Monday, December 28, 2009

Andrzej Wawrzyniak: Duta Indonesia di Polandia


"SAYA akan berangkat bulan Desember ini ke Indonesia, tanah air saya yang kedua. Saya sangat merindukan teman-teman lama, dan tentu berbagai jenis kuisinnya. Rindu ini saya pendam sudah 2 tahun, biasanya saya pulang ke Indonesia setiap tahun," ucap Andrzej "Nusantara" Wawrzyniak (baca: Andzei Vavziniak), Direktur Museum Asia Pasifik yang fasih berbahasa Indonesia. Meskipun telah berusia 78 tahun, Bapak Andrzej tetap aktif dalam berbagai acara diplomatic circles di Warsawa.

Kami terakhir kali bertemu pada penghujung November yang lalu, ketika Paman Andrzej mengundang saya untuk makan siang di suatu restoran masakan Polandia, di pojok kota Warsawa. Pada saat itu dia tampil berjas rapi, katanya dia bersiap-siap untuk berangkat pada bulan Desember ke Indonesia untuk beberapa bulan. Biasanya, kemana-mana dia tampil berbaju batik atau songket.

"Saya khawatir, ketika saya kembali dari Indonesia nanti tahun depan Anda sudah menyelesaikan mandat di Polandia dan pulang ke tanah air," katanya. Saya memang telah bertugas selama lebih dari 3 tahun di Polandia, waktu untuk bersiap-siap untuk berpamitan.



Sesekali, di kala senggang saya suka mampir ke kantornya. Di tempat itu, dia selalu menjamu saya makan siang yang ditutup dengan minum kopi "Luwak" kegemarannya. Katanya, kopi luwak ini beraroma terbaik dan termahal di dunia.

Belakangan ini saya jarang datang, karena hingar-bingar pembangunan kantor dan kondominium mewah "Pacific Plaza" di sebelah kantornya agak mengganggu.

Tetapi dia bangga, karena sebagian ruangan yang cukup luas di Pacific Plaza itu akan dijadikan museum yang akan menyimpan puluhan ribu koleksi benda budaya etnis Museum Asia dan Pasifik, yang saat ini terserak-serak di berbagai cabang museum.

Paman Andrzej, begitu dia lazim disapa oleh semua orang Indonesia yang berada di Polandia, adalah duta seumur hidup Indonesia di Polandia, karena sangat aktif mempromosikan Indonesia melalui setiap tahunnya puluhan kegiatan pameran, pergelaran budaya yang dikelola oleh Museum Asia Pasifik atau menjadi sponsor penerbitan sejumlah buku-buku tentang Indonesia.

Nama "Nusantara" itu tidak lain adalah pemberian dari Bung Karno, karena dia menjadi pengunjung setia di Istana Negara dan mengenal Megawati Soekarnoputri, yang kemudian menjadi presiden dan berkunjung ke Polandia pada tahun 2003, sejak gadis remaja. Ibu Megawati pada saat kunjungan di Warsawa itu, menurut Andrzej Wawrzyniak mengingatnya dengan baik dan tetap memanggilnya "Paman Andrzej".

Karena peran aktifnya dalam mempromosikan Indonesia, maka saya suka bercanda dengan teman-teman di kalangan diplomatik dengan memperkenalkan Paman Andrzej sebagai "the permanent Indonesian Ambassador in Poland", sementara saya sendiri adalah "temporary Ambassador", karena mandat penugasan sekitar 3 tahun.


Andrzej Nusantara memang tokoh istimewa. Pada saat saya akan berangkat menuju tugas baru di Warsawa pada bulan November 2006 yang lalu, tidak kurang tokoh terkenal Alm Ali Alatas menitip salam untuk Paman Andrzej. Banyak diplomat senior dan politisi lama Indonesia yang menjadi sahabatnya.

Pada saat artikel ini ditulis, Paman Andrzej sudah berada di Indonesia atas undangan Dubes Republik Polandia untuk Republik Indonesia di Jakarta, Tomasz Lukaszuk.

Sudah barang tentu, Paman Andrzej yang bertubuh tinggi besar ini sedang memperbarui persahabatan dengan berbagai tokoh-tokoh nasional sejak zaman Bung Karno, pada saat saya masih bercelana pendek di bangku Sekolah Rakyat (SR). Dan, tentu Paman Andrzej sedang menikmati sate Senayan, makanan favoritnya.

"Saya sangat bergembira untuk `pulang' ke Indonesia, bukan karena akan bertemu dengan kawan-kawan lama saja. Tetapi muhibbah ini juga menjadi reuni keluarga kami di akhir tahun, anak lelaki saya yang lahir di Jakarta dan kini menjadi dosen di Timur Tengah dan keluarganya akan bergabung," katanya sambil menghirup tembakau pipa.


Pencinta Indonesia Sepanjang Zaman

Andrzej Wawrzyniak aslinya seorang pelaut yang terdampar menjadi diplomat. Penugasannya di Indonesia, dan kedekatannya dengan Bung Karno, menjadikan negeri itu sangat istimewa baginya. Di Indonesia kegemarannya terhadap barang-barang etnis tumbuh.

Dia lahir 3 Desember 1931 di Warsawa. Sejak usia 16 tahun dia menjadi anak-kapal pada kapal "Dar Pomorza" yang pada tahun 1935 pernah mampir di Indonesia di zaman kolonial, sampai diangkat menjadi pelaut pada kapal dagang. Dia menyelesaikan Sekolah Dinas Luar Negeri di Warsawa dan pada tahun 1956 menjadi pegawai Kementerian Luar Negeri Warsawa, dan selanjutnya menyelesaikan gelar doktor pada Social Sciences School di Warsawa.

Tidak hanya bertugas di Indonesia selama 10 tahun (1961-1971), Paman Andrzej juga pernah bertugas di Vietnam, Nepal dan Namibia, sebagai pengamat PBB, kemudian di Afghanistan (1990-1993), Bosnia Herzegovina (1996) dan Timor Timur (1999).

Pada masa penugasan selama lebih dari 25 tahun di Asia, dia rajin mengumpulkan koleksi dari berbagai benda-benda etnografis dan budaya dari berbagai negara itu. Tidak heran, pada suatu saat Paman Andrzej dan Museumnya menyelenggarakan pameran sangkar burung, topeng-topeng Jawa, ukiran dan benda etnografis Papua, lukisan Bali, kain songket, dan sebagainya.

Sekitar 3000 jenis benda budaya etnis dari Nusantara, sebagai hasil penugasannya sekitar 10 tahun di Indonesia, disumbangkannya kepada Museum Kepulauan Nusantara, yang di kemudian hari berkembang menjadi Museum Asia dan Pasifik pada tahun 1976. Di sinilah awal dirinya menjadi kolektor berbagai benda budaya. Oleh karena waktu penugasan yang cukup panjang dan sahabat-sahabat yang meluas di Indonesia maka Indonesia menjadi negeri yang sangat dicintainya.

Kini museumnya memiliki sekitar 20 ribu jenis koleksi dari berbagai budaya Asia, Australia dan Pasifik. Tidak heran, dia akhirnya diangkat oleh Pemerintah Polandia menjadi direktur seumur hidup di Museum Asia dan Pasifik itu.

Seluruh koleksi itu diharapkannya akan digelar di tempat baru yang bergengsi Pacific Plaza yang akan diresmikan pada tahun 2010.


Penerima Sejumlah Tanda-Jasa

Keistimewaan tokoh yang menjadi duta abadi Indonesia di Polandia ini tercermin dari sejumlah tanda-jasa, medali dan penghargaan yang diterimanya.

Atas jasa-jasanya membina hubungan Polandia dengan kawasan Asia dan Pasifik itulah, Paman Andrzej dianugerahi berbagai medali kehormatan, antara lain, Millennium of Poland Decoration atas pengakuan terhadap kegiatan sosial (1966), Chevalier's Cross of the Order of Polonia Restituta (1967), Merit of "The Keeper of National Remembrance" (1971), Special Prize of the Minister of Culture sebagai kolektor dan direktur museum (1975), Honorary Merit "Distinguished Official of the Foreign Service" dari Menlu Polandia (1978), Medali dari President of of the State Council pada Ultah ke-40 People's Republic of Poland (1984), Commander's Cross of the Order of Polonia Restituta with Star sebagai pengakuan atas komitmen tinggi dalam memopulerkan warisan budaya Asia dan Pasifik (2003), serta tanda-kehormatan dari Pemerintah Afghanistan, Vietnam, Laos, dan Mongolia.

Dari Pemerintah Republik Indonesia Andrzej Wawrzyniak memperoleh tanda-kehormatan, antara lain, Piagam dari Menlu RI sebagai pengakuan atas komitmennya untuk memajukan budaya Indonesia di Polandia (1990), dan Indonesian Order of Service with Star sebagai pengakuan atas komitmen tinggi dan kegiatan dalam memperkokoh persahabatan Indonesia dan Polandia (1998).

COPYRIGHT © 2009
Antara News

Friday, December 18, 2009

ESPERANTO




PEKAN lalu, 2000 orang dari 63 negara ambil bagian dalam 94th World Esperanto Congres yang berakhir Sabtu (1/8) di Byalistok, di timurlaut Polandia.

Byalistok, kota kelahiran pencipta bahasa dunia Esperanto seorang ahli mata Polandia, Ludwik Zamenhof, kali ini dipilih menjadi tuan rumah kongres dunia tahun 2009, sekaligus memperingati hari kelahiran sang jenius yang ke-150 tahun.

Melalui bahasa internasional ciptaannya, Zamenhof telah menciptakan instrumen khusus untuk komunikasi internasional yang netral, demikian resolusi dihasilkan oleh kongres itu.

Para peserta kongres menyatakan Zamenhof wajar mendapat perhatian khusus tidak saja sebagai penciptanya tetapi sebagai seorang yang berjuang untuk terciptanya persaudaraan tulus sesama rakyat di dunia yang didasarkan pada pengertian timbal-balik sepenuhnya.

Zamenhof juga berupaya untuk menghapuskan kebencian yang mungkin timbul karena perbedaan agama dan prasangka rasial serta penolakan terhadap perang sebagai cara untuk menyelesaikan konflik.

Mengapa Esperanto?

Pertanyaan ini membawa ingatan saya dalam kunjungan terakhir ke Byalistok pada akhir Mei 2009 yang lalu.

Meskipun masih beberapa bulan, tetapi suasana persiapan perhelatan sudah terasa. Maklum, Byalistok selama 25 Juli sampai 1 Agustus akan menjamu ribuan pengguna Esperanto dalam kongres se dunia ke-94.

Saya ingin menemukan jejak-jejak peninggalan sejarah masa lalu di kota yang agak lengang ini pada saat memenuhi undangan teman baik saya, Bapak Tomasz Miskiewicz, yang menjadi Mufti Polandia yang berkedudukan di Byalistok.

Kebetulan, saat itu saya diundang kali ini dalam rangka peringatan terbentuknya pemukiman Muslim Tartar sejak 330 tahun yang lalu.

Berbekal sedikit informasi tentang Esperanto saya bermaksud melihat pusat kota tua. Kota tua merupakan ciri-khas penting di Polandia. Di mana-mana di berbagai kota di Polandia saya selalu menyempatkan menghabiskan 1-2 jam untuk membuat foto-foto, maupun sekadar mengobrol dengan teman sambil minum kopi.

“Saluton, mi nomias Haz Pohan, Kiel vi nomias?” Saya mencoba mempraktekkan bahasa Esperanto terbatas kepada seorang pria di taman kota Byalistok.

Pria yang duduk di taman itu menjawab: ”Saluton, mi nomias Maciej”. Saya lalu berbicara dalam bahasa Rusia menanyakan di mana letak tugu Zamenhof, orang jenius dunia kelahiran kota itu, Byalistok.

”Mi ne komprenas”, ujarnya. Dia mengatakan bukannya tidak paham bahasa Rusia, tetapi meskipun kota Byalistok lebih dekat ke perbatasan menuju Belarus yang berbahasa Rusia tetapi dia lebih suka berbahasa Inggeris. Atau Esperanto!

Kedengaran aneh? Bahasa tadi yang saya gunakan adalah Esperanto, atau bahasa dunia yang diciptakan pada tahun 1887 oleh Dr Lazar Ludwig Zamenhof (1859-1917), seorang dokter mata jenius Polandia keturunan Yahudi.

Saya katakan pada Bapak Maciej, pria di taman itu, saya ingin berziarah ke tugu pencipta Esperanto itu. Lalu, dia menunjukkan ke suatu arah dan menuliskan nama jalan. “Use your GPS, than you’ll find the tombs right in the small park at your right side!”, katanya, sambil menuliskan alamat di kertas kecil.

Saya menerima catatan itu, dan mengucapkan “Dankon”, atau terima kasih dalam bahasa Esperanto. Dia membalas: “No dankinde”, atau terima kasih kembali. Saya pun beranjak meninggalkan Pak Maciej. Kami mengawali dan menutup pembicaraan dengan bahasa Esperanto.





Siapa Dr. Zamenhof?

Di taman kecil yang ditunjukkan arahnya oleh Pak Maciej hanya ada patung setengah badan. Sederhana saja. Tetapi tokoh menarik perhatian saya.

Byalistok bukan sekadar kota di mana Zamenhof nompang lahir. Dia juga tumbuh dengan latarbelakang multi-etnis sejak zaman dulu kala, dan dikenal toleran.

