Wednesday, January 5, 2011

WROCŁAW 1000 A.D.


WROCŁAW (baca: vroswav) merupakan kota terbesar keempat di Polandia, setelah Warsawa, Lodz dan Krakow. Kota ini memiliki lebih dari 10 universitas ternama, dihuni sekitar 100 ribu mahasiswa sehingga disebut juga kota pelajar. Wrocław yang pernah berambisi menjadi tuan rumah Expo 2012 ini juga dikenal sebagai kota budaya dan perdagangan.

Saya sering berkunjung ke kota ini. Maklum, sejak berambisi menjadi tuan rumah Expo 2012 Wrocław aktif berbenah dan berpromosi. Kota pun menjadi nyaman, teratur. Banyak konvensi, seminar dan berbagai pertemuan internasionaloberlangsung di sana. Sayang, Wroclaw kalah dengan kota Yeosu, di Korea Selatan.

Saya selalu diundang, dan teman saya Rafal Dutkiewicz yang menjadi walikota di sini selalu menyambut ramah. Ada beberapa kali saya diundang menyampaikan presentasi dalam seminar atau menjadi dosen tamu di University of Wrocław.

Di sini juga berdiam Imam Ali Abi Issa, pengemuka Islam dan pemimpin mesjid di sana. Imam Ali banyak membantu saya ketika mengurus korban kecelakaan WNI sampai menyelenggarakan fardhu kifayah karena ada 3 WNI yang meninggal. Dia rajin mempromosikan Islam sebagai rahmatan lil-alamin, Islam yang damai, toleran dan sejuk.

Suatu ketika, saya juga tampil menjadi pembicara tentang Islam and Democracy dalam seminar internasional yang dihadiri dari berbagai pembicara terkenal dari dunia Islam, yang disponsori Imam bekerjasama dengan University of Wrocław.

Kota ini indah sekali, terutama di Kota Tua, atau stara miasto kata orang Polandia. Menghabiskan waktu berjam-jam di kafe di Kota Tua ini tidak membosankan. Damai.

Lebih dari Kota Tua yang menarik wisatawan, kota ini indah, terdapat lebih 100 jembatan menghubungkan pulau-pulau kecil di berbagai cabang sungai Odra yang membelah kota sehingga disebut juga Venice of Poland, serta berbagai taman-taman kota yang cantik. Tentu tidak diperlukan gondola di sini, kecuali becak-becak di kota tua bagi pengunjung berwisata, mengitari old market yang antik.

Kota ini juga menjadi pusat pendidikan musik. Bahkan mereka telah memiliki seperangkat gamelan yang dibeli sendiri. Sekolah musik ini berambisi untuk mengembangkan music gamelan dengan mendatangkan instruktur/pelatih gamelan dari Indonesia. Grup Gamelan KBRI Warsawa atau Warsaw Gameran Group dari University of Warsaw sering manggung di sini.



Sejarah

KOTA ini terbentuk pada tahun 1000, tetapi namanya yang sekarang baru tercatat pada tahun 1175 sebagai Wrezlaw, Prezla atau Breslaw, nama Slav atau Jerman dipakai bergantian. Orang Ceko menyebutnya Wratislavia or Vratislavia, karena didirikan Duke Vratislaus I of Bohemia.

Wrocław adalah kota bersejarah yang melampau mesin waktu ribuan tahun, namun memiliki sisi-sisi sebagai kota modern dilengkapi dengan gedung-gedung opera dan teater.

Sebagai kota bersejarah, masa lalunya juga berdarah-darah dan penuh penghancuran, perbuatan orang-orang gila di masa lalu. Terakhir, pada saat mundur karena ditekan oleh Red Army (Uni Soviet), dan kota ini menjadi benteng of the last resort, menjadi ‘fotress city’ oleh Hitler. Ketika merasa akan kalah, pasukan Jerman ini pun tidak rela kota indah ini akhirnya kembali lagi ke Polandia, dan menghancurkan semuanya!

Tetapi, orang-orang Polandia dengan kesabaran yang tinggi, serta keahlian tentunya, membangun kembali kota ini sebagaimana aslinya, sehingga menjadi kebanggaan di seluruh Eropa Tengah.

Pada awalnya kota ini dikuasai oleh Bohemia sampai tahun 992 dan kemudian antara 1038-1054, lalu dikuasai oleh the Kingdom of Poland (992-1038 dan 1054-1202), dan beberapa kerajaan kecil pecahannya. Baru pada abad ke-13 kota ini menjadi ibukota politik dari berbagai kerajaan Polandia.

Seiring dengan peristiwa politik, kota ini pun berkembang menjadi pusat perdagangan bagi orang-orang Bohemia, Wallon, Yahudi dan Jerman. Wrocław pun berkembang menjadi penghubung ke barat (Eropa) maupun ke utara melalui the Amber Road. Itu sebabnya, keganasan Genghis Khan tidak melewatkan Wrocław, karena menjadi lintasan ke Eropa. Namun, orang-orang Polandia melakukan preemptive action, dan pada tahun 1241 kota ini dihancurleburkan oleh penduduk dengan tujuan agar orang-orang Mongol ini mundur.

Selanjutnya, orang-orang Jerman pun mendiami kota ini dan wilayah sekitarnya dan menamainya Breslau. Kota ini pun berkembang sejahtera, karena industrinya yang kuat.

Meskipun masih dipegang oleh Polandia, namun pada tahun 1262 sampai akhir abad ke-13 Wrocław kian berkembang independen dan berorientasi ke Jerman. Pada tahun 1335, Breslau pun masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Bohemia, yang merupakan bagian dari Holy Roman Empire.

Pada tahun 1518 Reformasi Protestan mencapai Breslau, kemudian ditaklukkan kembali oleh Habsburg yang Katolik. Pada tahun 1618 Breslau mendukung pemberontakan terhadap Kerajaan Bohemia, dan pada Perang 30 Tahun kota ini diduduki oleh orang-orang Saxon dan Swedia.

Karena Raja Austria mengajak kembali orang-orang Katolik untuk tinggal di sana, maka dalam waktu sekitar 70 tahun kemudian kota multi-etnis ini juga dipenuhi oleh kaum Jesuit, Capucins, Franciscans, dan Ursulines. Dan mulai tahun 1610 Wrocław pun, seperti sekarang, kembali menjadi kota multi-enis.

Bangunan yang ada di kota ini kurang lebih bertahan pada bentuk aslinya peninggalan abad ke-17, sampai pecahnya PD II pada tahun 1945.

Kota ini juga menjadi sarang kaum intelektual dan seniman. Wrocław menjadi pusat kesusasteraan Baroque Jerman dan para pujangga di Silesia.


Periode Pencerahan

KERAJAAN Prusia menganeksasi Breslau dan seluruh wilayah Silesia pada tahun 1740 dan baru dilepaskan pada tahun 1763.

Pada masa Perang Napoleon, Breslau dikuasai oleh tentara Konferedasi Rhine, yang kemudian meratakan semua sekolah-sekolah agama untuk dijadikan benteng.

Sekolah Protestant Viadrina University of Frankfurt (Oder) pun dipindahkan ke Breslau pada tahun 1811, digabungkan dengan Jesuit University, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Wrocław University. Universitas ini memiliki aula yang luar biasa indahnya, Aula Leopoldina, yang seluruh dindingnya dihiasi dengan figur patung-patung dan lukisan dari abad menengah. Di sini saya menyampaikan presentasi tentang Islam di Indonesia.



Masa Perang Dunia I

PEMBARUAN Prussia meningkatkan kesejahteraan di Silesia, wilayah baru di sekitarnya pun diperluas, sehingga Breslau menjadi jalur penting kereta api, pusat industri tekstil. Manufaktur dan besi. University of Wrocław mendukung industrialisasi di sana dan pada sat bersamaan menjadi pusat iptek dan menguatnya sekularisasi yang melahirkan berbagai museum terkenal.

Unifikasi Jerman pada tahun 1871 mengakibatkan Breslau menjadi kota ke-6 terbesar di Kerajaan Jerman, dengan jumlah penduduk lebih dari 500 ribu pada tahun 1860 – 1910, mayoritas orang-orang Jerman, dan sejumlah ribuan minoritas Yahudi, Polandia.

Bangunan-bangunan bersejarah yang masih ada di kota ini adalah Kaiserbrücke (Kaiser bridge) yang diresmikan pada tahun 1910, dan Wrocław University of Technology, Centennial Hall (1913).

Pada tahun 1919, Breslau menjadi ibukota provinsi baru Lower Silesia. Pada saat pemberontakan orang-orang Polandia pada bulan Augustus 1920 Kantor Konsulat dan sekolah milik Polandia dihancurkan, dan semakin terusir. Huruhara tahun 1923 Antisemitic juga terjadi dalam tahun 1923.

Perluasan kota pada tahun 1925 - 1930 menambah wilayah 175km² dan penduduk menjadi 600.000. Pada bulan Juni 1930 Breslau menjadi tuan-rumah pekan olahraga se-Jerman, karena negara ini terusir dari Olympic Games setelah kalah dalam PD I. Breslau juga menjadi kantong Partai Nazi, karena dalam pemilu 1932 partai lunatik ini menang 43,5 % ke-3 terbesar di seluruh Jerman.

Setelah Hitler berkuasa pada tahun 1933, musuh-musuh politiknya diberangus dan kantor-kantornya dihancurkan. Dan puluhan ribu orang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Lalu, the Nazi Sports Body dilangsungkan di Breslau 26 - 31 Juli 1938, untuk memperingati 125 tahun pembebasan Jerman dari tangan Napoleon.

Dalam masa Perang Dunia II, di pinggir kota Wroclaw yang relatif aman menjadi penampungan pengungsi, yang mengakibatkan kota ini pernah mencapai jumlah penduduk hampir 1 juta.

Pada bulan February 1945 Tentara Merah Soviet dan penguasa kota terpaksa memperbolehkan penduduk mengungsi. Evakuasi di musim dingin -20 derajat ini mengakibatkan sekitar 18 ribu tewas. Pertempuran terjadi, separuh kota luluh lantak rata dengan tanah, dan 40 ribu mati. Setelah pengepungan 3 bulan, akhirnya "Fortress Breslau" menyerah tanggal 7 May 1945. Semua bangunan hancur berantakan, hampir rata dengan tanah.

