Thursday, June 23, 2011

Sekolah Terbaik : Memoar Rinto Harahap

TIDAK SEMUA orang beruntung memperoleh pendidikan formal sampai sarjana. Keberuntungan memperoleh pendidikan setinggi mungkin itu ada pada semua lapisan sosial ekonomi. Tidak mesti kaya, banyak anak-anak rakyat di lapisan bawah yang mencapai jenjang pendidikan tertinggi, bahkan professor! Sebaliknya, banyak pula anak-anak dari keluarga menengah ke atas yang hanya tamat SMA atau lebih rendah.

Memang kemampuan ekonomi tidak menjadi faktor terpenting dalam mencapai pendidikan tinggi. Ada kemampuan IQ, ada kecerdasan emosi, konsistensi dan kegigihan. Semua ini faktor bawaan, given, ada pada manusia dalam perbedaan tingkatnya. Yang lain pelengkap. Tak usah diperdebatkan bahwa semua faktor bawaan ini adalah pemberian dari Sang Maha Pencipta.

Di manapun, dan dari lapisan mana pun Anda berasal tidak menjadi faktor bahwa Anda tidak menjadi manusia berguna. Dengan apa yang Anda punyai, atau gelombang kehidupan yang Anda lalui, itu adalah modal untuk ‘menjadi orang’. Karena kehidupan itu sendiri, dengan berbagai terpaan badai atau keteduhannya, adalah sekolah terbaik bagi Anda!

Ini barangkali yang menjadi catatan saya, pada Sabtu petang akhir Mei 2011 di Gramedia Grand Indonesia, ketika menghadiri peluncuran memoir Rinto Harahap yang tidak asing lagi bagi dunia musik pop di tanah air, terutama di sejak era 1970-an sampai akhir abad yang lalu. Penulisnya juga beken: Izharry Agusjaya Moenzir dengan karya terbarunya Gelas Gelas Kaca: Tribute to Rinto Harahap.

Izharry, senior saya di Harian Waspada Medan, juga penulis Bukan Testimoni Susno Duaji, memoir Gesang sang pencipta lagu “Bengawan Solo” dan sejumlah bestseller lainnya. Gramedia. Dia dulu senior saya di Harian Waspada Medan.

Petang itu telah hadir Bang Rinto sendiri, isterinya Lily dan puteri paling bungsu Achi yang dokter gigi. Di samping Izharry sang penulis, telah disiapkan panel untuk bedah-buku memoir itu, tidak lain dari wartawan musik top Bens Leo dan Bang Rinto sendiri.

Beberapa teman-teman dekat Rinto juga hadir, seperti Jajang Pamuncak, Jelly Tobing, Erwin Harahap, Fadyl Usman, etnomusikolog Rizaldi Siagian dan sejumlah anak Medan lainnya.

Erwin Harahap yang kalem dengan gitarnya di Mercys tidak lain abang kandung Rinto sendiri yang menjadi pemimpin grup band yang melahirkan Rinto, Charles Hutagalung, Reynold Panggabean dan Albert Sumlang dalam blantika musik pop nasional selama lebih dari 3 dekade, mulai awal 1970-an juga hadir sore itu.

Endorser

LEBIH DARI sekadar pengagum Bang Rinto, saya hadir dalam acara peluncuran memoar itu atas undangan Gramedia sebagai salah satu endorsers memoar itu. Suatu hari Bang Izharry bercerita sedang menyelesaikan memoar Rinto Harahap. Buku ini sudah digarap selama 12 tahun, dan dia ingin segera menuntaskannya.

“Mantap itu, Bang”, ujar saya. Saya memang penggemar Mercys, seperti lazimnya generasi saya yang kini berusia 50-70 tahun.

Siapa yang tidak kenal dengan Rinto Harahap, pencipta lagu yang merajai musik pop Indonesia pada era 1970-1990an?

Melalui Lolypop Group, kelompok binaan Rinto di luar Mercys, lahir sejumlah nama-nama puncak seperti Diana Nasution, Christine Panjaitan, Betharia Sonata, Iis Sugianto, Eddy Silitonga, Nur Afni Octavia, Nia Daniati, Hetty Koes Endang, Broery Pesulima, Rita Butar Butar, Viktor Hutabarat, dan banyak lagi.

Sebagai endorser, saya juga didaulat berbicara. Jujur saya berkata meskipun belum pernah menyaksikan langsung konser Mercys atau Lolypop atau bertemu dengan Rinto Harahap, tetapi saya dan jutaan lainnya adalah pengagum berat.

“Generasi saya dan bahkan yang lebih tua dibesarkan oleh lagu-lagu Bang Rinto. Kami mengingat lagu-lagu itu karena ada kaitannya dengan kenangan di masa lalu, masa remaja”, kata saya mengawali komentar.

“Jutaan orang-orang seperti saya dan sanak keluarga akan memilih Bang Rinto sebagai presiden jika pada zaman itu kita telah reformasi dan Bang Rinto maju mencalonkan diri menjadi presiden”, ujar saya yang mendapat tepuk tangan pengunjung.

Bang Rinto tidak saja berjasa ‘membesarkan’ kita. Beliau juga menciptakan kehidupan dengan keterlibatan para pekerja industri musik, ratusan ribu orang-orang yang terlibat dalam sektor produksi, pemasaran dan pertunjukan karya-karyanya. Dampak ekonomi itu muncul berkat karya-karya adiluhung Bang Rinto, kata saya bak seorang caleg di Pilkada.

Selama hampir 20 tahun saya tinggal di luar negeri, karya-karya Bang Rinto menjadi pengobat rindu ke tanah air nan jauh. Begitu berartinya lagu-lagu popular Indonesia, termasuk ciptaan Rinto Harahap, bagi masyarakat kita di luar negeri.

Dengan hasil karya berjumlah 518 lagu selama 3 dekade dimulai tahun 1970-an Rinto Harahap memerintah kerajaan musik pop modern Indonesia. Teruji, merekam zaman yang cukup panjang dan mengabadikannya ke dalam karya-karya indah.

Karya cipta Rinto Harahap juga diabadikan dalam album The Masterpiece of Rinto Harahap, bersisikan 14 lagu yang didaur-ulang sesuai konsep musik masa kini dan dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi anyar sekarang. Karya-karya itu abadi.

Jalan Tom Jones atau Rinto?

SAYA lantas mengutip wawancara penyanyi top di tahun 1960-an, Tom Jones, yang merasa menyesal mengapa pada puncak-puncak kehebatan suaranya malah dia menghabiskan waktu untuk show di Las Vegas dan berbagai kota di dunia. Menurutnya, pada puncak prima kehebatan pita suaranya seharusnya digunakan untuk rekaman. Meskipun Tom Jones sekarang ini masih melakukan konser dan full-house di mana-mana, tak-pelak pita suara itu tidak seprima seperti pada era kejayaannya.

Tom Jones menyesal, rekaman suara itu akan menjadi harta karun modal yang akan menjamin hari tuanya.

Saya katakan, Bang Rinto pada puncak-puncak kreativitasnya menghabiskan waktu untuk mencipta lagu dan merekam di studio. Tidaklah mengherankan jika dalam kurun waktu itu Rinto menghasilkan 518 lagu ciptaannya. Bang Rinto lebih beruntung ketimbang Tom Jones.

Saya lantas ingat, ketika Duta Besar Rusia Vladimir Plotnikov mengajak saya untuk sama-sama menyanyikan Benci Tapi Rindu pada acara dinner di tahun 2006. Dubes Rusia yang fasih berbahasa Indonesia ini sangat menyukai karya-karya Bang Rinto. Saya sadar karya-karya Rinto Harahap telah menembus batas-batas kultural antar-negara. Tom Jones juga begitu.

Sore itu, saya pun menyanyikan Benci Tapi Rindu, bersama sang penciptanya, Bang Rinto, diikuti hadirin.

Ingin Kembali Mencipta

PETANG itu Bang Rinto tampak segar. Ketika berbicara, Bang Rinto masih belum lugas. Beliau terserang stroke beberapa tahun yang lalu.

“Saya akan menulis lagu lagi, terutama jika jemari kanan sdh pulih, agar bisa main gitar”, katanya. Doakan kawan-kawan, katanya lagi yang disambut oleh para hadirin yang memenuhi tokobuku Gramedia: Amin!

Penerima Anugerah Seni 1982 dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen P dan K, sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi yang berprestasi itu tak-pelak menjadi a legend. Dia turut meletakkan dasar-dasar lagu populer di Nusantara (termasuk Malaysia, Brunei, Singapura).

Wajar, nama besar Rinto Harahap akan diabadikan dalam sanubari rakyat berbahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara.

