RATIFIKASI Piagam ASEAN (Charter ) oleh keseluruhan 10 negara-anggotanya pada akhir tahun 2009 menjadi tahapan terpenting dalam sejarah 42 tahun usia organisasi sub-regional di Asia Tenggara itu.
Keputusan politik terpenting yang diambil oleh seluruh kepala negara/pemerintah dalam pertemuan di Singapura dalam kerangka-waktu singkat 6-tahun adalah pembentukan komunitas ASEAN pada tahun 2015. Setelah KTT, maka, seluruh negara-anggota, terutama Indonesia, dalam waktu singkat perlu bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan rumah untuk pembentukan 3 pilar komunitas yakni (1) politik dan keamanan, (2) ekonomi, dan (3) sosial budaya.
Pekerjaan yang paling besar adalah pembentukan komunitas ekonomi, bahwa pada tahun 2015 wilayah Asia Tenggara akan menjadi kesatuan ekonomi: menjadi one single market and production base, ketika arus barang, jasa, modal, termasuk ketenagakerjaan mengalir lancar tanpa hambatan.
Menilik pengalaman Eropa dalam integrasinya, pembentukan komunitas ekonomi (European Community) memerlukan waktu yang panjang, 42 tahun. Eropa menjadi satu kesatuan ekonomi baru dicapai pada tahun 1993, sejak terbentuknya The European Coal and Steel Community pada tahun 1951. Bersamaan di tahun 1993, para pemimpin Eropa juga menandatangani Maastricht Treaty.
ASEAN Charter kurang lebih berfungsi sama seperti Maastricht Treaty, menjadi landasan hukum untuk pembentukan komunitas di kawasan masing-masing.
Pembentukan komunitas politik dan keamanan, tentu tidak bisa dipandang enteng karena menjadi bagian penting, landasan politis untuk integrasi 10 negara kawasan Asteng itu. Pemikiran ke arah penyatuan komunitas politik sebenarnya telah berlangsung jauh sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Demikian pula pembentukan komunitas sosial budaya, ASEAN menyadari pentingnya solidaritas dan identitas yang sama bagi rakyat-rakyat di kawasan, serta komitmen bersama untuk menatap masa depan di dunia yang kian ketat mengalami kompetisi di era globalisasi.
Tulisan di bawah ini merupakan sari dari ceramah yang disampaikan oleh penulis pada saat melakukan sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 di Surabaya dan Solo pada bulan Mei dan Juni 2010.
Mengapa Penting Komunitas ASEAN?
PROSES pembentukan organisasi regional dan subregional marak ketika berakhirnya Perang Dunia II. Di Eropa, para pemimpin menyadari kepentingan integrasi wilayah untuk menghindari terulangnya perang-dunia yang telah menghancurkan wilayah, ekonomi dan kemanusiaan. Pada saat gagasan dilontarkan di Eropa pada akhir PD II, harapan untuk integrasi Eropa dipandang utopia.
Tujuan pembentukan integrasi wilayah Eropa diawali dengan kepentingan politis guna menghindari perselisihan yang muncul dari imbalances of power equation, ketika negara kuat mengintimidasi yang lemah, bilamana konflik wilayah, etnis, dan bahkan agama menjadi sumber perang.
Keberadaan European Coal and Steel Community sejak tahun 1951 membuktikan kerjasama Prancis dan Jerman berjalan baik. Baja memang menjadi sumber industry, termasuk militer. Jika pasar yang menentukan suplai dan demand, maka pertimbangan ekonomi menjadi lebih menonjol, ketimbang perang.
Sehingga, pada kondisi yang kian membaik itu tujuan-tujuan stabilitas keamanan dan perdamaian menjadi berkembang pesat.
Kini Uni Eropa tidak saja menjadi entitas yang kokoh secara politis, tetapi juga menjadi aktor ekonomi global yang telah memiliki identitas dan nilai-nilai yang modern.
Misi UE sekarang adalah menciptakan perdamaian, kemakmuran dan stabilitas bagi rakyat Eropa. Tadinya persoalan batas-wilayah menjadi sumber konflik, maka dengan penyatuan seluruh Negara anggota dalam kesatuan wilayah, Uni Eropa kini beranjak dari zona kesatuan ekonomi yang berambisi dalam peran politik global. UE juga mengupayakan pertumbuhan ekonomi dan sosial yang seimbang bagi rakyat di 27 negara-anggota. Para pemimpin Eropa menyadai kondisi yang dibentuk secara sadar dengan susah-payah seperti ini diperlukan untuk kesatuan Eropa menghadapi kompetisi di era globalisasi.
Pengalaman Uni Eropa juga dicermati oleh kelompok Negara di berbagai belahan dunia, misalnya Afrika (Uni Afrika), Amerika Latin (Mercosur), Timur Tengah (GCC), termasuk ASEAN di Asia Tenggara.
Dari keseluruhan ratusan organisasi regional atau sub-regional, boleh dikatakan hanya 2 organisasi yang memiliki success story, yakni Uni Eropa dan ASEAN.
Pembentukan Komunitas ASEAN kurang lebih mengalami proses serupa. Apakah tingkat integritasnya nanti pada akhirnya dapat berwujud pada entitas Uni Eropa tergantung pada perkembangan ke depan. Sesuatu yang sulit disepakati pada masa sekarang, seperti pengalaman Uni Eropa dengan impiannya, terbukti berjalan melebihi targetnya.
Maka, bolehlah kita bermimpi di suatu saat integritas ASEAN semakin menguat: akan terbentuk satu wilayah ekonomi dan moneter yang didukung oleh mata uang tunggal, diikuti dengan pembentukan parlemen, angkatan bersenjata, dan bahkan kebijakan luar negeri yang sama, bahkan untuk suatu entitas pemerintahan yang tunggal pula!
Stabilitas Perdamaian dan Keamanan untuk Apa?
KEAMANAN (security) adalah kondisi yang tercipta karena tercapainya stabilitas dan perdamaian. Kondisi ini bermanfaat untuk membangun manusia dan lingkungan yang diinginkan (ideal). Keamanan baru dirasakan penting ketika terancam, atau hilang. Manusia akan kembali ke naluri untuk mempertahankan diri: dalam unit yang lebih besar pada tingkat masyarakat bahkan rakyat di suatu negara.
Sama seperti udara yang gratis dan murah, keamanan selalu dianggap komoditas yang terjamin ada. Padahal, untuk membina keamanan manusia menumpahkan berbagai upaya dan energy. Mahal!
Aman (secure) dirasakan penting untuk pembangunan, terutama dengan hadirnya stabilitas dan perdamaian. Stabilitas yang tercipta dalam jangka-panjang menghadirkan prediktabilitas situasi.
Maka security hadir by design, dibentuk, dijaga dan ditingkatkan oleh manusia untuk memperoleh situasi kehidupan yang harmonis. Sama seperti kehidupan di kampung, desa, rakyat memelihara harmoni dengan semangat hidup bertetangga baik.
Indonesia pasca perang kemerdekaan merasakan keperluan itu. Sebagai negara dan memiliki kawasan terbesar maka diperlukan situasi yang damai di kawasan. Sebagai de facto pemimpin di kawasan, kontribusi Indonesia sangat diperlukan.
Praktis, bila berbicara tentang ASEAN maka berarti hampir separuh atribut yang melekat adalah unsur Indonesia. Dari 590 juta penduduk ASEAN, 40% atau 234 juga tinggal di Indonesia. 42% wilayah daratan Asia Tenggara yang seluas 4,4 juta km2 berada di NKRI, dan 40% dari GDP ASEAN yang telah mencapai USD 1500 milyar berasal dari Indonesia.
Kondisi Asia Tenggara pasca Perang Dunia II, seperti umumnya di kawasan Asia Pasifik, 50 tahun yang lalu sangat labil dan penuh dengan potensi konflik. Dengan pengecualian di beberapa negara, kolonialisme tidak menyelesaikan tugasnya menyiapkan rakyat-rakyat di Asia Tenggara untuk berpemerintahan sendiri. Samudera Pasifik, yang dulu diterjemahkan sebagai Lautan Teduh (Pasif) memang hanya tenang di permukaannya. Dia menyimpan sejuta energi yang siap meletus, seperti Gunung Krakatau di tahun 1883 dulu.
Di sana tersimpan animositi, konflik wilayah, etnis, bahkan militer antar-negara. Di dalam negeri juga demikian. Seperti misalnya di Indonesia, sejak perang kemerdekaan kita mengalami beruntun konflik di dalam negeri: perjuangan proklamasi, pemberontakan, Trikora utnuk pengembalian Irian Barat, Dwikora dalam konfrontasi terhadap Malaysia, dan G30S/PKI yang meruntuhkan Orde Lama mengakhiri kekuasaan Presiden Soekarno. Berbagai maneuver politik mercusuar pasca kemerdekaan dipandang hanya proses yang memiskinkan bangsa.
Persoalan di kawasan tidak terbatas hanya di bidang politik semata. Dalam kecemasan internasional pada perubahan iklim, telah muncul kesadaran untuk penanganan perlindungan lingkungan dan bahkan soal-soal praktis seperti keselamatan pelayaran.
Mencuatnya isu-isu non politis itu berkaitan dengan menonjolnya soal-soal ekonomi pula. Kawasan Asia Pasifik pada umumnya, termasuk Asia Tenggara, telah menjadi economic powerhouse, di mana negara-negara di kawasan sekitarnya memerlukan sumber-sumber hayati dan non-hayati untuk keperluan pembangunan ekonomi mereka.
Isu penting berkaitan dengan menguatnya integrasi ASEAN melalui Charter ialah berkaitan dengan upaya pembentukan arsitektur regional (regional architecture). Mengingat satu-satunya organisasi menonjol di Asia Pasifik, ASEAN telah pula menjadi motor atau driving force dalam diskursus yang sebenarnya mulai mencuat pada awal tahun 1990-an.
ASEAN memang memiliki posisi unik, ketiadaan rival organisasi serupa di Asia Pasifik mendorongnya untuk berperan aktif dan menjadi harapan dalam pembentukan struktur di Asia Pasifik melalui proses East Asia Summit (EAS). Dukungan negara-negara-negara terpenting anggota EAS dari AS, Rusia, India, Jepang, Korea dan Australia, di samping Indonesia tentunya, akan menjadi milestone baru dalam proses integrasi kawasan Asia Pasifik.
Jakarta 27 September 2010
Sunday, September 26, 2010
Wednesday, September 22, 2010
SENI TEATER KUNO GAMBUH DI EROPA
SELAMA hampir 3 minggu pada bulan Juni 2009 yang lalu (6-25 Juni), 31 seniman drama tradisional Bali ”Gambuh Desa Batuan” mengguncang Polandia, tepatnya di kota Wroclaw, Polandia baratdaya. Di kota ini, mereka diundang dalam rangka acara ”2009 Grotowski Year 2009” khusus untuk mempertontonkan seni pertunjukan kuno Bali –induk dari berbagai seni musik dan tari Bali—yang dikemas secara professional untuk suatu tontonan yang menarik. Mereka bangga mewakili Indonesia di pentas dunia.
Seni pertunjukan Gambuh sangat memukau, pencinta teater tradisional dari Polandia dan berbagai negara Eropa berbondong-bondong ke Wroclaw.
Group Gambuh Desa Batuan tiba di Polandia 6 Juni dan berpartisipasi dalam latihan bersama dengan para aktor dari Odin Theatre (Denmark) dan berbagai artis dari seluruh dunia untuk persiapan pertunjukan opera “Ur-Hamlet” – yang merupakan penafsiran orisinal dari kisah yang dikenal dalam drama ciptaan William Shakespeare.
Selama berada di Polandia, Gambuh Desa Batuan yang dipimpin oleh I Made Suamba tidak hanya tampil dengan lakon-lakon khas Bali tetapi juga berkolaborasi dengan artis-artis dari berbagai negara. Mereka menjadi artis terbanyak dalam pertunjukan drama “Ur Hamlet” yang kolosal 150 artis multinasional dari Jepang, Prancis, Taiwan, Brazil, Denmark, Polandia, Italia, Argentina, Mexico, Yunani, Spanyol, India, Ceko,Turki, Inggeris, Macedonia, Cyprus, USA, Belanda, dan Swiss. „Ur Hamlet” menjadi pertunjukan utama dalam festival sekarang di Wroclaw.
Pertunjukan monumental “Ur Hamlet” ini melibatkan sekitar 150 artis dan di bawah arahan sutradaranya Eugenio Barba.