Berdasarkan Konperensi Postdam, hampir seluruh bagian Propinsi Lower Silesia diserahkan kepada Polandia, dan orang-orang Jerman pun melarikan diri atau diusir dari kota ini. Selanjutnya, 75 % orang-orang Polandia yang dideportasi dari wilayah Timur yang diserahkan kepada Uni Soviet, kemudian menetap di Wroclaw dan Lower Silesia lainnya.

Kini, Wrocław menjadi kota unik Eropa dengan warisan budaya beragam. Arsitektur kota diwarnai oleh tradisi Bohemian, Austrian, dan Prussian dan banyak menjadi situs karya arsitek modern Jerman, Centennial Hall. Pada bulan Juli 1997, kota ini mengalami banjir dari Sungai Oder, meruah sampai ke Ceko, seperti di tahun 1903.


Tempat-Tempat Menarik

BERBAGAI tempat indah untuk dikunjungi di kota ini adalah Old Town, yang memiliki medieval market square terbesar kedua di Eropa setelah di Krakow, sanctuary di Ostrow Tumski, Plac Grunwaldzki di seberang sungai Odra, Centennial Hall (di bawah perlindungan UNESCO), taman hewan, Olympic Stadium yang dibangun Hitler pada tahun 1936.

Tentu, saya akan kembali lagi melihat kota indah ini. Insya Allah.

credit photo 2 dan 3 dari Wikipedia

Warsawa, 26 November 2009

Sunday, January 2, 2011

A SHOW CASE AT THE BALTIC CULTURAL CENTER IN GDANSK

DR LAWRENCE OKEY UGWU, or Larry, seldom went to Warsaw, he would prefer to spend his times in Gdansk. He is currently Director of the Baltic Cultural Center in Gdansk. Yet, he is Nigerian by citizenship and holds doctorate degree in culture from a university in Poland. He is, of course, fluent in the Polish language.

Dr. Lawrence Okey Ugwu is modest in terms of appearance. He wears ‘kopiah’ in a Palembang style. I always forgot to ask him where he’d got that kopiah. When he came to see me at the Indonesian Residence (Wisma Duta), he presented me an invitation.

He befriended with Mr. Paweł Adamowicz, the Mayor of Gdansk, who is so inspirational. Paweł told me he wanted to rebuild the city’s international reputation and tourism by staging cultural festivals from different countries, including from Indonesia. And he appointed Larry as the director, a step should be envied by our mayor/governor the city of Jakarta, Bang Fauzi Bowo.

Paweł Adamowicz further said, by having international recognition Gdansk would receive investment. And it was proven! I had witnessed the fruits, I had been visiting this city where President Lech Walesa, the legendary Solidarnosc chairman opens his office, quite often.

I have another friend who lives in the city, a jazz pianist Mr Leszek Mozdzer who had staged his performance in Jakarta, brother of Ms. Jadwiga Mozdzer, the director of Sendratari Damai.

Therefore, the invitation extended by Larry would not be spared. I remember, the first time I met with him was during a cultural performance held by Ms. Jadwiga Mozdzer. That was in 2007.

Larry came to me with single purpose, after learning I was leaving Poland, by end of my term as Ambassador of the Republic of Indonesia to the Republic of Poland. Being a good friend of Indonesia, he said he would give me a chance to show my case, asking me to speak before a seminar on Islam and Democracy, on February 15, 2010, together with a prominent Polish professor of Islamic and Arabic studies and Chairman of the Khaldun Institute Professor Boguslaw R. Zagorski.

Professor Zagorski is a good friend of mine. We held lunches, dinners, breakfasts. When I invited him, he would come with the whole contingent of the family: his charming wife and beautiful daughter and handsome son!

Talking about the seminar, we divided the labor. Since I represented Indonesia as the most successful of blending Islam and Democracy, I was given the task to deliver a lecture. Professor Zagorski, a Polish expert on Islam and at one time chairman of the Polish Islamic Community was given the task in explaining my lecture in the context of the Islamic World and Polish interpretations.

In his capacity as Director of the Baltic Cultural Center, Dr. Lawrence Okey Ugwu presided over the meeting. Larry explained to me that only Ambassadors of states who witness dynamic reforms reaching out beyond the phenomena of local stature were invited. The meeting was attended by more than 80 persons, who took a lively and active interest.

Therefore, I felt privileged when I was the first Ambassador to inaugurate this series of meetings devoted to “Ambassadors and Pulse of the World,” which dealt mainly with the most essential problems and transformations going on in the contemporary world, such as: the changing role of religion or the situation of women in the society. Later, Larry said, he would invite ambassadors of Pakistan, Malaysia, and Saudi Arabia to do the same.

This first meeting was entitled Islam and Democracy and was the platform for discussions on the subject of Islam and its role in the democratic society of Indonesia. In the awareness of Poles, Islam is automatically related to conservatism and fundamentalism and whether peaceful coexistence is possible between Islam and the modern consumer world, especially in Europe.

The meeting was opened by the Cultural Center Director Dr. Lawrence Okey Ugwu and the Deputy Director of the Gdansk President’s Office Mr. Maciej Buczkowski, with a brief introduction by Professor Boguslaw Zagorwski.


Lecture

Next I delivered the main lecture, presenting in detail the compatibility of Islam with modernity, as well as the Indonesian case that Islam, democracy and modernity can go hand-in-hand.

In a nutshell, I explained that in spite of the fact that Indonesia was almost 90% a Moslem country, the other religions flourished: Protestant (5.87%), Catholic (3.05%), Hindu (1.81%) and others coexisted peacefully in this largest Moslem country in the world with a populations reaching almost 150 million.

I also dwelled on the subject of Indonesia overcoming the financial crisis of 1977 and starting from 1998 entering “the club of democracy” as the 3rd largest democracy in the world after India and the United States. Islam came to Indonesia after the Buddhist and Hindu religions from Arabia in the 16th and 17th centuries. Yet this Islam came peacefully--not by conquest--and after being assimilated it became quite different from the Islam in the Middle Eastern practice of literal interpretation, which clashes with the local Indonesian tradition of combining prayer, mysticism and aestheticism.

Islam became the prevailing religion in Indonesia, forming two of the largest Islamic organizations: Nahdatul Ulama (NU) with 40 million members and Muhamadiyah with more than 30 million. The former is more traditionalist, while the latter is modernist. However, both are committed to working within the established political system through the participation in the democratic process, as well as freedom of belief.

The rule of law, good governance, civil society roles in fostering transparency, anti-corruption drive and human rights, as well as a stable annual economic growth of 5-6% GDP have brought Indonesia into the membership of the elite the G-20 club. This rule of law has also resulted in the strong and effective fight against terrorism and terrorist acts committed in Bali and Jakarta in the past few years by apprehending the culprits and ensuring peace for the nation.

In conclusion, I stressed that contemporary Indonesia is a secular country based on the Constitution of 1945 which provides “all persons the right to worship according to their own religion or belief” and states that “the nation is based upon belief in one Supreme God.” Official status is granted equally to Islam, Catholicism, Protestantism, Buddhism, Hinduism, and other religions.

Discussion

What was most interesting and even fascinating was the fact that the discussion developed into a real forum. The audience raised their hands several simultaneously to ask questions. They mostly came well prepared as to what to ask. Here are some of the most interesting queries:

How could it be that Indonesia with almost 90% of its population being Moslems is not a country ruled by the shariah law? My answer was simple: the people voted for secular parties, rejecting any sort of radicalism or fundamentalism. This could be seen in the 2009 general parliamentary and presidential elections, in which 3 secular and nationalist parties took part.

Another question concerned the shariah bank: another simple answer: it is more profitable and providing better interest.

How could Indonesia achieve such great economic progress in this time of crisis? I explained that his country was rich in natural and human resources which it invested skillfully and wisely, developing the middle class. Now the country has profited from that.

There was also a question about women in an Islamic country: the answer was that women have equal rights in Indonesia. A woman was even the President of the country.

A question concerned the young people in Indonesia or whether they would not be indoctrinated by the fundamentalist and radical teachings. I said the law enforcement organs were now very well prepared to combat any sings of dissent. Mainstream Moslems have been a force for pragmatic nationalism and defense of pluralist democracy, which also preach religious tolerance, equal rights for women, and democracy.

And the questions continued for almost 2 hours. One of the concluding statements came from a Polish woman that despite the differences, one fact in Islam was good: “They did not drink.”

During the discussion Professor Zagorski made his exhaustive comments, chiefly regarding the Moslems in Poland, their life and peaceful customs.

To end the meeting, Professor Boguslaw Zagorski and I gave interviews to the Pomorska Television Station.

15 February 2010

Wednesday, December 29, 2010

SASKA KĘPA DAY

SASKA KĘPA (Polish pronunciation: [ˈsaska ˈkɛmpa]. There are reasons for me and my wife to be there, enjoying an annual street fair in Saska Kepa. It was in 2009.

We have been living here for around two years and half in this old beautiful residential area in Warsaw. Saska Kepa, like old residential area in Menteng Jakarta, is where the elites and artists preferred to spend their lives there.

I have been invited by the local authorities to attend this celebration every year. But this time was very special. My friend, Ambassador of Colombia told me that a world champion of Salsa from his country would stage its performances in that day. The group was in Poland in a cultural tour.

Colombia is not only known for its coffee: we were also together in Gdynia for a coffee festival. Our Embassy was also one of participants of the coffee culture. Colombia is the capital of Salsa, claimed the ambassador.

It was rainy all the day. I wanted to practice my photography I had learned from the internet. So, I packed my equipment in my backpack, wearing running shoes and a good blue jacket with the hood to protect me from frozen. The temperature was around 5 degrees, and it was windy!

Saska Kepa Day is a festival and fair held in the district of Saska Kepa--a unique place located in the south-eastern part of Poland’s capital city, Warsaw. Held for the fourth time, this festival included street parades, pop and jazz concerts, as well as other musical performances and recitals of poetry and ethno jazz. But the hit of the festival was the special guests, the Swing Latino Tigo Dance Group from Colombia, five-times winners of the World Salsa Championship, who gave a gala concert. It was written in the special newspaper published for that particular day.