Kejujuran Modal Utama

DALAM memoar Gelas-Gelas Kaca, Rinto Harahap jujur bertutur kisah dirinya. Tiada kebetulan, dan manusia bisa menjadikan kehidupan nyata yang dialaminya – di mana pun, apapun status sosialnya-- sebagai sekolah terbaik bagi kehidupan.

Memoar ini sarat dengan pesan. Sekolah kehidupan, lebih dari sekadar sekolah formal, mengajarkan wisdom dan mendorong manusia untuk menggali potensi yang ada pada diri sendiri.

Pada awalnya, potensi sebagai pencipta lagu tidak tampak pada Rinto. Hanya karena terpaan berbagai peristiwa berat Rinto terdorong untuk setia dan jujur menjadi seniman. Berada lingkungan orang-orang yang dicintainya, keluarganya, dan teman-teman dia bekerja keras. Hasil kerja keras itulah yang menghantarkan Rinto menjadi legend, pencipta lagu yang sangat kreatif.

Dia bertutur tentang kampung halamannya di Sipirok dan di masa kecil di Sibolga, tentang ayah dan ibu yang dicintainya. Bertubi-tubi cobaan menimpa keluarga dan dirinya, dan Rinto yang berhati lembut ternyata juga berlatar-belakang dunia keras, preman, di Medan. Ternyata dia mantan Rambo!

Rinto menjadi 'introvert' ternyata pernah mengalami tahanan, namun suka menulis puisi. Puisi-puisi itu kelak akan menjadi tema lagu-lagu ciptaannya.

Rinto Harahap menjadi pribadi yang jujur, seakan-akan terombang-ambing dalam jatuh-bangun kehidupan keluarga ayahnya, mencoba setia dengan anjuran ayahnya untuk menjadi pegawai dengan kehidupan serba teratur. Pada akhirnya, dia terdampar di dunia seni, dan sukses!

Hubungannya dengan kolega Charles Hutagalung yang lebih dahulu ngetop dan memang berbakat diakuinya jujur. Bahkan, Charles yang menjadi sumber inspirasi dan guru baginya. Pada kejayaan karir mereka, sempat kedua teman akrab menjadi seteru. Namun, di masa senja pertemanan itu bertaut kembali.

Zia dan Tasya, teman remaja Rinto digambarkan begitu inspiratif, lebih sebagai teman karena keduanya memahami perasaan Rinto yang halus.

Kisah tentang Tasya, teman remajanya itu diungkap Rinto dalam lagu Katakan Sejujurnya yang menjadi salah satu hit Christine Panjaitan.

“Apa mungkin kita bersatu?”, tanya Rinto yang masih dalam taraf pencarian diri, kemudian merantau meninggalkan kota Medan.

Izharry Agusjaya sang penulis hebat selama 4 dekade adalah orang yang tepat merekam dengan baik dan halus buku memoar itu. Wajar, Izharry sangat memahami degup-jantung anak-anak Medan dengan berbagai perjuangan mereka di ibukota.

Kisah perjuangan dan suka-duka anak manusia yang mirip dengan cerita Laskar Pelangi ini sangat inspiratif dan layak difilmkan.

Jakarta, 24 Juni 2011

Monday, June 13, 2011

BERTETANGGA YAHUDI

KAMI tinggal 4 tahun di New York. Kota ini sempat dijuluki “Jew York” karena di kota ini konsentrasi terbesar masyarakat Yahudi di luar Israel, hampir 2 juta orang, dari total kurang lebih 7 juta jiwa di seluruh AS.

Mayoritas komunitas Yahudi berasal dari kelompok Ashkenazi yang berjumlah hampir 1 juta jiwa. Selebihnya adalah kelompok Hasidic Chabad-Lubavitch, Bobover, Satmar yang menjadi cabang-cabang dari sub-etnis Hasidism, kelompok ultra-Orthodox Judaisme.

Keberadaan mereka di New York City dimulai pada abad ke-17, datang dari Brazil mencari kebebasan beragama. Mereka tergolong Sephardi (Yahudi yang berasal dari Negara non-Eropa) seperti Suriah. Imigrasi besar-besaran terjadi pada akhir abad ke-19 ketika anti-Semit merebak di Eropa Tengah dan Timur, kemudian setelah PD I.

Di era glasnost dan perestroika di Uni Soviet pada dekade 1980-1990, komunitas Yahudi Ashkenazi, Bukhari, dan Georgia , membanjiri New York. Queens, South Brooklyn, Bronx, Manhattan, dan Riverdale. Umumnya orang-orang Yahudi tinggal di kawasan-menengah seperti Brooklyn, Queens, Forest Hills, atau di Fresh Meadows dan Flushing, di mana kami sekeluarga tinggal. Sebagian menetap di di Upper State, Long Islands, atau di New Jersey di enklaf kelas menengah ke atas.

Omni Present

YAHUDI itu tidak monolit. Tentu, tidak semua mereka kaya dan berkecukupan. Ada pula yang kurang beruntung dan menjadi tukang cukur, atau binatu, atau hanya pelayan restoran. Mereka juga tidak semua beragama Yahudi, agama mayoritas. Bahkan tidak kurang yang atheis alias tidak beragama.

Menurut Google, hanya ¼ komunitas Yahudi di Amerika yang menjalankan ibadah agama tradisional mereka. Mungkin ini yang menjelaskan mengapa secara tradisional komunitas Yahudi Amerika menjadi pendukung Partai Demokrat (liberal), daripada Partai Republik (konservatif).

Ada yang puritan, ada pula yang kosmopolitan. Banyak yang menjadi selebriti, artis terkenal, sutradara film, professor, penulis hebat atau pemilik media. Meskipun jumlahnya sekitar 2 juta, orang-orang Yahudi itu ada di mana-mana, omni present.

Karena cukup lama, hampir 4 tahun kami tinggal di Fresh Meadows bertetangga dengan masyarakat Yahudi saya pun terbiasa dengan pemandangan sehari-hari hidup dengan mereka.

Pada hari Sabtu yang adalah hari Sabbath, hari suci bagi umat Yahudi seperti Jumat bagi Muslim, mereka beribadah ke Sinagog, berjalan berbondong-bondong. Pada hari Sabtu orang yahudi dilarang berkendaraan. Sinagog merupakan pemandangan biasa di New York, terutama di kawasan konsentrasi masyarakat mereka.

Tahun baru Yahudi yang disebut Rosh Hashanah tidak begitu kentara dirayakan di Amerika, berbeda halnya dengan Yom Kippur yang merupakan hari tersuci bagi mereka atau Hanukah, festival 8-hari dengan menyalakan lampu bercabang-8.

Agama yahudi juga memiliki hari-hari besar lainnya, namun yang kentara dirayakan meriah adalah Yom Kippur dan Hanukah.

Puasa juga menjadi bagian dari ritual agama Yahudi, di samping tirakat sambil membaca kitab suci Taurat sampai menjelang subuh. Di pemukiman kami tinggal itu, pada waktu tertentu lamat-lamat saya mendengar mereka mengaji di malam hening entah sampai jam berapa.

Mereka juga memasang tenda di samping rumah, dan bersama keluarga ‘tadarus’ membaca Taurat.

Karena itu, kami bertetangga baik dengan orang-orang Yahudi, peacefull coexistence, hidup berdampingan dengan damai. Di kawasan ini pula kami lebih mengenal mendalam tentang kebiasaan dan hidup sehari-hari mereka. Tidak hanya itu, landlord (pemilik rumah), dokter, agen asuransi, bankers, dan guru-guru sekolah anak-anak kami, dan beberapa profesor hebat yang saya kenal baik ketika belajar di University of Washington (Seattle) juga orang Yahudi.

Tentu tidak semua beruntung. Di antara yang masih belum beruntung adalah tetangga kami. Aleksandr atau Sasha, begitu dia dipanggil isterinya, beserta 2 anak remaja baru saja beremigrasi dari Azerbaidjan. Dia belum lancar berbahasa Inggeris. Saya dan keluarganya selalu berbahasa Rusia bila berpapasan atau pada weekend sedang berberes rumah.

Menurutnya, kehidupan di negara bekas Uni Soviet itu tidak menarik lagi setelah bubarnya negeri itu di awal tahun 1990. Pasca bubarnya Uni Soviet, masyarakat etnis terutama di Asia Tengah kembali ke tradisi semula yang Islam.

Dalam gejolak sosial di negara-negara transisi itu selalu muncul masalah-masalah sosial dan bahkan xenophobia (benci orang asing) meskipun mereka lahir dan besar di negeri itu. Itu yang membuat Sasha merasa tidak aman.

