Tuesday, May 26, 2009

PADA SUATU HARI DI BATAVIA BULAN APRIL 1935

MESKIPUN resminya sudah di musim semi, tetapi tak urung Gdynia, kota yang bersaudara dengan Gdansk dan Sopot di wilayah utara Polandia – disebut juga troimiasta atau 3 kota – cuaca masih dingin. Angin bertiup kencang pada udara sekitar 10 derajat membuat wilayah di dekat laut Baltik itu dingin sekali, seakan-akan 0 derajat!

Kami mengadakan kegiatan di 2 kota sekaligus: di Gdynia untuk promosi kopi dan di Gdansk untuk pameran wisata, 17-19 April 2009 yang lalu. Meskipun akibatnya saya perlu bolak-balik di kedua kota ini, tidak masalah. Kota ini bergandengan, dipisahkan hanya sekitar 10 km. Saya dan teman-teman ingin memanfaatkan peluang strategis di kedua kota ini, meskipun harus menempuh perjalanan darat hampir 400 km, dalam waktu sekitar 7 jam berkendaraan, menempuh terjangan angin yang cukup kencang!

Pada saat acara pembukaan pameran kopi tanggal 17 April sore, setelah pembukaan pameran wisata di Gdansk pada siang hari, saya pun bergegas menuju Gdynia. Meskipun jarak 2 event ini tidak terlalu jauh, namun hari Jumat seperti di mana-mana di Eropa: jalan macet!

Saya tiba tepat pada waktunya di pameran kopi di Gdynia. Kopi kiriman PT Kapal Api pun laris manis, bukan karena gratis tetapi memang unik. Pada saat pameran promosi, semua jenis kopi yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan di stand-stand pameran disediakan gratis.

Seusai berpidato memperkenalkan kopi Indonesia, saya dihampiri seorang pria berpakaian rapi. Tampaknya seperti panitia, tetapi dia membisikkan sesuatu.

“Mumpung Anda ada di sini”, katanya. Dia adalah Bogdan Kwiatkowski, otoritas pariwisata di Gdynia. Dia mengundang saya untuk mengunjungi museum unik, di sebuah kapal yang tidak jauh – sekitar 100 m – dari mall tempat berlangsungnya festival kopi. Kapal itu tidak besar, sebuah kapal latih (tall ship) bernama ” Dar Pomorza ” yang berada di bawah supervisi oleh institusi Pak Bogdan ini: Tourism Association of Gdynia.

“Itu terlihat Museum saya, kapal yang sedang bersandar di pinggir pelabuhan”, kata pria itu, menunjukkan lokasi sebuah kapal mungil dengan anggun berjangkar di dermaga. Tetapi, sejujurnya, tampaknya tidak ada yang istimewa pada kapal itu. Namanya pelabuhan, tidak aneh jika banyak kapal-kapal lain sedang sandar di sana.

Namun, keramahtamahan orang Polandia sulit ditolak. Mereka tulus, dan rendah hati. Karena hari pun mulai senja, saya pun menjanjikan akan datang besok, tanggal 18 April sore, setelah menyaksikan anak-anak penari asuhan Ibu Jadwiga Mozdzer pada pertunjukan di pameran wisata di Gdansk.


Batavia 1935

Tepat pada waktu yang dijanjikan, Pak Bogdan datang menjemput saya di stand kopi Indonesia. Saya dan isteri pun mengikuti langkahnya, menuju ”Dar Pomorza”.

Di pintu gerbang memasuki kapal, seorang pria kira-kira berusia 70 tahun, berpakaian lengkap resmi kapten kapal datang menyambut dan menghormat kami. Dia adalah Mr. Józef Kwiatkowski, mantan kapten kapal terakhir yang bertugas di kapal itu, dan seperti Dar Pomorza diapun telah pensiun pada tahun 1982.

Dar Pomorza adalah kapal layar latih (tall ship) seperti ”Dewaruci”. Setelah melewati berbagai lorong di kapal, kami berhenti di kabin kapten. Mewah, dilengkapi bar, kantor, dining room, dan ruang rekreasi. Sang Kapten, ternyata adalah ayah kandung Pak Bogdan. Pantas, nama keluarganya sama, Kwiatkowski, dan raut mukanya juga mirip. Pak Józef tua ditemani seorang anak laki-laki sekitar 9 tahun. Cucunya, dan anak dari Pak Bogdan sendiri.

Dia bercerita tentang sejarah kapal yang memiliki tempat di sanubari orang-orang Polandia. Tidak hanya di kota Gdynia, tetapi seluruh Polandia. Kapal ini telah mengharungi dunia, termasuk Indonesia, katanya. Saya pun tertarik. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa Pak Bogdan begitu antusias mengundang saja.

Katanya, pada tahun 1935 kapal ini telah mengunjungi Batavia. Oh, jaman yang telah berlalu, masa kolonialisme di tanah air pada masa malaise!

Sang Kapten kemudian menyerahkan buku karangannya untuk saya, “DAR POMORZA” REJSY I ZALOGA (“Dar Pomorza” Voyages and Crew) setebal 600 halaman. Di halaman depan, saya membaca tulisan tangan:

Szanownemu Panu Ambasadorowi Republiki Indonezji w Polsce Hazairin Pohan z okazji pobytu na "Darze Pomorza" na mila pamiatke z najlepszymi zyczeniami. Autor: Józef Kwiatkowski. Gdynia, dnia 2009.04.18.




[Terjemahan : For Dear Ambassador of the Republic of Indonesia to Poland Mr. Hazairin Pohan on the occasion of His stay on the board of "The Gift of Pomerania" as a token of remembrance and with best wishes. Author: Józef Kwiatkowski. Gdynia, April 18, 2009.]

Sang Kapten, Pak Józef Kwiatkowski tidak bisa berbahasa Inggeris, maka pembicaraan saya dengannya diterjemahkan oleh Pak Bogdan, anaknya.

Menurut Pak Józef Kwiatkowski, sejak dia pensiun dari dinas laut, dia mengumpulkan semua catatan yang ada di kapal, dan menuliskan semua pengalaman sang kapal “Dar Pomorza” ke dalam buku karangannya tadi.

Menurut Pak Józef, “Dar Pomorza” pertama sekali diluncurkan ke laut pada tahun 1909 dan dibeli oleh rakyat Pomerania di kawasan laut utara itu pada tahun 1929. Setelah mengharungi berbagai samudera, mengunjungi berbagai benua, kapal ini pensiun pada tahun 1982. Buku ini memuat semua catatan dan pengalaman yang ada dalam perjalanan hidup sang kapal.

Menarik, karena dalam Bab berjudul “Perjalanan Keliling Dunia Dar Pomorza 1934 – 35” tertulis pengalaman kapal ini mampir ke Batavia, Nederlands Indie, yang sekarang menjadi ibukota tanah air tercinta, Indonesia.

Di halaman 41 terekam:
…
Pada tanggal 12 April 1935 kami meninggalkan Hong Kong dan bersiap untuk kembali ke Polandia. Di kapal ini pula kami merayakan Easter Holidays di tengah lautan. Tidak lama, pada hari Senin, kami memasuki pelabuhan Singapore. Di kota ini kami memperoleh izin untuk berlayar ke Broome di Australia. Setelah 3 hari berada di Singapura, pada tanggal 25 April kamipun berangkat menuju Batavia di Pulau Jawa. Untuk ketiga kalinya kapal kami ”Dar” telah melintasi khatulistiwa dalam berbagai pengembaraan dunia.

Kami pun lempar jangkar di Batavia. Di kota indah ini kami dibantu seorang insinyur berbangsa Polandia Mr. Jozef Zwierzycki, yang telah menetap di sana. Dari Jawa maka kamipun berlayar ke Australia, menuju pelabuhan kecil di Broome, selanjutnya setelah 3 hari berada di sana kamipun melanjutkan pelayaran ke arah Lautan Hindia menuju Port Louis, yang terletak di kepulauan Mauritius, tiba di sana tanggal 3 Juni 1935. Di tempat ini kami mendengar kabar meninggalnya Marshal Jozef Pilsudski. Maka, bendera kapal pun turun setengah tiang. Tanggal May 18, 1935, di Polandia diselenggarakan upacara penguburan sang Marshal, dan kamipun di kapal mengalungi pita hitam pada potret sang Marshal.

…

Baru saya menyadari, dalam beberapa hari mendatang di bulan April ini kapal latih Dar Pomorzi akan memperingati tahun ke-74 kunjungannya ke Batavia.


“White Frigate”

Buku Pak Józef mencatat, Dar Pomorza dibuat oleh Blohm und Voss di Hamburg pada tahun 1909, dengan bobot mati 1561 ton, muatan 525 ton, panjang 80 met er (93 m total), lebar 12,6 m, tinggi layar 41,4 m, 1900 atau 2100 m2 (3 tiang layar), dan dengan kecepatan berlayar 5 knot – 17 knots. Kapal ini dilayani oleh kru 28 orang dan antara 1 50-200 kadet.

Kapal ini dipesan oleh Deutscher Schulschiff-Verein kemudian digunakan sebagai kapal latih dengan nama Prinzess Eitel Friedrich. Pada tahun 1920 seusai PD I, kapal ini disita oleh Inggeris dan dibawa ke Prancis, digunakan oleh kadet di sekolah pelayaran St-Nazaire dan diberi nama "Colbert". Karena biaya pemeliharaannya yang mahal, akhirnya pada tahun 1929 kapal ini dijual kepada masyarakat pencinta laut Polandia di Gdynia. Masyarakat Gdynia berhasil mengumpulan dan sebesar 7000 Poundsterling , sesuai harga yang ditawarkan.

Setelah dibeli, kapal ini kemudian dikirim ke Denmark untuk perbaikan. Dicatat, dalam perjalanan berbahaya menuju Denmark karena kondisi kapal yang payah dikhawatirkan tidak sampai tujuan, bahkan hampir tenggelam. Sekembali dari galangan kapal Denmark dan tiba Polandia, kapal ini diberi nama "Dar Pomorza" (berarti 'Gift of Pomerania'), dan dipasang mesin diesel tambahan. Maka, seperti tercatat di buku, untuk pertama kalinya pada tanggal 13 Juli tahun 1930 kapal ini mengibarkan bendera Polandia: Putih-Merah. Dan, mulai saat itu Dar Pomorza bertugas sebagai kapal-latih di bawah pengawasan the Polish Naval Academy.

Mulai tahun 1934-1935 Dar Pomorza memulai pengembaraannya ke ujung dunia, antara lain ke New York (1932), Brazilia dan Afrika Selatan (1933), dan mulai tahun 1934, termasuk call ke Pelabuhan di Batavia (1935 transit di Terusan Panama (1936) dilanjutkan dengan perjalanan kedua ke Pasifik, serta pada tahun 1937 berhasil melewati Cape Horn di Amerika Selatan.

Pada masa PD II kapal diperbaiki di Stockholm , negara netral pada masa itu, dan seusai perang dibawa kembali ke Polandia, ke fungsi semula sebagai kapal-latih. Seusai perang pada tahun 1945 dia kembali ke Gdynia, berlayar ke Laut Tengah dan Atlantik sebelum berangkat menuju West Indies.

Pada tahun 1970-an kapal ini turut berkompetisi dalam Operation Sail dan Cutty Sark Tall Ships' Races, memenangkan tempat pertama pada tahun 1972 (negara pertama dari Eropa Timur yang menjadi peserta), juara ke-3 pada tahun 1973 dan juara pertama pada Cutty Sark Trophy tahun 1980, yang merupakan hadiah terbesar, sehingga dijuluki the 'White Frigate' oleh para kru kapal.

Dar Pomorza terakhir kali bertarung dalam bulan September 1981, karena pada tanggal 4 August 1982 kapal ini dipensiunkan, dan sejak 27 May 1983 dijadikan museum di Gdynia. Kapal tua ini bak prajurit yang telah memenangkan berbagai pertempuran, menikmati hari tuanya, menceritakan berbagai pengalaman dan wisdom yang berarti bagi para pengunjungnya, termasuk saya dan isteri.

Warsawa, 26 Mei 2009

Wednesday, April 1, 2009

MATINYA 'SANG BIDADARI'

Pelan tapi pasti, Indonesia sejak era reformasi 1998 telah menjadi bagian dari masyarakat bangsa-bangsa. Indonesia juga menonjol perannya di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia Pasifik. Sejumlah gagasan untuk memajukan kawasan ini berasal dari Indonesia. Gagasan cemerlang terakhir adalah pembentukan pusat demokrasi kawasan Asia Pasifik yang bermarkas di Bali, The Bali Democracy Forum. Di ASEAN, Indonesia dikenal sebagai the political powerhouse. Meskipun ekonomi Indonesia terbesar di Asia Tenggara, tetapi negeri kita belum menjadi economic power house terpenting.

1998 adalah tahun Indonesia menjadi graduate dan masuk ke dalam college of democracies. Indonesia, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Negeri kita telah menjadi contoh terkemuka, di mana Islam dan democracy bergandengan tangan mesra, kata Menlu Hillary Clinton.

Pekan ini, Indonesia kembali menjadi berita dunia. Bukan hiruk-pikuknya caleg sedang berbusa dan bermejeng-ria. Di London, sedang berlangsung pertemuan G-20: duapuluh entitas yang ditugasi membenahi ekonomi dunia pasca economic downturn. Indonesia sejak tahun lalu di Washington masuk menjadi segelintir negara yang bertanggungjawab merumuskan langkah-langkah untuk mengeluarkan dunia dari krisis keuangan. Tidak ada proses pemilu yang menobatkan Indonesia masuk dalam kelompok elit dunia ini. Good or bad news? Tergantung di mana Anda berdiri. Tetapi saya bangga, penilaian status itu bukan hasil rekayasa. Ini destiny, ujar seorang teman pengamat masalah internasional. Saya tidak mampu menangkap tone, apakah dia happy atau sedih.

Bayangkan, dari lebih 200 negara, hanya 20 yang dijadikan aktor ekonomi utama dunia. Brazil, Rusia, India, Indonesia dan China (BRIIC) bersama South Africa, Saudi Arabia, Argentina, kini duduk bersama negara-negara maju di kelompok G-7 (AS, Kanada, Jerman, Inggeris, Prancis, Italia, dan Jepang), Korea, dan UE (mewakili negara Eropa yang bukan termasuk G-20). Memang nyatanya masalah ekonomi sedang mendominasi perhatian para pemimpin dunia. Indonesia, satu-satunya wakil dari Negara-negara ASEAN di G-20, ingin berbagi pengalaman bagaimana mengatasi krisis moneter tahun 1997 dulu akan menawarkan sejumlah usulan mengenai paket stimulus.

Tantangan yang dihadapi sekarang bukanlah persoalan hiruk-pikuk pemilu pada pekan depan. Tidak akan terjadi perobahan spektakuler di tanah air: kita sudah berjalan pada rel yang benar. Semua tahu, resesi ekonomi dunia merupakan kesibukan utama dari pemimpin dunia. Di mana-mana, pemerintah berhadapan dengan langkah darurat bagaimana menekan inflasi supaya rakyat tidak semakin miskin, menjaga nilai tukar mata uang agar terjadi keseimbangan arus ekspor-impor, memelihara pertumbuhan ekonomi agar upaya peningkatan kesejahteraan dan perang terhadap kemiskinan tetap berlanjut.

”Tetapi resesi sudah menjadi masalah dunia, menjadi a good excuse bagi para politisi bila kebijakan di dalam negeri gagal”, ujar teman baik saya di email.