Dulu Byalistok memiliki latarbelakang etnis beragam, Polandia, Rusia, Jerman dan Yahudi, di samping Muslim Tartar yang berjumlah sekitar 5000 orang. Sebagai kota multi-etnis, di mana pun, ketegangan etnis dan antagonisme selalu terjadi. Salah satunya adalah tentu salah pengertian, karena menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Ini yang menjadi insiprasi Zamenhof untuk menelurkan idenya.

Dia menuliskan pengalaman batinnya dalam sebuah surat kepada temannya, Nikolai Borovko, kurang lebih:

Tempat kelahiran dan di mana saya menghabiskan masa kanak-kanak memberi arah perjuangan saya ke depan. Dulu di Byalistok warg kota tersekat-sekat oleh pemisahan 4 etnis, Rusia, Polandia, Jerman dan Yahudi, masing-masing menggunakan bahasanya sendiri dan memandang pihak lainnya sebagai musuh. Di kota ini, perbedaan bahasa yang mendasari pengelompokan keluarga manusia dalam ketegangan etnis menjadi sensitivi dan mencekam.

Saya terlahir idealis, diajarkan bahwa semua manusia adalah saudara, tetapi di luar rumah tidak ada persaudaraan. Yang ada hanya kelompok etnis Rusia, Polandia, Jerman dan Yahudi. Ini menyiksa masa kanak-kanakku, meskipun banyak juga orang memberi senyuman padaku. Maka, sejak saat itu saya berjanji akan menghancurkan kejahatan ini.


Esperanto pun lahir pada akhir tahun 1870-an, ketika Bialystok masih menjadi bagian dari Kerajaan Rusia. Zamenhof ingin menyumbang untuk terciptanya harmoni dalam pergaulan sosial sehari-hari kota multietnis itu.

Polandia adalah negeri yang terjepit di antara Jerman dan Rusia, maka sarat dengan sejarah. Tidak kurang, bangsa-bangsa dari utara maupun selatan juga turut ambil-bagian memerintah di sini. Negeri ini pernah hilang dari peta politik Eropa selama 123 tahun, karena 3 kali dibagi habis (partition) oleh pendudukan berbagai bangsa-bangsa di sekitarnya.

Makanya, seorang sejarawan berkebangsaan Inggeris bernama Norman Davies, menulis negeri ini dalam bukunya yang terkenal sebagai: God’s Playground (1979). Buku ini mengungkapkan apa yang dialami oleh orang-orang Polandia dalam sejarah seribu tahun di masa lalu.

Tidak urung, geser-menggeser perbatasan negara selalu menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat yang sudah ratusan tahun berbaur. Di kota Byalistok yang multikultural, bahasa dan agama juga terbelah-belah, dan ini mengganggu harmoni. Ini yang menjadi latar-belakang lahirnya bahasa Esperanto di kota ini.



94th World Congress of Esperanto

Pekan lalu, di kota ini pekan kemarin berlangsung perhelatan 94th World Congress of Esperanto (Esperanto: Universala Kongreso), sekaligus peringatan ultah ke-150 tahun kelahiran L.L.Zamenhof.

Dalam percakapan saya dengan Pan Maciej di bulan Mei itu, kami sempat berbincang-bincang mengenai hari penting tentang Esperanto. Katanya, populasi pengguna bahasa Esperanto kian meningkat, dan bahasa itupun kian berkembang.

Di samping keuntungan untuk berkomunikasi dengan siapapun dari penjuru dunia, Esperanto mengungguli bahasa-bahasa dunia lainnya karena dapat dipelajari 10 kali lebih cepat!

Bahasa Esperanto dibentuk dengan dasar tata bahasa yang dipunyai oleh bahasa-bahasa dunia lainnya. Yang penting, tidak rumit, gampang membacanya dan menghapalnya. Dan tentu, enak didengar. Bacalah seperti apa yang tertulis. Dan, dengan menggunakan bahasa ini Anda dijamin kedengaran agak ilmiah!

Bahasa ini menjadi cepat popular di dunia, dan berhasil menerbitkan majalah pertama pada tanggal1 September 1889, yang kemudian pada tahun 1954 mendapat pengakuan UNESCO.

Katanya lagi, dengan Esperanto maka Anda akan berteman dengan orang-orang dari seluruh dunia dan dengan latar-belakang perbedaan budaya apapun. Tidak usah khawatir, pengguna bahasa unik ini terdapat di seluruh dunia. Esperanto mengeluarkan Buku Saku, yang disebut “Pasporta Servo”
Buku Saku itu (http://www.tejo.org/ps) memuat sekitar 1000 alamat Esperantists, atau orang-orang pengguna bahasa Esperanto, di lebih dari 80 negara.

Mereka juga dengan senang hati menerima Anda menjadi tamu, tanpa membayar akomodasi! Solidaritas yang cukup tinggi, di tengah-tengah langkanya orang yang peduli kepada tetangganya sekarang ini.

Apa tujuan Esperanto?

Para Esperantists percaya, dengan menggunakan satu bahasa yang dimengerti bersama, maka akan tercipta perdamaian dunia. Memang, adakalanya bahasa yang menjadi symbol chauvinisme menimbulkan arogansi yang kurang berkenan di hati orang lain.

Esperanto tidak mengklaim keunggulan Chauvinisme itu, dan bukan bertujuan akan menghapuskan bahasa-bahasa dunia. Tetapi, dia lahir untuk menciptakan kesamaan, sama rata dan sama rasa. Katanya, jika kita menjadi komunitas salah suatu bahasa internasional, maka bangsa pemilik bahasa itu akan menganggap kita berada di bawah ‘pengaruh’ budaya mereka. Orang-orang Esperanto menyebut ini sebagai“language imperialism”.

Esperanto tidak untuk menghapus bahasa ibu. Tujuannya adalah menjadikan Esperanto sebagai bahasa kedua bagi siapapun.

Esperanto memiliki markas besar sejak tahun 1955 di Roterdam, yang disebut Universala Esperanto Asocio [World Esperanto Association] yang berdiri sejak tahun 1908 dan baru memperingati keberadaan seabad pada tahun 2008 yang lalu. Di Rotterdam pada saat itu juga diselenggarakan kongres, dengan berbagai kegiatan linguistik.

Kongres itu sendiri baru dimulai pada tahun 1905 yang berlangsung setiap tahun, kecuali pada saat dua kali perang dunia (1915 dan 1945). Sebelumnya, kongres pernah diselenggarakan di berbagai kota di Inggeris, tahun 1907 (Cambridge), 1926 (Edinburgh), 1930 (Oxford), 1938 (London), 1949 (Bournemouth), 1961 (Harrogate), 1971 (London), 1989 (Brighton), dan, tahun 2009 ini di Byalistok.

Seperti pada pekan lalu di Byalistok, kongres diisi dengan berbagai kegiatan, seperti percakapan, kuliah, konser, drama, dan wisata yang seluruhnya menggunakan bahasa Esperanto.

Seperti percakapan saya dengan Pan Maciej tadi, memang terasa nyaman berbicara langsung dengan orang dari seluruh dunia tanpa kewajiban kita untuk mempelajari bahasa mereka. Jadi, Esperanto lebih dirasakan manfaatnya untuk pergaulan. Dan, dunia pun menjadi damai, begitulah harapan kaum Esperantis.

Meskipun para pengguna bahasa Esperanto akrab satu dengan lainnya tanpa basa-basi, tetapi saya tidak menganjurkan Anda menyapa seorang gadis di sana dan mengatakan: “Mi amas vin“, yang artinya “I love you“.

Gadis itu tetap seorang manusia dengan perasaannya, dan kultur pun memainkan peranan di sini. Saya tidak menjamin Anda berhasil!

Warsawa, 3 Agustus 2009

LAWYERS’ CLUB




ADAGIUM bersabda: 2 lawyers berdebat, lahir 3 pendapat. How come?

Katanya para sarjana hukum lebih banyak membuat onar daripada membantu ketertiban.

Akhir-akhir ini tuduhan menguat, katanya para pengacara lebih banyak menjadi ‘perantara’ antara yang berperkara dengan law enforcement establishments. Atau, istilah Bang Buyung “Markus”, alias makelar kasus.

Ah, saya tidak mau masuk ke ranah ini, karena bidang hukum yang saya masuki lebih banyak terkait dengan hukum internasional dalam konteks tugas-tugas pemerintahan, dan sesekali ada juga yang bersifat litigasi (penuntutan di pengadilan) ataupun non-litigasi (sebagai penasehat, konsultan).

Sebagai lawyers Pemerintah, tentu kami jauh dari filosofi: “Your problem is my profit”. Profit kami, ya gaji yang pas-pasan itu. Tetapi sebagai professional, tentu kepuasan dalam melaksanakan tugas sebaik-baiknya adalah reward tak-terhingga. Apalagi jika case yang dihadapi sampai ke Pengadilan, dan menang! Meskipun kami juga tahu, jika bisa diselesaikan via out of court settlement, maka win-win solution. Semuanya happy.

Kemarin, teman lama saya di Direktorat PI Deplu, Eddy Poerwana berkunjung ke Warsawa, beserta beberapa tim negosiasi dari Deplu, dalam kaitan penyelesaian perundingan beberapa persetujuan bilateral.

Kami menghabiskan waktu di Old Town, Warsaw, di suatu kedai yang terkenal dengan kaki sapi (pod kogutem). Beberapa teman juga turut menikmati anggur panas. Belum tahu? Di Polandia ada jenis anggur yang manis dan hangat, dibumbui pula dengan cinnamon (kayu manis), mungkin pula jahe, ketumbar, dan buah pala. Ini rahasia perusahaan, katanya. Yang jelas, anggur ini memang unik. Karena pemilik restoran ini sudah menganggap saya langganan tradisional, maka bolehlah sambil berdebat kami menikmati rokok kretek yang baunya bagi orang Eropa hingar-bingar.

Lawyers selalu menemukan masalah dalam hidup ini. Jika tidak ada masalah, mari kita ciptakan. Dan, tentu kita selesaikan pula. Jika perlu penyelesaian secara adat.

Eddy yang sebentar lagi ditugaskan di salah satu negara penting di Afrika adalah teman berdebat yang baik. Argumennya selalu tajam, sering kurang saya antisipasi. Karena itu, saya sering kalah.

Meskipun pada dasarnya Eddy seorang pendiam, karena lawyer kami tak urung berdebat.

Karena pada malam itu ada 5 lawyers, bisa dibayangkan berapa puluh pendapat yang muncul dari 1 case, seperti tembakan mitraliur. Teman saya Bambang Hartoyo yang sedang bertugas di Afrika juga lawyer dan baru lulus notaris pula (wah, ini sampingan untuk jaga-jaga jika nanti pensiun, katanya membela diri). Dia bilang, paling tidak para sekondan yang mendampingi para lawyers juga sah menyampaikan pendapat. Jadi 5 lawyer dengan masing-masing sekondan, paling tidak sudah ada 20 atau 30 pendapat. Ramai!

Tetapi, dasar lawyers, kami memang menikmati dunia ini.

Audiens pasti bingung: “orang-orang ini ngomong apa?”

Warsawa, 17 Desember 2009

ARABIAN HORSES




PROGRAM kunjungan yang disusun oleh Kemlu Polandia pada akhir September lalu yang paling top adalah di Janow Podlaski State Stud.

Ini jelas urusan perkudaan. Bukan sembarang kuda, karena tempat yang berdiri sejak 1817 ini adalah peternakan kuda (horse-breeding) terbesar di Polandia, yang terrmasuk dalam peta kekuatan dunia dalam urusan perkudaan. Kuda Arab, lazim disebut the Arabians.

The Arabians di sini, bukan kuda penarik sado di Siantar atau delman di Padang yang pendek dan merintih-rintih. Atau kuda-kuda tinggi besar dan gempal dengan kaki berbulu lebat seperti digunakan turis mengitari Old Town di berbagai kota di Polandia.

Jenis kuda Arab ini ramping, kekar berotot, tampak sangar. Ini ras kuda tertua di dunia. Kuda Arab terkenal karena anggun, pintar, dan dekat dengan manusia, memiliki kepala yang hebat, buntut yang menjulang, punggung yang pendek dan tampilannya ‘threatening’.

Tetapi, kuda Arab dikenal berperilaku baik, pemberani, bersemangat dan tahan seharian berlari.

Dan, ternyata secara anatomi kuda Arab berbeda dengan kuda-kuda jenis lainnya. Arabians memiliki 17 tulang rusuk (kuda lain 18); 5 ruas tulang punggung dan 16 ruas tulang ekor (kuda lain: 6, 18). Tinggi badannya kira-kira 1,5 m.

Dan, meskipun kuda-kuda Arab telah menjadi domain dunia, yang terbesar di AS, namun nama garis keturunannya selalu dilekatkan dengan nama-nama Arab, seperti Fayad, Qasameh, Abu Hejl, and Sahara, Mlecha, Pharaoh and Gazella dsb.

Dalam budaya Arab, kuda menjadi bagian kehidupan sehari-hari orang Badui (Bedouin), sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi , ada yang berpendapat kuda-kuda Bedouin ini berasal dari Yemen.

Nabi Ismail, anak dari Nabi Ibrahim menjadi legenda, karena menjadi manusia pertama penunggang kuda. Tradisi penunggang kuda, dan pemilik peternakan kuda, ini diteruskan oleh para keturunan Nabi Ismail dan dicatat secara sistematis oleh El Kelbi pada tahun 786.

Nabi Muhammad s.a.w. memiliki kuda bernama Os Koub ("the Torrent"), jenis Bedouin, karena larinya seperti kilat.