Sasha menjual semua harta-bendanya dan berkat koneksi dan persaudaraan Yahudi mendapat sponsor untuk beremigrasi ke AS. Dia harus mandiri setelah tiba di Amerika. Dia hanyalah seorang pemilik mobil sedan merangkap supir untuk tamu-tamu VIP, begitu penjelasannya.

Anaknya yang laki-laki bekerja sebagai montir, sedangkan puteri remajanya bekerja sebagai kasir di supermarket yang tidak jauh dari rumah saya. Kedua anak mereka ini juga sedang menempuh studi di perguruan tinggi.

Menurut Sasha, selama hidup di zaman Komunis Uni Soviet mereka diwajibkan mengikis identitas etnis dan bahkan agama! Kehidupan cenderung sekuler. Banyak pula yang menjadi atheis, seperti Sasha dan keluarganya. Maka, beremigrasi ke Amerika dan tinggal bersama komunitas Yahudi menjadi kesempatan untuk kembali ke tradisi dan agama mereka.

“Saya dulu tidak tahu bahwa daging babi itu haram”, katanya. Memang Sasha dan keluarganya telah menjadi ‘born-again’ Jewish. Dia kini tidak mengkonsumsi daging babi, dan bahkan berusaha secara ketat mematuhi diet Yahudi dengan makanan kosher (halal).

Belajar Mendidik Anak a la Yahudi

TINGGAL bersama komunitas dengan mayoritas Yahudi menjadi biasa. Kami juga memerhatikan bagaimana mereka hidup sehari-hari. Bangsa yang diuber-uber selama ribuan tahun ini memang luar biasa ketahanan nasionalnya.

Meskipun ibu-ibu rumahtangga Yahudi itu memiliki pendidikan tinggi, bahkan sampai doktor, tetapi mereka tetap setia pada profesi tradisional: sebagai penjaga tradisi, pendidik di rumah serta mengurus pekerjaan rumah-tangga (house chores).

Bangsa Yahudi berbudaya paternalistik. Lelaki berjuang untuk keluarga, mencari kehidupan. Wanita dipersiapkan untuk menjadi ibu rumah-tangga. Ini profesi tradisional yang bersandar pada budaya Yahudi. Para ibu rumah tangga menjadi ‘the back bone’ bagi penjaminan agar tradisi, agama, dan budaya terwariskan dengan baik.

Yang menjadi kunci daya tahan mereka adalah bersumber pada 2 hal: tradisi dan agama. Dari ajaran teologis ini mereka memiliki 2 kunci hidup: bagaimana menjadi kaya dan berpengaruh melalui pemilikan harta-benda dan pendidikan.

Kami juga ingin mencuri ‘resep’ bagaimana mereka mendidik anak-anak di rumah. Kebetulan anak-anak kami masih usia sekolah SD dan SMP negeri (public school) yang para guru-guru serta orang-tua murid dengan sendirinya mayoritas adalah orang-orang Yahudi.

Pada tahun awal kami tinggal di Amerika anak-anak mengalami kesulitan berbahasa Inggeris. Sekalipun Sandra, anak kami yang paling besar, sudah bisa berbahasa Inggeris secara terbatas tetapi aksen Prancisnya sangat kental. Sebelumnya, kami tinggal di Eropa dan anak-anak bersekolah di sekolah Prancis (L’Ecole Francais Victor Hugo).

Saya dan isteri mencoba ‘bridging the gap’ dengan rajin berkonsultasi dengan guru-guru bagaimana kami bisa membantu anak-anak mengatasi kesulitan bahasa Inggeris. Kami juga selalu aktif ikut dalam rapat-rapat Parent-Teacher Association (PTA) untuk mengenal orang-tua teman-teman anak-anak kami.

Adalah kebijakan sekolah yang mewajibkan anak-anak asing untuk tidak hanya belajar di ruang kelas bersama-sama anak-anak Amerika lainnya. Mereka juga harus mengikuti kelas English as Second Language (ESL). Alhamdulillah, berkat upaya keras dan nasehat dari para guru dan orang-tua murid maka dalam kurang setahun anak-anak kami sudah mulai lancar berbahasa Inggeris. Bahkan yang paling kecil, Rizaldy, mampu menyelesaikan ESL dalam waktu 6 bulan!

Karena pekerjaan banyak tinggal di luar negeri, saya mengikuti tradisi internasional dalam memberi 3 nama (name, middle name, surname) bagi tiap anak kami. Saya selalau menyisipkan nama tengah bagi anak laki-laki dengan panggilan leluhur. Maka, anak kedua Edwin memiliki nama tengah JAKOB. Itu nama kakek saya.

”Jakob?”, kata gurunya yang Yahudi, keheranan bagaimana orang Indonesia Muslim mengambil nama orang yang paling dihormati, kakek-moyang orang Yahudi.

”Ya, Edwin Jakob Pohan”, ujar saya. Saya jelaskan Jakob itu nama kakek saya, dan juga menjadi nama nabi bagi kaum Muslim.

”Good. I did not know that”, ujar sang guru, kagum dan senang.

Di lain kesempatan, pada bulan Ramadhan kami bertemu dengan guru-kelas yang juga orang Yahudi. Dia menyatakan kekaguman bahwa anak-anak menjalankan ibadah puasa secara disiplin. Pada saat istirahat makan-siang anak-anak Muslim diperbolehkan berada di ruang perpustakaan, bermain atau belajar silahkan saja.

“Saya kagum sekali, bagaimana anak-anak Asia dalam usia dini telah mampu berdisiplin dengan patuh tanpa complain menjalankan ibadah puasa yang tentu berat bagi mereka”, ukarnya.

Kami menjelaskan bahwa sebenarnya kami memperbolehkan anak-anak tidak berpuasa sekiranya akan menyebabkan mereka terlihat ‘aneh’ di antara anak-anak lainnya. Tetapi anak-anak itu hanya melanjutkan tradisi di tanah air, menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Anak-anak juga belajar di Saturday School Mesjid Al Hikmah untuk belajar Al Quran dan hal-hal keislaman, bersama anak-anak Indonesia Muslim dan beberapa di antaranya anak ekspat dari Asia Selatan dan Eropa.

“Sekiranya anak-anak Amerika juga memiliki disiplin yang tinggi dan keyakinan keagamaan yang kental saya yakin kami akan maju”, tambah sang guru.

Disiplin memang menjadi kunci. Dan dengan disiplin tinggi pula anak-anak Yahudi dipersiapkan oleh orang-tuanya. Kami ‘mencuri’ ilmu yang sederhana tetapi manjur.
“Anak-anak kami tidak mengenal TV dan hiburan lainnya pada hari-hari sekolah”, kata seorang ibu Yahudi kepada isteri saya.

“Mondays to Fridays no TV or PlayStation at all”, katanya. Anak-anak diperbolehkan melakukan kegiatan luar-sekolah hanya pada akhir-pekan.

Maka, anak-anak kami juga terbiasa untuk mengembalikan semua permainan kesayangan mereka pada Minggu petang. Mereka segera mempersiapkan diri untuk pelajaran hari Senin dan seterusnya. PlayStation ini akan mereka ambil dari kamar kami pada Jumat sore, setelah kembali dari sekolah. Dan mereka juga terbiasa tanpa menonton acara TV apapun selama hari-hari sekolah!

Pada jam 800 malam anak-anak harus masuk ke kamar masing-masing, dan pada jam 900 lampu di kamar mereka kami matikan karena jam tidur.

Pada masa liburan musim panas yang cukup panjang, seperti anak-anak Yahudi mereka pun tidak lepas dari kegiatan berbau sekolah. Tentu saja, masa liburan juga kami gunakan bersama anak-anak bepergian ke kota-kota lainnya. Namun, kebanyakan waktu digunakan untuk membaca buku. Isteri saya rajin meminjam buku untuk anak-anak dari perpustakaan. Belasan buku setiap minggu.

Maka, dalam liburan panjang mereka menghabiskan puluhan buku. Buku apa saja, dan tidak mesli buku pelajaran. Yang penting adalah buku yang mereka sukai. Apapun.
Tidak hanya dalam pelajaran. Anak-anak juga sejak kecil terbiasa dengan pekerjaan rumah-tangga (house chores). Tentu yang ringan-ringan saja, seperti membersihkan tempat tidur, kamar dan mengatur pakaian dan buku-buku dengan rapi. Ini juga menjadi kebiasaan anak-anak Yahudi.

Dengan disiplin dan kebiasaan baik yang ditanamkan hasil-hasil sekolah pun meningkat. Anak perempuan kami dengan nilai yang baik diterima di sekolah pilihannya SMA Cordozo.

