Thursday, June 23, 2011

Sekolah Terbaik : Memoar Rinto Harahap

TIDAK SEMUA orang beruntung memperoleh pendidikan formal sampai sarjana. Keberuntungan memperoleh pendidikan setinggi mungkin itu ada pada semua lapisan sosial ekonomi. Tidak mesti kaya, banyak anak-anak rakyat di lapisan bawah yang mencapai jenjang pendidikan tertinggi, bahkan professor! Sebaliknya, banyak pula anak-anak dari keluarga menengah ke atas yang hanya tamat SMA atau lebih rendah.

Memang kemampuan ekonomi tidak menjadi faktor terpenting dalam mencapai pendidikan tinggi. Ada kemampuan IQ, ada kecerdasan emosi, konsistensi dan kegigihan. Semua ini faktor bawaan, given, ada pada manusia dalam perbedaan tingkatnya. Yang lain pelengkap. Tak usah diperdebatkan bahwa semua faktor bawaan ini adalah pemberian dari Sang Maha Pencipta.

Di manapun, dan dari lapisan mana pun Anda berasal tidak menjadi faktor bahwa Anda tidak menjadi manusia berguna. Dengan apa yang Anda punyai, atau gelombang kehidupan yang Anda lalui, itu adalah modal untuk ‘menjadi orang’. Karena kehidupan itu sendiri, dengan berbagai terpaan badai atau keteduhannya, adalah sekolah terbaik bagi Anda!

Ini barangkali yang menjadi catatan saya, pada Sabtu petang akhir Mei 2011 di Gramedia Grand Indonesia, ketika menghadiri peluncuran memoir Rinto Harahap yang tidak asing lagi bagi dunia musik pop di tanah air, terutama di sejak era 1970-an sampai akhir abad yang lalu. Penulisnya juga beken: Izharry Agusjaya Moenzir dengan karya terbarunya Gelas Gelas Kaca: Tribute to Rinto Harahap.

Izharry, senior saya di Harian Waspada Medan, juga penulis Bukan Testimoni Susno Duaji, memoir Gesang sang pencipta lagu “Bengawan Solo” dan sejumlah bestseller lainnya. Gramedia. Dia dulu senior saya di Harian Waspada Medan.

Petang itu telah hadir Bang Rinto sendiri, isterinya Lily dan puteri paling bungsu Achi yang dokter gigi. Di samping Izharry sang penulis, telah disiapkan panel untuk bedah-buku memoir itu, tidak lain dari wartawan musik top Bens Leo dan Bang Rinto sendiri.

Beberapa teman-teman dekat Rinto juga hadir, seperti Jajang Pamuncak, Jelly Tobing, Erwin Harahap, Fadyl Usman, etnomusikolog Rizaldi Siagian dan sejumlah anak Medan lainnya.

Erwin Harahap yang kalem dengan gitarnya di Mercys tidak lain abang kandung Rinto sendiri yang menjadi pemimpin grup band yang melahirkan Rinto, Charles Hutagalung, Reynold Panggabean dan Albert Sumlang dalam blantika musik pop nasional selama lebih dari 3 dekade, mulai awal 1970-an juga hadir sore itu.

Endorser

LEBIH DARI sekadar pengagum Bang Rinto, saya hadir dalam acara peluncuran memoar itu atas undangan Gramedia sebagai salah satu endorsers memoar itu. Suatu hari Bang Izharry bercerita sedang menyelesaikan memoar Rinto Harahap. Buku ini sudah digarap selama 12 tahun, dan dia ingin segera menuntaskannya.

“Mantap itu, Bang”, ujar saya. Saya memang penggemar Mercys, seperti lazimnya generasi saya yang kini berusia 50-70 tahun.

Siapa yang tidak kenal dengan Rinto Harahap, pencipta lagu yang merajai musik pop Indonesia pada era 1970-1990an?

Melalui Lolypop Group, kelompok binaan Rinto di luar Mercys, lahir sejumlah nama-nama puncak seperti Diana Nasution, Christine Panjaitan, Betharia Sonata, Iis Sugianto, Eddy Silitonga, Nur Afni Octavia, Nia Daniati, Hetty Koes Endang, Broery Pesulima, Rita Butar Butar, Viktor Hutabarat, dan banyak lagi.

