polandia, Jerman dan Yahudi.  Ini menyiksa masa kanak-kanakku, meskipun banyak juga orang memberi senyuman padaku. Maka, sejak saat itu saya berjanji akan menghancurkan kejahatan ini. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esperanto pun lahir pada akhir tahun 1870-an, ketika Bialystok masih menjadi bagian dari Kerajaan Rusia.  Zamenhof ingin menyumbang untuk terciptanya harmoni dalam pergaulan sosial sehari-hari kota multietnis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polandia adalah negeri yang terjepit di antara Jerman dan Rusia, maka sarat dengan sejarah.  Tidak kurang, bangsa-bangsa dari utara maupun selatan juga turut ambil-bagian memerintah di sini.  Negeri ini pernah hilang dari peta politik Eropa selama 123 tahun, karena 3 kali dibagi habis (partition) oleh pendudukan berbagai bangsa-bangsa di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, seorang sejarawan berkebangsaan Inggeris bernama Norman Davies, menulis negeri ini dalam bukunya yang terkenal sebagai: God’s Playground (1979).  Buku ini mengungkapkan apa yang dialami oleh orang-orang Polandia dalam sejarah seribu tahun di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak urung, geser-menggeser perbatasan negara selalu menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat yang sudah ratusan tahun berbaur.  Di kota Byalistok yang multikultural, bahasa dan agama juga terbelah-belah, dan ini mengganggu harmoni.  Ini yang menjadi latar-belakang lahirnya bahasa Esperanto di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyueztuqtHI/AAAAAAAAABw/RyQQjOfYZko/s1600-h/Foto-1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyueztuqtHI/AAAAAAAAABw/RyQQjOfYZko/s320/Foto-1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416597588129002610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;94th World Congress of Esperanto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, di kota ini pekan kemarin berlangsung perhelatan 94th World Congress of Esperanto (Esperanto: Universala Kongreso), sekaligus peringatan ultah ke-150 tahun kelahiran  L.L.Zamenhof.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam percakapan saya dengan Pan Maciej di bulan Mei itu, kami sempat berbincang-bincang mengenai hari penting tentang Esperanto.  Katanya, populasi pengguna bahasa Esperanto kian meningkat, dan bahasa itupun kian berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping keuntungan untuk berkomunikasi dengan siapapun dari penjuru dunia, Esperanto mengungguli bahasa-bahasa dunia lainnya karena dapat dipelajari 10 kali lebih cepat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Esperanto dibentuk dengan dasar tata bahasa yang dipunyai oleh bahasa-bahasa dunia lainnya.  Yang penting, tidak rumit, gampang membacanya dan menghapalnya.  Dan tentu, enak didengar.  Bacalah seperti apa yang tertulis.  Dan, dengan menggunakan bahasa ini Anda dijamin kedengaran agak ilmiah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa ini menjadi cepat popular di dunia, dan berhasil menerbitkan majalah pertama pada tanggal1 September 1889, yang kemudian pada tahun 1954 mendapat pengakuan UNESCO.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Katanya lagi, dengan Esperanto maka Anda akan berteman dengan orang-orang dari seluruh dunia dan dengan latar-belakang perbedaan budaya apapun.  Tidak usah khawatir, pengguna bahasa unik ini terdapat di seluruh dunia.  Esperanto mengeluarkan Buku Saku, yang disebut “Pasporta Servo”&lt;br /&gt;Buku Saku itu (http://www.tejo.org/ps) memuat sekitar 1000 alamat  Esperantists, atau orang-orang pengguna bahasa Esperanto, di lebih dari  80 negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga dengan senang hati menerima Anda menjadi tamu, tanpa membayar akomodasi!  Solidaritas yang cukup tinggi, di tengah-tengah langkanya orang yang peduli kepada tetangganya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa tujuan Esperanto?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Esperantists percaya, dengan menggunakan satu bahasa yang dimengerti bersama, maka akan tercipta perdamaian dunia.  Memang, adakalanya bahasa yang menjadi symbol chauvinisme menimbulkan arogansi yang kurang berkenan di hati orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Esperanto tidak mengklaim keunggulan Chauvinisme itu, dan bukan bertujuan akan menghapuskan bahasa-bahasa dunia.  Tetapi, dia lahir untuk menciptakan kesamaan, sama rata dan sama rasa.  Katanya, jika kita menjadi komunitas salah suatu bahasa internasional, maka bangsa pemilik bahasa itu akan menganggap kita berada di bawah ‘pengaruh’ budaya mereka.  Orang-orang Esperanto menyebut ini sebagai“language imperialism”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esperanto tidak untuk menghapus bahasa ibu. Tujuannya adalah menjadikan Esperanto sebagai bahasa kedua bagi siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esperanto memiliki markas besar sejak tahun 1955 di Roterdam, yang disebut  Universala Esperanto Asocio [World Esperanto Association] yang berdiri sejak tahun  1908 dan baru memperingati keberadaan seabad pada tahun 2008 yang lalu.  Di Rotterdam pada saat itu juga diselenggarakan kongres, dengan berbagai kegiatan linguistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres itu sendiri baru dimulai pada tahun 1905 yang berlangsung setiap tahun, kecuali pada saat dua kali perang dunia (1915 dan 1945).  Sebelumnya, kongres pernah diselenggarakan di berbagai kota di Inggeris, tahun 1907 (Cambridge), 1926 (Edinburgh), 1930 (Oxford), 1938 (London), 1949 (Bournemouth), 1961 (Harrogate), 1971 (London), 1989 (Brighton), dan, tahun 2009 ini di Byalistok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada pekan lalu di Byalistok, kongres diisi dengan berbagai kegiatan, seperti percakapan, kuliah, konser, drama, dan wisata yang seluruhnya menggunakan bahasa Esperanto. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti percakapan saya dengan Pan Maciej tadi, memang terasa nyaman berbicara langsung dengan orang dari seluruh dunia tanpa kewajiban kita untuk mempelajari bahasa mereka.  