Bahkan, anak ke-3 Rizaldy menjadi juara bahasa Inggeris di sekolahnya. Masih kelas V, Rizaldy telah menjadi wakil sekolahnya untuk mengikuti kompetisi bahasa Inggeris pada tingkat regional.

Ini juga berkat iklim belajar-mengajar yang kondusif. Pada sekolah-sekolah negeri Amerika para guru diwajibkan mengikis prejudice. Anak-anak kamipun tanpa disadari mereka mengalami transformasi menjadi orang Amerika.

”Yes, I am American”, kata putera saya. Padahal pada tahun kedua dia mengatakan ‘I am partly American, partly Indonesian’.

Ketika saya kembali ke tanah air karena penugasan telah selesai kami pamit dengan guru-guru sekolah mereka. Guru-guru Yahudi Amerika itu mengekspresikan kesedihan, mengapa kami harus meninggalkan Amerika, dan apakah kami tidak betah di sini.

“Bagaimana nanti pendidikan anak-anak di sana?”

“Saya pegawai pemerintah, dan sudah waktunya untuk kembali ke tanah air. Jangan khawatir, di kota-kota besar di Indonesia telah banyak sekolah-sekolah yang baik, di mana anak-anak juga akan menempuh pendidikan dengan baik”, ujar saya menegaskan.

Alhamdulillah, setelah beberapa tahun berada di tanah air anak-anak dapat menempuh pelajaran dengan baik. Sandra, kini lulus dari FH UI, telah bekerja di suatu law-firm. Edwin, anak kedua kami juga sedang menyelesaikan studinya di FISIP UI, sementara adiknya Rizaldy telah belajar pada semester 6 di ITB, jurusan teknik mesin dirgantara.

Tinggal di pemukiman mayoritas Yahudi dan bertetangga dengan mereka juga memiliki sisi-sisi baik yang menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam membesarkan anak-anak.

Jakarta, 14 Juni 2011

Thursday, May 12, 2011

INDONESIA ESTABLISHED FIRST CHAPTER OF ASEAN BLOGGER COMMUNITY

DIRECTOR General for ASEAN Cooperation of the Ministry of Foreign Affairs Djauhari Oratmangun Tuesday (10/5) inaugurated the establishment of the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia in Jakarta.

The launching of the first ASEAN regional-based blogger community is meant to express the enthusiasm among Indonesian bloggers to support Indonesia’s position as current 2011 chair of ASEAN.

Mr. Djauhari Oratmangun hailed the initiatives of Indonesian bloggers to establish the first kind of blogger society and hoped that similar communities would be established by its sister chapters in all ASEAN member countries. He asked ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia to jointly with him in the dissemination of information and messages of ASEAN to Indonesian people.

“ASEAN is in the verge of crucial challenges that this sub-regional cooperative organization cannot survive in the globalization era without strong support from its people. Therefore, the ASEAN Charter has mandated all ASEAN member-countries to do their utmost to make ASEAN relevant, useful, and felt among its people”, he said.

He continued, the participation of bloggers is crucially important since our contemporary world and challenges ahead depends heavily on IT communications, and in particular the social media. Therefore, the task he expects from Indonesian bloggers is to spread all positive direction ASEAN is now pursuing and in speeding up the establishment an ASEAN community-type cooperation in the Southeast Asia sub-regional in 2015.

The inauguration of ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia were attended by blogger community representatives, among others, from Jakarta, Bekasi, Surabaya, Jakarta, Medan and Makassar.

The official inauguration was marked by signing of a Declaration, among others by Director General Djauhari Oratmangun, followed by chairman of the event organizer Imam Brotoseno, the founders and respective representatives of blogger communities from those cities.

The Declaration on the Establishment of the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia contains the commitment: (1) to intensify efforts in the making of a people-centered ASEAN integration through strengthened interaction, (2) to put forward ideas and proposals to respective governments in their exercise of strengthening 3 community pillars, i.e. political and security, economic, and social-cultural in line with the national interest of Indonesia and people welfare (3) to bridge communication among bloggers in ASEAN countries and to encourage people participation in the process, (4) to conduct social activities among bloggers and people in establishing a sense of ownership and participation within the ASEAN cooperation framework, and (5) and to establish the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia as contribution from the Indonesia people, and to publish information of its activities of through newly-established website http://aseanblogger.com.

In his introduction remark, Mr. Imam Brotoseno welcomed the support rendered by the Ministry of Foreign Affairs, in particular, for the warm support from Director General Djauhari Oratmangun. He thanked also Ms. Mubarika Darmayanti, representative of IdblogNetwork for her support.

“Through Indonesia’s chapter of the ASEAN Blogger Community, we bloggers wish to contribute to the presence of ASEAN in the midst of Indonesian people, and the Chapter would serves as bridge to communicate Indonesian bloggers with their counterparts from 9 other member countries. We do not intend to apply this social medium just for the sake of forging friendship and common identity, but also in the practical terms to strengthen strategic goals in new economic ventures at the level of society, as well as in the socio-cultural fields”, Imam Brotoseno further said, speaking on behalf of the founders of the group.

He said the presence of ASEAN among people of South East Asia should not only be felt. ASEAN should be owned, driven, and initiated by people. The Summit theme ASEAN of people-centered needs more new ideas and thinking in the concrete and practical terms.

“We wish our step would be followed by other blogger communities in the ASEAN member-countries. We wish to establish cooperation and exchange of views and information with our counterparts”, said Imam Brotoseno.

“Domestically, we would like to appeal to all bloggers in many cities in Indonesia to join us, either individually or through their communities”, he continued.

Mr. Brotoseno, former President of annual Indonesian Blogger Party in 2010 said in the talkshow program held after the inauguration of the ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia that he and other colleagues would embark a string of road shows in Surabaya, Makassar, Medan, and finally Jakarta in order to introduce the newly established Indonesian Chapter, where he expected to receive not only enthusiasm but also ideas and proposals from bloggers there.

“We would like to develop vision and mission of our newly-established blogger association, and further action plans”, he added.

According to some of the founders of ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia, they will make a report to the Ministry of Foreign Affairs and to the ASEAN Secretary General on the establishment of the Indonesian Chapter.

“We will ask the Foreign Ministry and the ASEAN Secretariat to inform the governments of ASEAN member-countries and offer our readiness to cooperate with our sister counterparts. We intend to organize a meeting of all sister ASEAN Blogger Community Chapters from respective countries in Jakarta during the 44th Anniversary of ASEAN. The meeting would be held to provide exchange of views among all ASEAN member countries and to establish cooperation on how we could contribute in the ASEAN process”, Aris Heru Utomo, chair of the Bekasi Blogger (BeBlog), other founders Amril Taufik Gobel, and Wijaya Kusumah added.

Tuesday, April 19, 2011

ADAKAH RUANG DIPLOMASI KITA DI TIMUR TENGAH?

TUNTUTAN umat Islam di tanah air agar Indonesia memainkan peranan aktif dalam mendorong proses damai reformasi di beberapa Negara Timur Tengah dan Afrika Utara mencuat akhir-akhir ini.

Berturut-turut, mulai akhir 2010 demonstrasi merebak di Tunisia kemudian menjalar ke Mesir, Libya, Aljeria, Bahrain, Djibouti, Iraq, Yordania, Syria, Oman dan Yaman, diikuti pula euphoria demokrasi di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Marokko, Arab Saudi, Sudan dan di Sahara Barat yang semuanya dikenal sebagai negara-negara Muslim.

Beberapa pengamat mencoba memahami situasi dan dinamika yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara itu kurang lebih setara dengan tingkat dan dimensi perubahan di Eropa Timur di awal tahun 1990-an yang telah menjungkirbalikkan komunisme dan mengakhiri Perang Dingin. Peta Eropa berubah, maka peta geopolitik pun berubah.

Dan, pergolakan atau lebih tepatnya revolusi yang berlangsung di sana belum akan berakhir dalam waktu dekat. It’s only the beginning, hemat saya.

Akankah ‘wind of change’ menyapu Dunia Islam? Seberapa besar tantangan demokrasi di Dunia Islam dan apakah pengalaman Indonesia atau Turki relevan bagi Negara-negara yang sedang bergejolak tersebut.

Adakah opsi-opsi yang terbuka bagi Indonesia untuk turut menyumbangkan peran dan pengalamannya dalam meredam gejolak agar tidak merugikan perjuangan Dunia Islam? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab tentunya.

Mengapa Kita Peduli?

HARAPAN masyarakat di tanah air agar Indonesia melalui diplomasi untuk memainkan peranan untuk tercapainya transisi damai di Negara-negara Muslim itu beralasan.