Tulisan saya bukan mengulas film berjudul sama karya Wahyu Sihombing yang dibintangi maestro bulutangkis Rudi Hartono dan Poppy Dharsono di awal tahun 1970-an. Saya ingin mengajak semua kita para demokrat sejati mencegah gejala global: matinya dunia pers dan media. Pers menjadi ‘bidadari’ penting bagi pertumbuhan demokrasi kita. Virus yang telah muncul di Amerika dikhawatirkan menjalar ke berbagai pojok dunia, termasuk menimpa media pers di tanah air. Saya berharap nanti tidak akan menuliskan obituary pada suatu bidang profesi yang pernah menghidupi saya: wartawan.

Saya sangat mencintai dunia media dan pers, dunia yang juga erat kaitannya dengan profesi saya sekarang. Harapan saya, jurnalisme tidak akan mati: “old reporters never die, they only lose .… their laptops”. Sekarang ini wartawan tidak dijuluki ‘kuli tinta’, tetapi ‘kuli laptop’.


It’s economy, stupid!

Jika saya mengajak Anda berdiskusi mengenai ancaman kematian dunia pers dan impaknya kepada demokrasi, Anda mungkin menyatakan : Who cares?

Di tengah-tengah kegalauan ekonomi ini, negeri kita juga sedang berhelat pesta demokrasi. Logikanya, demokrasi dan paket stimulus ekonomi berjalan pada rel berbeda. Oleh karena itu mari kita berbicara tentang nasib demokrasi, toh Presiden SBY, Menlu Hassan Wirajuda dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah cukup kapabel mewakili negeri kita dalam pertemuan di London. Rakyat sih ingin nimbrung bicara ekonomi, saya juga. Tetapi, kita yang awam tidak mampu mengikuti diskusi dan debat yang berlangsung di London. Mungkin nanti jadi bingung sendiri. It’s economy, stupid!

Di dunia internasional, bicara demokrasi tidak hanya terbatas pada pemilu. Isu-isu mengenai partisipasi dalam pengambilan keputusan, akuntabilitas dan transparansi, balance of power, kontrol politisi terhadap tentara, rule of law dan berbagai masalah domestik juga menjadi bahagiannya. Yang terlupa mungkin bahwa salah satu unsur terpenting dalam demokrasi ialah kontrol oleh masyarakat. Di dalamnya ada peranan pers.

Untuk pertama kali masalah resesi dunia diawali di negara super kapitalis, tetapi kini menjadi masalah dunia. Padahal, penyakit ini berasal dari negara-negara maju. Lucu, jika Obama dan pemimpin dunia kapitalis meminta negara-berkembang turut bertanggungjawab. Excuse me?

Dalam forum G-20, Indonesia tidak diminta mengucurkan dana stimulus berjumlah puluhan milyar dollar. Tetapi, semua negara, khususnya G-20 diminta melakukan concerted actions mencegah proteksionisme berlebihan, self-help yang akan menyebabkan perang dagang. Diharapkan, di sana akan muncul ide-ide brilyan, atau setidaknya sharing and exchange of ideas berdasarkan lessons learned di negara masing-masing, mencegah agar resesi ekonomi tidak memburuk.

Karena ini masalah global, maka pemecahannya juga harus pada tingkat global. Kebersamaan negara maju dan berkembang menjadi kata kunci. Ingat: perang dunia pertama dan kedua, diawali oleh resesi ekonomi.

Masalahnya, pers dunia kini menghadapi masalah serius. Media dunia seperti International Herald Tribune, TIME, CNN, Economist kini dilanda ancaman masuk gawat darurat. Jika masyarakat kita tidak perduli berapa dari 50 partai yang akan lolos dalam pemilu nanti (menurut teman saya, banyak pendatang baru dan yang lama akan bernasib ‘kembang semaput’), mengapa pula kita harus concerned terhadap matinya sejumlah pers dunia.

Jika media dunia yang sudah berusia ratusan tahun bisa keimbas oleh economic downturn, bagaimana pula media kita? Jangan lupa, media merupakan unsur yang sangat crucial menjaga agar demokrasi, hak masyarakat berpendapat dan menentukan proses politik, dapat berfungsi. Ini penting bagi negara demokrasi baru seperti kita, dan kita hidup di dunia yang kian mengglobal. Sooner than later, gejala ini akan berdampak pada pers dan media nasional kita.


Obituary

Albert Hunt dalam op-ed nya “A Vibrant Democracy Needs Newspapers” (IHT, 23 Maret) dan sebelumnya Nicholas D Kristof “The Daily Me” (IHT, 20 Maret) menggambarkan perspektif betapa seriusnya masalah yang dihadapi pers dunia.

Perusahaan lahir, hidup dan mati, selalu berganti. Perusahaan pers juga begitu. Tetapi, sulit dimengerti mengapa nasib Bank of America dan AIG yang sekarat harus dipaksa menjadi tanggungjawab dunia? Jawabannya: di sini terdapat kepentingan global. Mempertahankan 2 institusi keuangan terpenting Amerika itu menjadi solusi untuk mengatasi global financial crisis, kata Obama. Sedangkan, jika perusahaan pers mati -–banyak kawan-kawan yang hidup di dunia ini—mengapa mesti menjadi concern saya?, kata seorang teman yang lain.

Biar saja, wartawan khan suka heboh, mencari-cari kesalahan, suka mengekspos dan mencemooh para pembuat undang-undang. Pers juga menebang hutan untuk diambil kertasnya. Mendingan kita cari berita di internet, website, blog, bahkan TV juga sudah ada online di internet. Trend dunia sekarang yang keren adalah paperless, ujar seorang teman mengomentari status FB saya.

Bagi middle class barangkali tidak apa-apa, mereka bisa mencari informasi di web, dan internet telah menghasilkan ratusan ribu berita setiap harinya. Tetapi, bagaimana kita mampu menyortir berita yang begitu banyak, menyederhanakan dan mencernanya. Ini satu persoalan. Tanpa berita eksklusif , semua media akan seragam, seperti dunia Orwellian. Persoalan lainnya, tanpa media tradisional yang didukung dengan perusahaan dan sumber dana, maka pemberitaan pun menjadi datar. Akses ke informasi tertentu dan vital sering tidak gratis. Tidak ada web di internet yang mampu membiayai berita-berita investigative, tanpa menjadi bagian dari media tradisional.

Alkisah, karena kelesuan ekonomi maka pemasangan iklan jauh menurut. Ini sumber pemasukan utama perusahaan pers. Langganan? Ternyata hanya membiayai sebagian kecil ongkos operasional perusahaan. Tribune Co yang merupakan pemilik dari The LA Times dan The Chicago Tribune bankrut. Seperti Philadelphia Inquirer, dan Seattle Post-Intelligencer hanya mampu bertahan di dunia maya, alias di website.

Gejala ini terjadi di perusahaan pers besar yang selama ratusan tahun terbit. Semua pihak di era resesi perlu kencangkan ikat-pinggang. Maka, demi masa The Star Ledge Newark, Koran terbesar di New Jersey mengurangi 50 persen stafnya. Koran-koran di Miami, Colorado dan North Carolina kini sedang melancarkan pengurangan staf editorial; peliputan politik terpenting di DC dan di luar negeri ditutup, seperti dialami oleh The Baltimore Sun dan Boston Globe. Downsizing is good news?

Maka, kolumnis Nicholas D Kristof menyatakan obituari bukan lagi berita mengenai kematian tokoh-tokoh penting atau selebritis yang dimuat di koran, tetapi mengenai nasib koran itu sendiri! Jika benar terjadi, maka para penipu berkedok selebritis atau politisi akan senang, jika pers mati maka mereka tidak lagi dikejar-kejar wartawan infotainment (entertaining bagi masyarakat, mereka jadi bahan tertawaan). Kontrol masyarakat akan absen, maka leluasanya pejabat yang sering manyun menghadapi pertanyaan kritis dari wartawan.

Seberapa penting sih arti pers bagi masyarakat? Sekarang ini sudah banyak media alternatif website, bloggers. Akan tetapi, Nicholas D Kristof bertanya lebih mendasar apakah kita memang tidak memerlukan ‘good information? Katanya, di era IT sekarang masyarakat cenderung membaca media yang seideologi dengannya, untuk membenarkan pendapatnya. Mereka cenderung tidak mencoba mendengarkan pendapat pakar yang netral sekalipun. Masyarakat yang tersegmentasi tidak suka mendengar pendapat yang menohok ulu hatinya. Yang dicari adalah informasi yang cocok dengan prejudice nya. Ini jelas berbahaya. Maka, good information itu penting!

Pakar media dari MIT Nicholas Negroponte berpendapat kita mungkin percaya secara intelektual terhadap pentingnya clash of opinions, perlu perdebatan sehat yang inspiring untuk membantu kita mengatasi gejala di era IT ‘the plenty of paradox’. Ratusan ribu berita di-upload setiap harinya ke dunia virtual. Naturally, kita memilih berita yang kita perlukan, atau sukai. Maka, ujung-ujungnya kita cenderung mencari rasa nyaman, berarti pilihan untuk berada di wilayah rahasia ego kita sendiri. Kita akan membaca blog yang cocok dengan selera kita. Kita menghindari sakit perut atau kehilangan nafsu makan gara-gara membaca blog yang kita tahu dari sono nya nyelekit!

Juga, parpol menerima hasil polling bila yang mengokohkan posisinya. Mereka tersinggung jika polling memelorotkan posisinya. Muncullah ide, agar polling diatur dengan UU. Pening ah! Mereka maunya, seperti di Amerika, berita-berita ABS yang cocok dengan ego dan megalomania, hanya untuk mengukuhkan pre-existing views mereka. Ingat Presiden Bush, ketika ultah perang Irak berfoto menyeringai dilatarbelakangi spanduk “Mission Accomplished”, padahal perang Irak tetap berlanjut sampai sekarang, dan Amerika masih mencari exit strategy-nya seperti apa.

Tanpa 'good information' yang selama ini disuplai oleh traditional media dengan keberagaman check and recheck nya, seperti dikatakan Negroponte kita akan mengalami “guilty of selective truth-seeking in the web”. Namun perlu diwaspadai bahaya segregasi di masyarakat, terpecah-pecah menjadi sel-sel kecil dalam club, atau kelompok kepentingan. Hasilnya adalah polarisasi dan intoleransi yang meningkat di masyarakat. Anti-demokrasi.

Oleh karena itu, katanya kita harus mencegah menurunnya peranan traditional news di media. Selective news akan berbeda dengan realitas. Dunia ditampilkan black and white. Padahal, mainstream media beroperasi di wilayah gray, balanced. Di sini kami berbakti, kata media tradisional.


Paradox of Plenty

Meskipun berbagai pemberitaan membanjir di internet, apakah informasi cukup bagi masyarakat? Jangan lupa, menurut pakar 85 % berita di media adalah hasil pekerjaan atau bersumber dari media cetak tradisional. Maka, dengan bangkrutnya perusahaan pers tradisional akan berakibat pula pada pengurangan jumlah berita yang diterbitkan di internet. Dunia pun datar, kembali ke era Orwellian.

Jika koran-koran mainstream tradisional collapsed, siapa yang membiayai liputan yang kian mahal, khususnya untuk berita-berita khusus? Impact your world, kata CNN dan mereka juga membuka rubrik i-reporter, masyarakat menyumbang informasi secara gratis. Apakah berita-berita seperti ini reliable dari segi kontinutitas atau kredibel? Jelas tidak.

Liputan media mengenai apa sesungguhnya terjadi pada masa Perang Vietnam, Watergate, bahkan Perang Irak, dan situasi di Afghanistan telah mengubah kebijakan dan perkembangan dunia ke arah kebaikan. Pers AS juga membuka borok di Guantanamo, Sudan, Cambodia, Bosnia dan terakhir di Gaza Strip. Di Palestina, Israel berupaya menutup masuknya pers mainstream dunia, dengan alasan adanya ancaman akan disandera oleh Taliban dan berbagai organisasi teroris di sana. Sesungguhnya, pemerintah Israel bermaksud untuk mem-block arus keluar pemberitaan negatif mengenai perilaku tentara Israel: pelanggaran HAM dan hukum perang yang berpotensi menyeret pejabat dan tentaranya untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan di depan International Criminal Court atau ICJ. Di tanah air, pers kita juga berjasa membongkar skandal korupsi, meskipun sering kalah cepat dengan KPK.

Alex S Jones dalam bukunya “Losing the News” mengatakan sulit mengukur dampak kerusakan yang menimpa masyarakat tanpa laporan peristiwa secara utuh. Inilah perlunya good information. Ini alasannya, mengapa harian New York Times mau menghabiskan dana jutaan dolar untuk liputan di Irak, serta membiayai wartawan, fotografer, staf di Afghanistan.

Dalam abad informatika kita mengalami “the paradox of plenty”, terlalu banyak berita dan opini yang memusingkan masyarakat. Kita membutuhkan pers yang mewakili kita untuk melakukan investigative reporting: ada apa dibalik peristiwa itu? Jelas banyak biaya yang dibutuhkan untuk itu.

Website dan blog yang menyediakan informasi gratis jelas tidak reliable dan credible. Bloggers menerbitkan informasi sebatas hobby, dan kurang memiliki mekanisme untuk pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada masyarakat. Suka suka aku lah.

Mengingat mahalnya biaya operasi pers cetak tradisional, ada pemikiran untuk membebankan biaya (charging) kepada masyarakat pembaca di internet. Berarti internet mungkin tidak gratis lagi, dan dalam situasi ekonomi sulit daya beli masyarakat juga turun. Non-starter! Wall Street Journal (WSJ) sejak 13 tahun terakhir telah memungut biaya langgaran, namun berita-beritanya hanya berkaitan dengan perkembangan ekonomi dan keuangan. WSJ pada saat dibeli Ruppert Murdoch bernilai USD 5,2 milyar, sebelum economic free-fall meningkat menjadi USD. 7 milyar. Sekarang? Nilainya tinggal 20% saja. Kerugian 80% ditanggung sang spekulan. Bagi Murdoch yang pengusaha, pers seperti perusahaan, adalah alat untuk cari duit. Idealisme? Kayaknya terlalu jauh. Orang-orang seperti ini lah yang menggiring perusahaan media ke kuburannya.

Ada pula ide ‘cemerlang’ berkembang di Prancis. Intinya agar tidak bangkrut dan tetap memberikan pelayanan informasi kepada publik maka pers perlu dibantu oleh pemerintah. Ini sih, mengingatkan saya pada zaman Orde Baru. Retorika berbeda dengan realitas. Lagipula, aneh juga jika pers mendapat BLT, suplai sembako. Ini bukan saja merendahkan tetapi menghina integritas sekaligus intelektualitas para wartawan.

Bagaimana jika mencari dana dari yayasan? Lihat saja, sejumlah yayasan di Amerika yang hidup atas belas kasihan dari ’dermawan’ seperti Bernie Madoff. Tetapi orang-orang seperti ini lebih tertarik menggunakan kedok sumbangan ke yayasan untuk pencucian uang, atau pengurangan pajak atas nama idealisme ala kapitalisme.

Memang tidak semua yayasan berkedok sosial yang bermuatan terselubung. Ada yang benar-benar memiliki idealisme, mungkin bersumber dari keyakinan ketuhanan. Namun kesulitan dana juga menimpa koran The Christian Science Monitor serta The St Petersburg Times, adalah contoh koran yang memperoleh support dana dari yayasan agama. Koran yang sudah berusia ratusan tahun itupun tidak luput dari serangan jantung, dan akhirnya menghentikan edisi cetakan, dan akhirnya hanya mampu mengudara di dunia maya.

