Friday, October 2, 2009

DUTA TANPA BESLUIT

PADA era globalisasi dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, diplomasi tidak hanya menjadi domain para diplomat. Karena itu siapa saja yang turut menyelenggarakan diplomasi juga disebut ‘duta bangsa’, dan layak mendapat apresiasi.

Berbeda dengan diplomat wakil resmi kita, mereka tidak memerlukan surat keputusan, SK atau besluit.

Maka, semua unsur bangsa: anggota parlemen, politisi, pengusaha, budayawan, rohaniwan, TKI, masyarakat Indonesia yang bermukim di suatu negara atau bahkan wisatawan kita yang sedang berkunjung ke luar negeri adalah ‘diplomat’, termasuk masyarakat setempat pencinta budaya Indonesia. Bersama para diplomat mereka memainkan peranan tidak kalah penting dalam mempromosikan Indonesia di luar negeri.

Diplomasi dalam konteks artikel ini adalah upaya bagaimana membuat negeri kita dikenal di dunia internasional dengan citra positif. Tidak jarang, kegiatan dan aktifitas ‘para duta’ ini di tataran internasional dapat berujung pada kepentingan ekonomi: wisata, perdagangan dan investasi.

Pada malam itu, 14 September 2009 yang lalu, 2 juru-masak Indonesia, Azis Wahyudin dan Muhammad Sidik, keduanya berasal dari hotel Hyatt Regency Bandung, 3 rohaniawan Katolik yang berasal dari Indonesia Timur yakni Vinsensius Adi Gunawan, Vinsensius Taji dan Alfred Adipati Manek, Ketua Dewan Kurator Museum Asia dan Pasifik Andrzej ‘Nusantara’ Wawryzniak yang pernah bermukim cukup lama di Jakarta, serta para pemain gamelan mantan penerima Dharmasiswa dari Warsaw Gamelan Group bersama pelatihnya, Sugijanto, menjadi pelaku diplomasi budaya.

‘Para duta’ itu menjadi aktor penting dalam acara pembukaan Indonesian Food Festival bertajuk “Taste Indonesia” di Hotel Hyatt Regency Warsawa yang berlangsung 2 pekan.

Kita masih perlu mengukuhkan keberadaan makanan Indonesia di antara beragam makanan Asia lainnya seperti Jepang, China, Korea, India, Vietnam dan Thailand yang sudah lebih dahulu dikenal. Maklum, di seluruh Polandia memang baru terdapat 2 restoran Indonesia dengan cook Indonesia, yaitu “Galeria Bali” di Warsawa, dan “Warung Bali” di Poznan.

Maka, harapan saya melalui promosi boga akan terbuka kesempatan untuk hadirnya restoran-restoran baru makanan Indonesia di Polandia.

Diplomasi Total

Indonesia dikenal di Polandia sebagai negeri dengan keberagaman budaya: musik, tarian, ukiran, lukisan dari berbagai daerah. Dalam 2 bulan terakhir saja, 6 kelompok seni dari Indonesia hadir dalam berbagai festival dan pertunjukan di puluhan kota di Polandia. Saat ini, sedang berlangsung festival film Indonesia di 10 kota-kota besar di Polandia.

Maka, malam itu menjadi istimewa. Untuk pertama kalinya kami merepresentasikan keunikan dan keberagaman Indonesia melalui boga. Tentu, karena kehadiran Azis dan Sidik, sang duta bangsa.

Untuk menciptakan nuansa Indonesia, maka restoran di lantai dasar Hyatt itu dihias dengan dekorasi pernak-pernik etnis yang kental, termasuk becak Yogya.

Pada malam pembukaan yang dihadiri sejumlah tamu penting, seperti Kepala Kantor Kepresidenan/Mensesneg Mariusz Handzlik, Kepala Badan Promosi Investasi (PAIiIz) Sławomir Majman, Direktur Asia dan Pasifik Kemlu Dubes Krzysztof Szumski dan sejumlah duta besar dari negara sahabat.

Setelah berpidato, saya tampil bersama vocal group. Kami menampilkan lagu-lagu tradisional seperti Lisoi, Ayo Mama, Saputangan Bapucuk Ampat, dan lagu-lagu tradisional dari Sumatra Utara, Flores dan Papua, dengan diiringi gitar, organ dan alat-alat gamelan dan perkusi yang dimainkan oleh para mahasiswa Polandia, personil Warsaw Gamelan Group. Kami juga menampilkan tari-tarian tradisional dari Bali dan Betawi yang dibawakan dengan baik oleh Maria Szymanska, Iwona Czapla dan Roza Puzynowska.

Lengkap sudah suasana Indonesia mendukung makanan lezat Indonesia yang disajikan oleh Azis dan Sidik pada malam itu.

“Terima kasih Bapak Pohan, lagu-lagu rakyat yang dibawakan tadi telah menggugah ingatan saya kepada teman baik Alm. Gordon Tobing dengan Impola Group-nya”, ujar Andrzej Wawryzniak, Ketua Dewan Kurator Museum Asia dan Pasifik yang pernah bermukim cukup lama di Jakarta.

Saya selalu bercanda bila bertemu Bapak Andrzej di berbagai acara bahwa duta besar Indonesia yang permanen di Polandia adalah beliau, sedangkan saya dan dubes-dubes sebelumnya hanya temporer. Mengapa? Karena tokoh yang mengenal baik pemimpin-pemimpin Indonesia sejak zaman Bung Karno itu setiap tahunnya menyelenggarakan lusinan pameran etnografi, lukisan dan benda-benda budaya etnis di penjuru kota Polandia. Sebagai aktor budaya Indonesia, beliau menjadi aset penting dan layak disebut sebagai duta.

Tidak hanya Bapak Andrzej. Para undangan seperti Mensesneg Handzlik, Kepala Badan Promosi Investasi Majman, Dubes Szumski yang pernah bertugas di Indonesia, dan para duta besar lainnya berdiplomasi memuji permainan gitar saya. Tetapi mereka lebih kagum kepada tiga pria dan seorang penyanyi wanitanya dan bertanya apakah mereka profesional yang didatangkan dari Indonesia.

Saya membuka rahasia, dan mengatakan bahwa tiga pria itu, Vinsensius Adi Gunawan, Vinsensius Taji dan Alfred Adipati Manek, sehari-hariannya adalah rohaniwan Katolik. Di Polandia terdapat tujuh rohaniwan Katolik yang bertugas untuk pelayanan umat. Sedangkan penyanyi wanita, Ny. Dyah Poerwonggo, adalah seorang isteri diplomat. Vinsensius Adi Gunawan dan teman-temannya memang sering diminta tampil membawakan lagu-lagu Indonesia di gereja, di samping menjadi duta rohani, kata saya.

“Unik sekali, Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ‘mengekspor’ rohaniwan Katoliknya ke Polandia yang notabene adalah Negara Katolik”!, kata Mensesneg Handzlik sambil berdecak kagum. Kekagumannya bertambah ketika saya selanjutnya menjelaskan bahwa para penari ayu itu adalah warganegara Polandia yang pernah belajar seni-budaya di Indonesia.

Maria Szymanska, Iwona Czapla dan Roza Puzynowska dengan dandanan kostum tradisional malam itu lebih menjadi orang Indonesia daripada Eropa.

Know How

Diplomasi lebih dari permainan kata-kata. Ada substansi dan teknik di sana. Demikian pula festival boga. Kenapa?

Setiba di Warsawa beberapa hari sebelum festival, Aziz dan Sidik mengadakan teknis sambil tukar-menukar informasi mengenai dunia perdapuran dengan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Warsawa.

“Kami menghargai kemauan mereka untuk belajar dengan kami para ibu-ibu, meskipun mereka lulusan sekolah boga”, demikian isteri saya, Ade Pohan, yang juga Ketua DWP.

Menurutnya, pertemuan teknis itu penting untuk menjembatani gap, seperti dialami negara-negara lain yang sebelumnya menyelenggarakan berbagai festival makanan Asia di Polandia, antara suguhan dengan cita-rasa makanan lezat seperti aslinya di Indonesia.

Faktor terpenting yang perlu diperhatikan adalah memilih bahan makanan yang dari berbagai jenis yang ada di pasar, atau bahkan mencari pengganti karena belum tentu semuanya tersedia di negara itu.

Suhu udara dan alat yang digunakan memasak serta tahapan prosedur pengolahannya juga harus disesuaikan. Dia mencatat kekecewaan dalam beberapa kali menghadiri food festival makanan Asia dengan rasa yang ‘jauh’ dari harapan. Malah, hal ini kontra-produktif dengan tujuan promosi karena banyak penggemar yang kecewa, ujar Ade Pohan.

Pengetahuan dan know how dalam urusan perdapuran selama puluhan tahun mendampingi suami bertugas di luar negeri adalah informasi yang sangat kaya dan krusial, katanya.

“Kami tidak hanya menginformasikan pilihan jenis bahan-makanan yang sangat beragam, bumbu dan takaran penggunaannya, agar sesuai dengan cita rasa dan lidah Eropa, tetapi juga toko di mana bahan-bahan itu dapat diperoleh," tambahnya.

Hasilnya lumayan. Setiap malam sedikitnya 40 kursi terisi, dan bahkan sering ruangan restauran yang terletak di lantai dasar itu kebanjiran tamu.

Kedua juru-masak, Azis dan Sidik puas. Setiap malamnya mereka menyajikan berbagai makanan populer dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk berbagai jenis sup pembuka dan juadah jenis jajanan-pasar yang unik.

