Monday, January 31, 2011

ASEAN MENGGAPAI MASYARAKAT AKAR RUMPUT

INDONESIA ingin memusatkan kepemimpinannya dalam kedudukan Ketua ASEAN 2011 ke dalam 3 tingkat aktifitas: memantapkan terbentuknya ASEAN Community 2015; mendorong pembentukan arsitektur kawasan via East Asian Summit, dan menghadirkan peranan ASEAN pada tingkat global.

Ketiga misi itu masih berkisar pada government-led activities: melanjutkan pemantapan organisasi dan tata-kerja, membentuk kerangka kebijakan, dan mempersiapkan perangkat norma serta institusi yang mendukung kebijakan.

Ibarat membangun rumah, ASEAN ingin mengerjakan konstruksi, exterior dan interiornya sekaligus.

Sejak pengesahan Piagam ASEAN (Charter) pada akhir 2008, para pempimpin ASEAN telah menyadari waktu telah tiba untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang berjumlah sekitar 500 juta, dan separuhnya berada di Indonesia.

ASEAN ingin agar masyarakat di 10 negara anggotanya memiliki ownership sekaligus menjadi penggerak utama (people driven) bagi organisasi sub-regional itu.

Inilah yang mendasari mengapa program sosialisasi ASEAN gencar dilakukan oleh Kemlu di berbagai tempat di tanah air. Saya beruntung dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi ini.

Memang sepanjang 30 tahun berdinas di Kemlu saya tidak mendapat kesempatan berhubungan langsung dengan soal-soal ASEAN. Sosialisasi menjadi sarana.

Dalam setiap pertemuan, selalu hadir pejabat daerah, pengusaha, kalangan perguruan tinggi dan lembaga kajian, media dan LSM. Segmen masyarakat yang juga dilibatkan Kemlu adalah para bloggers di daerah. Para bloggers, di era IT dapat bermanfaat untuk membantu sosialisasi sekaligus menjadikan mereka agent of change.

Inti dari sosialisasi ASEAN adalah tentang pemahaman mengenai ASEAN, cara-bekerja dan program yang sedang digalakkannya. Kemlu ingin menjadikan ASEAN milik masyarakat, dirasakan manfaatnya, mendapat dukungan dan dimanfaatkan sebagai center aktifitas keseharian yang akan membantu pemerkuatan integrasi negara-negara di kawasan dalam kesatuan politik dan keamanan; ekonomi, dan sosial budaya.

Upaya sosialisasi juga gencar dilakukan pemerintah di negara-negara anggota ASEAN lainnya, juga dimaksudkan untuk menjangkau semua lapisan masyarakatnya. Kegiatan sosialisasi ini searah dengan motto ASEAN: One Identity, One Community.

Sosialisasi ASEAN

TIDAKLAH mudah untuk menjelaskan sejarah tumbuhnya ASEAN yang lahir pada masa Perang Dingin dan berakhirnya konfrontasi sampai mencapai pada bentuknya yang sekarang. Tidak saja aspek kesejarahan yang menggambarkan raison d’etre, mengapa para pemimpin pendiri ASEAN menggagas ide organisasi regional pada situasi yang belum kondusif seperti sekarang di era globalisasi.

Sejak pengesahan dan pemberlakuan ASEAN Charter, organisasi ini telah berubah dari gerakan elitis yang lebih banyak dilakukan oleh pemerintah, menjadi entitas hukum yang semua produk keputusannya didasarkan pada hukum, termasuk dalam penyelesaian sengketa, menjadi gerakan yang melibatkan langsung masyarakat. ASEAN harus menjadi gerakan populis.

ASEAN telah menetapkan time-frame untuk pembentukan komunitas ASEAN, seperti Eropa dalam Maastrich Treaty 1993, yang akan membentuk pasar tunggal; pusat produksi dan distribusi barang dan jasa pada tahun 2015. Tidak hanya untuk pembentukan masyarakat ekonomi, ASEAN mulai 2008 setelah pengesahan Piagam secara serentak telah menetapkan pentingnya 2 pilar lainnya: politik keamanan, dan sosial budaya.

Pembentukan komunitas ASEAN dengan tema “One Identity, One Community” tidak akan tercapai bilamana masyarakat sebagai pemangku-kepentingan acuh tak-acuh, atau apatis.

Sudah saatnya masyarakat turut membubuhkan tandatangannya di prasasti ASEAN. Oleh karena itu, pendekatan ASEAN harus berubah: dari top-down menjadi bottom-up. Tanpa melibatkan masyarakat sejak sekarang maka ASEAN tetap menjadi proyek mercusuar para politisi ASEAN, dan akan kehilangan relevansinya bagi kemajuan rakyat di kawasan. Begitu kira-kira tema pesan yang kami sampaikan dalam acara-acara sosisasi.

Sosialisasi tidak hanya mono-direction, hanya penjelasan pasal demi pasal ASEAN Charter. Perlu dan relevan untuk menampung berbagai gagasan dan usulan masyarakat. Tidak hanya terbatas menjelaskan bahwa pembentukan pasar tunggal tidak merugikan kepentingan para pengusaha dan rakyat Indonesia.

Bukan persoalan enteng untuk menjelaskan tahap-tahap perkembangan organisasi, permasalahan yang dihadapi karena ASEAN yang memiliki ratusan pertemuan sepanjang, dengan nama singkatan (abreviasi) yang sulit untuk dihapal, apalagi dipahami.

Dirjen Kerjasama ASEAN Djauhari Oratmangun setengah bercanda selalu mengatakan mungkin ASEAN perlu membuat kamus tersendiri mengenai berbagai abreviasi foum, badan, pertemuan yang sudah mengalami proliferasi yang dahsyat! Nama badan dan forum ASEAN disingkat dengan abreviasi yang susah untuk ditebak entitasnya seperti apa.

ASEAN Bloggers


DALAM beberapa pertemuan di daerah, Kemlu secara khusus mengundang para bloggers yang diharapkan akan memotori masyarakat di daerah dan turut menyebarkan pemahaman tentang ASEAN.

Kemlu mengharapkan, peranan bloggers sangat penting untuk penyebaran informasi ke semua sendi-sendi kegiatan masyarakat. Maka, muncul gagasan untuk pembentukan masyarakat ASEAN Bloggers. Melalui forum ini, para bloggers Indonesia dapat berinteraksi dengan teman-teman di semua negara ASEAN.

Tentu diharapkan, para bloggers tidak hanya berdungsi sebagai forum saling menyapa; tetapi juga tukar-fikiran dan informasi mengenai masalah-masalah sehari-hari di semua profesi, sektor dan minat.

Berhadapan dengan forum bloggers, diperlukan kesiapan yang lebih terarah. Perlu dijelaskan secara masuk akal tentang berbagai keputusan ASEAN dan dampak positifinya bagi masyarakat. Pembentukan pasar tunggal ASEAN, misalnya, perlu dijelaskan manfaatnya langsung bagi kepentingan para pengusaha dan masyarakat yang menjadi kepentingan nasional.

Menjelaskan capaian-capaian ASEAN tidak mudah pula, karena tidak semua hasil yang dicapai itu merupakan tangible, dalam arti manfaat konkrit yang langsung bisa dirasakan masyarakat. Harus dijelaskan pula capaian yang intangible, bila menyangkut isu-isu pemeliharaan perdamaian dan stabilitas kawasan, misalnya.

Pada umumnya audiens, dan para bloggers lebih tertarik pada isu-isu ekonomi dan sosial budaya, yakni mengenai informasi tentang hal-hal konkrit yang langsung menyentuh kepentingannya atau dapat dimanfaatkan. Masyarakat, dengan pengecualian kalangan perguruan tinggi dan think-tank, tidak begitu tertarik untuk membicarakan kerjasama politik dan keamanan.

Pertemuan bloggers, seperti yang digagas oleh Perkumpulan Blogger Indonesia (PBI) mungkin bisa diperluas menjadi pertemuan pada tingkat ASEAN. Artinya, bloggers di tingkat nasional di seluruh Negara anggota ASEAN perlu bertemu tahunan. Indonesia dapat memulainya pada tahun 2011 ini.

Pertemuan akan bermanfaat tidak saja berbagi pengalaman, tetapi juga untuk pembentukan jaringan masyarakat blogger se ASEAN dan untuk memasyarakatkan ASEAN itu sendiri.

Grass Root


URGENSI untuk menjadikan ASEAN sebagai organisasi yang memusatkan aktifitasnya pada rakyat (people centered), dan menjadikan ASEAN a people driven community dirasakan pada saat pertemuan retreat ASEAN Ministerial Meeting (AMM) di Lombok pekan yang lalu.

Pejabat daerah, perguruan tinggi, LSM dan para wartawan mulai waspada pada isu-isu penting yang menjadi kepentingan nasional kita. Tidak sebatas mengenai ketenagakerjaan di mana Indonesia menjadi supplier terbesar, tetapi masyarakat secara spesifik mengharapkan Pemerintah memperjuangkan hak-hak pekerja dalam persetujuan ASEAN.

Daerah juga ingin agar proyek-proyek ASEAN dalam rangka memperbaiki mutu dan jumlah ketersediaan infrastruktur dapat dilaksanakan di Indonesia. Intinya, daerah ingin agar berbagai proyek investment dilakukan untuk menarik minat para investor menanamkan modalnya di sana. Perbaikan kualitas prasarana juga diharapkan dalam bidang pariwisata.

Seperti dikatakan oleh Dirjen Kerjasama ASEAN Djauhari Oratmangun, pihaknya akan terus mengadakan sosialisasi dan mengambil input dari masyarakat agar mereka dapat mengambil manfaat dari berbagai program yang dilaksanakan, terutama pada masa keketuaan Indonesia di tahun 2011 ini.

“Masyarakat lah yang harus mengambil manfaat dari ASEAN, agar tema ASEAN sebagai people-driven organization menjadi bermakna konkrit”, katanya.

Dalam masa keketuaan Indonesia di tahun 2011 sekarang, Dirjen Kerjasama ASEAN telah menyusun berbagai kegiatan dan pertemuan di berbagai kota di tanah air. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan ASEAN dirasakan oleh para elit dan masyarakat di daerah, dan pada saat bersamaan memopulerkan kota-kota tersebut menjadi tujuan wisata.

“Indonesia lebih dari sekadar Jakarta atau Bali, kita memiliki puluhan kota-kota lain yang memiliki keistimewaan mereka sendiri yang patut ‘dijual’ ke dunia”, ujar seorang penggiat pariwisata.

ASEAN perlu menjangkau semya elemen masyarakat sampai pada tingkat grass root.

Civil Society

Kegiatan sosialisasi tidak hanya melibatkan masyarakat secara langsung. Sosialisasi juga dilaksanakan bekerjama dengan KADIN, misalnya. Beberapa pertemuan akan digagas sendiri oleh KADIN, untuk mempertemukan pengusaha-pengusaha ASEAN dengan mitra atau calon-mitra mereka di daerah-daerah. Mereka ingin tahu peluang-peluang apa yang bisa dimanfaatkan.

Begitu pula dengan kegiatan promosi hak-hak wanita dan anak-anak. ASEAN juga telah menyusun agenda untuk melakukan sosialisasi di bidang program sosial budaya.
ASEAN juga melibatkan organisasi pemuda untuk ambil-bagian dalam kegiatan ASEAN.
Untuk itu Indonesian Young Enterpreneur Association (HIPMI) juga akan menyelenggarakan ASEAN Youth Enterpreneurship event, dalam mendorong kemajuan UKM Indonesia.

“Jika masyarakat dan LSM sendiri yang menyelenggarakan tentu efektif dalam menjangkau jaringan yang spesifik kelompok kepentingan dan masyarakat umum. Dengan pelibatan seluas mungkin unsur-unsur masyarakat, maka kehadiran ASEAN akan lebih dirasakan dan bermanfaat.

Dengan demikian, tujuan kita untuk menjadikan ASEAN a people-driven organization menjadi kenyataan, dan ASEAN pun terjamin untuk terus berkembang secara berkelanjutan”, tegas Dirjen Kerjasama ASEAN.

Jakarta, 1 Februari 2011

Sunday, January 16, 2011

INDONESIA: CULTURAL DIVERSITY OF THE MUSLIM WORLD



BELUM LAMA orang berbicara tentang “Clash of Civilizations”, bahwa pertentangan ideologis Komunis – Kapitalis telah sirna bersamaan dengan berakhirnya Perang Dingin. Tesis Samuel P Hungtington (1996) bahwa budaya dan identitas agama akan menjadi sumber konflik di dunia, menggantikan pertentangan ideologi politik tadi. Huntington sebenarnya ingin melanjutkan pemikiran yang belum selesai dari Francis Fukuyama “The End of History and the Last Man” (1992).

Teori-teori spekulatif ini sebenarnya hanyalah permainan kata-kata di kalangan akademis. Tetapi tesis perbenturan budaya menjadi dahsyat ketika kelompok Neo-Cons yang lagi naik daun AS menerjemahkan 9/11 sebagai legitimasi untuk menempatkan Islam sebagai tantangan terhadap kebudayaan Barat. Seni ‘menjualnya’ juga hebat, akibatnya dahsyat. Puluhan ribu jiwa melayang, beberapa triliun dolar menguap. Hasilnya: dunia berada di titik nadir, dan krisis pun hadir.

Tetapi, pemikir musiman seperti mode pakaian: they fade away. Politisi abad ke-21 Obama muncul dan menjungkirbalikkan paradigma ‘ngawur’ itu.

Di Kairo, Obama bertekad menjadikan Dunia Islam sebagai mitra sejajar untuk membangun dunia yang lebih beradab, santun dan penuh etika, serta damai. Hanya ini resep untuk membangun dunia yang sejahtera, di tengah-tengah kegalauan ekonomi global, kata anak Menteng yang kini menjadi orang terkuat di dunia, sembari mengutip pengalaman masa kecilnya ketika tinggal di negeri Muslim yang paling toleran di dunia. Di negeri kita, Obama mendengar azan setiap dinihari dan petang, sebagai “the most beautiful sound on earth”, katanya lagi.