Maka. sejak tahun 622 M, atau 1 Hijriah, kuda Arab memainkan peranan penting dalam sejarah Timur Tengah dan Islam yang kemudian berkembang ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Pada tahun 711 pasukan perang Islam mencapai Spanyol dan menguasa Jazirah Iberia pada tahun 720 berkat kuda-kuda hebat ini.

Menjadi perhatian dunia? Ya, karena kuda-kuda Arab inilah yang termashur di tingkat duni, bintang dalam berbagai kontes, jawara tingkat dunia: berlari, akrobatik, berburu.

Pada zaman dulu sebelum manusia mengenal kendaraan perang, kuda menjadi determinan terpenting untuk memenangkan perang karena kecepatannya. Karena kecepatan luar biasa pasukan Islam inilah, maka pada ekspedisi orang-orang Eropa dalam Perang Salib yang dimulai tahun1095, dalam penyerbuan merebut kembali Palestina, mereka selalu membawa pulang ke Eropa kuda-kuda Arab itu.

Lalu, Ottoman Empire yang mulai berjaya pada tahun 1299 juga berperan memopulerkan kuda-kuda Arab di Eropa, baik sebagai pemberian atau dijual. Ottoman juga menyerbu Hungaria pada tahun 1522 dengan 300 ribu pasukan berkuda.

Sejarah mencatat, pada tahun 1683 pasukan Ottoman yang telah mencapai Wina dikalahkan oleh pasukan Polandia yang dipimpin oleh Raja Jan Sobieski III, yang kemudian menyita kuda-kuda terbaik Turki itu.

Belakangan, kuda-kuda ini yang menjadi stock dari berbagai peternakan kuda Arab di Eropa Timur.




The Polish Arabians

Sejarah kuda Arab di Polandia terkait dengan perang yang bertalu-talu menghunjam negeri ini, sejak zaman Mongol, Tatar dan Turki sampai PD I dan PD II. Bahkan, di zaman perang modern PD II, kuda juga menjadi rampasan perang yang sangat berharga.

Tradisi pemeliharaan kuda terbentuk lama. Perdamaian Polandia dengan Turki pada 1699 membuka kesempatan untuk memperoleh kuda-kuda Arab yang kemudian berkembang pesat pada abad ke-18. PD I hampir memusnahkan tradisi horse-breeding, pada akhir perang hanya tinggal 25 kuda betina (mares) yang tertinggal. Tetapi orang-orang Polandia membangun kembali, dan pada tahun 1926 berdirilah Arabian Horse Breeding Society.

Peternakan kuda Arab Polandia didasarkan pada garis keturunan kuda betina, dengan jantannya berasal dari sekitar 30 jenis keturunan (sire lines), terutama jenis Kuhailan Haifi.

Alkisah, sejak Raja Sigmund Augustus (1548-1572) yang memiliki Royal Stud Farm “Knyszn” dan kuda-kuda Arab, maka para bangsawan Polandia pun berbondong-bondong ke negeri Arab untuk mencari kuda terbaik mulai abad ke-17.

Mereka juga mengembangkan peternakan murni maupun campuran, dengan mengawinkannya dengan kuda-kuda Eropa. Namun, di Janow Podlaski breeding program baru dimulai pada tahun 1919.

Perang Dunia I juga berdampak pada peternakan kuda Polandia, dari 500 kuda betina, hanya 46 yang masih hidup dalam tahun1926.



Pada tahun 1930, Prince Roman mengutus orang-orangnya untuk membeli kuda betina Bedouin dan kuda jantan Kuhailan Haifi, dan kemudian 5 kuda jantan dan 4 kuda betina. Dari peternakan ini pula lahir keturunan Kuhailan Haifi bernama Ofir, namun pada tahun 1939 diambil orang-orang Rusia, dipelihara di Tersk yang menjadi cikal-bakal kuda-kuda Arab di Rusia. Yang terselamatkan dari agresi ini adalah Witraz, Weiki Szlem, and Witwz II, yang anaknya, Bask, kemudian menjadi trademark karena menjuarai berbagai pertandingan di Amerika Serikat.

PD II kembali menghancurkan Polandia. Banyak jenis kuda unggulan yang lenyap, baik dicuri maupun dijual ke AS. Peternakan kuda di Janow Podlaski yang saya kunjungi, terutama isinya, dievakuasi ke Jerman pada 1944 dan setelah kalah perang pada 1946 baru dipulangkan Jerman ke Polandia.

Di samping Janow Podlaski, peternakan kuda lain di Polandia adalah di Michalow (terbesar di Eropa setelah PD II) Kurozweki (yang memiliki jawara Euforia and Eukaliptus), dan di Bialka.

Kehebatan dari peternakan kuda-kuda Arab Polandia ini tersohor dan dicari dari penjuru dunia. Beberapa yang terbaik adalah Banat, Bandos, Struria, Penitent, Pilarska, Dornaba, Aramus, Wizja, Gwalior, Elkana, dan Erros. Ini berkat Dr Skorkowski dan Dr. Ignacy Jaworowsky.

Janów Podlaski didirikan 1817 dengan modal 54 kuda jantan, 100 kuda betina, 33 anak kuda, dan sejak 1979 menjadi even utama untuk the Polish National Arabian Horse Show, biasanya diselenggarakan pada pertengahan Agustus. Dalam beberapa hari dilakukan demonstrasi dan akhirnya lelang yang mengundang penggemar dari berbagai pojok dunia.

Dalam event nasional ini dipamerkan sekitar 100 kuda terbaik dan termahal. Karena hebat dan langka, maka harga lelang paling top tahun ini mencapai Euro 2 juta, seekor! Bukan main. Jauh lebih mahal dari harga mobil paling top dunia.

Foto-foto telah dimuat di Facebook dengan nama yang sama: Haz Pohan, saya buat dengan Nikon D-5000, Nikkor zoom lens 70-300 mm, F/4.5-5.6, dengan kecepatan tinggi.

Warsawa, 12 Desember 2009

ISTANBUL : 3000 BC

SEWAKTU tinggal di Bulgaria 15 tahun yang lalu, saya ada beberapa kali berkunjung dengan keluarga di kota bersejarah ini.

Maka, waktu 12 jam transit di Istanbul saya manfaatkan untuk napak-tilas, dalam dari Indonesia menuju Polandia bulan Nopember lalu: city-tour.

Saya tiba dinihari dalam penerbangan Turkish Air dari Jakarta, sedangkan penerbangan selanjutnya ke Warsawa baru pada sore hari. Baru pertama kali saya naik maskapai ini, mungkin terpengaruh Kevin Costner: I feel like a star!

Mumpung, sebagai pemegang paspor diplomatik Indonesia saya tidak memerlukan visa ke Turki.

Saya tadinya ingin naik kenderaan umum, seperti disarankan petugas bandara. Tetapi, mungkin karena lelah akhirnya saya terpengaruh rayuan suatu perusahaan travel untuk mengambil private-tour, dengan mobil yang disupiri seorang guide-tour.

Karena khawatir bila telat kembali ke bandara sore nanti, saya setuju paket city-tour, dengan membayar TL 400, atau sekitar USD. 275.

Saya sudah tidak sabar mengunjungi kembali tempat-tempat bersejarah.

Menurut sejarah, Istanbul pada bagian Asia telah dihuni sejak 3000 BC, dan baru pada abad ke-7 orang-orang Yunani membangun koloni yang disebut “Byzantium”, di tepi selat Bosphorus yang menghubungkan the Golden Horn dan Laut Marmara, berarti Asia dan Eropa. Istanbul, dulu dengan nama Constantinople, baru pada tahun 100 BC menjadi bagian dari Kerajaan Roma, dan pada tahun 306 AD oleh Maharaja Konstantin dijadikan ibukota kerajaan Byzantium.

Peristiwa terpenting ialah pada zaman pemerintahan Raja Justina I, tepatnya pada tahun 532, berdirilah bangunan gereja terkenal, yang disebut Hagia Sophia dan setelah kota ini dikuasai Ottoman, diubah menjadi Mesjid Aya Sofia, namun sekarang berfungsi museum.

Sejarah terpenting tentu pada saat pasukan Ottoman Turki yang dipimpin oleh Sultan Mehmet II menaklukkan Constantinople pada tahun 1453 dan menamakannya Istanbul, yang kemudian menjadi ibukota kerajaan Islam terakhir di Eropa.

Pada waktu Republik Turki di bawah Kemal Ataturk lahir pada tahun 1923, ibukota dipindahkan ke Ankara. Ini tidak mencegah berkembangnya kota budaya yang indah serta kaya sejarah ini mencapai 13 juta penduduk. UNESCO pun telah menjadikan Istanbul warisan budaya dunia sejak tahun 1985.

Kota ini memiliki banyak objek menarik, seperti museum, kastil, istana, mesjid, gereja dan water tower yang bersejarah.

Istanbul dijuluki “Kota 7 Bukit” karena bagian bersejarah kota dibangun di atas 7 bukit, masing-masing mempunyai mesjid historis dengan 4-menara.

Beberapa distrik menarik di kota itu ialah Haydarpasa, Uskudar, Eyup, Galata, Perapalas, Ortaköy, Bosphorus, Taksim Eminönü dan Sultanahmet.

Pada waktu pembangunan stasiun kereta bawah-tanah (subway) Yenikapi dan terowongan Marmaray di tahun 2008, ditemukan tempat hunian yang dibangun pada tahun 6500 SM pada era neolitik. Banyak ditemukan budaya tembaga yang berasal dari tahun 5500–3500 BC dan berbagai benda-benda sejarah. Byzantium sendiri dibangun oleh bangsa Trakia, pada abad 13-11 SM, seperti peninggalan yang kini masih terdapat di Bulgaria.

Kerajaan Byzantium dibangun di atas budaya Yunani, dan menjadi pusat Ortodoks Yunani, karena itu banyak terdapat gereja-gereja yang hebat, seperti Hagia Sophia, yang dulu menjadi gereja katedral terbesar di dunia.
Para ekspedisi ke-4 pada tahun 1204 dalam Perang Salib In 1204, alih-alih menaklukkan Jerusalem, pasukan Eropa malah menghancurkan Constantinople, dan kota ini menjadi pusat Katolik Latin.

Seperti ditulis dalam sejarah, pada 29 May 1453, Sultan Mehmed II "Sang Penakluk” berhasil merebut Constantinople setelah perang 53 hari, dan akhirnya menjadikannya ibukota Ottoman. Grand Bazaar, sayangnya saya tidak mampir, dibangun pada masa ini, beserta bangunan bersejarah Istana Topkapi dan Mesjid Eyup Sultan.

Meskipun cuma 5 jam memanfaatkan private-tour dengan membayar 275 dollar, tetapi worth it lah seperti terefleksikan dalam sebagian foto-foto ini.

City-tour menjadi lebih berkesan, karena pada saat mengagumi obyek-obyek sejarah di Istanbul saya menerima pesan SMS beruntun: pada hari itu saya berusia 56 tahun.

Tour ini tanpa rencana tentunya, karena lazimnya saya merayakan dengan keluarga. Tetapi malang tak dapat diraih, ketika berangkat 10 Nopember dari Jakarta jalan macet total, saya ketinggalan pesawat. Dan terdampar di Istanbul.

Meskipun tertunda sehari, nasi kuning lengkap bersama doa keluarga di Warsawa akan memulihkan semangat. Dan, mission accomplished!

Saya membuat foto-foto, yang telah dimuat di Facebook, dengan nama saya, Haz Pohan. Silahkan menikmati!

Istanbul, 12 November 2009

WE WANT TO REGAIN OUR MARKET SHARE

Warsaw Voice, 23 April 2008 (http://www.warsawvoice.pl/articleX.php/17686)

Indonesia, a country of 250 million people, is overcoming the economic problems that all of Asia experienced in the late 1990s and is working hard to regain its market share in Europe. The Indonesian embassy in Warsaw is organizing a Trade Expo in Warsaw May 7-10 together with 26 Indonesian embassies throughout Europe.

Hazairin Pohan, Ambassador of the Republic of Indonesia, talks to Jolanta Wolska.

Why did you decide to hold the Expo in Poland?

We wanted to find a central bridge between Western and Eastern Europe. So Poland was a natural choice. And secondly, we wanted to find a country with a robust economy, and I think Poland is already a big market with 40 million people and has a very dynamic economy. Because of the Asian economic crisis in the late 1990s and competition, Indonesia lost its market share in Europe. We now need to show our European counterparts that Indonesia is very competitive both in terms of prices and products. Through this Expo we want to show that Indonesian businessmen are reliable, and we are confident that we will be able to regain the losses that we have suffered. In the last two years we have had around 6-7 percent economic growth. Before the crisis Indonesia had around 8-9 percent growth.

How many companies will be present at the Expo?

We have 26 embassies all over Europe and three consulates-general, and we are all working to bring buyers and investors to Warsaw.

We expect there will be around 1,000 Indonesian companies-manufacturers, wholesalers and distributors. Because of Poland's strategic location I think Poland deserves to be the center for distribution and Polish businesses should establish ties with Indonesia. More than 5,000 buyers and investors will come to Warsaw for the Expo.

What Indonesian businesses are there in this country?

There are several South Korean companies that are listed in Indonesia, and there are Indonesian companies owned by the Koreans that established their factories in Poland, dealing mainly in electronic goods. There is also a strong interest from Indonesian developers who want to invest in building housing complexes, malls and apartments.

What does Indonesia export to Poland?