“Kami tidak menyangka, ternyata makanan favorit pengunjung adalah Soto Dangko, di samping kari kambing, soto ayam yang diberi santan sedikit”, demikian Azis bercerita.

Para duta Indonesia itu juga berkesempatan mengunjungi bagian-bagian menarik di Warsawa, sambil berbelanja untuk mempersiapkan menu yang kian berganti setiap harinya.

Joseph Kral, GM Hyatt Regency puas dan mengharapkan festival serupa dapat diadakan pada tahun 2010 mendatang.

Pada tanggal 27 September 2009 kira-kira pukul 07.00 pagi Azis dan Sidik meninggalkan Warsawa menuju Beograd melanjutkan tugas dalam food festival di sana. Selamat jalan para Duta Bangsa!

© Antara 2009

INDAHNYA BERIDUL FITRI DI POLANDIA

MERAYAKAN Idul Fitri 1430 H di Polandia bagi masyarakat Indonesia menjadi momen istimewa. Apa yang membedakannya dengan tahun lalu? Sebenarnya, ritualnya sama saja dengan lebaran tahun lalu.

Masyarakat muslim dari berbagai bangsa di Warsawa berkumpul di satu-satunya mesjid yang terdapat di Warsawa, di bilangan elite Wilanow, di jalan Wiertnicza, saling bermaaf-maafan pada hari itu, Minggu, 20 September 2009. Tanggal Idul Fitri di Polandia diumumkan oleh masjid beberapa hari sebelumnya,

Di negeri dengan 95 persen penduduk beragama Katolik ini memang tidak banyak terdapat mesjid. Beberapa masjid di kota-kota lain yang saya kunjungi memang tidaklah sebesar di Indonesia.

Di Byalistok dan kawasan permukiman muslim tertua, ada beberapa masjid dan pekuburan kuno bersejarah yang dibangun kaum Tartar. Juga di Wroclaw, meskipun tidak besar seperti di Indonesia tetapi dilengkapi madrasah, atau di Gdansk yang dulu dibangun gotong-royong oleh negara-negara Islam.

Dubes Indonesia Ambyar Tamala dulu bertindak sebagai bendaharawan pembangunan masjid di kota Lech Walesa ini. Jika berkunjung ke Gdansk, saya menyempatkan untuk shalat di masjid ini.

Jika sekarang umat Islam di Warsawa bergembira, wajar. Karena di ibukota Polandia ini sedang dibangun sebuah masjid raya modern. Panitia memberitahukan kepada saya dalam suatu kesempatan, Insya Allah masjid raya ini akan selesai dibangun pada tahun 2010.

Memang kian banyak perantau dari negeri Muslim datang ke sini. Maklum, negeri itu satu-satunya yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif di Eropa sekarang.

Bulan Ramadhan tahun ini dimulai pada saat akan berakhirnya liburan musim panas. Maka, bulan September pun dijejali dengan padatnya kegiatan diplomatik. Memang September mengawali kegiatan menjelang musim gugur, setelah liburan musim panas. Pada pertengahan Desember sampai minggu pertama Januari, mereka libur kembali.

Resepsi hari kemerdekaan RI yang berlangsung di Hyatt Regency dilaksanakan 11 September yang lalu. Bertubi-tubi undangan untuk iftar (acara berbuka puasa) dari berbagai negara-negara konferensi Islam (OKI), termasuk undangan iftar dari Menlu Radek Sikorski, Mensesneg Mariusz Handzlik atas nama Presiden Lech Kaczynski.

Polandia setelah menyempurnakan integrasinya ke struktur-struktur Eropa, kini kembali memperbarui hubungan tradisional dengan sahabat-sahabat lama, termasuk negara-negara utama di Asia Pasifik seperti Jepang, China, India dan Indonesia serta negara-negara Islam lainnya.

Shalat Ied

Shalat Ied di masjid dimulai pukul 09.00 waktu setempat, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani berjasa membela Polandia dari berbagai serangan negeri asing. Mereka sejak 600 tahun telah bermukim di Polandia.

Selanjutnya, Imam menyampaikan khotbahnya dengan tema makna Idul Fitri dan seruan untuk memperbarui komitmen bagi kehidupan yang lebih islami pada tahun-tahun berikutnya.

Pagi yang cerah itu, seusai shalat ied, tampak masyarakat muslim dari berbagai negara bersalam-salaman.

Saya dan isteri sempat beramah-tamah dan berfoto dengan masyarakat Indonesia di halaman masjid.

Setiap shalat ied, saya selalu bertemu dengan wajah-wajah baru, apakah pekerja atau mahasiswa Indonesia dan juga dari Malaysia yang memang berwajah dan rumpun sama dengan kita.

Hari itu, tampak pria muda Erditya Nur Arsah yang belajar di Lublin dan Niken Prawesti dari AIESEC yang sedang magang di Sczecin, serta kedua juru-masak pada Indonesia Food Festival di Hyatt Regency, Muhammad Sidik dan Azis Wahyudin. Mereka baru beberapa hari berada Polandia.

Namun, seusai kami shalat tampak sebagian umat yang baru tiba bergegas memasuki masjid, karena memang shalat Ied berlangsung dalam dua putaran, untuk menampung khalayak yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Kegiatan lebaran pada hari pertama di masjid berlangsung sampai maghrib. Hari itu, pengurus masjid mengadakan berbagai acara, misalnya musabaqah, kuis cerdas cermat tentang Islam maupun pengetahuan umum tentang Polandia, makan siang bersama, dan pertunjukan film-film Islami.

Sayang, saya tidak bisa menghadiri acara itu sepenuhnya, karena masih ada beberapa kegiatan diplomatik lainnya pada hari itu, meskipun hari Minggu.

Karena hari Minggu libur, memang banyak warga muslim bersama keluarga yang menghabiskan waktu seharian di masjid. Tampak, beberapa mualaf yang berasal dari etnis Eropa dan Polandia sedang khusuk beribadah di masjid.

Saya juga telah menyampaikan konfirmasi untuk hadir pada acara Idul Fitri yang disebut "Bayram Day" oleh kaum muslim keturunan Tartar di Byalistok.

Imam Ali Abi Issa dari masjid Wroclaw juga telah menyampaikan undangan untuk hadir dalam acara bersama masyarakat Muslim di sana, seperti tahun-tahun lalu.

Kegiatan Ramadhan di KBRI

Ramadhan bagi kami WNI di Polandia menjadi bulan nikmat, kesempatan untuk bertemu sesama warganegara dalam kegiatan tarawih pada setiap akhir pekan di KBRI.

Seperti tahun-tahun lalu, kegiatan Ramadhan dimulai di Wisma Duta dalam acara berbuka bersama seluruh warga, termasuk non-Muslim, dan dilanjutkan dengan tarawih. Syaf Rudin, staf lokal yang berasal dari Minang, selalu menjadi imam. Ibu-ibu biasanya menggunakan bulan Ramadhan untuk tadarus pada siang hari.

Acara berbuka bersama juga dilakukan bergotong-royong, masing-masing keluarga muslim menyumbang untuk konsumsi. Memang, puasa di Eropa pada penghujung musim panas berlangsung lebih lama daripada di tanah air. Imsyak dimulai pada pukul 04 pagi, sedangkan maghrib dimulai jam 19.30.

Pada shalat tarawih terakhir, saya yang ditunjuk sebagai imam shalat Isya. Saya pun menggunakan waktu untuk berbincang-bincang dengan warga Indonesia yang hadir, termasuk non-muslim, setelah Imam tarawih Syaf Rudin menutup salam.

"Bulan Ramadhan sudah melekat menjadi tradisi di seluruh wilayah Indonesia, yang disemarakan oleh masyarakat non-muslim. Secara sosiologis, suasana pada bulan Ramadhan menjadi berbeda, karena kental dengan kegiatan keagamaan baik komunal maupun individual," demikian saya membuka ceramah.

Suasana relijius ini tidak hanya dirasakan di kampung, desa, atau kota kecil saja. Karena meskipun telah tersegmentasi dalam kelompok kedaerahan, primordial, tetapi dalam konteks lebih luas bulan Ramadhan digunakan juga oleh kaum profesional maupun politisi di kota-kota besar untuk bersilaturahmi, sambil mendalami makna dan pesan-pesan yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

Saya mengajak semua warga untuk menjadikan bulan Ramadhan momentum untuk memperkokoh silaturahmi dan kerukunan sesama umat beragama. Kita harus refleksikan keberagaman Indonesia, termasuk dalam agama dan keyakinan, ke dalam pergaulan antarbangsa di luar negeri. Nilai-nilai ini mungkin unik dan tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya.

Menurut saya, bagi siapa pun masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri, terutama para diplomat perlu memahami kegiatan Ramadhan secara sosiologis, karena Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Janggal, bila seorang Indonesia berada di luar negeri tidak bisa menceritakan fenomena Ramadhan di tanah airnya.

Saya mengulangi pesan, bahwa secara teologis Islam, Ramadhan adalah bulan seribu bulan untuk memperbanyak amalan, sekaligus introspeksi dan memperbarui determinasi untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Pada bulan Ramadhan, umat Islam tidak hanya berpuasa, tetapi juga memperbanyak amalan shalat, zikir dan membaca Al Quran, berbuat kebajikan terhadap sesama, termasuk membayar zakat dan sedekah kepada orang yang berkekurangan, sebagai refleksi dari rasa solidaritas kemanusiaan.