Tak luput, Obama juga memuji Indonesia yang menjadi contoh: Islam dan demokrasi bukan antagonis, melainkan akur.

Islam: Rahmatan lil Alamin

MALAM itu, 16 Juni 2009, menjadi kenangan indah bagi kami masyarakat Muslim di ibukota Polandia, Warsawa. Semua perwakilan negara-negara Muslim/OKI sepakat menjadikan “Cross Cultural Evening” itu a show case tentang keberagaman Dunia Islam, beserta budayanya. Melalui medium budaya – seni tari, musik, lukisan, kerajinan, kuisin—kami ingin memperkenalkan wajah Islam yang damai dan toleran, penuh persahabatan di negeri mayoritas Katolik Polandia yang toleran ini.

Mungkin, ini juga respons kami terhadap seruan sang superstar Barack Hussein Obama di Kairo.

Suasana indah pada malam itu sebenarnya melanjutkan pesan sama yang saya sampaikan ketika diundang berbicara pada "The 5th Edition of the Days of Muslim Culture", yang digelar Muslim Cultural and Education Council di Kota Wroclaw, di baratdaya Polandia akhir Mei yang lalu. Makalah saya bertajuk "Islam in Indonesia: Unity in Diversity", menunjukkan Islam di Indonesia mempunyai karakter khusus yang damai, terbuka, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan keyakinan.

Selama 1 jam 15 menit saya berbicara di seminar Wroclaw dengan kesimpulan bahwa Indonesia menjadi contoh terbaik di Dunia Muslim dalam penerapan demokrasi karena menjadi negara demokratis dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Ini wajah Islam yang berada di mainstream, cinta dan toleran terhadap sesama, karena Allah menciptakan dunia bagi kita sebagai “rahmatan lil alamin”. Perbedaan adalah rahmat. Karena itu, Islam bukanlah wajah-wajah sangar yang haus darah, siap menebas leher siapa-siapa yang menghempang di depannya.

Islam menolak konflik berdarah-darah, huru-hara, dan pembakaran kota yang hanya bertujuan menyengsarakan kehidupan rakyat. Islam memajukan dialog bermutu yang santun, seperti Obama tadi, untuk mencerminkan jadi-diri bahwa kita memiliki peradaban tinggi dan menyelesaikan perbedaan yang berujung kepada kesepakatan tentang bagiaman solusi terbaik demi kemashlahatan umat, melalui amar makruf!

Di Wroclaw kami menampilkan seni musik gamelan dan wayang yang teduh. Saya katakana, seni ini merupakan medium yang dipakai para Wali dalam menyampaikan pesan-pesan damai Islam ke bumi Nusantara pada abad ke-8 yang lalu. Sangat efektif, karena dimengerti dengan baik, merasuk ke sanubari.

Dan, kurang seabad Islam pun menjadi agama dominan di Nusantara, sehingga Indonesia sekarang diakui menjadi Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Cross-Cultural Evening

SEPANJANG pagi dan sore Warsawa diguyur hujan, dan udara pun dingin menusuk tulang. Kemarin, ketika saya menghadiri garden party, ulang tahun teman saya Dubes Irlandia udara bukan main panas. Memang, kondisi udara yang gampang berubah menjadi ciri musim pada tahun ini.

Tetapi, kehangatan kami mampu menghalau udara dingin dan tidak menyurutkan minat pengunjung untuk menghadiri acara yang untuk pertama kalinya digelar di Warsawa. Dalam acara tersebut, ditampilkan seni tari dan musik, pameran kerajinan tangan, dan makanan dari berbagai negara-negara. Unik, karena pada malam itu kami bukan hanya bermodalkan pentas-seni, karena di sana juga tersedia berbagai jenis hidangan dan minuman khas dari Asia, Timur Tengah dan Afrika.

Acara yang digelar oleh seluruh Perwakilan Diplomatik negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Warsawa pada hari Selasa (16/6) bertajuk “Cross Cultural Evening”, dihadiri kl. 500 undangan yang terdiri dari pejabat pemerintah Polandia serta corps diplomatic dan tokoh-tokoh masyarakat.

Tuan rumah, Duta Besar Saudi Arabia Dr. Nasser Bin Ahmed Albraik, yang juga menjadi ketua perkumpulan Dubes-Dubes OKI, mengatakan kami ingin menunjukkan ke dunia internasional, khususnya masyarakat Polandia, mengenai keberagaman budaya di antara negara-negara Islam. Kami mengharapkan, pengenalan terhadap budaya Muslim akan membantu peningkatan pemahaman serta saling pengertian di dalam membangun kehidupan dan pergaulan internasional yang kondusif. Clash of Civilizations adalah a thing of the past!

Message yang ingin kami sampaikan adalah Islam bukan homogen, karena memiliki keberagaman budaya yang tinggi. Heterogenitas ini hanya dapat terpelihara bilamana masyarakat memiliki tingkat toleransi yang tinggi pula.


Indonesia Tampil Unik

PENAMPILAN budaya Indonesia baik tari-tarian, seni kuisin, maupun kerajinan mencerminkan keberagaman budaya Indonesia yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasa yang menjembatani keyakinan yang berbeda-beda. Unik. Keberagaman budaya ini telah diakui dunia internasional yang pada saat bersamaan menempatkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar.

Kami dalam acara tersebut menampilkan 2 tarian yang dibawakan oleh mantan penerima beasiswa Darmasiswa, yakni tarian Yapong (Betawi) oleh Iwona Czapla dan Roza Puzynowska dan tari Gabor (Bali) oleh Maria Szymanska. Penari tradisional Indonesia yang ayu-ayu itu mendapat kehormatan tampil untuk pertama kali dan mendapat sambutan meriah dari pengunjung. Selanjutnya, acara di panggung diisi oleh para musisi Khawali dari Pakistan, yang sedang berada di Polandia dalam rangka kegiatan promosi budaya dan festival. Acara musik dan nyanyian seni Pakistan yang bernafaskan sufi tersebut juga mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Peserta dari Negara Muslim lainnya, dan juga kelompok seni kaum Muslim Tartar yang berada di Byalistok, karena waktu persiapan yang sempit tidak dapat tampil.

Dalam gelar kuisin, Indonesia menampilkan “Nasi Kuning” komplit (Melayu) yang dihias berbentuk “Tumpeng”.

KBRI Warsawa juga memanfaatkan acara tersebut untuk promosi wisata, dengan memamerkan barang-barang kerajinan dan souvenir serta poster wisata alam dan membagikan brosur-brosur pariwisata. Selain KBRI Warsawa, turut berpartisipasi dalam mengisi acara kuisin dan kerajinan adalah Malaysia, Pakistan, Turki, Syria, Aljazair, Kuwait, Lebanon, Azerbaidjan, Arab Saudi, dan Iran.

Saya juga diminta berpidato. Saya memperkenalkan negeri kita Indonesia dengan khazanah budaya yang sangat beragam: terbukti dengan tarian, musik, makanan, dan seni lainnya yang terdapat di ribuan pulau-pulau. Meskipun 90% dari penduduk 247 juta beragama Islam sehingga dan menjadi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun Indonesia adalah negara yang memiliki budaya Muslim yang khas. Budaya nusantara mungkin berbeda dengan budaya masyarakat Muslim di Timur Tengah, akan tetapi inilah budaya nasional. Budaya yang tumbuh di masyarakat Melayu di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi Papua menjadi bagian kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Muslim, sesuai dengan semboyan “Unity in Diversity”, seperti diyakini Obama.

Keberhasilan dalam menyampaikan pesan damai pada “Cross Cultural Evening” mendorong kami untuk mengadakan acara serupa pada waktu-waktu mendatang.

Warsawa, 21 Juni 2009

Friday, January 14, 2011

MEMBANGUN KAPASITAS ASEAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA

KEBERHASILAN ASEAN dalam memelihara perdamaian dan stabilitas merupakan capaian terbesar bagi organisasi sub-regional itu. Memang, sejak berdirinya ASEAN di tahun 1967 kawasan Asia Tenggara tidak mengalami konflik-konflik besar sehingga Dewan Keamanan PBB perlu turun tangan. Tidak ada yang meragukan hal ini.

Di usianya ke 43 ASEAN juga telah membukukan sejumlah keberhasilan yang tangible, terutama di bidang ekonomi. Banyak persetujuan di bidang perdagangan, investasi, keuangan, maupun ketenagakerjaan yang telah dihasilkan. Begitu pula di bidang sosial budaya, seperti perlindungan HAM, anak-anak dan wanita, pendidikan, dan penanganan bencana alam.

Seperti dikatakan oleh Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, kedudukan Indonesia menjadi Ketua ASEAN tahun 2011 menjadi harapan kepemimpinan Indonesia untuk memajukan organisasi sub-regional itu setingkat lebih tinggi. Sebagai negara terbesar dari segi ekonomi, penduduk dan wilayah di Asia Tenggara, wajar jika rakyat di Asia Tenggara berharap banyak. Bukan hanya rakyat Indonesia yang masih menunggu hasil-hasil nyata ASEAN, tetapi juga bagi separuh penduduk ASEAN yang kini berjumlah 500 juta yang berdiam di 9 negara anggota lainnya. Banyak agenda yang menjadi kepentingan nasional kita untuk diperjuangkan bersama.

Keketuaan Indonesia di tahun 2011 mempunyai visi “ASEAN Community in a Global Community of Nations”. Visi itu bisa direalisasikan apabila ASEAN telah memiliki kapasitas yang viable dalam menyelesaikan masalah-masalah internal di antara negara-negara anggotanya. Masalah cross border, territorial claims bahkan konflik sosio kultural masih menghambat cohesiveness ASEAN. Jangankan menyelesaikan masalah internal ASEAN melalui sistem penyelesaian sengketa dengan mekanisme yang sudah, negosiasi saja belum pernah ada.

Keberhasilan negara-negara ASEAN untuk memperkuat kelembagaan dan mekanisme penyelesaian sengketa (dispute settlement mechanism/DSM) menjadi salah satu agenda terpenting di dalam memperkuat pilar politik keamanan, dalam konsepsi menyeluruh secara bersama dan seimbang dengan upaya pembentukan 2 pilar lainnya, yakni di bidang ekonomi dan sosial budaya.

Dalam periode keketuaan 2011, Indonesia ingin memastikan penguatan ketiga pilar guna mendorong lebih lanjut proses perbentukan ASEAN Community di tahun 2015, sebagaimana disampaikan oleh Menlu Marty Natalegawa dalam pernyataan akhir tahunnya di awal Januari 2011 yang lalu.

Memperkuat institusi dan ketentuan tentang DSM juga memiliki arti di bidang penguatan masyarakat ekonomi ASEAN.

Manakala kita berbicara untuk memastikan kokohnya pilar ekonomi di tahun 2015, maka ASEAN harus memastikan pula penguatan infrastruktur hukumnya. Penguatan rejim dan infrastruktur hukum, termasuk hukum ekonomi, juga menjadi prasyarat bagi penyelesaian sejumlah kasus-kasus hukum, yang tidak terbatas hanya di ranah keperdataan (kebanyakan soal-soal perdagangan dan investasi) tetapi juga ke ranah hukum publik, seperti ketenagakerjaan, pencurian ikan dan berbagai kejahatan trans-nasional. Tidak tertutup pula kemungkinan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa wilayah dan perbatasan melalui mekanisme ASEAN.

Dalam bahasa akademis orang bertanya mengapa penting penguatan mekanisme penyelesaian sengketa dalam konteks menuju ASEAN Community 2015? Jawabannya jelas, sejak pengesahan Piagam ASEAN maka organisasi regional itu telah menjadi entitas hukum yang mensyaratkan agar semua keputusan atau perselisihan diselesaikan dengan berdasar pada hukum pula.

Catatan berikut ini disarikan dari pokok bahasan pada diskusi yang berlangsung di Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, pada tanggal 10 Januari 2011 yang lalu.

Two Corridors One Direction?

SEJAK DINI para pendiri ASEAN pada tahun 1967 telah mengutarakan visi untuk pembentukan DSM di sesama anggotanya. Jangan lupa, ASEAN terbentuk di tengah berkecamuknya Perang Vietnam di bawah bayang-bayang Perang Dingin di Asia Pasifik dan konflik-konflik panas di sesama negara Asia sendiri.

Oleh karena itu, ketika Dokumen Treaty of Amity and Cooperation (TAC) yang dihasilkan pada KTT di Bali Concord I tahun 1976 disetujui, para pendiri ASEAN juga meletakkan norma-norma dasar bagaimana perilaku ideal jika terjadi konflik di antara anggota-anggotanya, yakni pada Pasal 13-17 TAC.

Belakangan TAC juga menjadi code of conduct yang wajib dipatuhi oleh negara-negara kawasan yang berminat masuk menjadi anggota ASEAN (ketika itu ASEAN hanya memiliki 5 anggota) dan bagi negara di luar kawasan bilamana mereka menginginkan engagement dalam proses ASEAN , seperti menjadi dialog partners atau berpartisipasi dalam status bukan anggota di berbagai fora ASEAN, misalnya dalam ASEAN Regional Forum (ARF).

TAC secara spesifik mengatur bahwa negara-negara anggota ASEAN ataupun di luarnya “shall refrain from threat or use of force and settle such disputes through friendly negotiations”.

Untuk menjamin proses penyelesaian melalui negosiasi itu maka akan dibentuk lembaga dengan anggota setingkat menteri, yang disebut sebagai High Council (HC). Produk dari HC adalah rekomendasi mengenai mekanisme yang disarankan sebagai modalitas penyelesaian sengketa, yakni apakah melalui jasa baik (good offices), mediasi (mediation), penyelidikan (inquiry) atau rujuk (conciliation).