Pertama, Indonesia merupakan Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Pergolakan di dunia Islam menjadi keprihatinan kaum Muslim di Indonesia. Indonesia pasca reformasi telah memiliki kesempatan untuk menggunakan diplomasi yang tidak sekadar alat perjuangan mencapai kepentingan nasional yang tangible.

Pembukaan UUD 1945 telah memandatkan tanggung-jawab internasional Indonesia apalagi didukung dengan kinerja ekonomi yang menakjubkan dunia dan telah menjadi anggota G-20, kelompok negara dengan ekonomi terbesar dunia.

Solidaritas karena kedekatan agama atau mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina telah menjadi klasik. Konstituten di dalam negeri telah mendorong agar Indonesia lebih berkiprah tidak hanya di bidang politik, tetapi juga di bidang ekonomi.

Kedua, di sana banyak terdapat penduduk Indonesia yang sedang bekerja atau menunaikan ibadah umrah, berwisata, maupun mahasiswa. Di dalam era merebaknya medium untuk media social, perkembangan situasi yang memburuk di Timur Tengah menjadi kecemasan dari rumah ke rumah.

Ketiga, Indonesia juga pernah mengalami proses reformasi dan berhasil mengatasi gejolak di masyarakat dengan baik. Indonesia juga telah muncul menjadi salah satu kekuatan demokrasi di dunia, bahkan melalui Bali Democracy Forum menyumbang bagi proses penguatan demokrasi di kawasan Asia Pasifik. Jelas kita bisa menyumbangkan pengalaman kita dengan negara-negara yang sedang mengalami transisi menuju demokrasi.

Konstituen kita di dalam negeri juga terbelah. Ada yang mendukung runtuhnya rejim Gaddafi, namun kemarahan terhadap pengeboman oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO juga tidak kurang.

Sering pula Pemerintah didorong agar bersikap proaktif, adakalanya melampaui kapasitas atau kemampuan kita sendiri.

Reaksi Dunia Islam

MEMANG dirasakan aneh, Organisasi Konperensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara di Dunia Islam, termasuk Indonesia, sejak awal tidak mengambil langkah-langkah penting di tengah keadaan yang memburuk di Tunisia, Mesir dan Libya.

OKI baru bersuara ketika angin reformasi melanda Libya dan menjatuhkan korban warga sipil. Melalui sekjen Ekmeleddin Ihsanoglu, OKI mengeluarkan seruan agar semua pihak yang ambil-bagian dalam operasi militer menahan diri untuk tidak menjatuhkan korban di kalangan sipil serta meminta semua Negara menghormati kesatuan bangsa dan keutuhan wilayah Libya.

Pernyataan ini sangat terlambat, karena pernyataan ini keluar baru pada tanggal 23 Maret 2011, sesaat setelah keluarnya resolusi DK-PBB No. 1973. Padahal, pergolakan dahsyat telah dimulai di Mesir sejak akhir Januari 2011.

Bagaimana dengan Gulf Cooperation Council (GCC)? Dalam pergolakan di Libya, 6 negara yang tergabung dalam GCC (Gulf Cooperation Coucil) secara terang-terangan menyerang Muammar Gaddafi dan memihak kepada oposisi. Turut sertanya Qatar mengirimkan pesawat tempur menyerang kekuatan militer Gaddafi menggambarkan komplikasi yang tidak gampang bagi Indonesia untuk mendukung kepada salah satu pihak.

GCC mempunyai alasan jelas bahwa penembakan dengan senjata berat penduduk sipil dengan menugaskan tentara bayaran asing adalah pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.

“Rejim Gaddafi telah kehilangan legitimasinya” kata Perdana Menteri merangkat Menlu Qatar Hamad bin Jasem bin Jaber Al Thani.

Bagaimana dengan peran Arab League? Organisasi bangsa Arab yang beranggotakan 22 negara ini berbeda pendapat dengan GCC yang dimotori oleh Arab Saudi, sebaliknya menyesalkan serangan bom AS dan Negara-negara Eropa yang telah menjatuhkan korban di kalangan sipil serta tidak menghantarkan ke arah membaiknya situasi bahkan perang saudara terbuka.

Sekjen Arab League Amr Moussa menyatakan persetujuan mereka untuk resolusi DK-PBB yang memberlakukan no-fly zone dimaksudkan untuk mencegah Gaddafi menggunakan kekuatan udara menyerang penduduk sipil dan bukan untuk menggempur kota Tripoli serta pasukan Libya.

Resolusi DK-PBB seperti cek-kosong yang digunakan AS dan sekutunya untuk menggempur Libya habis-habisan tanpa memperdulikan kepentingan perlindungan bagi warga sipil.

Uni Afrika pun tidak mampu berbuat apa-apa. Sikap Negara-negara anggota organisasi regional ini pun terbelah-belah. Gaddafi banyak memberikan sumbangan kepada Uni Afrika.

Indonesia tidak dapat berbicara di GCC maupun Arab League, atau Uni Afrika semata-mata kita tidak menjadi anggota di 3 organisasi ini, maka satu-satunya forum yang mungkin digunakan adalah melalui OKI.

Namun, sampai saat ini OKI belum mampu memainkan peranan substantif dan signifikan dalam mendorong proses perubahan damai tanpa gejolak di Timur Tengah dan Afrika Utara. Alasannya jelas, tidak ada konsensus dan bahkan sikap negara-negara anggotanya terpecah.

Bilamana organisasi regional atau sub-regional sendiri kurang mampu berperan maka sulit bagi Indonesia, yang bukan negara kawasan, untuk menawarkan perannya.

Keterbatasan Diplomasi RI

Alhasil, satu-satunya leeway (koridor) tersisa bagi kita untuk turut berbicara mengenai situasi yang menimpa saudara-saudara kita di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah secara nasional, seperti yang disuarakan oleh Presiden RI maupun delegasi RI di PBB. Di sinipun kita memiliki keterbatasan.

Meningkatnya gengsi berkat peran menonjol di berbagai fora internasional tidak serta-merta menjadi currency yang dapat dimainkan dalam pertarungan diplomasi. Ada keterbatasan bagi Indonesia untuk memainkan peranan di dalam mengatasi situasi di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Pertama, tatanan internasional pada pasca Perang Dingin memberikan ruang-gerak bagi peranan organisasi regional yang lebih besar. Dalam hal ini, organisasi yang relevan untuk membahas pergolakan yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah GCC, Arab League, atau Uni Afrika.

Tuntutan agar ASEAN menyuarakan pernyataan mengecam pemboman Libya juga tidak memungkinkan karena isu Timur Tengah ini hanya menjadi perhatian 3 dari 10 negara anggota, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Sekiranya ASEAN juga mengeluarkan pernyataan sifatnya umum-umum saja.

Kedua, meskipun secara nominal telah menjadi negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia Indonesia baru berambisi untuk menjadi ‘inspirasi’ dan belum mau menjadi kampiun yang memaksakan format demokrasi di mana-mana. Konsolidasi praktik-praktik demokrasi masih berlangsung di tanah air yang di sana-sini masih memerlukan penyempurnaan. Artinya, kondisi demokrasi kita belum mencapai taraf paripurna.

Ketiga, meskipun secara nominal disebut telah menjadi negeri berpenduduk terbesar Muslim se dunia, namun masih banyak pekerjaan rumah kita untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi bagi kalangan masyarakat. Indonesia juga sedang membangun kapasitas intelektualitas dan pemikir keislamannya untuk bisa menjadi center of excellence yang diakui di Dunia Muslim. Untuk menjadi pusat peradaban Islam se dunia, misalnya, masih banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia, perolehan Nobel dan karya-karya pemikiran Islam berkelas dunia salah satunya di mana Indonesia masih absen.

Keempat, untuk memainkan peranan penting dalam percaturan politik internasional atau memainkan kartu diplomasi maka Indonesia memerlukan means dengan currency yang berlaku.

Dalam percaturan diplomasi kekuatan ekonomi, militer yang memadai dan dapat diproyeksikan secara global menjadi keniscayaan bagi pelaksanaan diplomasi kita. Meskipun telah diakui sebagai pemain baru potensial dalam perekonomian dunia negeri kita juga masih belum dalam posisi yang consolidated, seperti misalnya China.

Dengan kondisi kemampuan keuangan terbatas, peningkatan kapasitas pertahanan nasional yang didukung dengan peralatan canggih belum menjadi prioritas bagi kita. Jangankan untuk penggunaan kekuatan militer dalam mendukung diplomasi RI di timur Tengah, untuk di kawasan Asia Tenggara sekalipun kita belum mampu memproyeksikan kekuatan militer dengan hardware yang handal.