Pada bulan Ramadhan turun wahyu pertama dari Al Quran, sebagai salah satu kitab yang wajib diimani oleh kaum muslim, di samping kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada manusia melalui rasul-rasulnya, seperti Taurat, Zabur, Injil (Bibel), dan ajaran-ajaran yang juga diamalkan oleh kaum Yahudi dan Kristiani.

Tidak lupa, saya menyisipkan pesan-pesan dari tanah air. Tahun ini menjadi khusus, kita baru saja menyelesaikan pesta demokrasi dengan memilih parlemen dan presiden untuk masa jabatan lima tahun ke depan.

Kita bergairah, karena meskipun dunia di lingkungi krisis ekonomi tetapi Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen berhasil meredam efek terburuk seperti menimpa negara-negara maju. Daya tahan ekonomi menjadi modal kita untuk bersikap optimistis ke depan untuk peningkatan, kesejahteraan masyarakat .

Keberhasilan Polri menggulung terorisme dengan tewasnya Noordin M Top, juga mendapat pujian dari masyarakat internasional. Reaksi umat Islam Indonesia terhadap aksi-aksi teror dan dukungan terhadap penegakan hukum terhadap para teroris menunjukkan kematangan umat Islam Indonesia.

Sekarang dengan tegas kita dapat menolak terorisme bertopeng agama. Kejahatan tetaplah kejahatan, apa pun motivasinya. Sebaliknya, kebajikan adalah pahala. Sejatinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, rahmatan lil alamin, karena itu menolak kejahatan terhadap kemanusiaan.

Harapan saya, kebulatan tekad dan upaya serta kebersamaan umat Islam di tanah air dalam menghadapi terorisme merupakan modal penting untuk mengikis habis kantong-kantong terorisme yang mungkin masih eksis di tanah air.

Open House di Wisma Duta

Pada hari kedua Lebaran, Senin (21/9), warganegara Indonesia maupun keluarga perkawinan campuran, suami atau isteri berwarganegara asing, seperti tahun lalu melaksanakan halal bil halal di Wisma Duta, di kawasan permukiman bergengsi Saska Kepa. Di seluruh wilayah Polandia hanya terdapat sekitar 150 WNI.

Suasana sumringah mewarnai kental acara bermaaf-maafan dan bertukar-informasi, sambil menikmati masakan tradisional lebaran, layaknya seperti di tanah air.

Tak luput, sejumlah penganan tradisional lebaran yang disiapkan oleh kaum ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan, mewarnai suasana lebaran di negeri jauh itu. Nasi putih dan lontong, sup kimlo, kari kambing, sayur lodeh, opor ayam, tauco udang dan semur Jakarta, serta berbagai jajanan pasar seperti tape uli, lapis Surabaya, es teller, nastar, kastenger, putri salju dan kacang bawang menjadi santapan lezat.

Tampak hadir juga beberapa duta besar negara sahabat, seperti Dubes Malaysia Ny. Rosmidah Binte Zahid, Dubes Filipina Alejandro Del Rosario, pejabat tinggi Kemlu Dubes Tadeusz Chomicki dan sejumlah diplomat, para anggota Warsaw Gamelan Group, dan berbagai unsur masyarakat Polandia pencinta budaya Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai penjuru negeri Polandia tampak meramaikan suasana. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu popular diiringi Band KBRI. Tak lupa, dangdutan turut menghibur para pekerja skill Indonesia dari berbagai industri di penjuru kota Polanda. Tampak pula sebagian keluarga expatriat. Semuanya berbaur, sejenak melupakan diri sedang berada di perantauan.

Hari itu kami merayakan kemenangan, setelah menjalankan ibadah sebulan penuh di bulan Ramadhan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Minal aidin walfaizin.

© Antara

Tuesday, May 26, 2009

SAHARA EROPA TERANCAM PUNAH

GURUN pasir juga disebut sahara diketahui terdapat di Afrika Utara dan Selatan, Timur Tengah, di Asia (China, Iran), bahkan di benua Amerika (utara dan selatan) dan Australia. Tetapi di Eropa? Sulit percaya bahwa Eropa juga mempunyai sahara, tepatnya di Polandia.

Di bagian selatan negeri in, tepatnya di Pustynia Bledowska (baca: pustinia blendovska) memang sejak ribuan tahun yang lalu ditemukan sahara terbesar di seluruh Eropa, dan dijuluki the "only natural desert in Europe".

Rasa ingin tahu dan penasaran inilah yang membawa saya, dan beberapa teman, mengunjungi tempat ini pada akhir April 2009 yang lalu. Sahara ini terletak di pebukitan di antara Slaska and Olkuska di Propinsi Slaskie.

Bukan tanggung-tanggung, gurun pasir yang disebut juga sebagai “the Polish Sahara” ini ternyata cukup luas, kl. 32 km persegi, berdimensi sekitar 9 km x 3-4 km, dengan ketebalan pasir antara 40 – 70 meter! Jelas, ukuran ini sangat mini jika dibandingkan dengan gurun pasir atau sahara yang terdapat di benua-benua lainnya seperti di Afrika Utara yang mencapai 9 juta km persegi!

Konon, dulu padang pasir alamiah Polandia ini menyita tempat seluas 150 km persegi, kemudian menciut menjadi 80 km2 pada abad ke-13 dan menciut terus hingga kini luasnya tinggal kl. 32 km2.


Menurut sejarahnya, penduduk di sekitar wilayah ini awalnya menanam pohon-pohon sejenis Caspian willow untuk menahan pasir agar tidak berterbangan pada saat angin kencang, bahkan adakalanya badai pasir (sandstorms). Tetapi ternyata jenis pohon ini tumbuh dengan subur mengikis pebukitan pasir pada kawasan yang lebih tinggi.

Pencarian biji besi, perak, dan batubara pada abad pertengahan di masa lalu telah mendorong tumbuhnya industry pertambangan, dan selanjutnya pemukiman di sekitar sahara itu. Kebutuhan bahan makanan selanjutnya mendorong pertanian yang mengepung sahara itu.


Proses penghijauan yang berkembang itu pula yang menjadi kecemasan rakyat Polandia bahwa tanpa upaya konservasi maka sahara ini akan lenyap. Kini, seluas 85% permukaan sahara telah dipenuhi tumbuhan yang mengancam punahnya padang pasir ini.

Untuk itu ada LSM yang bergerak untuk memelihara padang pasir ini yang menyebut dirinya "Polish Sahara Association”. Organisasi ini aktif menggalang upaya dan dana demi mempertahankan padang pasir ini.

“Bila tidak dilakukan langkah-langkah penyelamatan, maka sahara kebanggaan rakyat Polandia ini pun terancam punah“, ujar seorang aktivis lingkungan Polandia.

Pada era penghijauan dan kecemasan terhadap peningkatan pemanasan global, sepertinya upaya para naturalis Eropa berjalan dengan logika terbalik.


Terbentuk Alamiah


Setelah menempuh jalan sekitar 350 kilometer dari Warsawa ke arah selatan, kami pun tiba di Pustynia Bledowska. Tetapi tidak terlihat padang pasir seperti dibayangkan dalam foto-foto padang pasir di Mesir, misalnya. Kawasan sekitarnya rimbun.

Masuk di akal jika diperkirakan, tanpa koservasi, sahara ini akhirnya akan lenyap dari Eropa. Para ahli dan politisi di Brussels pun sibuk bagaimana ‘menyelamatkan’ sang sahara. Berbeda dengan di Timur Tengah yang sibuk ‘menghijaukan’ padang pasir, di Polandia justru sahara ini ingin dipertahankan. Mungkin untuk wisata, mungkin juga untuk penyelidikan ilmiah.

Kami agak kecewa karena di bagian timur ini hanya terlihat hanya sedikit warna pasir putih, yang terletak agak di tengah-tengah belukar dan pepohonan cemara, dan hampir tak terpantau dari kejauhan. Datar, membosankan, sekilas orang berkomentar begitu. Tetapi di sana tentulah daerah ini menarik bagi ilmuwan atau orang-orang penasaran seperti kami.

Kami juga tidak lupa membawa jaket, karena arus angin yang relatif kencang di sana, apalagi jika udara agak dingin. Memang tempat kami masuk ini agak tinggi, sehingga dengan mudah memandang ke hamparan luas di bawah kami. Daerah perbukitan di sini ideal untuk olahraga paragliders dan terbang layang atau sejenisnya. Dari tempat yang tinggi itu, seakan-akan kita berada di langit, memandang ke kaki bumi, begitulah.

Kekecewaan kami tidak berlangsung lama. Untung, polisi yang patrol di sana memberitahukan agar kami masuk dari sisi barat dan utara. Di bagian ini, kata pak polisi, masih terdapat konsentrasi pasir yang luas, tidak tertutupi oleh berbagai pohon. Kami pun bergegas tidak sabar melihat tempat unik ini.

“Jika anda ingin menyaksikan suasana Sahara hanya di dekat Klucze di bagian barat dan di bagian utara di Dabrowko dekat Chechlo terdapat timbunan pasir yang lumayan luas”, kata pak polisi.

Pustynia Bledowska, seperti disebut orang Polandia menyebut sang sahara, memang memesona. Pasir halus di sana mengandung quartz bermutu tinggi, dan disekitarnya terdapat batu karang dan fossil-fossil peninggalan zaman Jurassic. Menurut orang di sana, bila hujan turun maka petir menyambar ke arah kawasan yang mengandung mineral, dengan sendirinya mengundang listrik, menghunjam bumi, dan menimbulkan percikan dari segala penjuru. Ini menjadi tontonan menarik.