Pada TAC inilah nosi pertama kali muncul mengenai kelembagaan High Council. Para pempin menyadari magnitude konflik-konflik yang ada dan mungkin mekanisme HC kurang memadai. Oleh karena itu, HC juga merujuk pada mekanisme yang terdapat di PBB, sesuai dengan Pasal 33 Piagam PBB, sekiranya mekanisme ASEAN belum berhasil.

Lebih lanjut, untuk memastikan proses acara (prosedur) maka disahkan pula Rules of Procedure TAC yang disahkan pada tahun 2001.

Yang menjadi persoalan, entah kenapa lembaga HC ini belum pernah terbentuk, meskipun di antara anggota-anggota ASEAN terdapat berbagai konflik ataupun potensi konflik.
Tidak ada penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi.

Dugaan dari berbagai pakar adalah karena masa lalu di kawasan memang penuh kecurigaan (animosity), pembentukan saling-percaya (confidence building) masih memerlukan waktu, atau memang karena ada perbedaan mendasar dari Anglo-Saxon system yang dianut sebagian anggotanya (Malaysia, Singapore) dengan continental system yang dianut Indonesia.

Satu yang pasti adalah kuatnya kemauan politik ternyata tidak cukup untuk menghadapi realitas yang ada. Agar supaya semua pihak merasa ‘convenient’ perlahan-lahan upaya pembentuka DSM yang kredibel di ASEAN pun meluntur atau dilupakan sejenak.

“Rather than solving them (cases), they shelve them!”, kata seorang pengamat yang diplomat senior.

“We solve them in a ASEAN way”, tanggap pengamat lainnya. Atau lebih tepat didiamkan saja, sehingga negara-negara bersengketa mencoba menyelesaikan secara bilateral saja, bukan dalam kerangka mekanisme ASEAN.

Setelah terbentur pada koridor pertama untuk mengaktifkan HC, para pemimpin ASEAN menyepakati untuk memperkuatnya melalui proses pembentukan ASEAN Charter (Piagam), tanpa spesifik merujuk pada kelembagaan HC. Tidak ada pula penjelasan, misalnya, mengapa Piagam ASEAN yang berlaku sejak 15 Desember 2008 tidak menyebut referensi kepada mekanisme “High Council”.

Apakah ASEAN memiliki 2 sistem penyelesaian sengketa yang bertentangan? Apakah HC telah superceded by Charter? Ini bukan kesimpulan yang disepakati.

Mari kita lihat klausul-klausul terkati DSM pada Piagam ASEAN khususnya pada Bab VIII.

Pertama, pembentukan norma bahwa amekanisme penyelesaian perselisihan dilakukan melalui dialog, konsultasi dan negosiasi, khusus tentang dispute yang tidak terkait dengan perbedaan interpretasi terhadap sejumlah instrumen hukum yang dikeluarkan ASEAN. Tidak perlu diatur umum (lex generalis) karena masing-masing instrument yang dikeluarkan ASEAN telah mengatur tersendiri klausul prosedural di salah satu pasalnya (lex specialis).

Kedua, bagaimana prosedur (acara) bagi kasus-kasus di luar soal penafsiran instrument ASEAN? Piagam menentukan beragam jalan pula, tergantum jenis case-nya.

Jika kasus tentang sengketa hukum, penyelesaiannya memakai rujukan TAC dan Rules of Procedure-nya, sedangkan di luar penafsiran instrument atau tentang penerapan berbagai persetujuan di bidang ekonomi maka akan digunakan Protocol on Enhanced DSM, yang pada dasarnya mengacu pada model penyelesaian WTO.

Ketiga, untuk mengantisipasi kasus-kasus hukum rumit yang sulit Lebih rumit, Piagam membuka ruang untuk diputuskan pada tingkat KTT (summit) yakni para kepala Negara/pemerintahan dari anggota ASEAN. Mekanisme procedural (acara) untuk kasus-kasus tak terselesaikan (unresolved disputes) ini belum dibuat. Penyelesaian hukum acara untuk kasus-kasus sedemikian dapat menjadi kontribusi Indonesia sebagai ketua ASEAN 2011.

Sebagai tindak lanjut pada Pasal 25 Piagam, para Menlu ASEAN telah menugaskan kelompok pakar yang telah menghasilkan protocol yang memuat 4 annex tentang rules of consultation, good offices, mediation, conciliation, dan arbitration. Piagam lebih maju karena memasukkan “arbitrasi” di dalam modalitas penyelesaian sengketa, dan dengan keputusan yang mengikat (binding).

Keempat, Piagam juga memberikan kewenangan kepada Ketua (setiap tahun berganti) dan Sekjen ASEAN. Ini juga masih belum jelas. Secara konseptual masih sulit mencerna bagaimana organ eksekutif Kepala Negara/Pemerintahan dan Sekjen ASEAN juga dibebani dengan masalah-masalah yudikatif.

Di samping itu, kedudukan Sekjen yang memiliki kapasitas eksekutif yang terbatas di ranah administratif masih tergantung pada 'mandat' atau kepercayaan yang diberikan oleh negara anggota ke padanya. Jangankan memadankan dengan Presiden UE, mengimbangi mandat dan otoritas Sekjen ASEAN dengan Sekjen PBB masih belum pas.


Layak Diusulkan

MESKIPUN tidak menjadikan lagi HC sebagai referensi dalam Piagam, namun Piagam juga merujuk pada TAC dan rules of procedures yang implisit menunjukkan bahwa pembentukan High Council (HC) masih dimungkinkan.

Tidak terdapat konflik di antara koridor I (TAC) dan koridor II (Piagam). Bahkan, ketentuan yang terdapat pada Piagam tidak bertentangan dan bahkan melengkapi mekanisme yang kurang efektif seperti terdapat pada TAC.

Menurut hemat saya Indonesia masih dapat menggagas untuk pembentukan lembaga High Council. Di samping tidak bertentangan dengan Piagam, kedudukan HC akan membantu penangangan berbagai konflik yang telah atau berpotensi untuk muncul.

Dalam era perdagangan bebas ASEAN, dan pembentukan Komunitas 2015 akan secara drastik menguatkan interaksi dagang baik di antara negara-anggota maupun dengan negara di luar ASEAN, termasuk semakin meningkatnya kasus-kasus keperdataan maupun berbagai peristiwa di lapangan yang memungkinkan atau berpotensi pada gesekan di tingkat pemerintah. Belum lagi akan munculnya intensitas bilamana konflik wilayah atau perbatasan di Laut China Selatan masih belum berujung untuk diselesaikan.

Manfaat lain yang dirasakan oleh pemerintah maupun rakyat ASEAN dengan pembentukan sistem peradilan internal adalah biaya yang relatif lebih murah, daripada pergi ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice) yang mahal dan lama.
Dengan terbentuknya sistem dan kelembagaan DSM ASEAN, niscaya iklim ekonomi ASEAN akan semakin kredibel bagi dunia luar, yang pada gilirannya akan memperkuat komunitas ekonomi sebagaimana telah diikrarkan.

ASEAN Court of Justice: Wacana ASEAN Post 2015

BILA melihat kondisi negara-negara di Asia Tenggara dan stabilitas kawasan pada tahun 1960-an, sulit membayangkan akan lahir ASEAN. Visi para pemimpin inilah yang terbukti mampu melampaui zaman inilah menginspirasi kita untuk berfikir lebih jauh dari sekadar Komunitas 2015.

Jika membayangkan kondisi HAM di Indonesia maupun di seluruh Negara anggota ASEAN sebelum era reformasi di tahun 1989, sulit membayangkan bahwa pada suatu hari ASEAN akan memiliki Badan HAM. Namun semua kini menjadi realita.

Indonesia, seperti dikatakan Menlu Marty Natalegawa, juga perlu memikirkan ASEAN beyond 2015. Artinya, meskipun pada tahun 2015 Komunitas ASEAN telah terbentuk kita tidak boleh berdiam diri dan puas. Indonesia harus mulai menyumbangkan gagasan lebih lanjut.

Maka, muncul pula pemikiran kenapa Indonesia tidak melemparkan gagasan dan mendorong untuk terbentuknya ASEAN Court of Justice?

Karena sama-sama maju dan menjadi contoh di dunia, ASEAN dikatakan menempuh jejak Uni Eropa. Pengesahan Piagam ASEAN 2008 diumpamakan dengan tercapainya Maastrichat Treaty di tahun 1993.

Namun, di Uni Eropa debat mengenai ‘kedaulatan negara’ dalam diskursus apakah UE merupakan badan ‘supra nasional’ atau badan intra-pemerintah? Pada kenyataannya, elemen-elemen ‘state soveregnty’ sudah semakin terkikis di Eropa. Mereka sudah memiliki ‘common foreign and security policy’, economic laws, mata-uang tunggal, Parlemen Eropa (kompetensi sebagai mitra Presiden), persetujuan visa Schengen, dan berbagai badan pada tingkat ‘federal’ yang dipatuhi oleh Negara-anggota, bahkan dengan sanksi!

Tentu, pada saat terbentuknya The European Coal and Steel Community pada tahun 1951 para pemimpin Eropa tidak membayangkan suatu proses integrasi yang berjalan begitu cepat dan dahsyat di tengah-tengah puing kehancuran Eropa pada akhir Perang Dunia II. Visi para pemimpin dan tekad mengiimplementasikannya menjadi faktor kunci. Tidak ada lagi konflik terjadi di sesama Negara di Eropa . Tidak ada lagi konflik Prancis-Jerman yang selalu mengawali perang dunia yangmenghancurkan Eropa ke titik nadirnya. Mereka, rakyat Eropa, yakin itu.

Jika pada saat sekarang ASEAN masih ‘reluctant’ berbicara tentang lembaga supra nasional di bagaimana di masa depan?

Jika Eropa telah memiliki “European Court of Justice” mengapa pula ASEAN tidak mungkin memiliki lembaga serupa? Apakah hal ini akan bertentangan dengan statute International Court of Justice yang diakui menjadi organ utama sistem peradilan PBB?
Sebagai anggota PBB memang Indonesia belum menjadi pihak pada Statuta ICJ, tetapi bersama Malaysia kita bersepakat membawa kasus Sipadan Ligitan ke Mahkamah Internasional. Hal ini bisa diartikan bahwa secara asasi Indonesia sudah tidak berkeberatan dengan kehadiran ICJ.

Siapa pula bisa menduga, Indonesia pada suatu ketika akan menjadi pihak pada Rome Statute of International Criminal Court? Indonesia telah menandatangani statuta ICC meskipun masih belum meratifikasinya. A matter of time, kata seorang pakar.

“Kita perlu meredefinisi konsep-konsep ‘state sovereignty’ , ‘non-inteference’ sesuai dengan perkembangan di dunia, maupun di ASEAN sendiri”, ujar seorang pakar mantan dubes di beberapa Negara kepada saya.

“Keputusan membawa perkara ke Mahkamah berada pada domain pemerintah, sehingga tidak perlu ada notion yang meletakkan Mahkamah sebagai lembaga supra nasional”, kata pakar yang lain.

Saya fikir, sekiranya Indonesia sebagai Negara terbesar dan paling berpengaruh di ASEAN merintis jalan ke depan, sebagaimana dilakukan dalam pembentukan Komisi HAM ASEAN dan the Bali Cemocracy Forum, maka leadership dalam memelopori kemajuan dan kapasitas ASEAN dalam penyelesaian konflik juga memiliki merit untuk diajukan.

Menggagas pembentukan ASEAN Court of Justice dapat dipertimbangkan dalam rangka menempatkan ASEAN dalam status sama seperti Uni Eropa, terhormat dalam pergaulan antar-bangsa.

Kemajuan dalam pembentukan institusi dan mekanisme penyelesian sengketa pada gilirannya akan memperkuat terbentuknya komunitas politik dan keamanan ASEAN, sebagai suatu merupakan keniscayaan.

Tentu saja, kita lakukan dengan “ASEAN way” dengan pendekatan baru pula.

Jakarta, 15 Januari 2011

Wednesday, January 12, 2011

THE SPIRIT OF TOLIKARA: GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (3)

“Republik ini terlalu besar, terlalu kaya, terlalu indah: banyak ruang-ruang yang terbuka lebar bagi kita untuk membuatnya menjadi lebih indah, lebih berjaya, lebih bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa”

SAYA mengawali tulisan ini dengan kalimat yang saya susun sendiri di atas untuk mengajak semua lapisan bangsa bersikap optimis dan mau memberikan kontribusi, melalui bidang-bidang profesi yang dikuasai di manapun dia berada.

Laskar-laskar Pelangi yang tidak pernah mau berhenti bermimpin dari Tolikara, dari pedalaman Papua, akan membuat Republik Indonesia menjadi lebih indah, lebih berjaya, lebih bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa.

The Spirit of Tolikara saya ambil dari pelajaran yang dipetik dari keberhasilan anak-anak kita itu pada pentas sains dunia, pada saat mereka berpartisipasi dalam Olimpiade Astronomi Tingkat Asia-Pasifik atau Asian Pacific Astronomy Olimpiad (APAO) VI yang diselenggarakan nun jauh di pegunungan Papua di Kabupaten Tolikara, 24 November-5 Desember 2010.

APAO adalah salah satu jenis olimpiade internasional dalam bidang astronomi. Olimpiade yang dikhususkan bagi siswa SMP dan SMA (14-18 tahun) ini bertujuan mempromosikan pendidikan Astronomi dan menekankan pentingnya pendidikan sains di negara-negara Asia, Oseania, dan Pasifik. Olimpiade tersebut dibagi dalam tiga tahap, yaitu Theoritical Round, Observation Round, dan Practical Round. Perwakilan APAO untuk Indonesia dipegang oleh Chatief Kunjaya.

Event yang digagas oleh Prof. Yohanes Surya dari Surya Institute, dengan dukungan orang-orang yang memiliki idealisme dan semangat berkontribusi untuk kejayaan Indonesia, berlangsung sukses. Tidak mudah, berliku-liku, dan hanya dengan kemauan keras serta dukungan berbagai pihak maka event ini dapat terlaksana.