We mainly export industrial products, electronic components, building materials and pipes, and of course our furniture. We also export other energy-related products and a derivative of palm oil. We do not yet export our natural resources, but there are several companies in Indonesia that will come to Warsaw from this sector. We are open to investment in oil and energy, especially coal.

What does Indonesia import from Poland?

We import helicopters, ships, machinery and also dairy and meat products. The trade balance in 2007 was $600 million between our two countries and it is in our favor.

You are also looking to expand tourism to Indonesia.

Around 150 companies in the tourism industry will come from Indonesia for the Expo. The increasing per capita income in the whole region, particularly in Central and Eastern Europe, creates a big market for tourism. Unfortunately, the number of tourists from this region is still small-around 10,000 every year from Poland, 50,000 from Russia, and around 5,000 from the Czech Republic. So it is not so big in comparison with other destinations like other traditional Southeast Asian countries, such as Thailand. But I think that Indonesia offers innovative ways of promoting and developing its tourism industry. Indonesia is an endless destination, especially for eco-tourism; we have beautiful places in our country. We will also have 150 artists performing during our Expo from different parts of Indonesia, which is a unique opportunity to see our country's cultural wealth. Our cultural richness is endless with 300 ethnic groups which bring with them their own specialties.

Indonesia has a large number of golf courses.

Yes, lots of them. I organized two golf trips from Poland to Indonesia, and around 30-40 people joined the delegation. We visited several Indonesian provinces, and apart from holding business-to-business meetings our Polish guests cold enjoy golf while conducting business. Golf is very well developed in my country; we have about 150 golf courses and around Jakarta alone you can find 44 of them.

What cultural and educational agreements and exchanges does Indonesia have with Poland?

We signed a cultural and educational agreement with Poland in 2003. We have completed negotiations and I expect this document will be signed this year.

As part of the agreement, we agreed to the exchange of students and lecturers and research cooperation among universities, including cultural exchanges. As part of cultural cooperation our government is working to establish the first Indonesian cultural center in the world in Warsaw.

Additionally, every year we offer 40 scholarships for Polish people to study Indonesian culture, language, dancing and music.

I notice that you are drinking Polish tea-that is black tea with lemon. Have you gotten used to Polish food?

I always prefer Polish food when I am in Poland. It is part of my philosophy to eat the food of the country where I am living. I believe that eating the local food keeps one healthy. And my favorite Polish food is the barszcz soup and pierogi. I also like Polish grilled meats and the large variety of salads here.

FIRST INDONESIAN EXPO IN WARSAW

More than 1,000 Indonesian businesspeople are set to come to Poland for the first Indonesian Expo in Central and Eastern Europe (IE-CEE) to be held in Warsaw, May 8-10.

Called Bridging the Distance, the event will be Indonesia's main export and investment promotion program in Europe as part of the country's national action plan for 2008-2012.

At a press conference at the Polish Information and Foreign Investment Agency (PAIiIZ), Feb. 12, Indonesia's ambassador to Poland Hazairin Pohan said, "My government is committed to making the first IE-CEE in Warsaw the country's showcase and to demonstrate that the new Indonesia is a reliable partner on European markets. A lot has changed in the European landscape during the past decade, including the emergence of serious competitors from Asia and the Pacific region."

Pohan said that the first IE-CEE would be the largest and most comprehensive Indonesian exposition of trade, investment and tourism in a foreign country in 2008 and would be an excellent opportunity for Indonesia to display its best products and services in trade, investment and tourism from more than 1,000 top Indonesian companies. There will also be cultural performances of traditional music, dances, as well as Indonesian cuisine.

The exhibition is a joint effort by 26 Indonesian ambassadors in Europe to bring their business community to Warsaw. It is expected that about 5,000 buyers at the distributor level from all over Europe, as well as those from the Commonwealth of Independent States and North Africa, will come to Warsaw.

Indonesia chose Warsaw to showcase the Indonesian government's program for 2008-2012 because Poland is a reliable partner for Indonesia, the largest country in Central European region with a strong economic infrastructure and nearly 40 million people, a member of the European Union and has 5-6 percent GDP growth.

Trade between Indonesia and Poland, worth some $600 million in 2007, "has put Poland as our biggest export destination among all of the Central European countries," said Pohan. He added that Poland was perfect as an entry point to all European countries, with their market of 580 million people.

Indonesia has a population of 250 million and is the largest economy of the ASEAN countries with 6-7 percent GDP growth and a rapidly developing economy. The southeast Asian country, with huge natural as well as human resources, is predicted to take the economic lead of the Asian and Pacific countries.

PAIiIZ President Paweł Wojciechowski said that increasing trade contacts with Indonesia had produced growth in trade last year and that PAIiIZ would assist Indonesian businesspeople, especially those interested in IT-based investment in Poland and to promote investment cooperation between the two countries.

Trade between Indonesia and Poland was worth $600 million in 2007. Indonesian exports were more than double that of Poland and totaled $450 million, while Poland strengthened its import share to Indonesia to $150 million.

Pohan said he expected several Indonesian government ministers to take part in the IE-CEE exhibition, including ministers for trade, culture and tourism, industry and for cooperatives and SMEs. The IE-CEE is part of a strategic ongoing program to strengthen Indonesia's share of European markets, as well as to promote opportunities to offer the best investment projects and tourist destinations. Important official visits to Poland are planned for this year, including a possible state visit by President Susilo Bambang Yudhoyono and by the Indonesian foreign minister.

The Indonesian government is working on expanding the bilateral links with Poland based on newly signed agreements on defense, culture and education, combating terrorism and organized crime, and political consultations. There are good prospects for signing new agreements on economic cooperation, visa-free regimes, and diplomatic training.

Jolanta Wolska
Warsaw Voice, February 20, 2008

DEVELOPING LINKS

6 December 2006
Hazairin Pohan, Indonesia's ambassador to Poland, talks with Leslie Sheldon of Warsaw Voice (http://www.warsawvoice.pl/view/13239)

What is the state of bilateral relations between Jakarta and Warsaw? In which areas do the two countries cooperate closely politically? And where do positions differ significantly?

We enjoy excellent relations with Poland which have been deepened and made stronger by democratic changes in both countries and the exchange of visits by our respective presidents. President Megawati visited Poland in 2003. President Kwaśniewski visited Indonesia in 2004 and Prime Minister Belka in 2005.

During this time, Indonesia and Poland have signed 10 different agreements in defense, military-technical and economic fields of activity. We have established a mechanism for the exchange of views on major global issues through the Bilateral Consultation Forum. The first such meeting took place in 2005. Poland is a large country and a very important player in the region, therefore, we welcome the exchange of views on a range of subjects from security and organized crime to reform of the United Nations and the non-proliferation of weapons of mass destruction (WMD), among others. We also welcome Poland to ASEAN where countries in Europe and Asia discuss issues that affect both continents. Now Poland has an opportunity to raise its own agenda in ASEAN.

Of course, we differ on some issues such as Iraq but this does not present an obstacle to even further cooperation between the two countries in the future. In fact, Poland's experience in dealing with new threats in its peacekeeping missions in Afghanistan and Iraq would add to our own knowledge.

In which branches of the economy is Indonesian-Polish cooperation most intense?

Trade relations between the countries are good and growing. The current turnover of trade between Poland and Indonesia is 425 million dollars. Poland is now Indonesia's second-largest market in Central and Eastern Europe, after Russia.

Indonesian companies export hi-tech products, telecommunications equipment, fabrics, clothes, footwear, furniture and paper. Poland supplies us with machinery, civil engineering equipment, steel products and electrical goods. But Poland has even more competitive goods to offer us.

We also see very good opportunities for Polish companies looking to supply mining, electrical, agricultural and food processing equipment. And, with its advantages in technology and know-how, as well as financial support, Poland may easily become an important player in Indonesia, especially in steel and shipbuilding, underground and opencast mining equipment, chemical industry, building and construction machinery, food processing plants and environment protection equipment and know-how.

The two countries benefit from very strong cooperation in the area of military technology know how and products. Indonesia receives assistance in the building of small aircraft (skytrucks) and we buy helicopters from Poland as well as patrol ships from the Gdynia shipyards. And we have new investment projects in the pipeline, around 1.2 billion dollars for coal reserve exploration in mining and coal-based power plants in Kalimantan that is being developed with Polish knowledge and expertise.

In order to facilitate easy trade and communications, the Indonesian government has granted Visa on Arrival for Poles. It is valid for 30 days and easily obtained at any international airport and ports in Indonesia.

We are also going to revitalize the bilateral Joint Economic Sessions for addressing all issues related to trade and economic matters. And we shall launch an Indonesian-Polish Business Council to complement these sessions and which we believe will help us improve business relations between the two countries.

Global terrorism is a key issue for international security. How is this problem tackled by Indonesia, with a majority Muslim population which has radical and separatist tendencies?

Let me begin by saying that Indonesia strongly condemns acts of terrorism in all its forms and manifestations. We believe that the most important task to deal with terrorism is to construct a legal foundation that protects the interest of the public but at the same time defends human rights. A number of very high profile and public trials have taken place in Indonesia and those found guilty have received very severe sentences, including the death sentence. The Indonesian National Police has also done an excellent job in arresting the perpetrators of terrorist activity and uncovering terrorist networks.

On an international level, Indonesia takes part in UN conventions and ministerial meetings. We also take part in bilateral discussions with countries such as Australia, the United States and now Poland. Poland has good knowledge of dealing with weapons of mass destruction which is very important for our counter-intelligence units, and first-hand experience of combating terrorist activities in the theater of war, having provided troops in Iraq.

Poles are increasingly willing to travel. And, Indonesia, especially places such as Bali, are very popular. Do you see Poles becoming important for Indonesian tourism?

The number of Poles visiting Indonesia is on the increase, 5,000 per year at present, but it has some room for growth.

The most popular destinations for Polish tourists are Bali, Lombok and North Sulawesi, which are the world's best places for diving and snorkeling. Java and Komodo islands also offer many tourist attractions. And Poles are becoming more interested in Sumatra as a destination for holidays. Our potential in the eco-tourism industry is unlimited.

We also organize familiarization trips for Polish tour operators and travel journalists, and we expect to see more offers for Polish tourists in the future.
Indonesian culture is promoted in Warsaw by institutions such as the Museum of Asia and the Pacific.

Are there any cultural events planned in the near future in which the embassy is taking part?

On Dec. 14 , we shall mark Indonesia Day at the Institute of Middle and Far East at the Jagiellonian University in Cracow [with] traditional Indonesian dances.
And in 2007 the embassy will conduct exhibitions and performances in arts, Batik exhibition and fashion shows, martial arts, food festivals, an Indonesian movie festival and many more.

In addition, since 1995 the Indonesian government has granted annual scholarships for young Polish people to study the Indonesian language and arts in Indonesia for one year. So far 50 Polish young people have accepted the scholarships, and they contribute in the development of Indonesian arts and culture in Poland.

We are also committed to the implementation of our new bilateral Agreement on Cultural and Education Cooperation. And, in this regard, I believe it is urgent for us to establish an Indonesian Cultural Center in Warsaw within two years.

Hazairin Pohan:
Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of the Republic of Indonesia to the Republic of Poland; Born: Pematang Siantar, 12 November 1953; Education: Master of Law, University of North Sumatra, Medan, Indonesia, 1980; Foreign Service Course, 1982; Master of Arts in Political Science, University of Washington, Seattle, U.S., 1985; Foreign languages: English, Russian, French; Foreign Service Assignments: Staff, Directorate of International Law and Treaties, Department of Foreign Affairs (DFA) 1980-1985; Second Secretary, Embassy of the Republic of Indonesia in Moscow 1986-1989; Deputy Director, Research and Development Bureau, DFA 1989-1992; First Secretary, Embassy of the Republic of Indonesia in Sofia 1992-1996; Deputy Director/Counselor, Legal and Organizational Bureau, DFA 1996-1998; Minister Counselor, Indonesian Permanent Mission to the United Nations in New York 1998-2002; Director, Directorate for Central and Eastern European Affairs, DFA 2002-2006; Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of the Republic of Indonesia to the Republic of Poland; Marital Status: Married with four children; Hobbies: Reading, music (playing guitar), traveling, golf.

Friday, October 2, 2009

DUTA TANPA BESLUIT

PADA era globalisasi dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, diplomasi tidak hanya menjadi domain para diplomat. Karena itu siapa saja yang turut menyelenggarakan diplomasi juga disebut ‘duta bangsa’, dan layak mendapat apresiasi.

Berbeda dengan diplomat wakil resmi kita, mereka tidak memerlukan surat keputusan, SK atau besluit.

Maka, semua unsur bangsa: anggota parlemen, politisi, pengusaha, budayawan, rohaniwan, TKI, masyarakat Indonesia yang bermukim di suatu negara atau bahkan wisatawan kita yang sedang berkunjung ke luar negeri adalah ‘diplomat’, termasuk masyarakat setempat pencinta budaya Indonesia. Bersama para diplomat mereka memainkan peranan tidak kalah penting dalam mempromosikan Indonesia di luar negeri.

Diplomasi dalam konteks artikel ini adalah upaya bagaimana membuat negeri kita dikenal di dunia internasional dengan citra positif. Tidak jarang, kegiatan dan aktifitas ‘para duta’ ini di tataran internasional dapat berujung pada kepentingan ekonomi: wisata, perdagangan dan investasi.