Selain itu, para musisi dan penari tradisional Bali tampil untuk pertunjukan sendiri pada tanggal 19 Juni di Teater Puppet Wroclaw, dengan menampilkan berbagai legenda yang berasal dari kisah-kisah tentang Pangeran Panji, yang menjadi dasar dari berbagai bentuk teater dan wayang Jawa maupun Bali.
Lakon Pangeran Panji inilah yang menjadi dasar dari berbagai bentuk teater dan wayang Jawa maupun Bali.
Dalam pertunjukan berikutnya, Gambuh Desa Batuan menampilkan teater topeng tradisional yang didasarkan pada cerita yang ditulis oleh kerajaan-kerajaan Bali dan lakon “Bali Jewels” di Rynek (Old Town), yang menjadi penampilan terakhir di pusat keramaian para wisatawan di Wroclaw.
Semua penampilan mendapat sambutan meriah dan antusiasme dari para pengunjung yang merupakan upaya promosi hebat budaya dari Pulau Seribu Candi di Polandia.
Pengenalan saya dengan Gambuh terjadi kebetulan karena saya sendiri hanya sebatas menjadi penikmat seni. Kebetulan Dawid Martin, pemain dan pelatih the Warsaw Gamelan Group, menginformasikan acara ini setelah melihat publikasinya di salah satu sudut kota Warsawa. Dawid juga berhasil berbicara via telpon dengan salah satu rombongan.
Berdasarkan penjelasan Dawid, para seniman Gambuh Bali khusus diundang ke Polandia untuk menyemarakkan kegiatan UNESCO di Wroclaw memperingati 10 tahun wafatnya Jerzy Grotowski (1933 – 1999), seorang sutradara, pendidik dan ahli teater Polandia. Dalam acara peringatan yang bertajuk “The World as a Place of Truth”, panitia juga menyelenggarakan konperensi, seminar, penerbitan buku, pemutaran film, konser, pertunjukan dan pameran tentang Grotowski.
Budaya Bali mempesona orang-orang Eropa sejak pertama kalinya para pelautnya mendarat di pulau ini. Bagi kebanyakan artis Barat, Bali menjadi sumber inspirasi. Salah satu di antaranya adalah Jerzy Grotowski (1933 – 1999) seorang sutradara, pendidik dan ahli teater Polandia. Tahun ini merupakan peringatan 10 tahun wafatnya Grotowski dan ultah ke-50 ”Teater of 13 Rows” yang didirikannya.
Bersamaan, tahun 2009 dinyatakan oleh UNESCO sebagai The Grotowski Year. Sebagai bagian dari peringatan, Institut Grotowski di Wroclaw menyelenggarakan festival bertajuk “The World as a Place of Truth” dengan partisipasi Gambuh Desa Batuan Ensemble dari Bali.
Luar Biasa
KETIKA saya dan isteri tiba di Wroclaw, setelah menempuh 6 jam perjalanan darat, Gedung Teater Wayang telah dipenuhi penonton. Direktur Teater setelah berpidato meminta saya menyampaikan sepatah kata. Tidak banyak yang dapat saya jelaskan, hanya pernyataan betapa pentingnya seni budaya bagi bangsa Indonesia, dan Bali memang menjadi salah satu the jewel budaya yang pantas diangkat ke pentas dunia. Jika diminta berpidato setelah menyaksikan Gambuh tentu saya akan lebih pede.
Karena, selama satu setengah jam kemudian, saya dan seluruh penonton tersihir menikmati seni drama kuno Bali yang dikemas secara professional. Yang unik bagi saya adalah lantunan nada sendu 5 seruling bambu yang terbesar pernah saya lihat. Tentu dilengkapi dengan perangkat gamelan sederhana, diperkuat sekitar 10 pemain.
Malam itu mereka menampilkan lakon “Tebek Jaran”, cerita klassik mengenai seorang pangeran bernama Panji, dibarengi dengan lelucon dan kesedihan, kegembiraan yang menghanyutkan perasaan. Semua asli dalam bahasa Bali. Sejumlah gadis-gadis Bali menari dan berdialog, diiringi musik yang disebut Gambuh itu. Semuanya, 31 artis tampil di panggung, bergantian, menari berdialog. Pertunjukan tanpa jeda ini diakhiri dengan grand finale disambut tepukan hadirin meriah.
Setelah pertunjukan, saya mengundang para artis dan rombongan untuk makan malam di restoran Thai yang terletak di bilangan Old Town yang kuno dan indah. Udara malam itu juga mendukung, cerah dan hangat. Kami berbincang-bincang panjang lebar sambil mengisi perut. Maklum waktu sudah hampir jam 9 malam. Saya memuaskan keinginan tahu saya tentang Gambuh. Perjalanan seni tradisional yang menjadi induk dari budaya panggung Bali sejak 1000 tahun yang lalu ternyata cukup panjang. Pernah hampir hilang, tetapi hidup kembali menjadi perkasa, berkat jasa Cristina Wistari Formaggia, seorang WN Italia.
“Anda seharusnya melihat acara primadona kami”, kata Pino Confessa jurubicara kelompok itu mendampingi pimpinan artis I Made Suamba. Dia merujuk pada lakon “Ur Hamlet”. Menurut Pino, selama 3 malam berturut-turut Gambuh tampil dalam acara kolaborasi bersama lebih dari 100 artis lain berbagai bangsa, dalam penampilan “Ur Hamlet”, yang merupakan penafsiran orisinal dari kisah drama ciptaan William Shakespeare. Pada penampilan ini, Gambuh Bali menyumbang artis terbanyak, dan memang ternyata menjadi sokoguru pertunjukan kolosal itu.
Menurutnya lagi, tidak pernah Hamlet ditampilkan sedemikian kolosal, dan untuk menyiapkan pertunjukan itu sutradara Eugenio Barba perlu melakukan riset dari berbagai musik Timur dan Barat sejak tahun 1960, selanjutnya mengadakan berbagai latihan sejak tahun 2003 di Denmark, tahun 2004 di Seville, Spanyol, lalu di Bali dan akhirnya pada tahun lalu di Ravenna, Italia. Semua aktor menggunakan kostum aslinya, untuk menekankan karakter budaya yang berbeda. Musuh Hamlet yang diduga berasal dari luar ternyata berada di tubuh sendiri, yakni pada lapisan gelap di masyarakat yang tadinya dipandang teratur. Ketika dunia runtuh, Hamlet pun mengambil alih, mendeklarasikan Orde Baru.
Sejarah kebangkitan kembali Gambuh yang sebelumnya terancam punah cukup panjang dan tidak mudah, ujar Pino yang juga menjadi Konsul Kehormatan Italia di Bali. Dia sendiri sejak 8 tahun yang lalu menjadi WNI, dan telah tinggal puluhan tahun di sana. Dia sudah menjadi orang Bali.
Apa itu Seni Gambuh?
GAMBUH adalah seni pertunjukan kuno Bali, mirip dengan teater No (Jepang) atau Khatakali (India), yang menggabungkan elemen tari, nyanyian, dialog dan musik orkestra gamelan yang mengandalkan suling gambuh. Musik ini menggunakan 4 suling kuno yang terbuat dari bambu berukuran besar, yang dimainkan dengan iringan gendang, gong dan lonceng.
Jenis teater upacara adat kuno ini hampir punah di abad ke-20, namun berkat jasa seorang koreografer dan penari asal Italia -- Cristina Wistari Fromaggia— Gambuh berhasil diselamatkan dan kini ditampilkan hanya di beberapa pura, salah satu di antaranya terdapat di Pura Desa Batuan, yang menjadi asal para artis yang tampil di Polandia.
Group Gambuh Desa Batuan Ensemble terbentuk pada tahun 1993 atas inisiatif Cristina, yang bertekad menyelamatkan seni gambuh yang hampir punah denga membuat proyek. Seniman hebat ini meninggal pada tahun 2008 yang lalu.
Menurut Sidarta Wijaya yang menulis “Gambuh: Ancestor of Balinese Dances (2007)”, Gambuh, merupakan tarian drama klasik yang menjadi asal-muasal tari Bali. Menurutnya Gambuh berasal dari sekitar tahun 1007 pada saat Raja Udayana Warmadewa menikahi putrid Jawa dari Daha (Jawa Timur) yang bernama Cri Gunapriya Dharmapatni. Ketika permaisuri tiba di Bali, dia juga menyertakan sejumlah penari yang ternyata tarian mereka sangat disukai sang Raja.
Gambuh menggunakan seruling besar, rebab (biola), gendang, kempur, gangsi, klenang, kucicak, gumanak, gentorak, dan lukita, yang mengiringi dendang juru tandak (reciter).
Alm. Cristina benar. Dengan menyelamatkan Gambuh seperti dalam bentuk sekarang berarti menghidupkan kembali tari Bali yang hebat. Dari semua tari dan drama Bali, kini Gambuh menjadi musik yang paling lengkap dokumentasinya.
Siapa Cristina Wistari Formaggia
CRISTINA adalah WN Italia yang sebelumnya telah melanglangbuana di dunia, terutama di India, sebelum berlabuh di Bali. Di desa Batuan, dia mendedikasikan seluruh hidupnya, sampai akhir hayat untuk menghidupkan seni tari dan drama Gambuh yang kian sekarat hampir hilang. Dia membenahi aspek-aspek artistik, dia sendiri mahir menari Bali klassik.
Ketika Cristina meninggal, Jakarta Post menurunkan tulisan Rucina Ballinger 31 Juli 2008 bertajuk “Balinese 'gambuh' loses its guardian mother”. Gambuh yang baru saja bangkit bersemangat terancam kembali ke tidur lama yang cukup panjang. Tetapi Cristina memiliki teman-teman yang bergairah meneruskan pekerjaan besar ini. Mereka adalah Pino Confessa dan Antonella de Sanctics, dan Gabriella Medici, seorang Denmark.
Namun teman-teman Alm. Cristina itu bersikap merendah. Menurut mereka, yang menjadi obor kebangkitan Gambuh adalah orang-orang Desa Batuan sendiri. Katanya, justru jiwa kebangkitan Gambuh ada pada anak-anak didik Cristina, yakni orang-orang Desa Batuan memiliki bakat dan dedikasi yang tinggi. Mereka sendiri yang bangkit, dan kami menjadi fasilitator saja, kata Pino.
Tetapi Pino dan teman-temannya bukanlah fasilitator biasa. Mereka memahami, seniman biasanya lemah dalam organisasi maupun manajemen. Sedangkan, mengangkat Gambuh ke pentas internasional memerlukan dana. Masalah pendanaan selalu menjadi persoalan klasik dalam mengunduh seni, apalagi untuk karya-karya seni non-komersial seperti Gambuh.
Semangat orang-orang Desa Batuan juga cukup tinggi. Mereka, tanpa Cristina, terus berlatih dan tampil, meskipun hanya ditonton 2 orang. Mereka berlatih tiap minggu. Dulu, semasa Cristina hidup para warga Desa Batuan setiap latihan diberi nasi boks seharga Rp. 10 ribu. Jika penjualan tiket kurang Cristina akan memberikan uangnya sendiri Rp 20 ribu perorang untuk 32 pemain dan pemusik. Tradisi ini tetap dipertahankan oleh teman-teman Cristina.
Setelah Cristina tiada, dengan semangat dan determinasi tinggi mereka harus berdiri dengan kekuatan sendiri. Dari mulai komunikasi e-mail, peran pengganti Cristina yang selama ini memerankan Panji, pakaian panggung harus dipecahkan sendiri. Termasuk untuk pertunjukan “Hamlet” yang memerlukan naskah dan rekaman dialog, khususnya pada bagian yang dimainkan oleh para seniman alam Bali dari Desa Batuan itu.
Orang-orang Bali itu memiliki naluri dan bakat seni yang tinggi. Mereka menghapal partitur dan adegan drama.
Tidak saja berlatih, Cristina Wistari Formaggia juga menulis buku dalam 2 jilid “Gambuh : Drama tari Bali.,Tinjauan Seni, Makna Emosional dan Mistik, Kata-Kata dan Teks, Musik Gambuh Desa Batuan dan Desa Pedungan, terbitan Yayasan Lontar (2000). Untuk artikel lainnya tentang Gambuh, bisa dilihat pada Juga Jurnal Asian Music, Volume 36, Number 2, Summer/Fall 2005 yang memuat karya tulis Marc Perlman, Music of the Gambuh Theater: Bali's Ancient Dance Drama (review). Asian Music - Volume 36, Number 2, Summer/Fall 2005, terbitan University of Texas Pess.
23 September 2010
Wednesday, September 15, 2010
STUDI BANDING: SISI POSITIF
AKHIR-akhir ini banyak kritik masyarakat tentang studi banding anggota DPR RI ke luar negeri. Terkesan mengolok-olok, masyarakat mengambil studi banding ke Afrika Selatan yang dikatakan “mempelajari pramuka di sana dalam rangka legislasi pembuatan UU Pramuka”.
