Wednesday, September 22, 2010

SENI TEATER KUNO GAMBUH DI EROPA


SELAMA hampir 3 minggu pada bulan Juni 2009 yang lalu (6-25 Juni), 31 seniman drama tradisional Bali ”Gambuh Desa Batuan” mengguncang Polandia, tepatnya di kota Wroclaw, Polandia baratdaya. Di kota ini, mereka diundang dalam rangka acara ”2009 Grotowski Year 2009” khusus untuk mempertontonkan seni pertunjukan kuno Bali –induk dari berbagai seni musik dan tari Bali—yang dikemas secara professional untuk suatu tontonan yang menarik. Mereka bangga mewakili Indonesia di pentas dunia.

Seni pertunjukan Gambuh sangat memukau, pencinta teater tradisional dari Polandia dan berbagai negara Eropa berbondong-bondong ke Wroclaw.

Group Gambuh Desa Batuan tiba di Polandia 6 Juni dan berpartisipasi dalam latihan bersama dengan para aktor dari Odin Theatre (Denmark) dan berbagai artis dari seluruh dunia untuk persiapan pertunjukan opera “Ur-Hamlet” – yang merupakan penafsiran orisinal dari kisah yang dikenal dalam drama ciptaan William Shakespeare.

Selama berada di Polandia, Gambuh Desa Batuan yang dipimpin oleh I Made Suamba tidak hanya tampil dengan lakon-lakon khas Bali tetapi juga berkolaborasi dengan artis-artis dari berbagai negara. Mereka menjadi artis terbanyak dalam pertunjukan drama “Ur Hamlet” yang kolosal 150 artis multinasional dari Jepang, Prancis, Taiwan, Brazil, Denmark, Polandia, Italia, Argentina, Mexico, Yunani, Spanyol, India, Ceko,Turki, Inggeris, Macedonia, Cyprus, USA, Belanda, dan Swiss. „Ur Hamlet” menjadi pertunjukan utama dalam festival sekarang di Wroclaw.
Pertunjukan monumental “Ur Hamlet” ini melibatkan sekitar 150 artis dan di bawah arahan sutradaranya Eugenio Barba.

Selain itu, para musisi dan penari tradisional Bali tampil untuk pertunjukan sendiri pada tanggal 19 Juni di Teater Puppet Wroclaw, dengan menampilkan berbagai legenda yang berasal dari kisah-kisah tentang Pangeran Panji, yang menjadi dasar dari berbagai bentuk teater dan wayang Jawa maupun Bali.

Lakon Pangeran Panji inilah yang menjadi dasar dari berbagai bentuk teater dan wayang Jawa maupun Bali.
Dalam pertunjukan berikutnya, Gambuh Desa Batuan menampilkan teater topeng tradisional yang didasarkan pada cerita yang ditulis oleh kerajaan-kerajaan Bali dan lakon “Bali Jewels” di Rynek (Old Town), yang menjadi penampilan terakhir di pusat keramaian para wisatawan di Wroclaw.



Semua penampilan mendapat sambutan meriah dan antusiasme dari para pengunjung yang merupakan upaya promosi hebat budaya dari Pulau Seribu Candi di Polandia.

Pengenalan saya dengan Gambuh terjadi kebetulan karena saya sendiri hanya sebatas menjadi penikmat seni. Kebetulan Dawid Martin, pemain dan pelatih the Warsaw Gamelan Group, menginformasikan acara ini setelah melihat publikasinya di salah satu sudut kota Warsawa. Dawid juga berhasil berbicara via telpon dengan salah satu rombongan.

Berdasarkan penjelasan Dawid, para seniman Gambuh Bali khusus diundang ke Polandia untuk menyemarakkan kegiatan UNESCO di Wroclaw memperingati 10 tahun wafatnya Jerzy Grotowski (1933 – 1999), seorang sutradara, pendidik dan ahli teater Polandia. Dalam acara peringatan yang bertajuk “The World as a Place of Truth”, panitia juga menyelenggarakan konperensi, seminar, penerbitan buku, pemutaran film, konser, pertunjukan dan pameran tentang Grotowski.

Budaya Bali mempesona orang-orang Eropa sejak pertama kalinya para pelautnya mendarat di pulau ini. Bagi kebanyakan artis Barat, Bali menjadi sumber inspirasi. Salah satu di antaranya adalah Jerzy Grotowski (1933 – 1999) seorang sutradara, pendidik dan ahli teater Polandia. Tahun ini merupakan peringatan 10 tahun wafatnya Grotowski dan ultah ke-50 ”Teater of 13 Rows” yang didirikannya.

Bersamaan, tahun 2009 dinyatakan oleh UNESCO sebagai The Grotowski Year. Sebagai bagian dari peringatan, Institut Grotowski di Wroclaw menyelenggarakan festival bertajuk “The World as a Place of Truth” dengan partisipasi Gambuh Desa Batuan Ensemble dari Bali.