Pada malam itu, 14 September 2009 yang lalu, 2 juru-masak Indonesia, Azis Wahyudin dan Muhammad Sidik, keduanya berasal dari hotel Hyatt Regency Bandung, 3 rohaniawan Katolik yang berasal dari Indonesia Timur yakni Vinsensius Adi Gunawan, Vinsensius Taji dan Alfred Adipati Manek, Ketua Dewan Kurator Museum Asia dan Pasifik Andrzej ‘Nusantara’ Wawryzniak yang pernah bermukim cukup lama di Jakarta, serta para pemain gamelan mantan penerima Dharmasiswa dari Warsaw Gamelan Group bersama pelatihnya, Sugijanto, menjadi pelaku diplomasi budaya.

‘Para duta’ itu menjadi aktor penting dalam acara pembukaan Indonesian Food Festival bertajuk “Taste Indonesia” di Hotel Hyatt Regency Warsawa yang berlangsung 2 pekan.

Kita masih perlu mengukuhkan keberadaan makanan Indonesia di antara beragam makanan Asia lainnya seperti Jepang, China, Korea, India, Vietnam dan Thailand yang sudah lebih dahulu dikenal. Maklum, di seluruh Polandia memang baru terdapat 2 restoran Indonesia dengan cook Indonesia, yaitu “Galeria Bali” di Warsawa, dan “Warung Bali” di Poznan.

Maka, harapan saya melalui promosi boga akan terbuka kesempatan untuk hadirnya restoran-restoran baru makanan Indonesia di Polandia.

Diplomasi Total

Indonesia dikenal di Polandia sebagai negeri dengan keberagaman budaya: musik, tarian, ukiran, lukisan dari berbagai daerah. Dalam 2 bulan terakhir saja, 6 kelompok seni dari Indonesia hadir dalam berbagai festival dan pertunjukan di puluhan kota di Polandia. Saat ini, sedang berlangsung festival film Indonesia di 10 kota-kota besar di Polandia.

Maka, malam itu menjadi istimewa. Untuk pertama kalinya kami merepresentasikan keunikan dan keberagaman Indonesia melalui boga. Tentu, karena kehadiran Azis dan Sidik, sang duta bangsa.

Untuk menciptakan nuansa Indonesia, maka restoran di lantai dasar Hyatt itu dihias dengan dekorasi pernak-pernik etnis yang kental, termasuk becak Yogya.

Pada malam pembukaan yang dihadiri sejumlah tamu penting, seperti Kepala Kantor Kepresidenan/Mensesneg Mariusz Handzlik, Kepala Badan Promosi Investasi (PAIiIz) Sławomir Majman, Direktur Asia dan Pasifik Kemlu Dubes Krzysztof Szumski dan sejumlah duta besar dari negara sahabat.

Setelah berpidato, saya tampil bersama vocal group. Kami menampilkan lagu-lagu tradisional seperti Lisoi, Ayo Mama, Saputangan Bapucuk Ampat, dan lagu-lagu tradisional dari Sumatra Utara, Flores dan Papua, dengan diiringi gitar, organ dan alat-alat gamelan dan perkusi yang dimainkan oleh para mahasiswa Polandia, personil Warsaw Gamelan Group. Kami juga menampilkan tari-tarian tradisional dari Bali dan Betawi yang dibawakan dengan baik oleh Maria Szymanska, Iwona Czapla dan Roza Puzynowska.

Lengkap sudah suasana Indonesia mendukung makanan lezat Indonesia yang disajikan oleh Azis dan Sidik pada malam itu.

“Terima kasih Bapak Pohan, lagu-lagu rakyat yang dibawakan tadi telah menggugah ingatan saya kepada teman baik Alm. Gordon Tobing dengan Impola Group-nya”, ujar Andrzej Wawryzniak, Ketua Dewan Kurator Museum Asia dan Pasifik yang pernah bermukim cukup lama di Jakarta.

Saya selalu bercanda bila bertemu Bapak Andrzej di berbagai acara bahwa duta besar Indonesia yang permanen di Polandia adalah beliau, sedangkan saya dan dubes-dubes sebelumnya hanya temporer. Mengapa? Karena tokoh yang mengenal baik pemimpin-pemimpin Indonesia sejak zaman Bung Karno itu setiap tahunnya menyelenggarakan lusinan pameran etnografi, lukisan dan benda-benda budaya etnis di penjuru kota Polandia. Sebagai aktor budaya Indonesia, beliau menjadi aset penting dan layak disebut sebagai duta.

Tidak hanya Bapak Andrzej. Para undangan seperti Mensesneg Handzlik, Kepala Badan Promosi Investasi Majman, Dubes Szumski yang pernah bertugas di Indonesia, dan para duta besar lainnya berdiplomasi memuji permainan gitar saya. Tetapi mereka lebih kagum kepada tiga pria dan seorang penyanyi wanitanya dan bertanya apakah mereka profesional yang didatangkan dari Indonesia.

Saya membuka rahasia, dan mengatakan bahwa tiga pria itu, Vinsensius Adi Gunawan, Vinsensius Taji dan Alfred Adipati Manek, sehari-hariannya adalah rohaniwan Katolik. Di Polandia terdapat tujuh rohaniwan Katolik yang bertugas untuk pelayanan umat. Sedangkan penyanyi wanita, Ny. Dyah Poerwonggo, adalah seorang isteri diplomat. Vinsensius Adi Gunawan dan teman-temannya memang sering diminta tampil membawakan lagu-lagu Indonesia di gereja, di samping menjadi duta rohani, kata saya.

“Unik sekali, Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ‘mengekspor’ rohaniwan Katoliknya ke Polandia yang notabene adalah Negara Katolik”!, kata Mensesneg Handzlik sambil berdecak kagum. Kekagumannya bertambah ketika saya selanjutnya menjelaskan bahwa para penari ayu itu adalah warganegara Polandia yang pernah belajar seni-budaya di Indonesia.

Maria Szymanska, Iwona Czapla dan Roza Puzynowska dengan dandanan kostum tradisional malam itu lebih menjadi orang Indonesia daripada Eropa.

Know How

Diplomasi lebih dari permainan kata-kata. Ada substansi dan teknik di sana. Demikian pula festival boga. Kenapa?

Setiba di Warsawa beberapa hari sebelum festival, Aziz dan Sidik mengadakan teknis sambil tukar-menukar informasi mengenai dunia perdapuran dengan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Warsawa.

“Kami menghargai kemauan mereka untuk belajar dengan kami para ibu-ibu, meskipun mereka lulusan sekolah boga”, demikian isteri saya, Ade Pohan, yang juga Ketua DWP.

Menurutnya, pertemuan teknis itu penting untuk menjembatani gap, seperti dialami negara-negara lain yang sebelumnya menyelenggarakan berbagai festival makanan Asia di Polandia, antara suguhan dengan cita-rasa makanan lezat seperti aslinya di Indonesia.

Faktor terpenting yang perlu diperhatikan adalah memilih bahan makanan yang dari berbagai jenis yang ada di pasar, atau bahkan mencari pengganti karena belum tentu semuanya tersedia di negara itu.

Suhu udara dan alat yang digunakan memasak serta tahapan prosedur pengolahannya juga harus disesuaikan. Dia mencatat kekecewaan dalam beberapa kali menghadiri food festival makanan Asia dengan rasa yang ‘jauh’ dari harapan. Malah, hal ini kontra-produktif dengan tujuan promosi karena banyak penggemar yang kecewa, ujar Ade Pohan.

Pengetahuan dan know how dalam urusan perdapuran selama puluhan tahun mendampingi suami bertugas di luar negeri adalah informasi yang sangat kaya dan krusial, katanya.

“Kami tidak hanya menginformasikan pilihan jenis bahan-makanan yang sangat beragam, bumbu dan takaran penggunaannya, agar sesuai dengan cita rasa dan lidah Eropa, tetapi juga toko di mana bahan-bahan itu dapat diperoleh," tambahnya.

Hasilnya lumayan. Setiap malam sedikitnya 40 kursi terisi, dan bahkan sering ruangan restauran yang terletak di lantai dasar itu kebanjiran tamu.

Kedua juru-masak, Azis dan Sidik puas. Setiap malamnya mereka menyajikan berbagai makanan populer dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk berbagai jenis sup pembuka dan juadah jenis jajanan-pasar yang unik.

“Kami tidak menyangka, ternyata makanan favorit pengunjung adalah Soto Dangko, di samping kari kambing, soto ayam yang diberi santan sedikit”, demikian Azis bercerita.

Para duta Indonesia itu juga berkesempatan mengunjungi bagian-bagian menarik di Warsawa, sambil berbelanja untuk mempersiapkan menu yang kian berganti setiap harinya.

Joseph Kral, GM Hyatt Regency puas dan mengharapkan festival serupa dapat diadakan pada tahun 2010 mendatang.

Pada tanggal 27 September 2009 kira-kira pukul 07.00 pagi Azis dan Sidik meninggalkan Warsawa menuju Beograd melanjutkan tugas dalam food festival di sana. Selamat jalan para Duta Bangsa!

© Antara 2009

INDAHNYA BERIDUL FITRI DI POLANDIA

MERAYAKAN Idul Fitri 1430 H di Polandia bagi masyarakat Indonesia menjadi momen istimewa. Apa yang membedakannya dengan tahun lalu? Sebenarnya, ritualnya sama saja dengan lebaran tahun lalu.

Masyarakat muslim dari berbagai bangsa di Warsawa berkumpul di satu-satunya mesjid yang terdapat di Warsawa, di bilangan elite Wilanow, di jalan Wiertnicza, saling bermaaf-maafan pada hari itu, Minggu, 20 September 2009. Tanggal Idul Fitri di Polandia diumumkan oleh masjid beberapa hari sebelumnya,

Di negeri dengan 95 persen penduduk beragama Katolik ini memang tidak banyak terdapat mesjid. Beberapa masjid di kota-kota lain yang saya kunjungi memang tidaklah sebesar di Indonesia.

Di Byalistok dan kawasan permukiman muslim tertua, ada beberapa masjid dan pekuburan kuno bersejarah yang dibangun kaum Tartar. Juga di Wroclaw, meskipun tidak besar seperti di Indonesia tetapi dilengkapi madrasah, atau di Gdansk yang dulu dibangun gotong-royong oleh negara-negara Islam.

Dubes Indonesia Ambyar Tamala dulu bertindak sebagai bendaharawan pembangunan masjid di kota Lech Walesa ini. Jika berkunjung ke Gdansk, saya menyempatkan untuk shalat di masjid ini.

Jika sekarang umat Islam di Warsawa bergembira, wajar. Karena di ibukota Polandia ini sedang dibangun sebuah masjid raya modern. Panitia memberitahukan kepada saya dalam suatu kesempatan, Insya Allah masjid raya ini akan selesai dibangun pada tahun 2010.

Memang kian banyak perantau dari negeri Muslim datang ke sini. Maklum, negeri itu satu-satunya yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif di Eropa sekarang.

Bulan Ramadhan tahun ini dimulai pada saat akan berakhirnya liburan musim panas. Maka, bulan September pun dijejali dengan padatnya kegiatan diplomatik. Memang September mengawali kegiatan menjelang musim gugur, setelah liburan musim panas. Pada pertengahan Desember sampai minggu pertama Januari, mereka libur kembali.

Resepsi hari kemerdekaan RI yang berlangsung di Hyatt Regency dilaksanakan 11 September yang lalu. Bertubi-tubi undangan untuk iftar (acara berbuka puasa) dari berbagai negara-negara konferensi Islam (OKI), termasuk undangan iftar dari Menlu Radek Sikorski, Mensesneg Mariusz Handzlik atas nama Presiden Lech Kaczynski.

Polandia setelah menyempurnakan integrasinya ke struktur-struktur Eropa, kini kembali memperbarui hubungan tradisional dengan sahabat-sahabat lama, termasuk negara-negara utama di Asia Pasifik seperti Jepang, China, India dan Indonesia serta negara-negara Islam lainnya.

Shalat Ied

Shalat Ied di masjid dimulai pukul 09.00 waktu setempat, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani berjasa membela Polandia dari berbagai serangan negeri asing. Mereka sejak 600 tahun telah bermukim di Polandia.

Selanjutnya, Imam menyampaikan khotbahnya dengan tema makna Idul Fitri dan seruan untuk memperbarui komitmen bagi kehidupan yang lebih islami pada tahun-tahun berikutnya.

Pagi yang cerah itu, seusai shalat ied, tampak masyarakat muslim dari berbagai negara bersalam-salaman.

Saya dan isteri sempat beramah-tamah dan berfoto dengan masyarakat Indonesia di halaman masjid.

Setiap shalat ied, saya selalu bertemu dengan wajah-wajah baru, apakah pekerja atau mahasiswa Indonesia dan juga dari Malaysia yang memang berwajah dan rumpun sama dengan kita.

Hari itu, tampak pria muda Erditya Nur Arsah yang belajar di Lublin dan Niken Prawesti dari AIESEC yang sedang magang di Sczecin, serta kedua juru-masak pada Indonesia Food Festival di Hyatt Regency, Muhammad Sidik dan Azis Wahyudin. Mereka baru beberapa hari berada Polandia.

Namun, seusai kami shalat tampak sebagian umat yang baru tiba bergegas memasuki masjid, karena memang shalat Ied berlangsung dalam dua putaran, untuk menampung khalayak yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Kegiatan lebaran pada hari pertama di masjid berlangsung sampai maghrib. Hari itu, pengurus masjid mengadakan berbagai acara, misalnya musabaqah, kuis cerdas cermat tentang Islam maupun pengetahuan umum tentang Polandia, makan siang bersama, dan pertunjukan film-film Islami.