Kinerja diplomasi akan meningkat bilamana Indonesia berhasil meningkatkan kapasitas dan kemampuan proyeksinya di bidang ekonomi dan pertahanan di dalam pergaulan bangsa-bangsa.

Jakarta, 20 April 2011

Tuesday, March 29, 2011

Taman Wisata Mekarsari



IMPIAN untuk membuat taman buah tropis (tropical fruit garden) tidak hanya digandrungi oleh negara-negara beriklim tropis, seperti Indonesia dan Malaysia dalam promosi wisatanya. Beberapa yayasan atau perorangan dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Brazil, juga telah membangun sendiri taman buah tropis mereka. Sebagai hobby atau memang pencintanya.

Ada taman buah tropis yang berdiri sendiri, ada pula yang menjadi bagian dari botanical garden, seperti di Florida yang memiliki kompartemen dinamai tropical fruit garden.

Yang pasti, taman buah tropis menarik perhatian dunia karena buah-buahan tropis itu terkenal unik dan tidak setiap saat bisa dijumpai dan ada di mana-mana. Tidak hanya duren yang berbau tajam, buah-buahan seperti manggis, nangka, cempedak, dan berbagai buah hutan dipandang eksotis. Lezat pula.

Berdasarkan informasi Google, memang kebanyakan taman buah tropis yang ada berukuran kecil saja, sehingga tidak perlu mengambil lahan yang luas. Seperti di Penang Malaysia, misalnya, tropical fruit farm dengan koleksi 370 jenis tanaman di sana hanya menyita tanah seluas 1 hektar (10.000 m2).

Thailand memiliki taman buah tropis tetapi sebagai bagian dari atraksi wisata, dan juga tidak luas-luas amat.

Bagaimana di Indonesia?

TAMAN buah tropis yang terkemuka di tanah air terdapat di Mekarsari, yang dikenal di dunia dengan nama dengan nama Mekarsari Amazing Tourism Park, disingkat MATP. Saya dan keluarga berkunjung ke sini pada akhir pekan minggu lalu.

Dengan membayar Rp 15 ribu/orang (harga akhir pekan), di sini Anda akan menikmati liburan keluarga yang bermanfaat.

Meskipun bulan Januari-Maret bukan bulan keberuntungan untuk datang ke taman buah di Mekarsari yang telah berubah menjadi Taman Wisata Mekarsari– karena bukan musim buah-buahan— tetapi kunjungan ke sini lumayan menghibur. Idealnya, Anda sebaiknya datang pada pada musim buah (April-September). Tidak saja menyaksikan buah-buahan unik yang kita kenal pada masa kecil dulu, Anda juga akan berkesempatan mencicipi berbagai buah-buahan tropis yang sedang panen.

Taman Mekarsari memproklamirkan diri sebagai taman buah tropis terbesar di dunia. Pantas, karena lahannya mengambil tempat seluas 264 hektar yang didirikan sejak sejak 1995, atas inisiatif Ibu Tien Soeharto.

Mengapa diperlukan lahan seluas itu? Tidak lain karena meskipun Mekarsari memang bukan hanya lokasi untuk produksi buah-buahan. Kawasan ini lebih sebagai tempat ‘penangkaran buah tropis’ yang didukung dengan teknologi pertanian Mekarsari bisa menghadirkan berbagai buah-buahan yang bukan hanya berasal dari Indonesia.

Bunga pun ditanam di sini. Jadi dengan mengunjungi Mekarsari, anak-anak pun bisa mengenal dan belajar mengenai kekayaan alam Indonesia. Dan, Mekarsari dilengkapi dengan sarana hiburan lainnya dankjini menjadi Taman Wisata.

Meskipun telah berubah menjadi taman wisata, namun Mekarsari tetap dengan mengutamakan misi awalnya sebagai taman buah-buahan tropis. Dan, fasilitas lainnya tidak boleh dipandang hanya sebagai side order!

Taman Buah

MEKARSARI memiliki koleksi kurang lebih 44 kelompok buah-buahan dari 362 jenis dengan 1.463 varietas tanaman dari berbagai daerah di Indonesia. Semua buah ini tersedia dengan berbagai macam jenis dan asal buah.

Selain itu, Mekarsari melakukan penyilangan terhadap berbagai macam jenis buah sehingga menghasilkan buah dengan kualitas yang baik. Misalnya saja nangkadak, hasil penyilangan antara nangka dan cempedak.

Buah-buahan populer seperti buah nanas, durian, melon, rambutan, mangga, manggis, hingga belimbing pasti ada. Jika ingin yang lebih unik dan eksotis terdapat buah-buah langka seperti matoa, sawo kecik, sawo putih, gayam, buah nona, nenas arnis, buah seri (cherry), cengkih, kesemek, kepel, kemang, jambu air king citra, jambu air kampret, nangka bola, nangka tanpa kulit dan banyak lagi.

Kapan waktu tepat untuk mengunjungi Mekarsari? Jika tujuan Anda untuk menikmati panen buah-buahan maka datanglah pada bulan April sampai September.

Pada bulan April - Mei ada panen buah abiu atau sawo Australia, kecapi kelapa, kimalaka yang tahan api, buah maja (nan manis), mangga, kopi , murbei, nenas, biji pala, karendang yang biasa juga disebut natal plum, serikaya, belimbing, salak, kelengkeng atau longan.

Musim buah berlanjut di bulan Juni, dengan menambahkan buah mundu, dan pada bulan Juli jambo bol, lontar (aren) atau margot, rukam, kola yang masih keluarga kakao, ceremai (cerme). Musim buah berlanjut pada bulan Agustus dengan kehadiran buah nona sirsak rawa, jambu mawar alias jambu Kraton.

Musim buah ditutup pada bulan September, dengan panen nangka, kluwek dan kepayang.

Berbagai Fasilitas

DI SINI Anda dapat menikmati berbagai fasilitas hiburan keluarga, seperti Canal Tour, Kid’s Fun Valley, Country Side, Melon Park, Snake fruit Garden, Deer Park, danau rekreasi seluas 20 ha, Baby Zoo, greenhouse, kawasan outbound, menara observasi, Puri Tirto Sari yang terkenal sebagai gedung yang memiliki air terjun.

Pada saat berada di sana, saya menyaksikan kelompok keluarga atau karyawan suatu perusahaan sedang piknik bareng dengan berbagai kegiatan outdoor. Beberapa kelompok sedang mengikuti wisata kebun, barbeque, dan jalan-jalan di kebun buah.
Hanya, perlu waspada karena pada bulan liburan sekolah, Mekarsari ini akan dipenuhi oleh pengunjung dari seluruh Indonesia. Parkir susah dan jalan macet.

Mengingat luasnya, Mekarsari juga menyediakan kendaraan wisata untuk berkeliling di lahan yang luas ini, dengan membayar Rp 10 ribu (harga akhir pekan). Saya menganjurkan pengunjung untuk berkeliling terlebih dahulu.

Pengunjung boleh berhenti di tempat-tempat wisata yang diinginkan dan melanjutkan perjalanan dengan kereta berikut tanpa dipungut bayaran lagi. Jika kebun buah yang didatangi sedang panen, pengunjung boleh membeli dengan memetik langsung buah di pohon. Sementara jika sedang tidak panen atau lewat waktu panen, pengunjung bisa membeli buah di kios yang ada di kebun atau di toko buah di areal Graha Krida Sari (gedung pusat informasi).

Kunjungan bisa diawali berkeliling menggunakan kereta wisata bergandeng yang akan memawa Anda berkeliling menyaksikan beberapa obyek-obyek menarik seperti, areal pembibitan, persemaian, areal rumah plastik, wahana outbound, kebun sayur, kolam pemancingan, tanaman buah dalam pot, kebun wisata melon, kebun salak, rambutan, jeruk, nangka, belimbing dan lain sebagainya.

Bagi yang berminat dapat turun sejenak untuk melihat tanaman melon yang ada di dalam rumah yang berfungsi sebagai green houses. Jika melon sedang berbuah, Anda diizinkan memetik melon langsung dari batangnya.

Ada baiknya setelah puas berkeliling Anda mencoba berehat sejenak di bangunan air terjun yangdisebut sebagai Puri Tirto Sari. Bangunan ini cukup unik bila dilihat dari luar, karena dari atas gedung mengalir air ke bawah layaknya air terjun.