Catatan ini menjadi bagian ke-3 dari 2 tulisan sebelumnya tentang “Generasi Hibrida Telah Lahir”.

Hasil-Hasil

DALAM tulisan-tulisan sebelumnya, saya menggambarkan peranan seorang motivator utama dalam memajukan minat sains di kalangan pelajar dan menampilkan mereka di event-event bergengsi internasional. Sering menjadi juara dunia, dan bahkan menjadi juara umum seperti yang terjadi di Polandia pada tahun 2009 yang lalu, maka anak-anak Indonesia sudah diperhitungkan di kalangan negara-negara maju, berkat Profesor Yohanes Surya.

Begitu pula di Tolikara. Putra-putri Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dengan mengantongi 1 (satu) medali emas, 2 (dua) medali perak, 7(tujuh) medali perunggu sekaligus memperoleh 3 (tiga) predikat “Best Observational” dan “Best Host Territory”. Putra-putri dari Papua sendiri juga turut menyumbang terhadap prestasi tersebut, yaitu dengan diraihnya tiga medali perunggu dan satu predikat “Best Host Territory”.

Selain Indonesia, negara peserta yang ikut berpartisipasi Rusia, Korea Selatan, Kazakhstan, Cambodia, China, Bangladesh, Nepal dan Kyrgyztan. Untuk tahun ini Kyrgyzhtan hanya mengirimkan peninjau (observer). Dari 9 negara anggota Olimpiade Astronomi Asia Pasifik, hanya Singapura dan Thailand yang tidak datang.

Dalam event itu, Indonesia sebagai tuan-rumah boleh mengirimkan 2 Tim, yakni satu tim nasional dan satu tim daerah (dari Tolikara), masing-masing beranggotakan peserta junior yakni siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan siswa sekolah menengah atas (SMA).

Anggota tim nasional Indonesia adalah Hendrik Lewu Medlama (SMAK BPK Penabur Gading Serpong), Ramadino Athaariq (Mentari International School Jakarta), Cliff Alvino Wijaya (SMP Karangturi Semarang), Lidya Pertiwi Suhandoko (SMPN 1 Blitar), Siti Fatima (SMAN 1 Sampang), Muhammad Wildan Gifari (SMA Semesta), Dedy Arianto Runting (SMAN 5 Palangkaraya), dan Yahdi Isnu Miftahuddin (SMAN 1 Taliwang).

Sedangkan tim Tolikara beranggotakan Tower Bogum (SMP YPPG I Karubaga), Betty Angelina Kogoya (SMP YPPG I Karubaga), Erfince Wanimbo (SMPN 1 Karubaga), Echo Yikwa (SMPN 1 Karubaga), Ramli Wanimbo (SMA YPPG I Karubaga), Mendi Weya (SMAN 1 Karubaga), dan Itha Yikwa (SMAN 1 Karubaga).

Selama Februari hingga November 2010, kedua Tim dilatih di Pusat Pelatihan Ganesha Astromedia dan observatorium Boscha, Bandung, serta di Planetarium, Jakarta, baik oleh tim Surya Institute maupun dari ITB dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Dukungan Wakil Presiden

WAKIL Presiden Boediono ketika melepas 15 peserta APAO VI di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan 22 Nopember 2010, menyatakan bangga dengan keikutsertaan Indonesia. Wapres menggarisbawahi pentingnya menggunakan momen olimpiade itu untuk menaikkan nama baik bangsa, dan mengharapkan anak-anak menimba pengalaman sebanyak-banyaknya, yang mungkin bermanfaat bagi mereka jika ingin menempuh karir di dunia astronomi.

"Ini bidang yang sangat sulit. Namun, dengan bimbingan sejak dini, saya kita akan membantu. Gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kemampuan dan bekal pengalaman selanjutnya untuk menjadi astronom atau yang lain," kata Wapres.

Wapres Boediono melanjutkan, Indonesia sangat kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA), namun mempunyai mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang minim. Padahal kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh SDA yang dimilikinya, bukan SDM.

"Maka strateginya yang terbaik adalah memanfaatkan SDA untuk dikonversikan menjadi SDM dengan waktu tidak terlalu lama. Saya sangat menaruh harapan agar anak-anak ini menjadi elemen yang bisa konversikan SDA menjadi SDM," ungkapnya.

Mengapa Tolikara?

Mengapa di Tolikara, suatu kabupaten baru yang mungkin baru didengar namanya.

Pertama, memberikan kesempatan kepada provinsi Papua melalui pendidikan berpartisipasi pada event memberikan kesempatan kepada provinsi Papua melalui pendidikan untuk berpartisipasi pada event Internasional. Alasan kedua kondisi alam yang ideal untuk observasi jagad raya yang didukung oleh langit yang bersih; dan ketiga, karena Kabupaten inilah yang pertama kali memberikan komitmen untuk mendukung acara APAO VI 2010. Ini dikatakan langsung oleh Profesor Yohanes Surya kepada saya.

Panitia juga berharap, penyelenggaraan Olimpiade di Papua akan menjadi pemicu (trigger) untuk merangsang minat belajar anak usia sekolah di Papua umumnya, sekaligus membuka mata pemerintah untuk mendukung kemjuan pendidikan di daerah tertinggal.

Tolikara adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya pada 2002 dengan luas wilayah 4. 500 km2, berpenduduk 248.000 jiwa tinggal di 46 distrik kecamatan serta 541 desa. Ibu kota Tolikara di Karubaga hanya dapat dijangkau dengan pesawat kecil dari Jayapura atau transportasi darat yang melintasi jalan tidak beraspal sepanjang 96 kilometer dari Wamena, ibu kota Jayawijaya.

Seperti diceritakan oleh Ir Sri Setiowati pada saat makan siang di Hotel Niko pada pertengahan November 2010, salah satu alasan mengapa olimpiade astronomi diselenggarakan di Tolikara adalah karena dukungan John Tabo, pada saat itu menjabat bupati. Tidak ada kepala daerah yang berminat kecuali Bupati di daerah terpencil itu.

Tidak menjadi halangan bagi panitia untuk menempuh ke lokasi yang terisolir, meskipun harus menempuhnya dengan pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena dan masih memerlukan mobil yang siap bertarung di jalan-jalan darurat selama kl. 4 jam, melintasi daerah-daerah di mana rakyatnya belum mengenal pakaian!

John Tabo sadar untuk suatu upaya luhur memerlukan pengorbanan. Dia bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO, sekaligus mendanai seluruh biaya persiapan selama hamper 1 tahun tim olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Papua.

John Tabo juga sadar sebagai pemimpin di daerah terisolir tentulah banyak biaya diperlukan untuk membangun prasarana yang menunjang ekonomi. Tetapi dia yakin, terobosan perlu dilakukan dengan suatu ‘trigger’ yang tidak lain adalah jalur pendidikan. Bagaimana upaya membangkitkan semangat rakyat di daerahnya, dimulai dari anak-anak yang nanti menjadi harapan bangsa.

John Tabo mendengarkan nuraninya, dan bahkan membuat terobosan ‘gila’, dengan mengambil dana penyelenggaraan APBD! Dia tahu, dalam system keuangan Negara sekarang dia rawan dengan jeratan KPK atau BPK! Tetapi dia jalan terus, mendengarkan nuraninya.

High Spirit

TIDAK MUDAH untuk merealisasikan Olimpiade astronomi di Tolikara. Tidak kurang dari Ketua APAO Michael Gavrilov pada mulanya meragukan kesiapan panitia, terutama dengan fasilitas daerah yang terbatas.

Setelah berlangsung dengan sukses, Ir Sri Setiowati Seiful mengungkapkan kegembiraannya karena mengalamai berbagai "keajaiban" sehingga mimpi Surya Institute untuk menyelenggarakan Olimpiade Astronomi Asia-Pasifik di Tolikara, Papua, berhasil. Meski tanpa dukungan dana dari Kemendiknas!

"Kegilaan yang disebutkan dibawah, itulah yang aku anggap berbagai "keajaiban" sehingga mimpi yang semula terlihat "impossible mission" bisa terlaksana. Hidup negeriku... dan orang2 terbaik di negeriku”, tulis Ir Sri Setiowati Seiful.

Saya menyambut baik kabar gembira itu, dan mengirimkan balasan pada tanggaal 12 Desember 2010 sebagai berikut:

Bu Sri yang baik,

Terima kasih atas update dan hasil-hasil maksimal diperoleh. Kerja keras Ibu dan teman-teman di Surya Institue paid off.
Saya senang turut memberikan kontribusi dlm prosesnya, tetapi yg terpenting saya berjanji dlm diri sendiri untuk tetap memberikan dukungan moral bagi para pejuang yg mengangkat nama Indonesia di mata dunia, seperti olimpiade astronomi yg telah berlangsung sukses.

Spirit Tolikara telah mengilhami kita semua.

Kapan-kapan kita ngopi lagi bareng Prof Yohanes Surya. Salam hangat



Ir Sri Setiowati juga mengirim-lanjut (forward) kepada saya laporan pandangan mata dari personil UKP4 (Unit Kerja Presideng Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto yang hadir dan mengungkapkan ‘kegilaan’ secara positif bagaimana antusiasme semua pihak telah memungkinkan tampilnya anak-anak Indonesia, khususnya dari Papua, dalam olimpiade astronomi itu.

Laporan staf UKP4 kepada boss-nya yang tidak lain adalah Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto intinya ungkapan kegembiraan atas keberhasilan anak-anak kita di urutan ke-2 dari 9 negara, dan terutama keberhasilan pelajar-pelajar Tolikara dalam merebut 3 medali perunggu,meskipun mereka dari daerah terpencil.

Upaya mengumpulkan anak-anak untuk direkrut menjadi tim olimpiade juga tidak mudah. Lebih lagi, bagaimana merekrut 1 tim yang berasal dari Tolikara sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi anak-anak di daerah terpencil Papua, apalagi jika mereka diharapkan akan menguasai matematika dan berbagai ilmu dasar yang dipersyaratkan untuk mempelajari astronomi!

Astronomi adalah kumpulan dari berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi sebagai dasar untuk mempelajari fenomena jagad raya.

Begitupun, Profesor Yohanes Surya berhasil membentuk tim Tolikara. Beliau juga sangat menyadari anak-anak itu perlu dipersiapkan dengan serius dan baik, karena bekal matematika mereka sangat rendah.

Di akhir cerita tentu happy ending! Sulit bagi saya tadinya berhayal bahwa salah satu dari anak-anak Papua itu ternyata menjadi salah seorang anak terpandai dalam bidang astronomi tingkat dunia hanya dalam waktu 10 bulan! Seperti saya tulis di email kepada Ibu Sri: upaya Surya Institute paid off. Selamat!

Semangat Laskar Pelangi, jangan pernah berhenti bermimpi!

Menerobos Birokrasi

BAGAIMANA menembus jejaring birokrasi semua kita mempunyai pengalaman (buruk). Berbagai izin yang diperlukan, termasuk dari Kemendiknas, termasuk mengurus visa bukanlah hal gampang di Republik ini. “Jika bisa dipersulit mengapa harus dibuat gampang?” seru sebuah iklan pelayanan masyarakat.

Ibu Sri lebih lanjut berkomentar, selain UKP4 dan Kantor Wakil Presiden, beliau juga berupaya melalui jejaring teman-temannya di Kementerian Luar Negeri.

“Sebenarnya Deplu amat sangat banyak membantu dalam proses perolehan visa, tapi memang terganjal sana-sini karena perlunya "teamwork" dengan Imigrasi dan Hankam. Kalau tidak karena "surat sakti" dari Ketua UKP4 ke Dirjen Imigrasi, dan lobby via teman2 mantan dubes ke dubes-dubes di KBRI masing-masing lokasi, berbagai kesulitan tidak akan teratasi dengan begitu cepatnya.”

Saya mengingat dengan baik, persoalan visa ini muncul ketika saya sedang berada di Makassar untuk suatu seminar ASEAN. Saya memang mengontak teman-teman di Perwakilan untuk memperlancar urusan pemberian visa bagi negara-negara tergolong rawan, atau pada saat mereka menghadapi keterbatasan waktu. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik.

Ada 2 negara yang menjadi tanggungjawab Dubes RI Tashkent M Asruchin, yakni Kazakhstan dan Kyrgyzhtan. Teman baik saya ini sangat instrumental sehingga tim dari kedua Negara ini bisa berpartisipasi di Tolikara. Begitu pula kerjasama baik dengan KBRI Bangkok yang telah memungkinkan wakil-wakil dari Nepal dapat mengambil visa Indonesia mereka di Bangkok.

Menurut Ir Sri Setiowati dalam emailnya, mengklarifikasi permasalahan yang dihadapi dalam kaitan dengan Kemendiknas yang bukan tidak memberi ijin, tetapi Kemendiknas "kurang meng-endorse". Karena kegiatan ini tidak diselenggarakan oleh Kemendiknas dengan cara yang ditetapkan dalam Juklak Kemendiknas, Kemendiknas tidak bertanggung jawab, antara lain, atas tidak diperolehnya beasiswa negara oleh para pemenang olimpiade.

“Kemendiknas juga menilai bahwa penyelenggaraan olimpiade internasional di Papua tidak direkomendasikan karena faktor keamanan”, tulis Ibu Sri.

“Barulah setelah Ketua UKP4 "turun tangan", Mendiknas akhirnya bersedia duduk menjadi Pelindung Panitia, dan kondisi itulah yang kami gunakan untuk meyakinkan Imigrasi untuk melancarkan proses pemberian visa, serta Pemda-Pemda Kabupaten di luar Tolikara untuk meloloskan siswa-siswi terbaiknya untuk mengikuti pembinaan Tim Nasional ke Olimpiade Astronomi ini”, demikian tambahnya.