Saya dapat memahami, di era demokrasi kita masyarakat sangat aktif menyoroti penyelenggaraan negara yang belum berjalan seperti diharapkan. Ketersediaan berbagai sarana atau medium, seperti blog, facebook atau twitter, untuk mencurahkan pendapat juga mendukung gejala ini.
Saya juga menyadari, akhir-akhir ini DPR menghadapi kritik tajam beruntun, seperti masalah Bank Century, rumah aspirasi, penyogokan travel cek untuk pemilihan deputi senior gubernur BI yang menyeret puluhan anggota DPR bahkan termasuk politisi senior, absenteeism, pembangunan gedung DPR, legislasi yang masih menumpuk padahal tahun hampir berakhir, macet, dagang sapi (adakalanya menjadi ‘dagang babi’, maaf) dalam soal paraliamentary threshold dan berbagai deal politik lainnya: beruntun!
Sebagai warganegara yang pernah terlibat di dalam perencanaan berbagai program kunjungan DPR ke luar negeri, maupun memfalisitasi pelaksanaannya di luar negeri, saya ingin share, berbagi pengalaman yang tentunya faktual dan proporsional, jauh dari insinuasi atau fantasia atau tuduhan-tuduhan yang emosional.
Urgensi Kunjungan Delegasi DPR RI
DALAM perspektif hubungan antar-negara, kunjungan resmi DPR atau kunjungan antar-parlemen memainkan peranan terpenting kedua setelah kunjungan kepala negara (presiden, raja). Oleh karena itu, kunjungan resmi (official visit, atau muhibbah) selalu dilengkapi dengan acara-acara protokoler, seperti courtesy call kepada presiden/raja dan perdana menteri, jamuan malam resmi, ziarah ke makam pahlawan dsb.
Yang paling pokok adalah substansi tentunya. Kunjungan resmi di suatu negara mencerminkan tingkat hubungan antar-negara, yang memberikan kesempatan untuk memperbarui (to renew) hubungan bersahabat dan komitmen negara, bertukar-fikiran terhadap perkembangan dan isu-isu global yang menjadi perhatian bersama, perkembangan di kawasan masing-masing, termasuk dukungan untuk peningkatan kerjasama bilateral di berbagai bidang. Ini menjadi praktik lazim di seluruh negara di dunia, termasuk dari kelompok negara otoriter/totaliter sekalipun.
Pada tingkat lebih rendah daripada kunjungan resmi adalah kunjungan kerja (working visit), yang melibatkan berbagai jenis delegasi dan keperluan, seperti misalnya kunjungan ke Afrika Selatan dan berbagai jenis delegasi parlemen ke luar negeri.
Kunjungan delegasi kerjasama antar-parlemen atau persahabatan yang merupakan komite tetap, anggotanya dari antar fraksi dan komisi, adalah elemen penting dalam hubungan bilateral. Jenis kunjungan ini merupakan organ untuk menindaklanjuti hasil-hasil kunjungan resmi. Di setiap Negara terdapat organ yang menangani hubungan bilateral. Di DPR RI disebut sebagai Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) dengan nomenklatur khusus (resmi) yang dikaitkan dengan negara tertentu, misalnya GKSB RI – Rusia, RI – India, RI – AS, RI – China dsb.
Selanjutnya yang tidak kurang penting adalah kunjungan Komisi Luar Negeri (Komisi I di DPR RI), yang tentu saja dari satu komisi namun anggotanya dari berbagai fraksi/partai. Kunjungan ini dilaksanakan pada negara-negara strategis, besar, atau memiliki intensitas hubungan yang tinggi dengan Indonesia.
Masih ada berbagai jenis kunjungan parlementer lainnya yang spesifik, misalnya kunjungan delegasi badan legislasi yang tujuannya untuk memperoleh perspektif bagaimana parlemen di negara sahabat itu menyusun dan mengawasi UU tertentu. DPR RI selalu memilih negara-negara yang berpengalaman atau mengalami transisi menjadi Negara demokrasi sebagai negara tujuan dalam fungsi legislasi ini.
Jenis kunjungan yang penting lainnya adalah delegasi panitia khusus (pansus) yang diberi tugas spesifik. Tentu saja kunjungan dilaksanakan pada Negara-negara yang dipandang memiliki pengalaman penting dan intensif di bidang tersebut serta cocok dengan kondisi Negara kita. Mungkin, kunjungan DPR ke Afrika Selatan masuk dalam kategori ini.
Kedua jenis terakhir ini juga sifatnya antar fraksi.
Semua kunjungan delegasi parlemen itu sifatnya timbal-balik, bergantian. DPR RI kita juga menerima berbagai kunjungan delegasi parlemen dari seluruh dunia.
Diplomasi Parlementer
ADALAH suatu kenyataan, di manapun parlemen yang merupakan lembaga tinggi Negara turut memainkan diplomasi dan memajukan kepentingan nasional. Bahkan di tingkat global dikenal asosiasi parlemen dunia yang disebut dengan IPU yang lebih concern dengan masalah-masalah global dan memiliki hubungan asosiasi dengan PBB.
Di kalangan negara-negara Islam, dikenal the Parliamentary Union of the OIC member states (PUOICM) yang membahas masalah-masalah dunia dan situasi spesifik di negara anggota.
Di tingkat regional ada yang dikenal sebagai Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF), di ASEAN sebagai AIPO (ASEAN inter-parliamentary organization) dan kini menjadi AIPA, berbentuk asosiasi yang lebih permanen.
Badan parlemen di atas bersifat multilateral dan mengeluarkan berbagai resolusi yang bersifat dukungan atau bahkan kecaman terhadap suatu masalah atau negara tertentu. Sudah bisa dibayangkan, PUOICM sangat rajin mengeluarkan statement mengecam Israel.
Diplomasi parlementer, atau hubungan luar negeri yang dilaksanakan oleh parlemen termasuk jenis kegiatan internasional DPR RI, baik di dalam negeri ketika menerima kunjungan bilateral atau dubes negara sahabat maupun dalam konteks kunjungan di atas.
Saya berpendapat, betapapun pelaksanaan berbagai kunjungan delegasi DPR belum lah maksimal seperti yang diharapkan masyarakat kita, namun konsekuensi dari piihan demokrasi mengharuskan kita menaruh respek, setidaknya pada kelembagaan. Bagaimana pun juga, para anggota DPR telah terpiih secara demokratis dan mepertanggungjawabkan kinerjanya kepada rakyat atau setidaknya pada konstituten mereka. Mereka, suka atau tidak suka, adalah putera terbaik yang merepresentasikan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Saya percaya, dan sesuai pengalaman, over-time akan terjadi peningkatan kualitatif anggota DPR dan institusi itu sendiri. Tetapi, kita harus memulai dengan memberikan kesempatan untuk belajar, learning process, untuk menemukan best practices, lessons learned. Pengalaman nyata di lapangan akan sangat berbeda hasilnya dibanding studi melalui internet yang belum tentu jelas pertanggungjawabannya.
Membangun tradisi dan membentuk kelembagaan demokrasi jauh lebih sulit daripada memproklamirkan diri menjadi negara demokratis, seperti pengalaman kita sejak 1999. Yang terpenting di sini tentu membangun manusianya dengan kultur demokratis yang berbeda dengan zaman otoriter di masa lalu.
UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri telah mengakui peranan parlemen, beserta LSM, masyarakat, pengusaha di dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri. Berbeda dengan politik luar negeri yang masih menjadi domain pemerintah (seperti di seluruh negara di mana pun), hubungan luar negeri menjadi domain semua pemangku kepentingan.
Dalam pengamatan saya, kunjungan-kunjungan delegasi DPR RI sangat membantu di dalam memajukan diplomasi dan mendorong polugri bebas aktif, serta untuk peningkatan kerjasama bilateral/kepentingan nasional yang saling-menguntungkan.
Tidak Asal-Asalan
DALAM bentuk apapun atau misi apapun, kunjungan delegasi DPR RI selalu diawali dengan persiapan. DPR RI selalu mengkomunisasikan rencana dan program (tentative) kunjungan dan selanjutnya mengundang pejabat Kemlu untuk membahas rencana kunjungan dan tujuan yang ingin dicapai.
Kesempatan itu digunakan oleh Kemlu untuk menyampaikan tanggapan, masukan, serta situasi hubungan bilateral, termasuk kerangka kerjasama antarparlemen. Tuan-rumah pertemuan biasanya organisasi/badan yang membuat rencana kunjungan.
DPR RI sebelumnya telah mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang relevan (selalu tertulis) dengan maksud kunjungan. Kami menjelaskan dan menyampaikan jawaban tertulis dan selalu diserta penjelasan verbal dalam pertemuan di gedung DPR RI. Diskusi di sini merupakan kesempatan untuk pendalaman substansi.
Bila muncul pertanyaan yang memerlukan informasi dari perwakilan, maka pejabat Kemlu terkait akan mengoordinasikan terlebih dahulu dengan KBRI. Maka, adakalanya pertemuan di gedung DPR itu berlangsung s/d 3 kali, sampai dipandang memadai/matang.
Hasil-hasil rapat/pertemuan itu merupakan bahan-bahan untuk penyusunan position paper delegasi. Kemlu via KBRI juga membantu di dalam mengoordinasikan program yang disepakati dengan DPR Negara sahabat.
Tidak jarang, meskipun program dan substansi kunjungan sudah matang acara kunjungan mengalami penundaan berkali-kali bahkan sampai akhir tahun anggaran tidak terlaksana. Hal ini disebabkan karena para anggota yang terdiri dari berbagai fraksi/komisi memiliki jadwal dadakan atau karena ada perkembangan lain.
Apabila persiapan telah berjalan lancar tanpa halangan atau hambatan maka delegasi DPR RI berangkat ke Negara tujuan dan disambut oleh Dubes RI beserta staf KBRI. Biasanya kami langsung mengundang delegasi untuk rapat gabungan.
Rapat gabungan ini bermanfaat untuk mengoordinasikan program atau menjelaskan secara lebih detil dan untuk pendalaman position paper. Kesempatan ini digunakan oleh Dubes untuk menyampaikan perkembangan hubungan bilateral, masalah-masalah menonjol/pending matters termasuk situasi menyangkut WNI/TKI. Dubes juga menggunakan kesempatan untuk menitip pertanyaan atau meminta mengangkat permasalahan tertentu pada saat delegasi bertemu dengan mitra/tuan rumah di negara tujuan.
Selama berada di negara tujuan, di samping hal-hal protokoler, telah diacarakan pada program kunjungan, al. pertemuan bilateral antar parlemen, courtesy call kpd ketua parlemen dan menlu, jamuan kehormatan untuk delegasi, pertemuan dengan menteri-menteri terkait (perdagangan, industry, pertahanan, hukum dsb) kunjungan ke industri-industri relevan, pertemuan dengan Kadin dan pengusaha, dan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia yang berada di negara akreditasi.
Substansi
KEMAJUAN dalam hubungan bilateral merupakan pokok substantive yang ingin diperoleh dalam kunjungan.
Tentu saja, dalam pertemuan resmi kedua pihak menegaskan-ulang hubungan bersahabat dan komitmen untuk peningkatan kerjasama bilateral di segala bidang. Kedua delegasi juga menyampaikan briefing tentang situasi umum dan menonjol di kawasan dan di dalam negeri. masing-masing. Berbeda dalam kunjungan tingkat resmi Ketua DPR RI, pada kunjungan yang lebih rendah masalah-masalah global tidak dibahas terlalu mendalam, biasanya lebih diutamakan membicarakan hal-hal terkait dengan fungsi parlemen, seperti legislasi, budget, pengawasan eksekutif, UU pemilu, otonomi daerah, parliamentary threshold, pencegahan money politics, ethics dan sebagainya.
Dalam kunjungan pansus, waktu untuk pertemuan lebih banyak digunakan untuk pendalaman materi dengan komisi-komisi dan pejabat pemerintahan terkait dengan substansi.
Dubes dan staf KBRI selalu turut menghadiri pertemuan-pertemuan, khususnya berkaitan dengan perkembangan dan pembahasan kerjasama bilateral, termasuk dukungan bagi pencalonan wakil atau negara Indonesia pada jabatan-jabatan di organisasi internasional.