Sayang, saya tidak bisa menghadiri acara itu sepenuhnya, karena masih ada beberapa kegiatan diplomatik lainnya pada hari itu, meskipun hari Minggu.

Karena hari Minggu libur, memang banyak warga muslim bersama keluarga yang menghabiskan waktu seharian di masjid. Tampak, beberapa mualaf yang berasal dari etnis Eropa dan Polandia sedang khusuk beribadah di masjid.

Saya juga telah menyampaikan konfirmasi untuk hadir pada acara Idul Fitri yang disebut "Bayram Day" oleh kaum muslim keturunan Tartar di Byalistok.

Imam Ali Abi Issa dari masjid Wroclaw juga telah menyampaikan undangan untuk hadir dalam acara bersama masyarakat Muslim di sana, seperti tahun-tahun lalu.

Kegiatan Ramadhan di KBRI

Ramadhan bagi kami WNI di Polandia menjadi bulan nikmat, kesempatan untuk bertemu sesama warganegara dalam kegiatan tarawih pada setiap akhir pekan di KBRI.

Seperti tahun-tahun lalu, kegiatan Ramadhan dimulai di Wisma Duta dalam acara berbuka bersama seluruh warga, termasuk non-Muslim, dan dilanjutkan dengan tarawih. Syaf Rudin, staf lokal yang berasal dari Minang, selalu menjadi imam. Ibu-ibu biasanya menggunakan bulan Ramadhan untuk tadarus pada siang hari.

Acara berbuka bersama juga dilakukan bergotong-royong, masing-masing keluarga muslim menyumbang untuk konsumsi. Memang, puasa di Eropa pada penghujung musim panas berlangsung lebih lama daripada di tanah air. Imsyak dimulai pada pukul 04 pagi, sedangkan maghrib dimulai jam 19.30.

Pada shalat tarawih terakhir, saya yang ditunjuk sebagai imam shalat Isya. Saya pun menggunakan waktu untuk berbincang-bincang dengan warga Indonesia yang hadir, termasuk non-muslim, setelah Imam tarawih Syaf Rudin menutup salam.

"Bulan Ramadhan sudah melekat menjadi tradisi di seluruh wilayah Indonesia, yang disemarakan oleh masyarakat non-muslim. Secara sosiologis, suasana pada bulan Ramadhan menjadi berbeda, karena kental dengan kegiatan keagamaan baik komunal maupun individual," demikian saya membuka ceramah.

Suasana relijius ini tidak hanya dirasakan di kampung, desa, atau kota kecil saja. Karena meskipun telah tersegmentasi dalam kelompok kedaerahan, primordial, tetapi dalam konteks lebih luas bulan Ramadhan digunakan juga oleh kaum profesional maupun politisi di kota-kota besar untuk bersilaturahmi, sambil mendalami makna dan pesan-pesan yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

Saya mengajak semua warga untuk menjadikan bulan Ramadhan momentum untuk memperkokoh silaturahmi dan kerukunan sesama umat beragama. Kita harus refleksikan keberagaman Indonesia, termasuk dalam agama dan keyakinan, ke dalam pergaulan antarbangsa di luar negeri. Nilai-nilai ini mungkin unik dan tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya.

Menurut saya, bagi siapa pun masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri, terutama para diplomat perlu memahami kegiatan Ramadhan secara sosiologis, karena Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Janggal, bila seorang Indonesia berada di luar negeri tidak bisa menceritakan fenomena Ramadhan di tanah airnya.

Saya mengulangi pesan, bahwa secara teologis Islam, Ramadhan adalah bulan seribu bulan untuk memperbanyak amalan, sekaligus introspeksi dan memperbarui determinasi untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Pada bulan Ramadhan, umat Islam tidak hanya berpuasa, tetapi juga memperbanyak amalan shalat, zikir dan membaca Al Quran, berbuat kebajikan terhadap sesama, termasuk membayar zakat dan sedekah kepada orang yang berkekurangan, sebagai refleksi dari rasa solidaritas kemanusiaan.

Pada bulan Ramadhan turun wahyu pertama dari Al Quran, sebagai salah satu kitab yang wajib diimani oleh kaum muslim, di samping kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada manusia melalui rasul-rasulnya, seperti Taurat, Zabur, Injil (Bibel), dan ajaran-ajaran yang juga diamalkan oleh kaum Yahudi dan Kristiani.

Tidak lupa, saya menyisipkan pesan-pesan dari tanah air. Tahun ini menjadi khusus, kita baru saja menyelesaikan pesta demokrasi dengan memilih parlemen dan presiden untuk masa jabatan lima tahun ke depan.

Kita bergairah, karena meskipun dunia di lingkungi krisis ekonomi tetapi Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen berhasil meredam efek terburuk seperti menimpa negara-negara maju. Daya tahan ekonomi menjadi modal kita untuk bersikap optimistis ke depan untuk peningkatan, kesejahteraan masyarakat .

Keberhasilan Polri menggulung terorisme dengan tewasnya Noordin M Top, juga mendapat pujian dari masyarakat internasional. Reaksi umat Islam Indonesia terhadap aksi-aksi teror dan dukungan terhadap penegakan hukum terhadap para teroris menunjukkan kematangan umat Islam Indonesia.

Sekarang dengan tegas kita dapat menolak terorisme bertopeng agama. Kejahatan tetaplah kejahatan, apa pun motivasinya. Sebaliknya, kebajikan adalah pahala. Sejatinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, rahmatan lil alamin, karena itu menolak kejahatan terhadap kemanusiaan.

Harapan saya, kebulatan tekad dan upaya serta kebersamaan umat Islam di tanah air dalam menghadapi terorisme merupakan modal penting untuk mengikis habis kantong-kantong terorisme yang mungkin masih eksis di tanah air.

Open House di Wisma Duta

Pada hari kedua Lebaran, Senin (21/9), warganegara Indonesia maupun keluarga perkawinan campuran, suami atau isteri berwarganegara asing, seperti tahun lalu melaksanakan halal bil halal di Wisma Duta, di kawasan permukiman bergengsi Saska Kepa. Di seluruh wilayah Polandia hanya terdapat sekitar 150 WNI.

Suasana sumringah mewarnai kental acara bermaaf-maafan dan bertukar-informasi, sambil menikmati masakan tradisional lebaran, layaknya seperti di tanah air.

Tak luput, sejumlah penganan tradisional lebaran yang disiapkan oleh kaum ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan, mewarnai suasana lebaran di negeri jauh itu. Nasi putih dan lontong, sup kimlo, kari kambing, sayur lodeh, opor ayam, tauco udang dan semur Jakarta, serta berbagai jajanan pasar seperti tape uli, lapis Surabaya, es teller, nastar, kastenger, putri salju dan kacang bawang menjadi santapan lezat.

Tampak hadir juga beberapa duta besar negara sahabat, seperti Dubes Malaysia Ny. Rosmidah Binte Zahid, Dubes Filipina Alejandro Del Rosario, pejabat tinggi Kemlu Dubes Tadeusz Chomicki dan sejumlah diplomat, para anggota Warsaw Gamelan Group, dan berbagai unsur masyarakat Polandia pencinta budaya Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai penjuru negeri Polandia tampak meramaikan suasana. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu popular diiringi Band KBRI. Tak lupa, dangdutan turut menghibur para pekerja skill Indonesia dari berbagai industri di penjuru kota Polanda. Tampak pula sebagian keluarga expatriat. Semuanya berbaur, sejenak melupakan diri sedang berada di perantauan.

Hari itu kami merayakan kemenangan, setelah menjalankan ibadah sebulan penuh di bulan Ramadhan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Minal aidin walfaizin.

© Antara

Tuesday, May 26, 2009

SAHARA EROPA TERANCAM PUNAH

GURUN pasir juga disebut sahara diketahui terdapat di Afrika Utara dan Selatan, Timur Tengah, di Asia (China, Iran), bahkan di benua Amerika (utara dan selatan) dan Australia. Tetapi di Eropa? Sulit percaya bahwa Eropa juga mempunyai sahara, tepatnya di Polandia.

Di bagian selatan negeri in, tepatnya di Pustynia Bledowska (baca: pustinia blendovska) memang sejak ribuan tahun yang lalu ditemukan sahara terbesar di seluruh Eropa, dan dijuluki the "only natural desert in Europe".

Rasa ingin tahu dan penasaran inilah yang membawa saya, dan beberapa teman, mengunjungi tempat ini pada akhir April 2009 yang lalu. Sahara ini terletak di pebukitan di antara Slaska and Olkuska di Propinsi Slaskie.

Bukan tanggung-tanggung, gurun pasir yang disebut juga sebagai “the Polish Sahara” ini ternyata cukup luas, kl. 32 km persegi, berdimensi sekitar 9 km x 3-4 km, dengan ketebalan pasir antara 40 – 70 meter! Jelas, ukuran ini sangat mini jika dibandingkan dengan gurun pasir atau sahara yang terdapat di benua-benua lainnya seperti di Afrika Utara yang mencapai 9 juta km persegi!

Konon, dulu padang pasir alamiah Polandia ini menyita tempat seluas 150 km persegi, kemudian menciut menjadi 80 km2 pada abad ke-13 dan menciut terus hingga kini luasnya tinggal kl. 32 km2.


Menurut sejarahnya, penduduk di sekitar wilayah ini awalnya menanam pohon-pohon sejenis Caspian willow untuk menahan pasir agar tidak berterbangan pada saat angin kencang, bahkan adakalanya badai pasir (sandstorms). Tetapi ternyata jenis pohon ini tumbuh dengan subur mengikis pebukitan pasir pada kawasan yang lebih tinggi.

Pencarian biji besi, perak, dan batubara pada abad pertengahan di masa lalu telah mendorong tumbuhnya industry pertambangan, dan selanjutnya pemukiman di sekitar sahara itu. Kebutuhan bahan makanan selanjutnya mendorong pertanian yang mengepung sahara itu.


Proses penghijauan yang berkembang itu pula yang menjadi kecemasan rakyat Polandia bahwa tanpa upaya konservasi maka sahara ini akan lenyap. Kini, seluas 85% permukaan sahara telah dipenuhi tumbuhan yang mengancam punahnya padang pasir ini.

Untuk itu ada LSM yang bergerak untuk memelihara padang pasir ini yang menyebut dirinya "Polish Sahara Association”. Organisasi ini aktif menggalang upaya dan dana demi mempertahankan padang pasir ini.

“Bila tidak dilakukan langkah-langkah penyelamatan, maka sahara kebanggaan rakyat Polandia ini pun terancam punah“, ujar seorang aktivis lingkungan Polandia.

Pada era penghijauan dan kecemasan terhadap peningkatan pemanasan global, sepertinya upaya para naturalis Eropa berjalan dengan logika terbalik.


Terbentuk Alamiah


Setelah menempuh jalan sekitar 350 kilometer dari Warsawa ke arah selatan, kami pun tiba di Pustynia Bledowska. Tetapi tidak terlihat padang pasir seperti dibayangkan dalam foto-foto padang pasir di Mesir, misalnya. Kawasan sekitarnya rimbun.

Masuk di akal jika diperkirakan, tanpa koservasi, sahara ini akhirnya akan lenyap dari Eropa. Para ahli dan politisi di Brussels pun sibuk bagaimana ‘menyelamatkan’ sang sahara. Berbeda dengan di Timur Tengah yang sibuk ‘menghijaukan’ padang pasir, di Polandia justru sahara ini ingin dipertahankan. Mungkin untuk wisata, mungkin juga untuk penyelidikan ilmiah.

Kami agak kecewa karena di bagian timur ini hanya terlihat hanya sedikit warna pasir putih, yang terletak agak di tengah-tengah belukar dan pepohonan cemara, dan hampir tak terpantau dari kejauhan. Datar, membosankan, sekilas orang berkomentar begitu. Tetapi di sana tentulah daerah ini menarik bagi ilmuwan atau orang-orang penasaran seperti kami.

Kami juga tidak lupa membawa jaket, karena arus angin yang relatif kencang di sana, apalagi jika udara agak dingin. Memang tempat kami masuk ini agak tinggi, sehingga dengan mudah memandang ke hamparan luas di bawah kami. Daerah perbukitan di sini ideal untuk olahraga paragliders dan terbang layang atau sejenisnya. Dari tempat yang tinggi itu, seakan-akan kita berada di langit, memandang ke kaki bumi, begitulah.

Kekecewaan kami tidak berlangsung lama. Untung, polisi yang patrol di sana memberitahukan agar kami masuk dari sisi barat dan utara. Di bagian ini, kata pak polisi, masih terdapat konsentrasi pasir yang luas, tidak tertutupi oleh berbagai pohon. Kami pun bergegas tidak sabar melihat tempat unik ini.

“Jika anda ingin menyaksikan suasana Sahara hanya di dekat Klucze di bagian barat dan di bagian utara di Dabrowko dekat Chechlo terdapat timbunan pasir yang lumayan luas”, kata pak polisi.

Pustynia Bledowska, seperti disebut orang Polandia menyebut sang sahara, memang memesona. Pasir halus di sana mengandung quartz bermutu tinggi, dan disekitarnya terdapat batu karang dan fossil-fossil peninggalan zaman Jurassic. Menurut orang di sana, bila hujan turun maka petir menyambar ke arah kawasan yang mengandung mineral, dengan sendirinya mengundang listrik, menghunjam bumi, dan menimbulkan percikan dari segala penjuru. Ini menjadi tontonan menarik.