Pada email berikutnya menjawab surat saya, Ir Sri Setiowati Seiful mengirimkan penjelasan tambahan bahwa dia ingin menyampaikan terima kasih pada Deplu (Kemlu) dan teman-teman, sehingga bisa melancarkan proses masuknya SEMUA delegasi sesuai konfirmasi kehadiran (bahkan Bangladesh pun akhirinya tiba).

“Sekali lagi saya ingin ucapkan banyak terimakasih pada Bu Kusuma, pada pihak Deplu dan seluruh jajaran di KBRI yang memproses visa maupun visa "dadakan" seperti untuk Nepal di Bangkok, pada P Haz Pohan yang begitu banyak memberikan jalan keluar dengan menghubungkan ke teman2 di KBRI-KBRI ybs., semoga hasil kerjasama ini berbuah baik untuk semua pihak.”

Dia menutup email dengan kata-kata:

Mohon doa, dan mohon bantuan untuk mem forward berita di bawah ke teman-teman di KBRI mana saja, barangkali untuk memberi semangat kerja :)

Salam hormat,
Sri


Saya menuliskan the Spirit of Tolikara ini untuk menjadi catatan bagi teman-teman yang bertugas di Perwakilan RI di luar negeri, untuk senantiasa bersemangat dalam menjalankan tugas-tugas, sekaligus memberi perhatian untuk Laskar-Laskar Pelangi berikutnya yang akan membuat Republik Indonesia menjadi lebih indah, lebih berjaya, lebih bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa.

Jakarta 13 Januari 2011

MUTIARA DARI PAPUA : GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (2)

KEMARIN, tanggal 11.01.11 menjadi hari istimewa. Tentu bukan untuk membuat gerakan politik menyambut 2014. Bagi saya, malam itu membuktikan generasi hibrida telah lahir. Ini jauh lebih luhur dan konkrit daripada sekadar mendengarkan orang-orang gagal yang ingin menggurui kita dalam politik nasional. Dan, menurut saya event malam itu bernilai strategis sebagai sumbangan yang konkrit untuk bangsa!

Saya mendapat undangan dari Ir Sri Setiowati Seiful dari Surya Institute, beberapa hari menjelang acara pada malam itu: peluncuran program GIPIKA (Gerakan Ibu Pandai matematIKA) yang diprakarsai oleh Prof Yohanes Surya, tokoh yg sering mengirim dan memenangkan pelajar-pelajar terbaik kita dlm olimpiade fisika tingkat dunia.

Karena upaya Surya Institute bernilai strategis dan relevan, saya memang telah menyatakan komitmen bahwa saya ingin berkontribusi untuk untuk mendukung lahirnya generasi hibrida, sesuai kapasitas saya yang terbatas, sesuai visi dari lembaga pencetak bintang olimpiade sains kita.

Pada waktu diundang makan siang oleh Prof Yohanes Surya pada tanggal 18 Nopember 2010 di Hotel Niko, program baru yang strategis ini telah saya dengar dari Ir. Sri Setiowati Seiful. Tetapi gagasan ini tidak kami diskusikan, karena pada saat itu Surya Institute sedang mempersiapkan penyelenggaraan Olimpiade Astronomi di Tolikara, Papua. Tulisan seri ke-3 tentang generasi hibrida akan saya turunkan dengan judul “The Spirit of Tolihara” selanjutnya.

Dalam acara yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya itu hadir Ibu Herawati Boediono, isteri Wakil Presiden, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Hak Anak Linda Gumelar, dan tentu saja Profesor Yohanes Surya dan Ir Sri Setiowati Seiful dari the Surya Institute.

Saya datang lebih awal, karena memang lalu lintas di Jakarta sangat tidak predictable. Saya duduk di antara saudara-saudara kita dari Papua. Tampaknya mereka dari kalangan pendidik. Saya mendengarkan obrolan mereka yang menimbulkan empati. Para pendidik dari Papua itu optimis dalam waktu 20 tahun dari sekarang potensi SDM di papua akan bangkit.

Apa Itu Gipika?

PROGRAM yang diberi nama GIPIKA memang ditujukan kepada ibu-ibu rumah tangga. Prof Yohanes memiliki alasan sederhana kenapa mengapa GIPIKA menarget para ibu rumah tangga? Dia mengobservasi secara nasional terdapat keengganan atau bahkan ketakutan anak-anak belajar sains, terutama matematika. Oleh karena itu, yang pertama perlu dilakukan adalah mendekatkan matematika kepada ibu rumah-tangga, dan selanjutnya biarlah mereka menyampaikan pesan itu kepada anak-anak.

Kemajuan di bidang matematika, ibu dari ilmu pasti itu, akan mendorong kemajuan di fisika, biologi yang menjadi cabang-cabang sains, demikian Profesor Yohanes Surya.

Pelibatan ibu-ibu rumahtangga dalam program GIPIKA juga strategis untuk mengatasi kekurangan guru matematik terutama di daerah-daerah pedalaman, seperti di Papua dan kawasan Indonesia Timur lainnya. Menurut saya, defisit guru matematik itu nasional juga dialami di daerah-daerah Indonesia barat.

Mendidik guru bersertifikat memerlukan waktu lama, apalagi proses birokrasi juga tidak sederhana. Melatih ibu-ibu rumahtangga untuk mengajarkan anak-anak matematika itu strategis, yakni mendekatkan ilmu hitung itu langsung ke telaganya, bagaimana membuat anak-anak senang dan menjadikan matematika bukan pelajaran yang menakutkan. Saya dan teman-teman menjadi bosan dulu di SD dan SMP karena metoda pengajaran matematika yang membuat enggan, malas dan tidak relevan.

Prof Yohanes Surya malam itu ingin membuktikan : pelajaran matematika itu mudah dan menyenangkan bilamana dilakukan oleh orang yang tepat dan dengan metoda yang tepat pula. Ibu rumah-tangga menjadi sasaran strategisnya.

Untuk itu Prof Yohanes Surya menciptakan paket pelajaran matematika sederhana yang disebutnya sebagai metoda “GASING”, yakni metoda yang GAmpang, aSyik dan menyenaNGkan.

Dalam presentasinya malam itu, Prof Yohanes Surya membuktikan tidak ada anak yang bodoh! Dia berkeliling ke daerah pedalaman Papua, dan bertemu dengan tokoh yang sangat instrumental untuk menjangkau anak-anak di Papua. Tokoh itu adalah John Tabo, mantan Bupati Tolikara yang mau mengorbankan apa saja untuk mendukung kemajuan pendidikan anak-anak di kabupatennya. John Tabo juga hadir malam itu untuk menerima award khusus dari Surya Institute.

Pada malam itu Prof Yohanes Surya juga melantik 20 instruktur GIPIKA dari berbagai provinsi yang ditugasi melatih para instruktur untuk menjangkau ibu-ibu dari berbaGai lapisan, termasuk anak-anak usia sekolah dari kalangan rakyat kecil di daerah terpencil dan miskin.

Laskar Pelangi

ACARA malam itu berkembang meriah. Salah satu acara utama ialah ketika Prof Yohanes mengadakan kuis seperti cerdas cermat spserti di TVRI dulu, khusus pelajaran berhitung. Pesertanya semua anak-didik dari Papua yang berasal dari daerah sederhana dan tertinggal!

Malam itu, 6 siswa berbagai usia tingkat SD tampil ke pentas dan mampu menjawab seluruh soal-soal matematika yang diajukan in promptu (soal-soal dibuat lisan, langsung) oleh Prof Yohanes Surya. Dan dengan benar pula. Padahal soal-soal yang diujikan juga menjangkau pelajaran matematika tingkat SMP maupun SMA! Bagaimana bisa?

“Saya kalah cepat, saya masih berhitung tetapi anak-anak telah menghasilkan jawaban mereka”, kata Ibu Herawati Boediono terharu. Soal-soal yang diberikan itu dari yang sederhana: menambah, mengurang, mengali, maupun membagi sampai perhitungan yang rumit dengan rumus-rumus aljabar! Kami orang-orang tua yang hadir ‘penong’ menghadapi soal-soal matematika itu!

Sukses dan mendapat aplus meriah! Malam itu pula Prof Yohanes Surya mengumumkan dia sedang mempersiapkan 20 anak-anak Papua untuk mewakili Indonesia di berbagai olimpiade sains internasional. Tidak main-main!

Anak-anak dari daerah pegunungan di Papua itu diminta oleh Prof Yohanes Surya untuk dididik di Karawaci selama 6 bulan, atas dukungan biaya yang disediakan dari dana APBD oleh sang bupati, John Tabo.

“Tadinya, anak-anak itu tidak mampu memecahkan soal-soal berhitung yang sederhana sekalipun!”, kata Prof. Yohanes.

Anak-anak kecil Papua itu bak Laskar Pelangi, kini ceria memainkan angka-angka tanpa kehilangan dunia mereka yang indah, dan mereka telah berani mengutarakan cita-cita dan impian mereaka. Dengan penguasaan matematika yang masih ‘menakutkan’ siswa kita, mereka kini menjadi pede, karena dipandang cerdas di lingkungan mereka, demikian Profesor Yohanes.

Merekalah anak-anak kita yang telah mempunyai mimpi menguasai dunia dengan matematika, seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi itu.

Tulang Punggung Masa Depan Bangsa

PROFESOR Yohanes Surya bercita-cita dalam waktu 20 tahun ingin mencetak 30 puluh ribu doktor dalam bidang matematika. Saya yakin itu, karena kita memiliki puluh jutaan anak-anak sekolah. Kuncinya adalah bagaimana menjadikan GIPIKA sebagai gerakan massal pada tingkat akar-rumput.

Jutaan anak usia sekolah kita akan ‘menggoyang’ dunia!

Program ini merupakan wujud dari obsesi Surya Institute untuk menjangkau sebanyak-banyaknya anak didik usia sekolah, melalui ibu-ibu rumahtangga. Sebeklum membekali ibu-ibu rumah tangga, dibuat pula paket pelatihan untuk trainers, tanpa memungut biaya! Dia paham, mengirim anak-anak kursus seperti di bimbingan belajar atau Kumon itu memerlukan biaya besar, dan hanya terjangkau oleh lapisan kecil masyarakat kita. Maka program ini memiliki daya-tarik yang luar biasa.

Peningkatan penguasaan sains di kalangan pelajar kita yang telah dibuktikan berkali-kali menjadi juara dunia telah membuka mata dunia potensi SDM yang kita miliki. Tidak tertutup, suatu ketika putra dan putri Indonesia akan mencengangkan dunia dengan memenangkan hadiah Nobel!

Penguasaan sains juga menjadi tulang punggung kebangkitan teknologi dan perindustrian nasional. Jadi, strategis untuk membangun ekonomi bangsa, begitu kata Profesor Yohanes. Kita yakin itu.

Dia ingin melibatkan seluruh gerakan akar rumput kaum ibu di berbagai pelosok tanah air. Oleh karena itu, dia ingin menggandeng PKK di tingkat RT RW dan berbagai organisasi kaum wanita lainnya.

Siapa Profesor Yohanes Surya?

PROFESOR Yohanes Surya anak Jakarta kelahiran 1963 lulusan fisika pada UI tahun 1986, dan meneruskan S-3 dengan hasil cum laude dari College of William and Mary, Virginia, USA (1994). Beliau mulai terlibat melatih tim olimpiade kita sejak tahun 1993.

Sekembali ke Indonesia di tahun 1995, Prof Yohanes telah mendidik ribuan guru sains kita. Pengalaman itu yang mendorong dia untuk melahirkan GIPIKA. Dia mengharapkan program GIPIKA mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia, dalam menyebarkan ‘virus’ matematika sampai ke pedalaman untuk menjangkau anak-anak Indonesia.

Beliau menerbitkan puluhan karya untujk pendidikan matematika, masih aktif sebagai ketua Dewan Pembina Surya Institute, juga masih mengajar di berbagai perguruan tinggi, di samping tugas-tugas sebagai representative Indonesia di berabgai lembaga kompetisi sains pelajar di tingkat dunia, seperti International Conference of Young Scientist (ICYAS), dan di berabgai lembaga-lembaga sejenis lainnya di Asia.

Surya Institute didirikan oleh Prof Yohanes Surya pada tahun 2006, guna mengefektifkan misi mulia yang diembannya. Inisiatif dan upaya ini sangat instrumental membina fisikawan muda sejak beliau kembali ke indonesia thn 1995, dan menampatkan Indonesia di dalam peta kekuatan sains di tingkat dunia.

Langkah awal pada jalur yang benar telah diluncurkan Prof Yohanes Surya. Patut mendapat perhatian besar dari kita semua, dan tentunya dukungan, karena sebagai aktifis di bidang pendidikan fundamental ini materi bukan menjadi obsesi beliau.

Dan untuk menjadi gerakan masif diperlukan dana yang memadai. Termasuk sumbangan para donatur yang peduli.

Mungkin, metoda yang non-konvensional ini hanya memerlukan sepercik dana APBN yang sesuai Konstitusi telah berjumlah 20% dari keseluruhan biaya pembangunan nasional. Program-program sejenis harus kita dukung bersama.

Jakarta, 12 Januari 2011

Thursday, January 6, 2011

GENERASI HIBRIDA TELAH LAHIR (1)



PAGI ITU di Warsawa menjelang akhir tahun 2009 saya dikejutkan dengan dering telpon berkali-kali. Bunyi dering yang panjang dan tidak biasa membangunkan firasat saya itu telpon penting.

Benar, di seberang berbicara dari Jakarta Dr. Dino Patti Djalal yang penasehat politik luar negeri Presiden RI. Sesama pegawai di Deplu atau kini Kemlu, kami memang pernah sama-sama di Direktorat Jenderal Amerika, dan akrab.

Fakta bahwa beliau ‘orang dekat’ Presiden, saya pun serius mendengarkan instruksi. Beliau mengatakan, laporan di pers Indonesia ramai memberitakan tentang keberhasilan anak-anak kita pada olimpiade sains di Polandia pada bulan April 2009 dan menjadi juara dunia.

