Tuesday, May 26, 2009

PADA SUATU HARI DI BATAVIA BULAN APRIL 1935

MESKIPUN resminya sudah di musim semi, tetapi tak urung Gdynia, kota yang bersaudara dengan Gdansk dan Sopot di wilayah utara Polandia – disebut juga troimiasta atau 3 kota – cuaca masih dingin. Angin bertiup kencang pada udara sekitar 10 derajat membuat wilayah di dekat laut Baltik itu dingin sekali, seakan-akan 0 derajat!

Kami mengadakan kegiatan di 2 kota sekaligus: di Gdynia untuk promosi kopi dan di Gdansk untuk pameran wisata, 17-19 April 2009 yang lalu. Meskipun akibatnya saya perlu bolak-balik di kedua kota ini, tidak masalah. Kota ini bergandengan, dipisahkan hanya sekitar 10 km. Saya dan teman-teman ingin memanfaatkan peluang strategis di kedua kota ini, meskipun harus menempuh perjalanan darat hampir 400 km, dalam waktu sekitar 7 jam berkendaraan, menempuh terjangan angin yang cukup kencang!

Pada saat acara pembukaan pameran kopi tanggal 17 April sore, setelah pembukaan pameran wisata di Gdansk pada siang hari, saya pun bergegas menuju Gdynia. Meskipun jarak 2 event ini tidak terlalu jauh, namun hari Jumat seperti di mana-mana di Eropa: jalan macet!

Saya tiba tepat pada waktunya di pameran kopi di Gdynia. Kopi kiriman PT Kapal Api pun laris manis, bukan karena gratis tetapi memang unik. Pada saat pameran promosi, semua jenis kopi yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan di stand-stand pameran disediakan gratis.

Seusai berpidato memperkenalkan kopi Indonesia, saya dihampiri seorang pria berpakaian rapi. Tampaknya seperti panitia, tetapi dia membisikkan sesuatu.

“Mumpung Anda ada di sini”, katanya. Dia adalah Bogdan Kwiatkowski, otoritas pariwisata di Gdynia. Dia mengundang saya untuk mengunjungi museum unik, di sebuah kapal yang tidak jauh – sekitar 100 m – dari mall tempat berlangsungnya festival kopi. Kapal itu tidak besar, sebuah kapal latih (tall ship) bernama ” Dar Pomorza ” yang berada di bawah supervisi oleh institusi Pak Bogdan ini: Tourism Association of Gdynia.

“Itu terlihat Museum saya, kapal yang sedang bersandar di pinggir pelabuhan”, kata pria itu, menunjukkan lokasi sebuah kapal mungil dengan anggun berjangkar di dermaga. Tetapi, sejujurnya, tampaknya tidak ada yang istimewa pada kapal itu. Namanya pelabuhan, tidak aneh jika banyak kapal-kapal lain sedang sandar di sana.

Namun, keramahtamahan orang Polandia sulit ditolak. Mereka tulus, dan rendah hati. Karena hari pun mulai senja, saya pun menjanjikan akan datang besok, tanggal 18 April sore, setelah menyaksikan anak-anak penari asuhan Ibu Jadwiga Mozdzer pada pertunjukan di pameran wisata di Gdansk.


Batavia 1935

Tepat pada waktu yang dijanjikan, Pak Bogdan datang menjemput saya di stand kopi Indonesia. Saya dan isteri pun mengikuti langkahnya, menuju ”Dar Pomorza”.

Di pintu gerbang memasuki kapal, seorang pria kira-kira berusia 70 tahun, berpakaian lengkap resmi kapten kapal datang menyambut dan menghormat kami. Dia adalah Mr. Józef Kwiatkowski, mantan kapten kapal terakhir yang bertugas di kapal itu, dan seperti Dar Pomorza diapun telah pensiun pada tahun 1982.

Dar Pomorza adalah kapal layar latih (tall ship) seperti ”Dewaruci”. Setelah melewati berbagai lorong di kapal, kami berhenti di kabin kapten. Mewah, dilengkapi bar, kantor, dining room, dan ruang rekreasi. Sang Kapten, ternyata adalah ayah kandung Pak Bogdan. Pantas, nama keluarganya sama, Kwiatkowski, dan raut mukanya juga mirip. Pak Józef tua ditemani seorang anak laki-laki sekitar 9 tahun. Cucunya, dan anak dari Pak Bogdan sendiri.