Edukasi Anak-Anak

Sebagai sarana pendidikan, Mekarsari juga menyediakan fasilitas belajar menanam bagi anak-anak. Dalam program ini disediakan pot, media tanam, alat-alat menanam, dan pohon yang akan ditanam kepada setiap anak. Mereka akan diajarkan bagaimana pohon yang ada di kantong tanam plastik (polybag) dipindahkan ke pot. Hasil pekerjaan mereka boleh dibawa pulang.

Dalam program pendidikan, di samping wisata petik buah, wisata mainan anak-anak, outbound sampai wisata pendidikan disediakan paket tur menanam, budidaya tanaman, tur berkebun. Bagi orang dewasa juga boleh berpartisipasi.

Bagi pengunjung yang tertarik membeli tanaman hasil budidaya tanaman buah maupun bunga, silahkan membelinya di Garden Center. Di sana tersedia tanaman hias, bibit, media tanam, pupuk, dan juga tanaman buah dalam pot.

Jika waktu sehari masih dirasa kurang, dan terutama untuk pendidikan anak-anak, silahkan menginap di vila yang tersedia. Pagi hari anak-anak bisa mengikuti program bercocok-tanam.

Untuk mengetahui program kegiatan silah cek website: http://www.mekarsari.com/ yang menyediakan semua informasi yang Anda perlukan.

Jakarta, 29 Maret 2011

Wednesday, March 9, 2011

Menyusuri Jejak Bangsa Tartar (3)

DALAM tulisan sebelumnya saya menggambarkan keberadaan Islam di Polandia. Meski minoritas, hanya sekitar 30 ribu penganutnya di Polandia tetapi masa lalu telah mengguratkan peranan Islam yang berada di mainstream sejarah kontemporer Polandia.

Di antara jumlah itu, terdapat komunitas kecil sejumlah antara 3000-5000 kini yang merupakan keturunan dari cikal-bakal penduduk Muslim di Polandia. Mereka telah berdiam di sana sejak 600 tahun yang lalu.

Merekalah orang-orang Tartar Muslim. Orang-orang Tartar itu, sebagai perajurit Mongolia, telah berada di Eropa Tengah ini sejak abad ke-13, namun tanpa bekas. Baru pada abad ke-14 mereka menetap di sini sebagai tentara bayaran.

Bukan merceneries, bertempur membela yang bayar. Tetapi karena pada dasarnya mereka warriors. Belakangan karena keahlian berperang, banyak raja-raja yang memerlukan jasa mereka. Secara fungsional mereka menjadi tentara bayaran.

Menurut sejarah, pembayaran tidak mesti dilakukan di muka. Sesuai perjanjian, mereka akan memperoleh bagian dari hasil peperangan. Tentu jika sang raja menang. Jika kalah, orang-orang Tartar ini juga terbunuh. Jika menang, mereka diberikan kampung, atau hak untuk ‘menjarah kota, dan bahkan mengambil anak-anak gadis negeri yang dialahkan. Ini sesuai perjanjian dan disetujui oleh raja.

Perajurit gagah berani dari Asia Tengah itu berkali-kali bertempur membela negeri mereka, termasuk dalam the Battle of Grunwald yang tersohor itu, pertempuran melawan kerajaan Kristen Jerman Teutonic Order pada musim panas tahun 1410.

Akibat jasa-jasa mereka, Raja Polandia-Lithuania memberikan pemukiman bagi perajurit gagah berani Muslim di wilayah timur Polandia dan sebagian di Lithuania sekarang.

Mereka juga ambil bagian dalam sejarah Polandia, ketika negeri itu hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu. Ini yang menjelaskan, mengapa di negeri tempat kelahiran Paus Johanes Paulus II yang legendaris itu, pemuka Islam Tartar selalu diberi gelar kebangsawanan.

Pengarang Polandia terkenal penerima Nobel 1995 yang menulis novel Quo Vadis: A Narrative of the Time of Nero , bernama Henryk Sienkiewicz, juga keturunan Tartar. Melalui karya emas itu Henryk menjadi orang pertama kali yang memperkenalkan kata “quo vadis?” ,artinya ‘hendak ke mana?’. Dia juga bergelar bangsawan.

Napak-Tilas

HATTA, ketika kami menutup rangkaian perjalanan tiga hari Roadshow Budaya Indonesia, di Bialystok, pada bulan Maret 2010 yang lalu, saya mengajak seluruh rombongan KBRI Warsawa, termasuk ibu-ibu DWP untuk napak-tilas menelusuri peninggalan sejarah bangsa Tartar di Polandia.

Kota Białystok adalah salah satu kota bersejarah di wilayah Timur Polandia, di sini komunitas Islam asli etnis Tartar ini menetap sejak 300 tahun yang lalu. Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan pejuang Tartar yang dikenal pemberani saat berperang melawan Kerajaan Teutonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410.

Sejak kedatangan mereka melalui Lithuania sekitar 600 tahun yang lalu, bangsa ini juga tidak pernah ketinggalan dalam sejarah perjuangan bangsa Polandia merebut kemerdekaan bahkan bersama serdadu Poladia, pasukan militer bangsa Tartar aktif berperang antara lain dalam : “The Kosciusko Uprising “(1795), “the Confederation of Bar” (1768). Mereka juga turut berperang dalam pasukan Napoleon antara tahun 1812- 1814.

Kota Białystok menyimpan dengan baik semua khazanah masa-lalu yang cemerlang itu. Tidak jauh dari kota ini kita menjenguk kota Bohoniki. Di sini terdapat mesjid tua, yang disebut Mesjid Bohoniki.

Mesjid di wilayah Pedesaan Polandia Timur ini, mempunyai ciri khas berdinding kayu yang dibangun ditengah hamparan ladang gandum yang luas. Bohoniki ini merupakan satu dari dua pemukiman asli Tartar yang tersisa selain pemukiman di Kruszyniany.

Pemandangan bangunan masjid berdiri megah ditengah hamparan kuning ladang gandum sangat indah dinikmati di musim panas. Sayang pemadangan serupa tidak dapat kami temukan pada musim dingin.

Di Bohoniki kami juga sempat mengunjungi Mizar – “The Muslim Cemetery” satu dari tiga “Muslim Cemeteries” yang masih bisa di temukan di Polandia.

Selama menjadi Negara Komunis, praktis kehidupan keislaman di Polandia hampir punah. Untungnya, pada saat reformasi setelah runtuhnya Tembok Berlin masih terdapat orang-orang tua yang tetap memelihara keislaman maupun tradisi Tartar sendiri.

Karena itu, tidak heran pekuburan Muslim pada era komunisme pun dibuat seperti pekuburan Keristen, dengan marmer tertutup. Sekarang tradisi lama mulai dipulihkan, dan pekuburan pun menyesuaikan diri sesuai dengan ajaran Islam.

Jangan heran, jika Anda berkunjung ke tempat ini banyak peziarah memasang lilin di atas pekuburan itu. Mereka telah lupa tradisi lama, dan mengikut saja pada tradisi masyarakat setempat yang beragama Katolik.

Mesjid Kruszyniany

Daerah ini termasuk tempat pemukiman pertama bagi pejuang Tartar tatkala membantu Kerajaan Polandia-Lithuania menghadapi invasi dan pendudukan asing.

Menurut tour guide di sini, pasukan Tartar diberikan tanah yang cukup luas di Lithuania, yang menjadi tempat pemukiman lebih tua 600 tahun yang lalu, dan di wilayah Polandia sekarang sekitar 300 tahun yang lalu.

Mereka diberikan tanah karena Kerajaan tidak mampu membayar jasa mereka dalam memenangkan perang. Raja Polandia juga ingin memelihara loyalitas orang-orang Tartar yang terkenal gemar berperang dan sering berganti aliansi di masa-masa sebelumnya.

Mereka juga diberikan gelar bangsawan dan nama keluarga Polandia dan boleh menikahi gadis-gadis di sana. Maklum, semua orang-orang Tartar yang berperang dan melakukan ekspedisi ke Eropa adalah laki-laki.

Mesjid tertua di Kruszyniany dan pekuburan Muslim di sekitarnya merekam semua sejarah kehadiran bangsa Tartar di Polandia. Menurut keterangan pengurus, Masjid ini merupakan yang tertua di Polandia, didirikan oleh para pendatang bangsa Tartar yang menetap di daerah itu pada abad 17.

Mesjid ini berukuran relatif kecil , hanya memuat jamaah sekitar 50 orang, dan sekarang cukup aktif digunakan terutama bagi peziarah etnis Tartar yang kini bermukim di berbagai kota di Polandia dan di Lithuania maupun Belarus. Bulan Ramadhan adalah suasana yang paling meriah di mesjid dan di perkampungan ini.

Saya dan isteri menyempatkan diri untuk shalat di mesjid tua ini.