Luar Biasa

KETIKA saya dan isteri tiba di Wroclaw, setelah menempuh 6 jam perjalanan darat, Gedung Teater Wayang telah dipenuhi penonton. Direktur Teater setelah berpidato meminta saya menyampaikan sepatah kata. Tidak banyak yang dapat saya jelaskan, hanya pernyataan betapa pentingnya seni budaya bagi bangsa Indonesia, dan Bali memang menjadi salah satu the jewel budaya yang pantas diangkat ke pentas dunia. Jika diminta berpidato setelah menyaksikan Gambuh tentu saya akan lebih pede.

Karena, selama satu setengah jam kemudian, saya dan seluruh penonton tersihir menikmati seni drama kuno Bali yang dikemas secara professional. Yang unik bagi saya adalah lantunan nada sendu 5 seruling bambu yang terbesar pernah saya lihat. Tentu dilengkapi dengan perangkat gamelan sederhana, diperkuat sekitar 10 pemain.

Malam itu mereka menampilkan lakon “Tebek Jaran”, cerita klassik mengenai seorang pangeran bernama Panji, dibarengi dengan lelucon dan kesedihan, kegembiraan yang menghanyutkan perasaan. Semua asli dalam bahasa Bali. Sejumlah gadis-gadis Bali menari dan berdialog, diiringi musik yang disebut Gambuh itu. Semuanya, 31 artis tampil di panggung, bergantian, menari berdialog. Pertunjukan tanpa jeda ini diakhiri dengan grand finale disambut tepukan hadirin meriah.

Setelah pertunjukan, saya mengundang para artis dan rombongan untuk makan malam di restoran Thai yang terletak di bilangan Old Town yang kuno dan indah. Udara malam itu juga mendukung, cerah dan hangat. Kami berbincang-bincang panjang lebar sambil mengisi perut. Maklum waktu sudah hampir jam 9 malam. Saya memuaskan keinginan tahu saya tentang Gambuh. Perjalanan seni tradisional yang menjadi induk dari budaya panggung Bali sejak 1000 tahun yang lalu ternyata cukup panjang. Pernah hampir hilang, tetapi hidup kembali menjadi perkasa, berkat jasa Cristina Wistari Formaggia, seorang WN Italia.

“Anda seharusnya melihat acara primadona kami”, kata Pino Confessa jurubicara kelompok itu mendampingi pimpinan artis I Made Suamba. Dia merujuk pada lakon “Ur Hamlet”. Menurut Pino, selama 3 malam berturut-turut Gambuh tampil dalam acara kolaborasi bersama lebih dari 100 artis lain berbagai bangsa, dalam penampilan “Ur Hamlet”, yang merupakan penafsiran orisinal dari kisah drama ciptaan William Shakespeare. Pada penampilan ini, Gambuh Bali menyumbang artis terbanyak, dan memang ternyata menjadi sokoguru pertunjukan kolosal itu.

Menurutnya lagi, tidak pernah Hamlet ditampilkan sedemikian kolosal, dan untuk menyiapkan pertunjukan itu sutradara Eugenio Barba perlu melakukan riset dari berbagai musik Timur dan Barat sejak tahun 1960, selanjutnya mengadakan berbagai latihan sejak tahun 2003 di Denmark, tahun 2004 di Seville, Spanyol, lalu di Bali dan akhirnya pada tahun lalu di Ravenna, Italia. Semua aktor menggunakan kostum aslinya, untuk menekankan karakter budaya yang berbeda. Musuh Hamlet yang diduga berasal dari luar ternyata berada di tubuh sendiri, yakni pada lapisan gelap di masyarakat yang tadinya dipandang teratur. Ketika dunia runtuh, Hamlet pun mengambil alih, mendeklarasikan Orde Baru.

Sejarah kebangkitan kembali Gambuh yang sebelumnya terancam punah cukup panjang dan tidak mudah, ujar Pino yang juga menjadi Konsul Kehormatan Italia di Bali. Dia sendiri sejak 8 tahun yang lalu menjadi WNI, dan telah tinggal puluhan tahun di sana. Dia sudah menjadi orang Bali.


Apa itu Seni Gambuh?



GAMBUH adalah seni pertunjukan kuno Bali, mirip dengan teater No (Jepang) atau Khatakali (India), yang menggabungkan elemen tari, nyanyian, dialog dan musik orkestra gamelan yang mengandalkan suling gambuh. Musik ini menggunakan 4 suling kuno yang terbuat dari bambu berukuran besar, yang dimainkan dengan iringan gendang, gong dan lonceng.

Jenis teater upacara adat kuno ini hampir punah di abad ke-20, namun berkat jasa seorang koreografer dan penari asal Italia -- Cristina Wistari Fromaggia— Gambuh berhasil diselamatkan dan kini ditampilkan hanya di beberapa pura, salah satu di antaranya terdapat di Pura Desa Batuan, yang menjadi asal para artis yang tampil di Polandia.

Group Gambuh Desa Batuan Ensemble terbentuk pada tahun 1993 atas inisiatif Cristina, yang bertekad menyelamatkan seni gambuh yang hampir punah denga membuat proyek. Seniman hebat ini meninggal pada tahun 2008 yang lalu.