Matinya dunia pers merupakan ancaman terhadap kelangsungan ‘democracy’. Demokrasi yang sehat, memerlukan media bebas. Media bebas membantu mengartikulasikan suatu informasi atau opini, sehingga masyarakat dapat memberikan penilaiannya. Pers membentuk opini, menilai apa merit suatu diskursus yang sedang berlangsung di masyarakat. Sulit membayangkan demokrasi akan bertumbuh sehat tanpa adanya pers dan informasi yang benar.

Warsawa, 1 April 2009

Wednesday, March 18, 2009

SURVIVAL KITS

TIME Annual Special Issue, 23 Maret 2009 “Ten Ideas Changing The World Right Now” meminta perhatian kita mencermati perkembangan ekonomi dunia, terutama akibat global economic downturn, yang sedang berlangsung di depan mata.

Gejalanya baru ini tidak serta-merta kita dapat kita cerna, karena artikel ini dibuat dalam perspektif Amerika. Namun, jangan pandang enteng, penulis-penulisnya adalah para pakar tingkat dunia. We live in the global village, sooner than later arah ini akan mendunia, kata TIME. Cara hidup kita yang boros harus diubah. Kita harus hidup arif, karena sumber-sumber kian terbatas. Jadi, pendekatannya merupakan gabungan das sollen dan das sein, kurang lebih begitulah. Tujuannya, untuk survival manusia sendiri.

Ada sepuluh ide-ide baru mengubah dunia sekarang yang disarikan oleh TIME. Saya mencoba menempatkan ide-ide baru itu, tidak semua relevan dalam jangka pendek, ke dalam konteks Indonesia.

Ide pertama: “Jobs are the new asset”, intinya, gara-gara ulah Bernie Maddof --pakar Ponzi Scheme dan mahluk sejenisnya-- tabungan masyarakat hancur lebur, pabrik tutup, pengangguran pun meletup. Kita lupa pada ‘human capital’ yang berkaitan dengan pendidikan dan latihan adalah aset terpenting. Karena, mengutip pemenang nobel Gary Becker dari Universitas Chicago, 75%-80% output kegiatan ekonomi bersumber pada human capital, bukan peralatan, atau modal industri lainnya. Nasehatnya, jangan lupa sekolah dan kursus-kursus untuk membangun kapasitas Anda. Lupakan dasi Anda dan kantor sejuk yang menjulang di Jalan Sudirman, jaman sekarang sarungan pun tak apa, asal terus dapat bersekolah. Industri pendidikan ketrampilan dan kreatif siap-siap menerima murid-murid yang tidak berusia muda.

Pesan kedua, hati-hati menjaga pekerjaan yang ada sekarang. Ini ‘sawah’ yang menghidupi keluarga. Jangan ‘berjudi’. Jadi, jangan pernah berfikir ada plan B. Jaga baik-baik pekerjaan Anda, kalau sudah terbang, lay-off, baru terasa dunia seperti kiamat. Yang aman menjadi pegawai negeri, nggak gampang dipecat! Tetapi bagaimana menyiasati gaji yang kecil? Oh, para pegawai negeri sudah paham kiat-kiat bagaimana agar dapur tetap berasap.

Ide kedua: “Recycling the Suburbs”, intinya: 148 ribu toko di desa-desa Amerika akan tutup, bangkrut! Terus, the Metropolitan Institute Virginia Tech meramalkan pada tahun 2025 –prediksi resesi dunia berakhir-- akan terdapat surplus 22 juta rumah-rumah besar di Amerika. Pencinta lingkungan akan bahagia di Indonesia, karena tidak ada lagi proyek-proyek yang mengubah perkampungan pada saat Jakarta berjaya. Pengembang serakah yang dulu rajin mengincar lahan untuk gedung, apartemen, dan ruko ke mana-mana, kini semaput. Akibat ulah mereka, kota-kota besar berkembang tanpa planning, menjalar bak kanker ganas. Jika dulu orang kemana-mana naik kenderaan pribadi, maka orang sekarang cenderung mengurangi gerak, trend-nya belanja di warung-warung di kampung saja. Good bagi environmentalist dan ekonomi UKMK!

Saran TIME, bangun kompleks simpel tapi lengkap, pasti laku karena orang tidak bepergian dengan mobil, kecuali sangat mendesak. Bagi orang-orang yang tetap ingin tinggal di mansion, harga rumah-rumah besar ini akan turun. Tetapi, tidak disarankan membeli property, meskipun harganya tinggal separuh. Menabung menjadi investasi terbaik.

Pengembang yang jeli akan memusatkan bisnisnya untuk melayani keperluan masyarakat, seperti kota satelit Depok, Tangerang dan Bekasi yang kemudian skalanya diperkecil dalam sel-sel. Transformasi kampung ini memiliki potensi ekonomi yang besar.

Ide ketiga: “The New Calvinism” menyangkut keyakinan akan energi dan semangat ilahiah yang menginspirasi orang-orang untuk bekerja keras dan hidup hemat. Ini seruan Ilahi. Dalam economic downturn, banyak manusia nanar, menghadapi pertanyaan yang tiada jawaban. Maka, orang akan kembali ke Sang Pencipta. Spritual healing menjadi maha penting. Pencarian diri melalui kebendaan material adalah berhala. Kultur narkotik, minuman keras, dugem, perceraian, bukanlah jalan ke luar. Hanyalah kesementaraan. Your real friend is God!, begitu pesan TIME.

Ini kabar baik tentunya bagi da’i, penceramah, penasehat spiritual (bukan dukun!) dan penerbit buku-buku agama. Kita dulu punya AA Gym yang membangun kerajaan bisnisnya dengan bermodal pada pesan-pesan ilahiah. Kecerdasan spiritual sangat penting di kala moral dunia genting. Oleh karena itu, mari kita giatkan,” the gospel industry”, ber ibadah sekaligus menghidupkan ekonomi rakyat.

Ide keempat: “Reinstating The Interstate:Infrastructure”, pembangunan infrastruktur is sexy, menurut TIME. Di mana-mana pemerintah negara sibuk menyiapkan paket stimulus yang merangsang kegiatan ekonomi, karena institusi keuangan sedang mabok! Pemerintah RI kalau nggak salah sudah menyiapkan USD. 50 milyar!

Dalam pembangunan infrastruktur, pemerintah menjadi fasilitator dan regulator, pengusaha menjadi investor. Pembangunan sarana jalan, listrik dan berbagai turnkey projects lainnya akan menciptakan lapangan kerja dan selanjutnya akan menghasilkan trickle down effects! Dulu, tahun 1956 AS menjadikan pembangunan interstate (highway) besar-besaran yang menjadi proyek terbesar setelah PD II. Ekonomi AS pun tumbuh pesat. Di zaman sadar lingkungan orang tahu pembangunan jalan-jalan raya antar kota/provinsi berdampak pada peningkatan CO2. Orang tergoda memiliki kendaraan sendiri, apalagi harga bensin murah.

Idenya, kita harus jeli memanfaatkan pembangunan infrastruktur agar tidak hanya hanya bermakna penguatan interkonektifitas. Di sini juga terdapat sisi-sisi sampingan yang berguna untuk mendorong ekonomi kawasan sekitarnya. Dalam era IT, maka broadband akan memperlancar Anda bersilancar!

Ide kelima: “Amortality: Forever Young”. Ini kita harus hati-hati mencermatinya, banyak ranjau-ranjau di sini. Isu pokok adalah amortality (never dying) telah mengubah secara revolusioner sikap kita terhadap ‘umur’. Banyak orang yang ingin tampil muda, at all cost! Botox, operasi plastik laku keras. Kenapa? Ini juga bagian pencarian diri, yang kadang-kadang kita lupa bahwa kecantikan natural itu berasal dari “inner beauty”. Apa pula ini?

Seiring pertumbuhan teknologi untuk mencegah penuaan (aging), manusia juga berani menantang hukum alam bahwa sel-sel terus menua! We want to have fun, too!, kata kakek dan nenek. Menurut Nick Bostrom, direktur Future Humanity di Oxford, letak tua atau muda tidak diukur dari sudah berapa kali Anda berulang tahun sejak dilahirkan. Tetapi, di mana Anda berada, dan bagaimana Anda menilai diri sendiri, dan apakah Anda mampu atau tetap ingin melakukan sesuatu. It’s in the mentality!

Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah urusan memudakan manusia di Indonesia merupakan kegiatan industri yang sudah berusia ribuan tahun. Jaman nenek-moyang pun kita sudah mengenal spa, jamu, obat-obat penggairah energi dsb. Jadi, economic side-nya harus dimaksimalkan. Seiring dengan kemajuan peradaban dan kehidupan modern maka kesadaran akan pentingnya amortalitas, penampilan, dan rasa percaya diri akan terus meningkat. Ini kabar gembira bagi para industriawan, termasuk pelaku industri kecil kita. Ruang gerak masih terbuka lebar, termasuk di luar negeri! Tidak hanya wanita, pria pesolek pun kini antri untuk perawatan.

Ide keenam: “Africa: Business Destination” Jangan main-main, Ecobank ber-aset USD. 8 milyar, dengan keuntungan yang menggurita itu bermarkas Lome, ibukota Togo. Masalah persepsi menjadi determinan dalam berbisnis di Afrika.

Afrika tidak lepas dari citra perang di mana-mana, elitnya yang egois berbelanja berlian di New York dengan gemerlapan (dulu kita juga begitu di jaman Orde Baru), korupsi yang endemik, dan rakyatnya sering kelaparan. Bicara Afrika, yang terlintas adalah CNN melaporkan orang-orang Afrika yang ‘against all odds’ seperti di Darfur, Sudan, Somalia, dan Zimbabwe, logika kurang jalan. Sering kurang dapat kita pahami kontradiksi di Afrika, sehingga mengesankan ‘kurang rasional’.

Tetapi, itu dulu. India, sekarang China dan Korea sudah menjarah benua luas itu sampai ke RT/RW! Menurut OECD, investasi luar negeri di Afrika berjumlah USD. 48 milyar, jauh lebih besar dari dana bantuan luar negeri. Harap catat, ini bukan pinjaman luar negeri (dulu kita suka dibohongi Orde Baru, nyatanya hutang tetapi dihaluskan menjadi ‘bantuan luar negeri’). Benua ini kaya dengan komoditas, hutam, ladang minyak, pertambangan mineral. China sudah meraup perdagangan senilai USD. 106 milyar! Dan Tirai Bambu yang telah menjadi kapitalis ini berhasil memenangkan berbagai tender proyek infrastruktur berskala besar.

Poin saya bukan menyuruh kita rame-rame ke Afrika. Wong, untuk menggarap pasar menggiurkan di Eropa, Amerika dan Timur Tengah pengusaha kita kalah jauh dengan negara-negara tetangga kita. Apalagi ke Afrika!. Saya kira, di jaman otonomi ini pengusaha kita harus berpaling untuk melihat potensi daerah kita sebaik-baiknya. Pada saat ekspor melemah, mari kita garap pasar dalam negeri yang sangat besar itu.

Ide ketujuh: “Rent-a-Country” Food isolationism is dead! Krisis beras? Sekarang ini tidak mesti makanan yang kita konsumsi mesti berasal dari dalam negeri. Jika tidak bisa ditanam di gurun pasir, ya beli sajalah dari Indonesia. Maka, Qatar pun membuka hubungan diplomatik dengan Cambodia hanya untuk mengincar lahan, Presiden Korea Selatan berkunjung ke Sudan dengan maksud yang sama. Binladin Group dari Arab Saudi meneken MoU dengan Indonesia untuk menanam padi di tanah seluas 1,5 juta hektar di Sulawesi. Dikutip TIME, Alwi Shihab yang penasihat Presiden SBY sangat instrumental di sini. Daewoo Logistics dari Korea pun menyewa 900 ribu hektar tanah di Madagaskar --sepertiga dari tanah pertanian subur di sana-- untuk proyek investasi agribisnis dan bio-diesel.

Kita telah swasembada beras. Jangan dulu berpuas diri. Sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan berbagai bahan makanan dan bunga dari Asia yang masuk ke Eropa dan Amerika bukanlah produksi kita. Pesannya, adalah bagaimana kita mengembalikan negeri ini menjadi salah satu kekuatan agrikultur dunia. Kesempatan investasi besar di bidang pertanian seperti yang dilakukan Group Binladen di Sulawesi seharusnya juga dilakukan di daerah-daerah subur lainnya.

Ide kedelapan: “Biobanks: Saving Your Parts”. Ini lucu. Banyak bank yang bankrupt di Amerika dan Eropa mulai berfikir alih core business menjadi bank darah! Menurut para ahli, jika Anda telah menyimpan tissue sample, tumor cells, DNA dan darah sekarang, ini berguna tidak saja untuk diri Anda di kemudian hari, tetapi juga bagi orang-orang lain yang membutuhkannya. Setoran sample itu akan menjadi bahan riset untuk menemukan cara-cara baru pengobatan penyakit-penyakit serius seperti Alzheimer ataupun diabetes. AS, Inggeris, Kanada, Norwegia dan Swedia sudah buka. Saya tidak menyarankan investasi Anda di bidang ini. Namun, untuk kepentingan akademik, ide ini perlu difikirkan.

Ide kesembilan: “Survival-Store”, intinya: konsep toko yang berbeda. Toko ini menjual makanan murah, pakaian yang tahan digunakan bertahun-tahun, sepeda listrik, generator dll. Semua ada, bak PT Palugada: apa lu butuh gua ada! Barter juga boleh! Sebenarnya UKMK kita sudah mengenal gaya bisnis seperti ini. Seperti di Medan, disebut konsep kedai sampah. Cuma kedai sampah ini tidak hanya menjual bahan makanan eceran saja. Harus siap juga untuk menjual barang-barang serius. Tidak usah malu kalau kurang gaya, dan kalau kita tidak punya uang. Semua orang jatuh miskin sekarang. Jangan terpukau lagi dengan pria atau wanita berpakaian business suit nan enteng menyebut duit dalam jumlah ‘M’ atau bahkan ‘T’.

Ide kesepuluh: “Ecological Intelligence”, ini istilah yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman sesuai judul buku karangannya. Dia mulai dengan pertanyaan sederhana. Orang-orang Sher di Tibet yang hidup sejak ribuan tahun secara spartan dan hemat, hanya mengonsumsi sumber-sumber seperlunya. Jangan ada yang terbuang. Maka, “they think ecologically”. Mengapa begitu, karena mereka tidak mempunyai opsi.

Sejujurnya, dalam situasi pemanasan global sekarang, kita juga tidak mempunyai opsi. Marilah hidup seperti orang-orang Sher itu, Cara hidup irit ini baik untuk saving. Menurut TIME, politisi bisa ngomong dengan enteng semboyan ‘green label’ atau ‘going green’. Statement ini indah di tingkat retorika, sulit dilaksanakan di lapangan. Makanan atau pakaian organik jelas environmentally sound, tetapi ongkos produksinya malah bisa lebih merusak lingkungan. Contoh, untuk memproduksi 1 kaos katun organik, dibutuhkan lebih dari 10 ribu liter air daripada dihasilkan dengan cara-cara sekarang. Harganya? Jelas jauh lebih mahal.

The moral of the story: kita harus mengubah gaya hidup salah yang tidak mengenal batas (infinite) karena baru belakangan disadari bahwa sumber-sumber di dunia kian terbatas (finite).

Menurut saya, ruang di sini masih terbuka lebar untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi. Semua terlibat, industriawan besar sampai UKMK. Selamat merenungkan.


Warsawa, 18 Maret 2009.