Sebagai endorser, saya juga didaulat berbicara. Jujur saya berkata meskipun belum pernah menyaksikan langsung konser Mercys atau Lolypop atau bertemu dengan Rinto Harahap, tetapi saya dan jutaan lainnya adalah pengagum berat.

“Generasi saya dan bahkan yang lebih tua dibesarkan oleh lagu-lagu Bang Rinto. Kami mengingat lagu-lagu itu karena ada kaitannya dengan kenangan di masa lalu, masa remaja”, kata saya mengawali komentar.

“Jutaan orang-orang seperti saya dan sanak keluarga akan memilih Bang Rinto sebagai presiden jika pada zaman itu kita telah reformasi dan Bang Rinto maju mencalonkan diri menjadi presiden”, ujar saya yang mendapat tepuk tangan pengunjung.

Bang Rinto tidak saja berjasa ‘membesarkan’ kita. Beliau juga menciptakan kehidupan dengan keterlibatan para pekerja industri musik, ratusan ribu orang-orang yang terlibat dalam sektor produksi, pemasaran dan pertunjukan karya-karyanya. Dampak ekonomi itu muncul berkat karya-karya adiluhung Bang Rinto, kata saya bak seorang caleg di Pilkada.

Selama hampir 20 tahun saya tinggal di luar negeri, karya-karya Bang Rinto menjadi pengobat rindu ke tanah air nan jauh. Begitu berartinya lagu-lagu popular Indonesia, termasuk ciptaan Rinto Harahap, bagi masyarakat kita di luar negeri.

Dengan hasil karya berjumlah 518 lagu selama 3 dekade dimulai tahun 1970-an Rinto Harahap memerintah kerajaan musik pop modern Indonesia. Teruji, merekam zaman yang cukup panjang dan mengabadikannya ke dalam karya-karya indah.

Karya cipta Rinto Harahap juga diabadikan dalam album The Masterpiece of Rinto Harahap, bersisikan 14 lagu yang didaur-ulang sesuai konsep musik masa kini dan dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi anyar sekarang. Karya-karya itu abadi.

Jalan Tom Jones atau Rinto?

SAYA lantas mengutip wawancara penyanyi top di tahun 1960-an, Tom Jones, yang merasa menyesal mengapa pada puncak-puncak kehebatan suaranya malah dia menghabiskan waktu untuk show di Las Vegas dan berbagai kota di dunia. Menurutnya, pada puncak prima kehebatan pita suaranya seharusnya digunakan untuk rekaman. Meskipun Tom Jones sekarang ini masih melakukan konser dan full-house di mana-mana, tak-pelak pita suara itu tidak seprima seperti pada era kejayaannya.

Tom Jones menyesal, rekaman suara itu akan menjadi harta karun modal yang akan menjamin hari tuanya.

Saya katakan, Bang Rinto pada puncak-puncak kreativitasnya menghabiskan waktu untuk mencipta lagu dan merekam di studio. Tidaklah mengherankan jika dalam kurun waktu itu Rinto menghasilkan 518 lagu ciptaannya. Bang Rinto lebih beruntung ketimbang Tom Jones.

Saya lantas ingat, ketika Duta Besar Rusia Vladimir Plotnikov mengajak saya untuk sama-sama menyanyikan Benci Tapi Rindu pada acara dinner di tahun 2006. Dubes Rusia yang fasih berbahasa Indonesia ini sangat menyukai karya-karya Bang Rinto. Saya sadar karya-karya Rinto Harahap telah menembus batas-batas kultural antar-negara. Tom Jones juga begitu.

Sore itu, saya pun menyanyikan Benci Tapi Rindu, bersama sang penciptanya, Bang Rinto, diikuti hadirin.

Ingin Kembali Mencipta

PETANG itu Bang Rinto tampak segar. Ketika berbicara, Bang Rinto masih belum lugas. Beliau terserang stroke beberapa tahun yang lalu.

“Saya akan menulis lagu lagi, terutama jika jemari kanan sdh pulih, agar bisa main gitar”, katanya. Doakan kawan-kawan, katanya lagi yang disambut oleh para hadirin yang memenuhi tokobuku Gramedia: Amin!