People enjoyed themselves dancing tango and salsa at this year’s Saska Kepa Holiday. Of particular interest was the appearance on stage of Colombian dancers—the Swing Latino Tigo Group, who won five times the World Salsa Championships, organized by the ESPN TV station. This was the largest competition in Salsa in the world. Forty countries took part. More than 200 million people watched the transmission of the second edition of the World Salsa Championship, which was held in Las Vegas in 2006 and which was won by our guests. In May last year, Swing Latino Tigo became the champion in the third edition of the festival, which was held in Orlando, Florida. Despite the cloudy weather with sporadic downpours, the Saska Kepa Day with time gained greater tempo with more and more of guests. The next one will be in 2010.

Heart of Warsaw

The charming district managed to come through World War II pretty much unscathed, with its old houses and cafes remaining intact as they were before. A stroll through the Skaryszewski park is a certainly a pleasure, and you can round it off with a trip to some café or restaurant, renowned for their excellent classic Polish cuisine.

The area is the home of one of the most attractive residential districts in Warsaw, i.e., Saska Kepa is an exclusive villa district, characterized by its 1920s and 1930s-like construction style, recreating Polish architectural trends of those years, from historic-style cottage-like and classical buildings to extreme functionalism. Many embassies have found their seats here, including the Embassy of the Republic of Indonesia and the residence of Indonesian Ambassadors.

Thanks to its unequaled atmosphere, Saska Kępa is recognized as one of the most magnificent parts of Warsaw. In addition, it plays the role of “diplomatic” space – the numerous embassies and consulates located here add a cosmopolitan dimension, expressed not only in street names but, most of all, in restaurants, pizza parlors and cafes serving classical Polish, Italian, French, Hungarian, Turkish or Chinese cuisines.

Saska Kępa also celebrates a special holiday–once a year. In the spring, its streets are transformed into colorful promenades with concerts, theatre spectacles, film screenings and crowds of guests strolling between cafes, wine bars, conjurers and antique vendors—this is the SASKA KĘPA.

During the German occupation (1939 – 1945), Saska Kepa because of its social status was an area of intensive educational activity. Prohibited secret teaching went on in private houses and even clandestine students, especially from Warsaw University, listened to lectures. Illegal anti-Nazi leaflets were printed here.

In October 1944, the Soviet Red Army entered Saska Kepa, with Polish units who attempted to cross the Vistula to aid their brethren across the river, fighting heroically against the Germans in the 1944 Warsaw Uprising. But facing the overpowering German military might, they were forced to return to the right side of the Vistula. The Uprising took the lives of more than 300,000 Varsovians.

The Soviet Red Army, which was on the left side of the river, said at that time it needed some rest, and no help was extended to the handful of courageous fighters in their desperate fight to free Warsaw from Nazi oppressors. Between 1939 and 1944 over 84% of Warsaw, mainly on the right side of the Vistula, was completely destroyed, with the city center bearing the brunt of the damage.

The Germans methodically demolished building after building after having crushed the Uprising. In spite of the Herculean rebuilding work that has since taken place, the odd bullet scarred walls of pre-war tenement houses can still be found.

Until recently, the Jarmark Europa (Europe Market) an immense open-air market located in the former 10th Anniversary Stadium was a major tourist attraction. One of Europe’s largest bazaars, Jarmark Europa attracted visitors with its low prices and distinctive folklore. Now the market has been partially shut down and within the next few years, its former 10th Anniversary Stadium will be reconstructed into a major complex--the National Sports Center whose opening is planned on the eve of the UEFA Euro 2012 Football Championships.


Brief history of Saska Kepa

In the 17th century one of areas of present Praga Południe (an administrative district of Warsaw) was turned into a military camp. In the 18th century part of the area was named Saska Kępa (literally Saxon Rise or Islet) after the Saxon Guards of the Kings of Poland stationed there. However, until the early 20th century the area retained its rural character. The area officially became a part of Warsaw in 1916. It soon became one of fastest-growing areas of Warsaw, and Saska Kępa became its center. In 1920's and 1930's it became one of the most popular villa areas of the Warsaw's middle class.

During and after World War II the borough was not destroyed. Despite several plans, it was not industrialized either, which allowed the district to retain much of its original, quiet and peaceful character. It has historically housed many embassies and consulates of foreign nations, nestled among streets named: "French", "Parisian", "English", "Mexican", "Dutch", "Angolan", "Brazilian", "Estonian"—seat of the Indonesian Embassy, "Finish", "International", and others named after the continents, nations, and prominent cities.

Currently French Street (Francuska) is the main commercial street, lined with shops and restaurants. The "front door" to the Sasla Kepa district is George Washington Circle (Rondo Waszyngtona), which links the district to Warszawa-Śródmieście (Warsaw Center) via road, tram, and bus. On the other side of the Circle is the site of where the 10th Anniversary Stadium once stood. The site is currently undergoing redevelopment to become the Polish National Stadium for the 2012 European Football Championships.

There are now several new areas with luxurious blocks of flats complexes in the area, but the authorities do not plan to construct more houses and want the character to be preserved. Many of the older homes have been repainted and remodeled in the late '90's and early '00's to resemble the pre-WWII character of the district.

Spirit of Saska Kepa

Its spirit and soul have never succumbed to the communist regime, remaining the Saska Kepa of the old times. It is mostly populated by people who are proud to live here and would not change it for anything.

Saska Kepa area is the most prestigious district in Warsaw, with some of the most expensive housing estates and houses. It is considered an area of artists, scholars, and painters, as well as of poets. Few districts in Warsaw can boast of such great artists as Saska Kepa. Some of the most famous artists are my neighbors, like Tadeusz Baird – composer, Miron Białoszewski - poet, novelist, playwright and actor, Katarzyna Figura – actress, Józef Gosławski - sculptor and medallic artist, Witold Lutosławski – composer, Agnieszka Osiecka - poet and perhaps Poland’s most prominent Songwriter, Jan Parandowski - writer, essayist, and translator, Stanisław Sojka - jazz and pop singer/songwriter, and many other outstanding Polish generals and intellectuals.

Na Kepie

The Saska Kepa local self-government publishes a quarterly illustrated magazine, Na Kepie. The latest issue devoted its front page to the Colombian Swing Latino Tigo Gala Concert at the festival as well as to other local matters such as: the great people of Saska Kepa; the Center of Saska Kepa (if there is one); and other topics and entertainment. The last page of Na Kepie is devoted as its title satirically says to political science.

Yet besides political puzzles and riddles and rebuses, it also contains some interesting principles for the office, namely aphorisms:

Principles of Bureaucracy, number one: Don’t think! But if you did, then…, Number two: Don’t speak! But if you had spoken, then… Number three Don’t write! But if you had written, then… Number four, Don’t sign it! But if you had signed it…

Then don’t be surprised!

Another good one is: “A matter once postponed, continues to postpone itself.”

Warsaw, 26 May 2009

HUKUM, ETIKA DAN DIPLOMASI

ADAGIUM menyatakan, jika 2 lawyers berdebat muncul 3 pendapat. Di pihak lain, seribu pendapat bisa disatukan oleh diplomat. Tidak heran, ada anggapan para sarjana hukum lebih banyak membuat onar daripada membantu ketertiban. Jika kacau, maka diplomat harus turun.

Bang Buyung yang termashur sejak zaman Malari itu mengatakan sekarang institusi-institusi hukum dikuasai oleh para “Markus”, alias makelar kasus.

Akhir-akhir ini tuduhan menguat, katanya para pengacara lebih banyak menjadi ‘penghubung’ antara yang berperkara dengan law enforcement establishments. Simak saja berbagai kasus hukum yang mumet dalam beberapa tahun terakhir ini.

Ah, saya tidak mau masuk ke ranah ini, karena bidang hukum yang saya masuki bukanlah litigasi (penuntutan di pengadilan) ataupun non-litigasi (penasehat, konsultan). Tetapi, hukum dalam konteks pelaksanaan diplomasi.

Lawyers mengatakan: our business is disputes atau conflicts; diplomat mengatakan: our business is peace! Lalu, bagaimana kalau diplomat itu seorang lawyer? Dari kacau menjadi damai dan kembali menjadi kacau?

Diplomat-diplomat ulung dari seluruh dunia memang kebanyakan berpendidikan sarjana hukum. Tidak berarti bahwa seorang sarjana hukum dijamin menjadi diplomat ulung. Adam Malik yang hanya tamat Sekolah Rakyat (SR) pun tercatat seorang diplomat ulung. Beliau pernah menjadi Presiden Majelis Umum PBB!

Diplomasi sekarang menuntut spesialis-spesialis, meskipun diplomasi itu pada dasarnya generalis. Mengapa? Karena penguasaan bidang-bidang teknis sangat menentukan dalam bernegosiasi untuk memperjuangkan kepentingan nasional dalam era globalisasi.

Memang, semua kaidah, norma, konvensi, traktat, perjanjian merupakan rumusan-rumusan hukum. Wajar, jika sarjana hukum dengan mudah dapat memahaminya.

Sistem hukum dan peradilan yang fair dan kredibel juga merupakan prakondisi masuknya investasi. Karena itu, pembangunan hukum nasional perlu memasukkan tata-aturan hukum modern, terutama di bidang hukum ekonomi ke dalam sistem hukum nasional. Kepastian hukum memang menjadi kunci kepercayaan luar negeri kepada kita.

Lalu, apa kaitan etika dengan diplomasi? Titik temunya adalah di unsur manusia. Diplomat dengan tingkat profesionalisme yang tinggi tanpa didukung integritas moral dan pribadi yang kuat akan direndahkan dalam pergaulan diplomatik.

Meskipun memiliki kekebalan hukum (imunitas), diplomat diminta untuk menghormati hukum di Negara mana dia ditugaskan. Ini juga bagian dari etika diplomat.

Seorang sahabat muda, seorang mahasiswa teman anak saya di UI, ingin tahu mahluk seperti apa jika seorang lawyer bekerja di institusi diplomasi dan tentang etika diplomatik.