Dia bercerita tentang sejarah kapal yang memiliki tempat di sanubari orang-orang Polandia. Tidak hanya di kota Gdynia, tetapi seluruh Polandia. Kapal ini telah mengharungi dunia, termasuk Indonesia, katanya. Saya pun tertarik. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa Pak Bogdan begitu antusias mengundang saja.

Katanya, pada tahun 1935 kapal ini telah mengunjungi Batavia. Oh, jaman yang telah berlalu, masa kolonialisme di tanah air pada masa malaise!

Sang Kapten kemudian menyerahkan buku karangannya untuk saya, “DAR POMORZA” REJSY I ZALOGA (“Dar Pomorza” Voyages and Crew) setebal 600 halaman. Di halaman depan, saya membaca tulisan tangan:

Szanownemu Panu Ambasadorowi Republiki Indonezji w Polsce Hazairin Pohan z okazji pobytu na "Darze Pomorza" na mila pamiatke z najlepszymi zyczeniami. Autor: Józef Kwiatkowski. Gdynia, dnia 2009.04.18.




[Terjemahan : For Dear Ambassador of the Republic of Indonesia to Poland Mr. Hazairin Pohan on the occasion of His stay on the board of "The Gift of Pomerania" as a token of remembrance and with best wishes. Author: Józef Kwiatkowski. Gdynia, April 18, 2009.]

Sang Kapten, Pak Józef Kwiatkowski tidak bisa berbahasa Inggeris, maka pembicaraan saya dengannya diterjemahkan oleh Pak Bogdan, anaknya.

Menurut Pak Józef Kwiatkowski, sejak dia pensiun dari dinas laut, dia mengumpulkan semua catatan yang ada di kapal, dan menuliskan semua pengalaman sang kapal “Dar Pomorza” ke dalam buku karangannya tadi.

Menurut Pak Józef, “Dar Pomorza” pertama sekali diluncurkan ke laut pada tahun 1909 dan dibeli oleh rakyat Pomerania di kawasan laut utara itu pada tahun 1929. Setelah mengharungi berbagai samudera, mengunjungi berbagai benua, kapal ini pensiun pada tahun 1982. Buku ini memuat semua catatan dan pengalaman yang ada dalam perjalanan hidup sang kapal.

Menarik, karena dalam Bab berjudul “Perjalanan Keliling Dunia Dar Pomorza 1934 – 35” tertulis pengalaman kapal ini mampir ke Batavia, Nederlands Indie, yang sekarang menjadi ibukota tanah air tercinta, Indonesia.

Di halaman 41 terekam:

Pada tanggal 12 April 1935 kami meninggalkan Hong Kong dan bersiap untuk kembali ke Polandia. Di kapal ini pula kami merayakan Easter Holidays di tengah lautan. Tidak lama, pada hari Senin, kami memasuki pelabuhan Singapore. Di kota ini kami memperoleh izin untuk berlayar ke Broome di Australia. Setelah 3 hari berada di Singapura, pada tanggal 25 April kamipun berangkat menuju Batavia di Pulau Jawa. Untuk ketiga kalinya kapal kami ”Dar” telah melintasi khatulistiwa dalam berbagai pengembaraan dunia.

Kami pun lempar jangkar di Batavia. Di kota indah ini kami dibantu seorang insinyur berbangsa Polandia Mr. Jozef Zwierzycki, yang telah menetap di sana. Dari Jawa maka kamipun berlayar ke Australia, menuju pelabuhan kecil di Broome, selanjutnya setelah 3 hari berada di sana kamipun melanjutkan pelayaran ke arah Lautan Hindia menuju Port Louis, yang terletak di kepulauan Mauritius, tiba di sana tanggal 3 Juni 1935. Di tempat ini kami mendengar kabar meninggalnya Marshal Jozef Pilsudski. Maka, bendera kapal pun turun setengah tiang. Tanggal May 18, 1935, di Polandia diselenggarakan upacara penguburan sang Marshal, dan kamipun di kapal mengalungi pita hitam pada potret sang Marshal.