Berada di bukit-bukit pasir di sana memang serasa berada di pantai. Pasirnya pun sama seperti yang terdapat di pantai. Ada juga turis lokal yang berjemuran di terik matahari di sana, sementara pengunjung lainnya tak lama mulai bermunculan lengkap dengan kamera untuk mengabadikan tempat unik ini.

Alkisah, lautan pasir di sana berasal dari air laut yang mencair dari berbagai lautan pada zaman glacial, mencairnya es dari kutub puluhan ribu tahun yang lalu, dan mengalir ke lembah Przemsza. Pasir lautan pun mengendap di sana. Setelah pemanasan global yang dimulai kira-kira 10 ribu tahun yang lalu, mulailah kawasan itu ditumbuhi pepohonan, terus berkembang sampai abad ke-13.

Berbeda dengan sahara-sahara di belahan bumi lainnya yang selalu mengalahkan proses penghijauan buatan manusia, Pustynia Bledowska yang berada di iklim Eropa, dengan curah hujan yang cukup alam melakukan penghijauan sendiri. Jika proses alamiah ini dibiarkan berlanjut, maka diprediksi tidak lama lagi sang sahara pun lenyap. Maka, para ahli pun dengan dana terbatas bekerja untuk ‘memulihkan’ sang sahara. Paling tidak memertahankannya pada tingkat sekarang.

Katanya, dulu (sekitar tahun 1950-60 an) kita masih bisa menyaksikan beberapa karakter padang pasir, seperti fatamorgana, padang rumput(pasture), badai pasir (sandstorms), dan bukit pasir di pantai (dunes). Kini kawasan pinus di belahan barat merambah cepat. Itu sebabnya, ketika memasuki wilayah ini dari sudut timur kami hampir tidak melihat bekas-bekas sahara. Sangat hijau.


Snow on Sahara

Bila Anggun, mantan penyanyi remaja Indonesia yang populer di Eropa, kini warganegara Prancis, dianggap melantunkan bual melalui hit-nya “Snow on Sahara“, maka Pustynia Bledowska tempat pembuktian yang sahih. Wilayah, seperti wilayah Polandia di musim dingin tertutup oleh salju, termasuk di sahar ini. Maka, Snow on Sahara adalah suatu realitas. Betapa uniknya.

Kontradiksi lainnya jika dibandingkan dengan sahara-sahara di berbagai benua lainnya adalah kehijauannya. Karena di sini, juga terdapat kehidupan flora dan fauna.

Menurut catatan ilmuwan Polandia, di kawasan itu kini terdapat kl. 350 jenis tumbuhan, kebanyakan dengan karakter padang pasir dan pohon-pohon di pinggir pantai. Bagi ahli botani, di sana terdapat tumbuhan unik seperti stemless carline thistle (Carlina acaulis), broadleaf helleborine (Epipactis helleborine), dark red helleborine (Epipactis atrorubens), prince's pine (Chimaphila umbellate), whorled Solomon's seal (Polygonatum verticillatum), Doronicum austriacum, dan fescue grasses (Festuca). Jenis-jenis rumput yang tumbuh di sana seperti, gray clubawn grass (Corynephorus canescens), blue lyme grass (Elymus arenarius), couch-grass (Triticum repens) menghiasi dataran rendahnya.

Pepohonan yang tumbuh juga memberi kehidupan bagi fauna, di sini terdapat sekitar 150 jenis serangga dan burung. Burung seperti woodlarks (Lullula arborea) atau tawny pipits (Anthus campestris), stone curlews (Burhinus oedicnemus) – burung padang pasir yang bertelur di pasir ada di sana. Ada juga muskrats, beavers, sejenis binatang langka serta reptil sand lizard dan ular.

Yang menarik, padang pasir ini pernah digunakan sebagai markas tempur pada saat Perang Dunia II, oleh Pasukan Jerman dari satuan
Afrika Korps untuk latihan dan percobaan alutsista sebelum digunakan di Afrika. Sekarang sesekali digunakan oleh Pasukan Operasi Perdamaian (peace-keeping) Polandia, terutama untuk menguji-cobakan tank-tank buatannya sebelum diterjunkan di Irak dan Afghanistan.

Ketika kami memasuki tempat ini, masih terdapat papan peringatan: “Daerah Militer, Dilarang Masuk”. Ini juga obyek menarik yang kami abadikan, seperti juga kelakuan para pengunjung lainnya.

Saya telah membuat foto-foto di kawasan indah di sini. Sebagian telah saya muat di Facebook, di bawah account nama yang sama: Haz Pohan. Silahkan visit.


Warsawa, 21 Mei 2009

THE SAXON GARDEN (1727 AD): PART II

TIDAK banyak lagi yang perlu saya ceritakan mengenai taman kota yang indah ini.

Dalam tulisan saya Bagian Pertama, saya melukiskan proses pencarian identitas atau sukma bangsa Polandia. Salah satu jalan untuk napak tilas itu adalah via the Saxon Garden, atau orang Polandia menyebut Saski.

Sejujurnya, beban sejarah terberat di tempat ini berada di bangunan-bangunan yang dulu pernah berjaya tegak perkasa di tempat ini. Semuanya hancur lebur, ketika dinamit yang dipasang oleh Nazi Jerman pada tahun 1944 meledakkan bangunan-bangunan bersejarah itu, sebelum meninggalkan Warsawa karena dikejar-kejar Tentara Merah.

Bangunan-bangunan bersejarah di tempat hening dan luas itu berfungsi menjembatani masa lalu negara yang telah berusia lebih dari 1000 tahun, meskipun pernah pupus dari peta politik Eropa selama 123 tahun, dengan masa sekarang.

Di sini dulu 3-serangkai berjaya: The Saxon Palace, The Saxon Square, dan The Saxon Garden, menjadi bagian dari ‘The Saxon Axis’. Ketiganya paralel menuju ke Sungai Vistula, yang menghadirkan Polandia dalam sejarah Eropa, juga menyimpan muatan sejarah dan kejiwaan mereka.

Sejarah meninggalkan bercak-bercak yang tidak mudah dihapus. Kadang-kadang, karena situasional, manusia terpaksa tidak berani jujur meneropong sejarah mereka. Apalagi bilamana sejarah yang berdarah-darah itu melibatkan negara-negara di sekitarnya. Kepentingan ke depan pula yang membatasi manusia untuk mau melakukan full-account terhadap masa lalu. Dan sejarah itu, bisa berbeda-beda muatan dan tafsirannya. Tergantung Anda berdiri di mana, kata seorang teman. Karena itu, banyak sejarawan takut disebut revisionis, bila fakta-fakta baru bermuatan tafsiran-tafsiran yang bisa mengundang kontroversi.

Begitu pula dengan karya monumental seorang scholar bernama Norman Davies. Dia terkenal ahli sejarah berkebangsaan Inggeris yang menulis buku sejarah Polandia dan mengungkapkannya dalam bukunya yang terkenal: God’s Playground (1979). Buku ini mengungkapkan apa yang dialami oleh orang-orang Polandia dalam sejarah seribu tahun di masa lalu. Terbit dalam 2 jilid lebih dari 1000 halaman, buku Pak Norman itu kaya dengan data, tetapi baru setelah 1989 dijadikan bahan bacaan di Polandia, setelah perubahan di sana.

Suatu insiden pula yang menghantarkan Norman Davies mendalami sejarah Polandia. Pada zaman Perang Dingin, dia ingin belajar ke Uni Soviet tetapi visanya ditolak. Dia lalu belajar di Jagiellonian University di Krakow, dan memperoleh Ph.D pada tahun 1968. Padahal, Polandia sebenarnya ketika itu masih menjadi wilayah pengaruh Uni Soviet. Ingat saja: Pakta Warsawa, pakta militer yang mengambil nama ibukota Polandia (zaman modern) itu.

Tak urung, saya juga mengungkap catatan tersisa. Taman Saxon ini dulu sedemikian dihormati rakyat Polandia karena merupakan taman milik raja yang didedikasikan untuk publik. Pada zaman keemasannya, pengunjung untuk sekadar melepas lelah di taman yang pasti dulunya indah sekali tetap berpakaian lengkap resmi, layaknya menghadiri konser di gedung opera. Kaum wanita-pun harus mengenakan topi.

Pada kesempatan kedua ini saya juga membuat foto-foto yang indah, dan telah saya muat sebagian di Facebook, di bawah account saya dengan nama yang sama: Haz Pohan. Saya menjanjikan akan kembali membuat foto-foto pada saat yang tepat, tatkala bunga berkembang di musim panas nanti. Pasti lebih indah dan dramatis!

Foto-foto diambil dengan kamera NIKON D 90, tanggal 1 Mei 2009, ketika matahari mencorong hangat.

THE SAXON GARDEN (1727 AD) : SOUL SEARCHING (PART I)

JIWA Polandia modern ada disini, di tempat luas yang dihancurkan membabi-buta oleh Hitler Jerman pada tahun 1944 yang mundur dari wilayah Polandia, ketika kalah perang pada akhir Perang Dunia II.

Saya bercerita tentang the Saxon Garden, atau disebut orang Polandia sebagai Taman "Saski", terletak di tengah kota dan telah hadir di hati orang-orang Polandia selama ratusan tahun.