Pembahasan kerjasama bilateral merupakan substansi yang menarik dan konkrit dibicarakan. Dalam substansi kerjasama ekonomi kedua pihak berupaya mencarikan jalan keluar untuk memajukan kerjasama bilateral di bidang perdagangan, investasi, keuangan, tourism. Pada substansi kerjasama bidang sosial budaya dibahas langkah-langkah lanjutan untuk mendorong partisipasi di berbagai event budaya, kerjasama iptek dan pendidikan.
Pertemuan dengan masyarakat Indonesia, baik yang berada di lingkungan KBRI maupun masyarakat biasa, merupakan kesempatan bagi para wakil rakyat untuk bertemu dan mendengarkan keluhan mereka. Selalu, para anggota DPR RI menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi WNI dalam kaitan humaniter maupun soal-soal status anak atau kewarganegaraan. Saya sering mendapat apresiasi dari WNI pada saat masalah yang mereka hadapi diselesaikan, tentu berkat dorongan dan akses yang dimiliki oleh anggota-anggota DPR yang berkunjung.
Kami juga mengambil manfaat tambahan berkat kunjungan delegasi DPR RI dalam menyangkut gagasan dan usulan, pemecahan masalah yang dihadapi oleh KBRI, misalnya program kerja strategis, akses ke departemen sektoral yang berkaitan dengan kerjasama G to G, anggaran, penyediaan sarana gedung kantor dsb.
Rekapitulasi
KBRI mencatat keseluruhan pertemuan dan hasil-hasil yang dicapai untuk disampaikan dalam bentuk laporan resmi kepada Menlu dan unit-unit terkait di Kemlu, serta mengirimkan copy laporan kepada Pimpinan DPR RI. Di lain pihak DPR juga membuat laporan internal, khususnya berkaitan dengan aspek kerjasama antar-parlemen dengan negara sahabat.
Intensitas kunjungan pada delegasi DPR dari berbagai bentuk mencerminkan tingkat hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara tujuan. Lebih dari sekadar protokol, kunjungan itu sangat bermanfaat untuk mendorong peningkatan kerjasama bilateral.
Memang, pengalaman DPR RI dalam kunjungan ke berbagai Negara tentu tidak sama, bervariasi, sesuai dengan bobot dan peranan global/regional Negara sahabat tersebut serta tingkat dan dinamika kerjasama bilateralnya dengan Indonesia.
Mungkin berbeda dengan dugaan publik bahwa delegasi DPR yang melakukan kunjungan menghabiskan waktu belanja atau piknik, dalam pengalaman saya seluruh delegasi meskipun menyatakan puas dengan hasil-hasil dicapai mereka juga komplain tidak terjadwalnya waktu bebas untuk istirahat sejenak kecuali kesempatan untuk mengunjungi kota-tua dan makan malam di restoran tradisional di sana.
Pada tahun 2009, kami menerima tidak kurang dari 8 delegasi kunjungan parlemen, yang terdiri dari kunjungan resmi, komisi, badan, DPD, termasuk dari provinsi. Semuanya dengan kesimpulan sama.
Membangun institusi kenegaraan, termasuk DPR dan demokrasi memerlukan waktu, tenaga, dan kontribusi kita semua, dengan demikian menjadi tanggung jawab bersama.
Jakarta, 16 September 2010
Penulis adalah Dubes RI untuk Republik Polandia, Desember 2006 - April 2010
Saya dapat memahami, di era demokrasi kita masyarakat sangat aktif menyoroti penyelenggaraan negara yang belum berjalan seperti diharapkan. Ketersediaan berbagai sarana atau medium, seperti blog, facebook atau twitter, untuk mencurahkan pendapat juga mendukung gejala ini.
Saya juga menyadari, akhir-akhir ini DPR menghadapi kritik tajam beruntun, seperti masalah Bank Century, rumah aspirasi, penyogokan travel cek untuk pemilihan deputi senior gubernur BI yang menyeret puluhan anggota DPR bahkan termasuk politisi senior, absenteeism, pembangunan gedung DPR, legislasi yang masih menumpuk padahal tahun hampir berakhir, macet, dagang sapi (adakalanya menjadi ‘dagang babi’, maaf) dalam soal paraliamentary threshold dan berbagai deal politik lainnya: beruntun!
Sebagai warganegara yang pernah terlibat di dalam perencanaan berbagai program kunjungan DPR ke luar negeri, maupun memfalisitasi pelaksanaannya di luar negeri, saya ingin share, berbagi pengalaman yang tentunya faktual dan proporsional, jauh dari insinuasi atau fantasia atau tuduhan-tuduhan yang emosional.
Urgensi Kunjungan Delegasi DPR RI
DALAM perspektif hubungan antar-negara, kunjungan resmi DPR atau kunjungan antar-parlemen memainkan peranan terpenting kedua setelah kunjungan kepala negara (presiden, raja). Oleh karena itu, kunjungan resmi (official visit, atau muhibbah) selalu dilengkapi dengan acara-acara protokoler, seperti courtesy call kepada presiden/raja dan perdana menteri, jamuan malam resmi, ziarah ke makam pahlawan dsb.
Yang paling pokok adalah substansi tentunya. Kunjungan resmi di suatu negara mencerminkan tingkat hubungan antar-negara, yang memberikan kesempatan untuk memperbarui (to renew) hubungan bersahabat dan komitmen negara, bertukar-fikiran terhadap perkembangan dan isu-isu global yang menjadi perhatian bersama, perkembangan di kawasan masing-masing, termasuk dukungan untuk peningkatan kerjasama bilateral di berbagai bidang. Ini menjadi praktik lazim di seluruh negara di dunia, termasuk dari kelompok negara otoriter/totaliter sekalipun.
Pada tingkat lebih rendah daripada kunjungan resmi adalah kunjungan kerja (working visit), yang melibatkan berbagai jenis delegasi dan keperluan, seperti misalnya kunjungan ke Afrika Selatan dan berbagai jenis delegasi parlemen ke luar negeri.
Kunjungan delegasi kerjasama antar-parlemen atau persahabatan yang merupakan komite tetap, anggotanya dari antar fraksi dan komisi, adalah elemen penting dalam hubungan bilateral. Jenis kunjungan ini merupakan organ untuk menindaklanjuti hasil-hasil kunjungan resmi. Di setiap Negara terdapat organ yang menangani hubungan bilateral. Di DPR RI disebut sebagai Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) dengan nomenklatur khusus (resmi) yang dikaitkan dengan negara tertentu, misalnya GKSB RI – Rusia, RI – India, RI – AS, RI – China dsb.
Selanjutnya yang tidak kurang penting adalah kunjungan Komisi Luar Negeri (Komisi I di DPR RI), yang tentu saja dari satu komisi namun anggotanya dari berbagai fraksi/partai. Kunjungan ini dilaksanakan pada negara-negara strategis, besar, atau memiliki intensitas hubungan yang tinggi dengan Indonesia.
Masih ada berbagai jenis kunjungan parlementer lainnya yang spesifik, misalnya kunjungan delegasi badan legislasi yang tujuannya untuk memperoleh perspektif bagaimana parlemen di negara sahabat itu menyusun dan mengawasi UU tertentu. DPR RI selalu memilih negara-negara yang berpengalaman atau mengalami transisi menjadi Negara demokrasi sebagai negara tujuan dalam fungsi legislasi ini.
Jenis kunjungan yang penting lainnya adalah delegasi panitia khusus (pansus) yang diberi tugas spesifik. Tentu saja kunjungan dilaksanakan pada Negara-negara yang dipandang memiliki pengalaman penting dan intensif di bidang tersebut serta cocok dengan kondisi Negara kita. Mungkin, kunjungan DPR ke Afrika Selatan masuk dalam kategori ini.
Kedua jenis terakhir ini juga sifatnya antar fraksi.
Semua kunjungan delegasi parlemen itu sifatnya timbal-balik, bergantian. DPR RI kita juga menerima berbagai kunjungan delegasi parlemen dari seluruh dunia.
Diplomasi Parlementer
ADALAH suatu kenyataan, di manapun parlemen yang merupakan lembaga tinggi Negara turut memainkan diplomasi dan memajukan kepentingan nasional. Bahkan di tingkat global dikenal asosiasi parlemen dunia yang disebut dengan IPU yang lebih concern dengan masalah-masalah global dan memiliki hubungan asosiasi dengan PBB.
Di kalangan negara-negara Islam, dikenal the Parliamentary Union of the OIC member states (PUOICM) yang membahas masalah-masalah dunia dan situasi spesifik di negara anggota.
Di tingkat regional ada yang dikenal sebagai Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF), di ASEAN sebagai AIPO (ASEAN inter-parliamentary organization) dan kini menjadi AIPA, berbentuk asosiasi yang lebih permanen.
Badan parlemen di atas bersifat multilateral dan mengeluarkan berbagai resolusi yang bersifat dukungan atau bahkan kecaman terhadap suatu masalah atau negara tertentu. Sudah bisa dibayangkan, PUOICM sangat rajin mengeluarkan statement mengecam Israel.
Diplomasi parlementer, atau hubungan luar negeri yang dilaksanakan oleh parlemen termasuk jenis kegiatan internasional DPR RI, baik di dalam negeri ketika menerima kunjungan bilateral atau dubes negara sahabat maupun dalam konteks kunjungan di atas.
Saya berpendapat, betapapun pelaksanaan berbagai kunjungan delegasi DPR belum lah maksimal seperti yang diharapkan masyarakat kita, namun konsekuensi dari piihan demokrasi mengharuskan kita menaruh respek, setidaknya pada kelembagaan. Bagaimana pun juga, para anggota DPR telah terpiih secara demokratis dan mepertanggungjawabkan kinerjanya kepada rakyat atau setidaknya pada konstituten mereka. Mereka, suka atau tidak suka, adalah putera terbaik yang merepresentasikan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Saya percaya, dan sesuai pengalaman, over-time akan terjadi peningkatan kualitatif anggota DPR dan institusi itu sendiri. Tetapi, kita harus memulai dengan memberikan kesempatan untuk belajar, learning process, untuk menemukan best practices, lessons learned. Pengalaman nyata di lapangan akan sangat berbeda hasilnya dibanding studi melalui internet yang belum tentu jelas pertanggungjawabannya.
Membangun tradisi dan membentuk kelembagaan demokrasi jauh lebih sulit daripada memproklamirkan diri menjadi negara demokratis, seperti pengalaman kita sejak 1999. Yang terpenting di sini tentu membangun manusianya dengan kultur demokratis yang berbeda dengan zaman otoriter di masa lalu.
UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri telah mengakui peranan parlemen, beserta LSM, masyarakat, pengusaha di dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri. Berbeda dengan politik luar negeri yang masih menjadi domain pemerintah (seperti di seluruh negara di mana pun), hubungan luar negeri menjadi domain semua pemangku kepentingan.
Dalam pengamatan saya, kunjungan-kunjungan delegasi DPR RI sangat membantu di dalam memajukan diplomasi dan mendorong polugri bebas aktif, serta untuk peningkatan kerjasama bilateral/kepentingan nasional yang saling-menguntungkan.
Tidak Asal-Asalan
DALAM bentuk apapun atau misi apapun, kunjungan delegasi DPR RI selalu diawali dengan persiapan. DPR RI selalu mengkomunisasikan rencana dan program (tentative) kunjungan dan selanjutnya mengundang pejabat Kemlu untuk membahas rencana kunjungan dan tujuan yang ingin dicapai.
Kesempatan itu digunakan oleh Kemlu untuk menyampaikan tanggapan, masukan, serta situasi hubungan bilateral, termasuk kerangka kerjasama antarparlemen. Tuan-rumah pertemuan biasanya organisasi/badan yang membuat rencana kunjungan.
DPR RI sebelumnya telah mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang relevan (selalu tertulis) dengan maksud kunjungan. Kami menjelaskan dan menyampaikan jawaban tertulis dan selalu diserta penjelasan verbal dalam pertemuan di gedung DPR RI. Diskusi di sini merupakan kesempatan untuk pendalaman substansi.
Bila muncul pertanyaan yang memerlukan informasi dari perwakilan, maka pejabat Kemlu terkait akan mengoordinasikan terlebih dahulu dengan KBRI. Maka, adakalanya pertemuan di gedung DPR itu berlangsung s/d 3 kali, sampai dipandang memadai/matang.
Hasil-hasil rapat/pertemuan itu merupakan bahan-bahan untuk penyusunan position paper delegasi. Kemlu via KBRI juga membantu di dalam mengoordinasikan program yang disepakati dengan DPR Negara sahabat.
Tidak jarang, meskipun program dan substansi kunjungan sudah matang acara kunjungan mengalami penundaan berkali-kali bahkan sampai akhir tahun anggaran tidak terlaksana. Hal ini disebabkan karena para anggota yang terdiri dari berbagai fraksi/komisi memiliki jadwal dadakan atau karena ada perkembangan lain.