“Tolong mas Pohan buatkan catatan singkat dan lengkap tentang keberhasilan anak-anak kita itu. Kehebatan anak-anak kita itu patut dicatat sebagai prestasi besar dan pantas dimasukkan ke dalam buku yang sedang saya rancang”, demikian Dino.

Intinya saya diminta menjadi kontributor dalam buku ketiga beliau, yang telah diterbitkan dengan judul “ENERGI POSITIF: Opini 100 Tokoh Indonesia di Era SBY (2009)”, dengan editornya beliau sendiri.

Sejenak saya termangu, pasti saya bukanlah menjadi 100 tokoh pilihan karena memiliki prestasi yang hebat. Tetapi mereka, anak-anak kita yang menjadi juara dunia di bidang sains itu, karena mereka telah mengalahkan berbagai superpower di bidang keilmuan. Saya hanya saksi belaka.

Saya mengangkat tema ‘generasi hibrida’ yang diam-diam telah lahir di sekeliling kita. Maklum, dalam berbagai kompetisi keilmuan tingkat dunia anak-anak kita selalu memenangkan medali emas. Hanya, kemenangan menjadi juara dunia di Polandia itu patut dicatat, karena untuk pertama kalinya. Dan tentu harapan untuk seterusnya anak-anak Indonesia akan membukukan berbagai prestasi yang membuka mata dunia.

Orang-orang Eropa dan Amerika memang kagum pada sumberdaya manusia kita. Dikatakan, kita bangsa yang berusia muda. Dengan rating lebih dari 60 persen berusia muda (berusia 1-20 tahun), Indonesia memiliki tenaga kerja yang produktif yang mendukung kemajuan ekonomi.

Berbeda misalnya jika suatu negara, seperti di Eropa atau di China dan Jepang dengan komposisi penduduk lebih banyak berusia tua (senior), maka lebih banyak dana diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan dan berbagai fasilitas lainnya. Di sisi lain, mereka berada dalam posisi ‘menikmati’ masa tua dan kurang bersemangat untuk mengisi sector produksi.


Sang Juara

SAYA mencatat baik pada Rabu malam, 29 April tahun 2009, di Wisma Duta KBRI Warsawa. Anak-anak pelajar yang baru saja menjulangkan nama Indonesia di kalangan elit sains dunia saya undang untuk syukuran bersama masyarakat Indonesia di Polandia.

Mereka adalah ilmuwan remaja kita yang memenangkan perolehan medali emas terbanyak pada International Conference of Young Scientists (ICYS) ke-16 yang berlangsung di Pszczyna, Polandia pada akhir pekan sebelumnya, mengalahkan raksasa sains seperti Jerman, Belanda, AS, Rusia, Hongaria, Polandia, Brazil, bahkanTurki.

Selama 4 hari, 24-28 April 2009, 12 siswa SMP dan SMA dari Surabaya, Tangerang, Magelang dan Jakarta bertarung mempertahankan 10 hasil penelitian mereka di bidang fisika, matematika, informatika, dan lingkungan hidup.

Indonesia berhasil menggondol medali terbanyak 6 emas, 1 medali perak, 3 medali perunggu, unggul jauh dari Jerman (3,4,2), Belanda (3,1,2), Amerika Serikat (3,0,0), Rusia (2,3,3), Hongaria (2,2,2), Polandia (2,2,1) Belarus (1,1,0), Georgia (0,3,2), Ukraina (0,1,2), Ceko (0,0,2), dan Kroasia (0,0,1). Peserta lainnya Turki dan Brazil pulang dengan tangan hampa.

Hasil itu menjadi prestasi terbesar yang pernah diraih oleh Indonesia. 3 medali emas didapat dari penelitian lingkungan hidup yang disumbangkan oleh pasangan Jessica Karli dan Yosephine Livia Pratiknyo, pasangan Gabriella Alicia Kosasih dan Teresa Maria Karina, serta pasangan Vincentius Gunawan dan Fernanda Novelia. 2 medali emas dari penelitian fisika sumbangan pasangan Idelia Chandra dan Christopher Alexander Sanjaya, serta Guinandra Lutfan Jatikusumo, dan 1 emas dari ilmu komputer sumbangan Nugra Akbari.

Sebuah medali perak bidang lingkungan hidup disumbangkan oleh Dwiky Rendra Graha Subekti, sedangkan dari 3 medali perunggu 2 diantaranya dari bidang lingkungan hidup yang diraih oleh pasangan Lydia Felita Limbri dan Allen Michelle Wihono, serta pasangan Melissa Nadia Natasha dan Terrenz Kelly Tjong, dan satu medali perunggu diperoleh dari bidang matematika oleh pasangan I Made Rayo Putra Indrawan dan Andika Setia Budi.

Kemenangan itu lebih memantapkan rasa percaya diri Indonesia yang dipilih menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan ICYS ke-17 berikutnya pada bulan April 2010. Indonesia akan menjadi negara Asia yang pertama dipercaya menjadi tuan rumah sejak ICYS diselenggarakan pada tahun 1994.

Maka, Indonesia tidak saja dikenal dunia memiliki angkatan kerja berusia muda, tetapi juga pintar!

ICYS adalah lomba presentasi karya ilmiah remaja bergengsi tingkat dunia di bidang penelitian ilmu fisika, matematika, ilmu komputer, dan ekologi yang diselenggarakan setiap tahunnya mulai 1994. Pertemuan tahunan ilmuwan remaja pada tingkat dunia itu dimaksudkan untuk menggali potensi peneliti muda yang kelak dapat berperan dalam penemuan dan pengembangan keilmuan untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh umat manusia di dunia.

ICYS berdiri pada tahun 1994 diprakarsai oleh Eotvos Lorand University, Budapest Hungaria, dan Belarussian State University, Minsk, Belarus. Indonesia yang bersama India dan Jepang mewakili Asia di ICYS, mulai mengirimkan delegasi untuk pertandingan ilmiah tersebut mulai tahun 2005. Prof. Yohanes Surya, Ph.D ditunjuk menjadi representatif ICYS untuk Indonesia sejak tahun 2004.


Berbicaralah Kepada Dunia

TIDAKLAH berlebihan untuk menyatakan era kebangkitan nasional telah memasuki tahap baru. Partisipasi siswa-siswa Indonesia dalam berbagai kompetisi sains tingkat dunia, sebenarnya baru diawali pada tahun 1993.

Setelah bekerja keras selama 6 tahun, tepatnya pada tahun 1999 kita baru mulai mendulang medali emas, untuk pertama kalinya, ketika I Made Agus Wirawan, siswa SMAN 2 Bangli Bali, di Padova Italia.

Selanjutnya, 3 medali emas berikutnya diperoleh dalam tahun 2002 pada kompetisi di Bali kontribusi dari Agus Peter Sahanggamu (SMAN 8 Jakarta), Widagdo Setiawan (SMA 1 Denpasar) dan Fajar Ardian (SMA Insan Cendekia Serpong), serta 2 medali emas sumbangan Widagdo Setiawan (SMA 1 Denpasar) untuk kedua kalinya pada tahun 2003 di Taiwan, dan oleh Yudistira Virgus di Pohang, Korea Selatan, dalam tahun 2004.

Dalam kompetisi ICYS, Indonesia pertama kali mengikuti lomba ini pada ICYS ke-12 pada tahun 2005 di kota Katowice, Polandia, dengan menampilkan penelitian di bidang Fisika yang berjudul "The Physics of Badminton" karya Dhina Pramita Susanti (SMAN 1 Semarang) bersama Chrisanthy Rebecca Surya (SMA Dian Harapan Tangerang) yang berhasil memperoleh satu medali perunggu.

Penelitian bidang Fisika lainnya "Chaos in The Experimental Problem of The IPHO 35", karya pasangan Anneke Nelce Bowaire (SMAN 1 Serui, Papua) bersama Diatra Zulaika Husodo (SMA Al Izhar Pondok Labu, Jakarta.) yang memperoleh Special Award.

Dalam kompetisi ICYS ke-13 tahun 2006 di Stuttgart, Jerman, Tim Indonesia mengirimkan enam peserta (lima bidang Fisika dan satu bidang Ekologi) berhasil meraih dua perunggu dalam bidang penelitian fisika. Pada penyelenggaraan ICYS ke-13 ini untuk pertama kalinya Indonesia mendapat kehormatan menjadi juri bidang fisika, yakni Monika Raharti, M.Si. yang juga sebagai team leader memimpin kontingen Indonesia di Pszczyna.

Sebuah medali perak dalam bidang Fisika berhasil diraih oleh Tim Indonesia pada ICYS ke- 14 pada tahun 2007 yang diadakan di kota Saint-Petersburg, Rusia.

Prestasi Tim Indonesia meningkat terus, pada tahun 2008 ICYS ke-15 yang diselenggarakan di kota Chernivtsky, Ukraina, Tim Indonesia meraih satu perak di bidang Ekologi, satu perunggu di bidang Ekologi, dua perunggu di bidang Fisika, empat Special Award yaitu untuk Best Performance bidang Fisika, untuk Teaching in Physics bidang Fisika, untuk Most Creative Research bidang Computer Science dan untuk Best Research bidang Matematika.


Juara Dunia!

PENYELENGGARAAN ICYS ke-16 di Pszczyna mendapat tempat yang paling istimewa dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kompetisi sains dunia pada tingkat pelajar. Berdasar catatan Tim Olimpiade Fisika Indonesia, dengan demikian Indonesia telah mengoleksi sekitar 48 medali dari berbagai jenis kategori.

Malam syukuran di Wisma Duta juga menjadi catatan khusus bagi Andrzej Rosanoff, 70 tahun, seorang pegawai lokal berkebangsaan Polandia yang telah bekerja di KBRI dalam kurun waktu kurang lebih 45 tahun, hadir pada malam itu. Rosanoff tidak mampu menahan diri, mendatangi saya. Dalam bahasa Inggeris dia menyatakan dirinya terkesima menyaksikan perubahan besar yang belum pernah dilihatnya selama dia berada di lingkungan Indonesia, sejak mulai tahun 1960-an.

“Selama saya bekerja di KBRI saya bertemu dengan banyak orang Indonesia, tetapi anak-anak ini sangat mengesankan. Mereka cerdas, santun, percaya diri, mahir berbahasa Inggeris, tetapi tetap ceria seperti anak-anak lainnya bercengkerama dengan sesama. Saya percaya dan optimis masa kejayaan Indonesia sudah diambang pintu. Dan, maaf jika saya mengatakan bahwa generasi Anda berbeda dengan anak-anak itu”, ujarnya.

Menurut Rosanoff, anak-anak itu luar biasa mampu mengalahkan siswa-siswa dari negara-negara superpower di bidang sains yang telah memenangkan ratusan hadiah Nobel. Yang lebih mengagumkan Rosanoff adalah bahwa anak-anak Juara Dunia kita itu bukanlah bersekolah di Amerika atau di negara-negara Eropa, tetapi di Indonesia. Dan, mereka adalah anak-anak daerah dari berbagai provinsi!

” Ini mencerminkan dua hal, pertama siswa-siswa cemerlang adalah produk dari sistem pendidikan yang sudah baik. Kedua, memang pada dasarnya anak-anak Indonesia sangat potensial di bidang sains”, ujarnya.

Dia mengaku ‘miris’ dan berbahagia karena hadir dalam malam bersejarah itu. Sebagai orang asing yang telah menjadikan Indonesia sebagai bagian dirinya, sukma Rosanoff, sama seperti kita semua, bergetar.


Bangsa Unggul

KARENA itu, acara syukuran malam itu merupakan pernyataan kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat Indonesia di Polandia, seperti juga masyarakat di tanah air.

Saya dan masyarakat Indonesia di Polandia malam itu mengucap syukur pada akhirnya anak-anak Indonesia berhasil mengerek bendera Merah Putih di tempat tertinggi. Team leader Ibu Monika Raharti, yang ditugasi Prof Yohanes Surya untuk memimpin delegasi ke Polandia, tidak urung berlinang-linang bahagia. Padahal, katanya siswa-siswa kita berlatih sendiri, dengan fasilitas sekolah yang minim, tanpa laboratorium yang canggih seperti dimiliki Jepang, Jerman, bahkan Amerika Serikat. Dan, tim dengan biaya minim dan dukungan orangtua dan sponsor terbatas, para siswa berangkat bermodalkan semangat Merah Putih.

”Dulu menjadi pertanyaan saya ketika memulai bekerja untuk tim, mampukah anak-anak didik kita bersaing dengan dunia. Hari ini terbukti bahwa kita bisa!", katanya.

Dan ibu-ibu dan masyarakat Indonesia di Polandia tidak bosan-bosannya menciumi anak-anak yang polos itu, dan bersama mengajak berfoto dengan para Juara Dunia!
Bangsa unggul telah berada di sekitar kita!

Saya ingat betul, pada hari Jumat, 24 April, kami baru bisa berangkat menuju kota Pszczyna, di selatan Polandia, yang jaraknya sekitar 350 kilometer dari Warsawa agak siang. Saya sangat khawatir terlambat untuk menghadiri acara pembukaan memenuhi undangan panitia. Ketika kami terjebak kemacetan di kota, maklumlah pada akhir pekan, dan tertahan pula sepanjang 50 kilometer di dipinggir kota, kecemasan saya memuncak.

Saya bilang kepada isteri yang setia menemani perjalanan, kehadiran kita penting untuk memberikan semangat juang bagi anak-anak. Maka, mobil van Mercy Viano milik KBRI pun dikebut dengan kecepatan 180 km/jam, hampir maksimal! Setelah lolos dari jepitan kemacetan, Alhamdulillah dalam 2 setengah jam kami pun tiba di Istana Pszczyna. Anak-anak sudah tiba 5 menit lebih awal, dan mulai masuk ke aula tempat acara pembukaan. Kami tiba tepat waktu.