Berada di bukit-bukit pasir di sana memang serasa berada di pantai. Pasirnya pun sama seperti yang terdapat di pantai. Ada juga turis lokal yang berjemuran di terik matahari di sana, sementara pengunjung lainnya tak lama mulai bermunculan lengkap dengan kamera untuk mengabadikan tempat unik ini.

Alkisah, lautan pasir di sana berasal dari air laut yang mencair dari berbagai lautan pada zaman glacial, mencairnya es dari kutub puluhan ribu tahun yang lalu, dan mengalir ke lembah Przemsza. Pasir lautan pun mengendap di sana. Setelah pemanasan global yang dimulai kira-kira 10 ribu tahun yang lalu, mulailah kawasan itu ditumbuhi pepohonan, terus berkembang sampai abad ke-13.

Berbeda dengan sahara-sahara di belahan bumi lainnya yang selalu mengalahkan proses penghijauan buatan manusia, Pustynia Bledowska yang berada di iklim Eropa, dengan curah hujan yang cukup alam melakukan penghijauan sendiri. Jika proses alamiah ini dibiarkan berlanjut, maka diprediksi tidak lama lagi sang sahara pun lenyap. Maka, para ahli pun dengan dana terbatas bekerja untuk ‘memulihkan’ sang sahara. Paling tidak memertahankannya pada tingkat sekarang.

Katanya, dulu (sekitar tahun 1950-60 an) kita masih bisa menyaksikan beberapa karakter padang pasir, seperti fatamorgana, padang rumput(pasture), badai pasir (sandstorms), dan bukit pasir di pantai (dunes). Kini kawasan pinus di belahan barat merambah cepat. Itu sebabnya, ketika memasuki wilayah ini dari sudut timur kami hampir tidak melihat bekas-bekas sahara. Sangat hijau.


Snow on Sahara

Bila Anggun, mantan penyanyi remaja Indonesia yang populer di Eropa, kini warganegara Prancis, dianggap melantunkan bual melalui hit-nya “Snow on Sahara“, maka Pustynia Bledowska tempat pembuktian yang sahih. Wilayah, seperti wilayah Polandia di musim dingin tertutup oleh salju, termasuk di sahar ini. Maka, Snow on Sahara adalah suatu realitas. Betapa uniknya.

Kontradiksi lainnya jika dibandingkan dengan sahara-sahara di berbagai benua lainnya adalah kehijauannya. Karena di sini, juga terdapat kehidupan flora dan fauna.

Menurut catatan ilmuwan Polandia, di kawasan itu kini terdapat kl. 350 jenis tumbuhan, kebanyakan dengan karakter padang pasir dan pohon-pohon di pinggir pantai. Bagi ahli botani, di sana terdapat tumbuhan unik seperti stemless carline thistle (Carlina acaulis), broadleaf helleborine (Epipactis helleborine), dark red helleborine (Epipactis atrorubens), prince's pine (Chimaphila umbellate), whorled Solomon's seal (Polygonatum verticillatum), Doronicum austriacum, dan fescue grasses (Festuca). Jenis-jenis rumput yang tumbuh di sana seperti, gray clubawn grass (Corynephorus canescens), blue lyme grass (Elymus arenarius), couch-grass (Triticum repens) menghiasi dataran rendahnya.

Pepohonan yang tumbuh juga memberi kehidupan bagi fauna, di sini terdapat sekitar 150 jenis serangga dan burung. Burung seperti woodlarks (Lullula arborea) atau tawny pipits (Anthus campestris), stone curlews (Burhinus oedicnemus) – burung padang pasir yang bertelur di pasir ada di sana. Ada juga muskrats, beavers, sejenis binatang langka serta reptil sand lizard dan ular.

Yang menarik, padang pasir ini pernah digunakan sebagai markas tempur pada saat Perang Dunia II, oleh Pasukan Jerman dari satuan
Afrika Korps untuk latihan dan percobaan alutsista sebelum digunakan di Afrika. Sekarang sesekali digunakan oleh Pasukan Operasi Perdamaian (peace-keeping) Polandia, terutama untuk menguji-cobakan tank-tank buatannya sebelum diterjunkan di Irak dan Afghanistan.

Ketika kami memasuki tempat ini, masih terdapat papan peringatan: “Daerah Militer, Dilarang Masuk”. Ini juga obyek menarik yang kami abadikan, seperti juga kelakuan para pengunjung lainnya.

Saya telah membuat foto-foto di kawasan indah di sini. Sebagian telah saya muat di Facebook, di bawah account nama yang sama: Haz Pohan. Silahkan visit.


Warsawa, 21 Mei 2009

THE SAXON GARDEN (1727 AD): PART II

TIDAK banyak lagi yang perlu saya ceritakan mengenai taman kota yang indah ini.

Dalam tulisan saya Bagian Pertama, saya melukiskan proses pencarian identitas atau sukma bangsa Polandia. Salah satu jalan untuk napak tilas itu adalah via the Saxon Garden, atau orang Polandia menyebut Saski.

Sejujurnya, beban sejarah terberat di tempat ini berada di bangunan-bangunan yang dulu pernah berjaya tegak perkasa di tempat ini. Semuanya hancur lebur, ketika dinamit yang dipasang oleh Nazi Jerman pada tahun 1944 meledakkan bangunan-bangunan bersejarah itu, sebelum meninggalkan Warsawa karena dikejar-kejar Tentara Merah.

Bangunan-bangunan bersejarah di tempat hening dan luas itu berfungsi menjembatani masa lalu negara yang telah berusia lebih dari 1000 tahun, meskipun pernah pupus dari peta politik Eropa selama 123 tahun, dengan masa sekarang.

Di sini dulu 3-serangkai berjaya: The Saxon Palace, The Saxon Square, dan The Saxon Garden, menjadi bagian dari ‘The Saxon Axis’. Ketiganya paralel menuju ke Sungai Vistula, yang menghadirkan Polandia dalam sejarah Eropa, juga menyimpan muatan sejarah dan kejiwaan mereka.

Sejarah meninggalkan bercak-bercak yang tidak mudah dihapus. Kadang-kadang, karena situasional, manusia terpaksa tidak berani jujur meneropong sejarah mereka. Apalagi bilamana sejarah yang berdarah-darah itu melibatkan negara-negara di sekitarnya. Kepentingan ke depan pula yang membatasi manusia untuk mau melakukan full-account terhadap masa lalu. Dan sejarah itu, bisa berbeda-beda muatan dan tafsirannya. Tergantung Anda berdiri di mana, kata seorang teman. Karena itu, banyak sejarawan takut disebut revisionis, bila fakta-fakta baru bermuatan tafsiran-tafsiran yang bisa mengundang kontroversi.

Begitu pula dengan karya monumental seorang scholar bernama Norman Davies. Dia terkenal ahli sejarah berkebangsaan Inggeris yang menulis buku sejarah Polandia dan mengungkapkannya dalam bukunya yang terkenal: God’s Playground (1979). Buku ini mengungkapkan apa yang dialami oleh orang-orang Polandia dalam sejarah seribu tahun di masa lalu. Terbit dalam 2 jilid lebih dari 1000 halaman, buku Pak Norman itu kaya dengan data, tetapi baru setelah 1989 dijadikan bahan bacaan di Polandia, setelah perubahan di sana.

Suatu insiden pula yang menghantarkan Norman Davies mendalami sejarah Polandia. Pada zaman Perang Dingin, dia ingin belajar ke Uni Soviet tetapi visanya ditolak. Dia lalu belajar di Jagiellonian University di Krakow, dan memperoleh Ph.D pada tahun 1968. Padahal, Polandia sebenarnya ketika itu masih menjadi wilayah pengaruh Uni Soviet. Ingat saja: Pakta Warsawa, pakta militer yang mengambil nama ibukota Polandia (zaman modern) itu.

Tak urung, saya juga mengungkap catatan tersisa. Taman Saxon ini dulu sedemikian dihormati rakyat Polandia karena merupakan taman milik raja yang didedikasikan untuk publik. Pada zaman keemasannya, pengunjung untuk sekadar melepas lelah di taman yang pasti dulunya indah sekali tetap berpakaian lengkap resmi, layaknya menghadiri konser di gedung opera. Kaum wanita-pun harus mengenakan topi.

Pada kesempatan kedua ini saya juga membuat foto-foto yang indah, dan telah saya muat sebagian di Facebook, di bawah account saya dengan nama yang sama: Haz Pohan. Saya menjanjikan akan kembali membuat foto-foto pada saat yang tepat, tatkala bunga berkembang di musim panas nanti. Pasti lebih indah dan dramatis!

Foto-foto diambil dengan kamera NIKON D 90, tanggal 1 Mei 2009, ketika matahari mencorong hangat.

THE SAXON GARDEN (1727 AD) : SOUL SEARCHING (PART I)

JIWA Polandia modern ada disini, di tempat luas yang dihancurkan membabi-buta oleh Hitler Jerman pada tahun 1944 yang mundur dari wilayah Polandia, ketika kalah perang pada akhir Perang Dunia II.

Saya bercerita tentang the Saxon Garden, atau disebut orang Polandia sebagai Taman "Saski", terletak di tengah kota dan telah hadir di hati orang-orang Polandia selama ratusan tahun.

“Kami membanggakan masa lalu, kejayaan Polandia di tengah-tengah bangsa-bangsa Eropa”, kata seorang teman saya, seorang professor di Warsaw University, yang mengajar tak jauh dari tempat saya membuat foto-foto.

Alkisah, The Saxon Garden, taman yang indah peninggalan dinasti Saxon itu, selama ratusan tahun sebelum PD II melekat dengan Istana dan alun-alun. Tetapi, taman ini juga memiliki sejarah yang panjang, kelam dan berdarah-darah. Di sini dulu 3 Serangkai berjaya: The Saxon Palace, The Saxon Square, dan The Saxon Garden, menjadi bagian dari ‘The Saxon Axis’. Di kawasan ini telah dilakukan ekskavasi untuk membangun kembali ”The Saxon Palace”, maket-nya sudah jadi, unveiled by the President, kata teman saya itu.

Jiwa Polandia modern ada di sana, ujar sang professor. Komponis dunia Fryderyk Chopin (nama Polandianya: Frycek), tinggal disini selama 7 tahun (mulai 1810), bersama ayahnya yang menjadi guru di Istana. Dari Istana ini Kepala Negara memerintah Polandia yang demokratis, berdasarkan Konstitusi 1791. yang hampir sama tuanya dengan Konstitusi AS tahun 1787.

“Makam Pahlawan Tak-Dikenal”, the tomb of the unknown soldiers, itu dulu adalah 3 arkad yang dulu menghubungkan wing kiri-kanan Istana Saxon, satu-satunya yang selamat dari kebengisan Nazi Jerman. Istana ini dibangun oleh seorang bangsawan Jan Andrzej Morsztyn, dan pada tahun 1713 dibeli oleh King Augustus II.

The Saxon Square, di depan plaza itu kini dinamai the Pilsudski Square, dari nama seorang jenderal dan negarawan Poland era modern yang mengalahkan pasukan Rusia, seusai PD I.Maka, dari Axis --Tiga Serangkai-- yang tersisa adalah The Saxon Garden.

Taman ini dibuka untuk public pada tahun 1727, tertua kedua di dunia, bahkan lebih tua daripada Istana Versailles (1791). Dulu dibangun dengan gaya Prancis dan pada abad ke-19 diberi nuansa Inggeris. Orang Polandia menamakannya “the Saski Palace”. Saxon dalam bahasa Slav diubah penyebutannya menjadi “Saski”. Di sana juga terdapat jam matahari (the sundial), yang dibangun tahun 1863.

Yang utuh tersisa dari kebengisan orang-orang Nazi Jerman adalah Taman itu. Di sana banyak patung-patung menyimpan cerita, al. karya Rococo, air-mancur bergaya empire hasil karya seniman besar Marconi pada tahun 1855, patung Stefan Starzyński, Gereja St. Anthony, dan pohon-pohon tua saksi sejarah.

Tak urung, patung-patung pun berpindah tangan, dibawa orang-orang Rusia ke St. Petersburg. Di wing kanan yang berbatasan dengan Jalan Senatorska, masih berdiri the Blue Palace, dinamai sesuai warna atapnya yang direkonstruksi sehabis perang. Gedung ini dibeli oleh King Augustus II untuk anak perempuannya Anna Karolina Orzelska. Istana ini dibangun pada tahun 1726 oleh Joachim Daniel von Jauch dan Johann Sigmund Deybel.

Stefan Strazynski, adalah walikota pada masa perang yang kemudian di kirim ke kamp konsentrasi di Dachau, dekat kota Munich, Jerman. Jiwa raganya menambah hitungan jutaan orang yang dibunuh, tanpa masuk-akal, oleh Nazi Jerman di kam-kamp konsentrasi. Dan itu masih belum lama, baru 65 tahun yang lalu.

Alkisah, The Saxon Garden dulu menjadi bagian dari benteng yang dibangun tahun 1766 oleh aristokrat Jan Andrzej Morsztyn, yang diperluas oleh Raja, untuk mempertautkan secara fisik antara Taman, Istana, dan bagian kota di sungai Vistula, Wisla, kata orang Polandia. Sungai Vistula juga menjadi saksi sejarah panjang bangsa Polandia.