Apabila persiapan telah berjalan lancar tanpa halangan atau hambatan maka delegasi DPR RI berangkat ke Negara tujuan dan disambut oleh Dubes RI beserta staf KBRI. Biasanya kami langsung mengundang delegasi untuk rapat gabungan.
Rapat gabungan ini bermanfaat untuk mengoordinasikan program atau menjelaskan secara lebih detil dan untuk pendalaman position paper. Kesempatan ini digunakan oleh Dubes untuk menyampaikan perkembangan hubungan bilateral, masalah-masalah menonjol/pending matters termasuk situasi menyangkut WNI/TKI. Dubes juga menggunakan kesempatan untuk menitip pertanyaan atau meminta mengangkat permasalahan tertentu pada saat delegasi bertemu dengan mitra/tuan rumah di negara tujuan.
Selama berada di negara tujuan, di samping hal-hal protokoler, telah diacarakan pada program kunjungan, al. pertemuan bilateral antar parlemen, courtesy call kpd ketua parlemen dan menlu, jamuan kehormatan untuk delegasi, pertemuan dengan menteri-menteri terkait (perdagangan, industry, pertahanan, hukum dsb) kunjungan ke industri-industri relevan, pertemuan dengan Kadin dan pengusaha, dan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia yang berada di negara akreditasi.
Substansi
KEMAJUAN dalam hubungan bilateral merupakan pokok substantive yang ingin diperoleh dalam kunjungan.
Tentu saja, dalam pertemuan resmi kedua pihak menegaskan-ulang hubungan bersahabat dan komitmen untuk peningkatan kerjasama bilateral di segala bidang. Kedua delegasi juga menyampaikan briefing tentang situasi umum dan menonjol di kawasan dan di dalam negeri. masing-masing. Berbeda dalam kunjungan tingkat resmi Ketua DPR RI, pada kunjungan yang lebih rendah masalah-masalah global tidak dibahas terlalu mendalam, biasanya lebih diutamakan membicarakan hal-hal terkait dengan fungsi parlemen, seperti legislasi, budget, pengawasan eksekutif, UU pemilu, otonomi daerah, parliamentary threshold, pencegahan money politics, ethics dan sebagainya.
Dalam kunjungan pansus, waktu untuk pertemuan lebih banyak digunakan untuk pendalaman materi dengan komisi-komisi dan pejabat pemerintahan terkait dengan substansi.
Dubes dan staf KBRI selalu turut menghadiri pertemuan-pertemuan, khususnya berkaitan dengan perkembangan dan pembahasan kerjasama bilateral, termasuk dukungan bagi pencalonan wakil atau negara Indonesia pada jabatan-jabatan di organisasi internasional.
Pembahasan kerjasama bilateral merupakan substansi yang menarik dan konkrit dibicarakan. Dalam substansi kerjasama ekonomi kedua pihak berupaya mencarikan jalan keluar untuk memajukan kerjasama bilateral di bidang perdagangan, investasi, keuangan, tourism. Pada substansi kerjasama bidang sosial budaya dibahas langkah-langkah lanjutan untuk mendorong partisipasi di berbagai event budaya, kerjasama iptek dan pendidikan.
Pertemuan dengan masyarakat Indonesia, baik yang berada di lingkungan KBRI maupun masyarakat biasa, merupakan kesempatan bagi para wakil rakyat untuk bertemu dan mendengarkan keluhan mereka. Selalu, para anggota DPR RI menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi WNI dalam kaitan humaniter maupun soal-soal status anak atau kewarganegaraan. Saya sering mendapat apresiasi dari WNI pada saat masalah yang mereka hadapi diselesaikan, tentu berkat dorongan dan akses yang dimiliki oleh anggota-anggota DPR yang berkunjung.
Kami juga mengambil manfaat tambahan berkat kunjungan delegasi DPR RI dalam menyangkut gagasan dan usulan, pemecahan masalah yang dihadapi oleh KBRI, misalnya program kerja strategis, akses ke departemen sektoral yang berkaitan dengan kerjasama G to G, anggaran, penyediaan sarana gedung kantor dsb.
Rekapitulasi
KBRI mencatat keseluruhan pertemuan dan hasil-hasil yang dicapai untuk disampaikan dalam bentuk laporan resmi kepada Menlu dan unit-unit terkait di Kemlu, serta mengirimkan copy laporan kepada Pimpinan DPR RI. Di lain pihak DPR juga membuat laporan internal, khususnya berkaitan dengan aspek kerjasama antar-parlemen dengan negara sahabat.
Intensitas kunjungan pada delegasi DPR dari berbagai bentuk mencerminkan tingkat hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara tujuan. Lebih dari sekadar protokol, kunjungan itu sangat bermanfaat untuk mendorong peningkatan kerjasama bilateral.
Memang, pengalaman DPR RI dalam kunjungan ke berbagai Negara tentu tidak sama, bervariasi, sesuai dengan bobot dan peranan global/regional Negara sahabat tersebut serta tingkat dan dinamika kerjasama bilateralnya dengan Indonesia.
Mungkin berbeda dengan dugaan publik bahwa delegasi DPR yang melakukan kunjungan menghabiskan waktu belanja atau piknik, dalam pengalaman saya seluruh delegasi meskipun menyatakan puas dengan hasil-hasil dicapai mereka juga komplain tidak terjadwalnya waktu bebas untuk istirahat sejenak kecuali kesempatan untuk mengunjungi kota-tua dan makan malam di restoran tradisional di sana.
Pada tahun 2009, kami menerima tidak kurang dari 8 delegasi kunjungan parlemen, yang terdiri dari kunjungan resmi, komisi, badan, DPD, termasuk dari provinsi. Semuanya dengan kesimpulan sama.
Membangun institusi kenegaraan, termasuk DPR dan demokrasi memerlukan waktu, tenaga, dan kontribusi kita semua, dengan demikian menjadi tanggung jawab bersama.
Jakarta, 16 September 2010
Penulis adalah Dubes RI untuk Republik Polandia, Desember 2006 - April 2010
Monday, March 29, 2010
PORTUGAL : MENYUSURI JEJAK ISLAM DI EROPA
KAMI bersyukur, pada akhirnya dapat berkunjung ke Portugal pada awal Maret yang lalu. Di kota Lisbon yang penuh gurat sejarah kejayaan bangsa Portugis di masa lalu terutama di abad kelima belas sampai keenambelas bermukim teman lama kami, Ibu Andalusi yang bertugas di KBRI Lisbon.
Orang-orang Portugis pernah mengadakan ekspedisi ke Indonesia di tahun 1512, pada masa puncak kejayaan imperiumnya. Portugal dulu menjadi superpower di bidang ekonomi karena menguasai lautan. Negeri ini juga berjasa memopulerkan rempah-rempah kita di dunia.
Di sini banyak kota dan tempat mengambil nama Arab. Kenapa? Sebelumnya Islam menduduki negeri ini sejak abad ke-8 selama 450 tahun!
Sejarah juga pernah memenjara hubungan Indonesia - Portugis dalam soal Timor Timur. Selama 24 tahun diplomasi kita repot menghadapi ‘krikil dalam sepatu’, menurut istilah mantan Menlu Ali Alatas, yang cukup banyak menghabiskan energi. Padahal, menurut berbagai sejarawan yang juga diakui dalam berbagai buku-buku teks di Amerika dan Eropa Indonesia tidak memiliki ambisi perluasan wilayah di Timtim (sekarang: Timor Leste). Perang Saudara yang terjadi di Timtim, sebagai akibat dari kudeta militer di Portugal yang disebut sebagai Carnation Revolution di tahun 1975, kemudian mencemplungkan Indonesia ke tengah-tengah konflik di sana.
Atas saran superpower AS yang takut Timtim menjadi komunis (the domino theory), maka diminta agar Indonesia masuk pada tahun 1975. Indonesia berada di sana sampai tahun 1999, setelah referendum PBB.
Kini, hubungan Indonesia-Portugal sangat baik, dan tali-temali budaya pun terungkap. Banyak jejak-jejak budaya dan arsitektur Portugis yang terdapat di Indonesia.
Jejak Kejayaan Islam di Eropa
Islam menjadi kekuatan dominan di Eropa selama lebih dari 1200 tahun! Dari abad ke-8 sampai abad ke-20. Kejayaan raja-raja Islam di Iberia kemudian diteruskan oleh Ottoman Turki (abad ke-13 sampai abad ke-20). Jadi, sebenarnya pengenalan orang-orang Eropa terhadap Islam bukanlah baru, seperti misalnya di AS yang mulai tertarik mempelajari Islam setelah peristiwa 11 September 2001, ketika World Trade Center dijadikan sasaran teror oleh Al Qaedah.
Empat ratus lima puluh tahun negeri ini menjadi wilayah penting bagi Islam di Eropa, tetapi hanya dengan pengamatan teliti dan detil Anda melihat jejak-jejak Islam di Portugal. Jejak Islam di Portugal tentu berkaitan dengan sejarah semenanjung Iberia sendiri, termasuk di berbagai kota di Spanyol sekarang.
Fakta ini banyak tidak diketahui oleh kita, dan bahkan berusaha dilupakan orang-orang Eropa sekarang. Ketika kekhalifahan di Iberia pudar pada abad ke-12, Ottoman bangkit dan berjaya sampai 1923. Negeri ini 450 dijajah bangsa Moor, dari Afrika Utara, tetapi mengapa seolah-olah terhapus dalam ingatan?
“Orang Iberia memang ingin menghapuskan kenangan yang merendahkan mereka sebagai bangsa penjelajah hebat dan menguasai pelayaran dunia di abad 15 dan 16”, terutama dari bekas-bekas peninggalan orang-orang Moor”, kata staf lokal yang mendampingi kami.
Maksudnya, negeri ini pernah dikuasai Islam selama hampir 5 abad, dari abad ke-7 sampai abad ke-12. Tidak hanya di Portugal, Islam juga menguasai Spanyol, dan seluruh semenanjung Iberia dan sekitarnya. Bahkan lebih lama: 800 tahun! Dulu ketika kami berkunjung ke Granada, Alhambra, Toledo, kami melihat bekas-bekas kejayaan Islam yang dahsyat di sana.
Sejarah Islam di Portugal
Beberapa abad, sejak 711 – 1249 Portugal di bawah kekuasan Muslim yang berasal dari Moor, Afrika Utara. Islam memengaruhi Portugal dari seni dan bahasa. Ratusan kata-kata Portugis berasal dari Arab.
Panglima Muslim Tariq ibn Ziyad dari dinasti Umayyad menaklukkan Iberia 711 dari tangan raja Visigoth. Kemudian Islam menyerbu Cordoba dan Toledo, ibukota Visigothic. Pada tahun 714 Panglima Musa ibn Nusair menyerbu Saragoosa, Leon dan Astorga. Kemudian Évora, Santarém, and Coimbra direbut 716. Islam hanya memerlukan waktu 5 tahun menguasai seluruh Iberia. Daerah taklukan disebut Al Andalus. Pada abad ke-10 Islam menjadi agama mayoritas di Iberia. Orang Yahudi yang dilindungi penguasa Muslim juga Berjaya.
Tetapi, di Lusitania tentara Muslim bertengkar. Algarve masih menyimpan bekas peninggalan Islam yang kuat, karena mereka bermukim di sana. Banyak orang Visigoth, terutama petani yang masuk Islam. Bangsawan yang menjadi Muslim diangkat menjadi gubernur. Orang Yahudi, sejak dari dulu, senang berdagang dan hidup di dunia akademis.
Di Andalus, nama Iberia bagi Muslim, Islam jaya selama 250 tahun di bawah komando Khalifah Kordoba. Kordoba makmur, berkuasa, berbudaya, karena para khalifah mendirikan sekolah, perpustakaan, pusat riset dan keilmuan, termasuk matematik. Mereka juga menurunkan gaya arsitektur yang disebut arabesque decoration. Mereka juga mengembangkan pertambangan, membangun perdagangan dan industry, irigasi yang hebat, taman-taman yang indah.
Masa keemasan akhirnya berlalu. Pada abad kesebelas para bangsawan Muslim telah menjadi kaya dan berkuasa. Mereka membebaskan diri dari kekuasaan Khalifah dan membentuk kota-kota yang independen (taifas), seperti para emir di Badajoz, Mérida, Lisbon, and Évora. Maka, kaum Visigoth yang bersembunyi di pegunungan melihat kesempatan. Akhirnya Iberia kembali direbut oleh Kristen. Sampai tahun 1236 kekuasaan Islam hanya tinggal di Granada.