Pembukaan ICYS) ke-16 dilakukan di Museum Istana Pszczyna, bekas Istana bergaya gothic yang dibangun pada abad ke-13, direnovasi berkali-kali: bergaya renaissance di abad ke-17, bergaya barok pada abad ke-18 dan klassik pada abad ke-19, sehingga tampak anggun.

Acara pembukaan dihadiri oleh Presiden ICYS dan pejabat pemerintahan Polandia, pada dewan juri dan seluruh peserta dari berbagai penjuru dunia. Tetapi, ternyata hanya saya sendiri dari undangan dubes negara peserta yang hadir, membuat kontingen lainnya iri karena mereka hanya didampingi oleh ketua tim masing-masing. Dan, saya pun diundang berpidato.

Saya mengenalkan delegasi Indonesia, dan menjelaskan bahwa kehadiran Indonesia dalam kompetisi ICYS di Polandia adalah untuk kedua kalinya di Polandia. Pada tahun 2005 yang lalu Delegasi Indonesia telah turut dalam pertandingan di Katowice. Saya mengharapkan, dengan tim yang lebih siap Indonesia akan meningkatkan prestasinya dalam kompetisi kali ini.

Tidak lupa, saya juga mengambil kesempatan untuk mengundang bagi peneliti muda dari seluruh dunia untuk ambil bagian dalam pertemuan ICYS ke-17 yang akan dilangsungkan di Bali pada bulan April 2010. karena Indonesia terpilih menjadi tuan-rumah kompetisi berikutnya.

Sebelum kembali ke Warsawa, saya berpesan kepada kontingen Indonesia, agar para siswa bertanding dengan percaya diri dan menajamkan kemampuan artikulasi dalam mempresentasikan temuannya di depan juri internasional. Ini menjadi kunci keberhasilan, karena semua presentasi dan tanya-jawab dilakukan dalam bahasa Inggeris.

Mulai malam itu sampai kompetisi berakhir tanggal 28 April di kota yang indah itu, anak-anak Indonesia bertarung dengan gigih mempertahankan 10 makalah ilmiah mereka di depan juri internasional. Dalam perjalanan kembali ke Warsawa, kami berdoa untuk keberhasilan putera-puteri bangsa itu.

Saya merasa turut berbahagia, meskipun dengan kontribusi kecil sebagai ‘pengawal’ generasi hibrida saya telah menjadi bagian dari pekerjaan besar kita semua dalam mempersiapkan mereka.

Pendidikan adalah pekerjaan besar mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus mempersiapkan munculnya generasi hibrida, manusia-manusia unggul berikutnya. Anak-anak kita itu telah memberikan inspirasi kepada teman-teman mereka jutaan anak Indonesia usia sekolah lainnya.

Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga bersekolah di Indonesia, saya menyadari betapa pentingnya arti kemenangan itu untuk mereka sendiri, orangtua, guru dan teman-teman, dan sekolah. Kemenangan itu memberi makna dan menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus menginspirasi jutaan teman-teman mereka di tanah air untuk tidak menyia-nyiakan bakat yang dimiliki.

Dalam acara syukuran di Wisma Duta, di depan Delegasi Indonesia dan masyarakat hadirin, saya mengungkapkan perasaan saya.

”Setua ini saya belum pernah menyumbang satu medali pun kepada Republik”, kata saya. ”Jadi, anak-anak kita ini manusia luar biasa jasanya kepada bangsa dan negara”, kata saya ketika mengawali sambutan.

Adalah suatu tradisi yang baik bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan perhatian khusus kepada para siswa yang berhasil meraih medali emas dalam berbagai kompetisi sains internasional. Kepada mereka Presiden telah menjanjikan untuk membiayai pendidikan mereka sampai pada tingkat Ph D, baik di dalam maupun di luar negeri.

Saya mengekspresikan kebanggaan kami masyarakat Indonesia yang bermukim di luar negeri, bahwa para anak-anak kita telah berbicara kepada dunia sains dalam bahasa yang terhormat. Keberhasilan ini telah menempatkan Indonesia dalam peta sains dunia, dan bilamana prestasi ini dipupuk terus dan ditingkatkan oleh para juara dunia ini, maka tidak lama lagi bangsa Indonesia akan memperoleh Nobel di bidang sains, dan juga di bidang kesusasteraan, seni dan sebagainya.

”Kita patut menghargai prestasi ini. Saya yakin, Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan masuk dalam jajaran negara penerima hadiah nobel, dan ini menjadi tugas dari anak-anak para generasi muda yang telah direpresentasikan dengan baik oleh para pemenang ICYS 2009”, ujar saya.

“Enam makalah tentang bidang lingkungan hidup adalah pilihan yang selaras dengan peranan global Indonesia untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan. Indonesia telah dipercaya PBB menjadi salah satu troika dalam mengatasi perubahan iklim global”, kata saya bersemangat.

Saya juga membuat catatan khusus, bahwa medali emas juga diraih oleh Vincentius Gunawan dan Fernanda Novelia yang notabene adalah pelajar pada tingkat SMP. Ini menunjukkan minat keilmuan yang bahkan telah tumbuh pada tingkat pelajar SMP di tanah air juga telah mendapat mendapat pengakuan dunia.

Tidak lupa, saya berpesan agar anak-anak jangan cepat berpuas diri dan terus bekerja keras guna mempersiapkan diri dalam menghadapi kompetisi berikutnya yang akan diselenggarakan di Bali pada tahun 2010.

Mewakili pimpinan rombongan, Ir Srisetiowati Seiful MBA, Director External Affairs the Surya Institute, menyatakan syukur dan sukacita karena berkat dukungan dan doa masyarakat Indonesia di Warsawa dan di tanah air para anak-didik dapat tampil luar biasa, sehingga menjadi juara dunia.

Acara ramah-tamah diisi dengan berbagai makanan Indonesia yang disiapkan sesuai dengan permintaan anak-anak setelah hampir satu minggu berada di Eropa. Di Pszczyina, isteri saya telah berjanji kepada mereka untuk menyediakan makanan kegemaran mereka di Warsawa, setelah pertandingan sebelum kembali ke tanah air: lontong sate, bakso, soto rawon, dan berbagai jajanan pasar.

Mereka menari-nari, menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Para ibu-ibu rumahtangga di Warsawa tidak henti-hentinya memeluk dan mencium mereka, bernyanyi bersama-sama sampai tengah malam. Di Buku Tamu resmi, anak-anak kita itu menuliskan perasaan mereka dengan kata-kata yang tulus, dihiasi pula dengan gambar-gambar lucu-lucu.

Saya fikir, observasi Pak Andrzej Rosanoff, staf lokal KBRI Warsawa itu benar. Mereka adalah anak-anak bangsa, anak-anak kita sendiri yang menjadi representasi munculnya generasi baru, hibrida baru, yang pintar, percaya diri, dan santun.

Ketika mereka diminta pimpinan rombongan mengenalkan diri, mereka semuanya berpidato dalam bahasa Inggeris dengan lancar.

Dan, anak-anak ini rendah hati, dan dengan ceria menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan rasa cinta mendalam kepada bangsa yang sedang mengelu-elukan mereka di tanah; seakan mereka berada dalam karnaval, kembali dengan kemenangan terhormat dari medan pertempuran di kancah internasional.

Mereka baru saja berbicara kepada dunia, bahwa di belahan dunia sana ada sebuah bangsa bernama Indonesia yang patut diperhitungkan! Mereka telah menjadi contoh bagi kita semua. Tanpa mereka sadari, dalam usia dini mereka telah menjadi berbicara mewakili bangsanya kepada dunia. Mereka telah membuat sejarah bagi negerinya.

Malam itu, Wisma Duta pun menjadi milik anak-anak kita itu. Mereka, dengan mengalungkan di dada masing-masing medali yang diperoleh pada acara yang berlanjut sampai tengah malam itu, menjadi tamu-tamu terhormat saya dan isteri.



Diterima Presiden

PESTA medali emas boleh berakhir, tetapi saya tetap memelihara komunikasi dengan anak-anak jenius itu, sampai sekarang.

Maka, ketika kapten tim Indonesia, Guinandra Lutfan Jatikusumo, peraih medali emas dari bidang fisika, bahwa dia dan teman-temannya para juara dunia dari ICYS 2009 itu telah diterima dan berdialog dengan Presiden RI dan Ibu Ani Yudhoyono pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei 2009 yang lalu di Surabaya, saya terharu. Itu doa saya.

Kerjasama dengan team the Surya Institute dalam partisipasi Indonesia pada ICYS ke-16 di Polandia ini yang menghantarkan saya bertemu langsung dengan Prof. Yohanes Surya dalam suatu acara makan siang di Hotel Niko Jakarta. Bu Sri Setyowati sebagai motor juga hadir bersama, sekaligus menyampaikan informasi mengenai rencana Olimpiade Astronomi di Tolikara, Papua.

Cerita mengenai the spirit of Tolikara, akan saya muat dalam bagian ke-2 tulisan.

Jakarta, 8 Januari 2010

Wednesday, January 5, 2011

WROCŁAW 1000 A.D.


WROCŁAW (baca: vroswav) merupakan kota terbesar keempat di Polandia, setelah Warsawa, Lodz dan Krakow. Kota ini memiliki lebih dari 10 universitas ternama, dihuni sekitar 100 ribu mahasiswa sehingga disebut juga kota pelajar. Wrocław yang pernah berambisi menjadi tuan rumah Expo 2012 ini juga dikenal sebagai kota budaya dan perdagangan.

Saya sering berkunjung ke kota ini. Maklum, sejak berambisi menjadi tuan rumah Expo 2012 Wrocław aktif berbenah dan berpromosi. Kota pun menjadi nyaman, teratur. Banyak konvensi, seminar dan berbagai pertemuan internasionaloberlangsung di sana. Sayang, Wroclaw kalah dengan kota Yeosu, di Korea Selatan.

Saya selalu diundang, dan teman saya Rafal Dutkiewicz yang menjadi walikota di sini selalu menyambut ramah. Ada beberapa kali saya diundang menyampaikan presentasi dalam seminar atau menjadi dosen tamu di University of Wrocław.

Di sini juga berdiam Imam Ali Abi Issa, pengemuka Islam dan pemimpin mesjid di sana. Imam Ali banyak membantu saya ketika mengurus korban kecelakaan WNI sampai menyelenggarakan fardhu kifayah karena ada 3 WNI yang meninggal. Dia rajin mempromosikan Islam sebagai rahmatan lil-alamin, Islam yang damai, toleran dan sejuk.

Suatu ketika, saya juga tampil menjadi pembicara tentang Islam and Democracy dalam seminar internasional yang dihadiri dari berbagai pembicara terkenal dari dunia Islam, yang disponsori Imam bekerjasama dengan University of Wrocław.

Kota ini indah sekali, terutama di Kota Tua, atau stara miasto kata orang Polandia. Menghabiskan waktu berjam-jam di kafe di Kota Tua ini tidak membosankan. Damai.

Lebih dari Kota Tua yang menarik wisatawan, kota ini indah, terdapat lebih 100 jembatan menghubungkan pulau-pulau kecil di berbagai cabang sungai Odra yang membelah kota sehingga disebut juga Venice of Poland, serta berbagai taman-taman kota yang cantik. Tentu tidak diperlukan gondola di sini, kecuali becak-becak di kota tua bagi pengunjung berwisata, mengitari old market yang antik.

Kota ini juga menjadi pusat pendidikan musik. Bahkan mereka telah memiliki seperangkat gamelan yang dibeli sendiri. Sekolah musik ini berambisi untuk mengembangkan music gamelan dengan mendatangkan instruktur/pelatih gamelan dari Indonesia. Grup Gamelan KBRI Warsawa atau Warsaw Gameran Group dari University of Warsaw sering manggung di sini.



Sejarah

KOTA ini terbentuk pada tahun 1000, tetapi namanya yang sekarang baru tercatat pada tahun 1175 sebagai Wrezlaw, Prezla atau Breslaw, nama Slav atau Jerman dipakai bergantian. Orang Ceko menyebutnya Wratislavia or Vratislavia, karena didirikan Duke Vratislaus I of Bohemia.

Wrocław adalah kota bersejarah yang melampau mesin waktu ribuan tahun, namun memiliki sisi-sisi sebagai kota modern dilengkapi dengan gedung-gedung opera dan teater.

Sebagai kota bersejarah, masa lalunya juga berdarah-darah dan penuh penghancuran, perbuatan orang-orang gila di masa lalu. Terakhir, pada saat mundur karena ditekan oleh Red Army (Uni Soviet), dan kota ini menjadi benteng of the last resort, menjadi ‘fotress city’ oleh Hitler. Ketika merasa akan kalah, pasukan Jerman ini pun tidak rela kota indah ini akhirnya kembali lagi ke Polandia, dan menghancurkan semuanya!

Tetapi, orang-orang Polandia dengan kesabaran yang tinggi, serta keahlian tentunya, membangun kembali kota ini sebagaimana aslinya, sehingga menjadi kebanggaan di seluruh Eropa Tengah.

Pada awalnya kota ini dikuasai oleh Bohemia sampai tahun 992 dan kemudian antara 1038-1054, lalu dikuasai oleh the Kingdom of Poland (992-1038 dan 1054-1202), dan beberapa kerajaan kecil pecahannya. Baru pada abad ke-13 kota ini menjadi ibukota politik dari berbagai kerajaan Polandia.

Seiring dengan peristiwa politik, kota ini pun berkembang menjadi pusat perdagangan bagi orang-orang Bohemia, Wallon, Yahudi dan Jerman. Wrocław pun berkembang menjadi penghubung ke barat (Eropa) maupun ke utara melalui the Amber Road. Itu sebabnya, keganasan Genghis Khan tidak melewatkan Wrocław, karena menjadi lintasan ke Eropa. Namun, orang-orang Polandia melakukan preemptive action, dan pada tahun 1241 kota ini dihancurleburkan oleh penduduk dengan tujuan agar orang-orang Mongol ini mundur.