“Kami membanggakan masa lalu, kejayaan Polandia di tengah-tengah bangsa-bangsa Eropa”, kata seorang teman saya, seorang professor di Warsaw University, yang mengajar tak jauh dari tempat saya membuat foto-foto.

Alkisah, The Saxon Garden, taman yang indah peninggalan dinasti Saxon itu, selama ratusan tahun sebelum PD II melekat dengan Istana dan alun-alun. Tetapi, taman ini juga memiliki sejarah yang panjang, kelam dan berdarah-darah. Di sini dulu 3 Serangkai berjaya: The Saxon Palace, The Saxon Square, dan The Saxon Garden, menjadi bagian dari ‘The Saxon Axis’. Di kawasan ini telah dilakukan ekskavasi untuk membangun kembali ”The Saxon Palace”, maket-nya sudah jadi, unveiled by the President, kata teman saya itu.

Jiwa Polandia modern ada di sana, ujar sang professor. Komponis dunia Fryderyk Chopin (nama Polandianya: Frycek), tinggal disini selama 7 tahun (mulai 1810), bersama ayahnya yang menjadi guru di Istana. Dari Istana ini Kepala Negara memerintah Polandia yang demokratis, berdasarkan Konstitusi 1791. yang hampir sama tuanya dengan Konstitusi AS tahun 1787.

“Makam Pahlawan Tak-Dikenal”, the tomb of the unknown soldiers, itu dulu adalah 3 arkad yang dulu menghubungkan wing kiri-kanan Istana Saxon, satu-satunya yang selamat dari kebengisan Nazi Jerman. Istana ini dibangun oleh seorang bangsawan Jan Andrzej Morsztyn, dan pada tahun 1713 dibeli oleh King Augustus II.

The Saxon Square, di depan plaza itu kini dinamai the Pilsudski Square, dari nama seorang jenderal dan negarawan Poland era modern yang mengalahkan pasukan Rusia, seusai PD I.Maka, dari Axis --Tiga Serangkai-- yang tersisa adalah The Saxon Garden.

Taman ini dibuka untuk public pada tahun 1727, tertua kedua di dunia, bahkan lebih tua daripada Istana Versailles (1791). Dulu dibangun dengan gaya Prancis dan pada abad ke-19 diberi nuansa Inggeris. Orang Polandia menamakannya “the Saski Palace”. Saxon dalam bahasa Slav diubah penyebutannya menjadi “Saski”. Di sana juga terdapat jam matahari (the sundial), yang dibangun tahun 1863.

Yang utuh tersisa dari kebengisan orang-orang Nazi Jerman adalah Taman itu. Di sana banyak patung-patung menyimpan cerita, al. karya Rococo, air-mancur bergaya empire hasil karya seniman besar Marconi pada tahun 1855, patung Stefan Starzyński, Gereja St. Anthony, dan pohon-pohon tua saksi sejarah.

Tak urung, patung-patung pun berpindah tangan, dibawa orang-orang Rusia ke St. Petersburg. Di wing kanan yang berbatasan dengan Jalan Senatorska, masih berdiri the Blue Palace, dinamai sesuai warna atapnya yang direkonstruksi sehabis perang. Gedung ini dibeli oleh King Augustus II untuk anak perempuannya Anna Karolina Orzelska. Istana ini dibangun pada tahun 1726 oleh Joachim Daniel von Jauch dan Johann Sigmund Deybel.

Stefan Strazynski, adalah walikota pada masa perang yang kemudian di kirim ke kamp konsentrasi di Dachau, dekat kota Munich, Jerman. Jiwa raganya menambah hitungan jutaan orang yang dibunuh, tanpa masuk-akal, oleh Nazi Jerman di kam-kamp konsentrasi. Dan itu masih belum lama, baru 65 tahun yang lalu.

Alkisah, The Saxon Garden dulu menjadi bagian dari benteng yang dibangun tahun 1766 oleh aristokrat Jan Andrzej Morsztyn, yang diperluas oleh Raja, untuk mempertautkan secara fisik antara Taman, Istana, dan bagian kota di sungai Vistula, Wisla, kata orang Polandia. Sungai Vistula juga menjadi saksi sejarah panjang bangsa Polandia.

Di alun-alun yang kini dinamai kembali the Pilsudski Square dulu terdapat the Brühl Palace, persis berhadapan dengan Makam PahlawanTak-Dikenal sekarang. Bangunan yang didisain pada tahun 1713 oleh Joachim Heinrich Schultze dan selanjutnya Gothard Paul Thörl mulai tahun 1735, pernah menjadi kantor Kemlu (1932-37), sekarang rata, dibasmi Jerman.

Juga, pada zaman keemasannya, Gereja St. Anthony didirikan pada tahun 1623, dan pada tahun 1734, dan menjadi gereja di Istana (parish church). Pada masa the Warsaw Uprising 1944 sebagian bangunan gereja rusak dan tempat bersejarah ini juga ramai dikunjungi.

Maka, rekonstruksi tempat-tempat bersejarah di Kompleks Saxon, merupakan upaya untuk menemukan kembali semangat guna membangkitkan kejayaan bangsa Polandia di Eropa. Soul searching, untuk menyambung eksistensinya ke masa depan.

Soul-searching bukanlah upaya menemukan identitas; dia sudah ada, namun sejarah kelam telah meninggalkan lubang hitam yang besar. The Saxon Garden berjasa untuk napak tilas Bangsa Polandia untuk ‘soul-searching’.

Saya banyak membuat foto-foto di Taman ini dengan kamera NIKON D 90, sebagian telah saya muat di Facebook, dengan nama account yang sama: Haz Pohan. Foto-foto pada tulisan Bagian Pertama diambil pada tanggal 12 April 2009, di awal musim semi. Silahkan berkunjung.

Warsawa, 26 Mei 2009

PADA SUATU HARI DI BATAVIA BULAN APRIL 1935

MESKIPUN resminya sudah di musim semi, tetapi tak urung Gdynia, kota yang bersaudara dengan Gdansk dan Sopot di wilayah utara Polandia – disebut juga troimiasta atau 3 kota – cuaca masih dingin. Angin bertiup kencang pada udara sekitar 10 derajat membuat wilayah di dekat laut Baltik itu dingin sekali, seakan-akan 0 derajat!

Kami mengadakan kegiatan di 2 kota sekaligus: di Gdynia untuk promosi kopi dan di Gdansk untuk pameran wisata, 17-19 April 2009 yang lalu. Meskipun akibatnya saya perlu bolak-balik di kedua kota ini, tidak masalah. Kota ini bergandengan, dipisahkan hanya sekitar 10 km. Saya dan teman-teman ingin memanfaatkan peluang strategis di kedua kota ini, meskipun harus menempuh perjalanan darat hampir 400 km, dalam waktu sekitar 7 jam berkendaraan, menempuh terjangan angin yang cukup kencang!

Pada saat acara pembukaan pameran kopi tanggal 17 April sore, setelah pembukaan pameran wisata di Gdansk pada siang hari, saya pun bergegas menuju Gdynia. Meskipun jarak 2 event ini tidak terlalu jauh, namun hari Jumat seperti di mana-mana di Eropa: jalan macet!

Saya tiba tepat pada waktunya di pameran kopi di Gdynia. Kopi kiriman PT Kapal Api pun laris manis, bukan karena gratis tetapi memang unik. Pada saat pameran promosi, semua jenis kopi yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan di stand-stand pameran disediakan gratis.

Seusai berpidato memperkenalkan kopi Indonesia, saya dihampiri seorang pria berpakaian rapi. Tampaknya seperti panitia, tetapi dia membisikkan sesuatu.

“Mumpung Anda ada di sini”, katanya. Dia adalah Bogdan Kwiatkowski, otoritas pariwisata di Gdynia. Dia mengundang saya untuk mengunjungi museum unik, di sebuah kapal yang tidak jauh – sekitar 100 m – dari mall tempat berlangsungnya festival kopi. Kapal itu tidak besar, sebuah kapal latih (tall ship) bernama ” Dar Pomorza ” yang berada di bawah supervisi oleh institusi Pak Bogdan ini: Tourism Association of Gdynia.

“Itu terlihat Museum saya, kapal yang sedang bersandar di pinggir pelabuhan”, kata pria itu, menunjukkan lokasi sebuah kapal mungil dengan anggun berjangkar di dermaga. Tetapi, sejujurnya, tampaknya tidak ada yang istimewa pada kapal itu. Namanya pelabuhan, tidak aneh jika banyak kapal-kapal lain sedang sandar di sana.

Namun, keramahtamahan orang Polandia sulit ditolak. Mereka tulus, dan rendah hati. Karena hari pun mulai senja, saya pun menjanjikan akan datang besok, tanggal 18 April sore, setelah menyaksikan anak-anak penari asuhan Ibu Jadwiga Mozdzer pada pertunjukan di pameran wisata di Gdansk.


Batavia 1935

Tepat pada waktu yang dijanjikan, Pak Bogdan datang menjemput saya di stand kopi Indonesia. Saya dan isteri pun mengikuti langkahnya, menuju ”Dar Pomorza”.

Di pintu gerbang memasuki kapal, seorang pria kira-kira berusia 70 tahun, berpakaian lengkap resmi kapten kapal datang menyambut dan menghormat kami. Dia adalah Mr. Józef Kwiatkowski, mantan kapten kapal terakhir yang bertugas di kapal itu, dan seperti Dar Pomorza diapun telah pensiun pada tahun 1982.