Menurut Sidarta Wijaya yang menulis “Gambuh: Ancestor of Balinese Dances (2007)”, Gambuh, merupakan tarian drama klasik yang menjadi asal-muasal tari Bali. Menurutnya Gambuh berasal dari sekitar tahun 1007 pada saat Raja Udayana Warmadewa menikahi putrid Jawa dari Daha (Jawa Timur) yang bernama Cri Gunapriya Dharmapatni. Ketika permaisuri tiba di Bali, dia juga menyertakan sejumlah penari yang ternyata tarian mereka sangat disukai sang Raja.

Gambuh menggunakan seruling besar, rebab (biola), gendang, kempur, gangsi, klenang, kucicak, gumanak, gentorak, dan lukita, yang mengiringi dendang juru tandak (reciter).

Alm. Cristina benar. Dengan menyelamatkan Gambuh seperti dalam bentuk sekarang berarti menghidupkan kembali tari Bali yang hebat. Dari semua tari dan drama Bali, kini Gambuh menjadi musik yang paling lengkap dokumentasinya.


Siapa Cristina Wistari Formaggia

CRISTINA adalah WN Italia yang sebelumnya telah melanglangbuana di dunia, terutama di India, sebelum berlabuh di Bali. Di desa Batuan, dia mendedikasikan seluruh hidupnya, sampai akhir hayat untuk menghidupkan seni tari dan drama Gambuh yang kian sekarat hampir hilang. Dia membenahi aspek-aspek artistik, dia sendiri mahir menari Bali klassik.

Ketika Cristina meninggal, Jakarta Post menurunkan tulisan Rucina Ballinger 31 Juli 2008 bertajuk “Balinese 'gambuh' loses its guardian mother”. Gambuh yang baru saja bangkit bersemangat terancam kembali ke tidur lama yang cukup panjang. Tetapi Cristina memiliki teman-teman yang bergairah meneruskan pekerjaan besar ini. Mereka adalah Pino Confessa dan Antonella de Sanctics, dan Gabriella Medici, seorang Denmark.

Namun teman-teman Alm. Cristina itu bersikap merendah. Menurut mereka, yang menjadi obor kebangkitan Gambuh adalah orang-orang Desa Batuan sendiri. Katanya, justru jiwa kebangkitan Gambuh ada pada anak-anak didik Cristina, yakni orang-orang Desa Batuan memiliki bakat dan dedikasi yang tinggi. Mereka sendiri yang bangkit, dan kami menjadi fasilitator saja, kata Pino.



Tetapi Pino dan teman-temannya bukanlah fasilitator biasa. Mereka memahami, seniman biasanya lemah dalam organisasi maupun manajemen. Sedangkan, mengangkat Gambuh ke pentas internasional memerlukan dana. Masalah pendanaan selalu menjadi persoalan klasik dalam mengunduh seni, apalagi untuk karya-karya seni non-komersial seperti Gambuh.

Semangat orang-orang Desa Batuan juga cukup tinggi. Mereka, tanpa Cristina, terus berlatih dan tampil, meskipun hanya ditonton 2 orang. Mereka berlatih tiap minggu. Dulu, semasa Cristina hidup para warga Desa Batuan setiap latihan diberi nasi boks seharga Rp. 10 ribu. Jika penjualan tiket kurang Cristina akan memberikan uangnya sendiri Rp 20 ribu perorang untuk 32 pemain dan pemusik. Tradisi ini tetap dipertahankan oleh teman-teman Cristina.

Setelah Cristina tiada, dengan semangat dan determinasi tinggi mereka harus berdiri dengan kekuatan sendiri. Dari mulai komunikasi e-mail, peran pengganti Cristina yang selama ini memerankan Panji, pakaian panggung harus dipecahkan sendiri. Termasuk untuk pertunjukan “Hamlet” yang memerlukan naskah dan rekaman dialog, khususnya pada bagian yang dimainkan oleh para seniman alam Bali dari Desa Batuan itu.



Orang-orang Bali itu memiliki naluri dan bakat seni yang tinggi. Mereka menghapal partitur dan adegan drama.

Tidak saja berlatih, Cristina Wistari Formaggia juga menulis buku dalam 2 jilid “Gambuh : Drama tari Bali.,Tinjauan Seni, Makna Emosional dan Mistik, Kata-Kata dan Teks, Musik Gambuh Desa Batuan dan Desa Pedungan, terbitan Yayasan Lontar (2000). Untuk artikel lainnya tentang Gambuh, bisa dilihat pada Juga Jurnal Asian Music, Volume 36, Number 2, Summer/Fall 2005 yang memuat karya tulis Marc Perlman, Music of the Gambuh Theater: Bali's Ancient Dance Drama (review). Asian Music - Volume 36, Number 2, Summer/Fall 2005, terbitan University of Texas Pess.

23 September 2010

No comments:

Post a Comment

Post a Comment