Dengarkan percakapan kami:

Sudah berapa lama Bapak berprofesi sebagai Diplomat?

29 tahun, sebagian besar berkecimpung dalam bidang hukum tentu dalam kaitan diplomasi.

Apa yang membuat Bapak tertarik memilih profesi hukum sebagai Diplomat?

Diplomasi erat kaitannya dengan hukum internasional, yang memuat legal basis bagi tindakan/policy suatu negara, baik dalam konteks multilateral maupun bilateral. Bentuk-bentuk/format legal basis itu dapat dilihat dari berbagai conventions, treaties, agreements.

Keberadaan perwakilan diplomatik/konsuler juga diatur dalam Vienna Conventions on diplomatic and consular relations, yang menjadi acuan dan aturan main para diplomat yang bekerja di embassies, consulates, maupun organisasi internasional.

Apa saja tantangan dan hambatan terbesar dalam selama ini menjalani profesi hukum sebagai Diplomat?

Tantangan terbesar adalah seluruh bentuk perjanjian internasional itu tidak dapat hanya dibaca semata-mata dari aspek legal. Karena, wordings maupun formatnya legal, tetapi substansinya politis. Semua kebijakan luar negeri mengenai aspek politis, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan, internasional issues, adalah suatu kesatuan dalam politik luar negeri.

Oleh karena itu, para lawyers yang bekerja pada diplomatic establishment perlu mengerti substansi politis di dalam perjanjian-perjanjian internasional itu. Baik Vienna Conventions maupun aturan main (rules of procedures) di dalam diplomasi juga dibuat dalam bentuk hukum internasional, kurang lebih seperti hukum acara.

Pertanyaan berikutnya adalah terkait dengan Etika Profesi, antara lain:

Apakah terdapat Kode Perilaku untuk Profesi Diplomat? Jika ada, otoritas apakah yang berwenang membuat dan menegakkan peraturan tentang kode perilaku tersebut?

Sepanjang pengetahuan saya, Kemlu sedang menyusun Kode Etik Diplomatik dan belum selesai. Meskipun belum ada Kode Etik (tertulis) namun para diplomat terikat dengan kode etik profesi diplomatik yang menjadi acuan bagi seluruh foreign service di dunia. Karena sifatnya mengatur etik, maka sanksinya paling tidak adalah sanksi moral.

Namun, bilamana Kode Etik Diplomatik Indonesia sudah jadi maka sanksi moral tersebut dapat diperkuat dengan sanksi administratif seperti dipecat dari organisasi profesi, dan lebih menguatkan sanksi-sanksi administratif yang dilakukan sekarang oleh pimpinan Kemlu, baik pencabutan status sebagai diplomat, dan bahkan dipecat dari status pegawai negeri.

Dengan adanya Kode Etik Diplomat maka terjembatani lah norma-norma etika profesi dengan kegiatan diplomasi itu sendiri.

Apakah yang menjadi patokan atau standard bagi diterimanya seseorang sebagai profesional dalam menggeluti profesi Diplomat? Apakah ada suatu mekanisme magang atau sejenisnya?

Mekanisme yang berlaku adalah ujian test masuk yang dilakukan terbuka, obyektif, dan fair, yakni sekaligus untuk test menjadi diplomat dan diterima menjadi pegawai negeri. Rekrumen bertujuan mencari SDM yang memiliki bakat, kemampuan, dan kecintaan pada profesi diplomat. Setiap tahun Deplu menerima lamaran sekitar 15 ribu pelamar (S1, S2, S3) dan yang hanya diterima kl. 100-150 orang.

Apakah seorang Diplomat dimungkinkan untuk melaporkan sesama Diplomat lainnya dalam lingkup profesinya dalam hal terjadi pelanggaran kode perilaku? Atau apakah terdapat mekanisme lain terkait pengawasan horisontal terhadap sesama Diplomat untuk memastikan bahwa kode perilaku telah dilaksanakan dengan baik?

Pelanggaran etika dapat dilaporkan oleh diplomat lainnya, atau oleh atasan Ybs. Mekanisme pemantauan secara menyeluruh dan pengawasan pribadi orang per orang oleh pimpinan memang tidak memungkinkan. Namun, jika ada pengaduan atau pelaporan atas tindakan seorang diplomat dinilai tidak pantas, atau menimbulkan kerugian bagi orang lain, biasanya disampaikan dalam pengaduan. Dan mekanisme pengawasan internal akan bekerja.

Dalam hal apa saja yang dapat dikategorisasi sebagai pelanggaran terhadap kode perilaku?

Dapat disebut, membocorkan rahasia negara, melakukan hal-hal pelanggaran dalam prosedur kerja, tidak menggunakan kata-kata yang proper dalam pelaksanaan tugas, menghina negara lain, tidak membela kehormatan dan harga diri bangsa, tidak menyelesaikan hutang-piutang, pelanggaran susila, kekerasan, mabuk, berjudi, berperilaku tidak pantas selalu menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Sanksi apa yang dapat dijatuhkan dalam terjadi pelanggaran terhadap kode perilaku?

Jika menyangkut pelanggaran etika sopan santun dan kepantasan bertindak paling tidak sanksinya adalah moral. Hal-hal yang menyangkut kerugian Negara, seperti pembocoran rahasia atau korupsi maka mekanisme andministrasi Negara akan bekerja, seperti pencabutan status sebagai diplomat, dan bahkan dipecat dari status pegawai negeri. Bila Kode Etik Diplomat sudah diundangkan, maka pelanggaran berat (ketidakpantasan) dapat berdampak pemecatan oleh organisasi profesi.

Apakah terdapat asosiasi atau persatuan profesional terkait dengan profesi hukum tersebut?


Di Indonesia belum terbentuk organisasi profesi Diplomat. Namun sebagai pegawai negeri, maka para diplomat juga anggota Korpri.

Sejauhmana peran asosiasi terhadap penegakan kode perilaku tersebut?

Korpri adalah organisasi pegawai di Deplu dan Perwakilan. Tidak semua anggota Korpri adalah diplomat. Oleh karena itu, tetap penting adanya organisasi profesi khusus untuk diplomat. Sejauh ini Korpri belum berperan untuk penegakan etika sesuai kode etik profesi.

Dan yang terakhir adalah pertanyaan mengenai Tanggung Jawab Profesi terkait dengan pelaksanaan Tugas sebagai seorang Profesional, antara lain:

Bagaimana pengaturan secara internal terkait dengan benturan kepentingan?

Conflict of interests juga pelanggaran kaidah (norms). Bagi suami dan isteri yang sama-sama berprofesi diplomat, maka penugasan mereka tidak di tempat yang sama, atau unit yang berbeda. Jika di luar negeri, maka ditempatkan pada Perwakilan RI yang berdekatan, misalnya jika suami di KBRI Washington, maka isterinya di KJRI New York. Bila suami di Jenewa (Swiss), maka isterinya di ibukota Swiss di Bern.

Di KBRI, kepala perwakilan dilarang mengangkat pegawai lokal dari keluarga langsung, atau melakukan kegiatan usaha yang bersifat komersial.

Dalam hal seorang Diplomat mendapati adanya benturan kepentingan, sikap apa yang seharusnya diambil oleh seorang profesional dalam menghadapi benturan kepentingan tersebut? Sejauhmana pengaturannya dalam kode perilaku?

Sebagai seorang professional, maka diplomat itu harus membedakan dengan tegas kepentingan Negara (misalnya dalam diplomasi dagang) dengan kepentingan perusahaannya pribadi. Karena belum diatur dalam kompilasi Kode Etik, maka berlaku acuan umum saja, yang dengan mudah bisa dikualifikasi pantas tidaknya perbuatan itu dilakukan.

Bagaimana peran lembaga pengawasan internal atau eksternal terhadap hal yang terkait dengan benturan kepentingan ini?

Ada mekanisme teguran lisan, tertulis, pemanggilan, dan penindakan, sesuai dengan tata aturan sebagai pegawai negeri, berdasarkan UU Kepegawaian. Jika pelanggaran serius maka akan ditindaklanjuti oleh Irjen dan bahkan institusi eksternal seperti KPK atau Kepolisian.

Bagaimana pengaturan pola hubungan antara Diplomat dengan Pihak III, dalam kaitannya pelaksanaan tugas seorang Diplomat?

Tergantung pada bentuk perikatan, misalnya diplomat menyewa rumah kepada seseorang warganegara biasa, maka berlaku ketentuan umum. Hal-hal yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain harus ditanggungjawabi sendiri.

Bagaimana tanggung jawab Hukum seorang Diplomat dalam pelaksanaan tugas Diplomasinya?

Yang berlaku sekarang adalah UU tentang Kepegawaian terutama disiplin. Jika terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi, bahkan terberat adalah pemecatan sebagai pegawai negeri. Jika kesalahan tidak berat, biasanya diplomat dihukum dengan penurunan pangkat diplomatik, atau tidak mendapat promosi kenaikan untuk sekian tahun, tidak ditempatkan untuk sementara, dalam beberapa tahun di luar negeri, dsb. Seorang diplomat, sama seperti pegawai negeri lain, tetap akuntabel terhadap semua perbuatan dalam pelaksanaan tugasnya.

Jakarta, 1 Oktober 2010

Tuesday, December 28, 2010

LECH WALESA: SAYA AKAN DATANG LAGI KE NEGERI INDAH INI



“WITAM Panaie Prezesie!”, ujar saya sambil mengulurkan tangan kepada Presiden Lech Walesa yang legendaris itu di Ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta malam itu, 21 April 2010.

Itu pertemuan pertama kami di Indonesia. Sayangnya malam itu dia akan kembali ke Polandia setelah menyelesaikan kunjungan terlama yang pernah dilakukannya di suatu Negara.

Di ruang VIP itu, ada Dubes Polandia untuk Indonesia, Pak Tomasz Lukaszuk yang fasih berbahasa Indonesia dan sangat popular di Jakarta, dan isterinya, Maria. Lech Walesa didampingi penerjemahnya dan Rudy Pesik, pemilik DHL, yang juga menjadi ketua Yayasan Indonesia Kebanggaanku, sponsor utama kunjungan tokoh Solidarnosc itu di Indonesia.