Keberhasilan di Iberia mendorong pasukan Muslim masuk ke Prancis. Pada awalnya cukup kuat perlawanan pasukan Prancis, seperti Battle of Toulouse (721), meskipun akhirnya pada tahun 725 pasukan Muslim berhasil menguasai Autun. Pertimbangan strategis menyebabkan mereka mundur pada tahun 732, kembali ke Andalusia. Mereka bertahan Cuma di Swiss sampai abad ke-10, dan merebut Sisilia, menyerang Roma pada tahun 846 dan menguasai Pisa pada tahun 1004. Di Sisilia, Muslim yang menguasai sejak invasi Arab dan Moor pada tahun 827 sampai tahun 1072.
Pada akhirnya, kekuasaan Islam berakhir di Spanyol ketika Emirat Granada menjadi bagian dari Kerajaan Castile sejak tahun 1238 sampai Perang Salib selesai pada tahun 1492 dan Muslim terusir atau dipaksa menukar Iman atau dibunuh dari Castile pada tahun 1609 dan dari seluruh wilayah Spanyol pada tahun 1614.
Namun, di daerah Balkan kekuatan Ottoman mulai berjaya. Telah lahir superpower Islam yang baru.
In the Aftermath
Baru setelah pasukan Kristen kembali menguasai Iberia dan selatan Italia, orang-orang Eropa menemukan “treasure” yang sangat berharga.
Apa warisan terbesar Islam di Eropa? Islam mewariskan Eropa dengan seni, pertanian, ekonomi dan perdagangan, filsafat, matematika, kedokteran, dan iptek. Hasilnya : rennaisance Eropa abad ke-12. Seluruh buku dan teks tentang kemajuan Islam itu diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa, termasuk buku karya Plato, Aristoteles, Socrates yang telah lenyap karena dipandang oleh Gereja sebagai bid’ah.
Orang-orang Eropa mengatakan, berkat peradaban dan kemajuan Islam mereka menemukan kembali akar budayanya.
Bersamaan dengan pudarnya kekuatan Islam di Iberia dan Eropa Selatan, nun di timur sana di Constantinople telah mulai bersinar emporium Islam baru: Ottoman. Belajar dari kejayaan Islam –dan keruntuhannya di Iberia dan Eropa Selatan—Ottoman kemudian menjadi pusat interaksi antara peradaban Timur dan Barat selama 6 abad, menjadi semacam penerus Imperium Byzantium, tetapi versi Islam.
Kerajaan Ottoman bangkit di akhir abad ke-13 (1299), mencapai puncak kejayaan pada abad ke-16 dan ke-17, baru lenyap pada awal abad ke-20 (1923), setelah berakhirnya PD I. Pada puncak kejayaannya, Ottoman menguasai 3 benua, terutama di Eropa tenggara, Asia Barat dan Afrika Utara.
Bahkan kiprah orang-orang Turki itu mencapai Indonesia, ketika Sultan Aceh pada tahun 1565 membuat deklarasi menjadi pengikut Ottoman.
Napak Tilas
Nama tempat dan kota di Negeri ini banyak mengambil nama-nama Arab. Bahkan kota yang dipandang suci, Fatima, berasal dari nama putri kesayangan Rasulullah saw. Di kota itu, terdapat gereja yang dikunjungi jutaan umat Katolik dan wisatawan.
Coba lihat di St George Castle di tengah kota Lisbon, dulu benteng pertahanan yang juga digunakan oleh orang-orang Moor, bangsa Muslim dari Afrika Utara pada abad ke-11 dan ke-12 ketika Lisbon menjadi kota pantai penting bagi Islam, dan direbut oleh raja pertama Portugal, Alfonso Henriques pada tahun 1142. Orang Portugis menyebutnya Castelo de São Jorge. Bangunan yang memiliki 10 tower ini ini pernah menjadi istana raja selama 3 abad. Di sini ada NMC Museum , yang mengumpulkan berbagai hasil galian arkeologis termasuk warisan budaya Islam.
Atau Igreja de São Roque, gereja dari abad ke-15 dengan bangunan baroque yang terletak di Lisbon. Di sini Museu de Arte Sacra (Religious Art Museum) memiliki khazanah yang kaya, termasuk warisan Islam.
Atau, lihatlah Sé Patriarcal (Patriarchal Cathedral) yang dibangun di atas reruntuhan Mesjid peninggalan abad ke-12.
Yang paling mengesankan tentu di kota kecil Sintra, 50 km dari Lisbon. Di sana ada Moorish Castle dahsyat peninggalan abad ke-9 di atas bukit, yang dipagari benteng menakutkan. Dari sini gerakan musuh di pantai Atlantik dapat dipantau. Di kaki bukit, terdapat National Palace of Sintra yang dulu pernah menjadi kediaman resmi gubernur (Wali) pada zaman Islam di abad ke-9. Di sini masih banyak ruangan yang menyimpan guratan seni gambar dan ukir peninggalan Islam.
Tidak jauh dari tempat ini terdapat Palace of Pena. Meskipun bukan dibangun di zaman Islam, tak luput, interiornya penuh dengan seni ukir dan tile peninggalan Islam. Sayang tidak diizinkan membuat foto-foto indah di dalam kastil hebat ini.
Mesjid Raya Lisbon
Jika Anda berkunjung ke kota bersejarah Lisbon, maka kurang lengkap jika tidak berkunjung ke Mesjid Raya. Saya dan Ade sempat shalat di mesjid itu. Mesjid itu bisa menampung ribuan jamaah sekaligus. Orang Portugal menyebutnya sebagai Mesquita Central de Lisboa.
Berbeda dengan kota-kota Eropa lainnya, di sini jamaah yang paling aktif adalah dari Mauritania, Guinea-Bissau dan Mozambique, dan imamnya berasal dari Angola,. Dapat dipahami, negeri-negeri ini dulu bekas jajahan Portugal dan banyak di antara jamaah yang beremigrasi ke Portugal, termasuk umat Islamnya.
Rumah Allah ini didirikan pada 1985, rancangan dibuat arsitek António Maria Braga and João Paulo Conceição, dan mesjid ini dilengkapi dengan kubah dan menara, ruangan resepsi, ruangan shalat dan auditorium.
Berapa penduduk Muslim di Portugal? Menurut statistik Portugal (1991) hanya sekitar 9 ribu, sedangkan jumlah komunitas Muslim keseluruhan kini mencapai sekitar 40 ribu, yang berdatangan dari Mauritania, Guinea-Bissau and Mozambique, dan akhir-akhir ini juga Muslim dari Anak Benua (India).
Maka, pada hari-hari lebaran Idul Fitri, maupun Idul Adha mesjid ini dipenuhi umat Islam dari berbagai penjuru. Shalat terpaksa dilakukan dalam 2 shift!
Lisbon, 5 Maret 2010
Wednesday, March 24, 2010
MARRAKESH
KEBERUNTUNGANLAH yang menghantar kami sampai ke Marokko, akhir Pebruari yang lalu. Dalam 2 kali acara diplomatik, kami mendapat durian runtuh: memenangkan door prize pada acara charity dinner, menginap gratis di Hotel Palmerie Golf Marrakesh, dan pada kesempatan berikutnya mendapat tiket gratis pesawat pp untuk 2 orang ke Portugal pada acara Tahun Baru di Kemlu. Kami tinggal membeli tiket murah dari Portugal ke Marokko, maka cuti tahunan dapat dimanfaatkan maksimal dan murah.
Atmosfer Islami begitu terasa ketika kami mendarat di Marrakech Menara Airport. Marrakech bukan sebatas tempat diselenggarakannya berbagai konperensi internasional, atau kota wisata terkenal di dunia semata. Budaya tradisional, arsitektur tua berbaur dengan modern dan budaya liberal, kulinari dan berbagai motif seni menjadi daya tarik negeri ini.
Negeri berpenduduk 32 juta ini memperoleh 20% devisa dari pariwisata. Data 2009 menunjukkan 9 juta wisatawan Eropa, Afrika dan Timur Tengah mengunjungi negeri ini.
Kesan eksotik Marokko terasa menguat ketika kami mengunjungi pasar Djemaa el Fna (mythical square) yang telah menjadi a world heritage site dan salah satu tempat yang direkomendasikan oleh berbagai penulis dan komentator yang saya baca di internet. Di sini Anda akan mendengar bunyi-buyian Berber dibarengi gendang bertalu-talu.
Tradisi tetap terjaga baik: di samping henna yang sehat, hammam atau tempat pemandian umum masih ada, tempat bergossip dan menjodohkan anak. Juga Ghossul minyak harum menebar, sabun hitam, sikat tubuh dari ekor kuda, minyak Argam dari tumbuhan yang hanya terdapat di Marokko.
Marrakech negeri eksotik berwarna-warni yang penuh misteri dan sensual, wanita bercadar maupun berpakaian modern hilir mudik di labirin pasar Kissaria maupun di butik-butik Eropa di Medina.
Marokko memiliki kota dengan ciri-khas uni-warna: di Marrakech, seluruh bangunan berwarna merah bata, Fez berwarna biru, Meknes nan hijau, ibukota Rabat memilih putih dan Casablanca yang terkenal itu berwarna-warni. Dulu saya pernah mengunjungi ibukota Rabat dan Casablanca di tahun 1990-an. Sayang, ketika itu dalam perjalanan dinas maka saya tidak bergairah mencari tahu tentang sudut-sudut unik di sana.
Hati senang menikmati matahari nan hangat tatkala salju merajalela di Eropa. Kami melihat turis-turis Eropa keranjingan menggugat tangan dan wajah dengan henna, kaya dengan makna dan ungkapan sensual Arab. Tetapi mengapa kota yang begitu eksotik ini dinamai Marrakech? Ada yang bilang menjadi sebutan awal bagi “Marokko”, tetapi secara harfiah Marrakech berarti “go away quickly”! Nanti akan saya ungkapkan rahasianya, di akhir tulisan ini.
Kota Bersejarah
Kota ini sangat erat terkait dengan eksistensi Marokko. Selama 9 abad kehidupan di sini penuh dengan kejayaan dan kemegahan, meskipun dalam beberapa episode mengalami kegelapan. Berbagai penguasa politik, lokal maupun Eropa sejak zaman dulu kala menaklukkan, menghancurkan, dan membangun kembali kota ini. Kota ini menjadi saksi sejarah yang panjang itu, dan bukan hanya menyimpan di dalam berbagai dokumentasi hidup di museum, tetapi juga di berbabai bagunan arsitektur Islam yang kental, mesjid dan menara, taman-taman kuno dengan teknologi pengairan yang menakjubkan.
Negeri berpantai di Atlantik itu disebut orang-orang Arab sebagai Al-Maghreb al-Aqsa, atau negeri matahari terbenam, yang menjadi meeting point bagi orang-orang Arab, Eropa, dan Afrika. Bahkan, orang-orang Yunani dulu kala telah memasukkan dalam peta sebagai daerah pegunungan Atlas. Terkenal sebagai bangsa gagah berani penjelajah namun ironisnya, negeri indah ini juga tidak luput dari penjajahan. Mereka terkenal dengan arsitektur, teknologi, kaya bunyi-bunyian, matematika, flavor yang merasuki semenanjung Iberia dengan semangat Andalusia dan Algavre landscape-nya. Makanya, negeri ini terkenal di dunia Eropa sebagai percampuran budaya tradisional yang kental dengan dunia modern.
Bangsa-bangsa Phoenix, Roma, Vandals, Bizantium dan Arab bercampur baur dengan etnis Berber, yang kini menghuni separuh penduduk Marokko. Bangsa Berber melahirkan dinasti di sini: Al Moravid (abad ke-11) dan Al Mohad (abad 12-13), namun kekuasaan politik akhirnya jatuh ke tangan dinasti Marinid sebelum negeri ini jatuh ke tangan Portugis. Baru setelah dinasti Saadi mengalahkan Portugis di tahun 1415 muncullah dinasti Alawi, dan pada abad ke-17 Mulah Ismail menyatukan bangsa Marokko, meskipun pada abad ke-19 negeri ini jatuh kembali ke tangan orang-orang Eropa. Marokko, sebelum merdeka 1956 adalah dari jajahan Prancis dan Spanyol, dan akhirnya dipimpin oleh Raja Muhammad V. Setelah Raja Hassan wafat, maka penguasa sekarang Muhammad VI naik tahta.
Berber
Marrakech menjadi ibukota kebanggaan etnis Berber, bangsa nomad yang terbiasa dengan kehidupan keras, karena dikelilingi lautan di barat dan sahara di timur. Pendudukan dan penguasaan oleh orang-orang Phoenix, Roma, Vandals, Bizantium dan Arab sekalipun tidak berhasil menaklukkan budaya Berber. Kota ketiga terbesar di Marokko setelah Rabat dan Casablanca ini berpenduduk 500 ribu.