Tuesday, February 24, 2009

MENGAPA PENTING BERDIRINYA PUSAT BUDAYA INDONESIA

Pengantar

Penggunaan softpower dalam hubungan internasional kini kian menonjol. Konsep softpower yang diperkenalkan oleh Profesor Joseph Nye dari Harvard University adalah penonjolan cara-cara non-militer dalam mempengaruhi negara lain atau memoles citra (image polishing) melalui kekuatan politis, ekonomi dan kebudayaan.

Pemerintah suatu negara memproyeksikan softpower tersebut ke luar melalui cara-cara diplomasi publik (public diplomacy campaign).

Dalam tulisan ini saya menyarankan untuk penggunaan amunisi budaya nasional dalam diplomasi publik untuk memaksimalkan capaian pelaksanaan politik luar negeri RI. Budaya nasional kita sangat berpotensi dalam mengokohkan citra bangsa. Yang kita lakukan bukan image polishing, seperti di jaman orde baru, tetapi lebih merupakan good image projection, melalui medium budaya.

Negara-negara besar menggunakan diplomasi publik untuk memperoleh dukungan internasional terhadap kebijakannya. Contoh paling aktual adalah Amerika Serikat yang sangat proaktif di dalam melaksanakan diplomasi publik dengan menggunakan berbagai medium to win the hearts and minds of the Muslim World. Bahkan China, hanya untuk media saja, rela membelanjakan USD. 6,6 milyar untuk membiayai kantor berita Xinhua dan siaran CCTV yang akan dipancarkan dalam berbagai bahasa-bahasa internasional ke seluruh penjuru dunia.

Pada dasarnya diplomasi publik ditujukan kepada masyarakat di luar negeri, melalui instrumen dan cara-cara yang masuk dalam kelompok second track diplomacy, melalui kegiatan pertukaran kebudayaan, dialog antar-bangsa, kerjasama organisasi kemasyarakatan.

Namun, di berbagai negara demokrasi baru seperti di negara kita, euforia di alam politik yang baru juga mendorong aktifnya masyarakat di dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, sebagian kegiatan diplomasi publik juga ditujukan kepada unsur-unsur masyarakat di dalam negeri, sebagai medium komunikasi dengan para elit politik, mengenai berbagai kebijakan pemerintah terhadap isu-isu global tertentu.

Semakin luas pemahaman dan partisipasi masyarakat, di luar dan dalam negeri, dalam pengambilan keputusan mengenai isu-isu prioritas tersebut, maka semakin besar pula dukungan kepada Pemerintah dalam memaksimalkan capaian politik luar negeri.

Departemen luar negeri RI sebagai institusi yang paling bertanggungjawab dalam pelaksanaan politik dan hubungan luar negeri dewasa ini gencar mengadakan pertemuan tokoh-tokoh untuk membicarakan isu-isu luar negeri melalui foreign-policy breakfast, dialog interfaith, melibatkan kelompok akademisi dan think-tank dan pemangku kepentingan lainnya dalam perumusan kebijakan. Medium ini dinilai sangat berhasil.

Tidak kurang pentingnya, kegiatan diplomasi publik pemerintah RI juga dilaksanakan di luar negeri. Kepentingan kita di luar negeri adalah jangka panjang, yaitu memproyeksikan Indonesia sebagai negara besar di dunia. Kita masih perlu memberikan perhatian lebih besar di bidang ini.

Dalam tulisan ini saya menyarankan, agar lebih efekti diplomasi publik melalui diplomasi kebudayaan dilaksanakan melalui pusat-pusat kebudayaan (cultural center) di luar negeri. Saya menyarankan istilah atau nama yang digunakan berikutnya adalah Pusat Budaya Indonesia (PBI).

Meskipun bangsa Indonesia telah berusia 100 tahun, dan telah merdeka 64 tahun, namun kita belum memiliki satu pun PBI. Kita adalah negara terbesar ke-4 di dunia, namun kurang dikenal. Dengan potensi budaya tidak-terbatas, Indonesia juga berhak mengklaim, setidaknya, sebagai superpower di bidang kebudayaan.


Apa Urgensinya?

Urgensi pembentukan PBI berada di tempat tertinggi dalam sistem perundang-undangan nasional. Tidak kurang, Undang Undang Dasar 1945, khususnya pada Pasal 32(1) menggarisbawahi tanggungjawab Negara dalam memajukan kebudayaan nasional di dalam pergaulan antar-bangsa dan antar-negara. Kemudian pada Pasal 32(1) lebih lanjut ditegaskan ”Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan mesyarakat dalam memelihara dalam mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Ironisnya, sampai saat ini kita belum membentuk satupun Pusat Budaya Indonesia dengan status hukum (nasional) yang jelas dan terdaftar sesuai dengan hukum di negara setempat. Memang, telah banyak kegiatan-kegiatan promosi budaya yang dilakukan oleh KBRI bekerjasama dengan berbagai kelompok kesenian dari Indonesia atau dari masyarakat pencinta Indonesia setempat. Namun, kegiatan-kegiatan dan lembaga non-permanen ini belum dapat disebut Pusat Budaya Indonesia, sesuai dengan parameter hukum nasional.

Kegiatan-kegiatan kebudayaan Indonesia di luar negeri yang selama ini telah dikenal al. friendship society, grup tari tradisional, pencak silat, gamelan, kursus Bahasa Indonesia, dan Sekolah Indonesia dalam berbagai naungan KBRI di berbagai negara. Namun, keberadaan dan aktifitas kelompok-kelompok seperti ini selalu dilandaskan kepada kebijakan Duta Besar. Kecuali untuk Sekolah Indonesia, pada dasarnya kelompok-kelompok kegiatan ini tidak mendapat arahan dan dukungan anggaran dari Pusat. Oleh karena itu, keberadaan dan aktifitasnya sering timbul tenggelam.

Statusnya belum mencapai kualifikasi sebagaimana Prancis menggunakan CCF, Inggeris dengan British Council, Amerika Serikat melalui USIS atau PPIA, Jerman dengan Goethe Institute, dan berbagai cultural center dari negara-negara lainnya seperti India, Rusia, China, dan bahkan Nigeria.

Negara-negara tersebut telah menjadikan pusat-pusat budaya sebagai cultural arms dan bagian dari pelaksanaan diplomasi.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kegiatan-kegiatan budaya berkaitan langsung dengan peningkatan citra RI (sebagai negara yang kaya dengan kebudayaan), sambil promosi pariwisata dan meningkatkan perdagangan dan investasi. Ini merupakan nilai-tambahnya.


The Paradox of Plenty

Pepatah nenek moyang kita “ayam mati di lumbung padi” bisa terjadi bagi diri kita, bilamana kita tidak menyadari sebenarnya nenek-moyang telah memberikan warisan secara eksklusif berbagai produk-produk budaya kepada anak cucunya. Mungkin kita belum menyadari, Indonesia adalah "superpower" di bidang kebudayaan.

Mengapa? Indonesia memiliki khazanah yang luar biasa di dalam budaya nasional. Bayangkan, negeri ini terbentuk dari lebih 300 suku bangsa dengan berbagai kelengkapan budayanya: agama dan kepercayaan, bahasa, kesusasteraan, seni tari, musik dan perlengkapannya, seni beladiri, seni-ukir, pakaian, dan makanan dan bakat-bakat beragam pada masing-masing etnis anak-bangsa.

Ratusan suku bangsa nusantara ini dengan bahasa sendiri-sendiri dan kelengkapan budayanya selama ratusan tahun telah berinteraksi, berakulturasi, satu dengan lainnya. Hasil akhirnya, ribuan jenis ukiran, tarian, musik, nyanyian, pakaian, jenis makanan dan berbagai produk budaya lainnya telah mengisi khazanah budaya nasional.

Coba cari, apakah ada di muka bumi ini suatu bangsa yang memiliki kekayaan budaya melebihi bangsa Indonesia?

Warisan nenek-moyang Ini juga dapat menjadi sumber inspirasi para artis, seniman, kalangan industri, yang tidak akan pernah kering. Bila dikemas baik, produknya mungkin mencapai puluh ribuan, atau malah jutaan jenis produk! "The sky is the limit", kata orang. Berbagai industri kreatif kita juga bisa meminjam dari inspirasi karya-karya agung nenek-moyang kita.

Sulit bagi kita untuk mengadakan pameran kebudayaan untuk menggambarkan Indonesia lengkap dan utuh! Terlalu besar, terlalu luas, terlalu kaya! Agar lebih focus, cultural performance kita ditampilkan dengan satu tema atau per provinsi saja. Jangan terlalu ambisius, nanti seperti gado-gado, pesannya tidak sampai.

Jika kita tidak mampu mengembangkan warisan nenek-moyang kita, mengemasnya ke dalam berbagai produk budaya termasuk menjadikannya sebagai kegiatan ekonomi yang menghidupi rakyat, ini menjadi skandal! The paradox of plenty.

Sementara negara-negara lain ada yang megap-megap berupaya mencari dan menemukan budaya sebagai identitas nasionalnya. Bila saya menyaksikan traditional cultural performance di luar negeri, jarang yang impresif, mungkin tidak terlalu signikan, atau mirip-mirip budaya milik bangsa lain. Bagi Indonesia? Tinggal pungut saja, dia ada di mana-mana.

Cultural deficit terdapat di mana-mana. Dan mereka terus-menerus akan berupaya mencari identitas, jika perlu mengklaim, menjiplak atau meniru-niru milik kita. Sering-sering mereka mencoba mengklaim “ini kami punya”, dan bahkan lebih nekad: mendaftarkannya sebagai produk budaya mereka.

Ada pula, seperti AS yang sangat kuat dalam budaya kontemporer, namun budaya ini ada di mana-mana. Sulit diklaim sebagai identitas. Atau menjadi nekad, identitas itu dikaitkan dengan berbagai produk missal, seperti coca cola, popcorn, Starbuck, pizza, breakdance, blues dan jazz, dan berbagai produk teknologi lainnya.

Tetapi produk budaya ini terbatas dalam melahirkan nilai-nilai spiritual, hanya hiburan dan kesementaraan. Dia seperti mode, selalu berganti dan digantikan dengan yang baru. “Budaya” ini lebih terkait dengan gaya hidup saja.

Oleh karena itu, saya yakin jika komponen budaya nasional ini kita masukkan ke dalam paket diplomasi melalui wadah permanen maka hasilnya akan lebih maksimal dalam meningkatkan citra-positif RI di luar negeri.

Semakin banyak bangsa asing mengenal dan mencintai budaya RI, dengan sendirinya semakin kuat pendukung kita di luar negeri. Seperti saya katakan semula, peningkatan aktifitas budaya ini pada akhirnya akan memberikan nilai-tambah untuk tujuan-tujuan ekonomi: pariwisata, perdagangan dan investasi.


Dari Mana Kita Memulai?

Dewasa ini sangat disadari penting segera menyusun strategi nasional dalam mengefektifkan penggunaan jalur diplomasi kebudayaan sebagai “softpower” tadi.

Sekarang, sudah waktunya Pemerintah RI membentuk Pusat-Pusat Budya Indonesia (Indonesian Cultural Center) di luar negeri.

Untuk mengawali pembentukan insitutusi baru ini, saya menyarankan pembentukan pilot project di masing-masing kawasan regional, seperti misalnya Eropa Barat, Eropa Tengah dan Timur, Amerika Utara, Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, Asia dan Pasifik. Pada tahap berikutnya, secara ideal pusat-pusat budaya ini telah terbentuk di semua negara-negara penting di dunia.

Pembentukan proyek percontohan (pilot project) cukup di 2 atau 3 tempat terlebih dahulu sehingga tidak memerlukan dana yang besar. Setiap proyek percontohan memerlukan waktu sekitar 5 tahun untuk menjadi lembaga yang mandiri, dan kemudian dapat dibiakkan ke Perwakilan-Perwakilan RI di kawasan sekitarnya. Dalam proses pembentukannya, KBRI-KBRI se kawasan dapat pula memberikan dukungan/kontribusi di bidang materi kebudayaan untuk pematangan pembentukan Indonesian Cultural Center tersebut.

Sebagai instrumen Pemerintah RI di negara akreditasi, PBI menjadi lembaga non-profit yang memperoleh dukungan dana, tenaga penyelenggara termasuk pelatih, alat-alat kelengkapan/material dari Pemerintah RI serta bantuan tidak-mengikat dari pihak-pihak lainnya.

Bagaimana prosedur pembentukannya? UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri yang juga mengakui pentingnya peranan budaya dalam diplomasi, dan menetapkan bahwa kompetensi pembentukan PBI berada di tangan Menteri Luar Negeri. Melalui PBI, sebanyak mungkin masyarakat pencinta budaya Indonesia dan friends of Indonesia dilibatkan. Pemerintah RI menjadi fasilitator saja.


Rencana Pembentukan PBI di Warsawa

Sejak 2 tahun terakhir, kami gencar melakukan persiapan untuk pembentukan Pusat Budaya Indonesia di Warsawa. Sudah beberapa kali kami mengadakan sarasehan mengundang semua pekerja budaya, baik WNI maupun WN Polandia untuk berbagi pendapat.

Beberapa faktor yang mendukung untuk pembentukannya, saya mencoba simpulkan berikut ini.

Faktor pertama adalah politis. Polandia adalah negara-menengah ukuran Eropa yang berpenduduk hampir 40 juta, anggota NATO dan Uni Eropa, meskipun mayoritas (95%) penduduknya beragama Katolik namun paling toleran dibanding negara-negara lainnya di kawasan, serta sejak dahulu kala memiliki berbagai center of excellence di bidang pendidikan dan kebudayaan setara dengan negara Eropa lainnya.

Hubungan bilateral RI - Polandia telah berusia lebih dari 50 tahun, dan akhir-akhir ini telah mencapai puncaknya melalui kunjungan kenegaraan timbal-balik antara kedua kepala negara. Presiden RI melakukan kunjungan kenegaraan dalam tahun 2003, dan dibalas oleh kunjungan kenegaraan Presiden Aleksander Kwasniewski (2004) dan Perdana Menteri Marek Belka (2005).

Faktor kedua merupakan pertimbangan ekonomi. Dalam tahun 2007, Polandia telah menjadi pasar terpenting di seluruh kawasan Eropa Tengah dan Timur dengan angka perdagangan timbal-balik kl. USD. 600 juta dan ekspor RI kl. USD. 450 juta. Dewasa ini sejumlah investor Polandia bermaksud menanamkan modalnya di Indonesia kl. Senilai USD. 1,2 milyar dalam berbagai proyek infrastruktur di bidang pertambangan dan industri tenaga listrik batubara. Di samping itu, terdapat prospek yang potensial untuk kerjasama bilateral dalam industri strategis, seperti misalnya dalam kerjasama industri pesawat terbang (dengan PT Dirgantara Indonesia), kapal patroli (dengan PT PAL) dan modernisasi radar (PT LEN).

Faktor ketiga menyangkut landasan hukum. Indonesia dan Polandia telah memiliki Agreement on Cultural and Education Cooperation yang ditandatangani pada tahun 2003. Persetujuan bilateral dengan Polandia, dalam format baru sesuai perkembangan sekarang, merupakan pertama kalinya dimiliki Indonesia dari seluruh negara kawasan Eropa Tengah dan Timur.

Kedua negara telah pula menandatangani Protocol on Cultural and Educational Exchanges between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Poland for the Years 2008 – 2011, yang berisikan berbagai rencana aksi.

Dalam Agreement dan Protocol tersebut, pemerintah Indonesia dan Polandia telah menyepakati untuk pembentukan pusat kebudayaan mereka di masing-masing ibukota negara.

Faktor keempat merupakan jaminan kontinuitas dan keberlanjutan (sustanaibility) yang berkaitan dengan infrastruktur yang tersedia dan minat di kalangan masayarakat Polandia terhadap kebudayaan Indonesia.