Baru saya menyadari, dalam beberapa hari mendatang di bulan April ini kapal latih Dar Pomorzi akan memperingati tahun ke-74 kunjungannya ke Batavia.


“White Frigate”

Buku Pak Józef mencatat, Dar Pomorza dibuat oleh Blohm und Voss di Hamburg pada tahun 1909, dengan bobot mati 1561 ton, muatan 525 ton, panjang 80 met er (93 m total), lebar 12,6 m, tinggi layar 41,4 m, 1900 atau 2100 m2 (3 tiang layar), dan dengan kecepatan berlayar 5 knot – 17 knots. Kapal ini dilayani oleh kru 28 orang dan antara 1 50-200 kadet.

Kapal ini dipesan oleh Deutscher Schulschiff-Verein kemudian digunakan sebagai kapal latih dengan nama Prinzess Eitel Friedrich. Pada tahun 1920 seusai PD I, kapal ini disita oleh Inggeris dan dibawa ke Prancis, digunakan oleh kadet di sekolah pelayaran St-Nazaire dan diberi nama "Colbert". Karena biaya pemeliharaannya yang mahal, akhirnya pada tahun 1929 kapal ini dijual kepada masyarakat pencinta laut Polandia di Gdynia. Masyarakat Gdynia berhasil mengumpulan dan sebesar 7000 Poundsterling , sesuai harga yang ditawarkan.

Setelah dibeli, kapal ini kemudian dikirim ke Denmark untuk perbaikan. Dicatat, dalam perjalanan berbahaya menuju Denmark karena kondisi kapal yang payah dikhawatirkan tidak sampai tujuan, bahkan hampir tenggelam. Sekembali dari galangan kapal Denmark dan tiba Polandia, kapal ini diberi nama "Dar Pomorza" (berarti 'Gift of Pomerania'), dan dipasang mesin diesel tambahan. Maka, seperti tercatat di buku, untuk pertama kalinya pada tanggal 13 Juli tahun 1930 kapal ini mengibarkan bendera Polandia: Putih-Merah. Dan, mulai saat itu Dar Pomorza bertugas sebagai kapal-latih di bawah pengawasan the Polish Naval Academy.

Mulai tahun 1934-1935 Dar Pomorza memulai pengembaraannya ke ujung dunia, antara lain ke New York (1932), Brazilia dan Afrika Selatan (1933), dan mulai tahun 1934, termasuk call ke Pelabuhan di Batavia (1935 transit di Terusan Panama (1936) dilanjutkan dengan perjalanan kedua ke Pasifik, serta pada tahun 1937 berhasil melewati Cape Horn di Amerika Selatan.

Pada masa PD II kapal diperbaiki di Stockholm , negara netral pada masa itu, dan seusai perang dibawa kembali ke Polandia, ke fungsi semula sebagai kapal-latih. Seusai perang pada tahun 1945 dia kembali ke Gdynia, berlayar ke Laut Tengah dan Atlantik sebelum berangkat menuju West Indies.

Pada tahun 1970-an kapal ini turut berkompetisi dalam Operation Sail dan Cutty Sark Tall Ships' Races, memenangkan tempat pertama pada tahun 1972 (negara pertama dari Eropa Timur yang menjadi peserta), juara ke-3 pada tahun 1973 dan juara pertama pada Cutty Sark Trophy tahun 1980, yang merupakan hadiah terbesar, sehingga dijuluki the 'White Frigate' oleh para kru kapal.

Dar Pomorza terakhir kali bertarung dalam bulan September 1981, karena pada tanggal 4 August 1982 kapal ini dipensiunkan, dan sejak 27 May 1983 dijadikan museum di Gdynia. Kapal tua ini bak prajurit yang telah memenangkan berbagai pertempuran, menikmati hari tuanya, menceritakan berbagai pengalaman dan wisdom yang berarti bagi para pengunjungnya, termasuk saya dan isteri.

Warsawa, 26 Mei 2009

No comments:

Post a Comment