Selanjutnya, orang-orang Jerman pun mendiami kota ini dan wilayah sekitarnya dan menamainya Breslau. Kota ini pun berkembang sejahtera, karena industrinya yang kuat.

Meskipun masih dipegang oleh Polandia, namun pada tahun 1262 sampai akhir abad ke-13 Wrocław kian berkembang independen dan berorientasi ke Jerman. Pada tahun 1335, Breslau pun masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Bohemia, yang merupakan bagian dari Holy Roman Empire.

Pada tahun 1518 Reformasi Protestan mencapai Breslau, kemudian ditaklukkan kembali oleh Habsburg yang Katolik. Pada tahun 1618 Breslau mendukung pemberontakan terhadap Kerajaan Bohemia, dan pada Perang 30 Tahun kota ini diduduki oleh orang-orang Saxon dan Swedia.

Karena Raja Austria mengajak kembali orang-orang Katolik untuk tinggal di sana, maka dalam waktu sekitar 70 tahun kemudian kota multi-etnis ini juga dipenuhi oleh kaum Jesuit, Capucins, Franciscans, dan Ursulines. Dan mulai tahun 1610 Wrocław pun, seperti sekarang, kembali menjadi kota multi-enis.

Bangunan yang ada di kota ini kurang lebih bertahan pada bentuk aslinya peninggalan abad ke-17, sampai pecahnya PD II pada tahun 1945.

Kota ini juga menjadi sarang kaum intelektual dan seniman. Wrocław menjadi pusat kesusasteraan Baroque Jerman dan para pujangga di Silesia.


Periode Pencerahan

KERAJAAN Prusia menganeksasi Breslau dan seluruh wilayah Silesia pada tahun 1740 dan baru dilepaskan pada tahun 1763.

Pada masa Perang Napoleon, Breslau dikuasai oleh tentara Konferedasi Rhine, yang kemudian meratakan semua sekolah-sekolah agama untuk dijadikan benteng.

Sekolah Protestant Viadrina University of Frankfurt (Oder) pun dipindahkan ke Breslau pada tahun 1811, digabungkan dengan Jesuit University, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Wrocław University. Universitas ini memiliki aula yang luar biasa indahnya, Aula Leopoldina, yang seluruh dindingnya dihiasi dengan figur patung-patung dan lukisan dari abad menengah. Di sini saya menyampaikan presentasi tentang Islam di Indonesia.



Masa Perang Dunia I

PEMBARUAN Prussia meningkatkan kesejahteraan di Silesia, wilayah baru di sekitarnya pun diperluas, sehingga Breslau menjadi jalur penting kereta api, pusat industri tekstil. Manufaktur dan besi. University of Wrocław mendukung industrialisasi di sana dan pada sat bersamaan menjadi pusat iptek dan menguatnya sekularisasi yang melahirkan berbagai museum terkenal.

Unifikasi Jerman pada tahun 1871 mengakibatkan Breslau menjadi kota ke-6 terbesar di Kerajaan Jerman, dengan jumlah penduduk lebih dari 500 ribu pada tahun 1860 – 1910, mayoritas orang-orang Jerman, dan sejumlah ribuan minoritas Yahudi, Polandia.

Bangunan-bangunan bersejarah yang masih ada di kota ini adalah Kaiserbrücke (Kaiser bridge) yang diresmikan pada tahun 1910, dan Wrocław University of Technology, Centennial Hall (1913).

Pada tahun 1919, Breslau menjadi ibukota provinsi baru Lower Silesia. Pada saat pemberontakan orang-orang Polandia pada bulan Augustus 1920 Kantor Konsulat dan sekolah milik Polandia dihancurkan, dan semakin terusir. Huruhara tahun 1923 Antisemitic juga terjadi dalam tahun 1923.

Perluasan kota pada tahun 1925 - 1930 menambah wilayah 175km² dan penduduk menjadi 600.000. Pada bulan Juni 1930 Breslau menjadi tuan-rumah pekan olahraga se-Jerman, karena negara ini terusir dari Olympic Games setelah kalah dalam PD I. Breslau juga menjadi kantong Partai Nazi, karena dalam pemilu 1932 partai lunatik ini menang 43,5 % ke-3 terbesar di seluruh Jerman.

Setelah Hitler berkuasa pada tahun 1933, musuh-musuh politiknya diberangus dan kantor-kantornya dihancurkan. Dan puluhan ribu orang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Lalu, the Nazi Sports Body dilangsungkan di Breslau 26 - 31 Juli 1938, untuk memperingati 125 tahun pembebasan Jerman dari tangan Napoleon.

Dalam masa Perang Dunia II, di pinggir kota Wroclaw yang relatif aman menjadi penampungan pengungsi, yang mengakibatkan kota ini pernah mencapai jumlah penduduk hampir 1 juta.

Pada bulan February 1945 Tentara Merah Soviet dan penguasa kota terpaksa memperbolehkan penduduk mengungsi. Evakuasi di musim dingin -20 derajat ini mengakibatkan sekitar 18 ribu tewas. Pertempuran terjadi, separuh kota luluh lantak rata dengan tanah, dan 40 ribu mati. Setelah pengepungan 3 bulan, akhirnya "Fortress Breslau" menyerah tanggal 7 May 1945. Semua bangunan hancur berantakan, hampir rata dengan tanah.

Berdasarkan Konperensi Postdam, hampir seluruh bagian Propinsi Lower Silesia diserahkan kepada Polandia, dan orang-orang Jerman pun melarikan diri atau diusir dari kota ini. Selanjutnya, 75 % orang-orang Polandia yang dideportasi dari wilayah Timur yang diserahkan kepada Uni Soviet, kemudian menetap di Wroclaw dan Lower Silesia lainnya.

Kini, Wrocław menjadi kota unik Eropa dengan warisan budaya beragam. Arsitektur kota diwarnai oleh tradisi Bohemian, Austrian, dan Prussian dan banyak menjadi situs karya arsitek modern Jerman, Centennial Hall. Pada bulan Juli 1997, kota ini mengalami banjir dari Sungai Oder, meruah sampai ke Ceko, seperti di tahun 1903.


Tempat-Tempat Menarik

BERBAGAI tempat indah untuk dikunjungi di kota ini adalah Old Town, yang memiliki medieval market square terbesar kedua di Eropa setelah di Krakow, sanctuary di Ostrow Tumski, Plac Grunwaldzki di seberang sungai Odra, Centennial Hall (di bawah perlindungan UNESCO), taman hewan, Olympic Stadium yang dibangun Hitler pada tahun 1936.

Tentu, saya akan kembali lagi melihat kota indah ini. Insya Allah.

credit photo 2 dan 3 dari Wikipedia

Warsawa, 26 November 2009

Sunday, January 2, 2011

A SHOW CASE AT THE BALTIC CULTURAL CENTER IN GDANSK

DR LAWRENCE OKEY UGWU, or Larry, seldom went to Warsaw, he would prefer to spend his times in Gdansk. He is currently Director of the Baltic Cultural Center in Gdansk. Yet, he is Nigerian by citizenship and holds doctorate degree in culture from a university in Poland. He is, of course, fluent in the Polish language.

Dr. Lawrence Okey Ugwu is modest in terms of appearance. He wears ‘kopiah’ in a Palembang style. I always forgot to ask him where he’d got that kopiah. When he came to see me at the Indonesian Residence (Wisma Duta), he presented me an invitation.

He befriended with Mr. Paweł Adamowicz, the Mayor of Gdansk, who is so inspirational. Paweł told me he wanted to rebuild the city’s international reputation and tourism by staging cultural festivals from different countries, including from Indonesia. And he appointed Larry as the director, a step should be envied by our mayor/governor the city of Jakarta, Bang Fauzi Bowo.

Paweł Adamowicz further said, by having international recognition Gdansk would receive investment. And it was proven! I had witnessed the fruits, I had been visiting this city where President Lech Walesa, the legendary Solidarnosc chairman opens his office, quite often.

I have another friend who lives in the city, a jazz pianist Mr Leszek Mozdzer who had staged his performance in Jakarta, brother of Ms. Jadwiga Mozdzer, the director of Sendratari Damai.

Therefore, the invitation extended by Larry would not be spared. I remember, the first time I met with him was during a cultural performance held by Ms. Jadwiga Mozdzer. That was in 2007.

Larry came to me with single purpose, after learning I was leaving Poland, by end of my term as Ambassador of the Republic of Indonesia to the Republic of Poland. Being a good friend of Indonesia, he said he would give me a chance to show my case, asking me to speak before a seminar on Islam and Democracy, on February 15, 2010, together with a prominent Polish professor of Islamic and Arabic studies and Chairman of the Khaldun Institute Professor Boguslaw R. Zagorski.

Professor Zagorski is a good friend of mine. We held lunches, dinners, breakfasts. When I invited him, he would come with the whole contingent of the family: his charming wife and beautiful daughter and handsome son!

Talking about the seminar, we divided the labor. Since I represented Indonesia as the most successful of blending Islam and Democracy, I was given the task to deliver a lecture. Professor Zagorski, a Polish expert on Islam and at one time chairman of the Polish Islamic Community was given the task in explaining my lecture in the context of the Islamic World and Polish interpretations.

In his capacity as Director of the Baltic Cultural Center, Dr. Lawrence Okey Ugwu presided over the meeting. Larry explained to me that only Ambassadors of states who witness dynamic reforms reaching out beyond the phenomena of local stature were invited. The meeting was attended by more than 80 persons, who took a lively and active interest.

Therefore, I felt privileged when I was the first Ambassador to inaugurate this series of meetings devoted to “Ambassadors and Pulse of the World,” which dealt mainly with the most essential problems and transformations going on in the contemporary world, such as: the changing role of religion or the situation of women in the society. Later, Larry said, he would invite ambassadors of Pakistan, Malaysia, and Saudi Arabia to do the same.

This first meeting was entitled Islam and Democracy and was the platform for discussions on the subject of Islam and its role in the democratic society of Indonesia. In the awareness of Poles, Islam is automatically related to conservatism and fundamentalism and whether peaceful coexistence is possible between Islam and the modern consumer world, especially in Europe.

The meeting was opened by the Cultural Center Director Dr. Lawrence Okey Ugwu and the Deputy Director of the Gdansk President’s Office Mr. Maciej Buczkowski, with a brief introduction by Professor Boguslaw Zagorwski.


Lecture

Next I delivered the main lecture, presenting in detail the compatibility of Islam with modernity, as well as the Indonesian case that Islam, democracy and modernity can go hand-in-hand.

In a nutshell, I explained that in spite of the fact that Indonesia was almost 90% a Moslem country, the other religions flourished: Protestant (5.87%), Catholic (3.05%), Hindu (1.81%) and others coexisted peacefully in this largest Moslem country in the world with a populations reaching almost 150 million.

I also dwelled on the subject of Indonesia overcoming the financial crisis of 1977 and starting from 1998 entering “the club of democracy” as the 3rd largest democracy in the world after India and the United States. Islam came to Indonesia after the Buddhist and Hindu religions from Arabia in the 16th and 17th centuries. Yet this Islam came peacefully--not by conquest--and after being assimilated it became quite different from the Islam in the Middle Eastern practice of literal interpretation, which clashes with the local Indonesian tradition of combining prayer, mysticism and aestheticism.

Islam became the prevailing religion in Indonesia, forming two of the largest Islamic organizations: Nahdatul Ulama (NU) with 40 million members and Muhamadiyah with more than 30 million. The former is more traditionalist, while the latter is modernist. However, both are committed to working within the established political system through the participation in the democratic process, as well as freedom of belief.

The rule of law, good governance, civil society roles in fostering transparency, anti-corruption drive and human rights, as well as a stable annual economic growth of 5-6% GDP have brought Indonesia into the membership of the elite the G-20 club. This rule of law has also resulted in the strong and effective fight against terrorism and terrorist acts committed in Bali and Jakarta in the past few years by apprehending the culprits and ensuring peace for the nation.

In conclusion, I stressed that contemporary Indonesia is a secular country based on the Constitution of 1945 which provides “all persons the right to worship according to their own religion or belief” and states that “the nation is based upon belief in one Supreme God.” Official status is granted equally to Islam, Catholicism, Protestantism, Buddhism, Hinduism, and other religions.

Discussion

What was most interesting and even fascinating was the fact that the discussion developed into a real forum. The audience raised their hands several simultaneously to ask questions. They mostly came well prepared as to what to ask. Here are some of the most interesting queries:

How could it be that Indonesia with almost 90% of its population being Moslems is not a country ruled by the shariah law? My answer was simple: the people voted for secular parties, rejecting any sort of radicalism or fundamentalism. This could be seen in the 2009 general parliamentary and presidential elections, in which 3 secular and nationalist parties took part.

Another question concerned the shariah bank: another simple answer: it is more profitable and providing better interest.

How could Indonesia achieve such great economic progress in this time of crisis? I explained that his country was rich in natural and human resources which it invested skillfully and wisely, developing the middle class. Now the country has profited from that.

There was also a question about women in an Islamic country: the answer was that women have equal rights in Indonesia. A woman was even the President of the country.

A question concerned the young people in Indonesia or whether they would not be indoctrinated by the fundamentalist and radical teachings. I said the law enforcement organs were now very well prepared to combat any sings of dissent. Mainstream Moslems have been a force for pragmatic nationalism and defense of pluralist democracy, which also preach religious tolerance, equal rights for women, and democracy.

And the questions continued for almost 2 hours. One of the concluding statements came from a Polish woman that despite the differences, one fact in Islam was good: “They did not drink.”

During the discussion Professor Zagorski made his exhaustive comments, chiefly regarding the Moslems in Poland, their life and peaceful customs.

To end the meeting, Professor Boguslaw Zagorski and I gave interviews to the Pomorska Television Station.

15 February 2010