Sejak beberapa tahun yang lalu, telah terbentuk Warsawa Gamelan Group di bawah naungan KBRI Warsawa dan di Institut Musikologi Universitas Warsawa beranggotan mahasiswa-mahasiswa Polandia. Grup ini telah memiliki status Badan Hukum di Polandia. Selain itu, kini menjamur kegiatan-kegiatan promosi budaya lainnya melalui program pendidikan Bahasa Indonesia di Institut Linguistik pada Universitas Adam Mickiewicz di Poznan, kelompok tari tradisional Indonesia di Gdansk, dan kelompok pencak-silat di Poznan, seni lukis batik, dan berbagai pameran kebudayaan Indonesia di Museum Asia Pasifik di Warsawa.

Di bidang makanan, restoran “Galeria Bali” mulai dikenal baik di Warsawa. Untuk persiapan pembentukannya, Dubes RI Warsawa telah memperoleh komitmen dari Menteri Luar Negeri, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, dan Menteri Pendidikan Nasional.

Tidak kurang, Ketua DPR RI Agung Laksono ketika bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Indonesia dalam kunjungannya ke Polandia pada bulan Desember 2007 yang lalu dan berbagai delegasi dalam rangka kunjungan DPR RI, termasuk Komisi Anggaran, serta DPD RI menyambut baik dan mendukung pembentukan PBI di Warsawa.


Action Plan

Dewasa ini KBRI Warsawa sedang mengintensifkan penguatan infrastruktur al. melalui pendataan/pemetaan potensi seluruh cabang-cabang kebudayaan Indonesia di kalangan masyarakat/institusi di Polandia, serta mengupayakan adanya gedung (sementara) PBI, baik disewa sesuai dengan kemampuan keuangan KBRI Warsawa, atau mencari dukungan dari masyarakat Polandia, terutama di kalangan usahawan yang memiliki kedekatan hubungan dengan Indonesia.

Dalam rangka persiapan pembentukan PBI, KBRI mulai mempersiapkan infrastrukturnya, antara lain, PBI sebagai pusat informasi budaya dan umum, termasuk penyediaan layanan perpustakaan buku-buku tentang Indonesia, sekaligus sebagai sarana untuk workshop, seminar/diskusi, latihan seni budaya tari, nyanyian, musik, film dan teater baik tradisional maupun modern, kulinari, dan sebagai padepokan pencak-silat.

PBI melalui program-program KBRI Warsawa gencar pula melakukan kegiatan promosi kebudayaan Indonesia, seperti pertunjukan budaya, kegiatan rutin pemutaran film-film Indonesia, dan mendorong peningkatan minat warga Polandia untuk belajar bahasa Indonesia.

KBRI Warsawa juga sedang memperkaya koleksi buku-buku tentang budaya dan informasi umum lainnya, memperbanyak kegiatan penampilan budaya baik sendiri maupun bekerjasama dengan berbagai sanggar yang terdapat di Polandia, menyelenggarakan festival film Indonesia, kegiatan latihan-latihan tari, musik tradisional, persiapan pembukaan kursus Bahasa Indonesia.

Kapan PBI akan diresmikan? Pembentukan PBI merupakan pekerjaan besar yang melibatkan banyak pihak sebagai stakeholders. Idealnya, PBI bisa diresmikan dalam tahun 2009, atau setidaknya dalam tahun ini kami telah mempersiapkan berbagai kelengkapan infrastruktur termasuk memulai kegiatan secara teratur.

Peresmian itu seremonial, menjadi soal kedua. Yang penting, jalan dulu. Bilamana telah terbentuk dan berjalan secara permanen, barulah PBI pertama di dunia itu diresmikan. Dengan terbentuknya PBI, maka kita telah melaksanakan amanat UUD 1945 sekaligus kita akan memiliki cultural arms yang efektif dalam mendukung politik luar negeri bebas dan aktif.

Warsawa, 24 Februari 2009

Sunday, February 22, 2009

OBAMABAD

“With one stroke, the Americans have changed the world’s attitude towards them”, kata saya kepada seorang diplomat dalam suatu diplomatic cocktail. Dunia memang berpaling kembali menatap Amerika Serikat, karena kini penghuni Gedung Putih adalah presiden baru seorang yang memiliki nama unik: Barack Hussein Obama. Dia memiliki credentials yang sangat meyakinkan: mantan seorang aktivis masyarakat yang telah meluluhlantakkan mesin politik terbesar di Washington, penguasa Partai Demokrat dan Partai Republik.

Dia muncul dari puing-puing George W. Bush, tokoh yang menurut seorang kartunis Amerika hanya memiliki satu-satunya keberhasilan dalam seluruh masa dua periode kepresidenannya: mengelakkan lemparan sepatu dalam suatu konperensi pers di Baghdad.

Orang mengatakan sejarah baru telah terukir di Amerika, dan dunia pun goncang. Abad Obama telah lahir, atau Obamabad, seperti judul tulisan saya. Ketika Pakistan merdeka, mereka memberi nama ibukotanya Islamabad, merefleksikan harapan kaum Muslim Pakistan munculnya abad Islam di dunia.

Obama adalah pemimpin yang lahir pada saat dunia menghadapi resesi ekonomi terberat, kerusakan lingkungan, marah karena kegagalan masyarakat internasional mencegah Israel dengan sesuka hati, bak memiliki ‘a blank check’, membunuh ribuan anak-anak, wanita, dan orangtua di Jalur Gaza.

Dunia frustrasi karena rakyat Palestina tidak dapat melindungi dirinya menghadapi serangan agresi Israel, meskipun Pasal 51 Piagam PBB memberi hak yang sah untuk bertempur membela diri (self-defense). Ironisnya, Israel malah menggunakan Pasal 51 yang sama, menyerang membabi-buta dan sangat intrusif ke rumah-rumah penduduk, rumah ibadah sekolah dan rumah sakit di Jalur Gaza, dibiarkan.

Makanya, harapan meninggi bahwa Obama akan memimpin dunia kembali ke jalurnya yang benar. Hah! Terlalu banyak masalah-masalah penting di dunia, namun terlalu kecil daya yang dimiliki oleh AS sekarang ini. Bukankah resesi ekonomi dunia sekarang dimulai dari Amerika in the first place? Apa bisa? Nyatanya, negara adikuasa ini hampir lumpuh menghadapi masalah-masalah berskala mammouth!

Di belahan dunia lain, di Indonesia, masyarakat kita bak tersengat menyambut kemenangan Obama. Anak kecil periang berkulit gelap berambut keriting bernama Barry Soetoro yang tinggal pada tahun 1960-an dengan ayah tirinya Lolo Soetoro di Menteng pinggiran, sangat disenangi teman-teman sekolahnya di SD Negeri No. 1 Menteng. Wajar dia banyak memiliki teman dan pengagum di sini.

Obama Mania ada di mana-mana di sudut belahan dunia. Di Berlin, bak seorang superstar, Obama membuat ‘konser’ yang dihadiri sekitar 300 ribu orang, terpana menyaksikan langsung orator ulung abad ke-21. Seperti di AS, Obama dalam kampanye itu hanya menjual tema sederhana: hope and change! Hadirin kesurupan menyampaikan koor “Yes We Can!”.

Dalam konsernya di Berlin, Obama bukan seorang penyanyi meski tampil, seperti biasanya, rapi bak seorang pemain orkes simponi. Dan orang memenuhi Berlin Tiergarten hanya untuk merasakan ‘efek’ Obama.

Heran. Bukannya orang sekarang sudah bosan dengan pidato-pidatoan? Orang sekarang maunya ‘action’! Tidak usah jauh-jauh bisa memecahkan masalah dunia, jika Anda bisa menyelesaikan masalah di rumah tangga pada zaman sekarang Anda wajar terpilih menjadi “Man of the Year”. Jadi, tidak usahlah berambisi mencoba atasi masalah dunia yang menggunung itu.

Dunia Islam pun berharap besar pada Obama karena dia tidak memandang perbedaan agama, etnis dan bahkan peradaban untuk menentukan siapa lawan, siapa kawan. Menurut seorang kolumnis di International Herald Tribune yang menjenguk SD No. 1Menteng, di sekolah itu terpampang coat of arms Garuda, dengan semboyan jelas yang berarti dalam bahasa Inggeris “Unity in Diversity”. Jadi, perbedaan itu rahmat. Obama pun tidak setuju dengan AS mendiktekan kemauannya kepada dunia, mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukan AS di masa lalu. Dia berjanji akan mengubah tabiat buruk itu.


Diplomasi Global

Para diplomat adalah populasi segelintir manusia elit yang ada di setiap negara. Komunitasnya bak Mafia, jejaringnya mendunia. Mereka ini adalah orang yang paling berbahagia menyambut Obama. Kaum profesional lain yang paling bersemangat menyambut Obama Mania adalah politisi. Obama menjadi species baru, menjadi contoh bahwa pada saat bersamaan orang bisa menjadi diplomat sekaligus politisi. Dia top di dua profesi ini. Siapa yang membantah, presiden Amerika itu kini telah menjadi the powerful politician on earth! Nanti saya uraikan, dia juga telah menjadi the most effective diplomat on earth.

Politisi membuat kebijakan. Diplomat menjalankan. Obama sekaligus membuat kebijakan dan melaksanakannya. Dia memang beda. Dan itu yang menggoda, seperti kata Bing Slamet menggambarkan senyum seorang gadis bernama seperti judul lagunya “Nurlela”.

Para diplomat pun bersemangat. Ada titik terang untuk penyelesaian masalah Timur Tengah dan berbagai konflik regional, non proliferasi, degradasi lingkungan, dan penataan ekonomi dunia post capitalism! Wah kerjaan kita bakal seru, ramai, kata seorang diplomat Italia yang pernah bertugas, seperti saya, di PBB New York. You wish!, kata saya kepada teman itu.

Harapan Dunia Islam memiliki satu agenda yang ditawarkan ke Obama: bantulah memecahkan the mother of world’s conflict: masalah Palestina!

Ada juga yang sinis, meragukan kemampuannya untuk melahirkan kebijakan baru bagi terciptanya perdamaian langgeng di Timur Tengah. Dia akan address apa yang menjadi ‘the root cause of the conflict’ bagi saudara sepupu Arab dan Israel di sana. Bukankah konflik dimulai ribuan tahun yang lalu? Apakah masalah ini bisa diselesaikan dalam satu atau dua periode kepresidenannya?

Tidak kurang. Di kalangan diplomatik teman-teman saya yang mengetahui Obama pernah tinggal 4 tahun di Jakarta mencoba mencari informasi seperti:”rumahnya sekarang milik siapa?”. Saya juga tidak tahu. Tapi itu tak penting, bak penggemar menemui artis yang disukainya apapun jawaban sang artis itu info yang penting. Kalau perlu diplintir! Kawan saya wartawan dengan bangga mengklaim “kita ini memang ahli-plintir, spinmaster!”. Bah!

Saya pun bak artis menjawab: “Oh, sekarang rumah itu sedang direncanakan akan menjadi museum, tetapi telah dibeli oleh pemilik baru dari pemilik lamanya, bukan Lolo Soetoro, karena keluarga Obama itu dulu hanya mampu mengontrak. Saya juga turut berspekulasi bahwa nanti di akhir masa jabatannya (saya bilang 2 periode), rumah itu akan bernilai ratusan kali lipat dari harga ril sekarang. Karena, kata saya, Barry itu orang luar biasa, dia mungkin akan menjadi presiden terbesar yang dimiliki oleh bangsa Amerika!

Celakanya, teman saya itu percaya, menganggukkan kepada serius. Atau, memang kelakuan diplomat di mana-mana. Berpura-pura serius, tetapi di dalam hati menertawakan lawan bicaranya. Atau bergossip? Oh, jangan dikira diplomat itu hanya bisa negosiasi bertarung urat leher siang dan malam saja. Saya tahu dan mendengar gossip-gossip di kalangan diplomatik, terutama menyangkut rekan-rekan sendiri atau mengenai politisi penting di negara akreditasinya.

Diplomat juga ahli berbusa-busa. Bak penjual obat, dia akan ngomong terus. Sepanjang didengerin, apalagi audiens-nya banyak sang diplomat akan bersemangan, sering-sering membumbui 'jualannya' supaya laku. Dalam abad IT ini memang sama pentingnya antara kuantitas dan kualitas informasi. Oleh karena itu, para diplomat di mana-mana perlu yakin bahwa sooner or later orang akan percaya omongannya. Oleh karena itu, kawan-kawan mari kita bicara terus, berbusa-busa!

Tidak ada manusia yang lebih hebat dari Obama dalam pembusaan. Bedanya, dia hampir menjadi messiah, mengajak manusia untuk berubah. Celakanya, kita semua percaya itu.

Politisi terbesar abad ke-21 ini telah ber-metafor menjadi diplomat terhebat pula.

Konstituen di dalam negeri selalu mencurigai diplomat itu hanya asyik ber cocktail, travelling, menghabiskan uang yang dikumpulkan rupiah demi rupiah yang disetor rakyat si pembayar pajak. Ini juga kelompok manusia yang sor sendiri!

Rakyat kita juga nggak ngerti, ngapain diplomat berseliweran dengan mobil CD di Jakarta, dan mengapa mereka dengan gampang menemui pejabat-pejabat kita, yang biasanya naudzubillah sombongnya.

“They are sent by the capital to tell lies abroad” demikian kata para senior kami di Pejambon dulu.

Sekarang sulit berbohong, kita bisa ditinggalkan orang. Sekarang dengan gampang orang mengecek info apapun di Google via Blackberry. I do that, too. Makanya, sekarang para diplomat itu harus bener omongannya. Atau dia menjadi tidak efektif lagi!


Konstituen Obama di Indonesia

Menlu Hassan Wirajuda ketika menerima Menlu Hillary Clinton mengatakan Obama memiliki konstituen yang sangat besar di Indonesia. Bedanya, menurut Menlu, konstituen ini tidak memiliki hak-pilih.

Saya berteman luas dengan para politisi, bisa mengerti kecemburuan mereka terhadap fenomena Obama. Dan ini bukan hanya di Indonesia. Prancis, Jerman, bahkan Inggeris atau Rusia sama. Pers di sana berharap dan sedang menggadang-gadang jika figur seperti Obama lahir di sana. Seorang politisi efektif memiliki konstituen yang besar, dan berharap omongannya didengarkan oleh mereka. Di kita terdapat juga begitu.

Sebagai petarung hijau Obama awalnya diremehkan. Dulu, banyak yang tidak yakin pada apakah Obama bisa mengalahkan Hillary Clinton. Dan kalaupun polling membenarkan trend itu, orang-orang Partai Demokrat di AS juga belum yakin apakah nantinya Obama mampu menghancurkan mesin politik Partai Republik?

Obama itu fenomena baru. Orang Amerika itu sangat reseptif terhadap ide-ide baru. And yet, meskipun dia berkulit gelap tetapi ayah (kandung) dan ibunya, juga ayah (tiri) nya memegang gelar PhD seperti dirinya sendiri. Cara berfikirnya juga tidak terbeban dengan stereotype yang dikenakan terhadap warga berkulit hitam di AS. Dia praktis dibesarkan pada lingkungan orang-orang putih dan Asia yang begitu menyayanginya. Coba cari di mana di dunia ini kita memastikan anak-anak terasuh dengan baik, melebihi Obama. Obama memang sangat fenomenal di AS.

Dan, jangan lupa dia seorang intelektual yang dikelilingi setiap harinya oleh ratusan intelektual. Di bidang ekonomi, dia memiliki 400 penasehat top dari berbagai universitas dan pusat-pusat kajian unggulan! Begitu sama di bidang luar negeri, keamanan internasional (international security), sampai kepada masalah lingkungan! Coba lihat, tidak kurang pemegang nobel Al Gore yang sangat getol berkampanye untuk mengatasi perubahan iklim juga menjadi penasehatnya.