Dar Pomorza adalah kapal layar latih (tall ship) seperti ”Dewaruci”. Setelah melewati berbagai lorong di kapal, kami berhenti di kabin kapten. Mewah, dilengkapi bar, kantor, dining room, dan ruang rekreasi. Sang Kapten, ternyata adalah ayah kandung Pak Bogdan. Pantas, nama keluarganya sama, Kwiatkowski, dan raut mukanya juga mirip. Pak Józef tua ditemani seorang anak laki-laki sekitar 9 tahun. Cucunya, dan anak dari Pak Bogdan sendiri.

Dia bercerita tentang sejarah kapal yang memiliki tempat di sanubari orang-orang Polandia. Tidak hanya di kota Gdynia, tetapi seluruh Polandia. Kapal ini telah mengharungi dunia, termasuk Indonesia, katanya. Saya pun tertarik. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa Pak Bogdan begitu antusias mengundang saja.

Katanya, pada tahun 1935 kapal ini telah mengunjungi Batavia. Oh, jaman yang telah berlalu, masa kolonialisme di tanah air pada masa malaise!

Sang Kapten kemudian menyerahkan buku karangannya untuk saya, “DAR POMORZA” REJSY I ZALOGA (“Dar Pomorza” Voyages and Crew) setebal 600 halaman. Di halaman depan, saya membaca tulisan tangan:

Szanownemu Panu Ambasadorowi Republiki Indonezji w Polsce Hazairin Pohan z okazji pobytu na "Darze Pomorza" na mila pamiatke z najlepszymi zyczeniami. Autor: Józef Kwiatkowski. Gdynia, dnia 2009.04.18.




[Terjemahan : For Dear Ambassador of the Republic of Indonesia to Poland Mr. Hazairin Pohan on the occasion of His stay on the board of "The Gift of Pomerania" as a token of remembrance and with best wishes. Author: Józef Kwiatkowski. Gdynia, April 18, 2009.]

Sang Kapten, Pak Józef Kwiatkowski tidak bisa berbahasa Inggeris, maka pembicaraan saya dengannya diterjemahkan oleh Pak Bogdan, anaknya.

Menurut Pak Józef Kwiatkowski, sejak dia pensiun dari dinas laut, dia mengumpulkan semua catatan yang ada di kapal, dan menuliskan semua pengalaman sang kapal “Dar Pomorza” ke dalam buku karangannya tadi.

Menurut Pak Józef, “Dar Pomorza” pertama sekali diluncurkan ke laut pada tahun 1909 dan dibeli oleh rakyat Pomerania di kawasan laut utara itu pada tahun 1929. Setelah mengharungi berbagai samudera, mengunjungi berbagai benua, kapal ini pensiun pada tahun 1982. Buku ini memuat semua catatan dan pengalaman yang ada dalam perjalanan hidup sang kapal.

Menarik, karena dalam Bab berjudul “Perjalanan Keliling Dunia Dar Pomorza 1934 – 35” tertulis pengalaman kapal ini mampir ke Batavia, Nederlands Indie, yang sekarang menjadi ibukota tanah air tercinta, Indonesia.

Di halaman 41 terekam:

Pada tanggal 12 April 1935 kami meninggalkan Hong Kong dan bersiap untuk kembali ke Polandia. Di kapal ini pula kami merayakan Easter Holidays di tengah lautan. Tidak lama, pada hari Senin, kami memasuki pelabuhan Singapore. Di kota ini kami memperoleh izin untuk berlayar ke Broome di Australia. Setelah 3 hari berada di Singapura, pada tanggal 25 April kamipun berangkat menuju Batavia di Pulau Jawa. Untuk ketiga kalinya kapal kami ”Dar” telah melintasi khatulistiwa dalam berbagai pengembaraan dunia.

Kami pun lempar jangkar di Batavia. Di kota indah ini kami dibantu seorang insinyur berbangsa Polandia Mr. Jozef Zwierzycki, yang telah menetap di sana. Dari Jawa maka kamipun berlayar ke Australia, menuju pelabuhan kecil di Broome, selanjutnya setelah 3 hari berada di sana kamipun melanjutkan pelayaran ke arah Lautan Hindia menuju Port Louis, yang terletak di kepulauan Mauritius, tiba di sana tanggal 3 Juni 1935. Di tempat ini kami mendengar kabar meninggalnya Marshal Jozef Pilsudski. Maka, bendera kapal pun turun setengah tiang. Tanggal May 18, 1935, di Polandia diselenggarakan upacara penguburan sang Marshal, dan kamipun di kapal mengalungi pita hitam pada potret sang Marshal.



Baru saya menyadari, dalam beberapa hari mendatang di bulan April ini kapal latih Dar Pomorzi akan memperingati tahun ke-74 kunjungannya ke Batavia.


“White Frigate”

Buku Pak Józef mencatat, Dar Pomorza dibuat oleh Blohm und Voss di Hamburg pada tahun 1909, dengan bobot mati 1561 ton, muatan 525 ton, panjang 80 met er (93 m total), lebar 12,6 m, tinggi layar 41,4 m, 1900 atau 2100 m2 (3 tiang layar), dan dengan kecepatan berlayar 5 knot – 17 knots. Kapal ini dilayani oleh kru 28 orang dan antara 1 50-200 kadet.

Kapal ini dipesan oleh Deutscher Schulschiff-Verein kemudian digunakan sebagai kapal latih dengan nama Prinzess Eitel Friedrich. Pada tahun 1920 seusai PD I, kapal ini disita oleh Inggeris dan dibawa ke Prancis, digunakan oleh kadet di sekolah pelayaran St-Nazaire dan diberi nama "Colbert". Karena biaya pemeliharaannya yang mahal, akhirnya pada tahun 1929 kapal ini dijual kepada masyarakat pencinta laut Polandia di Gdynia. Masyarakat Gdynia berhasil mengumpulan dan sebesar 7000 Poundsterling , sesuai harga yang ditawarkan.

Setelah dibeli, kapal ini kemudian dikirim ke Denmark untuk perbaikan. Dicatat, dalam perjalanan berbahaya menuju Denmark karena kondisi kapal yang payah dikhawatirkan tidak sampai tujuan, bahkan hampir tenggelam. Sekembali dari galangan kapal Denmark dan tiba Polandia, kapal ini diberi nama "Dar Pomorza" (berarti 'Gift of Pomerania'), dan dipasang mesin diesel tambahan. Maka, seperti tercatat di buku, untuk pertama kalinya pada tanggal 13 Juli tahun 1930 kapal ini mengibarkan bendera Polandia: Putih-Merah. Dan, mulai saat itu Dar Pomorza bertugas sebagai kapal-latih di bawah pengawasan the Polish Naval Academy.

Mulai tahun 1934-1935 Dar Pomorza memulai pengembaraannya ke ujung dunia, antara lain ke New York (1932), Brazilia dan Afrika Selatan (1933), dan mulai tahun 1934, termasuk call ke Pelabuhan di Batavia (1935 transit di Terusan Panama (1936) dilanjutkan dengan perjalanan kedua ke Pasifik, serta pada tahun 1937 berhasil melewati Cape Horn di Amerika Selatan.

Pada masa PD II kapal diperbaiki di Stockholm , negara netral pada masa itu, dan seusai perang dibawa kembali ke Polandia, ke fungsi semula sebagai kapal-latih. Seusai perang pada tahun 1945 dia kembali ke Gdynia, berlayar ke Laut Tengah dan Atlantik sebelum berangkat menuju West Indies.

Pada tahun 1970-an kapal ini turut berkompetisi dalam Operation Sail dan Cutty Sark Tall Ships' Races, memenangkan tempat pertama pada tahun 1972 (negara pertama dari Eropa Timur yang menjadi peserta), juara ke-3 pada tahun 1973 dan juara pertama pada Cutty Sark Trophy tahun 1980, yang merupakan hadiah terbesar, sehingga dijuluki the 'White Frigate' oleh para kru kapal.

Dar Pomorza terakhir kali bertarung dalam bulan September 1981, karena pada tanggal 4 August 1982 kapal ini dipensiunkan, dan sejak 27 May 1983 dijadikan museum di Gdynia. Kapal tua ini bak prajurit yang telah memenangkan berbagai pertempuran, menikmati hari tuanya, menceritakan berbagai pengalaman dan wisdom yang berarti bagi para pengunjungnya, termasuk saya dan isteri.

Warsawa, 26 Mei 2009

Wednesday, April 1, 2009

MATINYA 'SANG BIDADARI'

Pelan tapi pasti, Indonesia sejak era reformasi 1998 telah menjadi bagian dari masyarakat bangsa-bangsa. Indonesia juga menonjol perannya di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia Pasifik. Sejumlah gagasan untuk memajukan kawasan ini berasal dari Indonesia. Gagasan cemerlang terakhir adalah pembentukan pusat demokrasi kawasan Asia Pasifik yang bermarkas di Bali, The Bali Democracy Forum. Di ASEAN, Indonesia dikenal sebagai the political powerhouse. Meskipun ekonomi Indonesia terbesar di Asia Tenggara, tetapi negeri kita belum menjadi economic power house terpenting.

1998 adalah tahun Indonesia menjadi graduate dan masuk ke dalam college of democracies. Indonesia, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Negeri kita telah menjadi contoh terkemuka, di mana Islam dan democracy bergandengan tangan mesra, kata Menlu Hillary Clinton.