“Terima kasih Bapak Pohan, berkat undangan Anda maka Presiden Lech Walesa telah merealisasikan kunjungannya ke Indonesia”, ujar Dubes Tomasz Lukaszuk kepada saya.

Seperti pernah diberitakan di media-media tanah air, pada bulan Nopember 2008 saya menyampaikan undangan kepada tokoh Solidarnosc itu, dalam pertemuan kami di Gdansk di musim gugur. Ketika itu, saya datang dengan isteri, Ade Pohan, di kantor LW Institute.

Malam itu, Presiden Lech Walesa telah menyelesaikan kunjungan selama 13 hari, mulai 8 Mei 2010 yang tercatat terlama di satu Negara. Saya secara khusus meminta waktu untuk bertemu dengan Ikon Demokrasi dunia itu sebelum meninggalkan Indonesia kembali ke Gdansk, Polandia.

Saya datang dengan 2 anak saya, Aleksandra dan Edwin. Saya anggap pertemuan kedua anak saya dengan mantan pemimpin Serikat Buruh Bebas “Solidarnosc” penting bagi pengalaman anak-anak.

Kesempatan untuk bertemu dengan tokoh sekaliber Lech Walesa bukanlah mudah. Bahkan, banyak teman-teman dekat saya di Polandia yang belum pernah bertemu dengan beliau.

Selama di Indonesia Lech Walesa mengadakan pertemuan pribadi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua DPR Marzuki Alie, Sultan Hamengkubuwono X, berbagai tokoh lintas agama, dan menyampaikan kuliah di Istana Negara, serta berbagai universitas di Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Walesa juga menandatangani MoU dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar.

Apa catatan yang paling berkesan selama di Indonesia?, tanya saya. Malah beliau bertanya kepada saya, bagaimana kesan tokoh-tokoh di Indonesia atas ceramah beliau di Istana Negara.

Dia mengulangi statement-nya di Istana Negara, ini adalah untuk pertama kali bagi dia menyampaikan kuliah di depan presiden, wakil presiden dan sebagian besar menteri di pemerintahan. Tentu saja, Ikon Demokrasi itu selalu tampil mengesankan dan dengan senang melayani permintaan foto bersama. Dia juga menjadi selebriti di Eropa.

Pertemuan Pertama

PERTAMA kali kami bertemu dalam suatu Gala Dinner yang dihadiri politisi puncak dan selebriti Polandia, ketika tokoh penggerak revolusi Eropa Timur yang menghabisi komunisme itu berulangtahun. Itu di tahun 2008. Saya hadir bersama isteri, Ade Pohan.

Teman saya seorang dubes dari Amerika Latin sempat mengabadikan pertemuan pertama kami itu dengan kamera handphone.

Jaroslaw Walesa, putera Lech Walesa yang kini menjadi anggota Parlemen turut mendampingi ayahnya. Kami sempat bertukar kartu-nama. Lalu, melalui penerjemah saya mengatakan ingin mengunjungi Bapak Walesa di Gdansk.

“Oh, Anda dari Indonesia ya. Silahkan diatur waktunya, nanti kita berbincang-bincang di kota kebanggaan saya itu”, ujarnya ramah. Dia juga menawarkan sepotong kue kepada saya dan isteri, setelah kue ulang tahun yang besar itu dipotongnya.

Undangan ke Indonesia

BAGI saya adalah suatu keanehan jika tokoh dunia penggerak demokrasi itu belum berkunjung ke Indonesia. Maklum, Indonesia kini dikenal sebagai Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dan menjadi contoh bagaimana toleransi antar keyakinan berjalan baik. Lalu, saya meminta beliau untuk mempertimbangkan kunjungan ke Indonesia. Undangan itu disambut baik oleh beliau.

"Saya ingin berdialog dengan para tokoh-tokoh di Indonesia dan memperoleh perspektif dan pengalaman mereka dalam menyikapi berbagai tantangan globalisasi," kata Walesa.
Penerima Nobel Perdamaian 1983 yang menjadi ikon demokrasi dan berjasa dalam mengubah wajah dunia di awal 1990-an memang belum pernah berkunjung ke Indonesia.

Saya segera menghubungi teman-teman di Indonesia untuk mempersiapkan kunjungan itu. Saya yakin kunjungan tersebut sangat bermanfaat bagi beliau sebagai tokoh dunia penganjur demokrasi dan toleransi. Dan tentu bagi rakyat Indonesia sendiri.

Sejak menyelesaikan tugasnya sebagai presiden pada tahun 1995, melalui yayasannya Lech Walesa lebih banyak memfokuskan dirinya pada kegiatan-kegiatan internasional dan menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional dalam memajukan demokrasi dan dialog antar-agama.

Walesa juga terpilih menjadi anggota "Reflection Group", yang kini disebut sebagai Group of Wise Men, yang digagas oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy pada akhir 2007 untuk mempersiapkan Eropa dalam menghadapi tantangan globalisasi. Berbagai pemikir dan negarawan seperti mantan PM Spanyol Felipe Gonzalez menjadi anggota kelompok ini.

Lech Walesa pada Oktober 2008 yang lalu baru saja meluncurkan otobiografi mengenai peranannya di masa lalu "Jalan Menuju Kebenaran" (The Road to Truth). Saya masih menyimpan copy buku yang telah ditandatanganinya sendiri pada saat kunjungan saya ke Gdansk.

"Dalam Group of Wise Men, cuma saya seorang diri yang percaya bahwa agama memiliki sistem nilai yang valid dan tepat untuk pemecahan berbagai masalah global. Kegagalan manusia untuk menempatkan berbagai masalah global dalam perspektif agama di tengah maraknya globalisasi pada gilirannya akan menjadi ancaman keamanan dan perdamaian dunia", ujarnya.

Menurut Lech Walesa, demokratisasi yang kian marak belumlah memberikan jawaban bagi tantangan globalisasi. Tatanan dunia sekarang masih jauh dari sempurna, karena kini manusia menghadapi fenomena yang sangat kompleks, tali-temali satu dengan lainnya, seperti resesi ekonomi dunia, terorisme, perubahan iklim dan konflik di berbagai wilayah.

Masalah-masalah ini menurut tokoh yang berjasa dalam mengakhiri Perang Dingin dan memajukan demokratisasi itu merupakan ancaman utama yang dihadapi umat manusia dewasa ini. Dia juga melihat pentingnya reformasi PBB agar mencerminkan realitas dan tanggungjawab internasionalnya.

Arti Agama

LECH WALESA percaya nilai-nilai agama menjadi terpenting di samping demokrasi, dan dunia tidak dapat berlangsung tanpa nilai-nilai agama. Walesa sendiri merupakan penganut Katolik yang taat, memiliki 8 anak, salah satunya Jaroslaw Walesa yang kini telah menjadi sahabat saya.

Dia melihat Indonesia sebagai negara dengan penganut Muslim terbesar di dunia merupakan contoh negara yang berhasil memadukan ketaatan terhadap agama dengan kerangka kehidupan politik yang demokratis.

"Saya ingin berdialog dengan para tokoh-tokoh di Indonesia dan memperoleh perspektif mereka dalam menyikapi berbagai tantangan globalisasi. Pengalaman Indonesia dalam menghadirkan harmoni pada dua aliran nilai, yakni agama (akhirat) dan demokrasi (politik) tentunya sangat bermanfaat bagi saya dalam memajukan dialog untuk pemecahan masalah-masalah global dalam kerangka pertemuan Wisemen 12 ", katanya.

Saya pertama kali menyampaikan salam dari rakyat Indonesia yang tidak pernah lupa peranan heroik Lech Walesa dalam mengakhiri rejim totaliter komunis di Eropa.

Indonesia, kata saya, telah menjalani proses transformasinya dan menjadi negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia dengan penduduk sejumlah 240 juta yang pada saat bersamaan menjadi negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia berambisi menjadi contoh di mana demokrasi, Islam dan modernitas dapat berjalan seiring.

Indonesia juga ingin menjadi Negara inkusif yang sangat menjunjung tinggi keberagaman. Untuk itu, Indonesia akhir-akhir ini berperan aktif dalam mendorong kemajuan dialog antar-peradaban, antar-keyakinan (interfaith) baik dalam kerangka PBB maupun berbagai konferensi internasional lainnya.

Perjalanan ke Indonesia

SETELAH mengalami penundaan beberapa kali, akhirnya Presiden Lech Walesa dapat memenuhi janjinya untuk berkunjung ke Indonesia. Perjalanan itu dirangkai untuk 4 negara, yakni Singapura, Australia, Indonesia dan Timor Leste.

Selama di Indonesia Lech Walesa mengadakan pertemuan pribadi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua DPR Marzuki Alie, Sultan Hamengkubuwono X, berbagai tokoh lintas agama, dan menyampaikan kuliah di Istana Negara, di universitas-universitas Atmajaya, Paramadina, Gajah Mada dan Udayana. Kepada para mahasiswa Walesa menyampaikan pentingnya gerakan solidaritas dalam mempersatukan masyarakat demi perubahan.

Walesa yang kini memimpin Institut Lech Walesa, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar. Institut Lech Walesa telah menjalin kerja sama serupa dengan berbagai organisasi di Eropa dan Amerika Serikat dalam upaya untuk mendorong demokrasi.

Apa catatan yang paling berkesan selama di Indonesia?, tanya saya. Malah beliau bertanya kepada saya, bagaimana kesan tokoh-tokoh di Indonesia atas ceramah beliau di Istana Negara.

Beliau tampaknya sehat sekali, meskipun panitia sempat cemas pada waktu berada di Candi Borobudur karena Walesa tidak saja menderita diabetes tetapi juga memakai alat-pacu jantung. Ada 2 kali beliau mengalami operasi jantung, sehingga beberapa kali saya gagal mengatur pertemuan beliau dengan para tokoh dan jurnalis Indonesia yang sedang berkunjung ke Polandia.