Djemaa el Fna pada malam hari menjelma jadi restoran jalanan, dengan makanan khas kepala kambing berbumbu menyengat. Pada sore hari Anda akan menemui banyak atraksi musik, tarian, teater jalanan, penjinak ular maupun monyet, akrobat, pesulap, peramal nasib, dan penari Berber. Tidak jauh dari sini terdapat Al Menara Avenue, di kiri-kanan banyak taman-taman kota yang indah dan terkenal dengan system irigasi warisan abad ke-12 yang masih berfungsi.
Bangsa yang pernah menaklukkan dan berkuasa ratusan tahun di Spanyol dan Prancis memang luar biasa. Tradisi dan budayanya sangat mewarnai Marokko, penguasaan teknologinya luar biasa untuk zaman itu. Jiwa adventure dan penaklukan mereka luar biasa. Dinasti-dinasti terkemuka di Marokko berasal dari kaum Berber. Jika orang-orang Iberia menyebut mereka atau seluruh Muslim yang berasal dari Maghribi sebagai “Moorish” dan masih menyimpan peninggalan mereka di Spanyol dan Portugal, tentulah tidak mengherankan.
Kami menyempatkan pergi ke perkampungan (Kasbah) orang-orang Berber, rumah-rumah yang terbuat dari tanah-liat dan batang-batang kayu terlihat kumuh dari luar. Tetapi, adalah tradisi Berber untuk memberikan yang terbaik untuk tamu terhormat. Maka mereka selalu menyisakan satu ruangan yang terbaik di rumah, penuh dengan hiasan pernak-pernik berwarna-warni.
Orang-orang Berber adalah seniman. Maka berbagai kerajinan besi, tembaga, kulit, kayu, wool yang kita temui di Marokko adalah berasal dari karya budaya mereka. Kami sempat membeli beberapa karpet sutra yang indah, dan harganya separuh dari pasar.
Berdampingan dengan el Fna, adalah pasar pedagang berbagai rupa yang terbentuk lebih dari seribu tahun yang lalu. Pasar ini disebut “The Souks“, di mana terdapat sekitar 1000 pengrajin Berber untuk berbagai metal, keramik, kayu, dan kulit menjajakan dagangannya. Jalan kecil membelusuk ke dalam-dalam cukup menarik untuk dikunjungi.
Souk di dekat el Fna ini termasuk banyak dikunjungi wisatawan Eropa, dan untuk berbelanja berbagai benda-benda unik. Kami pun tidak lupa memberlikan Davin baju tradisional Berber, lengkap dengan topinya. Hanya, jangan lupa bernegosiasi all out untuk mendapatkan barang bagus dengan harga murah!
Drama Hollywood
Marrakech terkenal sejak dulu kala sebagai tempat singgah para pengembara dan petualang, termasuk para agen rahasia pada zaman perang Eropa, dipopulerkan oleh para artis Hollywood maupun negarawan dunia seperti Churchill. Politisi yang terkenal dengan serutunya ini bernegosiasi dengan Presiden AS Franklin Roosevelt ketika menghadiri Casablanca Conference 1943. Tempatnya adalah di Hotel Mamouna yang kaya dengan taman dan Anda bias memandang pegunungan Atlas yang ditutupi oleh es. Salju juga ada di sana, dan bahkan dengan murah meriah orang-orang berlatih ski!
Konon, sebelum Bali terkenal, Churchill berpendapat Marrakech sebagai “the best place of earth!” Reagan, DE Gaulle, Mandela, Sarkozy, Omar Shariff, Sharon Stone, Suylvester Stallone, Charlie Chaplin, Tom Cruise, Nicole Kidman, Jennifer Aniston, Rolling Stones, Elton John dan Julio Iglesias pernah bertamu di La Mamounia.
Aktor Humphrey Bogart dan aktris Ingrid Bergman memopulerkan Marrakech dalam film mereka, begitu pula penulis Amerika Paul Bowles, juga menjadikan Tangiers kota kebanggaannya. Meknes oleh Mulah Ismail dijadikan Versailles of Morocco.
Yves Saint Laurent
Salah satu obyek turis yang menarik di sini adalah Majorelle Garden yang dibangun oleh perancang Jacques Majorelle tahun 1920, taman di tengah kota yang kaya dengan koleksi bamboo raksana, papyrus, palem, cypress, bougenville, dan kaktus. Disebut juga sebagai the Blue Majorelle, dan taman ini dibeli oleh Yves Saint Lorent. Ya, dia YSL, perancang Prancis kelahiran Aljazair yang juga memiliki rumah di Tangiers, salah satu kota terkenal di Marokko, yang dinamainya Villa Mabrouka (keberuntungan). Di villanya, YSL mencerahkan fikiran, menuangkan ide-ide baru dalam karya-karya haute coutoure, sambil menikmati pemandangan dahsyat ke arah Selat Gibraltar (Djabr al Tariq). Tempat ini sangat mengesankan YSL, sehingga sesuai wasiatnya, pada saat meninggal pada tahun 2008 abunya ditebarkan di taman ini.
Di kota ini, Anda juga menemukan rumah kediaman mantan presiden Prancis Jacques Chirac, bahkan sebelum dia menjadi politisi terkemuka.
Shalat di Mesjid Koutoubia (1158)
Shalat maghrib di Mesjid Koutoubia yang menara setinggi 77 meter terlihat dari berbagai penjuru kota menjadi simbol kota. Mesjid dibangun lebih awal dan digunakan resmi mulai tahun 1158. Sedangkan menara yang juga bernama Al Koutoubia dibangun dengan seni Almohad oleh Abd al-Mumin antara 1184-1189. Di puncak menara terdapat 3 bola dunia berbalur emas yang mencerminkan iman, shalat dan berpuasa.
Mesjid ini konon salah satu terbesar dan terindah di dunia, bergaya Spanyol-Moresque (Morisko). Sayangnya mesjid lama diruntuhkan karena arah kiblat yang tidak tepat, sampai kemudian dibangun kembali pada dinasti Almohad.
Kami terpaksa menunggu menjelang maghrib untuk shalat di sana. Menurut Idder, staf KBRI Rabat berbangsa Marokko yang menemai kami selama di Marokko, Mesjid Koutoubia hanya dibuka pada waktu-waktu shalat, setelah itu dikunci. Maka, untuk menunggu waktu shalat kami menyempatkan meninjau menara di sebelahnya, yang juga menjadi landmark Marrakech.
Mesjid ini dibagi 17 gang dengan ruang yang luas sekali. Sayang sekali, tempat wudhu yang kecil jamaah terpaksa antri. Kami sendiri wudhu di luar, dibekali segayung air hangat untuk membasuh tangan, muka dan kepala seadanya. Hampir seperti tayammum. Tempat shalat pria dan wanita terpisah berjauhan, tanpa mengurangi kekhusukan beribadah.
Mesjid bersejarah lainnya adalah El Mansouriah Mosque yang berdekatan menuju ke Saadian Tombs, dan Mesjid Ibn Yusuf di tengah kawasan Medina yang dibangun oleh dinasti Almoravid.
Kulinari nan Eksotis
Salah satu daya tarik wisatawan ke Marrakech adalah kuisin yang lezat, dan murah pula. Konon kabarnya kulinari Marokko dipandang sebagai salah satu kuisin paling beragam di dunia, seperti Indonesia. Tidak heran, di negeri ini terjadi percampuran budaya ribuan tahun, antara Berber, Spanyol, Corsica, Portugis, Moor, Timur Tengah, Mediteranean dan Afrika. Aslinya, kulinari Marokko adalah Berber, ditambah hidangan Arab Andalusia yang dibawa orang-orang Morisco ketika Islam tergusur dari Spanyol, kelezatan masakan Turki dan tentunya Arab dari Timur Tengah.
Makanan Marokko boleh dikatakan bercita-rasa dan beraroma eksotik, karena kaya dengan bumbu: buah pala, kemiri, jahe, lavender, cumin dan lada. Tentu sebagian bumbu diperoleh sejak ribuan tahun lalu dari luar Marokko. Buah-buahan segar olive, orange maupun dried fruit. Jangan lupa mencoba nasi kuskus dan minum teh mint yang terkenal itu. Juga saffron, termahal di dunia ini juga terdapat di sini. Bukan saja untuk bumbu, saffron dihargai karena mengandung kesehatan sejak dulu kala. Untuk menghasilkan 1 kg saffron, diperlukan 100 ribu tangkai bunga!
Mereka pemakan daging kambing, dicampur kuskus, serta pastille, tajin dan harira. Makan yang top markotop di sini tentulah unik: kepala kambing panggang! Apapun pilihan menu Anda, jangan lupa minum teh mint khas Marokko yang dicampur dengan gula batu.
Points of Interest
Walhasil, saya berhasil menyaksikan semua tempat yang ingin saya kunjungi: Almoravid Koubba, 14 buah pintu gerbang kota berukiran seni Almoravid yang berhubungan satu dengan lainnya membentuk benteng kota lama. Pintu-pintu gerbang itu disebut “Bab“, seperti terdapat di Erraha, Agnaou; Debbagh; Doukkala; El Djedid; El-Khemis, Aylen, Aghmat, Ahmar, Ighli, Ksiba, er-Tobb, Echcharia, el-Jadid, dan el-Makhzen, masing-masing dengan fungsi dan keunikan arsitektur dan ornamen berbeda. Kami juga mengunjungi Ben El Badi Palace, Kasbah Mosque, Kontoubia Minaret dan Mosque, Majorelle Garden, Palais El Bahia, Rahba Kedima yang dulu tempat perdagangan budak, Saadian Tombs.
Untuk menyaksikan seni pertunjukan Berber, kami sempat menyaksikan pertunjukan yang disebut “Fantasia“, yang terdiri dari seni tari dan musik serta perang berber yang ditampilkan secara kolosal di pinggir kota. Sebelum pertunjukan, kami dijamu minum teh oleh pemiliknya di bawah tenda Arab.
Sayang, kami tidak punya waktu yang cukup untuk berkunjung ke museum, seperti Marrakesh Museum yang dibangun oleh Omar Benjellun, memuat berbagai koleksi masterpiece kaligrafi Islam dari abad ke- 9 s/d ke-19, keramik, permata dan hasil arkeologis berupa koin kuno dari abad ke-8 s/d ke-19, senjata, dan pakaian kuno. Juga perlu dikunjungi Dar Si Said Museum yang memiliki koleksi budaya Berber yang menarik.
Jangan lupa mengunjungi Istana Bahia, Saadi Tumuli, Museum of the Islamic Art, dan Mesjid Koutoubia. Atau mempraktikkan ilmu negosiasi, menawar harga di pasar tradisional yang berlikut-liku bak labirin, menjual berbagai souvenir dan keperluan sehari-hari di Souk. Di sini azan menggema pada waktu shalat, banyak menjual kerajinan perak, batu batuan, tembaga dan kayu, sandal, djellabas, kaftan, minyak, produk kencantikan, karpet, pot, keramik, bumbu bercampur baur dengan berbagai aroma.
Kami sempat mengunjungi Menara Pavallion karya abad ke-12, dengan kolam seluas 150 x 200 m, airnya berasal dari 350 sumur yang terdapat dipinggiran kota, dengan teknologi kuno abad 12, oleh Almohads , tetapi masih berfungsi. Pavallion ini dikelilingi kebun olive yang luas.
Sayang waktu singkat kami tidak pergi ke Atlantik, untuk melihat kota-kota pelabuhan dan nelayan Marokko yang juga banyak daerah peristirahatan. Misalnya di El Jadida, banyak peninggalan militer Portugis, atau ke Essaouira yang disebut orang Portugis sebagai Mogador, yang konon menjadi surga bagi surfers. Kota ini menjadi favorit bagi Bob Marley dan Jimi Hendrix, atau Orson Welles membuat film dengan judul Othello.
Sahara? Ya, karena di bagian barat Marokko yang berbatasan dengan Algeria terdapat sahara. Konon, indah luar biasa! Sejauh mata memandang hanya padang pasir, dan Anda bisa tidur di tenda atau di alam terbuka beratapkan rembulan dan bintang di langit yang pekat! Di sini, kehampaan dan seperti keputusasaan tetapi di sana ada sumber kehidupan yang memesona: oase, mirage. Atau untuk kontemplasi spiritual yang melahirkan ketengangan hidup, mencari makna.