Pekan ini, Indonesia kembali menjadi berita dunia. Bukan hiruk-pikuknya caleg sedang berbusa dan bermejeng-ria. Di London, sedang berlangsung pertemuan G-20: duapuluh entitas yang ditugasi membenahi ekonomi dunia pasca economic downturn. Indonesia sejak tahun lalu di Washington masuk menjadi segelintir negara yang bertanggungjawab merumuskan langkah-langkah untuk mengeluarkan dunia dari krisis keuangan. Tidak ada proses pemilu yang menobatkan Indonesia masuk dalam kelompok elit dunia ini. Good or bad news? Tergantung di mana Anda berdiri. Tetapi saya bangga, penilaian status itu bukan hasil rekayasa. Ini destiny, ujar seorang teman pengamat masalah internasional. Saya tidak mampu menangkap tone, apakah dia happy atau sedih.

Bayangkan, dari lebih 200 negara, hanya 20 yang dijadikan aktor ekonomi utama dunia. Brazil, Rusia, India, Indonesia dan China (BRIIC) bersama South Africa, Saudi Arabia, Argentina, kini duduk bersama negara-negara maju di kelompok G-7 (AS, Kanada, Jerman, Inggeris, Prancis, Italia, dan Jepang), Korea, dan UE (mewakili negara Eropa yang bukan termasuk G-20). Memang nyatanya masalah ekonomi sedang mendominasi perhatian para pemimpin dunia. Indonesia, satu-satunya wakil dari Negara-negara ASEAN di G-20, ingin berbagi pengalaman bagaimana mengatasi krisis moneter tahun 1997 dulu akan menawarkan sejumlah usulan mengenai paket stimulus.

Tantangan yang dihadapi sekarang bukanlah persoalan hiruk-pikuk pemilu pada pekan depan. Tidak akan terjadi perobahan spektakuler di tanah air: kita sudah berjalan pada rel yang benar. Semua tahu, resesi ekonomi dunia merupakan kesibukan utama dari pemimpin dunia. Di mana-mana, pemerintah berhadapan dengan langkah darurat bagaimana menekan inflasi supaya rakyat tidak semakin miskin, menjaga nilai tukar mata uang agar terjadi keseimbangan arus ekspor-impor, memelihara pertumbuhan ekonomi agar upaya peningkatan kesejahteraan dan perang terhadap kemiskinan tetap berlanjut.

”Tetapi resesi sudah menjadi masalah dunia, menjadi a good excuse bagi para politisi bila kebijakan di dalam negeri gagal”, ujar teman baik saya di email.

Tulisan saya bukan mengulas film berjudul sama karya Wahyu Sihombing yang dibintangi maestro bulutangkis Rudi Hartono dan Poppy Dharsono di awal tahun 1970-an. Saya ingin mengajak semua kita para demokrat sejati mencegah gejala global: matinya dunia pers dan media. Pers menjadi ‘bidadari’ penting bagi pertumbuhan demokrasi kita. Virus yang telah muncul di Amerika dikhawatirkan menjalar ke berbagai pojok dunia, termasuk menimpa media pers di tanah air. Saya berharap nanti tidak akan menuliskan obituary pada suatu bidang profesi yang pernah menghidupi saya: wartawan.

Saya sangat mencintai dunia media dan pers, dunia yang juga erat kaitannya dengan profesi saya sekarang. Harapan saya, jurnalisme tidak akan mati: “old reporters never die, they only lose .… their laptops”. Sekarang ini wartawan tidak dijuluki ‘kuli tinta’, tetapi ‘kuli laptop’.


It’s economy, stupid!

Jika saya mengajak Anda berdiskusi mengenai ancaman kematian dunia pers dan impaknya kepada demokrasi, Anda mungkin menyatakan : Who cares?

Di tengah-tengah kegalauan ekonomi ini, negeri kita juga sedang berhelat pesta demokrasi. Logikanya, demokrasi dan paket stimulus ekonomi berjalan pada rel berbeda. Oleh karena itu mari kita berbicara tentang nasib demokrasi, toh Presiden SBY, Menlu Hassan Wirajuda dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah cukup kapabel mewakili negeri kita dalam pertemuan di London. Rakyat sih ingin nimbrung bicara ekonomi, saya juga. Tetapi, kita yang awam tidak mampu mengikuti diskusi dan debat yang berlangsung di London. Mungkin nanti jadi bingung sendiri. It’s economy, stupid!

Di dunia internasional, bicara demokrasi tidak hanya terbatas pada pemilu. Isu-isu mengenai partisipasi dalam pengambilan keputusan, akuntabilitas dan transparansi, balance of power, kontrol politisi terhadap tentara, rule of law dan berbagai masalah domestik juga menjadi bahagiannya. Yang terlupa mungkin bahwa salah satu unsur terpenting dalam demokrasi ialah kontrol oleh masyarakat. Di dalamnya ada peranan pers.

Untuk pertama kali masalah resesi dunia diawali di negara super kapitalis, tetapi kini menjadi masalah dunia. Padahal, penyakit ini berasal dari negara-negara maju. Lucu, jika Obama dan pemimpin dunia kapitalis meminta negara-berkembang turut bertanggungjawab. Excuse me?

Dalam forum G-20, Indonesia tidak diminta mengucurkan dana stimulus berjumlah puluhan milyar dollar. Tetapi, semua negara, khususnya G-20 diminta melakukan concerted actions mencegah proteksionisme berlebihan, self-help yang akan menyebabkan perang dagang. Diharapkan, di sana akan muncul ide-ide brilyan, atau setidaknya sharing and exchange of ideas berdasarkan lessons learned di negara masing-masing, mencegah agar resesi ekonomi tidak memburuk.

Karena ini masalah global, maka pemecahannya juga harus pada tingkat global. Kebersamaan negara maju dan berkembang menjadi kata kunci. Ingat: perang dunia pertama dan kedua, diawali oleh resesi ekonomi.

Masalahnya, pers dunia kini menghadapi masalah serius. Media dunia seperti International Herald Tribune, TIME, CNN, Economist kini dilanda ancaman masuk gawat darurat. Jika masyarakat kita tidak perduli berapa dari 50 partai yang akan lolos dalam pemilu nanti (menurut teman saya, banyak pendatang baru dan yang lama akan bernasib ‘kembang semaput’), mengapa pula kita harus concerned terhadap matinya sejumlah pers dunia.

Jika media dunia yang sudah berusia ratusan tahun bisa keimbas oleh economic downturn, bagaimana pula media kita? Jangan lupa, media merupakan unsur yang sangat crucial menjaga agar demokrasi, hak masyarakat berpendapat dan menentukan proses politik, dapat berfungsi. Ini penting bagi negara demokrasi baru seperti kita, dan kita hidup di dunia yang kian mengglobal. Sooner than later, gejala ini akan berdampak pada pers dan media nasional kita.


Obituary

Albert Hunt dalam op-ed nya “A Vibrant Democracy Needs Newspapers” (IHT, 23 Maret) dan sebelumnya Nicholas D Kristof “The Daily Me” (IHT, 20 Maret) menggambarkan perspektif betapa seriusnya masalah yang dihadapi pers dunia.

Perusahaan lahir, hidup dan mati, selalu berganti. Perusahaan pers juga begitu. Tetapi, sulit dimengerti mengapa nasib Bank of America dan AIG yang sekarat harus dipaksa menjadi tanggungjawab dunia? Jawabannya: di sini terdapat kepentingan global. Mempertahankan 2 institusi keuangan terpenting Amerika itu menjadi solusi untuk mengatasi global financial crisis, kata Obama. Sedangkan, jika perusahaan pers mati -–banyak kawan-kawan yang hidup di dunia ini—mengapa mesti menjadi concern saya?, kata seorang teman yang lain.

Biar saja, wartawan khan suka heboh, mencari-cari kesalahan, suka mengekspos dan mencemooh para pembuat undang-undang. Pers juga menebang hutan untuk diambil kertasnya. Mendingan kita cari berita di internet, website, blog, bahkan TV juga sudah ada online di internet. Trend dunia sekarang yang keren adalah paperless, ujar seorang teman mengomentari status FB saya.

Bagi middle class barangkali tidak apa-apa, mereka bisa mencari informasi di web, dan internet telah menghasilkan ratusan ribu berita setiap harinya. Tetapi, bagaimana kita mampu menyortir berita yang begitu banyak, menyederhanakan dan mencernanya. Ini satu persoalan. Tanpa berita eksklusif , semua media akan seragam, seperti dunia Orwellian. Persoalan lainnya, tanpa media tradisional yang didukung dengan perusahaan dan sumber dana, maka pemberitaan pun menjadi datar. Akses ke informasi tertentu dan vital sering tidak gratis. Tidak ada web di internet yang mampu membiayai berita-berita investigative, tanpa menjadi bagian dari media tradisional.

Alkisah, karena kelesuan ekonomi maka pemasangan iklan jauh menurut. Ini sumber pemasukan utama perusahaan pers. Langganan? Ternyata hanya membiayai sebagian kecil ongkos operasional perusahaan. Tribune Co yang merupakan pemilik dari The LA Times dan The Chicago Tribune bankrut. Seperti Philadelphia Inquirer, dan Seattle Post-Intelligencer hanya mampu bertahan di dunia maya, alias di website.