Dubes Tomasz Lukaszuk yang sangat fasih berbahasa Indonesia menjelaskan kepada wartawan dalam konperensi pers (21/5) bahwa kunjungan Lech Walesa menjadi isyarat bagi perhatian Polandia terhadap Indonesia sebagai Negara terbesar di kawasan Asia Tenggara. Hubungan dan kerja sama kedua negara meningkat dan bertambah erat tahun demi tahun sejak pengaktifan kembali kerjasama bilateral setelah Indonesia menyelesaikan masa transisinya setelah reformasi.

"Kunjungan Walesa ke Indonesia merupakan kebanggaan bagi kami karena bisa memperkenalkan beliau secara langsung kepada rakyat Indonesia seorang tokoh yang sudah menjadi ikon dan pahlawan Polandia."

Walesa tidak saja akan membicarakan isu-isu global dengan para pejabat tinggi Indonesia yang ditemuinya tetapi juga merintis kerja sama di bidang industri perkapalan yang potensial.

"Lech Walesa memiliki pengetahuan dan pengalaman luas mengenai seluk-beluk industri perkapalan ketika ia masih bekerja di galangan kapal Gdansk dan memimpin organisasi buruh Solidaritas di sana," tambah Tomasz. Lelch Walesa sebelum terkenal di dunia adalah tokoh buruh dari galangan kapal di Gdansk.

Penerima Nobel

LECH WALESA memperoleh nominasi untuk Nobel Perdamaian pada tahun 1983 saat Polandia masih dikuasai rezim komunis yang bersekutu dengan Uni Soviet. Karena mengalami tahanan rumah, Lech Walesa tidak dapat hadir sendiri di Oslo, dan diwakili isterinya, Danuta.

Berbagai demonstrasi buruh pabrik kapal di Gdansk akhirnya memaksa Presiden Polandia Jenderal Jaruzelski untuk menandatangani perjanjian yang mengizinkan kegiatan serikat buruh independen dan menghentikan tindakan pengekangan maupun tekanan-tekanan terhadap anggota oposisi pro-demokrasi pada 31 Agustus 1980.

Pada saat berada di Yogyakarta, Lech Walesa, menyatakan mengagumi persatuan bangsa Indonesia. Berisi ratusan etnis, beragam budaya, dan agama, Indonesia ternyata mampu bersatu untuk waktu lama.

”Perbedaan di Indonesia jauh lebih rumit daripada di Eropa. Namun, persatuan bisa terjalin begitu lama. Saya ingin belajar soal persatuan bangsa Indonesia,” tuturnya pada seminar bertema ”Kontribusi Pluralisme dalam Demokrasi” di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Selama kunjungannya di Indonesia, mantan Presiden Polandia itu mendorong tumbuhnya solidaritas dan kesetaraan untuk mewujudkan perdamaian serta demokrasi di negara yang plural. Kesadaran kesetaraan dan solidaritas antarwarga merupakan landasan terpenting mempersatukan bangsa yang terdiri atas beragam suku dan agama dalam sistem demokrasi.

”Tanpa solidaritas dan kesadaran kesetaraan, demokrasi yang damai dan sehat akan sulit terwujud di sebuah negara yang plural,” tuturnya. Dia mengatakan, saat ini persatuan antarbangsa semakin penting karena tantangan dunia semakin berat di masa mendatang.

Dikenal sebagai pemimpin gerakan buruh independen "Solidaritas" selama dekade 1980-an, Walesa gigih memperjuangkan demokrasi di negaranya. Peraih Nobel Perdamaian 1983 itu juga berperan membawa Polandia berubah dari rezim sosialis-otoriter menjadi negara demokratik semasa dipercaya menjadi presiden periode 1990-1995.

Walesa juga berkontribusi meruntuhkan dominasi Uni Soviet di Eropa Timur di akhir dekade 80-an.

"Lech Walesa adalah seorang tokoh perubahan yang tak kenal lelah. Meski tidak lagi di pemerintahan, dia tetap konsisten mempromosikan dan mendukung perkembangan demokrasi melalui yayasan yang dipimpinnya," kata Rudy Pesik, Presiden PT Indonesia Kebanggaanku, yang dipercaya sebagai koordinator kunjungan Walesa.

Pesik mengungkapkan bahwa kunjungan tidak resmi ini merupakan lawatan pertama bagi Walesa ke Indonesia. Dia akan menyambangi Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

Di usianya yang ke-66 tahun, Lech Walesa masih bersemangat menyampaikan nilai-nilai solidaritas dan demokrasi kepada anak-anak muda, yang mungkin baru seusia dengan cucunya.

Dalam turnya ke Indonesia, mantan presiden Polandia yang terkenal sebagai pendobrak rezim otoriter di negaranya selama dekade 1980-an itu ingin menunjukkan bahwa perjuangan menegakkan demokrasi tidak mengenal usia dan kedudukan. Pun tidak harus menjadi politisi dalam berjuang mewujudkan demokrasi.

“Saat saya masih seusia kalian, saya tidak pernah tergoda untuk menjadi politisi. Pekerjaan politisi itu membosankan dan buang waktu, tapi saya tidak mengira akan menjadi politisi," kata Walesa kepada para mahasiswa.

"Itulah kenapa saya akan berusaha keras agar (kuliah umum) ini tidak membosankan bagi kalian. Saya tidak ingin menceritakan kisah hidup saya karena itu sama saja kalian mendengarkan kisah hidup kakek-nenek kalian,” katanya disambut tawa hadirin.

Kuliah Walesa tidak membosankan. Diselingi guyonan-guyonan segar, Walesa mengajak generasi muda untuk tepat dan cermat dalam membaca tantangan dan peluang hidup.

“Saya ingin politisi-politisi kalian bisa menunjukkan pada kalian masa depan Indonesia dan masa depan dunia, sehingga kalian bisa melihat peluang-peluang baik bagi diri kalian sendiri,” katanya dalam bahasa Polandia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah.

Mengenai demokrasi di Indonesia, Walesa mengaku belum tahu banyak. “Saya belum melihat Indonesia secara utuh karena selama saya di sini, saya terlalu sering menghabiskan waktu terjebak di tengah kemacetan lalu lintas,” katanya bergurau sambil menambahkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah mengalami kemajuan sangat baik.

Tokoh yang mengaku tidak takut pada siapapun kecuali pada Tuhan ini yakin bahwa banyak orang hebat yang tidak bisa meraih banyak hal karena tidak memiliki kesempatan.

“Bagaimana mungkin demokrasi tidak bisa membawa orang ke posisi yang lebih baik? Bagaimana bisa demokrasi menempatkan orang-orang tidak bertalenta ke jabatan tinggi? Ini tantangan bagi kalian, para generasi muda, untuk dihadapi,” kata Walesa.

Untuk mengatasi tantangan, kata Walesa, yang dibutuhkan adalah solidaritas, solidaritas dalam negara, benua, dan solidaritas global. “Tahu apa arti kata solidaritas? Solidaritas adalah jika kalian punya beban besar, kalian meminta seseorang untuk membantu mengangkat beban itu,” terangnya.

Duta Besar Republik Polandia untuk Indonesia Tomasz Lukaszuk mengatakan Yogyakarta dijadikan salah satu tujuan kunjungan Lech Walesa karena kota ini merupakan salah satu kota penting di Indonesia.

“Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan, pendidikan, sejarah, kerajinan, dan memiliki keraton. Yogyakarta juga memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Menurut dia, setiap tahun ada mahasiswa Polandia yang menempuh pendidikan di Yogyakarta sebagai realisasi kerja sama di bidang pertukaran mahasiswa.

Pada saat sekarang terdapat 53 mahasiswa Polandia yang menempuh pendidikan di Indonesia, lima di antaranya kuliah di Yogyakarta. Mereka menerima beasiswa dari Pemerintah Indonesia dalam program Darmasiswa untuk mempelajari bahasa, sejarah, dan budaya Indonesia. Polandia menjadi Negara terbanyak kedua penerima beasiswa ini untuk tahun 2010 yakni sebanyak 57 orang, setelah Thailand.

Tari Asmorodono dan beberapa tari tradisional lainnya ditampilkan di hadapan tamu negara dari Republik Polandia ini.

Lech Walesa di Yogyakarta menilai masyarakat Eropa dapat belajar dari Indonesia dalam menyatukan keberagaman dan perbedaan.

“Saya kira kita (Eropa) justru harus belajar dari Indonesia mengenai cara membawa seluruh perbedaan itu menjadi satu,” kata Walesa saat memberikan “presidential lecture” di Istana Negara, Rabu.

Dia mengagumi fakta bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak pulau dan budaya namun mampu menjaga persatuan dan kesatuannya selama ini.

Sementara itu, lanjut dia, Eropa adalah sebuah benua yang terdiri dari berbagai macam negara yang pernah saling berhadapan sebagai musuh di masa lalu namun kini sedang mencoba menghilangkan sekat-sekat perbedaannya.

“Di Eropa kita melihat dunia baru dengan hilangnya batas-batas. Kita sama satu sama lain, tidak ada yang lebih dari yang lain. Tetapi ini baru mulai, memerlukan proses,” katanya.

Walesa yang melakukan lawatan 13 hari ke Indonesia (termasuk 2 hari di Timor Leste) menyampaikan presentasi pada acara “presidential lecture” dengan tema “Lessons from Democratic Changes in Poland and Eastern Europe and Their Implication for the New World of 21 Century”.

Di antara lawatannya di Jakarta, Yogyakarta dan Bali, Walesa yang kini memimpin Institut Lech Walesa, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar.

Institut Lech Walesa telah menjalin kerja sama serupa dengan berbagai organisasi di Eropa dan Amerika Serikat dalam upaya untuk mendorong demokrasi.

Pemerintah Polandia menandatangani satu perjanjian yang antara lain mengizinkan kegiatan serikat buruh independen dan menghentikan tindakan pengekangan maupun tekanan-tekanan terhadap anggota oposisi pro-demokrasi pada 31 Agustus 1980.

Menurutnya, Walesa berpendapat pluralisme Indonesia menjadi pelajaran berharga bagi penyatuan Eropa, karena Eropa terdiri atas beberapa negara dengan budaya, etnis, dan agama yang juga beragam.

“Saya kagum, bagaimana keberagaman budaya, etnis, dan agama di Indonesia dapat menyatu, tanpa ada unsur kekerasan. Hal itu yang dapat dijadikan pelajaran bagi penyatuan Eropa,” katanya.