Di alun-alun yang kini dinamai kembali the Pilsudski Square dulu terdapat the Brühl Palace, persis berhadapan dengan Makam PahlawanTak-Dikenal sekarang. Bangunan yang didisain pada tahun 1713 oleh Joachim Heinrich Schultze dan selanjutnya Gothard Paul Thörl mulai tahun 1735, pernah menjadi kantor Kemlu (1932-37), sekarang rata, dibasmi Jerman.

Juga, pada zaman keemasannya, Gereja St. Anthony didirikan pada tahun 1623, dan pada tahun 1734, dan menjadi gereja di Istana (parish church). Pada masa the Warsaw Uprising 1944 sebagian bangunan gereja rusak dan tempat bersejarah ini juga ramai dikunjungi.

Maka, rekonstruksi tempat-tempat bersejarah di Kompleks Saxon, merupakan upaya untuk menemukan kembali semangat guna membangkitkan kejayaan bangsa Polandia di Eropa. Soul searching, untuk menyambung eksistensinya ke masa depan.

Soul-searching bukanlah upaya menemukan identitas; dia sudah ada, namun sejarah kelam telah meninggalkan lubang hitam yang besar. The Saxon Garden berjasa untuk napak tilas Bangsa Polandia untuk ‘soul-searching’.

Saya banyak membuat foto-foto di Taman ini dengan kamera NIKON D 90, sebagian telah saya muat di Facebook, dengan nama account yang sama: Haz Pohan. Foto-foto pada tulisan Bagian Pertama diambil pada tanggal 12 April 2009, di awal musim semi. Silahkan berkunjung.

Warsawa, 26 Mei 2009

PADA SUATU HARI DI BATAVIA BULAN APRIL 1935

MESKIPUN resminya sudah di musim semi, tetapi tak urung Gdynia, kota yang bersaudara dengan Gdansk dan Sopot di wilayah utara Polandia – disebut juga troimiasta atau 3 kota – cuaca masih dingin. Angin bertiup kencang pada udara sekitar 10 derajat membuat wilayah di dekat laut Baltik itu dingin sekali, seakan-akan 0 derajat!

Kami mengadakan kegiatan di 2 kota sekaligus: di Gdynia untuk promosi kopi dan di Gdansk untuk pameran wisata, 17-19 April 2009 yang lalu. Meskipun akibatnya saya perlu bolak-balik di kedua kota ini, tidak masalah. Kota ini bergandengan, dipisahkan hanya sekitar 10 km. Saya dan teman-teman ingin memanfaatkan peluang strategis di kedua kota ini, meskipun harus menempuh perjalanan darat hampir 400 km, dalam waktu sekitar 7 jam berkendaraan, menempuh terjangan angin yang cukup kencang!

Pada saat acara pembukaan pameran kopi tanggal 17 April sore, setelah pembukaan pameran wisata di Gdansk pada siang hari, saya pun bergegas menuju Gdynia. Meskipun jarak 2 event ini tidak terlalu jauh, namun hari Jumat seperti di mana-mana di Eropa: jalan macet!

Saya tiba tepat pada waktunya di pameran kopi di Gdynia. Kopi kiriman PT Kapal Api pun laris manis, bukan karena gratis tetapi memang unik. Pada saat pameran promosi, semua jenis kopi yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan di stand-stand pameran disediakan gratis.

Seusai berpidato memperkenalkan kopi Indonesia, saya dihampiri seorang pria berpakaian rapi. Tampaknya seperti panitia, tetapi dia membisikkan sesuatu.

“Mumpung Anda ada di sini”, katanya. Dia adalah Bogdan Kwiatkowski, otoritas pariwisata di Gdynia. Dia mengundang saya untuk mengunjungi museum unik, di sebuah kapal yang tidak jauh – sekitar 100 m – dari mall tempat berlangsungnya festival kopi. Kapal itu tidak besar, sebuah kapal latih (tall ship) bernama ” Dar Pomorza ” yang berada di bawah supervisi oleh institusi Pak Bogdan ini: Tourism Association of Gdynia.

“Itu terlihat Museum saya, kapal yang sedang bersandar di pinggir pelabuhan”, kata pria itu, menunjukkan lokasi sebuah kapal mungil dengan anggun berjangkar di dermaga. Tetapi, sejujurnya, tampaknya tidak ada yang istimewa pada kapal itu. Namanya pelabuhan, tidak aneh jika banyak kapal-kapal lain sedang sandar di sana.

Namun, keramahtamahan orang Polandia sulit ditolak. Mereka tulus, dan rendah hati. Karena hari pun mulai senja, saya pun menjanjikan akan datang besok, tanggal 18 April sore, setelah menyaksikan anak-anak penari asuhan Ibu Jadwiga Mozdzer pada pertunjukan di pameran wisata di Gdansk.


Batavia 1935

Tepat pada waktu yang dijanjikan, Pak Bogdan datang menjemput saya di stand kopi Indonesia. Saya dan isteri pun mengikuti langkahnya, menuju ”Dar Pomorza”.

Di pintu gerbang memasuki kapal, seorang pria kira-kira berusia 70 tahun, berpakaian lengkap resmi kapten kapal datang menyambut dan menghormat kami. Dia adalah Mr. Józef Kwiatkowski, mantan kapten kapal terakhir yang bertugas di kapal itu, dan seperti Dar Pomorza diapun telah pensiun pada tahun 1982.

Dar Pomorza adalah kapal layar latih (tall ship) seperti ”Dewaruci”. Setelah melewati berbagai lorong di kapal, kami berhenti di kabin kapten. Mewah, dilengkapi bar, kantor, dining room, dan ruang rekreasi. Sang Kapten, ternyata adalah ayah kandung Pak Bogdan. Pantas, nama keluarganya sama, Kwiatkowski, dan raut mukanya juga mirip. Pak Józef tua ditemani seorang anak laki-laki sekitar 9 tahun. Cucunya, dan anak dari Pak Bogdan sendiri.

Dia bercerita tentang sejarah kapal yang memiliki tempat di sanubari orang-orang Polandia. Tidak hanya di kota Gdynia, tetapi seluruh Polandia. Kapal ini telah mengharungi dunia, termasuk Indonesia, katanya. Saya pun tertarik. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa Pak Bogdan begitu antusias mengundang saja.

Katanya, pada tahun 1935 kapal ini telah mengunjungi Batavia. Oh, jaman yang telah berlalu, masa kolonialisme di tanah air pada masa malaise!

Sang Kapten kemudian menyerahkan buku karangannya untuk saya, “DAR POMORZA” REJSY I ZALOGA (“Dar Pomorza” Voyages and Crew) setebal 600 halaman. Di halaman depan, saya membaca tulisan tangan:

Szanownemu Panu Ambasadorowi Republiki Indonezji w Polsce Hazairin Pohan z okazji pobytu na "Darze Pomorza" na mila pamiatke z najlepszymi zyczeniami. Autor: Józef Kwiatkowski. Gdynia, dnia 2009.04.18.




[Terjemahan : For Dear Ambassador of the Republic of Indonesia to Poland Mr. Hazairin Pohan on the occasion of His stay on the board of "The Gift of Pomerania" as a token of remembrance and with best wishes. Author: Józef Kwiatkowski. Gdynia, April 18, 2009.]

Sang Kapten, Pak Józef Kwiatkowski tidak bisa berbahasa Inggeris, maka pembicaraan saya dengannya diterjemahkan oleh Pak Bogdan, anaknya.

Menurut Pak Józef Kwiatkowski, sejak dia pensiun dari dinas laut, dia mengumpulkan semua catatan yang ada di kapal, dan menuliskan semua pengalaman sang kapal “Dar Pomorza” ke dalam buku karangannya tadi.

Menurut Pak Józef, “Dar Pomorza” pertama sekali diluncurkan ke laut pada tahun 1909 dan dibeli oleh rakyat Pomerania di kawasan laut utara itu pada tahun 1929. Setelah mengharungi berbagai samudera, mengunjungi berbagai benua, kapal ini pensiun pada tahun 1982. Buku ini memuat semua catatan dan pengalaman yang ada dalam perjalanan hidup sang kapal.

Menarik, karena dalam Bab berjudul “Perjalanan Keliling Dunia Dar Pomorza 1934 – 35” tertulis pengalaman kapal ini mampir ke Batavia, Nederlands Indie, yang sekarang menjadi ibukota tanah air tercinta, Indonesia.

Di halaman 41 terekam:

Pada tanggal 12 April 1935 kami meninggalkan Hong Kong dan bersiap untuk kembali ke Polandia. Di kapal ini pula kami merayakan Easter Holidays di tengah lautan. Tidak lama, pada hari Senin, kami memasuki pelabuhan Singapore. Di kota ini kami memperoleh izin untuk berlayar ke Broome di Australia. Setelah 3 hari berada di Singapura, pada tanggal 25 April kamipun berangkat menuju Batavia di Pulau Jawa. Untuk ketiga kalinya kapal kami ”Dar” telah melintasi khatulistiwa dalam berbagai pengembaraan dunia.

Kami pun lempar jangkar di Batavia. Di kota indah ini kami dibantu seorang insinyur berbangsa Polandia Mr. Jozef Zwierzycki, yang telah menetap di sana. Dari Jawa maka kamipun berlayar ke Australia, menuju pelabuhan kecil di Broome, selanjutnya setelah 3 hari berada di sana kamipun melanjutkan pelayaran ke arah Lautan Hindia menuju Port Louis, yang terletak di kepulauan Mauritius, tiba di sana tanggal 3 Juni 1935. Di tempat ini kami mendengar kabar meninggalnya Marshal Jozef Pilsudski. Maka, bendera kapal pun turun setengah tiang. Tanggal May 18, 1935, di Polandia diselenggarakan upacara penguburan sang Marshal, dan kamipun di kapal mengalungi pita hitam pada potret sang Marshal.



Baru saya menyadari, dalam beberapa hari mendatang di bulan April ini kapal latih Dar Pomorzi akan memperingati tahun ke-74 kunjungannya ke Batavia.


“White Frigate”

Buku Pak Józef mencatat, Dar Pomorza dibuat oleh Blohm und Voss di Hamburg pada tahun 1909, dengan bobot mati 1561 ton, muatan 525 ton, panjang 80 met er (93 m total), lebar 12,6 m, tinggi layar 41,4 m, 1900 atau 2100 m2 (3 tiang layar), dan dengan kecepatan berlayar 5 knot – 17 knots. Kapal ini dilayani oleh kru 28 orang dan antara 1 50-200 kadet.

Kapal ini dipesan oleh Deutscher Schulschiff-Verein kemudian digunakan sebagai kapal latih dengan nama Prinzess Eitel Friedrich. Pada tahun 1920 seusai PD I, kapal ini disita oleh Inggeris dan dibawa ke Prancis, digunakan oleh kadet di sekolah pelayaran St-Nazaire dan diberi nama "Colbert". Karena biaya pemeliharaannya yang mahal, akhirnya pada tahun 1929 kapal ini dijual kepada masyarakat pencinta laut Polandia di Gdynia. Masyarakat Gdynia berhasil mengumpulan dan sebesar 7000 Poundsterling , sesuai harga yang ditawarkan.

Setelah dibeli, kapal ini kemudian dikirim ke Denmark untuk perbaikan. Dicatat, dalam perjalanan berbahaya menuju Denmark karena kondisi kapal yang payah dikhawatirkan tidak sampai tujuan, bahkan hampir tenggelam. Sekembali dari galangan kapal Denmark dan tiba Polandia, kapal ini diberi nama "Dar Pomorza" (berarti 'Gift of Pomerania'), dan dipasang mesin diesel tambahan. Maka, seperti tercatat di buku, untuk pertama kalinya pada tanggal 13 Juli tahun 1930 kapal ini mengibarkan bendera Polandia: Putih-Merah. Dan, mulai saat itu Dar Pomorza bertugas sebagai kapal-latih di bawah pengawasan the Polish Naval Academy.

Mulai tahun 1934-1935 Dar Pomorza memulai pengembaraannya ke ujung dunia, antara lain ke New York (1932), Brazilia dan Afrika Selatan (1933), dan mulai tahun 1934, termasuk call ke Pelabuhan di Batavia (1935 transit di Terusan Panama (1936) dilanjutkan dengan perjalanan kedua ke Pasifik, serta pada tahun 1937 berhasil melewati Cape Horn di Amerika Selatan.

Pada masa PD II kapal diperbaiki di Stockholm , negara netral pada masa itu, dan seusai perang dibawa kembali ke Polandia, ke fungsi semula sebagai kapal-latih. Seusai perang pada tahun 1945 dia kembali ke Gdynia, berlayar ke Laut Tengah dan Atlantik sebelum berangkat menuju West Indies.

Pada tahun 1970-an kapal ini turut berkompetisi dalam Operation Sail dan Cutty Sark Tall Ships' Races, memenangkan tempat pertama pada tahun 1972 (negara pertama dari Eropa Timur yang menjadi peserta), juara ke-3 pada tahun 1973 dan juara pertama pada Cutty Sark Trophy tahun 1980, yang merupakan hadiah terbesar, sehingga dijuluki the 'White Frigate' oleh para kru kapal.

Dar Pomorza terakhir kali bertarung dalam bulan September 1981, karena pada tanggal 4 August 1982 kapal ini dipensiunkan, dan sejak 27 May 1983 dijadikan museum di Gdynia. Kapal tua ini bak prajurit yang telah memenangkan berbagai pertempuran, menikmati hari tuanya, menceritakan berbagai pengalaman dan wisdom yang berarti bagi para pengunjungnya, termasuk saya dan isteri.

Warsawa, 26 Mei 2009