Gejala ini terjadi di perusahaan pers besar yang selama ratusan tahun terbit. Semua pihak di era resesi perlu kencangkan ikat-pinggang. Maka, demi masa The Star Ledge Newark, Koran terbesar di New Jersey mengurangi 50 persen stafnya. Koran-koran di Miami, Colorado dan North Carolina kini sedang melancarkan pengurangan staf editorial; peliputan politik terpenting di DC dan di luar negeri ditutup, seperti dialami oleh The Baltimore Sun dan Boston Globe. Downsizing is good news?

Maka, kolumnis Nicholas D Kristof menyatakan obituari bukan lagi berita mengenai kematian tokoh-tokoh penting atau selebritis yang dimuat di koran, tetapi mengenai nasib koran itu sendiri! Jika benar terjadi, maka para penipu berkedok selebritis atau politisi akan senang, jika pers mati maka mereka tidak lagi dikejar-kejar wartawan infotainment (entertaining bagi masyarakat, mereka jadi bahan tertawaan). Kontrol masyarakat akan absen, maka leluasanya pejabat yang sering manyun menghadapi pertanyaan kritis dari wartawan.

Seberapa penting sih arti pers bagi masyarakat? Sekarang ini sudah banyak media alternatif website, bloggers. Akan tetapi, Nicholas D Kristof bertanya lebih mendasar apakah kita memang tidak memerlukan ‘good information? Katanya, di era IT sekarang masyarakat cenderung membaca media yang seideologi dengannya, untuk membenarkan pendapatnya. Mereka cenderung tidak mencoba mendengarkan pendapat pakar yang netral sekalipun. Masyarakat yang tersegmentasi tidak suka mendengar pendapat yang menohok ulu hatinya. Yang dicari adalah informasi yang cocok dengan prejudice nya. Ini jelas berbahaya. Maka, good information itu penting!

Pakar media dari MIT Nicholas Negroponte berpendapat kita mungkin percaya secara intelektual terhadap pentingnya clash of opinions, perlu perdebatan sehat yang inspiring untuk membantu kita mengatasi gejala di era IT ‘the plenty of paradox’. Ratusan ribu berita di-upload setiap harinya ke dunia virtual. Naturally, kita memilih berita yang kita perlukan, atau sukai. Maka, ujung-ujungnya kita cenderung mencari rasa nyaman, berarti pilihan untuk berada di wilayah rahasia ego kita sendiri. Kita akan membaca blog yang cocok dengan selera kita. Kita menghindari sakit perut atau kehilangan nafsu makan gara-gara membaca blog yang kita tahu dari sono nya nyelekit!

Juga, parpol menerima hasil polling bila yang mengokohkan posisinya. Mereka tersinggung jika polling memelorotkan posisinya. Muncullah ide, agar polling diatur dengan UU. Pening ah! Mereka maunya, seperti di Amerika, berita-berita ABS yang cocok dengan ego dan megalomania, hanya untuk mengukuhkan pre-existing views mereka. Ingat Presiden Bush, ketika ultah perang Irak berfoto menyeringai dilatarbelakangi spanduk “Mission Accomplished”, padahal perang Irak tetap berlanjut sampai sekarang, dan Amerika masih mencari exit strategy-nya seperti apa.

Tanpa 'good information' yang selama ini disuplai oleh traditional media dengan keberagaman check and recheck nya, seperti dikatakan Negroponte kita akan mengalami “guilty of selective truth-seeking in the web”. Namun perlu diwaspadai bahaya segregasi di masyarakat, terpecah-pecah menjadi sel-sel kecil dalam club, atau kelompok kepentingan. Hasilnya adalah polarisasi dan intoleransi yang meningkat di masyarakat. Anti-demokrasi.

Oleh karena itu, katanya kita harus mencegah menurunnya peranan traditional news di media. Selective news akan berbeda dengan realitas. Dunia ditampilkan black and white. Padahal, mainstream media beroperasi di wilayah gray, balanced. Di sini kami berbakti, kata media tradisional.


Paradox of Plenty

Meskipun berbagai pemberitaan membanjir di internet, apakah informasi cukup bagi masyarakat? Jangan lupa, menurut pakar 85 % berita di media adalah hasil pekerjaan atau bersumber dari media cetak tradisional. Maka, dengan bangkrutnya perusahaan pers tradisional akan berakibat pula pada pengurangan jumlah berita yang diterbitkan di internet. Dunia pun datar, kembali ke era Orwellian.

Jika koran-koran mainstream tradisional collapsed, siapa yang membiayai liputan yang kian mahal, khususnya untuk berita-berita khusus? Impact your world, kata CNN dan mereka juga membuka rubrik i-reporter, masyarakat menyumbang informasi secara gratis. Apakah berita-berita seperti ini reliable dari segi kontinutitas atau kredibel? Jelas tidak.

Liputan media mengenai apa sesungguhnya terjadi pada masa Perang Vietnam, Watergate, bahkan Perang Irak, dan situasi di Afghanistan telah mengubah kebijakan dan perkembangan dunia ke arah kebaikan. Pers AS juga membuka borok di Guantanamo, Sudan, Cambodia, Bosnia dan terakhir di Gaza Strip. Di Palestina, Israel berupaya menutup masuknya pers mainstream dunia, dengan alasan adanya ancaman akan disandera oleh Taliban dan berbagai organisasi teroris di sana. Sesungguhnya, pemerintah Israel bermaksud untuk mem-block arus keluar pemberitaan negatif mengenai perilaku tentara Israel: pelanggaran HAM dan hukum perang yang berpotensi menyeret pejabat dan tentaranya untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan di depan International Criminal Court atau ICJ. Di tanah air, pers kita juga berjasa membongkar skandal korupsi, meskipun sering kalah cepat dengan KPK.

Alex S Jones dalam bukunya “Losing the News” mengatakan sulit mengukur dampak kerusakan yang menimpa masyarakat tanpa laporan peristiwa secara utuh. Inilah perlunya good information. Ini alasannya, mengapa harian New York Times mau menghabiskan dana jutaan dolar untuk liputan di Irak, serta membiayai wartawan, fotografer, staf di Afghanistan.

Dalam abad informatika kita mengalami “the paradox of plenty”, terlalu banyak berita dan opini yang memusingkan masyarakat. Kita membutuhkan pers yang mewakili kita untuk melakukan investigative reporting: ada apa dibalik peristiwa itu? Jelas banyak biaya yang dibutuhkan untuk itu.

Website dan blog yang menyediakan informasi gratis jelas tidak reliable dan credible. Bloggers menerbitkan informasi sebatas hobby, dan kurang memiliki mekanisme untuk pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada masyarakat. Suka suka aku lah.

Mengingat mahalnya biaya operasi pers cetak tradisional, ada pemikiran untuk membebankan biaya (charging) kepada masyarakat pembaca di internet. Berarti internet mungkin tidak gratis lagi, dan dalam situasi ekonomi sulit daya beli masyarakat juga turun. Non-starter! Wall Street Journal (WSJ) sejak 13 tahun terakhir telah memungut biaya langgaran, namun berita-beritanya hanya berkaitan dengan perkembangan ekonomi dan keuangan. WSJ pada saat dibeli Ruppert Murdoch bernilai USD 5,2 milyar, sebelum economic free-fall meningkat menjadi USD. 7 milyar. Sekarang? Nilainya tinggal 20% saja. Kerugian 80% ditanggung sang spekulan. Bagi Murdoch yang pengusaha, pers seperti perusahaan, adalah alat untuk cari duit. Idealisme? Kayaknya terlalu jauh. Orang-orang seperti ini lah yang menggiring perusahaan media ke kuburannya.

Ada pula ide ‘cemerlang’ berkembang di Prancis. Intinya agar tidak bangkrut dan tetap memberikan pelayanan informasi kepada publik maka pers perlu dibantu oleh pemerintah. Ini sih, mengingatkan saya pada zaman Orde Baru. Retorika berbeda dengan realitas. Lagipula, aneh juga jika pers mendapat BLT, suplai sembako. Ini bukan saja merendahkan tetapi menghina integritas sekaligus intelektualitas para wartawan.

Bagaimana jika mencari dana dari yayasan? Lihat saja, sejumlah yayasan di Amerika yang hidup atas belas kasihan dari ’dermawan’ seperti Bernie Madoff. Tetapi orang-orang seperti ini lebih tertarik menggunakan kedok sumbangan ke yayasan untuk pencucian uang, atau pengurangan pajak atas nama idealisme ala kapitalisme.

Memang tidak semua yayasan berkedok sosial yang bermuatan terselubung. Ada yang benar-benar memiliki idealisme, mungkin bersumber dari keyakinan ketuhanan. Namun kesulitan dana juga menimpa koran The Christian Science Monitor serta The St Petersburg Times, adalah contoh koran yang memperoleh support dana dari yayasan agama. Koran yang sudah berusia ratusan tahun itupun tidak luput dari serangan jantung, dan akhirnya menghentikan edisi cetakan, dan akhirnya hanya mampu mengudara di dunia maya.

Matinya dunia pers merupakan ancaman terhadap kelangsungan ‘democracy’. Demokrasi yang sehat, memerlukan media bebas. Media bebas membantu mengartikulasikan suatu informasi atau opini, sehingga masyarakat dapat memberikan penilaiannya. Pers membentuk opini, menilai apa merit suatu diskursus yang sedang berlangsung di masyarakat. Sulit membayangkan demokrasi akan bertumbuh sehat tanpa adanya pers dan informasi yang benar.

Warsawa, 1 April 2009