Jadi, Esperanto lebih dirasakan manfaatnya untuk pergaulan.  Dan, dunia pun menjadi damai, begitulah harapan kaum Esperantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun para pengguna bahasa Esperanto akrab satu dengan lainnya tanpa basa-basi, tetapi saya tidak menganjurkan Anda menyapa seorang gadis di sana dan mengatakan: “Mi amas vin“, yang artinya “I love you“.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tetap seorang manusia dengan perasaannya, dan kultur pun memainkan peranan di sini.  Saya tidak menjamin Anda berhasil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warsawa, 3 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-1350960789608600424?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/1350960789608600424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2009/12/esperanto.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/1350960789608600424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/1350960789608600424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2009/12/esperanto.html' title='ESPERANTO'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SyufmqoVBUI/AAAAAAAAACA/MazIJ4aglf4/s72-c/Foto-3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7057245208652935474.post-668184056273598978</id><published>2009-12-18T06:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:42:43.092-08:00</updated><title type='text'>LAWYERS’ CLUB</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/Syui47H4kuI/AAAAAAAAACI/YyOipQy79y0/s1600-h/DSC_0338.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/Syui47H4kuI/AAAAAAAAACI/YyOipQy79y0/s320/DSC_0338.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416602075670287074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAGIUM bersabda: 2 lawyers berdebat, lahir 3 pendapat. How come? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya para sarjana hukum lebih banyak membuat onar daripada membantu ketertiban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini tuduhan menguat, katanya para pengacara lebih banyak menjadi ‘perantara’ antara yang berperkara dengan law enforcement establishments. Atau, istilah Bang Buyung “Markus”, alias makelar kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tidak mau masuk ke ranah ini, karena bidang hukum yang saya masuki lebih banyak terkait dengan hukum internasional dalam konteks tugas-tugas pemerintahan, dan sesekali ada juga yang bersifat litigasi (penuntutan di pengadilan) ataupun non-litigasi (sebagai penasehat, konsultan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lawyers Pemerintah, tentu kami jauh dari filosofi: “Your problem is my profit”.  Profit kami, ya gaji yang pas-pasan itu.  Tetapi sebagai professional, tentu kepuasan dalam melaksanakan tugas sebaik-baiknya adalah reward tak-terhingga. Apalagi jika case yang dihadapi sampai ke Pengadilan, dan menang!  Meskipun kami juga tahu, jika bisa diselesaikan via out of court settlement, maka win-win solution.  Semuanya happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, teman lama saya di Direktorat PI Deplu, Eddy Poerwana berkunjung ke Warsawa, beserta beberapa tim negosiasi dari Deplu, dalam kaitan penyelesaian perundingan beberapa persetujuan bilateral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghabiskan waktu di Old Town, Warsaw, di suatu kedai yang terkenal dengan kaki sapi (pod kogutem).  Beberapa teman juga turut menikmati anggur panas.  Belum tahu?  Di Polandia ada jenis anggur yang manis dan hangat, dibumbui pula dengan cinnamon (kayu manis), mungkin pula jahe, ketumbar, dan buah pala.  Ini rahasia perusahaan, katanya.  Yang jelas, anggur ini memang unik.  Karena pemilik restoran ini sudah menganggap saya langganan tradisional, maka bolehlah sambil berdebat kami menikmati rokok kretek yang baunya bagi orang Eropa hingar-bingar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawyers selalu menemukan masalah dalam hidup ini.  Jika tidak ada masalah, mari kita ciptakan.  Dan, tentu kita selesaikan pula.  Jika perlu penyelesaian secara adat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddy yang sebentar lagi ditugaskan di salah satu negara penting di Afrika adalah teman berdebat yang baik. Argumennya selalu tajam, sering kurang saya antisipasi. Karena itu, saya sering kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada dasarnya Eddy seorang pendiam, karena lawyer kami tak urung berdebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada malam itu ada 5 lawyers, bisa dibayangkan berapa puluh pendapat yang muncul dari 1 case, seperti tembakan mitraliur.  Teman saya Bambang Hartoyo yang sedang bertugas di Afrika juga lawyer dan baru lulus notaris pula (wah, ini sampingan untuk jaga-jaga jika nanti pensiun, katanya membela diri).  Dia bilang, paling tidak para sekondan yang mendampingi para lawyers juga sah menyampaikan pendapat.  Jadi 5 lawyer dengan masing-masing sekondan, paling tidak sudah ada 20 atau 30 pendapat.  Ramai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, dasar lawyers, kami memang menikmati dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audiens pasti bingung: “orang-orang ini ngomong apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warsawa, 17 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7057245208652935474-668184056273598978?l=hazpohan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hazpohan.blogspot.com/feeds/668184056273598978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2009/12/lawyers-club.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/668184056273598978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7057245208652935474/posts/default/668184056273598978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hazpohan.blogspot.com/2009/12/lawyers-club.html' title='LAWYERS’ CLUB'/><author><name>Haz Pohan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13790002031417346198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/SsXyWh7WUMI/AAAAAAAAABM/g8JmH09sq04/S220/DSC_0032.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VYQx4OhWQ1s/Syui47H4kuI/