Ia mengatakan, kedatangan Walesa di Indonesia menjadi promosi ke Eropa mengenai pluralisme yang berjalan baik di negeri ini. Keberagaman budaya, etnis, dan agama di Indonesia dapat menyatu dengan damai.

“Walesa diharapkan dapat menyampaikan apa yang telah dilihat di Indonesia khususnya tentang pluralisme kepada negara-negara di Eropa. Dengan demikian, pandangan negara-negara di Eropa terhadap Indonesia dapat lebih baik,” katanya.

Akan Datang Lagi

MENGINGAT waktu keberangkatan telah tiba, dia pamit. Tetapi dia menjanjikan akan datang lagi ke Indonesia, pada pertengahan 2010 atau di tahun 2011.

Matanya menerawang, membayangkan akan datang lagi ke Indonesia. Dia ingin datang ke Indonesia untuk menikmati negeri indah ini. Setelah 13 hari di Indonesia menurutnya belum memberikan gambaran untuk mengenal Indonesia lebih mendalam.

Saya bercanda, untuk memahami Indonesia lebih baik maka beliau harus tinggal lebih lama di Indonesia. “Anda baru mengunjungi 2 pulau kami, dari keseluruhan sekitar 17 ribu”, ujar saya.

Bapak Walesa tertawa terbahak-bahak, dan kemudian bergegas menuju mobil yang akan mengantarkannya ke pesawat komersial di malam hari itu.

Sampai jumpa lagi, Mr. President. Do widzenia!

Jakarta, 21 Mei 2010

Monday, December 27, 2010

SANG MERAH PUTIH

KISAH bendera negara kita, Sang Saka Merah Putih tidak habis-habisnya di Polandia. Sopir saya sering ditegur orang-orang di jalanan, bilang bendera kita terbalik. Seharusnya ‘putih- merah, kata mereka.

Putih Merah adalah bendera negara Polandia yang sudah berusia ratusan tahun. Dwi warna “Merah Putih” atau “Putih Merah” memang juga dikenal di negara lain. Monaco, contohnya juga berbendera Merah Putih. Cuma, negara ini kecil dan tidak memiliki representasi meluas seperti Indonesia atau Polandia.

Konon, Monaco yang merasa lebih dulu menggunakan ‘merah-putih’ warna benderanya daripada kita, pernah mengusulkan agar tidak saru supaya bendera kita ditambahi gambar hewan. Terserah mau hewan apa, karena kita punya ribuan jenis!

Tentu saja, usul ngawur ini ditolak. Kita tidak tersinggung, cuma tidak dapat menerima karena tidak ada rujukan di masa lalu.

Kembali ke cerita di Warsawa. Pada awal tugas di Polandia di tahun 2006 saya, sering orang-orang tua ngomong dalam bahasa mereka sambil menunjuk ke arah bendera di mobil dinas saya. Awalnya saya hanya manggut-manggut saja. Lama-lama kesal juga.
Eksotis? Mungkin, banyak yang mengabadikan mobil berbendera ini dengan kamera HP mereka.

Atau, kalau mereka sekadar ingin berfoto di dekat mobil Mercy seri 350 S terbaru (kita yang pertama memiliki mobil ini di Warsawa) atau karena tertarik dengan bendera Republik Indonesia silahkanlah. Pengalaman ini sering saya alami, ketika corps diplomatic dari seluruh negara yang diakreditasi ke Polandia menghadiri acara-acara kenegaraan. Semua mobil berbendera. Anggun.

Di Wisma Duta, tempat kediaman resmi Duta Besar R.I. yang terletak di Ul. Wachocka 9, atau di kantor KBRI yang terletak di Ulica Estonska –keduanya berlokasi di Saska Kepa yang kawasan residensial elit di Warsawa—bendera negara juga terpasang. Ada saja warga Polandia dan sering orang tua yang mengetuk pintu dan mengingatkan bendera salah pasang.

Kesabaran ada batasnya. Saya juga tidak nyaman jika Sang Saka Merah Putih yang berkibar di mobil dinas atau di kediaman resmi R.I. di Republik Polandia, terkesan diolok-olok.

“Bung, jika saya penuhi permintaan Anda maka saya akan menjadi Presiden Republik Polandia”

“Anda tahu ini bukan kediaman resmi Presiden Polandia, atau Anda mungkin senang atau bisa menerima saya sebagai presiden Anda, tetapi besok saya akan di persona-non-grata oleh Pemerintah Anda. Saya akan dituduh melakukan makar, coup d’etat!”, kata saya dibarengi senyum kemenangan.

Diplomatic Incident

Pernah juga terjadi insiden, pada saat saya menyertai kunjungan Presiden RI ke Polandia di tahun 2003. Akibatnya Kepala Protokol Negara (KPN) Polandia dipecat oleh Presiden Republik Polandia. Apa pasal?

Sang KPN tidak mengecek, karena terburu-buru memasang bendera terbalik sehingga mobil Presiden Polandia menaiki mobil yang berbendera Indonesia: Merah Putih. Untung, pihak delegasi Indonesia tidak sempat memerhatikan kesalahan ini. Jadi ada 2 mobil berbendera RI!

Jika terlihat, bisa terjadi terjadi insiden diplomatik. Serius! Cerita ini saya peroleh dari staf protokol negara, ketika saya menetap di Warsawa.

Dalam kasus mobil dinas saya, tentu bukanlah insiden diplomatik jika saya harus bertengkar tiap hari dengan penduduk Warsawa. Nggak lucu.

Saya cuma, kurang nyaman dengan sorotan mata orang seolah-olah saya bego, atau tidak tahu aturan. Karena itu, saya mengambil jalan ke luar. Setiap menghadiri acara resmi saya menganjurkan sopir untuk tidak terlebih dahulu memasang bendera kita.

“Nanti jika sudah dekat, baru pasang itu bendera!”

Ini yang menjadi rule. Ya untuk menghindari ketidaknyamanan ataupun kemungkinan pertengkaran di jalanan.

Dalam Perundingan

DALAM perundingan resmi, kami para diplomat Indonesia dan Polandia sudah saling mengenal dan memahami. Sering, sebelum perundingan dimulai kami berbagi cerita soal bendera ini.

Memang terjadi kebingungan apabila bendera kedua negara kita dipasang vertikal, dari atas ke bawah. Biasanya, para diplomat bingung: siapa duduk di mana? Atau yang sebelah kiri (atau kanan) bendera siapa?

Tetapi diplomat mempunyai acuan protokol. Kalau kita menjadi tamu, maka kita akan duduk di sebelah kanan yang dipandang dihormati. Ini kalau duduk berdampingan di head table. Kalau berhadap-hadapan? Gampang. Tuan-rumah akan menghadap ke pintu masuk, tamu akan menghadap ke jendela atau tembok yang sering berhiasan indah. Ini juga untuk menghormati tamu.

Atau, gunakan acuan pemasangan bendera. Bagian atas yang diikat dengan tali menggambarkan fungsi seperti ‘tiang bendera’. Gampang.

Diplomat Polandia berbagai cerita. Pada suatu hari mereka mengadakan perundingan dengan negara-negara kecil di Pacific, tetapi bendera Polandia ditaruh di koper yang ketelingsut.

Solusinya, kata teman saya itu, mereka pergi ke toko bendera dan mencari BENDERA INDONESIA. Dan memang ada dijual, karena Indonesia dikenal baik di negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Pengalaman saya di Polandia tidak terjadi bagi Dubes Tomasz Lukaszuk pada waktu beliau bertugas di Indonesia. Paling tidak, dia tidak pernah bercerita kepada saya bahwa dia mengalami hal-hal yang lucu di Indonesia.

Siapa Yang Lebih Duluan?

INI sering menjadi debat mengisi waktu, antara pejabat kedua negara. Tentu saling mengklaim “kami lebih dahulu!”.

Untung saya riset. Bendera Merah Putih telah dikenal sejak abad ke-13 di Nusantara, pada era Kerajaan Majapahit. Jadi, secara historis telah berlangsung sekitar 800 tahun!

Bendera negara pada zaman Republik resminya diperkenalkan pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Tidak ada tercatat perdebatan tentang bendera negara di sidang-sidang BPUPKI di Gedung Pancasila di jalan Pejambon itu. Merah Putih telah menjadi simbol nasionalisme melawan penjajah Belanda.

Bila diurut ke belakang, Sang Saka Merah Putih untuk pertama kali dikibarkan dalam sejarah modern bangsa Indonesia pada tahun 1928, yakni Hari Soempah Pemoeda. Pemerintah Kolonial tentu melarang pengibaran bendera ini.

Pendapat Lain

ADA juga yang mengatakan bendera kita sebenarnya berasal dari bendera Belanda: Merah Putih dan Biru. Para pemuda pejuang kemerdekaan sering merobek warna biru, sehingga tinggal Merah dan Putih. Karena Indonesia adalah Republik –bukan kerajaan—maka warna “biru” ditafsirkan sebagai “darah biru” aristokrasi. Tidak cocok dengan jiwa Proklamasi.

Bagaimana dengan sejarah bendera Polandia? Ternyata bendera mereka lebih muda. Belum 200 tahun!

Polandia pertama kali menggunakan bendera Putih – Merah sebagai bendera negara pada tahun 1831. Bendera ini berasal dari warna yang mengisi simbol negara Persemakmuran Polandia – Lithuania. Polandia menyumbang warna ‘putih’ (warna elang putih), sedangkan Lithuania menyumbang ‘merah’, warna tameng yang mengendarai kuda putih.

Sejak saat itu, para perajurit menggunakan kedua warna, dan adakalanya ‘terbalik’ sehingga menjadi ‘merah-putih’ warna bendera Indonesia. Ini saya temui di salah satu museum panorama (diorama) di Poznan, pada lukisan-lukisan yang menggambarkan dalam pertempuran di berbagai tempat bersejarah di Polandia.

Teman Polandia saya menjelaskan: “Panorama di Museum Raclawice itu menggambarkan pertempuran pasukan Jenderal Kościuszko melawan divisi-divisi Rusia, dengan bendera resimen berwarna ‘merah-putih’, tetapi dihiasi dengan gambar ‘elang putih’.