Pada waktu melepas teman saya Dubes AS yang akan kembali ke tanah airnya dalam suatu jamuan malam di Wisma Duta di awal Januari yl, saya membayangkan peningkatan intensitas hubungan dan kerjasama bilateral Indonesia dan AS yang lebih substantif, terutama setelah pelantikan presiden baru di Washington DC yang tidak lain adalah Barack Obama, mantan residen di Jakarta yang tidak berlebihan jika dikatakan memiliki keterikatan emosional dengan Indonesia. Seperti saya sendiri, kata saya, yang pernah 6 tahun tinggal di AS juga memiliki perasaan yang sama. “Kami sekeluarga juga menganggap Amerika sebagai rumah kami”, ujar saya kepada sang Dubes Amerika. Dia senang.

Kunjungan Menlu Amerika Clinton di bawah administrasi Obama dimulai ke Asia: Jepang, Indonesia, China dan Korea Selatan. Kita tersanjung, dan berharap era baru telah lahir: comprehensive partnership yang menjadi indikasi ke arah intensitas hubungan bilateral. Tiba-tiba Indonesia telah ditempatkan sebagai negara penting dalam radar AS. Kita tunggu, seperti harapan Menlu, kunjungan resmi, sambil napak tilas, Presiden Obama ke Indonesia.


New Tone From Washington

Bagaimana hubungan Amerika - Iran di era Obama? Saya katakan kepada teman Iran pekan lalu bahwa sekarang ini ada positive tone di Washington yang harapan saya akan mengarah kepada dialog yang substantif, karena 30 tahun tidak ngomongan itu terlalu lama. Saya menyambut baik trend baik ini. Tidak mesti kita setuju dalam negosiasi kita terhadap semua hal. Kita bisa bersetuju untuk tidak-setuju, kata saya. Dia bilang, mengulangi Ahmedinejad, Iran menunggu kapan words will match the deeds, the real one. Tetapi dia juga menggarisbawahi, ada perubahan tone yang positif dari DC.

Pada waktu saya bertamu ke Presiden COP-14 Professor Nowicki di kantornya di tengah kota Warsawa di awal Januari 2009, kami juga berkesimpulan agenda pemerkuatan upaya global untuk mencegah perubahan iklim akan lebih hidup. Karena faktor Obama. Indonesia bersama Polandia dan Denmark memiliki taruhan besar dalam soal lingkungan ini. Ketiganya menjadi troika yang ditugasi oleh PBB untuk menggantikan Kyoto Protocol.

Harapan yang sama muncul dalam soal-soal non-proliferasi. Ada dorongan untuk menghidupkan kembali proses disarmament, peredaan ketegangan dengan Rusia, dan bahkan pemecahan masalah nuklirisasi Iran. Guliran proses G-20, di mana RI duduk di dalamnya, juga merupakan inisiatif AS, untuk menata kembali ekonomi dunia yang sudah porak-poranda akibat ulah para CEO pasar modal dan perbankan di AS.

Begitu pula soal-soal HAM, demokratisasi, penutupan penjara di Guantanamo, Cuba, Korea Utara, Sudan, Kosovo, Zimbabwe, sampai pengungsi Rohingya. Dunia pasca 11/9 dan administrasi Presiden Bush meninggalkan warisan yang sangat berat bagi dunia. Jam berhenti pada waktu itu. Unilateralisme dan semangat crusade meninggi. Either you are with us, or against us. Bush tidak mengenal wilayah abu-abu, padahal dunia ini sudah sangat sophisticated!

Sudah cukup alasan untuk ber-euphoria? Belum. Cairnya situasi, munculnya trust merupakan iklim yang mutlak ada untuk memulai pembicaraan serius dalam perundingan. Tetapi, kata orang hati-hati “ the devil lies in the detail”. Proses diplomasi memang selalu tidak transparan, para diplomat sangat defensif menghadapi pers atau politisi di Senayan yang ingin kita buka-bukaan. Orang bilang, zaman IT semua terbuka, jangan ada rahasia di antara kita. Abad informasi yang terbuka memang sexy, apalagi di era demokrasi. Namun jangan lupa, era informasi bak seorang gadis berbikini, semua yang terbuka sexy tetapi harus ada bagian yang tertutup, dan ini vital!


Genuine and Sincere Leadership?

Tidak ada, sampai saat ini, yang meragukan adanya genuine intentions dari Washington, ada semangat activism di sana. Washington menyadari tanpa leadership dari AS dunia ini tidak semakin aman. Mereka ingin tampil, seperti kata Obama, akan banyak mendengarkan daripada mendikte. AS akan menjadi ‘part of solution’ tidak lagi sebagai ‘part of the problem’. Tentu, tidak setiap pundit (pakar) setuju dengan pendapat itu.

Dari awal kampanye, dimulai tampil pada Konvensi Partai Demokrat tahun 2004 yl, orang terkesima melihat figur yang satu ini. Jika diamati apa yang diucapkannya ketika itu dan dilanjutkan pada saat kampanye sampai terpilihnya Obama, tone, tema-nya kurang lebih sama. Yang tetap adalah kemampuan orator-nya. Orang terkesima, bak seorang pemimpin dari dunia ketiga yang lantang, seperti Soekarno, Nelson Mandela, Castro atau Chavez, Obama sangat memukau!

Dia seperti memberikan pencerahan, mengguyurkan air segar yang membuat orang siuman, melalui pesan-pesan sederhana. Herannya, semua pidatonya yang dimuat di Utube diakses puluh jutaan orang! Ada kharisma di sana. Atau orang telah menjadikan Obama sebagai selebriti dan obyek infotainment?

Tetapi dia tampaknya jujur (sincere). Ini menarik. Bukankah, dunia yang sudah bosan dengan tokoh-tokoh yang berbicara bak tape recorder, pengulangan after pengulangan?. Klise.

Di era pemilu di tanah air, banyak tokoh yang kemampuannya sedang-sedang saja tetapi nekad. Dan begitu yakin orang akan memilihnya. Dalam euphoria demokrasi di negeri kita, memang banyak orang yang sor sendiri. Rakyat mumet? Biarin!. Lagi enak, nih. Dia lupa, dalam split seconds orang bisa mengecek track record mereka via internet.

Banyak juga tokoh di tanah air bak diplomat, bergerak kayak setrikaan, kemana-mana. Tetapi, saya mengamati, mereka cuma asyik dengan proses. Muatan substansinya mane, Om? Kalau sekadar menghadiri acara di sono sini, ane mah biasa. Ini sih mentalitas selebritis. Bagi kita rakyat, yang penting tunjukkan kontribusi Anda untuk kemajuan bangsa, sebagai problem solver!

Etika atau fatsoen politik? Oh ya, ini perlu kita bangun untuk menghasilkan politik yang elegan dan santun. Jangan lupa, kita negara terbesar keempat di dunia. Kita memang perlu behave, accordingly!

Obama memang lain. Dan itu yang menggoda, bak “Nurlela” nya Bing Slamet.


A World Class Diplomat

Salah satu bagian terpenting pidato Obama pada saat pelantikannya ditujukan kepada Dunia Islam. A charm offensive! Kata-kata yang diucapkannya sangat persuasif. And yet, jenis vokal yang dimilikinya juga top. Bak penyanyi kelas dunia seperti Frank Sinatra, Stevie Wonder, Louis Armstrong, Elton John dan Bono digabungkan bersama. Berlebihan? Ya, paling tidak par lah. Dia berpidato bak bersenandung, naik dan turun. Suara bariton tetap! Itulah Obama.

Saya yakin, jika waktunya tidak sibuk dia akan menerima tawaran rekaman suaranya yang dahsyat. Kenapa tidak? Madame Carla Bruni Sarkozy juga telah meluncurkan rekamannya, meski kurang berhasil. Suara Obama yang serak-serak basah bakal menjadi incaran perusahaan rekaman pula. Memang, dia berpidato dengan intonasi yang indah, bak penyanyi.

Suaranya indah melantunkan kata-kata yang indah, sarat dengan pesan, energik. Itu yang menggoda, bak Nurlela tadi itu.

Pada saat Obama disepelekan lawan-lawannya bahwa dia hanya hebat memainkan kata-kata, dia balik bertanya: “ada yang bilang ah, itu hanya kata-kata belaka. Anda bilang words do not matter. Jika Dr. Martin Luther King mengatakan ‘I have a dream’, it’s only words? And Words do not matter, you are wrong!”

Katanya lagi, “that the language we use matters!”. Memang manusia ini hebat dalam persuasi. Sebelum menjadi presiden dia menulis dua buku, salah satunya kenangan tentang kehidupannya di Jakarta bersama aya tirinya, Lolo Soetoro, yang menurut Obama menjadi teman yang baik sekali.

Sulit memprovokasinya jika dimaksudkan untuk membuat Obama marah. He is very cool. Artinya, memiliki temperamen rendah, bukan cool-nya anak-anak muda sekarang yang mengartikan cool sebagai modis, gaya.

Sebagai mantan community organizer, dia berbicara dengan bahasa tubuh yang akrab. Dia berpotensi mengalahkan Ronald Reagan yang terkenal di AS sebagai “the great communicator”. Dia yang memperkenalkan gaya berpakaian ‘santai’, hanya berdasi. Sesekali dia tidak memanggil staf Gedung Putih menemuinya di Oval Office. Suatu ketika dia datang ke ruangan staf Gedung Putih, ketika anak buahnya sedang angkat kaki bersepatu di atas meja. Sang staf gugup, Obama santai. Ketika staf berdiri karena melihat Obama datang, sang presiden malah menyuruh staf duduk kembali. Presiden yang mantan the new kid on the block di Menteng ini belum menyadari, dia telah menjelma menjadi pemegang amanah kekuasaan politik terbesar di dunia. He is now the most powerful man on earth!

Dia memiliki jutaan teman, dari anak remaja sampai ke tokoh-tokoh berusia lanjut. Dia mengalahkan mesin politik terbesar Clinton dan GOP (Partai Republik), tidak saja dari ide-ide cemerlang tetapi juga uang yang berlimpah ruah untuk membiayai kampanye yang massif! Dia memiliki jejaring yang sangat luas, termasuk di Indonesia. Dia menjawab semua pesan yang masuk.

Banyak tokoh-tokoh kita yang ingin meniru Obama, terutama capaiannya. Tetapi, mereka tidak mengikuti proses komunikasi Obama dengan puluhan juta jejaringnya. Obama memiliki tim yang senantiasa menjawab pesan yang dikirim oleh (atau berpotensi menjadi) pendukungnya.

Jika anda mengirim pesan kepada (atau sudah merasa menjadi) tokoh nasional melalui SMS atau via Facebook, tidak usah menunggu jawaban karena memang tidak dijawab, mungkin memang tidak dibaca. Komunikasi se jurusan saja, atau sekadar mengumpulkan pendukung-pendukung untuk mewujudkan suatu ketika agenda politiknya. Ini budaya selebritis!

Di era IT sekarang, banyak cara dan alat yang bisa digunakan untuk memelihara link dengan konstituen atau bakal pendukung. It's important, you talk to them!, pesan Obama kepada staf medianya. Jika Anda tidak merespons pendukung atau pengagum, maka konstituen Anda akan mencari tokoh idolanya yang lain. Tokoh yang santun penuh etika, akrab dan rajin bersilaturahmi di dunia maya itu adalah fenomena Obama.

Menjadi tokoh sekarang memang harus menjadi cool guy!, pesan putra saya. Jangan kaget, acapkali intelektualitas rakyat jelata tidak lebih buruk daripada kita-kita ini lho! Rakyat Banting Tulang (RBT, kata orang Tanjung Balai), jangan disepelekan.

Di dunia anonim maya sekarang, rakyat adalah siapa saja yang bukan pemimpin, do not underestimate them, pesan teman wartawan kepada saya. Jika rakyat bertanya, jawablah. Beri respons, meskipun itu hanya SMS atau dari FB.

Obama bukan hanya menjawab pesan anda. Dia juga sarat substansi. Setiap hari dia berdiskusi dengan ratusan staf Gedung Putih menggunakan berbagai medium. Blackberry juga masih OK punya. Setiap hari dia meng-update pendukungnya, secara personal pula.

Sebagai manusia, dia bukan tidak memiliki kelemahan. Pada waktu dansa di acara inaugurasi dia kedapatan sering menginjak gaun isterinya, Michelle yang anggun. Memang Obama terkenal dengan prowess-nya di olahraga, basket. Dia memang bukan pedansa.

Seperti saya yang tidak pandai berdansa, Obama mungkin akan berdalih “tough guys don’t dance”! He’s a tough guy, too.

Semua kualitas yang dipunyainya: gaya persuasif, teman bicara yang menarik, penulis yang baik, temperamen rendah, cool, menguasai teknik-teknik komunikasi, menguasai substansi, dan memiliki jejaring luas adalah syarat mutlak untuk melaksanakan diplomasi. Obama memang diplomat yang hebat.

Menurut saya, seorang diplomat yang efektif mutlak memiliki kualitas yang dipunyai Obama. Bilamana efektif, dengan mudah diplomat memperjuangkan muatan substansi yang disebut sebagai “the national interest”, kepentingan nasionalnya. Jika diplomat tidak bisa berkomunikasi, memiliki jejaring, menggunakan 'bahasa' yang tepat dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk dengan bangsa asing, sulit menjamin efektifitasnya.

That is what diplomacy is all about.

Kita perlu belajar dari Bapak Obama.

Warsawa, 22 Februar1 2009

Friday, February 13, 2009

Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II

Secara kasat mata, Islam tidak menonjol di Polandia. Maklum, negeri ini berpenduduk mayoritas Katolik.

Umat Nasrani di negeri asal mendiang Paus Johannes Paulus II itu mencapai 95 persen dari hampir 40 juta penduduk.

Namun Islam telah berada di Polandia sejak 600 tahun silam dan memiliki tempat dalam sejarah panjang di negeri yang pernah hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu.

Jumlah umat Islam di Polandia berkisar antara 25-30 ribu, umumnya penganut aliran Sunni, di antaranya sekitar 3.000 - 5.000 berdarah Tartar.

Seiring berkembangnya ekonomi, banyak kaum muda yang dinamis pindah dan menetap di wilayah utara, terutama di Gdansk. Kaum tua Tartar kebanyakan bertahan di permukiman asli mereka di kota-kota kecil di sekitar Byalistok.

Tidak banyak terdapat masjid di Polandia, cuma dalam bilangan jari. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah penganut Islam dari Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan, rumah-rumah ibadah Muslim dalam bentuk mushalla juga berkembang pesat.

Di kota-kota besar seperti Krakow, Wroclaw, dan Gdansk yang memiliki masjid, tempat ibadah itu memiliki multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan dan Informasi Islam.

Gdansk menjadi tempat yang khusus karena memiliki menara, meskipun azan tidak dikumandangkan. Namun, dalam peta Islam kota kecil Kryszyniany dan Bohoniki, di dekat Byalistok, memiliki tempat khusus bersejarah, karena di tempat itu terdapat dua mesjid tua yang kurang lebih sama tuanya dengan yang terdapat di Lithuania maupun Belarus.

Di Wroclaw, menurut Imam Ali Abi Issa yang menjadi Ketua sekaligus imam pada Pusat Kebudayaan Islam, suasana Ramadhan diisi dengan shalat tarawih, pengajian, dan shalat Ied bersama umat Islam setempat.