Sebagai obyek wisata masjid ini juga banyak dikunjungi oleh komunitas dalam dan luar negeri. Kami juga menyaksikan sendiri banyak turis lokal Polandia yang uniknya mereka berdoa secara Katolik, membuat tanda salib saat di dada, ketika memasuki masjid tersebut.

Bahkan, dalam salah satu kunjungannya ke propinsi Podlaskie ini, Paus Johanes Paulus II sempat menyerahkan medali penghargaan kepada Etnis Tartar. Penghargaan ini menggambarkan bahwa kedua agama monotheis : Islam dan Katholik dapat hidup berdampingan dengan damai di Polandia.

Kulinari Tartar

JIKA Anda berkunjung ke tempat ini jangan lupa mencoba hidangan Tartar. Seperti apa itu?

Jangan lupa mencoba kulinari asli Tartar di “Tartarska Jurta” sebuah restauran Agro Wisata yang menyajikan hidangan tradisional Tartar. Udara dingin dan salju yang turun cukup deras membuat kami kelaparan. Syukurlah begitu tiba di restaurant kami disambut dengan kue-kue dan secangkir teh atau kopi hangat beramu rempah kayu manis.

Nyonya Dzenneta Bogdanowicz yang menjadi manejer restauran dengan ramah menyambut kami dan langsung mempersilahkan kami menyantap “main course” berupa hidangan pastry dengan isi daging. Hidangan pertama mirip “Pâte feuilletée atau layered dough” dipadu dengan irisan daging. Pada course kedua, dihadirkan pastry berisikan tumisan kentang dan daging. Bentuk dan isinya mirip dengan pastel di Indonesia.

Yang unik pada acara santap siang ala Tartar ini adalah sup yang biasanya menjadi menu pembuka justru dihidangkan setelah “main course”. Kami berpikir ada benarnya juga disajikan terbalik, sebab sup dumpling disajikan dalam porsi lumayan besar. Mungkin bila sup disajikan sebagai menu pembuka, tentu kami tidak akan sanggup menyantap hidangan main course berikutnya.

Sebagai dessert, cobalah kue beraroma tape singkong. Apalagi jika disajikan hangat-hangat, dari oven. Meski perut telah kenyang namun bau yang harum kue ini tidak tertanggungkan. Rugi rasanya bila tidak mencoba.

“I feel at home”, ujar saya kepada Mufti Miskiewicz ketika dia bertanya kesan saya berkunjung ke basis perjuangan suku Tartar dengan masyarakatnya yang sangat ramah itu.

Jika Anda berkunjung ke Polandia, jangan lupa napak-tilas ke perkampungan tua Muslim di Białystok.

Jakarta, 10 Maret 2011

Monday, March 7, 2011

Diplomasi Kulinari di Pemukiman Muslim Pertama di Polandia (2)

DIPLOMASI di era reformasi bukan hanya domain Pemerintah belaka. Semua pihak, politisi, parlemen, pengusaha, LSM dan bahkan kaum wanita Indonesia di luar negeri diundang berperan.

Maka saya mengajak ibu-di lingkungan KBRI Warsawa untuk berperan ‘menjual’ Indonesia pada saat kami mengadakan acara Indonesian Days yang bertajuk “Indonesia : The Emerald of The East” di Kota Białystok, sebuah kota yang terletak kurang lebih 180 km sebelah Timur kota Warsawa, pada 12-14 Maret 2010. ‘Barang dagangan” tidak lain adalah acara cooking-demo dan food-tasting.

Ini menjadi bagian dari acara utama, yakni 2 presentasi saya tentang potensi ekonomi Indonesia dan tentang keragaman budayanya. Kami juga menyelenggarakan pameran foto nusantara, pagelaran musik gamelan dan tarian tradisional.

Tak lengkap jika kulinari tidak ditampilkan. Katanya, seni kulinari juga menunjukkan budaya bangsa. Dan, mintalah ahlinya berkompeten yang tidak lain adalah para ibu-ibu. Mereka lebih dari sekadar pendamping suami yang bertugas di luar negeri. Mereka juga duta-duta bangsa. Klop!

Berbekal pengalaman kami pada berbagai acara cooking demo di kota-kota lain, persiapan kami dalam acara kali ini berjalan sangat efektif dipimpin langsung oleh Ketua DWP KBRI Warsawa Ibu Ade Pohan.

Berbagai bahan makanan mentah maupun makanan khas Indonesia siap saji telah dipersiapkan oleh ibu-ibu KBRI.

Para ibu-ibu KBRI tidak saja berpromosi budaya kulinari. Dalam keterbatasan peragawati, mereka juga ditampilkan pada acara budaya, dalam pakaian nasional berwarna-warni.


Demo Kulinari

Bukan rahasia lagi bila Nasi Goreng dan Sate Ayam selalu menjadi primadona, karena bahannya mudah didapat di Polandia, menu yang popular di Indonesia dan dianggap cukup mewakili cita rasa masakan Indonesia di Eropa.

Pada acara demo yang dihadiri sekitar 40 tamu undangan dari komunitas Muslim Etnis Tartar yang bermukim di Białystok dan sekitarnya, tidak dilepaskan begitu saja oleh media. Atraksi masak ini diliput oleh media cetak, TV dan radio setempat.

Di penghujung acara demo, para tamu undangan diajak untuk mencicipi hidangan santap siang makanan khas Indonesia Nasi Goreng, Sate Ayam dilengkapi dengan Krupuk Udang dan Acar Timun.

Tampak masyarakat Byalistok sangat antusias mengikuti demonstrasi memasak, serta menikmati hasilnya. Menurut pengunjung, ternyata masakan Indonesia gampang menyiapkannya dan mudah memperoleh bahan-bahannya yang juga tidak mahal.

Tidak tanggung-tanggung. Para ibu-ibu KBRI Warsawa juga telah menerbitkan buku resep kulinari Indonesia yang sederhana, tetapi memuat puluhan menu. Tidak hanya resep yang dibuat dalam bahasa Polandia, buku ini juga bercerita tentang bahan-bahan makanan yang ada di Polandia, sekiranya bahan asli seperti di Indonesia sulit diperoleh. Yang penting, rasanya sama!


Pentas Budaya

Pentas Budaya Indonesia digelar pada malam harinya bertempat di Gedung Pusat Budaya Bialystok, yang dikenal warga kota sebagai Wojewodzki Osrodek Animacji Kultury (Spodski) w Białystok.

Ibu-ibu yang kesehariannya tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan KBRI Warsawa tampil mengenakan “busana nusantara” yang memadukan kain Bali dengan kombinasi “blouse” sebagai pengganti kebaya. Tak ayal kehadiran ibu-ibu dengan berbalut kain Bali dalam paduan blouse semi modern menjadi pusat perhatian pengunjung. Beberapa pertanyaan-pun meluncur seputar kain yang dipakai. Mereka juga mampu menjelaskan dengan baik.

“Bagaimana Ibu mengikat kain ini?” begitu pertanyaan seorang pengunjung dalam bahasa Polandia sambil mengagumi indahnya kain Bali.

Mengawali acara pentas budaya tersebut saya mendapat kehormatan menyampaikan presentasi tentang keragaman budaya Indonesia dan dilanjutkan dengan pertunjukan musik gamelan oleh Warsaw Gamelan Group. Gending gamelan mulai dari gending klasik hingga gending kontemporer karya dalang Ki Narto Sabdo banyak dimainkan. Salah satunya Gending Kereta Api atau “Pociag” [baca: pocyong]dalam bahasa Polandia terutama banyak mendapat “applaus” pengunjung. Ritme yang khas dengan perpaduan suara seruling terasa pas menggambarkan suara peluit kereta api.

Tarian Jawa klasik “Gambyong Pare Anom” serta Tari Kreasi Baru “Jaipong” karya Bagong Kusudiharjo dengan iringan music live gamelan dan tari Panji Semirang dari Bali dipersembahkan membuktikan seni budaya unik Indonesia yang dikenal sebagai negeri berpenduduk terbanyak Muslim di dunia. Kami ingin mengatakan, Indonesia adalah masyarakat yang toleran dan relijius.

Ibu-ibu KBRI juga berperan dalam menyiapkan kue-kue khas Indonesia, Risoles dan Putu Ayu yang dinikmati pengunjung pada acara rehat.

Di penghujung acara mereka menyempatkan berfoto bersama, mengabadikan penampilan cantik para peragawati dadakan dengan kain Bali, yang tidak lain adalah para ibu-ibu KBRI. Sesaat kemudian beberapa tamu bahkan tertarik untuk turut berfoto bersama.

Jakarta, 8 Maret 2011