Bendera Polandia secara resmi yang dipasang di kediaman dubesnya di Jakarta, seperti di Istana Negara di kota Warsawa, menggunakan bendera yang dilengkapi dengan gambar burung elang putih. Ini juga historis, bukan agar tampil beda dengan bendera Indonesia. Kalau di mobil tetap 'putih-merah'.

Barulah, sejak tahun 1919 secara resmi bendera nasional Polandia (seperti dalam bentuk dan warna sekarang) digunakan. Dan, sejak tahun 2004, Polandia merayakan Hari Bendera pada tanggal 2 Mei.

Jakarta, 28 Desember 2010

Sunday, December 26, 2010

CAREER DAY

MENGENALKAN lapangan pekerjaan dalam berbagai kegiatan yang mulai popular di tanah air kepada angkatan belia bukan untuk mengajarkan cara-cara mencari uang yang mendorong konsumerisme. Pengenalan citra suatu produk atau gaya hidup yang dikaitkan dengan kebendaan sedini mungkin, bahkan pada tingkat TK, adalah strategi ampuh media periklanan yang dibayar oleh perusahaan.

Pengenalan lapangan pekerjaan nanti ketika anak-anak menjadi dewasa, atau lebih tepat sosialisasi terhadap sejumlah profesi yang popular bertujuan untuk memberikan informasi awal secara umum.

Bukankah kita selalu ditanya orangtua “Nanti sudah besar, mau jadi apa, Nak?” Sering anak menjawab sekenanya, atau apa yang diingatnya. Kadang-kadang pengulangan: “saya mau jadi dokter” atau insinyur atau hakim bahkan polisi, dari puluhan bahkan ratusan profesi yang memang eksis di dunia pada era globalisasi sekarang.

Saya mengamati kegiatan ‘Career Day’ dilakukan pada pelajar tingkat SMA di Jakarta. Acapkali kegiatan seperti ini didukung pula oleh para sponsor produk-produk consumer yang popular, atau sedang mengenalkan produknya di masyarakat.

Apa persepsi mereka tentang dunia pekerjaan? Mungkin mendengarkan penjelasan dari professional langsung dapat membantu mereka. Mereka bisa membayangkan jenis pekerjaan, tantangan dan benefit dan keuntungan lain termasuk gaji. Dan mungkin jika nanti pensiun.

Bagaimana di Amerika Serikat?

SAYA sendiri tidak ‘aware’ ketika anak tertua saya, Sandra, meminta saya untuk presentasi di sekolahnya Elementary School yang terletak di bilangan Rego Park, Queens, New York suatu ketika di tahun 1999.

Katanya, guru yang memang memperhatikan berbagai lapangan pekerjaan orang tua murid, mengundang kami para orang tua untuk berbagi. Ya berbagi informasi tentang berbagai jenis pekerjaan atau profesi, kepada anak-anak yang pada hari itu merupakan bagian dari kegiatan ‘graduation day’.

Di negara ini ‘career day’ dimulai pada tingkat SD dan seterusnya sampai ke perguruan tinggi. Jadi, mungkin saja ketika anak masih di SD dia tertarik pekerjaan dokter, guru, pemusik, hakim, dan pada saat SMP berubah menjadi pelukis, polisi, tentara, dan ketika SMA lebih tergoda dengan auditor, wartawan, broadcaster, atau intel.

Nanti ketika selesai pendidikan di perguruan tinggi profesi pilihan ini bisa berubah lagi. Semakin banyak informasi sedini usia mungkin, semakin tumbuh pula berbagai opsi yang menarik dan cocok bagi mereka.

Guru anak saya menjelaskan singkat dalam surat, kalau saya setuju tampil, informasi tentang apa yang perlu saya persiapkan. Tentu saja berkaitan dengan kegiatan sehari-hari (rutin), apa basis keilmuan atau pendidikan khusus, serta apa keuntungan (benefit) dan bahkan apa tantangan dalam kegiatan profesi.

Saya menyambut baik, tawaran untuk menjelaskan profesi diplomat kepada anak-anak di sekolah negara Amerika itu.

Kegiatan sudah terjadwal baik dari mulai pagi sampai siang: presentasi dari berbagai profesi yang umumnya diisi oleh para orang tua murid, siapa yang akan presentasi, di ruang kelas yang mana, dan berapa lama waktu disediakan, maksimal 30 menit.

Anak-anak bak sedang ‘window shopping’, biasanya memilih beberapa profesi, baik yang serius maupun hanya untuk sekadar mengetahui saja.

Karena kegiatan itu dilakukan pada hari kerja, saya berpakaian kerja (Pakaian Sipil Lengkap, atau PSL) dengan jas dan dasi.

Tidak Gampang Lho!

TERNYATA tidak mudah memilih informasi yang akan dipresentasikan. Jika saya biasa berceramah atau diminta menjadi dosen tamu di berbagai tempat, atau menjadi speaker di berbagai seminar internasional, maka berhadapan dengan anak-anak menjadi tantangan tersendiri.

Pagi itu hadir sekitar 10-12 pelajar, dan gurunya juga ada di sana..

“Diplomat adalah wakil-wakil Negara yang bekerja untuk menciptakan perdamaian. Perdamaian penting agar kita bisa hidup dan bekerja dengan baik. Perdamaian harus didukung oleh keamanan: ada ancaman militer atau non-militer. Maka diperlukan serangkaian tata-aturan dan norma agar bangsa-bangsa yang berbeda-beda bisa berkenalan dan bekerjasama untuk menghindarkan perang dan bahkan menyepakati berbagai kerjasama untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah.”

“Dunia dipenuhi konflik, sumbernya beragam: kekurangan makanan, sarana air bersih, rumah dan sebagainya. Untuk itu kita perlu membangun ekonomi, dan kita mengetuk hati Negara-negara maju untuk mengulurkan tangan. Di banyak belahan dunia anak-anak tidak bersekolah, maka kita upayakan agar sekolah dibangun supaya mereka pintar dan nanti kalian bisa berkenalan dengan mereka.”

Mata-mata kecil mulai sayu. “Bapak ini bicara apa, yah?”, mungkin mereka mulai bingung.

Saya lanjut:

“Untuk itulah diplomat diperlukan. Tanpa diplomat dunia akan terancam konflik dan perang, maka pembangunan ekonomi dan sosial tidak dapat dilakukan. Diplomat telah ada sejak zaman dahulu kala.”

Saya menyadari pembicaraan ini semakin tidak menarik, mereka mulai gusar. Bergerak ke kiri dan ke kanan. Ada yang mengipas-ngipas, gerah.

Guru berupaya sabar tersenyum menenangkan anak-anak itu. Untung anak saya tidak ikut mendengarkan kuliah saya. Mungkin dia sudah tahu apa itu diplomat, atau memang tidak tertarik.

Ganti strategi

SAYA juga heran, mengapa tema saya kurang greget. Padahal kemarin dan hari-hari sebelumnya kami berdebat di PBB mengenai masalah-masalah nuklir. Isu gender/wanita, orangtua, perubahan iklim mulai menghangat, dan bahkan ada yang sampai gebrak-menggebrak meja! Saya juga barusan mendamaikan ketua delegasi India dan Pakistan, dengan varian Syria. Ini berkaitan dengan kesepakatan Negara berkembang (GNB) mengenai rancangan resolusi yang akan diusulkan ke Sekretariat PBB, agar memberi tekanan kepada negara-negara nuklir. Argumentasi atau kontra argumen dengan mudah dipahami tanpa bertele-tele.

Tetapi berhadapan dengan anak-anak yang rujukan dan persepsi beragam dan belum terstruktur menjadi tantangan tersendiri bagi saya.

Mungkin apa yang saya bicarakan akan menarik hati para pengamat atau mahasiswa jurusan hubungan internasional.

Dan berhadapan dengan anak-anak ini memang tidak mudah. Sudah ada yang menguap-nguap. Bosan.

“Menjadi diplomat itu menyenangkan, kalian akan mengunjungi seluruh penjuru dunia dan dibayari negara. Kalian tidak mungkin susah karena Negara membayar gaji dan fasilitas tugas dengan standar internasional Karena itu kalian harus belajar mengenai sejarah, etnografi, bahasa-bahasa internasional, karena itu kalian akan dididik sekolah diplomat, termasuk cara mengecap visa atau bagaimana mengangkat koper yang berat tetapi tetap memelihara senyum.

Nah ini yang tak kurang penting, karena memiliki imunitas maka tidak seorang pun yang akan menyentuh kulit kalian. Aman.”

Anak-anak bengong.

Saya mencatat ini penampilan saya yang terberat; 10 menit saya kehilangan kata-kata. Saya segera beralih haluan, sebaiknya berdialog saja. Tanya-jawab dengan anak-anak berusia 11-12 tahun itu dalam lively discussions mungkin lebih menarik.

“Nah, mari kita mulai Tanya-jawab.”

Hanya satu pertanyaan. Seorang anak laki-laki angkat tangan. “Are you spy”?
Sesi pun berakhir.

Orang Amerika terkenal dengan informalitas. Bila orang berpakaian gelap dan berdasi dipandang sangat formal. Mungkin lihat film Hollywood, anggapannya orang asing berpakaian formal seperti saya itu spy. Oh!

Sebelum meninggalkan ruang sidang yang berat itu saya diundang kepala sekolah untuk refreshment: kopi dan roti selai, keju.

Di sana telah berkumpul berbagai orang tua murid atau petugas lembaga kota, lengkap dengan peralatan dan pakaian mereka berwarna-warni. Dinas kebersihan dengan seragam hijau, pemadam kebakaran berwarna merah, polisi, jaksa, artis yang glamour. Mereka pada umumnya senang, bisa berkontribusi. Kami?

Yang sama dengan pakaian saya cuma broker penjual saham, dan pengacara. Saya yang diplomat, pengacara dan penjual saham itu memang hanya mampu berbusa-busa dengan audiens.

Alih-alih malah membuat anak-anak itu semakin bingung.

Tidak ada yang bisa kami pamerkan kecuali menjual kata-kata.

Jakarta, 27 Desember 2010