Imam Ali sangat aktif menggerakkan dialog antar-agama, termasuk antara Islam dan Yahudi berkembang baik. Mayoritas kaum Muslim berasal dari negara-negara Arab.

TKI yang berjumlah sekitar 15 orang juga sering hadir beribadah di mesjid. Dewan Kota Wroclaw sangat mendukung keberagaman dan toleransi yang pada gilirannya akan membentuk citra kota Wroclaw sebagai kota budaya internasional.

Maklum, Wroclaw ingin mengimbangi kedudukan unggul Krakow sebagai kota budaya yang banyak menarik wisata dan investasi, dan keduanya terletak di bagian selatan Polandia.

Iedul Fitri 1429 H merupakan kesempatan ketiga berlebaran bagi penulis sekeluarga selaku Duta Besar Republik Indonesia di Warsawa. Lebaran yang jatuh hari Rabu, 1 Oktober 2008, berdasarkan pengumuman dari Masjid Warsawa. Shalat Ied dimulai jam 0900 pagi, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani dan telah bermukim di Polandia selama 600 tahun.

Masjid Warsawa yang terletak di daerah pemukiman elit di bilangan Wilanow di Jalan Wiertnicza dan umat Islam bolehlah berbangga. Di Polandia tak gampang menemukan masjid. Lebih dari 95 persen rakyat Polandia beragama Katolik, sisanya Protestan, Ortodoks, Yahudi dan Muslim.

Kehidupan beragama pada zaman Komunis menjadi pengamatan intelijen, dan tidak dianjurkan. Pada era keterbukaan, kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, dan Islam semakin berkembang.


Idul Fitri di Byalystok

Ketika Mufti Tomasz Miskiewicz, Ketua Dewan Persatuan Agama Islam Polandia menyampaikan undangan beridul fitri di Byalystok, wilayah timur Polandia, penulis langsung menyatakan akan datang, bersama isteri.

Tidak saja karena berteman baik dengan Mufti Polandia itu, tetapi lebih khusus lagi karena Byalistok merupakan kota bersejarah, di mana selama 600 tahun umat Islam bermukim di kota itu.

Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan dari prajurit Tartar yang gagah-berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410.

Nenek moyang mereka turut berperang membantu Jan Sobieski, panglima perang yang kemudian menjadi raja Polandia, melawan pasukan Ottoman dalam mempertahankan kerajaan Austro-Hongaria sebagai bastion kerajaan Kristen, pada pertempuran Wina pada tahun 1683, sehingga Sobieski diberi gelar oleh Paus dan pemimpin Eropa sebagai "the Savior of Vienna and Western European civilization".

Itulah sebabnya, para pemimpin perang Tartar diberikan gelar kebangsawanan dan memperoleh tempat khusus di hati rakyat Polandia. Panglima-panglima perang dan perajurit Tartar juga dengan gagah berani membela Polandia, tanah air baru mereka, dalam pertempuran menghadapi serbuan Jerman dan Uni Soviet menjelang Perang Dunia II pada tahun 1939.

Mufti Tomasz selalu diundang oleh Presiden Polandia pada saat menerima tamu-tamu negara Muslim, dalam kunjungan ke Polandia. Beliau juga rajin mengunjungi acara-acara resepsi yang diselenggarakan oleh KBRI Warsawa. Mufti yang juga keturunan Tartar itu berusia 30 tahun, cukup berwibawa, lulusan Fakultas Hukum di Arab Saudi dan sangat aktif dalam memajukan masyarakat Muslim di Polandia.

Dia membangun tempat wisata agro di Byalistok, tempat tinggalnya.


Disambut meriah

Setelah menempuh perjalanan dari Warsawa sejauh 200 km diiringi hujan sepanjang hari pada hari Sabtu (4/9), kami tiba di Byalistok berkumpul dengan sekitar 500 masyarakat Muslim Tartar, tua-muda, termasuk anak-anak, yang datang dari berbagai penjuru Polandia, dan bahkan dari luar negeri.

Mereka memadati gedung Pusat Kebudayaan Bialystok, tempat acara berlangsung.

Masyarakat Muslim di Polandia keturunan Tartar menyebut Idul Fitri sebagai Hari Ramadhan Bayram (Dni Bayram Ramadan), mungkin bayram diambil dari bahasa Turki yang berarti perayaan. Orang asing yang hadir barangkali kami dari Indonesia dan Dubes Azerbaijan, yang datang menyumbang konser lagu-lagu Islam oleh grup kesenian dari negerinya.

Etnis Tartar, sebagaimana saudara-saudara mereka dari Asia Tengah dan Kaukasus, sangat ramah dan bersahabat. Semua hadir mengenakan pakaian terbaik, berwarna-warni. Sebagian ibu-ibu dan wanita muda berkerudung.

Demikian pula kaum pria Tartar. Kami bertukar salam. Tidak tertinggal kesan, bahwa kakek-moyang mereka adalah pasukan perang berkuda bersenjata panah dan pedang yang gagah berani. Sayang, cuma dua duta besar dari negara-negara OKI yang hadir, Indonesia dan Azerbaijan.

Delegasi Indonesia dan Azerbaijan diberi kehormatan untuk duduk di barisan depan, dan diperkenalkan kepada hadirin sambil mempersembahkan seperangkat kembang yang indah dan diberi kesempatan berpidato, memperkenalkan Indonesia, negeri yang jauh dan indah di mana sekitar 220 juta umat Islam di sana juga sedang merayakan Idul Fitri.

Penulis katakan, meskipun berjumlah kecil di Polandia namun jangan berkecil hati, karena umat Islam Indonesia adalah saudara-saudara kalian.

Mereka menunggu kedatangan saudara-saudara Muslim dari Polandia. Sangat ramah, dan mereka memberikan tepukan meriah. Beberapa kaum ibu berbincang-bincang dengan Ny. Pohan yang senantiasa berjilbab untuk bertukar informasi mengenai tradisi Idul Fitri di berbagai suku-bangsa di Indonesia.

Mereka terkesan dengan kemajuan umat Islam di Indonesia dan tradisi Idul Fitri yang dimulai dengan berziarah ke makam leluhur, makan pagi dan berdoa bersama keluarga sebelum shalat Ied, dan saling-berkunjung dan memaafkan, termasuk dengan teman dan tetangga. Suasana Ied berlangsung selama satu bulan penuh.


Di kota lain

Suasana Idul Fitri juga bergema di kota-kota lainnya seperti Wroclaw, Krakow, Lublin, Poznan dan Gdansk pada pusat-pusat kebudayaan Islam sekaligus berfungsi sebagai tempat ibadah. Di samping berfungsi sebagai pusat ibadah, tempat-tempat ini juga bermanfaat untuk dialog dan pertemuan dengan masyarakat yang ingin tahu tentang Islam serta dengan penganut agama lainnya untuk menguatkan citra toleransi beragama yang tinggi di Polandia.

Shalat Ied di Warsawa, misalnya, dilakukan di pagi hari dengan suhu dingin 10 derajat celsius. Sebagaimana di Indonesia, dilaksanakan dua rakaat, dan dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab dan Polandia. Imam fasih berbahasa Polandia karena memang lahir dan besar di Polandia.

Imam mengumumkan, sebelum shalat dimulai, umat dipersilahkan untuk membayar zakat fitrah dan bersedekah.

Jam 8.30 pagi mesjid telah penuh sesak, sekitar 400 jamaah pria dan wanita dengan ruang terpisah telah mengambil tempat. Ada pula yang mengabadikan suasana bersukacita itu dengan kamera telepon genggam.

Masjid Warsawa itu terdiri dari dua lantai: wanita beribadah di lantai atas sedangkan pria di lantai bawah. Sebagian ruangan dijadikan kantor, dan ruang depan dijadikan toko koperasi yang menjual berbagai keperluan umat Islam serta makanan kecil halal.

Pada hari-hari kerja, ruangan digunakan untuk pendidikan dan pertemuan sosial termasuk melayani tamu-tamu yang menginginkan informasi mengenai Islam.

Sudah lama masyarakat Muslim di Warsawa, berkeinginan untuk memiliki Masjid Raya, khususnya sejak zaman keterbukaan setelah runtuhnya Tembok Berlin, namun belum terwujud. Apalagi, di beberapa negara Eropa Barat tidak mudah urusan administratif untuk membuat rumah ibadah Islam, meskipun di berbagai kota besar Eropa terdapat ratusan ribu jamaah Muslim.

Ibadah dijalankan di rumah-rumah bahkan di bekas-bekas gudang. Masjid Warsawa itu baru dalam beberapa tahun terakhir berfungsi, karena sebelumnya merupakan rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat.

Di Polandia sekarang ini, umat Islam bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan ataupun diskriminasi.

Menurut Emir Poplawski, imam pada mesjid di Warsawa, Islam tidak bermasalah dan bahkan disambut baik dengan hak dan kewajiban sosial yang sama dengan warga lainnya. Bahkan, karena peran yang bersejarah, Konstitusi Mei 1791 mengakui kedudukan etnis minoritas Tartar yang kebanyakan Muslim dengan posisi menjadi anggota parlemen (Sejm).

ANTARA
COPYRIGHT © 2008
Published: 07/10/08 14:33

Thursday, February 12, 2009

REPUBLIK INI MILIK KITA BERSAMA

Prolog

Reformasi di tanah air baru berusia sekitar sepuluh tahun. Dalam kurun waktu singkat, transformasi mendasar telah mengubah postur republik ke dalam bentuknya yang sekarang. Wajah baru "The New Indonesia" telah muncul dalam bentuk dan format yang tepat.

Menurut saya, bentuk ini telah final, dan akan terus berlanjut dalam satu generasi (kurang lebih 20 tahun) ke depan.

"We are on the right track now". Dengan bangga, kita dapat mengklaim kepada anak dan cucu nanti di kemudian hari. Bisa dibilang, kita telah membuat suatu keputusan yang sangat krusial dan benar dalam kurun 10 tahun, dengan apa yang saya sebut "reinventing Indonesia".

Dalam sejarah dunia, bangsa-bangsa timbul dan tenggelam. Pada jamannya, ada yang pernah berjaya, bahkan menjadi superpower, namun kemudian kehilangan elan-nya, tenggelam dan bahkan hampir pupus dari sejarah dan ingatan.

Ada pula bangsa yang tadi tidak terdaftar di sejarah, seperti bangsa Amerika, yang kemudian menjelma pada abad ke-20 (terutama setelah PD II) sebagai negara adikuasa.

Ada bangsa-bangsa yang bangkit dan menemukan identitasnya pada abad pertengahan dan dalam sejarahnya mengalami masa turun dan naik, bahkan sempat ternista karena, seperti kata Obama “on the wrong side of history”, dan membuat keputusan yang salah seperti Jerman, Jepang, Italia, Spanyol.

Bersama Inggris, Prancis, Rusia dan Polandia, tiga negara Eropa yakni Jerman, Italia, Spanyol pada masa kini menjadi penentu masa depan Eropa. Negara Polandia pernah hilang dari peta politik Eropa selama 123 tahun, tetapi bangsa itu tidak punah bahkan bangkit kembali setelah PD I dan meletakkan batas-batas negerinya kurang lebih di tempat asalnya.

Ada yang membawa peradaban (civilization) baru seperti China, India, Mesir, Irak, Syria, Persia, Ottoman Turki, dan menguasai dunia. Ada juga yang sedang-sedang saja seperti Austro-Hongaria, Prussia, atau sekadar hidup bertahan terombang-ambing ke kiri ke kanan di bawah tekanan negara-negara tetangganya.

Polandia pernah menjadi ibukota pakta militer "The Warsawa Pact" dalam Perang Dingin, dikuasai rejim komunis sampai akhir 1980-an yang ditumbangkan oleh Lech Walesa, seorang tokoh buruh Solidarnosc, yang kemudian mengawali runtuhnya Tembok Berlin diikuti oleh berbagai dampak perubahan pada political landscape di Eropa dengan ramifikasinya.

Muncullah bangsa-bangsa "baru" di Eropa yang sebenarnya dari dulu sudah ada, seperti Croatia, Serbia, Montenegro, Slovenia, Bosnia, Latvia, Lithuania, Estonia, Georgia, Armenia, dan puluhan etnis baru di bekas Uni Soviet dan di Eropa (seperti di Belgia, ternyata ada etnis Flanders yang berbahasa Belanda, dan Wallonia yang berbicara Prancis).

Semua berujung pada konfigurasi atau rekonfigurasi entitasnya. Ada yang berhasil membentuk kesatuan "negara" sebagai entitasnya, sedangkan yang lainnya masih dalam perjalanan, seperti Kosovo, Abkhazia, Tatar, atau masih giat memperjuangkan separatisme seperti Basque (Spanyol), Quebec (Kanada).

Ada pula, seperti Rusia, selalu terombang-ambing apakah mereka bangsa Eropa atau Eurasia, karena daratannya lebih banyak di Asia daripada Eropa. Negara ini pernah menjadi adikuasa, pada saat bernama Uni Soviet dengan atribut komunisme-nya.

Pada saat saya tinggal di sana (1986-1989), negara ini mengalami proses transformasi luar biasa, tidak saja tercerai berai dari 15 republik menjadi 1 republik, tetapi juga meninggalkan ideologi komunisme yang telah mengubah peta Eropa dari calon teater PD III menjadi zona kerjasama politik dan ekonomi.

Transformasi di Eropa masih belum final, masih menyisakan soal-soal etnis, politis, tetapi lebih kurang, situasi di sana sudah terkendali. Mereka sudah bisa tidur nyenyak.

Bangsa-bangsa dapat bangkit kembali bilamana menemukan kembali jati-dirinya, apabila berani melakukan proses "reinventing", dalam menetapkan formatnya ke depan. Semua bangsa-bangsa senantiasa menghadapi ujian-ujian yang terus beruntun datang.

Ujian terberat dan paling krusial, adakalanya menentukan daya juang suatu bangsa. Jika berhasil, bangsa-bangsa ini disebut telah lulus dan bolehlah duduk dalam pergaulan bangsa-bangsa, atau masuk ke dalam kategori "college of the graduates".


Crisis is over?

Indonesia bagaimana? Menurut saya, kita sudah melampaui masa-masa kritis dan telah berada "on the right track". Mungkin saya berbeda pandangan dengan pakar, pengamat atau mengaku pakar yang masih menggambarkan potret Indonesia yang hancur-hancuran. Seakan-akan "the very concept of Indonesia" sudah usang, dan oleh karena itu semua komponen bangsa dipersilahkan mengambil jalan sendiri masing-masing.

Menurut saya, krisis terberat yang telah kita atasi sebagai bangsa adalah dalam kurun waktu 10 tahun yang lalu. Krisis moneter di tahun 1998 yang melahirkan gerakan reformasi dan kejatuhan Soeharto setelah menggenggam Republik selama 32 tahun, berkuasa dengan segala penyakit kronis warisannya.

Situasi chaos terjadi di tanah air, diikuti dengan semangat separatisme kedaerahan dan konflik terbuka kesukuan, politisasi agama, terorisme dsb. Enough is enough!

Menurut pengamatan saya, seperti bangsa-bangsa besar lainnya di dunia kita telah lulus, tidak sekadar mampu melewatinya dengan baik tetapi menghasilkan berbagai prestasi yang membanggakan. Dengarlah pendapat internasional dari berbagai pakar keilmuan yang menyimpulkan setelah menganalisis data (hard facts).

Dengarlah pendapat para generasi muda kita dan tokoh-tokoh yang berfikir kritis tetapi positif.

Keterpurukan "now belongs to history! Things of the past". Di mata internasional kita telah bangkit. Sudah cukup alasan untuk berbangga-bangga? Belum juga. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibereskan.