Penerima Anugerah Seni 1982 dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen P dan K, sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi yang berprestasi itu tak-pelak menjadi a legend. Dia turut meletakkan dasar-dasar lagu populer di Nusantara (termasuk Malaysia, Brunei, Singapura).

Wajar, nama besar Rinto Harahap akan diabadikan dalam sanubari rakyat berbahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara.

Kejujuran Modal Utama

DALAM memoar Gelas-Gelas Kaca, Rinto Harahap jujur bertutur kisah dirinya. Tiada kebetulan, dan manusia bisa menjadikan kehidupan nyata yang dialaminya – di mana pun, apapun status sosialnya-- sebagai sekolah terbaik bagi kehidupan.

Memoar ini sarat dengan pesan. Sekolah kehidupan, lebih dari sekadar sekolah formal, mengajarkan wisdom dan mendorong manusia untuk menggali potensi yang ada pada diri sendiri.

Pada awalnya, potensi sebagai pencipta lagu tidak tampak pada Rinto. Hanya karena terpaan berbagai peristiwa berat Rinto terdorong untuk setia dan jujur menjadi seniman. Berada lingkungan orang-orang yang dicintainya, keluarganya, dan teman-teman dia bekerja keras. Hasil kerja keras itulah yang menghantarkan Rinto menjadi legend, pencipta lagu yang sangat kreatif.

Dia bertutur tentang kampung halamannya di Sipirok dan di masa kecil di Sibolga, tentang ayah dan ibu yang dicintainya. Bertubi-tubi cobaan menimpa keluarga dan dirinya, dan Rinto yang berhati lembut ternyata juga berlatar-belakang dunia keras, preman, di Medan. Ternyata dia mantan Rambo!

Rinto menjadi 'introvert' ternyata pernah mengalami tahanan, namun suka menulis puisi. Puisi-puisi itu kelak akan menjadi tema lagu-lagu ciptaannya.

Rinto Harahap menjadi pribadi yang jujur, seakan-akan terombang-ambing dalam jatuh-bangun kehidupan keluarga ayahnya, mencoba setia dengan anjuran ayahnya untuk menjadi pegawai dengan kehidupan serba teratur. Pada akhirnya, dia terdampar di dunia seni, dan sukses!

Hubungannya dengan kolega Charles Hutagalung yang lebih dahulu ngetop dan memang berbakat diakuinya jujur. Bahkan, Charles yang menjadi sumber inspirasi dan guru baginya. Pada kejayaan karir mereka, sempat kedua teman akrab menjadi seteru. Namun, di masa senja pertemanan itu bertaut kembali.

Zia dan Tasya, teman remaja Rinto digambarkan begitu inspiratif, lebih sebagai teman karena keduanya memahami perasaan Rinto yang halus.

Kisah tentang Tasya, teman remajanya itu diungkap Rinto dalam lagu Katakan Sejujurnya yang menjadi salah satu hit Christine Panjaitan.

“Apa mungkin kita bersatu?”, tanya Rinto yang masih dalam taraf pencarian diri, kemudian merantau meninggalkan kota Medan.

Izharry Agusjaya sang penulis hebat selama 4 dekade adalah orang yang tepat merekam dengan baik dan halus buku memoar itu. Wajar, Izharry sangat memahami degup-jantung anak-anak Medan dengan berbagai perjuangan mereka di ibukota.

Kisah perjuangan dan suka-duka anak manusia yang mirip dengan cerita Laskar Pelangi ini sangat inspiratif dan layak difilmkan.

Jakarta, 24 Juni 2011

6 comments:

  1. saya yang ikut acara idblogilicious Jakarta

    ReplyDelete
  2. setuju bgt kalo difilmkan tuh...

    ReplyDelete
  3. halow mas didno: we'll meet someday, somehow, and somewhere. salam hangat...

    ReplyDelete
  4. @penghuni60: mudah-mudahan ada produser yang tertarik...

    ReplyDelete
  5. Selamat Bang Izhahary sukses selalu ya? Bukunya bagus dan segar-ringan, untuk motivasi berkarya cocok sekali. Sehari habis langsung kami baca lho...proficiate ya?

    Doa dari Ikang Fawzi & Marissa Haque.

    ReplyDelete