Anda duduk di dunes berjam-jam, kosongkan fikiran, berzikir, dan rasakan kehebatan kehampaan yang mutlak! Jangan dipandang enteng, saya melihat koleksi teman yang pernah bertugas di Marokko yang sangat indah, atau lihat di majalah.
Menurut teman kami Hadi Sudirman dari KBRI Rabat, Sahara sebenarnya tidak terlalu jauh. Anda bisa mengambil tour dengan biaya murah untuk 3 hari perjalanan dan menginap beserta makan hanya membayar USD 200 per orang.
Mengakhiri kunjungan ke Marrakech bak menyelesaikan pengembaraan dan petualangan ke negeri eksotik. Dalam berbagai literatur maupun booklet, saya menemukan berbagai tempat-tempat hebat lainnya di Marokko. Kami akan datang lagi.
Jika Marrakech berarti “go away quickly” ternyata mereka bukan bermaksud mengusir kita, atau kota ini membosankan sehingga Anda perlu beranjak secepatnya. Di Marokko, masih banyak tempat lain yang juga unik dan tidak dapat dilewatkan, misalnya Casablanca, Fest, Rabat, Tangier, atau Agadir yang banyak peninggalan tentara Portugis. Dan bermalam di tenda di Sahara!
Go away quickly: meskipun tidak mungkin menghabiskan Marrakesh dalam 2-3 hari. Anda harus cepat-cepat menyelesaikan tour di Marrakesh, agar melihat tempat-tempat yang lebih eksotik di berbagai kota lainnya di Marokko. Maka, jangan cepat-cepat terpesona dengan Marrakech!
Marrakech, 2 Maret 2010
Tuesday, February 23, 2010
PERKAMPUNGAN MUSLIM DI SINGAPURA
TUJUAN kami keluar dari Bandara Changi Singapura dalam transit beberapa jam, selain bertemu dengan Yayan Mulyana, sahabat lama dulu di New York, ialah berziarah ke perkampungan Melayu dan Muslim yang kini dipelihara sebagai wilayah wisata. Di antara berbagai kawasan modern nan asri dan hijau atau pusat-pusat perbelanjaan di Singapura, bagi kami Kampong Glam [sering dibaca: Gelam] teramat istimewa.
Disebut Kampong Glam, karena di kawasan ini –sebelum reklamasi besar-besaran– merupakan kawasan pantai laut yang banyak tumbuh pohon kayu putih. Orang Melayu menyebut pohon yang menghasilkan minyak berkhasiat nan harum itu pohon gelam. Kawasan ini dulu berada di pinggir pantai. Strategis bagi para pedagang di Asia Tenggara, termasuk bagi para pelaut Bugis.
Karena rajin berdagang dengan orang-orang Arab dan Gujarat, maka di Kampong Glam berdiri pemukiman dan transit bagi bangsa-bangsa yang membawa Islam ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mereka bangsa pedagang, maka di tempat itu mulai subur menjadi pusat perdagangan. Dan, nama-nama jalan pun turut menyesuaikan: Arab Street, Busorrah Street, Baghdad Street, Muscat Street. Di negara kota ini sampai sekarang tetap terpelihara Kampung Jawa, Kampung Bugis dsb.
Berdasarkan sejarah, pada tahun 1822 Raffles membuat rencana kota Singapura yang dibagi berdasarkan etnis: Eropa, dan China di kawasan tersendiri. Sedangkan orang Melayu (dari Semenanjung, Sumatera dan Riau), Bugis dan Arab ditempatkan di Kampong Glam. Belakangan orang China maupun India, karena berdagang, tertarik tinggal di sana.
Gubernur Jenderal Stamford Raffles membangun kawasan ini untuk menjadi pusat perdagangan bagi kepentingan the British East India Company, dan sebagai hasil perjanjian dengan Sultan Hussein maka didirikanlah Kampong Glam sebagai pemukiman kaum Muslim Melayu. Sultan Hussein sendiri mendirikan istananya di sana pada tahun 1819, yang kini disebut Istana Kampong Glam. Istana ini, setelah dipugar berkali-kali, sekarang menjadi Pusat Warisan Budaya Melayu, atau Malay Heritage Centre.
Kami sempat berkunjung ke kompleks yang terpelihara sebagaimana aslinya. Namun sayang, hari sudah petang Museum sudah tutup.
The Sultan Mosque
Kami menyempatkan shalat zuhur dan Asyar di Mesjid dengan arsitektur unik di Kampong Glam ini. Bagaimana sejarah berdirinya mesjid tua itu?
Alkisah, Sultan Hussein berhasil membujuk Raffles dan penguasa Inggeris ini rela membuka kocek $3000 Spanish dollar untuk membangun sejak awal mesjid ini. Karena idenya dari Sultan, maka orang Singapura menyebutnya mesjid tua itu Sultan Mosque. Maka, Denis Santry dan perusahaan Swan & MacLaren dari Inggeris ditugasi membuat rencana bangunan.
Pada saat dibangun mesjid itu cuma satu lantai. Pada tahun 1920an, masyarakat Muslim Singapura, seperti orang Jawa, Melayu, Bugis dan Arab, mengumpulkan dana untuk menjadikannya mesjid terbesar, sehingga kini mampu menampung jamaah sebanyak 5000 orang. Pembangunan mesjid itu berlangsung sampai tahun 1928.
Mesjid dan berbagai kelengkapan bangunannya bukan bergaya Melayu, karena didasarkan pada tradisi arsitektur India dan Timur Tengah.
Setiap liburan sekolah maupun akhir-pekan selalu ada kegiatan umat di sana. Apalagi pada bulan Ramadhan. Jika Anda berada di sana, akan terasa suasana keramahtamahan Melayu dan persaudaraan Muslim. Kami merasa nyaman di sini. Seakan-akan kita bukan di Singapura.
Bussorah Street adalah jalan utama menuju Mesjid. Di sekitarnya Anda akan mendengar orang-orang Singapura berbahasa Melayu. Banyak juga menjual souvenir, dan bahkan restoran Padang juga ada di sana.
Demi citra dan pariwisata, maka sejak tahun 1980 an kawasan Kampong Glam itu diproklamirkan sebagai National Heritage dan dilindungi, termasuk the Sultan Mosque, dan Istana Kampong Glam.
Singapura, 11 Februari 2010
Monday, February 22, 2010
BERZIARAH KE MESJID NIUJIE BEIJING
TIDAK banyak diketahui orang di Indonesia bahwa umat Islam di China berjumlah hampir 22 juta umat Islam, atau 1,6% dari jumlah penduduk 1,3 milyar jiwa. Bahkan ada yang mengklaim jumlahnya lebih dari 60 juta.
Umat Islam China tersebar di berbagai daerah, yang terbesar di propinsi Xinjian, Gansu, Qinghai dan Ningxia (the Quran Belt), serta di Yunnan dan Henan. Kelompok terbesar, Hui berjumlah hampir 10 juta, Uyghur 8,5 juta, Kazakh 1,3 juta, dan berbagai etnis dari Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar.
Maka mesjid turut memainkan peranan di dalam pengembangan Islam sejak dahulu kala di China, di awal-awal masuknya Islam ke China pada abad ke-7. Menurut catatan, di seluruh China terdapat sekitar 3500 mesjid, dan terus bertambah seiring era keterbukaan.
Pada tahun 610 M Khalifah Usman mengirim utusan untuk penyebaran dakwah ke China, seorang duta besar Islam pertama di China, yang tidak lain paman Rasulullah saw sendiri Sa’ad Ibn Abi Waqqas. Selanjutnya, umat Islam memegang peranan penting di berbagai pemerintahan dan penggerak ekonomi, filosof bahkan militer. Muslim selalu dipercaya memegang jabatan tertinggi di kementerian perdagangan. Beberapa jenderal termashur di kerajaan China juga Muslim, seperti Admiral Cheng Ho (1371-1435) yang mampir di Semarang. Memang Islam tidak terlepas dari sejarah modern China.
Masa suram Islam di China terjadi pada masa Dinasti Manchu, bahkan genocide dan politik adu-dumba antar-etnis terjadi pada zaman itu. Baru setelah pemerintahan Sun Yat Sen yang mendirikan Republik China pada tahun 1912, pengakuan sama diberikan kepada semua etnis: Han, Man (Manchu), Meng (Mongol), Hui (Muslim), dan Tsang (Tibet).
Pada masa gila-gilaan pada Revolusi Kebudayaan, institusi Islam dan penduduk Muslim juga diuber-uber. Tetapi tidak separah terhadap penganut agama lainnya. Islam, karena sejarah, menjadi native di China. Karena itu, terutama sekarang, Muslim memperoleh kelonggaran.
Ketika transit di Beijing, saya dan isteri berkunjung ke rumah Mayerfas, teman yang tinggal di sana. Salah satu tujuan penting adalah berziarah ke Mesjid Niujie. Ditemani staf protokol Yulianto kami menyempatkan berziarah ke tempat bersejarah ini.
Mesjid Raya Niujie
Mesjid Niujie ini dibangun orang-orang Arab pada tahun 996, pada zaman Dinasti Liao (916-1125), namun mengalami renovasi berkali-kali yang diawali oleh Dinasti Ming pada tahun 1442 menjadi bentuk sekarang ini. Renovasi terbesar terjadi pada masa Maharaja Kangxi, pada dinasti Qing (1622-1722) dan pada abad ke-20 setelah kemerdekaan China 1949, yakni tahun 1955, 1979 dan 1996.
Menduduki area 6000 m, Mesjid Niujie terdiri dari bangunan kayu bergaya arsitektur dan gabungan seni China dan Arab.
Mesjid itu terletak di daerah pemukiman Muslim China di Cow Street. Tidak heran, di sana banyak restoran Muslim. Kami pun menikmati makan siang di salah satu restoran itu. Menurut catatan di kawasan Muslim itu terdapat sekitar 10 ribu penduduk Muslim, dari sekitar 200 ribu di seluruh Beijing.
Pada masa Revolusi Kebudayaan, mesjid dan umat Islam tidak luput menjadi sasaran Pengawal Merah, seperti dialami oleh semua agama di China. Naik haji juga dilarang. Baru setelah 1978 kelonggaran beribadah diberikan kepada umat Islam. Kini, tercatat sekitar 10 ribu jemaah dari China melaksanakan ibadah haji setiap tahun. Mesjid itu kurang lebih mampu bertahan pada Revolusi Kebudayaan yang hancur-hancuran.
Ketika kami masuk dari dari pintu gerbang Cow Street, rumah Allah ini tidak terlihat. Namun, setelah berjalan sekitar 40 meter barulah mesjid unik berbentuk simetris ini terlihat. Tadinya saya kira bangunan itu kelenteng, karena memang mirip. Di tembok menuju ke mesjid tergambar beberapa relief yang melukiskan kebahagiaan dan keberuntungan. Tentu relief tidak melukiskan hewan atau patung manusia, karena Islam melarangnya.
Di depan bangunan mesjid –dipisahkan oleh pelataran yang cukup luas— terdapat 6 menara setinggi 10 m yang disebut Menara Pemantau Bulan, karena fungsinya demikian untuk memastikan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan.
Salah satu bukti sejarah mesjid, maka di bagian belakang terdapat kuburan 2 imam berasal dari Persia (Iran) yang mengembangkan Islam pada abad ke-13 di China.
Di bagian luar mesjid terdapat prasasti yang menceritakan sejarah mesjid, dan tentang umat di China. Islam tidak terpisahkan dari sejarah China itu sendiri. Maka, tidak heran jika Nujie Mosque penting menjadi tujuan bagi pengunjung China.
Kami tiba menjelang maghrib. Tak lama kemudian beberapa belas jamaah mengambil wudhu dan bilal mengumandangkan azan di pelataran, di luar mesjid. Jamaah kebanyakan berpakaian jubah dan berjanggut. Mereka warga China asli. Seusai shalat, saya melihat para jemaah mendengarkan penjelasan seorang ulama atau kuliah tentang keislaman. Mereka ramah menyapa kami. Sayang, perbedaan bahasa tidak menolong untuk berdialog dengan mereka.
Interior mesjid indah, penuh dengan kaligrafi kutipan ayat-ayat Quran, diukir dalam seni lukis China yang kaya dengan warna dasar merah, putih, biru, dan hitam.
Tempat shalat wanita berada terpisah, tidak jauh dari bangunan utama. Interiornya juga sama indahnya. Seusai shalat, isteri saya Ade, mencoba untuk berkomunikasi dengan jemaah wanita, namun terhalang bahasa. Tidak urung, keramah-tamahan dan kenikmatan bersilaturahmi dengan saudara Muslim dari Indonesia memancarkan ekspresi yang hangat di wajah Muslimah China.
Beijing, 12 Februari 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)