Pelayanan publik kita masih parah. Menurut saya, yang terpenting sekarang adalah jaminan bahwa ke depan bangsa ini tidak akan mengalami situasi sampai ke titik nadir, seperti pada era reformasi 1998. Saat itu, seakan-akan kita sendiri tidak bisa melindungi diri sendiri secara fisik. Malang benar.

Sekarang kita menjadi bangsa yang telah lulus ujian berat. Suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa membuat keputusan nasional secara tepat pada waktu yang tepat.

Lihat Amerika Serikat, dengan memilih Obama, citra negara adikuasa ini melambung jauh di mata internasional. Dia memiliki sumber legitimasi terbesar dari seluruh pemimpin AS, karena lahir di saat krisis terberat menimpa bangsanya.

Kita juga telah membuat keputusan terbesar pada saat yang tepat: yakni menjadi negara demokratis. Untuk melihat betapa berharganya demokrasi, sulit kita membayangkan bagaimana China menghadapi arus arus demokratisasi.

Tidak satupun pakar tingkat dunia yang bisa memprediksi situasi China dalam 5-10 tahun ke depan. Tetapi, semua ahli bisa memprediksi seperti apa Indonesia dalam 20-30 atau bahkan 50 tahun ke depan. Potretnya, positif sekali.

Mari saksikan negara-negara tetangga di sekitar kita dan juga di kawasan Asia Pasifik lainnya masih mengalami "democratic deficit", belum memenuhi persyaratan sebagai negara demokrasi. Bentuk akhirnya juga sulit diramalkan, sedangkan, bagi Indonesia "democratic path" telah menjadi hasil terbesar karya anak bangsa, setelah Sumpah Pemuda dan Proklamasi.


Indonesia Reinvented

Indonesia baru saja merayakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. "We are a very young nation" yang baru memperoleh bentuk entitasnya sebagai Negara pada tahun 1945.

Bandingkan dengan negara-negara atau bangsa-bangsa yang telah berusia lebih 1000 tahun (Polandia, Bulgaria, Rusia etc), atau bahkan 5000 tahun seperti Mesir, China, India, Mongolia dsb.

Bangsa-bangsa muda seperti Amerika (belum mencapai 250 tahun), Australia, dan Indonesia adalah Negara yang dibentuk berdasarkan konsep negara modern, bukan ethnic-based, seperti Jerman, Italia, Inggeris, Prancis, Rusia, Polandia, atau berdasarkan agama. Nama negara-negara ini diambil dari nama etnis utamanya.

Indonesia? Saya kira tidak ada ahli antropologi dunia berani meng-klaim adanya etnis Indonesia. Lebih dari 300 etnis yang membentuk bangsa Indonesia. Menurut Menlu Hassan Wirajuda, keliru jika orang mengatakan Indonesia adalah Jawa, karena etnis Jawa itu hanya sekitar 40 persen, karena di Jawa masih ada etnis Sunda, Banten, Madura dan sebagainya.

Menlu Wirajuda memang secara konsisten berupaya untuk menampilkan wajah Indonesia di "Indonesian Foreign Service", dengan merekrut semua potensi bangsa, kalau perlu, dari suku-suku terasing sekalipun! Tidak relevan kayaknya berbicara diplomasi di luar negeri atas nama Indonesia tetapi perspektifnya etnis dan lokal. Indonesia itu hanya satu: yakni Indonesia yang menjadi milik kita bersama.

Kembali ke pokok persoalan, "statement" saya di awal tulisan yang mengajak kita semua bersama-sama mendeklarasikan "Indonesia Milik Kita Bersama", yang didasari oleh beberapa argumen pokok.

Pertama, klaim ini bisa saya cetuskan untuk menggambarkan transformasi luar biasa yang terjadi di tanah air. Bahwa kita memiliki Pancasila, UUD 1945 dan NKRI, dari dulu memang begitu. Semua sudah tahu. Bahwa negeri ini memiliki luas wilayah sekitar 7 juta km2, 17 ribu pulau, sedikitnya 300 etnis yang juga memiliki sub-etnis dengan ribuan bahasa, semua juga sudah tahu.

Kita sudah menjadi negara demokratis dengan sistem partisipasi yang inklusif, dan berani berbicara tentang HAM pada tingkat global. Kita berani karena memiliki prestasi. Pada zaman orde baru, pada isu ini kita tiarap, menjadi sasaran tembak. Sial betul!

Sulit menjelaskan, bagaimana transformasi berlangsung dari Indonesia yang dikenal sebagai bangsa perusak lingkungan (di jaman era order baru kita juga tiarap) menjadi bangsa yang dipercaya dalam troika perubahan lingkungan (bersama Polandia dan Denmark).

Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak memiliki masalah di sini. Yang ingin saya katakan adalah bahwa kerusakan lingkungan di tanah air lebih banyak berkaitan dengan kemampuan kita dalam penegakan hukum dan undang-undang. Kerusakan yang bukan merupakan bagian dari kebijakan pemerintah (part or inherent in the policy), seperti di negara-negara lainnya.

Sekarang, muncul "perasaan" yang kuat bagi kita sebagai bangsa setelah melalui proses reinvention, di kancah pergaulan antar-bangsa (bukan chauvinisme). Argumen saya pada poin pertama ini, berkaitan dengan atribut (identitas) dan semangat baru. Indonesia tidak lagi menganut paham "low profile", kita harus duduk di "driving seat", meminjam istilah Menlu Wirajuda.

Ada perasaan kebanggaan yang menguat sebagai "orang Indonesia", tidak perlu ada perasaan minder atau keterpurukan. Ada kebanggaan bahwa dalam kurun 10 tahun ini kita telah berkembang menjadi negara demokratis dengan segala kelengkapan institusi dan normanya.

"Indonesia reinvented" telah dilengkapi dengan semangat inklusivitas, semua untuk semua. Kita tidak memiliki etnis minoritas, semua adalah warganegara. Selebihnya warga negara asing. Kita telah menjadi Negara demokrasi ke-3 terbesar di dunia.

Ini lahan yang sangat luas bagi orang yang menetapkan karirnya di politik, karena banyak lowongan dengan berbagai jaminan-jaminan. Banyak penduduk yang perlu diurus, sehingga bakal tidak ada pengangguran!

Kita dapat berjalan dengan kepala tegak sekarang karena Indonesia telah menjadi negara yang menghormati hak asasi manusia. Bahkan menurut saya, UU Kewarganegaraan kita yang baru adalah sistem yang paling maju di antara seluruh negara di dunia. Bayangkan, di banyak negara di Asia dan Eropa, banyak orang asing (etnis minoritas) yang sudah lahir turun-temurun masih belum memperoleh kewarganegaraan di tempat dia lahir dan mati!


Economic Downturn: A New Crisis?

Ada kebanggaan, ketika negara-negara di dunia menghadapi krisis pangan, krisis energi dan bahkan krisis ekonomi keadaan di tanah air tidak separah itu. Pada saat kelesuan ekonomi melanda dunia, ekspor turun drastis sehingga negara yang mengandalkan pertumbuhan domestiknya berdasarkan ekspor sekarang ketar-ketir.

Ekspor cuma menyumbang sekitar 30 persen dari seluruh kegiatan ekonomi di dalam negeri (PDB). Turunnya permintaan di pasar dunia tentu akan berdampak pada tingkat ekspor, tetapi saya kira situasinya berbeda dibandingkan dengan negara-negara yang sangat tergantung dari ekspor seperti Singapura dan Vietnam, misalnya. Kedua negara ini sekarang terancam resesi.

Dalam situasi resesi, negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti Indonesia sebenarnya tidak perlu khawatir. Jumlah penduduk besar menjadi pasar yang besar.

Bayangkan, tukang sepatu kita memiliki order 250 juta pasang sepatu, toke sembako perlu berfikir keras untuk mengupayakan stok sembako untuk 250 juta mulut. Sektor transportasi harus menyediakan angkutan untuk 250 juta orang. Pengusaha hiburan harus memikirkan bagaimana menyiapkan paket hiburan bagi 250 juta orang! Ini pekerjaan massif!

Dalam situasi resesi ekonomi dunia, kita konsentrasi ke dalam negeri saja sementara ini. Amerika dapat hidup sendiri karena penduduknya besar, tetapi seperti Indonesia mereka tidak dapat menghasilkan sendiri kebutuhannya. Mereka manja. Kita?

Berbagai lembaga ekonomi internasional dan pers telah menampilkan wajah Indonesia yang penuh pengharapan. Data-data yang dilampirkan oleh majalah Economist, misalnya menempatkan potret Indonesia yang tidak jelek jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik lainnya.

Indonesia telah menjadi satu diantara 20 negara dunia yang bertanggungjawab terhadap perekonomian dunia merupakan fakta tak-terbantahkan. Saya kira ini porsi ekonom untuk menjelaskannya.

Alasan kedua, secara diam-diam dan pasti kita telah menciptakan sistem kenegaraan yang terbuka, atau transparan. Saya sepakat dengan para pengamat, kita masih jauh dari memiliki sistem yang sempurna. Di mana-mana begitu. Amerika saja baru sadar bahwa supervisi di pasar modal oleh Pemerintah itu perlu. Bahwa Pemerintah AS juga perlu prudent dalam mengelola ekonomi keuangan. Hah!

Kampanye anti-korupsi dengan efek jera yang `kejam’ menurut saya berhasil. Saya kira, pejabat negara yang waras pada jaman sekarang tidak berani main-main dengan harta negara.

Pada jaman orba kita selalu dicibir pada saat sidang IGGI: para pengutang (kreditor) datang ke rapat naik sepeda atau naik metro/subway dari apartemen mereka yang sederhana dan kecil, sementara yang diutangi (RI), yakni pejabat-pejabatnya datang naik limusin, menginap di president suite pada hotel-hotel bintang 5! Dan, kita selalu bangga bahwa kepercayaan luar negeri meningkat dengan peningkatan "bantuan luar negeri" yang notabene "hutang" yang dibayar oleh rakyat si pembayar pajak!

Saya akui, memang orang bilang, "It's one thing that you have established the system, it's another when it comes to implementation". Kita masih perlu membudayakan demokrasi ke dalam sistem nasional. Kita masih buruk dalam pelayanan publik dan terlalu banyak ruang-ruang yang harus ditata.

Memang perlu kesabaran karena menyangkut budaya, "It takes a generation", kata orang. Membudayakan kebersahajaan dan anti-korupsi dalam keseharian memang masih perlu. Saya setuju harus ada "time-frame".

Masyarakat kita juga tampaknya perlu dipersiapkan, bahwa pekerjaan di sektor negara itu pekerjaan pengabdian, bukan untuk menjadi kaya. Seyogianya pengelola negara itu tidak kaya. Memang susah, misalnya jika menghadapi permintaan sumbangan dari sanak-saudara atau teman dalam rangka pernikahan.

Saya inginnya menyumbang besar (karena memang besar biayanya), tetapi tidak punya uang. Menyumbang sedikit? Masih ada rasa malu, sungkan. Saya yakin ini hanya sebentar saja.

Dalam poin ini, kayaknya sekarang aneh jika seorang pegawai negara (dari jabatan atau eselon berapa pun!) mampu mengadakan pesta pernikahan anaknya bak bangsawan Eropa, di hotel-hotel berbintang dengan mengundang ribuan tamu berdasi!"

New mentality is required". Jangan hanya di permukaan kita mengklaim pola hidup sederhana ala orde baru. Kita masih perlu membudayakannya dalam sikap dan tindakan sehari-hari.

Alasan ketiga, pernyataan bahwa kita bangga menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia harus dibaca dari segi potensi SDM-nya.

Tahun 2009 telah dicanangkan sebagai tahun industri kreatif. Indonesia memiliki SDM yang berusia muda, sekitar 60-70 persen pada tingkat usia di bawah 40 tahun. Sekarang ini menjamur bakat-bakat anak muda Indonesia di segala bidang industri kreatif: berkaitan dengan teknologi informasi dan seni budaya.

Positif bahwa beberapa anak muda kita telah memiliki bagian dalam produksi film di Hollywood dan di bidang pembuatan "software". Sayangnya, Indonesia juga tercatat menjadi "hackers" kelas dunia!

Sudah lama diketahui, kekurangan SDM unggul di banyak negara, termasuk AS, dipecahkan melalui kebijakan imigrasi. Berapa banyak anak-anak muda kita, terutama lulusan terbaik, yang dirayu dan kini bekerja di negara-negara tetangga di Asia Pasifik?

Keempat, saya selalu bangga mengatakan dalam berbagai kuliah, ceramah dan presentasi di luar negeri bahwa Indonesia adalah "superpower" di bidang kebudayaan. (jangan dulu berdebat definisi apa itu kebudayaan?).

Argumen saya singkat, kita terdiri dari lebih 300 suku bangsa dengan berbagai kelengkapan budayanya: agama dan kepercayaan, bahasa, kesusasteraan, seni tari, musik, instrument, seni-ukir, pakaian, dan makanan dan keunggulan-keunggulan di bidang genetika dan karakter positif masing-masing etnis anak-bangsa.

Itu sebabnya, sulit bagi saya untuk memberikan ceramah umum mengenai keseluruhan aspek Indonesia. Terlalu besar, terlalu luas! Saya harus memilih tema-tema dari daerah tertentu saja.

Saya katakan, bayangkan 300 suku bangsa dengan segala kelengkapan budayanya berinteraksi, berakulturasi, satu dengan lainnya. Hasil akhirnya, ratusan jenis ukiran, tarian, musik, nyanyian, pakaian, jenis makanan dan sebagainya.

Ini menjadi sumber inspirasi para artis, seniman, kalangan industri, yang tidak akan pernah kering. Produknya bila dikemas ke dalam industri mungkin ribuan, atau malah jutaan jenis produk! "The sky is the limit", kata orang.

Perbedaan itu rahmat dan indah. Kita lebih mengenal diri kita karena mengetahui orang lain. Kita lebih menghargai diri kita sendiri, karena kita juga harus menghargai orang lain dan sudi hidup berdampingan dengan tetangga kita, apapun atribut etnis atau sosial budayanya.

Hasil akhirnya, apakah telah tercapai toleransi dan penghargaan atas sesama secara substantif! Belum. Jangan biarkan nilai-nilai ini langgeng berada pada di tingkat normatif, atau bahkan semata-mata hanya menjadi statemen politik.

Kejadian di Medan, wafatnya Ketua DPRD Sumut dalam demo berdarah di awal Februari telah menunjukkan bahwa masih ada unsur-unsur di masyarakat kita yang, meminjam pernyataan Obama, "On the wrong side of history". Di sini pekerjaan rumah menumpuk.


The Way Forward

Orang bisa mengatakan, dengan selesainya transformasi mendasar berarti sudah final, "dong". Perjuangan telah selesai, tetapi baru dalam mencapai format barunya. Substansinya? 10 tahun masih kurang cukup waktu.

Ini baru "a new milestone", tahapan baru. Baru merupakan awal melangkah ke depan di jalan yang tepat. Pas: Indonesia modern, berbudaya, demokratis, sejahtera yang menghormati perbedaan (inklusif), dengan sistem partisipatif dan terbuka. "A new Indonesia" sudah berbentuk dan masih "in the making".

Ke dalam masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan pada masing-masing bidang dan bagi semua kita, komponen bangsa. Mari kita pupuk kebersamaan di antara kita dalam membereskan berbagai agenda domestik guna mendukung kejayaan bangsa dan negara kita di dalam pergaulan antar-bangsa.

My bottom line: mentalitas keterpurukan "is over".


COPYRIGHT © 2009 ANTARA
PubDate: 12/02/09 17:36